XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
329 - Menyelamatkan Diri Sendiri


__ADS_3

Suasana pelelangan yang sebelumnya telah memanas kini seakan meledak. Ninik Bungkuk yang berasal dari Partai Kayu Bara bertarung sengit dengan gadis becadar tipis berwarna merah yang dijuluki Nona Darah Madu.


TRAAANG!


Kipas adalah senjata Nona Darah Madu. Pusakanya tersebut berbenturan dengan tongkat kayu milik Ninik Bungkuk, satu serangan saja sudah menciptakan angin kejut yang merusak setiap kursi dan melukai para penonton.


["Larii...! Cepat selamatkan diri kalian..!"]


"Larii cepat..!!"


TRAAANG!


Semua orang berusaha berlari ke arah pintu keluar. Sebagian besar berhasil menyelamatkan diri, namun ada juga penonton yang harus terlempar dan menghantam dinding dengan keras.


AAAAKH..!


Tidak hanya itu, tetapi sebagian penonton yang terkena angin kejut harus menghantam bangku panjang karena pertarungan dua pendekar tersebut.


TRAAANG!


["Jangan menghalangi jalanku kalau kau tidak mau mati, Ninik!"]


["Khe he he, sombong sekali. Perlihatkan kemampuanmu jika kau memang bisa membunuhku!"]


Nona Darah Madu tidak akan berbelas kasih lagi. Dengan sekuat tenaga dia mengayunkan kipas berwarna merah miliknya dan itu menciptakan lima tebasan angin beruntun yang menghantam apa pun di depannya.


BAAAAM!


Para Tetua yang lain melompat menghindari serangan itu. Kekacauan jelas tidak terlelakkan. Beberapa pendekar yang berasal dari Aliran Hitam memanfaatkan keributan yang ada untuk bisa mencuri Pedang Pembeku Jiwa.


!!


CRAAAASH..!


Pria tua yang hanya manusia biasa dan bertindak sebagai pengatur dari berlangsungnya pelelangan tewas seketika saat sebuah serangan yang entah siapa pelakunya menebas lehernya hingga nyaris terputus.


["Aaaah! Tuan..! Tuaaan..!"]


Seorang gadis yang merupakan salah satu pegawai dari Asosiasi Gagak Putih berteriak kala tuannya tiba-tiba saja ambruk. Dia lalu ditarik oleh temannya untuk segera menyelamatkan diri.


TRAANG!


Ada satu penonton yang sejak berlangsungnya pelelangan sampai pertarungan terjadi--tidak pernah bergeming dari tempat duduknya. Dia memakai jubah dan tudung hitam, sementara wajahnya tertutup topeng rubah dengan warna senada dengan jubahnya.


Hanya sedikit tanda dengan jari telunjuk kanannya--Sri Anyar dan kelima rekannya yang membaur di antara para pendekar mulai melakukan rencana mereka.


Hawa Raynar, gadis yang tewas namun dihidupkan kembali oleh Pemuda Bertopeng Rubah nampak melesat dan dengan diam-diam menyerang salah seorang pendekar agar bisa diadu domba dengan pendekar lainnya.


Karasu, Wisesa, Tong Due, dan Papat Yada juga demikian. Mereka membuat pertarungan tidak hanya berasal dari Ninik Bungkuk dengan Nona Darah Madu, tetapi juga para tetua yang lain.


TRAANG..!


CRAAASH..!


Kekacauan di bangunan utama Asosiasi tidak bisa terhindarkan. Dalam waktu yang singkat, beberapa pilar penyangga hancur berantakan. Suara retakan dinding bangunan seakan menyatu dengan debaman dan suara benturan senjata.


BAAAAM!


["Sialan..! Beraninya kau menyerangku dari belakang..!"]


["Kau yang duluan melakukannya sialan..!"]


Dua pendekar dari partai yang berbeda bertarung dengan begitu sengit. Mereka menyerang tanpa peduli siapa yang terkena efek serangan mereka, alhasil.. Beberapa pendekar lainnya ikut meradang.


TRANG!


TRANG!


Anggota Asosiasi Gagak Putih berusaha menghentikan pertarungan ini. Namun yang terjadi justru membuat mereka ikut terlibat dalam pertarungan.


["Serahkan pedang itu kalau kau masih ingin hidup!"] ancam seorang pria yang terlihat berusia 40 Tahun dengan luka sayatan pedang di pipinya. Luka tersebut masih begitu baru, ini bisa dilihat dari darah segar yang mengucur keluar.


["Tidak bisa.. Ini.. Pedang ini bukan milikmu.."]


["Haah masa bodoh,"]


!!


Gadis yang memeluk peti kayu tempat Pedang Pembeku Jiwa berada nampak meringkuk dan memejamkan mata erat.


Dia pikir dirinya akan mati saat melihat pria jahat di depannya yang mengayunkan pedang, namun seketika suara benturan nyaring terdengar.


Perlahan, matanya terbuka hingga melihat seorang pendekar berpakaian putih berdiri tepat di depannya dan nampak menangkis serangan yang nyaris membunuhnya.


["Tu-Tuan, terima-"]


CRAAASH!


Sangat ironis, pendekar yang dia anggap penyelamat adalah seseorang yang juga mengincar Pedang Pembeku Jiwa. Gadis dengan tahi lalat di bagian dagu tersebut langsung merasakan pandangannya gelap.


Tubuh yang berdiri dan memeluk peti kayu tanpa kepala tersebut mulai oleng dan kemudian terjatuh setelah peti di tangannya berpindah kepemilikan.


"Hah haha.. Ini milikku sekarang,"


CRAAASH..!


"Jangan senang dulu, akulah yang berhak memilikinya,"


Menusuk dari belakang adalah tindakan pengecut, namun apa pun dihalalkan dalam pertempuran. Dengan luka tusukan di dada, pria berpakaian putih itu membalas serangan lawannya tanpa menoleh.


Dia menusukkan pedangnya ke belakang dan ternyata mampu membuatnya tertancap tepat di daerah ginjal milik lawan.


Dengan sekuat tenaga dia menggerakkan pedangnya hingga mampu merobek sebagian perut lawan di belakangnya sambil menahan sakit di dadanya.

__ADS_1


CRAAASH..!


Tidak ada jaminan bahwa sekaratnya mereka hingga bisa lolos dari serangan pendekar yang lain. Buktinya, saat telah diambang batas--sebuah serangan langsung membuat kepala mereka terjatuh.


Peti Pedang Pembeku Jiwa berpindah tangan lagi. Pertarungan ini semakin ruyam kala para Tetua dari Partai Besar melihat peti kayu tersebut.


["Pedang Itu Milikku..!"]


"Serahkan Pedangku..!"


TRAANG!


BAAAM!


Tidak ada lagi tata krama, aturan seakan hilang dan berganti dengan keserakahan manusia. Seseorang yang menonton indahnya pertumpahan darah ini nampak sangat menikmatinya.


Tidak jarang sebuah serangan nyasar mengarah padanya, namun serangan tersebut langsung menembus dirinya. Dia benar-benar tidak mendapat goresan sedikit pun.


"Teruslah bertarung kalian semua.. Sampai pada akhirnya nanti, akulah satu-satunya yang akan meraih kemenangan,"


Tubuh orang bertopeng rubah tersebut memudar dan kemudian menghilang. Sri Anyar merasa ini sudah saatnya berhenti, dia lalu menghindari pertarungan bersama kelima saudaranya dan membiarkan para pendekar dari berbagai aliran saling bertarung satu sama lain.


BAAAAM!


Sebenarnya ini kondisi yang mengkhawatirkan. Pendekar serta kultivator yang ada lebih banyak berasal dari Aliran Hitam. Mereka adalah tipekal manusia keras kepala dan sulit sekali dikendalikan.


TRAANG!


Jujur saja, para elit Asosiasi Gagak Putih pun tidak sanggup menghentikan pertarungan ini. Bukan hanya itu, kehadiran pendekar serta kultivator dari Aliran Putih dan Netral membuat suasana semakin tidak terkendali.


BAAAAM!


Ini bisa menjadi bibit dari pertarungan besar-besaran. Apalagi sekarang, mulai banyak pendekar yang mengeluarkan kekuatan aslinya demi bisa merebut Pedang Pembeku Jiwa.


BLAAAAR..!


Suara petir terdengar seakan nyaris memecah langit, padahal tak ada setitik awan hitam pun di langit malam Kota Sayap Pegar. Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang masih berada di dalam Penginapan Bulu Phoenix terlihat dilanda rasa penasaran.


Yi Wen, "Ayo kita lihat,"


"Nona Muda, tunggu!"


?!


Yi Wen dan teman-temannya baru akan melangkah, namun pemilik penginapan melarang mereka pergi. Raut wajah wanita paruh baya ini nampak sangat cemas.


!!


Xiao Shuxiang dan teman-temannya tersentak saat merasakan lantai bangunan seakan bergetar. Sebenarnya bisa dibilang, tanah di Kota Sayap Pegar sedang berguncang akibat pertarungan para pendekar.


"Tuan dan Nona Muda, saat ini kota tidak sedang aman. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk membawa kalian meninggalkan kota ini dengan selamat, tolong jangan pergi ke sana,"


Pemilik dari Penginapan Bulu Phoenix meminta Xiao Shuxiang dan yang lainnya untuk mengkuti dirinya. Para warga kota rupanya sudah berkumpul di halaman belakang penginapan.


?!


"Setiap kali Asosiasi Gagak Putih mengadakan pelelangan, pasti selalu berakhir ricuh. Jadi warga kota sudah biasa dengan hal semacam ini,"


Mendengar penjelasan pemilik penginapan membuat Xiao Shuxiang tidak tahu harus berkata apa. Sementara Yi Wen dan Xiao Lu nampak begitu fokus melihat ke arah langit.


BLAAAAR!


Gemuruh petir kembali datang disertai dengan tanah bergetar hebat. Para warga Kota Sayap Pegar begitu teratur berjalan memasuki sebuah lubang yang ada di halaman belakang penginapan, jelas sekali mereka sudah biasa dengan kekacauan di kota mereka ini.


"Kalian warga kota yang hebat.." ucapan tersebut tanpa sadar terlontar keluar dari bibir Xiao Shuxiang.


Bocah Pengemis Gila dan Xiao Qing Yan juga nampak kagum. Bahkan keduanya bisa melihat bagaimana anak-anak kecil masih dapat tersenyum dan bercanda bersama teman-temannya.


Lan Guan Zhi, Lan Xiao, dan Ling Qing Zhu juga memperhatikan anak-anak kecil tersebut berjalan memasuki lubang. Mereka dan teman-temannya menunggu sampai semua warga memasuki lubang.


Baaam!


Suara debaman masih dapat mereka dengar. Meski penasaran dengan pertarungan yang sedang berlangsung tersebut, namun Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu memilih mengikuti saran pemilik penginapan.


Yi Wen dan Xiao Lu juga demikian, ini karena mereka diberi tahu bahwa kondisi di tempat itu tidak akan berubah dengan kedatangan mereka, malahan mungkin suasana akan lebih kacau dari sebelumnya.


Untuk Xiao Shuxiang sendiri, meski didesak sekali pun.. Dia tetap tidak akan pergi ke tempat pertarungan tersebut. Menurutnya, tidak ada gunanya datang ke tempat yang tak berhubungan dengan misinya, dirinya sekarang sedang belajar agar tak terlibat masalah dengan orang lain.


"Tuan Muda, kenapa kalian diam saja? Ayo cepat,"


Lan Guan Zhi mengangguk pelan kala seorang pria mengajaknya ikut. Dia dan Bocah Pengemis Gila lalu berjalan memasuki lubang.


Xiao Qing Yan, Lan Xiao, Yi Wen, dan Xiao Lu mengikuti di belakang mereka. Semua warga Kota Sayap Pegar sepertinya sudah memasuki lubang, Ling Qing Zhu kemudian menyusul teman-temannya diikuti Xiao Shuxiang dari belakang.


Lubang yang mereka masuki begitu gelap, beruntung beberapa warga membawa Spirit Stone. Benda tersebut dapat menjadi penerang di sepanjang perjalanan mereka menelusuri tempat layaknya terowongan ini.


Tap


Tap


"Nyonya, sebenarnya kita mau ke mana?" Yi Wen tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia bertanya pada pemilik penginapan dan langsung dijawab bahwa mereka akan keluar dari kota untuk sementara waktu.


".. Terowongan ini sudah lama ada. Kamilah para warga yang bahu-membahu menggalinya. Dalam beberapa kali kesempatan, terkadang kami warga biasa menjadi korban saat para pendekar dan kultivator bertarung. Karena itulah, untuk bisa menyelamatkan diri sendiri.. Kami menggali terowongan ini,"


Warga Kota Sayap Pegar sebenarnya hanya ingin hidup tentram dan juga damai. Mereka tidak mau menyalahkan keberadaan para pendekar, karena mereka juga membutuhkannya untuk memburu makhluk buas bernama Demonic Beast.


Tetapi tidak sedikit dari warga Kota Sayap Pegar yang menginginkan agar pendekar dan kultivator bisa menghilang dari Benua Tengah. Menurut mereka, mungkin saja kota akan damai bila tak ada kultivator atau pun pendekar.


..


Suara dari warga cukup menggema dan dapat didengar baik oleh Xiao Shuxiang. Dia tidak menyangka ada juga orang yang berpikiran sama dengan dirinya.


"Dulu itu memang mimpiku. Membunuh setiap kultivator agar bisa menciptakan kedamaian, namun aku akhirnya tahu.. Itu adalah tindakan yang salah,"

__ADS_1


Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan dan terus berjalan di belakang Ling Qing Zhu. Dia masih bisa mendengar suara pertarungan dan juga gemuruh petir.


Terowongan ini panjang dan beberapa terdapat terowongan yang lain. Salah seorang pria paruh baya yang berjalan di depan Lan Guan Zhi mengatakan bahwa ada cukup banyak jalanan buntu di terowongan ini. Tetapi mereka tidak perlu khawatir selama tetap berada di dalam barisan.


Lan Guan Zhi, teman-temannya, serta pada warga terus berjalan tanpa henti. Mereka bahkan tidak sadar telah melakukan perjalanan selama lebih dari dua jam.


Baaam!


"Kakak Lu, suara pertarungan di atas semakin jelas saja. Jangan bilang kita tepat berada di bawah kaki orang-orang yang sedang bertarung itu,"


"Aku juga tidak terlalu yakin Yi Wen, mungkin saja.. Tapi kuharap terowongan ini tidak sampai runtuh dan malah menimbun kita,"


Normalnya, perjalanan melewati Kota Sayap Pegar membutuhkan waktu dua hari penuh bila menunggangi kuda dan waktu yang lebih lama jika berjalan kaki.


Namun bukan warga Kota Sayap Pegar namanya bila tidak melakukan persiapan. Mereka sudah ahli dalam hal menyelamatkan dengan memakai terowongan buatan ini, karenanya di setiap jarak 20 meter--tersedia tempat peristirahatan.


Banyak guci-guci air di tempat tersebut, beberapa juga ditumbuhi tanaman Rumput Bulan. Suatu jenis tanaman yang hanya tumbuh di tempat gelap nan dingin, daunnya berwarna biru keperakan dan mempunyai buah sebesar kepalan tangan anak kecil yang rasanya sangat manis.


Buah Rumput Bulan mengandung air dan satu buah saja sudah bisa membuat perut kenyang. Ini memang sejenis tanaman yang cukup terkenal di Benua Tengah namun terkadang sulit mendapatkannya.


Tetapi di terowongan ini--ada cukup banyak tanaman Rumput Bulan. Xiao Shuxiang bahkan mengambil beberapa, dia ingin mencoba menanamnya di dalam Gelang Semesta miliknya.


Pemilik penginapan Bulu Phoenix sama sekali tidak keberatan memberikan Rumput Bulan tersebut pada Xiao Shuxiang.


BLAAAAR..!


!!


Xiao Shuxiang dan warga kota terkejut kala merasakan tanah yang mereka pijak berguncang. Bukan hanya itu, tetapi beberapa bongkahan tanah kecil jatuh dari atas mereka, ini seakan mengisyaratkan pertarungan di atas begitu dekat dengan mereka.


"Tetap Tenang Dan Jangan Panik, Kita Akan Keluar Dari Tempat Ini..!"


Terdengar seruan salah satu warga, dia mencoba menenangkan warga yang lain. Mereka sebenarnya berada di kedalaman 13 meter dari permukaan tanah.


Andai bukan karena tanaman yang tumbuh di tempat gelap seperti Rumput Bulan--sudah jelas para warga ini merasa pengap dan kesulitan bernapas.


BAAAAM..!


!!


Xiao Shuxiang segera menarik Ling Qing Zhu yang berada di depannya saat tanah di atas gadis cantik tersebut tiba-tiba saja runtuh. Kejadian ini mengejutkan semua orang, utamanya Xiao Qing Yan, Bocah Pengemis Gila, dan Lan Guan Zhi.


!!


Tidak ada yang mendapat luka serius dari kejadian ini, hanya saja angin disertai debu membuat penglihatan sedikit terganggu.


"Ohok ohok..! Xiao'Er?! Xiao'Er.. Apa kau baik-baik saja..?!" Xiao Lu mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Dia baru ingin menyerang tanah di depannya namun mendadak runtuhan kedua menyusul.


!!


Xiao Lu melompat mundur, kini jarak antara dirinya dengan Sang Adik semakin jauh. Yi Wen juga nampak berseru dan memanggil-manggil nama Saudara Xiao-nya dan juga Nona Ling.


".. Saudara Xiao..! Katakan sesuatu..! Apa kalian baik-baik saja?!"


Nyawn..!!


Lan Xiao ikut berseru, dia mencakar-cakar dinding tanah di depannya. Namun reruntuhan kembali datang, syukurlah dirinya sigap melompat menghindar.


"Shuxiang.."


Suara Lan Guan Zhi yang paling pelan di antara teman-temannya. Bahkan suaranya seakan ditutupi oleh seruan beberapa warga termasuk Yi Wen sendiri.


"Kami baik-baik saja, Lan'Er..! Kalian tetap lanjutkan perjalanan dan biarkan kami mencari jalanan yang lain..!"


!!


Seruan dari Xiao Shuxiang membuat lega teman-temannya, termasuk pemilik Penginapan Bulu Phoenix. "Nak..! Kau mendengarku..?! Ikuti jalanan yang ditumbuhi rumput, itu akan membawa kalian sampai keluar kota..!"


"Terima kasih arahannya Bibi..! Kami mengerti..!"


Yi Wen, "Saudara Xiao..! Jangan dirimu, aku berjanji akan menyelamatkammu..!"


Xiao Shuxiang menyahut seruan dari Yi Wen. Dia lalu menatap Ling Qing Zhu yang terbatuk pelan di sampingnya. Dalam hati dirinya merasa lega karena Kucing Putihnya baik-baik saja.


Ling Qing Zhu tidak suka angin berdebu ini, hidungnya terasa gatal sekaligus membuatnya terbatuk.


Dirinya sadar sedang terjebak bersama Xiao Shuxiang. Namun dibandingkan panik, dia malah memperlihatkan wajah biasa-biasa saja.


Proritas utamanya sekarang adalah mencari jalan lain untuk bisa berkumpul kembali dengan teman-temannya atau menemukan jalan keluar hutan.


"Ayo pergi. Tempat ini terlalu berdebu," Ling Qing Zhu berjalan lebih dulu dan bertindak seakan dirinya adalah pemimpin.


Xiao Shuxiang juga tidak sepanik Yi Wen dan Xiao Lu di seberang. Dirinya terlihat biasa saja, ini karena memang bersikap panik sama sekali tidak dibutuhkan.


Dia mengikuti ke mana Ling Qing Zhu pergi. Saat ini, meski berat hati atau apa pun.. Mereka harus menerima keberadaan masing-masing dan saling membantu mulai sekarang.


***


-


-


-


Catatan Penulis :


Ini hanya tes, karena dari kemari malam Chapter baru selalu dalam proses riview dan belum lolos. 'Penulis' bukannya mokat, ( ̄∀ ̄) tapi sistem kemungkinan lagi error. Tidak hanya di novel ini, tetapi juga novel karya para 'Penulis' lain. (⌒▽⌒)


Dasha akan selalu infokan bila tidak ada Update. Tetapi saat Chapter baru tidak Update di hari yang 'Penulis' janjikan (pukul 21.30), maka itu artinya Chapter terkena jurus Edotensei atau mungkin di Transfer ke Isekai.


Lewat dari pukul 21.30, maka jangan pernah menunggu. Sebaiknya Minna Sama tidur dan lanjut baca besok aja, (⌒▽⌒)


Jangan sebarkan berita hoax, ( ̄- ̄) tapi doakan 'Penulis' lucnut ini diberi umur panjang dan bisa insaf dari dunia per-Fujoshi-an (●´∀`●) Arigatou karena masih mau mampir dan tetap jaga kesehatan Minna! ( ´ ▽ ` )ノ

__ADS_1


__ADS_2