XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
221 - Kemunculan Pusaka Langit Pertama


__ADS_3

!!


"He-Hei..! Apa-Apaan ini?! Lepaskan Aku..!"


Seorang wanita berusia sekitar 40 Tahun nampak memberontak saat dibopong layaknya karung beras oleh Siu Yixin.


Dengan nada, Siu Yixin memintanya untuk tenang karena dirinya bukanlah orang yang jahat. Namun wanita ini terus saja memberontak dan sama sekali tidak bisa diam.


Memang siapa yang akan percaya dengan pria berpenampilan aneh seperti Siu Yixin?! Dirinya sendiri baru pertama kali melihat ada laki-laki yang bulu matanya begitu panjang, berwarna merah dan bentuknya seperti bulu unggas.


"Turunkan Aku..! Toloong..! Kau Dasar ********..! Lepaskan Aku..!"


"♬♪Nyonya cantik, kau jangan seperti ini. Sebaiknya menurut saja, aku pasti akan membuatmu nyaman dan aman, yo..!"


!!


Maksud dari ucapan Siu Yixin adalah untuk membawa wanita yang dibopongnya ke tempat aman, menyelamatkannya dari bencana yang kemungkinan akan melanda tiga kekaisaran. Namun, wanita ini malah mengartikannya lain.


Dia semakin berteriak histeris, beberapa kali memukul-mukul punggung Siu Yixin dan memakinya sebagai pria yang mesum.


".. Kau culik saja gadis muda..! Aku ini sudah punya sebelas orang anak dan dua orang cucu..! Cari pasangan yang seumuran denganmu dan lepaskan aku..!"


"♬♩ Aku hanya mengerti sedikit ucapanmu. Aku ini bukan seorang penculik, yo♩♪."


Siu Yixin memasukkan wanita yang dibopongnya ke dalam kurungan kayu yang ditarik oleh empat ekor kuda.


Selain wanita ini, ada sepepuluh orang lagi di dalam kurungan tersebut, mereka semua adalah warga dari salah satu kota di Kekaisaran Matahari Tengah.


Siu Yixin tidak sendirian, dirinya ditemani oleh sekitar tiga puluh orang dari seribu rekan timnya. Mereka tidak hanya menculik para warga, tetapi juga mengambil harta yang dapat dipergunakan nantinya.


Ada beberapa kultivator Aliran Putih yang awalnya mencegah Siu Yixin dan kelompoknya, namun setelah diberi pemahaman oleh salah satu rekan yang nampak berwibawa mereka mulai mengerti.


Sebenarnya, para kultivator ini sudah merasakan perasaan tidak nyaman sejak langit cerah tanpa awan tiba-tiba saja menjadi mendung dan kemudian menurunkan hujan. Perasaan itu kembali kuat setelah mendengar penjelasan dari salah satu rekan Siu Yixin.


Di Kekaisaran Matahari Tengah, Tianqi Mao terkenal sebagai Kucing Cuaca. Dia merupakan Demonic Beast yang diakui karena indra perasanya terhadap perubahan iklim tidak main-main.


Dia bukanlah kucing peramal, Tianqi Mao adalah kucing yang selalu percaya pada firasatnya. Dan firasat dari seekor kucing tidak pernah mengecewakan.


Pada akhirnya, para kultivator dari Aliran Putih yang sebelumnya menentang Siu Yixin dan rekannya menjadi membantu mereka. Sebagian juga langsung bergegas pergi ke daerah perbatasan, berniat untuk membuktikan tentang firasat Tianqi Mao yang didengarnya.


Hujan terus turun, sesekali nampak kilatan petir di antara kumpulan awan gelap. Bunyi dari senjata yang berbenturan, teriakan, dan suara saat kulit terkena tebasan menyatu dengan derasnya air hujan.


Terlihat korban berjatuhan di kedua pasukan lawan. Hujan benar-benar seperti genangan darah kala menyentuh tanah.


Dai Chen, Li Qian Xie dan Xiao Lu berada di garisan paling depan. Mereka menerjang dan membuat berantakan formasi lawan.


Tidak ada rasa takut yang nampak di wajah ketiganya, status mereka yang adalah kultivator membuat alur perang ini berada di pihak Kekaisaran Matahari Tengah.


TRAANG!


CRAASH!


Xiao Lu yang paling gesit dalam pertempuran ini, dirinya benar-benar seperti bintang lapangan. Tidak ada prajurit yang sanggup bertahan lebih dari tiga serangannya.


TRAANG!


Mereka awalnya menangkis serangan Xiao Lu dari arah kanan mereka, namun dengan cepat istri Dai Chen tersebut menggunakan kaki yang diselimuti Qi untuk menendang bagian 'masa depan' prajurit tersebut dengan keras, dan serangan ketiga merupakan penghabisan yang langsung menebas leher mereka.


Tidak ada yang namanya aturan dalam sebuah perang yang dimulai dari anak panah beracun. Kecurangan bahkan menjadi benar dalam perang ini.


Yang Shu mungkin terlihat seperti kakek tua biasa, dia adalah GrandElder tetapi bakat berpedangnya biasa saja. Namun, caranya mengatur strategi perang bukan main-main.


Seperti yang diketahui, dia adalah Kaisar Muda dari Benua Utara. Sosok pemimpin yang selama ini selalu ditunggu oleh rakyatnya, pangeran kesayangan mereka.


Pangeran Kesebelas yang tidak pernah sekalipun ikut berperang, sesosok pangeran yang enggan mengayungkan pedangnya, sosok yang mereka kagumi.


Bagi kakak-kakaknya, Yang Shu adalah pecundang. Pangeran yang dianggap sampah dan menjadi aib bagi keluarga kaisar. Tidak ada putri bangsawan manapun yang mau menikah dengan pangeran yang tak memiliki posisi di istana, apalagi ada darah wanita pedesaan yang mengalir di dalam tubuhnya.


Yang Shu juga tidak pernah mendapat perhatian dari Kaisar sendiri, dirinya seperti menjadi orang biasa saja. Dia bahkan selalu kalah saat melakukan latih tanding dengan para saudara-saudaranya, Yang Shu adalah sosok yang diremehkan.


Meski demikian, menjadi pangeran yang dikucilkan sama sekali tidak membuatnya sedih. Malahan dirinya sangat bersyukur, karena dengan begini.. Dia dapat terhindar dari niat buruk para manusia yang haus akan tahta Kekaisaran.


Tidak ada yang tahu bakat terpendam Yang Shu selain dirinya sendiri. Dengan kecerdasan otaknya, dia telah terselamatkan oleh banyaknya masalah yang timbul dari istana kaisar.


"Kakak?"


!


Yang Shu tersadar saat adiknya, Yang Fu menyentuh pundaknya. Pandangan matanya kembali mengarah pada kertas besar yang ada di atas meja.

__ADS_1


Di atas kertas tersebut mencakup seluruh wilayah tempat peperangan mereka. Mulai dari bukit, pohon, bahkan prajurit kedua kekaisaran terlihat dengan jelas pada kertas berwarna sedikit kekuningan tersebut.


Titik-titik hijau yang bergerak adalah pasukan Yang Shu, sementara warna hitam merupakan pasukan lawan. Adapun titik berwarna merah merupakan prajurit kedua kekaisaran yang telah gugur.


Hanya dengan berdiri di markas paling belakang atau sebut juga menara komando, Yang Shu dan adiknya dapat melihat seluruh bentuk pertempuran antar pasukan mereka dengan pasukan musuh.


"Fu'Er, ini pertama kalinya aku ikut dalam perang. Jujur saja, ini tidak membuatku senang.."


"Memang ada orang yang bisa senang dalam kondisi mengkhawatirkan begini? Alur perang memang mendukung kita, tapi tidak seorang pun yang terlihat menampakkan senyum di wajahnya. Kakak, tidak ada yang dapat tertawa dalam pertempuran semengerikan ini.."


Ucapan Yang Fu memang benar. Andai kata perang itu berhasil mereka menangkan pun, tidak ada jaminan mereka bisa memperlihatkan senyuman yang dipenuhi kebahagiaan. Justru, yang ada mungkin senyum penuh kesedihan.


Di tempat lain, tepatnya di tenda milik Kaisar Matahari Tenggelam.. Nampak tiga orang yang di depan mereka melayang 3 gumpalan besar air yang memperlihatkan pertempuran kedua kekaisaran


Gumpalan air di kiri lebih menyorot pasukan lawan dan gumpalan air di kanan adalah pasukan Kaisar. Sementara gumpalan di tengah yang ukurannya lebih besar menyorot seluruh wilayah pertarungan.


Satu diantara ketiga orang ini terlihat duduk di kursi kebesarannya, dia memakai pakaian berwarna merah keemasan.


Wajahnya tidak terlalu jelas sebab penerangan di dalam markas begitu minim, hanya postur tubuhnya saja yang nampak seperti berusia sekitar 23 Tahun.


Ada satu orang yang berdiri di samping kirinya, pria berpakaian serba hitam dengan lambang matahari di belakang jubahnya, wajahnya tak terlihat karena memakai topeng rubah berwarna merah.


Kedua orang ini tidak lain adalah Kaisar Matahari Tengah dan kaki tangannya, Zhe Eryu. Satu-satunya perempuan diantara mereka adalah Tu Liao, gadis bercelana pendek dengan pakaian berwarna kuning keemasan bermotif daun gugur ini merupakan pilar atas Scarlet Bayangan, kursi kelima.


Ketiganya masih terlihat tenang walau alur perang tidak memihak pada mereka. Tu Liao yang sedang berbaring di ranjang milik kaisar nampak memainkan rambut bergelombangnya, dia memiliki mata berwarna hitam giok, sangat menawan dengan wajah penuh riasannya.


Selain merupakan pilar atas Scarlet Bayangan, Tu Liao juga adalah selir Kaisar Matahari Tengah. Dia satu-satunya selir kesayangan, karena itulah dirinya begitu berani berbaring di tempat tidur Sang Kaisar.


"Kakak Kedua~ kapan kita akan bergerak..? Aku sudah tidak sabar.. Membunuh mereka semua,"


Tu Liao mengangkat perlahan tangan kanannya, dia memperhatikan gelang emas berbentuk ular di pergelangan tangannya.


Sebuah asap tipis berwarna kehijauan keluar dari sela-sela jarinya. Asap tersebut memadat dan membentuk sebuah kuas lukisan dengan corak ular berkepala dua.


"Kakak Kedua~ aku sudah tidak sabar~"


Pria bertopeng yang berdiri di samping kanan Kaisar menatap sekilas Tu Liao, dia lalu meletakkan jari telunjuk kanannya di mulut topeng rubahnya sebagai tanda untuk meminta selir kaisar tersebut berhenti bicara.


Dirinya lalu membisikkan sesuatu di telinga kanan Kaisar dan langsung mendapat respon anggukan.


Bibir Kaisar Matahari Tenggelam langsung tertarik membentuk senyuman. Bersamaan dengan hal itu suara petir yang menggelar membuat Dai Chen, Xiao Lu, Li Qian Xie serta para prajurit mereka terkejut.


Bantuan yang tidak diduga datang..! Itu adalah para kultivator dari Sekte Phoenix Iblis. Mereka rupanya membantu Kaisar Matahari Tenggelam memerangi pasukan Kaisar Matahari Tengah.


!!


!!


Ini bukan lagi perang yang dilakukan antar sesama prajurit kekaisaran. Dai Chen dan pasukannya mustahil bisa mengatasinya.


Jauh di tempat lain, Xiao Shuxiang juga merasakan hal yang sama. Dia telah menyelamatkan warga kota terakhir dengan racikan herbal miliknya yang dilebur sehingga menjadi asap keemasan.


Dirinya telah membebaskan murid-murid Sekte Bunga Lotus dari dikendalikan oleh aroma menenangkan rumput yang bahkan tidak menghilang kala terkena air hujan. Beruntung aroma yang membuat tertidur itu segera ternetralisir dari asap keemasannya.


Namun saat teman-temannya dan para kultivator merasa ini semua telah berakhir, sesuatu tiba-tiba saja terjadi.


!!


Gumpalan asap hitam seukuran bola yang sebelumnya berasal dari dalam tubuh para manusia yang dikendalikan dan menghilang perlahan kini muncul kembali.


Mereka berkumpul pada satu titik dan secara cepat memadat. Suara petir terdengar bersamaan dengan semakin derasnya hujan, detik itu juga sebuah pedang terbentuk dari gumpalan asap hitam sebelumnya.


!!


Xiao Shuxiang terkejut, pedang yang dia lihat menancap di tanah sangat tidak asing baginya.


Itu adalah Pedang Bintang Malamnya.


!!


Aura mencekam pedang tersebut langsung memenuhi seluruh wilayah Kekaisaran Matahari Terbit, bahkan aura tersebut terasa sampai dua kekaisaran yang lain.


"ITU PUSAKA LANGIT..!!"


!!


Xiao Shuxiang kembali terkejut saat mendengar seruan salah satu kultivator senior yang berasal dari Aliran Hitam.


Kondisi tubuhnya pulih kembali setelah diselamatkan oleh Xiao Shuxiang. Namun sepertinya, asap keemasan tersebut sama sekali tidak mengubah keserakahannya.

__ADS_1


Jika lukisan wajah Xiao Shuxiang yang terus di sebar Duan De selama ini adalah kebohongan, maka berbeda dengan lukisan Pedang Bintang Malam.


Pusaka Langit Pertama itu memiliki bilah yang setengah bagiannya berwarna putih keperakan, sementara setengah bagian lagi hingga ke pegangannya berwarna hitam.


Ada tiga pola berbentuk layaknya gulungan ombak pada kedua sisi yang menjadi pembatas antara pegangan dan sarung pedangnya.


Tiga pola ini terbuat dari besi keperakan yang menjadi penyangga kedua pergelangan tangan Xiao Shuxiang saat memegang Pusaka Langit dengan kedua tangannya.


Para kultivator yang mengetahui sejarah mengerikan tersebut tentu tidak akan pernah lupa dengan ciri-ciri Pedang Bintang Malam.


"Pusaka Langit..! Itu Pusaka Langit Yang Sebenarnya..!"


!!


Para kultivator dari Aliran Putih dan Netral terkejut saat melihat kultivator Aliran Hitam melesat cepat ke arah pedang itu.


Saat jarak mereka dengan Pedang Bintang Malam hampir mendekati lima meter, sebuah angin kejut langsung membuat mereka semua terpental begitu jauh bahkan sampai menghantam tanah, pepohonan, dan rumah penduduk.


Xiao Shuxiang sendiri belum bergerak dari tempatnya berdiri, dia memegang erat Seruling Giok Putihnya. Pedang Bintang Malam yang dia lihat memiliki aura begitu kelam, dia tidak mengenali aura ini.


Asap tipis kehitaman masih menyelimuti Pedang Bintang Malam. Secara perlahan asap itu membentuk sepasang tangan bersarung hitam yang nampak memegang kuat pedang tersebut.


Angin kejut kedua langsung menyeruak dan menghantam apapun, baik manusia maupun pohon di sekelilingnya. Xiao Shuxiang serta para kultivator ketiga Aliran melindungi diri dari angin kejut tersebut.


!!


Ada juga beberapa manusia yang tak dapat dilindungi, mereka terpental dan hampir menghantam pohon andai tidak segera ditangkap oleh kultivator Aliran Putih.


Saat asap hitam yang menyelimuti Pedang Bintang Malam membentuk tubuh manusia bertudung.. Xiao Shuxiang segera memasukkan Seruling Giok Putihnya ke dalam Gelang Semesta dan mengeluarkan Yīng xióng.


"Jadi ini rencana mereka.."


Xiao Shuxiang menyadari dirinya telah dijebak. Pantas saja musuh tidak menghentikannya saat menggunakan Seruling Giok Putih.


Lagu 'ketenangan' sama saja dengan Teknik Pembersihan Iblis Hati. Kepulan asap hitam yang keluar dari mulut, hidung, dan telinga para manusia sebelumnya adalah benih yang ditanam untuk semakin menguatkan aura mencekam Pedang Bintang Malam.


Beberapa kultivator Aliran Hitam yang tidak dikendalikan juga mendapat efek dari lagu 'Ketenangan' yang dimainkan Xiao Shuxiang, mereka memuntahkan gumpalan darah kental.


Tidak ada dari para kultivator yang bersuara, mereka seperti terlalu terkejut dengan apa yang mereka lihat ini. Sosok seperti pemuda itu sedang berdiri begitu dekat dengan Pusaka Langit.


"Pusaka Itu Akan Menjadi Milikku..!"


"Serahkan Pedang Itu..!!"


!!


Beberapa kultivator serakah dari ketiga aliran mengalirkan Qi pada pedang masing-masing. Detik itu juga mereka langsung melesat untuk merebut Pusaka Langit dari sosok yang wajahnya tertutup jubah bertudung hitam.


"Kalian Semua Mundur..!"


Seruan Xiao Shuxiang sama sekali tidak dihiraukan. Pegangan Pedang Bintang Malam hanya sedikit digeser namun dua puluh orang kultivator yang menyerang secara bersamaan langsung mendapat masing-masing lima luka tebasan di tubuh mereka.


CRAASH!


BAAAM!


!!


Xiao Shuxiang melihat kedua puluh orang kultivator dari aliran yang berbeda itu menghantam tanah dengan tubuh penuh luka tebasan dalam.


Mereka semua.. Tidak lagi bernapas.


!!


Sosok yang memegang Pedang Bintang Malam seketika menghilang dan muncul tepat di depan Xiao Shuxiang.


TRAANG!


Dirinya hanya mampu menahan serangan selama satu tarikan napas sebelum terpental sejauh dua puluh meter dengan darah yang memuncrat di lengan, betis, dan dada.


BAAAM!


Xiao Shuxiang baru berhenti setelah menghantam tiga rumah yang sebelumnya telah rusak, dia terbatuk darah sambil memandang langit yang tertutup awan gelap.


Sebuah kilatan cahaya terlihat, detik berikutnya serangan kembali mengarah pada Xiao Shuxiang, kali ini dia menghindar dan mengambil jarak aman.


!!


Punggung, lengan, dan kedua paha Xiao Shuxiang kembali memuncratkan darah. Dia sangat terkejut, padahal jelas dirinya menghindar tepat waktu.

__ADS_1


"Gawat..! Aku bisa mati bila tidak bisa mengatasinya segera,"


***


__ADS_2