XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
208 - Membangun Kota Yang Kuat


__ADS_3

Warga Kota Awan Dingin setiap pagi dan sore hari selalu dikunjungi oleh satu atau dua orang murid Sekte Kupu-Kupu dan Sekte Bambu Perak.


Mereka diajari teknik bela diri sederhana, semuanya harus ikut baik anak kecil maupun orang tua lanjut usia. Tindakan ini dilakukan untuk membuat warga Kota Awan Dingin sebisa mungkin mampu melindungi dirinya sendiri.


".. Kita sama-sama manusia, memiliki dantian di dalam tubuh masing-masing. Perbedaannya hanya terletak dari kemampuan kita merasakan Qi.."


Jing Mi memperhatikan penjelasan dari Qi Xuan. Saudaranya yang kini tumbuh menjadi murid terbaik Sekte Bunga Lotus di Kekaisaran Matahari Terbit nampak sangat berwibawa.


Bahkan saat pertama kali Qi Xuan menginjakkan kaki di Sekte Kupu-Kupu, Yi Wen dan Ro Wei sama sekali tidak mengenalinya, saudaranya benar-benar menjadi pria tampan dan dewasa.


".. Tak ada manusia yang tidak lahir dengan bakat. Kita hanya perlu berusaha untuk menemukannya.."


Qi Xuan menjelaskan bagian paling dasar dari seni bela diri, yakni Teknik Pernapasan. Dirinya membantu teman-temannya melatih warga Kota Awan Dingin sambil mencari informasi tentang Scarlet Bayangan.


Api biru kecil Xiao Shuxiang nampak melayang-layang di samping Qi Xuan. Hanya pemuda ini dan Hu Li yang mengerti ucapannya, dia mengatakan semua yang diperintahkan oleh Xiao Shuxiang padanya.


".. Ayah, maaf karena Xuan'Er juga meminta Ayah berlatih,"


Qi Onglin menepuk pelan pundak anaknya. Dia dan istri tercintanya sudah lama tidak melihat putra kesayangan mereka.


"Untuk apa meminta maaf. Aku malah senang karena bisa belajar hal baru darimu. Kebetulan di kedai milik Ayah lumayan banyak orang yang suka membuat onar, jadi berlatih sedikit ilmu bela diri boleh juga. Mungkin saja Ayah memang berbakat hingga dapat mematahkan tangan mereka, hahahaha"


Qi Onglin sejak dulu tidak pernah berlatih bela diri, yang dia lakukan setiap hari hanya terus bekerja di ladang, menanam kentang dan memelihara keledai untuk dijual.


Bisa dibilang, kebanyakan warga Desa Tani sama sekali tidak tahu caranya berlatih bela diri. Satu-satunya sekte di desa mereka adalah Sekte Kupu-Kupu dan sering mereka anggap sebagai tempat hiburan biasa.


".. Kehidupan di luar desa memang sangat keras, tapi bukan berarti Ayah dan warga Desa Tani mau terus menjalani hidup tanpa perubahan. 'Yang tidak ingin mengambil risiko, tidak akan bisa berkembang'. Ungkapan ini sama seperti keadaan awal Sekte Kupu-Kupu,"


Andai tidak ada orang seperti Yang Shu, kemungkinan Qi Onglin dan warga Desa Tani hanya akan terus hidup penuh kesulitan di wilayah paling terpencil di Kekaisaran Matahari Terbit.


Beberapa serigala lapar sering mengacau di Desa Tani. Beberapa dapat diusir, namun akan sangat menyulitkan bila serigala tersebut adalah seekor Demonic Beast.


".. Sebenarnya, kota ini tidak terlalu aman. Bukan hanya bahaya dari Demonic Beast yang mengancam nyawa, tetapi bahaya juga datang dari kultivator dan pendekar.."


Qi Onglin lambat memulai berlatih, dia tentu sangat yakin tidak akan bisa menang melawan orang yang telah lama berlatih bela diri, namun bila dapat membalas serangan mereka dua atau tiga kali pun, itu sudah cukup.


"Jangan bicara seperti itu, Paman..!"


!!


Qi Onglin, Qi Xuan, Jing Mi, dan beberapa warga Kota Awan Dingin terkejut kala mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Saat menoleh, mereka melihat Xiao Shuxiang dengan seragam Sekte Pedang Langit berjalan mendekati mereka.


"Aku paling suka dengan Jurus Cermin Pemindah, membuatku dapat menghemat waktu perjalanan.."


Xiao Shuxiang menyapa ayah Qi Xuan, beberapa warga, dan juga teman-temannya. Sebelumnya dia telah pergi menemui Patriarch Pertama Sekte Pedang Langit, sayangnya Yu Changhai menyerah mendengarkan permainan serulingnya yang begitu buruk.


Dirinya lalu terpikirkan untuk memperdengarkan permainan serulingnya pada saudara-saudara seperguruannya, sekaligus warga Kota Awan Dingin.


".. Tidak ada yang bisa menyelamatkan orang lain selain dirinya sendiri. Dunia ini keras, yang bisa bertahan hidup hanyalah yang kuat.."


Selama ini, di kehidupan pertama Xiao Shuxiang. Banyak sekali manusia awam yang tak tahu melindungi dirinya tewas, baik karena pertarungan para pendekar ataupun serangan Demonic Beast.

__ADS_1


".. Kasarnya, di mata orang-orang sepertiku.. Paman dan warga Kota Awan Dingin hanyalah semut lemah, rumput kering di jalan, dan sebuah beban.."


Xiao Shuxiang mengatakan agar Qi Onglin tidak tersinggung, dia sudah melihat saat banyak desa dibantai habis dan warganya sama sekali tak mampu melawan. Mereka hanya menunggu pertolongan atau menangis memohon belas kasihan pada musuh.


".. Aku benci melindungi orang lain apalagi kota ini, tapi aku juga tidak ingin kota yang sudah kuberi bantuan malah menjadi puing-puing karena kelemahan warganya.."


Qi Onglin mendengarkan ucapan Xiao Shuxiang yang ingin membuat Kota Awan Dingin yang kuat, dimana seluruh warganya mampu melindungi diri sendiri, keluarganya, termasuk tempat tinggal mereka.


Tidak ada yang salah dari ucapan Xiao Shuxiang, warga Kota Awan Dingin tidak bisa membantah. Ucapan pemuda tersebut sudah sangat jelas, dia menyadarkan mereka untuk tidak bergantung pada siapa pun.


Melatih warga Kota Awan Dingin bukanlah perkara mudah, mereka tidak bisa memberi pelatihan yang sama layaknya pendekar pada umumnya. Ini dikarenakan mereka masih harus menjalankan bisnis keluarga.


Salah satunya adalah Jing Bai, paman dari saudara seperguruan Xiao Shuxiang tersebut adalah pemilik dari sebuah kedai makan dengan bahan utamanya adalah bebek asap dan bebek bakar.


Jing Bai di samping berlatih seni bela diri, juga harus tetap membuka kedainya. Untungnya, Ro Wei dan Shao Nu telah membuat jadwal pelatihan yang ringan serta mudah bagi Jing Bai dan warga lainnya.


Tidak banyak pendekar dan kultivator yang melewati atau singgah di Kota Awan Dingin pada pagi dan sore hari, dua waktu ini digunakan untuk memberi arahan serta melatih warga kota.


Xiao Shuxiang memanfaatkan salah satu waktu yang dimiliki warga Kota Awan Dingin untuk memperdengarkan permainan serulingnya.


Dia juga melakukan hal yang sama pada murid-murid Sekte Bambu Perak dan saudara seperguruannya sendiri. Walau pada akhirnya mereka semua menyerah karena tidak sanggup mendengarkan suara sumbang dari dirinya yang masih belajar memainkan seruling.


Xiao Shuxiang sering menggunakan Cermin Pemindah ke dua tempat, yakni Kota Awan Dingin dan Sekte Pedang Langit. Apa yang dilakukannya jelas untuk keinginannya sendiri.


Selama tiga hari berikutnya, permainan seruling Xiao Shuxiang semakin membaik. Dan tiga hari itu juga dirinya fokus berlatih serta mengerjai Ling Qing Zhu.


Duan De dan Nenek Nian mencoba mengakrabkan Xiao Shuxiang dengan Ling Qing Zhu dengan menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang sama dengan gadis berambut putih tersebut.


Sama seperti saat ini, dimana Xiao Shuxiang membantu Nenek Nian memasak di dapur. Dia tentu tidak keberatan, memasak adalah salah satu pekerjaan yang disukainya.


Awalnya Xiao Shuxiang terlihat biasa-biasa saja, tetapi saat dia mengetahui Ling Qing Zhu tidak pandai memasak.. Keadaan mulai berbeda.


Bukan hanya tidak pandai memasak, Ling Qing Zhu sama sekali tak mengetahui nama-nama bumbu dapur. Yang mengerikannya, dia bahkan tidak mampu membedakan mana wortel dan lobak.


Xiao Shuxiang tidak habis pikir ada gadis seperti ini, jelas wortel dan lobak memiliki perbedaan yang amat besar. Namun tetap saja Ling Qing Zhu pasti akan salah menebak nama kedua sayuran tersebut.


".. Ini sudah kelima kalinya aku menjelaskan, perhatikan dengan baik. Wortel berwarna jingga dan lobak berwarna putih,"


Xiao Shuxiang memegang wortel di tangan kanannya, sementara lobak di tangannya yang lain. Dia berkata Ling Qing Zhu harus dapat membedakan keduanya dengan baik.


Entah sejak kapan panggilan Xiao Shuxiang terhadap Ling Qing Zhu berubah. Biasanya dia memanggil Ling Qing Zhu dengan sebutan 'Gadis Menyebalkan', kini dia memanggilnya 'Kucing Putih'.


Ini tidak bisa dianggap sebagai peningkatan atau malah penurunan, jelas kedua panggilan tersebut memiliki makna ejekan.


".. Sekarang apa kau mengerti perbedaan keduanya?"


Ling Qing Zhu mengangguk. Dia bukanlah gadis yang bodoh, namun kekurangannya memang ada dalam dunia memasak seperti ini.


Xiao Shuxiang merasa tidak yakin Ling Qing Zhu mengerti, dia lalu menyuruh gadis di depannya untuk menutup mata.


!!

__ADS_1


"Aku menyuruhmu menutup mata, bukan melotot. Cepat tutup matamu..!" Xiao Shuxiang malah terkejut mendapat pelototan dari Ling Qing Zhu, pada akhirnya gadis tersebut menurut juga.


Nenek Nian dan beberapa wanita yang bertugas di dapur memperhatikan tindakan Xiao Shuxiang. Pemuda tersebut kini meletakkan lobak di tangan kanannya, sementara wortel di tangan kirinya.


Dia lalu meminta Ling Qing Zhu membuka mata dan menyuruhnya untuk menebak kembali mana di tangannya yang adalah wortel.


Ling Qing Zhu dengan begitu percaya diri malah menunjuk lobak di tangan kanan Xiao Shuxiang sebagai wortel. Dirinya langsung mendapat jitakan wortel oleh Xiao Shuxiang.


".. Kau ini gadis tapi sangat payah. Belajar lagi..!"


Ling Qing Zhu hanya bisa pasrah terus mendapat ledekan dari Xiao Shuxiang. Pemuda yang dilihatnya ini sama sekali tanpa kelemahan, bahkan pemuda tersebut dapat membuat masakan dengan aroma yang enak.


Xiao Shuxiang mengajarkan beberapa teknik sederhana dalam memasak, salah satunya adalah teknik menekuk tangan kala ingin memotong sayur.


".. Tidak ada yang salah dari belajar memasak, apalagi bagi perempuan. Jadi berlatihlah meskipun kau tidak akan bisa sehebat diriku,"


Xiao Shuxiang meski sedang bersama dengan Ling Qing Zhu, namun sebisa mungkin dirinya berusaha mengambil jarak dan seminimal mungkin menghindari menatap gadis ini.


Nenek Nian dan Duan De selalu menggodanya, mengatakan hal yang bukan-bukan tentang dirinya dan Ling Qing Zhu.


Kedua tua bangka tersebut malah secara terang-terangan menjodohkannya dengan gadis berambut putih ini.


Ling Qing Zhu sendiri tidak mengatakan apapun, ketidakpeduliannya mirip seperti Lan Guan Zhi saat GrandElder masa depan tersebut dikatakan memiliki hubungan terlarang dengan Xiao Shuxiang.


Memasak rupanya dapat membuat Xiao Shuxiang tenang, dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Keadaan ini membuatnya merasa mampu memakai Pusaka Langitnya.


Setelah membantu Nenek Nian, Xiao Shuxiang menemui Patriarch Lan. Dia kini telah berhasil mengeluarkan suara pada Seruling Giok Putih meski belum bisa menggunakannya sebagai senjata.


Butuh waktu dua hari sampai dirinya lumayan mampu memakainya, dan Sekte Tengkorak Darah menjadi yang pertama dalam uji coba Pusaka Langit Xiao Shuxiang.


Saat dirinya datang ke Sekte Tengkorak Darah, kebetulan Lai Kuan Ye sedang memperhatikan murid-muridnya berlatih.


Dia tersentak kala mendengar sebuah alunan musik, hawa keberadaan orang yang memainkannya tidak bisa dirasakan oleh Lai Kuan Ye serta para muridnya.


Untungnya suara merdu ini sama sekali tidak berbahaya, malah dapat menenangkan pikiran mereka.


Namun itu semua hanya berlangsung selama satu menit, sampai murid-murid Sekte Tengkorak Darah merasakan perut mereka sakit bahkan detik berikutnya mereka semua memuntahkan darah.


!!


Lai Kuan Ye juga merasakan perutnya sakit, seakan sesuatu mendesak ingin keluar dari mulutnya. Dia seketika memuntahkan darah kental berwarna hitam kemerahan, bersamaan saat dirinya bisa merasakan kehadiran seseorang yang menuju tepat ke arahnya.


"Paman..?! Apa kau masih bernapas?!"


Xiao Shuxiang menyentuh pundak Lai Kuan Ye, dia sendiri terkejut karena suara dari Seruling Giok Putihnya memiliki efek semacam ini.


"Xiao'Er, apa kau berniat melakukan Pembersihan Iblis Hati massal di sekteku, hah?! Caramu ini berbahaya..! Sialan, anak ini masih di Forging Qi tingkat 13, tapi kenapa hawa keberadaannya sangat sulit kudeteksi?!"


Di antara banyaknya kultivator yang pernah Lai Kuan Ye temui, hanya Xiao Shuxiang yang membuatnya kebingungan.


Sektenya sangat kuat dan tidak bisa dibobol begitu saja, namun seakan ini tidak berguna bagi Xiao Shuxiang.

__ADS_1


".. Bagaimana kau bisa datang ke sekteku dengan begitu mudah?! Apa benar kau manusia?!"


***


__ADS_2