XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
331 - Kedekatan


__ADS_3

Bocah Pengemis Gila beberapa kali menguap, dia tidak tahu jam berapa saat ini, tetapi menurutnya sekarang sudah lewat dari jam tidurnya.


"Lihat itu.. Tidur mereka benar-benar pulas. Kenapa kita tidak istirahat dan ikut tidur juga Lan'Er Gege?"


Bocah Pengemis Gila memeluk tongkat bambunya sambil memperhatikan beberapa warga Kota Sayap Pegar yang tertidur begitu lelap.


Xiao Lu, "Mereka hanya manusia biasa, jadi sudah seharusnya mengisi energi dengan tidur. Kau juga boleh kalau mau, tapi jangan harap kami akan menunggumu,"


Bocah Pengemis Gila memayunkan bibirnya, dia berjalan lebih cepat dan kemudian merangkul lengan kanan Lan Guan Zhi.


Grrr


Lan Xiao yang berjalan di samping induknya mengeluarkan suara geraman kecil, dia seakan memprotes Bocah Pengemis Gila karena berani menyentuh induknya.


Perjalanan mereka masih begitu panjang, suara pertarungan di atas sana masih terdengar walau kini mulai samar-samar. Lan Guan Zhi memfokuskan pikirannya dan berusaha mengeluarkan sedikit auranya untuk mengetahui kondisi lingkungan di atasnya.


Hari semakin larut, tetapi pertarungan para pendekar masih berlangsung. Bangunan Asosiasi Gagak Putih terlihat sudah menjadi kepingan.


BAAAAM!


Pendekar yang sudah tak bisa bertarung lagi lebih memilih pergi dan menyelamatkan nyawa mereka. Yang masih bertahan saat ini adalah 15 Tetua dari Sekte dan Partai yang berbeda-beda.


CRAAASH..!


Tetua dari Partai Tiga Daun tewas dengan dada yang meledak. Dia mendapatkan Pukulan Api Tetua Partai Tenggiling Perak karena berhasil merebut peti kayu yang di dalamnya terdapat Pedang Pembeku Jiwa.


["Hah ha ha.. Ini milikku sekarang,"]


Tetua Partai Tenggiling Perak menyarungkan pedangnya dan mulai membuka peti kayu berukiran burung bangau tersebut.


Kedua tangannya berlumuran darah dan tidak hanya itu, tetapi darah segar juga mengucur di dahi, mulut, dan luka sayatan pada punggungnya.


!!


Suasana dingin segera menyelimuti sekelilingnya saat peti kayu pusaka tersebut dibuka.


Pedang Pembeku Jiwa mempunyai warna putih susu, mulai dari gagang sampai bilahnya.


Pedang tersebut juga memiliki sarung pedang dengan ukiran kuno berwarna merah. Terdapat corak burung rajawali pada sarung pedang itu, dan jelas ini bukanlah pedang pusaka biasa.


["Tua Bangka! Jangan harap kau bisa mendapatkan pedang itu..!"]


!!


Seruan dari Ninik Bungkuk membuat Tetua Tenggiling Perak tersentak. Dia segera mengambil Pedang Pembeku Jiwa dan menarik pusaka itu dari sarungnya.


Peti kayu serta sarung Pedang Pembeku Jiwa dilempar ke sembarang tempat. Dalam kondisi luka parah, Tetua Tenggiling Perak mengayunkan pusaka tersebut yang langsung mengarah ke tempat Ninik Bungkuk berada.


!!


Serangan dari Pedang Pembeku Jiwa terlalu cepat hingga Ninik Bungkuk sulit menghindarinya, namun beruntung seseorang terpental dan tak sengaja menjadi tameng baginya.


AAAAARGH..!


Mata Ninik Bungkuk membulat saat dia tahu bahwa pendekar tersebut adalah Tetua dari Partai Bunga Karang, salah satu partai aliran hitam di Kekaisaran Langit Selatan.


Tetua Partai Bunga Karang terkenal jenius karena mampu menguasai dua jenis Tenaga Dalam. Namun saat terkena serangan dari Pedang Pembeku Jiwa--dia tidak bisa lagi berkutik.


Pria yang nampak berusia 48 Tahun itu berteriak pilu, tubuhnya mengeluarkan asap putih sebelum akhirnya terjatuh dengan badan yang kaku. Pipi kirinya nampak pecah, seakan-akan dia terbuat dari keramik.


["Pedang Pembeku Jiwa..]" Tetua Partai Tenggiling Perak menimang-nimang pedang di tangannya, dia lalu tersenyum dan kembali berucap, [".. Akan kubunuh kalian semua dengan pedang ini..!]


!!


Tetua Tenggiling Perak baru akan mengayunkan pedang untuk kedua kalinya saat sebuah serangan datang dari arah belakangnya.


CRAAASH..!


Terlalu bangga karena mendapatkan pusaka yang diperebutkan membuat Tetua Tenggiling Perak kehilangan kewaspadaan.


Kepalanya terjatuh dan kemudian menggelinding bersamaan dengan pandangan matanya yang mulai menggelap. Dia lengah sampai-sampai tak sadar ada pedang yang haus akan darahnya.


Yang menyerang Tetua Tenggiling Perak dari belakang tidak lain adalah pemuda bertopeng rubah. Dia nampak memegang sarung Pedang Pembeku Jiwa dan saat ini mulai mengambil pusaka tersebut dari tangan Tetua Tenggiling Perak yang tanpa kepala.


BLAAAAR..!


Suara serangan tetua salah satu partai yang menguasai Tenaga Dalam berat mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk meninju tanah. Detik itu juga--tanah dan bangunan di jarak 30 meter dari tempatnya berdiri roboh menjadi kepingan.


Pemuda bertopeng rubah itu segera menghilang bersamaan dengan getaran tanah yang dipijaknya.


Ninik Bungkuk yang terluka parah akibat pertarungannya dengan Nona Darah Madu tidak bisa menyusul orang yang telah merebut Pedang Pembeku Jiwa.


Banyak pendekar dan elit asosiasi yang tewas, ini adalah pertarungan paling besar di sepanjang kerusuhan yang sering terjadi saat Asosiasi Gagak Putih melakukan pelelangan.


TRAANG!


Beberapa Tetua masih bertarung dengan sengit, mereka seakan tidak menyadari bahwa matahari mulai menampakkan cahayanya kembali.


Sebenarnya yang paling banyak mengikuti pelelangan adalah para Tetua ketiga aliran dari Sekte Menengah dan Kecil.


Beberapa melarikan diri, sebagiannya lagi nekat membalas dendam hingga bertarung sampai titik darah penghabisan.


Pemuda bertopeng rubah kembali muncul, namun letaknya berada di tempat lima orang Tetua yang sedang bertarung.


!!


Keberadaannya yang tiba-tiba ini begitu mengejutkan dan belum sempat ada yang bertindak--pemuda bertopeng rubah tersebut segera mengayunkan pedangnya.


Dalam dua kali tebasan, tubuh kelima Tetua itu segera mengeluarkan asap putih dan jatuh dengan badan kaku. Mereka memiliki kemampuan yang lebih tinggi, tapi kekuatan Pedang Pembeku Jiwa seakan membuat mereka bukanlah apa-apa.


Pemuda bertopeng itu kembali menghilang dan kali ini dia tidak pernah muncul lagi. Kondisi tersebut membuat frustrasi Ninik Bungkuk dan para pendekar yang lain, sayang mereka berada dalam kondisi yang luka parah.


Tidak adanya suara pertarungan yang terdengar membuat Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu merasa sudah banyak pendekar yang tewas di atas sana. Atau kemungkinan lainnya, mereka hampir keluar dari Kota Sayap Pegar.


"Kucing Putih, kita sebenarnya sudah berjalan berapa lama? Kapan kau mau melepaskanku?"


Xiao Shuxiang terus berjalan dengan kedua tangan terangkat. Dia menasehati Ling Qing Zhu untuk tidak terlalu bersikap kasar padanya, sungguh.. Dirinya paling rentang dikasari.


"Tidak ada yang kasar padamu. Jadi jalanlah,"

__ADS_1


?!


"Sejak kita terjebak, ini pertama kalinya kau bicara lebih dari satu kata. Kau harus mempertahankannya atau paling tidak tingkatkan.."


Xiao Shuxiang mulai lagi. Dia sebenarnya cerewet seperti ini karena gadis di belakangnya terlalu minim bicara.


Harus ada yang lebih aktif di antara mereka, atau kalau tidak.. Perjalanan ini benar-benar akan seperti mereka berjalan di pemakaman.


"Tahu tidak, kau dan Lan Zhi itu benar-benar mirip. Aku terkadang sulit menghadapi orang yang hemat bicara seperti kalian. Dan kau juga, bahkan basa-basi denganku pun tidak kau lakukan. Aku ini kan 'Wali Pelindungmu', harusnya kita lebih mengenal satu sama lain,"


Xiao Shuxiang memberi penekanan pada kata 'Wali Pelindung' yang dia ucapkan. Dia mulai mengeluhkan banyak hal dan tidak malu menanyakan perasaan Ling Qing Zhu padanya.


"Kucing Putih? Kenapa tidak bicara? Aku seperti bicara sendiri, ayo katakan sesuatu.."


"Mn, tidak ada yang perlu kuketahui darimu."


?!


Xiao Shuxiang tersentak dan segera berbalik. Dia membuat Ling Qing Zhu melonggarkan pegangan pedangnya agar tidak sampai melukai leher pemuda berpakaian serba hitam di depannya ini.


"Jadi maksudmu.. Kau tidak mau mengenalku?"


"Aku sudah tahu siapa kau. Jadi jalanlah,"


Xiao Shuxiang menaikkan sebelah alisnya, perlahan sebuah senyuman terlukis di wajahnya yang bersih dan nampak ramah itu.


"Hmm.. Jadi selama ini kau sudah mencari banyak informasi tentangku? Aah~ kau romantis sekali,"


!


Ling Qing Zhu berkedip beberapa kali saat Xiao Shuxiang menampar pelan lengan kirinya. Dari sekian banyaknya ucapan yang dilontarkan pemuda di depannya--ini adalah ucapan dengan nada suara paling menyebalkan yang pernah ada.


Ling Qing Zhu membalikkan tubuh Xiao Shuxiang dan menyuruh Wali Pelindungnya berjalan. Dia masih memegang pedangnya dan bersikap seolah pemuda berambut panjang di depannya adalah tawanan.


"Kucing Putih, kau mencari tahu tentangku dari siapa? Saudara Jing atau Saudara Hou? Atau mungkin dari Kakek, ayo katakan padaku. Mereka tidak menjelek-jelekkan aku, kan?"


"Hmph, memang kapan kau pernah baik?"


Pertanyaan Ling Qing Zhu membuat Xiao Shuxiang nyaris tersandung. Apa seburuk itu sampai dia tidak memiliki satu kebaikan pun yang layak dibicarakan? Bukankah dia sudah melindungi Benua Timur dari kehancuran?


".. Jangan bilang kau bertanya pada Tetua Zhou? Aah.. Kuingatkan padamu, jangan percaya padanya. Dia itu sangat suka mengejek dan meledekku. Tetua Zhou itu adalah guru yang paling menyebalkan.."


Xiao Shuxiang mulai menceritakan sikap Zhou Yan padanya selama ini, dan kebanyakan Patriach Ketiga Sekte Pedang Langit tersebut selalu menyuruhnya berhenti menjadi Alkemis.


".. Kemampuanku mempelajari sesuatu memang lebih lambat dari siapa pun, aku mengakui hal itu. Tapi sekali aku berhasil, itu akan selalu bertahan selama-lamanya. Masalahnya, Tetua Zhou itu.. Haah.. Dia sangat tidak cocok menjadi guru,"


Ling Qing Zhu menggeleng pelan, dia merasa kasihan dengan Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit yang kejelekannya sedang dibongkar oleh Xiao Shuxiang saat ini. Menurutnya, Tetua Zhou Yan mungkin sedang mabuk saat mengangkat Xiao Shuxiang menjadi murid.


"Dia gurumu, tak seharusnya kau membicarakan Beliau seperti ini.."


"Hm? Itu bukanlah masalah, Tetua Zhou tidak akan pernah marah saat aku membicarakan keburukannya. Dibandingkan Guru dan Murid-- hubunganku dengannya lebih kepada Paman dan Keponakan, atau Saudara mungkin. Yang jelas kami sangat dekat,"


Xiao Shuxiang menceritakan Zhou Yan adalah Patriarch yang paling menarik, ".. Sebenarnya setiap Patriarch Sekte Pedang Langit adalah orang yang ramah dan mudah diajak bicara, hanya saja entah bagaimana.. Kewibawaan mereka semua hilang saat bersamaku,"


!


Suara tawa Xiao Shuxiang membuat Ling Qing Zhu tersentak. Pemuda di depannya ini sudah tidak bisa ditolong lagi, tingkat tidak tahu malunya sudah menembus langit.


"Kucing Putih, kapan kau melepaskanku? Tanganku sudah pegal terus terangkat seperti ini,"


"Mulutmu tidak pegal terus bicara?"


"Tentu saja tidak, aku bisa bicara selama dua hari penuh kalau kau mau mendengarnya,"


"Dalam mimpimu,"


Xiao Shuxiang sepertinya telah salah, dia jelas-jelas punya bakat mengatasi orang-orang yang hemat bicara seperti Ling Qing Zhu.


Lihat saja, gadis cantik tersebut tidak lagi sekadar mengucapkan kata, 'Mn' untuk menjawab pertanyaan Wali Pelindungnya.


Diam-diam Xiao Shuxiang tersenyum, dia terus berjalan dan terkadang membicarakan Lan Guan Zhi pada gadis cantik di belakangnya.


Sangat aneh, Ling Qing Zhu memiliki respon yang cepat saat mereka membicarakan Lan Guan Zhi. Gadis itu suka membantah dan seakan melindungi Tuan Muda Lan saat Xiao Shuxiang menceritakan kejelekan teman baiknya tersebut.


".. Kucing Putih, kenapa kau marah karena aku mengejek Lan Zhi? Apa jangan-jangan kau suka padanya,"


"Tuan Muda Lan pemuda yang baik,"


Xiao Shuxiang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dia mulai bertanya kembali dan kali ini Ling Qing Zhu menjawab dengan kata pamungkasnya.


".. Jadi kau suka Lan Zhi?"


"Mn,"


"Benar kau menyukainya?"


"Mn,"


Xiao Shuxiang ingin berbalik tetapi Ling Qing Zhu memintanya untuk terus berjalan. Dia bahkan mengancam akan menggorok leher Xiao Shuxiang bila nekat berbalik ke belakang.


"Baiklah, baiklah. Kau suka Lan Zhi, jadi seberapa besar kau menyukainya?"


Ling Qing Zhu memikirkan pertanyaan Xiao Shuxiang barusan. Dengan masih berwajah tenang dirinya berkata bahwa Lan Guan Zhi adalah kakak yang baik baginya.


"Hm? Kau menganggapnya Kakak? Lalu bagaimana denganku?"


"Kau.. Kakekku,"


!!


Xiao Shuxiang tersedak napasnya sendiri, dia terbatuk dan mengatai Ling Qing Zhu keterlaluan. Usianya yang sebenarnya memang sudah begitu tua, tetapi seharusnya dia belum pantas dianggap sebagai 'Kakek'.


".. Aku ini belum menikah, jadi mana mungkin langsung memiliki cucu. Kau dan Lan Zhi cocok, kalian sama-sama keterlaluan."


Ling Qing Zhu tersenyum di balik cadar tipisnya. Dia berbalik memunggungi Xiao Shuxiang karena tidak ingin memperlihatkan bahwa saat ini dirinya sedang menahan tawa.


Xiao Shuxiang sendiri tidak mengetahui apa yang dilakukan Ling Qing Zhu karena gadis tersebut memunggunginya. Yang dia lakukan hanyalah mengusap-usap dada karena selama hidupnya--ini kedua kalinya dia disebut sebagai 'Kakek'.


"Aaih.. Jangan bilang selama ini teman-temanku menganggap Xiao Shuxiang ini 'Bocah Tua Nakal'.. Apa mungkin aku setua itu.."

__ADS_1


Xiao Shuxiang menggelembungkan pipinya, dia menoleh ke arah Ling Qing Zhu dan lalu memanggilnya. Gadis berambut putih yang terurai panjang itu mulai membalikkan tubuh dengan wajahnya yang langsung berubah tenang.


Xiao Shuxiang jadi tidak berminat bersuara lagi, dia memilih untuk diam sambil melanjutkan perjalanan.


Ling Qing Zhu kali ini berjalan di sampingnya. Gadis itu telah menyarungkan kembali pedang pusaka miliknya.


Tap


Tap


Tidak ada suara lain yang terdengar selain langkah kaki mereka. Ketenangan inilah yang diinginkan Ling Qing Zhu, tetapi tidak untuk Xiao Shuxiang.


Mulut pemuda mempesona tersebut masih sering berkomat-kamit walau tanpa mengeluarkan suara apa pun. Namun dari raut wajahnya--Xiao Shuxiang sepertinya tengah mengumpati banyak hal.


Di tempat lain, hanya Lan Guan Zhi dan teman-temannya yang melanjutkan perjalanan. Warga Kota Sayap Pegar memutuskan beristirahat dan akan kembali ke kota karena merasa pertarungan para pendekar telah berhenti.


Terowongan bawah tanah yang mereka bangun memang sangat panjang. Bila berjalan kaki tanpa pernah beristirahat, mereka akan sampai di ujung terowongan 5-7 hari.


"Lan'Er Gege.. Ayo berhenti sejenak. Aku tidak sanggup berjalan lagi dan aku juga kelaparan.."


Bocah Pengemis Gila tidak henti-hentinya merengek, dia bukanlah kultivator seperti Lan Guan Zhi, Xiao Lu, dan Yi Wen. Dia butuh istirahat dan memejamkan mata sejenak.


Xiao Lu, "Kau ini payah sekali,"


"Tuan Muda Lan, tinggalkan saja dia dan kita lanjutkan perjalanan. Saudara Xiao masih butuh bantuan, dia ini hanya menyusahkan saja,"


Yi Wen ingin memukul gemas Bocah Pengemis Gila namun pemuda yang memegang tongkat bambu tersebut langsung berlindung di balik punggung Lan Guan Zhi.


Nyawn~


Lan Xiao merasa ini waktu yang tepat, tidak ada lagi warga Kota Sayap Pegar di sekelilingnya, para warga memilih beristirahat dan menunggu sampai kekacauan di kota berhenti.


Lan Xiao berputar-putar dan mulai mengeluarkan suara geraman kecil. Secara cepat asap putih menyelimuti tubuhnya dan membuatnya menjadi harimau dewasa.


Rrrr~ nyawn


"Naiklah,"


Lan Guan Zhi meminta Bocah Pengemis Gila untuk naik ke punggung Harimau Bulan. Dia berkata mereka akan menemukan makanan sebentar lagi, dirinya percaya pada penciuman Lan Xiao yang begitu tajam.


Perjalanan mereka kembali dilanjutkan dan kali ini Bocah Pengemis Gila menunggangi Harimau Bulan.


Tidak seperti Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu yang beberapa kali bertemu Demonic Beast.. Lan Guan Zhi dan teman-temannya tidak menemui kesulitan yang berarti dalam perjalanan mereka.


Sebenarnya, ini cukup wajar sebab jalanan yang Lan Guan Zhi lalui adalah jalan yang selalu dilalui warga Kota Sayap Pegar.


Demonic Beast di terowongan ini hanya ada di sisi jalan yang tidak pernah dilalui, mereka seakan tipekal binatang yang menyembunyikan diri dari manusia.


Para Demonic Beast itu bisa sampai di terowongan buatan ini karena lubang keluar terowongan tersebut tidak ditutup. Mereka adalah binatang yang membahayakan, namun keganasan itu hanya ada saat mereka merasa terancam.


Kuu~


Seekor Demonic Beast berwujud tenggiling bersisik emas nampak meringkuk ketakutan saat seruling Xiao Shuxiang menyentuh lehernya. Tubuhnya gemetaran dan dirinya memejamkan mata erat.


..


Cukup lama tenggiling itu memejamkan mata, namun ternyata dia masih bisa mendengar suara detakan jantungnya. Padahal dirinya merasa akan segera tewas di tangan pemuda berpakaian serba hitam tersebut.


"Apa kau takut? Aku tidak akan membunuhmu.. Ayo buka matamu,"


Xiao Shuxiang bersuara lembut sambil mengusap pelan kepala tenggiling bersisik emas di depannya.


Dia memang kaget karena tiba-tiba di serangan Demonic Beast ini, namun saat melihat binatang di depannya meringkuk ketakutan, Xiao Shuxiang merasa ini mungkin karena dia dan Ling Qing Zhu-lah yang salah.


Kuu~


Tenggiling bersisik emas perlahan membuka matanya, dia memperhatikan orang yang telah mengusap-usap kepalanya dan kemudian dengan malu-malu menggosokkan kepalanya di pundak Xiao Shuxiang.


Kuu~


"Anak baik.. Kau anak yang baik. Maaf karena sudah menganggumu.."


Ling Qing Zhu memperhatikan bagaimana Wali Pelindungnya bisa menenangkan tenggiling bersisik emas yang berusia 2000 Tahun tersebut.


Tidak hanya itu, tetapi Xiao Shuxiang juga memberi beberapa tanaman herbal miliknya pada Demonic Beast tersebut sebagai bentuk pertemanan.


Setelah berpamitan, Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu melanjutkan perjalanan mereka. Ada banyak cabang di lorong ini dan itu terjadi karena saat pembuatan.. Warga Kota Sayap Pegar tidak tahu jalan.


Karenanya, sebagai tanda jalanan yang benar.. Para warga sepakat menanam Rumput Bulan yang selain sebagai petunjuk jalan--juga sebagai penerangan.


".. Kudengar rumput ini sangat sulit ditemukan. Mereka pasti berusaha sangat keras mendapatkannya.."


Tidak hanya soal Rumput Bulan, tetapi juga usaha warga menggali terowongan ini. Xiao Shuxiang sebenarnya kagum dengan semangat warga Sayap Pegar, mereka telah bekerja keras demi bisa melindungi nyawa mereka sendiri.


Perjalanan ini memakan waktu yang lama, hari demi hari dilalui Xiao Shuxiang dan teman-temannya di dalam terowongan bawah tanah. Walau terpisah jalan, namun tujuan mereka tetap satu--yakni bisa keluar dari Kota Sayap Pegar.


Tap


Tap


Tidak ada rasa jenuh selama perjalanan Ling Qing Zhu, ini karena dirinya terus mendengarkan berbagai cerita dari Wali Pelindungnya. Xiao Shuxiang menceritakan tentang pengalamannya selama pelayarannya ke Benua Utara.


Ada satu momen ketika kening Ling Qing Zhu mengerut, itu adalah saat Xiao Shuxiang mengatakan diberi hidangan daging manusia kala dirinya berada di atas kapal.


"Apa kau.. Memakannya?"


Xiao Shuxiang bisa melihat rasa penasaran gadis di depannya hanya dari tatapan mata saja. Dia lalu menjawab pertanyaan Ling Qing Zhu dengan berkata kemungkinan dia benar-benar memakannya.


".. Aku juga tidak yakin. Aku belum pernah makan manusia sebelumnya.. Emm.. Bagaimana menurutmu? Apa kau takut padaku?"


Ling Qing Zhu menghembuskan napas pelan dan kemudian berkata dia tidak takut. Baginya saat itu Xiao Shuxiang adalah korban, sekejam apa pun Wali Pelindungnya ini.. Xiao Shuxiang bukanlah orang yang seperti itu.


".. Kau pemuda yang lumayan baik,"


"Hm? Kau tadi bilang apa?"


Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, dia seperti baru saja mendengar pujian dari gadis cantik yang berjalan di sampingnya.


Sayang sekali, saat Xiao Shuxiang meminta Ling Qing Zhu mengulang kembali ucapannya--gadis tersebut tidak mau dan malah mempercepat langkahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2