
Wajah dan tatapan mata Yi Wen terlihat serius. Dia lalu berjalan ke arah Hai Feng dan meminta undangan gadis yang tadi lewat di hadapannya.
Hai Feng heran, namun tidak menolak permintaan saudaranya. Yi Wen melihat nama di undangan itu dan tersentak. Gadis yang membawa boneka kain barusan adalah perwakilan dari Partai Pedang Tengkorak.
"Hai Feng, kenapa kau membiarkan gadis yang tadi masuk? Apa kau tidak tahu dia mewakili partai apa?" Yi Wen sedikit kesal, teman-temannya seperti tidak benar dalam melaksanakan tugas.
"Saudara Wen, aku tahu. Nona tadi mewakili Partai Pedang Tengkorak. Lalu apa masalahnya?"
"Hai Feng, kau ini tidak mengerti atau benar-benar bodoh, huh?" Yi Wen berusaha menahan nada suara agar tidak sampai meninggi dan malah memicu perhatian orang lain. "Apa kau tidak tahu bagaimana hubungan Partai Pedang Tengkorak dengan saudara Xiao? Mereka punya dendam kesumat pada saudara kita, kau tahu artinya kan?"
Hai Feng mengangguk mengerti, "Aku tahu. Tapi kau tidak perlu cemas. Tuan Muda Ling yang memberi undangan pada Partai Pedang Tengkorak. Tidak hanya partai itu, tetapi juga seluruh perguruan yang ada di Tiga Kekaisaran, tidak terkecuali mereka yang berasal dari Aliran Hitam.."
Hai Feng melanjutkan ucapannya dengan berkata, "Saudara Wen. Semua ini perlu agar tidak ada perguruan yang merasa tersinggung. Meski Sekte Pagoda Langit termasuk dihormati di Benua Tengah, namun mereka tidak bisa bersikap seenak hati. Siapa pun tahu para pendekar di benua ini sangat mudah tersinggung, apalagi mereka yang berasal dari Aliran Hitam."
Hai Feng, "Saudara Wen, kau jangan khawatir. Aku yakin tidak ada yang berani membuat kekacauan di tempat ini. Kita juga tidak bekerja sendiri, dan lagi.. Meski saudara Xiao memiliki pantangan untuk tidak membunuh siapa pun di hari pernikahannya, namun dia masih bisa bertarung."
"Kau benar, tapi ucapanmu sama sekali tidak membuatku merasa lega..." Yi Wen masih berdiri sambil memperhatikan setiap tamu undangan yang datang.
Hai Feng, "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja,"
"............."
Yi Wen tahu benar bahwa Miao Gang adalah tangan kanan dari Qian Kun. Kedatangannya ke tempat ini bisa membawa malapetaka bagi acara bahagia saudara seperguruannya. Dia jelas tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Yi Wen. "Hai Feng, kau lanjutkan pekerjaanmu."
"Mn? Kau mau ke mana?" Hai Feng penasaran karena Yi Wen tiba-tiba saja melangkah pergi. Gadis itu bahkan mengabaikan pertanyaannya.
Hai Feng heran, "Saudara Wen kita itu kenapa ya..?"
Hou Yong menyenggol sedikit lengan Hai Feng, "Tidak perlu dipikirkan. Palingan Yi Wen pergi untuk mencari Bocah Pengemis Gila. Belakangan ini, aku sering melihatnya mendekati orang itu,"
?!
"Bukannya Bocah Pengemis Gila adalah pemuda yang..." raut wajah Hai Feng memburuk, dia menatap Hou Yong dan mendapat anggukan dari saudaranya itu. Dia dan teman-temannya tahu seperti apa sifat Bocah Pengemis Gila, apalagi Saudara Jing mereka merupakan korban dari betapa menjijikkannya pemuda tersebut.
"Ya ampun..! Kenapa Saudara Wen ingin mendekati Si Homo Gila itu? Jangan bilang dia juga jadi tidak waras karena putus cinta dari Saudara Xiao," Hai Feng mulai menggosip.
Wajahnya memang polos, tampan, terlihat baik hati dengan pembawaan yang tenang. Namun jika bersama saudara-saudaranya yang lain apalagi bersama Hou Yong, sifat tersembunyi Hai Feng akan keluar.
Jing Mi mengerutkan keningnya saat melihat dua saudaranya itu tidak melaksanakan tugas dan lebih memilih bergosip. Dirinya berseru serta mengingatkan mereka untuk tidak mengabaikan tugas ini.
Para murid Sekte Pagoda Langit sendiri berusaha mengalihkan perhatian mereka dari mendengarkan pembicaraan antara Hai Feng dengan Hou Yong.
'Tidak bicara berlebihan, Tidak membicarakan orang lain, dan Tidak bergabung dalam pembicaraan yang menjelekkan orang lain' merupakan tiga dari banyaknya aturan di sekte ini yang harus selalu mereka ingat dan terapkan.
Zhi Shu memperhatikan setiap tamu undangan, sesekali dirinya tersenyum dan menyapa mereka seramah mungkin. Meski wajahnya memperlihatkan ketenangan, namun tidak demikian dengan pikirannya saat ini.
Para tamu undangan yang dia lihat kebanyakan hanyalah murid-murid biasa dari sekte dan partai yang ada di Benua Tengah. Sebagian besar dari mereka nampak memaksakan senyum saat dia menyapa. Ini bukan hanya sekadar rasa takut akibat pembicaraan teknik 'Lingchi' kedua saudaranya, tetapi lebih daripada itu.
"Saudaraku.. Apa kau juga menyadarinya?" Jing Mi bersuara pelan, dia membuat Zhi Shu sedikit tersentak.
Zhi Shu. "Tentu. Kebanyakan dari tamu undangan berasal dari Aliran Putih dan Netral. Sementara yang merupakan Aliran Hitam, lebih banyak dari Kekaisaran Langit Selatan dan Kekaisaran Langit Utara. Padahal Wilayah Kekaisaran Langit Tengah-lah yang paling luas, itu berarti.."
Jing Mi mengangguk, "Iya. Kabar bahwa Partai Pedang Tengkorak yang menyerang sekte dan partai dari Aliran Hitam memang benar. Inilah sebabnya mereka hanya mengirim murid biasa sebagai perwakilan, sebab keamanan sekte mereka sendiri sedang dipertaruhkan."
Wajah Zhi Shu sedikit menegang, namun seketika kembali tenang. Dia berujar pelan, "Saudara Jing. Tetap bersikap ramah. Kita harus tetap terlihat seperti dalam keadaan yang baik-baik saja."
"Saudara Hou..!"
?!
Hou Yong yang sedang sibuk bicara dengan Hai Feng tersentak kala mendengar sebuah seruan yang memanggil namanya.
Saat menoleh, dia melihat di antara tamu undangan ada seorang pemuda berpakaian hijau dengan corak bunga teratai. Pemuda itu membawa kipas di tangannya dan berjalan bersama pria yang berpakaian sangat meriah.
"Nie Shang..!" Hou Yong tersenyum lebar, dia menepuk lengan teman baiknya itu saat pemuda tersebut telah berada di dekatnya.
Hou Yong, "Kenapa kau tidak datang lebih awal? Menyebalkan,"
Nie Shang. "Saudara Hou, aku minta maaf. Banyak pekerjaan yang harus kulakukan lebih dahulu, tapi aku sangat senang karena Saudara Xiao benar-benar menikah. Sampai sekarang aku masih tidak percaya..!"
Nie Shang mengipas-ngipas wajahnya, dia tidak dapat menyembunyikan betapa bahagia dirinya saat ini. Kehadirannya membuat suasana di luar gerbang Sekte Pagoda Langit semakin ramai.
Pria yang bersama dengan Nie Shang tidak lain adalah Siu Yixin. Pria itu menjadi pusat perhatian karena warna pakaian, perhiasan yang melekat di tubuhnya, serta riasan wajahnya dan salah satu bulu matanya yang berwarna merah teramat sangat mengagumkan.
Belum lagi, gaya bicara Siu Yixin yang memakai nada adalah sesuatu aneh namun nyata bagi siapa pun yang melihatnya. Siu Yixin sendiri tidak merasa terbebani, malahan dia suka menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Cara bicara Siu Yixin mirip seperti orang yang bernyanyi rap. Dia mengungkapkan kebahagiannya dan bermaksud membuat konser untuk memeriahkan acara pernikahan Xiao Shuxiang dengan Ling Qing Zhu.
Mendengarnya membuat Hou Yong, Hai Feng, dan Jing Mi terkejut. Ketiganya memperingatkan agar Siu Yixin tidak mengacaukan pernikahan saudara mereka. Nie Shang sendiri menutupi wajahnya dan bergegas masuk, dia bergumam bahwa dirinya akan berpura-pura tidak mengenal Siu Yixin.
Sebenarnya, Nie Shang ingin mengajak Mo Huai untuk ikut dan bukannya pria berpenampilan meriah itu. Namun Siu Yixin terlalu bersemangat dan Mo Huai sendiri sibuk dengan pekerjaannya di penginapan. Alhasil, mau tidak mau Siu Yixin-lah yang ikut.
*
*
Telah diketahui bahwa Sekte Pagoda Langit mempunyai dua gerbang. Jarak antara gerbang luar tempat Jing Mi dan teman-temannya berada dengan gerbang dalam adalah sejauh 50 meter.
Para tamu undangan akan disambut dengan pemandangan luar biasa mengagumkan. Meski nampak bebas, namun mereka tetap diawasi oleh para murid Sekte Pagoda Langit dan para pendekar dari Partai Pasak Bumi.
Wilayah gerbang dalam merupakan tempat tinggal para murid inti dari Sekte Pagoda Langit, tempat tinggal Grand Elder, dan anggota keluarga 'Ling' lainnya.
Wilayah ini memiliki arena khusus pelatihan murid inti yang mana sekarang telah diubah menjadi altar pernikahan. Tempat tersebut dihias sedemikian rupa hingga mampu mengundang decak kagum siapa pun.
Setiap meja duduk yang disiapkan telah diatur dengan sangat baik. Para tamu bisa menikmati pertunjukan musik dan tarian di bawah cahaya lembut bulan yang bertabur ribuan bintang.
Tepat di salah satu pohon, terlihat seorang pemuda berpakaian hitam kemerahan dengan tongkat bambu di tangannya. Dia beberapa kali memperlihatkan ekspresi wajah yang aneh saat menatap kedua mempelai yang berada jauh darinya.
Hanya dia yang tidak duduk seperti tamu undangan lain. Dibanding dengan memperhatikan tarian indah nan anggun para gadis itu, dia lebih tertarik melihat mempelai yang duduk diam dengan wajah tertutup kain merah.
Sosok yang memegang tongkat bambu itu tidak lain adalah Bocah Pengemis Gila. Wajahnya terlihat pucat, sejak pagi tadi hingga sekarang--dia selalu memperhatikan bagaimana ritual pernikahan ini berjalan dan jujur saja itu sangat melelahkan.
Bocah Pengemis Gila beberapa kali menggeleng, dia tidak mungkin sanggup melaksanakan semuanya. Dan dirinya merasa telah membuat keputusan yang tepat dengan tidak menikah.
"Aku benar-benar salut pada Shuxiang, dia melakukan semuanya tanpa memprotes apa pun. Dia bahkan masih bisa mempertahankan posisi duduknya. Kalau itu aku.. Bokongku pasti sudah pegal,"
Apa yang Bocah Pengemis Gila katakan sedang dirasakan oleh Xiao Shuxiang saat ini. Koki Alkemis itu sudah berulang kali merutuk, dia sangat ingin berdiri dan meregangkan semua otot-ototnya.
"Ya ampun.. Sampai berapa lama aku harus menahan ini semua..?" Xiao Shuxiang membatin, dia bisa melihat para tamu undangan dari balik kain merah yang menghalangi wajahnya ini.
Xiao Shuxiang tidak pernah terlalu memperhatikan bagaimana ritual dalam pernikahan itu. Saat dulu Xiao Lu menikah dengan Dai Chen, dirinya lebih memilih bertugas sebagai penjaga keamanan. Ini tentu adalah pengalaman pertamanya.
".. Menyebalkan. Kenapa kita duduk bagai patung dan menyaksikan mereka semua menikmati makanan itu. Bahkan aku tidak diperbolehkan bicara keras, siksaan macam apa ini..?" rutukan pelan Xiao Shuxiang meski teredam dengan suara musik, namun masih terdengar oleh gadis yang duduk di sampingnya.
"Kucing Putih.. Kapan ini akan selesai..?"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas. Andai disuruh memilih antara duduk seperti ini tanpa bergerak sedikit pun dengan bertarung sepanjang malam, maka dia tanpa ragu memilih pilihan yang kedua.
Ada tiga malam yang harus Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu lalui. Di malam pertama, mereka memakai pakaian merah dengan kepala yang ditutupi kain tipis berwarna senada.
Keduanya hanya boleh bicara satu sama lain, itupun harus dengan suara yang pelan. Barulah di malam kedua dan ketiga, mempelai pria boleh memperlihatkan wajahnya dan bicara pada para tamu undangan.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas untuk kesekian kalinya. Perhatiannya mulai tertuju pada para penari sebelum dia merasakan sesuatu di dalam dadanya yang seakan berguncang.
Hampir saja Xiao Shuxiang kelepasan dan berdiri, beruntung dia masih bisa mengendalikan suasana hatinya. Perasaannya benar-benar secara mendadak berubah.
Xiao Shuxiang mengedarkan pandangannya. Walau terhalang oleh kain merah, namun dia seperti berusaha mencari seseorang di antara para tamu undangan yang hadir.
!!
Mendadak dirinya tersentak, Xiao Shuxiang merasakan ada perubahan pada tubuhnya yang terasa tidak wajar.
Secara diam-diam, dia menaikkan sedikit lengan bajunya dan melihat urat-urat tipis kehitaman yang terbentuk di punggung tangan kanannya.
Bukan hanya itu, kuku jari Xiao Shuxiang berubah hitam dan memanjang. Dia pun segera mengepalkan kedua tangannya dan menyembunyikannya dari balik pakaian. Xiao Shuxiang sekarang bahkan sadar bahwa matanya berubah merah tanpa terkendali.
Hanya ada satu alasan di balik perubahannya yang tiba-tiba ini. Seseorang yang menjadi 'musuh' terbesarnya telah menampakkan diri dengan wajah asli dan kemungkinan berada di antara para tamu undangan yang hadir.
"Gawat..!" raut wajah Xiao Shuxiang berubah pucat. Kuku jari yang berusaha dia sembunyikan membuat tangannya terluka hingga mengeluarkan darah.
Rasa sesak mulai menumpuk di dadanya, bahkan sampai membuat Xiao Shuxiang berkeringat dingin. Saat ini, pikirannya sedang terombang-ambing. Gejala yang dia alami sekarang merupakan salah satu pemicu dari penyakit lamanya.
"Sialan..! Bagaimana ini.." dia berusaha mengembalikan warna matanya, tetapi tetap tidak bisa. Justru sekarang napasnya mulai tidak beraturan.
".. Tenanglah.. Tenang Xiao Shuxiang. Jangan pikirkan apa pun. Tetaplah tenang.." Xiao Shuxiang mencoba mengembuskan napas pelan, ".. Kau jangan memikirkan-"
!!
Kain merah yang menghalangi pandangannya membuat Xiao Shuxiang melihatnya sebagai darah. Matanya berkilat berbahaya dan detakan jantungnya semakin susah dikendalikan.
Dia sulit menelan ludah. Saat ini dia tidak bisa mendengar suara selain detakan jantungnya sendiri. Penyakit lamanya benar-benar kambuh.
!!
__ADS_1
Xiao Shuxiang sangat ingin darah saat ini juga, dia ingin meremas organ tubuh seseorang dan membuat kegelisahannya menghilang.
"Gawat..! Aku mulai memikirkan hal yang bukan-bukan. Apa yang harus kulakukan?! Mereka semua terlihat.. Luar biasa. Aku jadi ingin membunuh mereka semua,"
Di balik lengan bajunya, Xiao Shuxiang menggerakkan kedua tangannya dengan gelisah. Terlihat kuku jari tangannya masih belum kembali normal hingga saat digerakkan secara berlebihan akan semakin membuatnya terluka.
Ling Qing Zhu sendiri yang ada di samping Xiao Shuxiang menganggap Wali Pelindungnya hanya merasa tidak nyaman karena terus duduk. Sedangkan di antara para tamu undangan, hanya satu orang yang tahu kegelisahan Xiao Shuxiang.
Orang itu tidak lain adalah sosok pria berpakaian hitam dengan jubah berwarna merah. Wajahnya tidak terlihat akibat terhalang oleh punggung para penari dan dia pun duduk di barisan paling tengah, berdekatan dengan para kultivator serta pendekar dari Aliran Hitam.
Pria itu kemungkinan dapat mencolok dan menjadi pusat perhatian andai dia tidak duduk di antara pendekar yang pakaiannya mempunyai warna senada dengan miliknya.
Sebuah garis tertarik dan membentuk senyum tipis. Pria itu mengangkat cawan giok di depannya dan mulai meminum tehnya dengan tenang.
Perlahan, senyuman itu berubah menjadi seringai. Bila diperhatikan dengan teliti, sosok itu mempunyai gigi taring yang manis. Sayang semua perhatian tidak tertuju padanya.
"Nona.. Ada apa denganmu?"
Samar-samar terdengar ucapan seorang pria dari barisan tempat sosok itu berada. Seorang pendekar dari salah satu Partai Aliran Hitam terlihat keheranan sebab wanita yang duduk di sampingnya terdengar terisak.
Walau pendekar itu berasal dari Aliran Hitam, namun dilihat dari wajahnya--Dia masih sangat muda dan sepertinya belum memiliki pengalaman bertarung yang banyak.
"Aku.. Sedih.." suara pelan dan sedikit parau dari wanita yang memeluk boneka kain itu terdengar. Dia berusaha menghapus air matanya dengan lengan pakaiannya, namun tetap saja air terus menetes membasahi pipinya.
!!
Untuk seorang anak muda, melihat ada wanita yang menangis akan menimbulkan perasaan khawatir.
Andai ada yang melihat dan salah paham padanya, dia pasti akan menjadi korban tertuduh sebagai dalang dibalik tangisan wanita ini.
"Nona.. Tolong jangan menangis. Aku tidak pandai dalam membujuk, tolong jangan membuatku terkena masalah.."
"Aku.. Berusaha. Tapi air mataku tidak pernah berhenti keluar.. Ini sangat menyedihkan. Aku sedih.."
!!
Pemuda itu berusaha untuk tidak panik. Dia mencoba menenangkan wanita di sampingnaya namun sebuah tangan memegang lengannya erat.
Seorang gadis berpakaian serba hitam yang sama dengannya nampak menggelengkan kepala. Isyarat itu menandakan bahwa dia tidak perlu mengurusi wanita aneh tersebut bila tidak mau terlibat masalah.
Di lihat dari tamu undangan yang hadir, memang ada beberapa kultivator dan pendekar yang bisa dikatakan mempunyai keunikannya sendiri-sendiri.
Ada pendekar pria dengan tubuh bagian atas yang terbuka di antara para tamu undangan. Dia selalu memegang sebuah cermin sambil menatap pantulan wajah dan tubuhnya yang mengagumkan.
Untuk orang asing, dia jelas merupakan pendekar yang aneh. Namun bagi mereka yang sudah mengenal pria itu, pemandangan ini adalah hal biasa.
["Lihatlah dirimu..! Kau sangat tampan..! Setiap hari ketampananmu semakin bertambah..!"] pria itu bicara pada pantulan wajahnya sendiri. Dia pun mengeluarkan cermin lain hingga kedua tangannya kini memegang masing-masing sebuah cermin.
["Coba kau lihat dirimu..! Kau sangat tampan..! Siapa pria berotot dengan wajah tampan ini..?! Aah- tentu saja aku..!"]
Ada beberapa kultivator dan pendekar muda yang tersedak makanan serta minumannya saat mendengar ucapan pria itu. Beberapa bahkan memasang wajah yang aneh sambil menggeleng pelan.
Di tempat ini, kemungkinan hanya Xiao Shuxiang yang tidak mengerti dengan bahasa penduduk Benua Tengah. Karenanya meski banyak suara, dia hanya bisa paham percakapan dengan bahasa dari benuanya sendiri.
Masalahnya, bahkan suara selendang yang dilambai-lambaikan oleh angin pun tidak dia dengar saat ini. Dia hanya mendengar deru napas, detakan jantungnya sendiri, dan gejolak hati yang terus mendesaknya bergerak untuk melakukan pembantaian.
Keringat dingin mengucur membasahi keningnya, tenggorokannya sakit saat menelan ludah. Urat tegang bahkan terbentuk di dahi dan lehernya. Xiao Shuxiang mengepalkan erat kedua tangannya dan berusaha untuk menjaga kewarasannya.
"Aku.. Tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Tidak ada aroma lain yang dapat kucium selain darah. Mereka semua berkumpul di sini.. Luar biasa untuk membunuh mereka semua.. Rasanya pasti menyenangkan.."
!!
Xiao Shuxiang memejamkan matanya erat, dia tidak boleh berpikiran semacam itu.
Memang benar, ada anggota dari Scarlet Darah di tempat ini dan membaur dengan para tamu undangan. Namun mereka sama sekali tidak berbuat hal yang bukan-bukan.
Anggota dari Scarlet Darah tersebut terdiri dari Gou Yun Fei dan Rou Mei Qi yang merupakan perwakilan dari Partai Iblis. Kemudian ada Miao Gang, wanita yang membawa boneka kain kemana-mana dan selalu meneteskan air mata.
Miao Gang merupakan tangan kanan dari Qian Kun. Dia mewakili Partai Pedang Tengkorak bersama seorang pria yang tidak lain adalah Tuannya sendiri. Hanya Miao Gang yang pernah melihat wajah asli Qian Kun, namun dia tidak berani mengatakannya pada siapa pun.
Bukan Scarlet Darah yang akan membuat kekacauan, tetapi kemungkinan besar itu adalah Xiao Shuxiang sendiri. Sang Bintang Penghancur tersebut nampak berusaha mati-matian untuk menjaga kewarasannya.
"Mau sampai kapan kau menyiksa dirimu sendiri, Shuxiang? Kenapa tidak membunuh mereka semua saja?"
!!
***
__ADS_1