
Bagi klan Ling, Cahaya Roh Leluhur berasal dari kumpulan roh Grand Elder Sekte Pagoda Langit terdahulu. Itu adalah pelindung tersembunyi yang bila melihatnya saja akan membawa keberuntungan, apalagi jika bisa memilikinya.
Cahaya Roh Leluhur sebenarnya hanya muncul pada seseorang yang kelak akan menjadi Grand Elder Sekte Pagoda Langit. Ini bisa dikatakan sebagai sebuah pertanda, dan sekarang bukan hanya muncul--tetapi Cahaya Roh Leluhur itu ada pada Xiao Shuxiang sekarang.
"Tetua.." Ling Dong Hun seakan tidak bisa berkata apa-apa. Dia memang tak pernah melihat Cahaya Roh Leluhur secara langsung, tetapi Ling Chu Zhen pernah melihatnya.
Grand Elder Sekte Pagoda Langit tersebut menceritakan tentang ciri-ciri Cahaya Roh Leluhur, dan karenanyalah dia yakin bahwa cahaya yang menyelimuti Xiao Shuxiang adalah yang dimaksudkan.
".. Sepertinya kita tidak bisa membuatnya mengikuti ujian yang lain. Bangunan Pagoda juga sudah hancur dan Cahaya Roh Leluhur telah memilihnya,"
"Kau benar.." Ling Chu Zhen mengangguk dan lalu menoleh ke arah anggota keluarganya yang lain, ".. Mulai sekarang, tidak ada lagi yang boleh meragukan kepantasan pemuda itu untuk menjadi Wali Pelindung putriku. Kalian harus bisa menerima dirinya,"
Tatapan mata Ling Chu Zhen mengarah pada tiga orang wanita yang salah satunya berambut hitam. Dia seakan meminta ketiga orang tersebut untuk tidak lagi mempermasalahkan kehadiran Xiao Shuxiang termasuk merepotkan pemuda itu.
Ling Xuan Lu adalah salah satu yang mendapat peringatan hanya dengan tatapan mata Grand Elder Sekte Pagoda Langit. Meski ekspresi wajahnya tenang, namun dalam hati dia begitu kesal.
Tap
Tap
"Ujian ini tidak bisa dilanjutkan karena bangunan pagodanya sudah runtuh. Jadi apa lagi yang harus kulakukan?" Xiao Shuxiang bertanya saat dirinya sudah berada tepat di depan Ling Chu Zhen dan anggota keluarga Ling yang lain.
Tubuhnya terasa lengket dan benar-benar kotor, dia dalam keadaan yang acak-acakan sekarang ini. Tidak perlu tanyakan pakaiannya, Xiao Shuxiang bahkan tidak mampu menghitung koyakan pada seragam hitamnya tersebut.
"Hmph. Berani sekali kau berhadapan dengan Grand Elder dengan tampilan seperti itu. Kau bahkan tidak membersihkan darah di wajahmu.. Dasar tidak tahu malu." Ling Xuan Lu berujar ketus, tatapannya begitu dingin dan seakan berniat mempermalukan Xiao Shuxiang.
?
"Bibi, apa kau bodoh? Jelas-jelas kau melihatku baru keluar dari reruntuhan bangunan. Tampilanku seperti ini adalah akibat dari pertarunganku. Apa kau pikir di dalam sana aku hanya duduk dan minum teh, huh?" Xiao Shuxiang menggelengkan kepalanya, tidak bisa dipercaya ada orang yang berani mengomentari penampilannya setelah dia melakukan pertarungan.
Bukannya mempermalukan pemuda di depannya, Ling Xuan Lu malah terkesan mempermalukan diri sendiri. Dia sepertinya tidak tahu bahwa Xiao Shuxiang bukanlah orang yang mudah bersikap sopan apalagi dapat hormat pada orang lain.
Jika ingin ditanya--Koki Alkemis itu pasti akan berkata, siapa Ling Xuan Lu hingga dirinya harus bersikap sopan? Wanita ini sudah sejak awal mengibarkan bendera perang baginya, jadi tidak ada alasan baginya bersikap hormat.
"Dengarkan aku, Bibi. Aku tahu kau tidak suka padaku dan Xiao Shuxiang ini tidak pernah memaksamu untuk menyukainya. Tetapi jika kau tidak bisa mengubah sikapmu, maka jangan salahkan aku bila membalas sikapmu ini,"
Suara Xiao Shuxiang dingin dan tidak kalah ketus dengan ucapan Ling Xuan Lu. Dia mungkin hanya tamu, tetapi bukan berarti bebas diperlakukan sesuka hati.
Akan buruk akibatnya untuk Sekte Pagoda Langit bila orang seperti Xiao Shuxiang tersinggung, dan Ling Xuan Lu harusnya bisa sadar bahwa Koki Alkemis ini bukanlah orang biasa.
"Calon Ayah Mertua. Maaf atas sikapku barusan dan untuk bangunan pagoda milikmu. Aku akan pergi membersihkan diri dan menemuimu lagi. Kuharap nantinya anggota keluargamu dapat memperlakukanku lebih baik, karena jujur saja, aku merasa kecewa."
Xiao Shuxiang berlalu di samping Grand Elder Sekte Pagoda Langit tanpa memberi hormat atau apa pun. Raut wajahnya begitu serius dan langkahnya bagai seorang kaisar yang baru saja menyinggung perlakuan buruk rakyatnya.
Dirinya memang seperti itu saat mulai tidak nyaman akan sesuatu. Ini bukan hal yang baik, karena bisa saja Xiao Shuxiang sudah merasa tersinggung.
Dalam hal ini, ketika tiba di titik tertentu--hanya ada dua kejadian buruk yang mungkin akan terjadi. Pertama adalah kehancuran Sekte Pagoda Langit, dan yang kedua adalah marga 'Ling' mungkin akan menghilang dari Benua Tengah.
Ling Chu Zhen berbalik dan memperhatikan punggung Xiao Shuxiang yang semakin menjauh. Dia tidak mengambil hati tingkah pemuda itu, malahan dirinya merasa kagum. Tidak disangka, Wali Pelindung putrinya memiliki aura yang penuh wibawa.
"Ucapan yang kasar dan bersikap tidak sopan, apa bagusnya anak itu. Dia belum menjadi siapa-siapa di tempat ini dan sudah begitu angkuh. Chu Zhen, kau harus mempertimbangkan ini kembali. Anak itu tidak layak menjadi Wali Pelindung cucuku,"
"Ibu, berpikirlah. Jika bukan karena sikap kalian, apa Ibu pikir Shuxiang akan bersikap seperti itu? Dia sopan bila orang lain sopan padanya, begitu juga sebaliknya. Mulai sekarang, tolong untuk memperlakukannya sedikit lebih baik."
Ucapan Ling Chu Zhen berlaku pada semua yang ada di sekitarnya, baik itu ibunya, Ling Xuan Lu, para Patriarch, sampai kelima murid Sekte Pagoda Langit.
Walau kelima murid tersebut sedang memulihkan diri saat ini, namun mereka tetap bisa mendengar ucapan dari Ling Chu Zhen.
__ADS_1
Di tempat lain, Xiao Shuxiang berjalan sambil diikuti oleh teman-temannya. Hou Yong dan Jing Mi terus memujinya sepanjang jalan, keduanya juga begitu cerewet menanyainya tentang isi dari Pagoda Tingkat Sembilan.
".. Seperti apa monster yang kau lawan, Saudaraku? Apa dia besar? Pakaianmu bahkan bisa sampai berakhir begini.." Jing Mi berdecak kagum, dia yakin Saudara Xiao-nya melawan monster yang menyulitkan.
"Mn, aku cukup kerepotan. Apalagi lawanku di lantai tiga ternyata adalah makhluk yang mirip dengan Lan Zhi. Kekuatan dan senjatanya pun sama, tidak ada bedanya sama sekali.."
Xiao Shuxiang menceritakan seperti apa pertarungannya dengan Lan Guan Zhi palsu pada teman-temannya ini. Jing Mi, Hou Yong, dan Yi Wen terlihat fokus mendengarkan. Ketiganya merasa Saudara Xiao mereka melakukan sesuatu yang hebat.
"Jadi karena itu Pagoda Tingkat Sembilan runtuh?! Kau luar biasa Saudara Xiao..! Aku harus belajar banyak darimu," Hou Yong menyenggol lengan Xiao Shuxiang sambil mengeluarkan cengiran khas-nya.
"Itu memang luar biasa, tapi harusnya kau membunuh kelima sainganmu saat di dalam sana, Saudaraku. Tempat itu sangat sesuai.." Yi Wen memain-mainkan rambut pendeknya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya merangkul lengan Xiao Shuxiang.
"Tempat itu memang cocok, tapi aku tidak bertemu satu pun di antara mereka. Tsk, haiih.. Sangat disayangkan.." Xiao Shuxiang menggelengkan kepalanya pelan. Dia sama sekali tidak terganggu dengan rangkulan Yi Wen pada salah satu lengannya.
Xiao Shuxiang baru tersadar, dia tidak melihat Kucing Putihnya sejak tadi. Dia bertanya dan rupanya Jing Mi serta Hou Yong juga baru menyadarinya.
".. Qing Yan juga tidak ada. Ke mana mereka berdua?" Jing Mi menoleh kesekitaran namun Yi Wen dengan tenang menjawab bahwa Ling Qing Zhu dan Xiao Qing Yan pergi. Kemungkinan kedua orang itu menemui Lan Guan Zhi.
"Daripada memikirkannya, lebih baik kau mengatakan padaku bagaimana kondisimu saat ini? Apa kau mengalami luka yang serius?" Yi Wen mengusap darah di dagu Xiao Shuxiang. Dia menggeleng karena saudaranya ini seperti baru saja selesai mandi darah.
".. Beruntung sekarang adalah malam hari, sehingga kau tidak terlihat menyeramkan,"
"Yaah, kau benar. Tapi keadaanku baik, kalau saja bukan karena regenerasiku, mungkin saat ini aku tidak bisa berjalan.." Xiao Shuxiang mengusap-usap dadanya, dia merasa dalam kondisi yang baik, seluruh sakit di tubuhnya sudah menghilang entah sejak kapan.
Jing Mi, "Saudara Xiao.. Terkadang aku iri padamu. Kau memiliki regenerasi yang hebat, aku juga ingin seperti dirimu.."
"Aku juga menginginkannya. Luka dalam dan luar bisa sembuh dengan cepat rasanya begitu keren.." Hou Yong meletakkan kedua tangannya di tengkuk sembari memandangi bulan. Kakinya terus melangkah mengikuti teman-temannya berjalan.
Xiao Shuxiang mendengarkan perbincangan antara Hou Yong dan Jing Mi, sesekali dia juga ikut bergabung dalam pembicaraan kedua temannya.
Dia seperti tidak menyadari bahwa Seruling Giok Putihnya yang kotor karena darah nampak bersinar redup. Dia terlalu fokus memberi beberapa nasehat pada Jing Mi dan Hou Yong.
".. Dulunya aku sangat menghindari pakaianku terkena goresan pedang. Aku selalu berusaha sekuat tenaga menghindari terluka karena lawan. Sekarang semuanya malah kuhantam begitu saja karena menganggap lukaku akan sembuh dengan cepat. Secara sadar atau pun tidak.. Aku sudah meremehkan lawanku."
Yi Wen, "Menurutku itu tidak benar. Kau menyadari kelemahanmu saja sudah membuatmu terlihat seperti pendekar sejati. Kau hanya perlu mengingat kesalahanmu, memperbaikinya, kemudian terus melangkah. Aku sebenarnya sangat mengagumimu, Saudara Xiao~"
Tidak peduli pakaiannya juga ikut kotor, tetapi Yi Wen ingin terus merangkul lengan Xiao Shuxiang. Kalau perlu, dia ingin memeluk saudaranya sampai tidak ada yang bisa memisahkan dirinya dari pemuda mempesona ini.
Xiao Shuxiang berkedip saat mendengar ucapan Yi Wen barusan, dia lalu mendengus pelan dan kemudian mulai bersuara. ".. 'Mengingat kesalahan, memperbaiki, lalu terus melangkah?' Sejak kapan kau jadi sebijak ini? Apa kau tidak salah makan, Yi Wen?"
"Saudara Xiao~" Yi Wen menggelembungkan pipinya dan bersikap seperti gadis yang merajuk.
Tingkah Yi Wen ini membuat Xiao Shuxiang menggunakan Seruling Giok Putih untuk memukul pelan kepala gadis di sampingnya. "Kau mulai lagi.. Sekarang ayo lepaskan aku dan sebaiknya kau juga pergi membersihkan diri.."
?!
"Kalau begitu ayo mandi bersama! Aku bisa memijat punggungmu, Saudara Xiao~" Yi Wen terlihat girang, dia baru ingin menarik Xiao Shuxiang masuk ke dalam kamar namun tubuh Saudaranya terasa berat.
"Aku menyuruhmu membersihkan diri, tapi tidak di kamarku. Pergi ke kamarmu sendiri, ayo sana..!"
"Tapi aku mau-"
"Tidak,"
"Saudara Xiao, aku hanya-"
"Kubilang tidak, Yi Wen. Aku mau mandi sendiri, lain kali saja kau gosok punggungku. Sekarang pergilah.."
__ADS_1
"Tapi-" perkataan Yi Wen seperti terhenti saat Saudara Xiao-nya menutup pintu kamar tepat di depannya. Dia mendapat gelengan kepala dari Jing Mi dan Hou Yong.
"Yi Wen, kau ini sudah besar. Kau seorang gadis. Apa menurutmu pantas jika kau mandi bersama Saudara Xiao? Lebih baik kau mandi denganku saja, punggungku lebar, kau bisa memijatnya sepuasmu. Bagaimana?" Jing Mi menaik-turunkan sebelah alisnya, dia mengatakan tubuhnya jauh lebih besar dari Saudara Xiao-nya, Yi Wen pasti akan sangat puas.
Hou Yong, "Kalau kau tidak mau dengan Saudara Jing, maka denganku saja. Meski tidak punya tubuh sebesar gorila ini, tapi aku menjamin bisa memuaskanmu. Oh, jadi denganku saja.. Mau kan?"
"Hah, kau pikir aku j*lang?! Dasar tidak tahu malu, menjauh dariku!"
!!
Jing Mi dan Hou Yong tersentak saat Yi Wen membentak dan langsung berjalan pergi meninggalkan mereka. Gadis cantik bertubuh bagus itu seakan sedang kesal pada mereka.
"Anak itu.. Apa dia tidak sadar bahwa sikapnya selama ini tidak pernah tahu malu di depan Saudara Xiao?" Jing Mi terlihat keheranan, bukan dia yang harusnya dikatai 'Tidak Tahu Malu', tetapi Yi Wen sendiri.
Hou Yong menatap punggung Yi Wen yang semakin menjauh, ekspresi wajahnya tidak bisa diartikan untuk sekarang ini. "Saudara Jing, apa kau merasa ada yang aneh dengan Yi Wen?"
"Mn? Apa maksudmu? Dia terlihat biasa-biasa saja," Jing Mi menepuk pelan punggung Hou Yong dan mengajak Saudaranya tersebut untuk pergi beristirahat, ini sudah terlalu larut.
Hou Yong mengikuti langkah Jing Mi sambil mengusap-usap dagunya, "Tapi menurutku Yi Wen sedikit aneh. Akhir-akhir ini dia sering merajuk hanya karena masalah sepele, apa dia sakit?"
"Haah, Saudara Hou. Kau ini tidak mengerti para gadis.. Tamu istimewa Yi Wen mungkin datang, itulah sebabnya dia mudah kesal. Nanti dia juga akan baik-baik saja, sudahlah.."
"Mmm.. Baiklah," Hou Yong tidak mau memikirkannya lagi. Ucapan Jing Mi memang tidak salah, beberapa kondisi istimewa kadang membuat teman-teman gadisnya sulit mengontrol emosi, tidak terkecuali Yi Wen.
Saat ini, gadis berambut sepanjang leher tersebut berjalan begitu tenang sambil memain-mainkan rambutnya. Dia lalu memperhatikan tangannya yang kotor akibat darah dari lengan baju Xiao Shuxiang.
"Yaah, ini sepertinya harus dibersihkan.." Yi Wen mengguman pelan dan kemudian tersenyum tipis, "Kuharap Saudara Xiao memang baik-baik saja.."
Suara Yi Wen begitu tulus, namun senyuman indahnya dengan cepat berubah menjadi seringai jahat. Entah disadari atau tidak, tetapi dia sering melakukannya akhir-akhir ini.
Bertepatan saat ucapan terakhir gadis cantik itu--Xiao Shuxiang yang berendam di bak mandinya merasakan dadanya berdenyut nyeri, padahal tadi kondisinya baik-baik saja.
"Ada yang salah dengan tubuhku.. Tapi apa..?" Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, wajahnya sedikit pucat.
Dia sejak tadi memeriksa setiap organ dalamnya dengan memakai Qi, tetapi tidak menemukan apa pun, rasa sakitnya juga berangsur menghilang. Ini membuatnya keheranan.
"Aku ingat mendapat serangan dari belakang dan rasanya seperti jantungku tertusuk jarum. Tapi saat kuperiksa, malah tidak ada apa pun. Ini benar-benar aneh.."
Entah buruk atau tidak, tetapi Xiao Shuxiang harus memeriksa kondisi setiap organ dalamnya lagi. Dia pun mulai mempercepat mandinya dan segera mengambil kembali pakaiannya.
Waktu istirahat semacam ini tidak dipergunakannya untuk tidur. Xiao Shuxiang lebih kepada mengambil posisi duduk bersila di atas tempat tidurnya. Dia fokus memeriksa setiap sel dalam tubuhnya tanpa melupakan satu urat syaraf pun.
Keringat mengucur di keningnya meski dia baru selesai mandi. Rasanya sakit bila harus memeriksa bagian dalam setiap tulangnya, namun ini masih bisa dirinya tahan.
"Ini juga normal.." Xiao Shuxiang kembali menggunakan Qi untuk memeriksa organ dalamnya, mulai dari usus, hati, ginjal, sampai jantung. Namun semuanya berfungsi dengan baik.
"Jantungku berdetak setiap sekali dalam lima tarikan napas adalah hal yang normal. Lalu mengapa aku merasakan denyut nyeri tadi?"
Xiao Shuxiang bingung sendiri. Dia memiliki regenerasi yang hebat hingga luka dalam dan luar dapat sembuh dengan cepat. Namun entah mengapa ada saat di mana dia merasa seperti bagian dadanya berdenyut sakit.
Koki Alkemis ini tidak mengetahui bahwa serangan yang dia dapatkan dari asap hitam tipis kala berada di lantai pagoda telah menyatu dengan jantung dan aliran darahnya.
Xiao Shuxiang tidak bisa merasakannya karena wujud asap itu hampa dan seakan adalah bagian dari dirinya sendiri. Kehadiran Cahaya Roh Leluhur bahkan memperburuk keadaannya.
Bagi keluarga Ling, Cahaya Roh Leluhur merupakan berkah--tetapi itu tidak berlaku bagi seseorang seperti Xiao Shuxiang.
Cahaya Roh Leluhur mampu membersihkan hati dan sebelum menghuni Seruling Giok Putih--Dirinya bersentuhan dengan tubuh Xiao Shuxiang saat pemuda itu menindihnya.
__ADS_1
Koki Alkemis ini adalah orang dengan hati Giok Hitam, dan seperti yang diketahui--Dia bukanlah manusia biasa. Kehadiran Cahaya Roh Leluhur tidak membawa keberuntungan untuknya, melainkan bahaya. Yang terburuk, Xiao Shuxiang bahkan tidak menyadarinya.
***