
"Tetaplah waspada Hu Li, tempat yang sunyi seperti ini menyembunyikan bahayanya sendiri.."
Xiao Shuxiang memegang kuat tali kekang kuda miliknya, dia sesekali memperhatikan bayi laki-laki digendongannya, sebelum kembali mengarahkan perhatian pada sekelilingnya.
Hu Li dan Xiao Qing Yan tidak pernah lengah, mereka mengikuti Xiao Shuxiang dari belakang. O Zhan sendiri terlihat tertidur nyenyak di atas kepala Hu Li.
Dengkuran kecilnya terdengar jelas, dan seakan menggantikan suara derap kaki kuda yang menghilang karena pengaruh dari Tanah Senyap.
Hari sudah semakin larut, Hutan Tanah Senyap memang luas, lebatnya pepohonan bahkan membuat seseorang tidak mampu melihat bintang di langit.
Suasana juga sangat gelap, namun semua itu tidak menjadi penghalang bagi Xiao Shuxiang dan teman-temannya dalam melanjutkan perjalanan. Ini wajar karena mereka mendapat bantuan penerangan dari dua Api Biru Kecil yang dikeluarkan oleh Xiao Shuxiang.
Perjalanan yang awalnya begitu tenang, mendadak berubah saat mereka berada di titik tertentu dan itu merupakan tempat jebakan para perampok.
!!
Xiao Shuxiang terkejut dan langsung melompat ke belakang kala menyadari kuda tunggangannya menginjak sebuah jaring besar. Kuda tersebut terangkat naik, untunglah Xiao Shuxiang tepat waktu menyelamatkan diri dan bayi digendongannya.
Hu Li dan Xiao Qing Yan juga demikian, kuda mereka memekik dan berusaha melepaskan diri dari jaring yang menangkapnya.
"Aku sampai tidak menyadari ada jebakan," Di balik wajah Xiao Shuxiang yang tenang, dia sebenarnya menyembunyikan rasa kekhawatiran.
Jebakan yang hampir saja menangkapnya sama sekali tidak terdeteksi, padahal dirinya tidap pernah meragukan kepekaannya terhadap kondisi sekitar.
"Jebakan ini sangat sempurna, hampir saja Aku dan Tuanku dalam bahaya," Hu Li baru ingin memanggil Tuan Muda Xiao-nya, namun mendadak sebuah jarum kecil telah tertancap di punggungnya dan entah melesat dari mana.
"Hu Li?!"
Xiao Qing Yan berseru, dia tersentak melihat pemuda berambut putih di sampingnya tiba-tiba memuntahkan darah.
Xiao Shuxiang mendekati Hu Li, namun baru selangkah, dirinya juga terkena jarum kecil yang tepat mengenai lehernya. Dia tersentak, namun segera mencabut jarum tersebut.
"Ini.. Jarum yang dapat melumpuhkan," Xiao Shuxiang berdecak pelan, tanpa membuang waktu dirinya membentuk segel pelindung dengan menggunakan satu tangan.
Pelindung tersebut nampak seperti cahaya putih redup yang menyelimuti dirinya, Hu Li, dan Xiao Qing Yan.
"Hu Li, kau masih bernapas, kan?"
Xiao Shuxiang mencabut jarum kecil yang menancap di punggung Hu Li. Bentuk jarum itu mirip dengan yang sebelumnya menancap di lehernya, tetapi jarum yang melukai Hu Li adalah jarum beracun dan berefek menyumbat aliran darah.
Xiao Shuxiang mengeluarkan Pil Embun Malam dari Gelang Semestanya, ia lalu menyuruh Hu Li menelan pil tersebut dan bersamaan dengan itu.. Sebuah suara asing membuatnya tersentak.
["Sepertinya aku kedatangan mangsa yang menarik,"]
Xiao Shuxiang segera melesatkan satu Api Biru Kecilnya ke arah suara asing yang dia dengar. Dia kembali tersentak ketika teman kecilnya terjatuh dengan sebuah segel yang mengikatnya.
Segel tersebut nampak seperti asap tipis kehitaman, dan yang membuatnya mengerutkan kening adalah api biru kecilnya tidak mampu melepas segel itu, apalagi menghilang.
["Anak muda, apa kau tidak tahu wilayah ini terlarang, huh?"]
Xiao Shuxiang dan Xiao Qing Yan menoleh, keduanya dapat secara samar melihat seseorang berpakaian serba hitam muncul dari kegelapan malam.
!!
Ternyata bukan hanya satu, ada sekitar tujuh orang dan posisi mereka seakan mengepung Xiao Shuxiang dan teman-temannya.
Salah satu pria memiliki tubuh yang lebih kekar dari yang lain, dia berwajah tegas dengan sebuah luka parut pada alis sebelah kirinya.
Pria tersebut nampak berusia 42 Tahun, sebuah pedang besar dengan gagang berbentuk tengkorak di punggungnya membuktikan bahwa dia adalah pendekar.
"Maaf, Tuan. Kami tidak memiliki masalah denganmu sebelumnya, dan aku juga tidak mengerti apa yang kau katakan."
Xiao Shuxiang berusaha bersikap sopan, dia dalam hati mencoba memanggil Api Biru Kecilnya yang disegel, namun ternyata teman kecilnya tersebut tidak dapat melepaskan diri.
["Pakaian dari Benua Utara, namun bahasamu khas orang Benua Timur. Sepertinya tempat kelahiranku sudah terlalu baik mengizinkan orang asing datang kemari."]
Pria berbadan kekar itu memperhatikan Xiao Shuxiang dan teman-temannya dari atas sampai bawah, dia sedikit menyeringai ketika tatapan matanya mengarah pada Hu Li.
[".. Barayuda, beritahu pada orang asing ini. Mereka boleh pergi asalkan meninggalkan kepalanya di sini,"]
Baik Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan, ketiganya tidak ada yang mengerti dengan bahasa orang berwajah garang di depan mereka. Satu hal yang diketahui.. Orang-orang ini bukanlah manusia yang baik.
__ADS_1
"Orang asing, kalian bisa pergi setelah melepaskan kepala kalian dan tinggalkan di tempat ini,"
!
Xiao Shuxiang akhirnya mengerti ucapan pria kekar di depannya setelah salah satu pemuda yang nampak berusia 39 Tahun, bernama Barayuda bicara dengan bahasa seperti dirinya.
Xiao Shuxiang menghembuskan napas lega, "Syukurlah.. Aku sempat berpikir kalian meledekku. Tapi Tuan, kulihat kalian masih memiliki kepala yang utuh, kenapa harus meminta kepala kami? Apa satu saja tidak cukup untuk kalian?"
Barayuda membahasakan ucapan Xiao Shuxiang kepada ketuanya, Saka Daksa. Mereka sebenarnya berasal dari salah satu partai Aliran Hitam di Benua Tengah yang bernama Partai Pedang Tengkorak.
["Barayuda, katakan padanya untuk tidak banyak bicara. Suruh dia melepas kepalanya dan meninggalkan istri cantiknya di sini,"]
Saka Daksa tersenyum tersenyum lebar sampai memperlihatkan giginya pada Hu Li, dia lalu menjilat bibir bawahnya dan memberi tatapan binatang lapar pada pemuda berambut putih tersebut.
[".. Untunglah kau tidak mati, Nona Cantik~ aku benar-benar salah karena melemparkan jarum beracun padamu~ kau sangat menggiurkan~"]
!!
Hu Li tidak mengerti maksud dari pria di depannya, tetapi entah mengapa bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Dia tidak suka melihat tatapan mata pria yang seperti akan memakannya hidup-hidup.
Barayuda menerjemahkan kembali ucapan ketuanya dengan bahasa yang dimengerti oleh Xiao Shuxiang dan Hu Li.
Jujur saja, selama profesinya sebagai perampok.. Dialah satu-satunya pendekar di kelompok ini yang fasih dalam berbicara khas penduduk Benua Timur dan Benua Utara.
!!
Xiao Shuxiang dan Hu Li jelas terkejut saat tahu arti dari ucapan pria kekar yang mereka lihat. Detik berikutnya Xiao Shuxiang berusaha menahan tawa, di samping memperhatikan raut wajah Hu Li yang sepertinya kesal karena dikira perempuan.
"Hu Li, sebaiknya kau ikut dengannya. Bermainlah beberapa ronde, aku dan Kucing Hitam akan menunggumu,"
Hu Li menatap tidak suka ke arah Xiao Shuxiang. Dia selama ini tidak keberatan di sebut 'cantik', tetapi entah mengapa rasanya menjijikkan saat pria berbadan kekar ini yang mengatakannya.
"Tuan Muda Xiao, jika Anda berani mengejekku.. Kusumpahi Anda melakukan skidipapap dengan tuan muda Lan."
"Eiy, kau jangan menganggap serius ucapanku Hu Li. Tega sekali kau menyumpahi Tuanmu sendiri. Kau jangan jadi bawahan yang durhaka,"
Hu Li mendengus pelan, dia memasang wajah yang cemberut dan mulai bisa bersikap normal setelah Xiao Shuxiang meminta maaf.
["Ketua, pemuda ini sombong sekali. Katanya, dia baru akan menyerahkan istri cantiknya saat dirinya mati. Sebaiknya tidak perlu menunda lagi, Ketua. Kita bunuh saja dia,"]
["Hmph, ha ha ha.. Kultivator yang hanya mengandalkan Qi, apa yang bisa kau lakukan untuk melawanku? Pendekar Pedang Tengkorak!"]
!!
Xiao Shuxiang, Hu Li, dan Xiao Qing Yan bersiaga saat melihat ketujuh perampok mulai menarik pedang mereka.
Dalam hitungan satu tarikan napas, tiga perampok melesat dan menyerang Xiao Shuxiang, namun senjata mereka berbenturan dengan segel pelindung buatannya.
"Kucing Hitam, gendong ini."
"Eh?! A-Apa yang kau lakukan?" Xiao Qing Yan terkejut saat Xiao Shuxiang malah menyuruhnya menggendong bayi, belum sempat dirinya menolak.. Dia tiba-tiba merasakan tubuhnya ditarik sesuatu.
Xiao Shuxiang memasukkan Xiao Qing Yan dan bayi yang digendong anak tersebut ke dalam Gelang Semesta miliknya. Dia tahu pertarungan ini akan sangat berbahaya, dan dirinya tidak mau Kucing Hitam serta bayi tanpa nama tersebut terluka.
["Hm, pelindung..? Kau pikir dapat menangkis seranganku dengan segel pelindung ini? Hah, Anak Muda yang lemah. Aku ingin tahu, sampai berapa lama kau bisa bertarung sambil memakai Qi milikmu itu,"]
Saka Daksa memakai Ajian Tapak Sakti dan hanya sekali hantaman, Segel Pelindung milik Xiao Shuxiang pecah. Detik itu juga, keenam rekannya menyerang dua kultivator ini.
TRAANG!
Xiao Shuxiang memakai Seruling Giok Putihnya untuk menangkis pedang salah satu pendekar, dia lalu melentingkan tubuhnya ke belakang dengan ujung kaki kanan hampir menendang dagu pendekar dari Partai Pedang Tengkorak, beruntung pemuda berusia 34 Tahun itu dapat menghindar.
TRAANG!
Xiao Shuxiang harus menghadapi empat orang, termasuk Barayuda. Sementara Hu Li melawan tiga pendekar yang lain, Saka Daksa adalah salah satunya.
["Nona manis~ kau tidak perlu terlalu garang. Bagaimana jika kau tinggalkan suamimu dan jadilah milikku. Ukuranku lebih besar darinya, aku pasti akan membuatmu puas,"]
Hu Li mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Saka Daksa. Dia terus menghindari serangan yang datang sambil memberi pukulan balasan dengan mengandalkan kepalan tangan yang dialiri Qi.
Xiao Shuxiang yang mendengar ucapan pria berbadan kekar itu juga nampak tidak mengerti. Tetapi perasaannya mengatakan, temannya Hu Li sedang diledek.
__ADS_1
Barayuda juga mendengar ucapan Ketuanya, dia menghembuskan napas dan kemudian membatin. Dirinya tidak akan menerjemahkan apa yang diucapkan Ketuanya karena merasa kata-kata itu terlalu mesum.
TRANG!
"Apa kalian tidak bosan menjadi penjahat? Merampok orang seperti ini sambil mempertaruhkan nyawa, bukankah hal yang membosankan?"
Xiao Shuxiang buka suara, dia hanya mengetahui satu orang saja dari perampok ini yang dapat mengerti ucapnnya. Dirinya mencoba bernegoisasi dengan Barayuda, karena pertarungan semacam ini harusnya tidak pernah terjadi.
".. Tidak ada masalah apapun antara kalian dengan kami. Atau jangan-jangan, kalian memang suka mencari masalah?"
"Kalau kau sudah tahu, kenapa harus bertanya? Manusia Aliran Putih yang munafik seperti kalian, tidak pantas hidup di dunia ini!"
Barayuda menggunakan serangan memutar, kerja sama antara dirinya dengan ketiga rekannya membuat Xiao Shuxiang sedikit kewalahan.
Selain Saka Daksa, Barayuda dan rekan-rekannya memiliki pedang dengan jenis yang sama, yakni Pedang Penebas Bayangan. Mereka sangat ahli dalam Teknik Penapasan dan seni Tenaga Dalam.
TRANG!
Api Biru kecil Xiao Shuxiang yang masih ada terlihat berusaha membantu Tuannya, namun salah satu pendekar memberinya segel yang membuatnya tidak bisa bergerak.
!!
Xiao Shuxiang tersentak, dia lengah sehingga salah satu senjata pendekar berhasil mengoyak seragamnya. Saat itu juga dua jarum beracun menancap tepat di dadanya.
Xiao Shuxiang memuntahkan darah, belum sempat dia mencabut jarum beracun yang menancap di dadanya.. Keempat pendekar segera menyerangnya secara serentak.
Suara dari pedang milik Barayuda dan ketiga rekannya tidak terdengar ketika menghantam tanah, tetapi serangan tersebut berhasil menciptakan retakan yang begitu dalam.
!!
["Ke mana dia?"]
Barayuda dan keempat rekannya heran sebab mereka yakin telah menebas Xiao Shuxiang, tetapi entah bagaimana pemuda berpakaian merah tersebut menghilang.
Hutan Tanah Senyap memang sangatlah gelap, namun karena Dua Api Biru kecil Xiao Shuxiang tersegel.. Tempat pertarungan mereka menjadi sedikit lebih terang.
TRANG!
Hu Li tidak sempat mengkhawatirkan Tuan Mudanya, dia fokus menyerang Saka Daksa dan kedua rekannya sambil melesatkan beberapa Api Rubah miliknya.
["Nona Cantik~ aku tidak ingin melukaimu, tetapi sepertinya kau memang perlu sedikit dijinakkan,"]
Saka Daksa sejak tadi belum mengerahkan seluruh kekuatannya, namun kali ini dirinya mulai bersungguh-sungguh.
Dia menarik napas panjang kemudian bergerak cepat dan menyerang Hu Li tanpa jeda. Bilah Ledang Gagang Tengkoraknya berbenturan dengan kepalan tangan Hu Li.
Saka Daksa tersenyum tipis, gagang pedangnya seketika menjadi panjang dan lalu berbelok menyerang Hu Li.
Mulut tengkorak terbuka, menyemburkan asap hitam nan bau yang mengganggu penglihatan sekaligus penciuman Hu Li, O Zhan yang berada di atas kepalanya bahkan terbangun dari tidur nyenyaknya.
["Ajian Tapak Sakti..!"] Saka Daksa berseru dan berhasil memberi serangan pada dada Hu Li yang membuat pemuda berambut putih tersebut terpental hingga menghantam tanah.
["Ini aneh, kau punya dada yang datar Nona Cantik~ Tapi bukan masalah, kita bisa membesarkannya bersama-sama,"] Saka Daksa tersenyum mesum, dia kembali menjilat bibir bawahnya dan melangkah perlahan menuju Hu Li.
Rekan-rekan Saka Daksa nampak menyeringai dan beberapa terkekeh kecil. ["Ketua, suami Nona ini sepertinya telah lari. Dia jelas lebih sayang nyawa sendiri dibandingkan dengan istrinya,"]
["Ha ha ha, kau benar. Dia ternyata sangat pengecut. Nona manis~ kau jangan khawatir, kami akan menjagamu~"]
Hu Li memuntahkan darah, dia merasa tidak bisa bangun, dadanya terlalu sakit dan sepertinya berbekas. Serangan tapak dari Saka Daksa membuat seluruh tubuhnya sulit digerakkan.
["Nona manis~ aku hanya memberimu sedikit serangan, itu tidak akan membunuhmu. Sekarang mari aku menyembuhkanmu~"]
Saka Daksa menyentuh kaki Hu Li dan mendapat tendangan darinya. Bukannya marah, dia malah tersenyum dan semakin menatap penuh gairah ke arah pemuda berambut putih yang dirinya anggap gadis itu.
"Jangan mendekat," Hu Li berusaha memberi ancaman pada Saka Daksa, tetapi dadanya yang sakit membuat suara melemah. "Sialan, serangan apa yang dia gunakan padaku?!"
Pertama kali dalam hidupnya, Hu Li merasa jijik dikerubungi laki-laki. Ini wajar karena para lelaki tersebut adalah perampok dengan tatapan mata yang nampak seperti hewan buas.
["Aah~ kau benar-benar manis~"]
***
__ADS_1