XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
60 - Turnamen Kultivator Muda (5) [Revisi]


__ADS_3

BAAM!!


"Akh!" Qi Xuan bisa merasakan ada tulangnya yang retak, dia menghantam lantai dengan begitu keras. Belum sempat dia mengambil napas, Huan Ran tiba-tiba melompat sambil mengayungkan pedang ke arahnya.


BAAM!!


Pedang Huan Ran merusak lantai arena. Untunglah Qi Xuan bisa berguling dan menghindari serangan gadis tersebut. Jika tidak, mungkin saat ini dia sudah terbelah menjadi dua.


"Pu-punggungku sakit!" Rintih Qi Xuan, dia lalu mencoba untuk memperbaiki posisinya dan memegang pedangnya kuat-kuat.


Huan Ran kembali melesat, kali ini jauh lebih bersungguh-sungguh daripada sebelumnya.


TRAANG! TRAANG!!


"Lemah! Jangan Salahkan Aku Jika Nanti Kepalamu Lepas, Salahkan Dirimu Sendiri Karena Terlalu Lemah!!"


TRAANG! TRAANG!


Qi Xuan terus menahan serangan Huan Ran tanpa bisa melawan balik, dia benar-benar merasa dipojokkan.


"Dia kuat sekali, seperti ingin membunuh-!!"


Qi Xuan bisa merasakan dan melihat sedikit dari tatapan mata serta wajah cantik Huan Ran, ada sebuah ambisi serta tekad yang begitu kuat.


"Inikah yang dikatakan Saudara Xiao...?" Qi Xuan mengingat ucapan Xiao Shuxiang yang memperingatkan dirinya bahwa dia tidak boleh terlalu berambisi, karena memiliki ambisi berlebihan tidak akan membawa hasil yang baik.


TRAAANG!


"Pikiran harus tetap tenang, dan semangat juang hanya boleh di dalam hati!" Qi Xuan menarik napas dan menenangkan pikirannya, dia terus menahan serangan Huan Ran dan mencoba mencari celah untuk membuat serangan balik.


Huan Ran terus menyerang Qi Xuan tanpa henti, dia sangat kesal sebab anak laki-laki ini tidak menyerah sama sekali. Padahal dia sudah membuatnya menghantam lantai sebanyak dua kali dan memberikan luka pada lengannya, seharusnya anak ini sudah menyerah atau kehilangan kesadaran.


"Aku Tidak Akan Main-Main Lagi Denganmu!!" Huan Ran mundur beberapa langkah, dia mulai mengumpulkan Qi dan mengalirkannya ke pedang miliknya, bersamaan dengan itu... Qi Xuan mulai mengumpulkan napas dan memejamkan mata untuk menenangkan diri.


"Sebaiknya Kau Menyerah Sekarang Juga, Atau Kau Benar-Benar Akan Kehilangan Kepalamu!" seru Huan Ran kepada Qi Xuan.


"Aku tidak mau menyerah. Guruku membawaku keluar dari desa untuk sampai ke tempat ini tidak untuk menyerah. Saudara Xiao yang memiliki umur lebih muda dariku begitu berani melawan demonic beast tanpa takut sama sekali, dia juga tidak pernah menyerah!


Aku tahu, pedang akan berbahaya jika berada di tangan orang yang jahat. Dan pedang ditanganku ini adalah pedang yang sangat tajam. Aku tidak ingin melukai siapa pun dengan pedang ini, tapi dunia tempatku tinggal adalah dunia yang penuh pertumpahan darah. Mereka akan menginjak siapa pun yang lemah, dan menghormati siapa pun yang kuat.


Jika pertarungan seperti ini saja aku menyerah, maka tidak ada gunanya aku menjadi pendekar." Qi Xuan menatap mantap ke arah Huan Ran, dia memasang kuda-kuda terbaiknya.


Huan Ran mendecih, dia tidak suka dengan anak yang keras kepala.


"Kau Sama Sekali Tidak Punya Bakat!!" Huan Ran bisa melihat bahwa Qi Xuan hanyalah anak biasa, dia cuma memiliki wajah yang sedikit lebih tampan dari anak biasa lainnya.


D iluar semua itu, Qi Xuan berasal dari sekte yang tidak terkenal sama sekali. Bahkan pakaian yang dipakai oleh anak laki-laki tersebut hanya terbuat dari kain biasa dan tidak termasuk benda pusaka.


Satu-satunya yang terlihat lebih baik, adalah pedang di tangan Qi Xuan saat ini. Pedang itu memiliki ketajaman yang bagus, dan menurut Huan Ran... itu adalah senjata pusaka.

__ADS_1


"Kalau Bukan Karena Pedangmu, Kau Sudah Lama Terbaring Kaku!" sindir Huan Ran, namun Qi Xuan sama sekali tidak terpengaruh.


"Ini pemberian teman baruku," Qi Xuan tidak mau mengatakan bahwa adik Huan Ran-lah yang memberinya pedang, sebab gadis di depannya tersebut bisa saja tahu bahwa Huan Mei sedang ada di tempat ini.


"Aku Tidak Suka Membuang-Buang Waktu Denganmu! Jangan Salahkan Aku, Jika Kau Harus Kehilangan Satu Lenganmu Hari Ini!" Huan Ran mulai bergerak cepat dan langsung melesat ke arah Qi Xuan.


Qi Xuan menarik napas dan memejamkan matanya, dia lalu melapisi pedangnya dengan Qi. Pedang ini lebih berat dari pedang yang dirinya pegang selama ini, namun Qi Xuan seakan bisa merasakan pedangnya semakin kuat saat dirinya mengalirkan Qi.


Qi Xuan mengingat semua pengalamannya, mulai dari saat dia berada di Desa Tani hingga saat melihat pertarungan para peserta di turnamen ini. Dia menggeleng sedikit sebab tidak bisa mengingat semuanya, tetapi kemudian Qi Xuan tersentak.


Dia melupakan satu hal, yaitu dirinya pernah berlatih di tempat Nenek Tian. Qi Xuan ingat dia menciptakan sebuah jurus saat dirinya berada di Pondok Pengelana, dia selama ini berlatih diam-diam dengan jurus itu. Tetapi kemudian berhenti saat dirinya melihat teknik berpedang yang diajarkan Zong Ming kepadanya.


Qi Xuan sebenarnya jauh lebih nyaman memakai jurus dan teknik berpedang hasil ciptaannya sendiri. "Aku akan mencobanya... aku harus yakin pada diriku sendiri!"


Qi Xuan memfokuskan pendengaran dan juga penciumannya, ajaran Nenek Tian memang membuat indrany peka. Dia bisa mendengar angin cepat dan kibasan pakaian milik Huan Ran, dia juga bisa membedakan bau bunga plum, rumput, dan juga bunga persik.


Qi Xuan juga bisa mencium bau asap yang tipis, namun dia tidak tahu apa itu. Qi Xuan kemudian menggeleng dan hanya fokus pada bau rumput yang menenangkan.


Saat mulai merasakan ketenangan, dia perlahan-lahan mulai membuka matanya. Bersamaan dengan itu, pedang Huan Ran hampir mengenai tengah matanya, namun seketika berhenti.


!!


"I-INII?!"


Huan Ran sangat kaget. Bukan hanya dirinya, tetapi semua hadirin dan para peserta mendadak dikejutkan tiba-tiba.


Huan Fei dan Yuen Liang bahkan berdiri sambil menatap dengan mata terbelalak ke arah panggung arena.


Dia lalu memusatkan Qi dan mengarahkan ke kakinya, Huan Ran tidak ingin keluar dari panggung arena hanya karena angin yang tidak jelas berasal dari mana.


"Apa anak itu yang membuatnya?!" Huan Ran menatap keheranan ke arah Qi Xuan, di yakin bahwa lawannya inilah yang membuat pusaran angin bercampur debu tersebut, sebab angin itu mengelilingi dirinya.


Sekilas angin itu hanya membawa debu, tetapi jika diperhatikan dengan lebih teliti lagi, angin itu membawa kelopak bunga plum dan juga sinar keperakan yang ternyata adalah Qi murni.


Angin itu perlahan berkumpul di belakang Qi Xuan, debu-debu serta kelopak bunga plum dan Qi terlihat membentuk tubuh binatang yang ternyata adalah burung dengan sayap mengembang. Dia mulai mengangkat pedangnya dan dengan cepat melesat kearah Huan Ran.


BAAAAM!!


Sebuah debaman keras terdengar bersamaan dengan terlemparnya Huan Ran keluar dari panggung arena. Qi Xuan hanya menyerang lantai yang berjarak satu setengah meter dari tempat Huan Ran berdiri, namun gadis berusia 14 tahun tersebut terpental karena angin bercampur debu yang diakibatkan oleh serangan Qi Xuan barusan.


Qi Xuan sebenarnya juga kaget dengan jurusnya ini, dia mempelajarinya saat mengamati seekor burung besar yang terbang dengan tenang kemudian melesat turun dan langsung mencengkeram seekor tikus hutan.


Qi Xuan belum memberi nama jurus ini sebab jurus ciptaannya hanya memiliki satu gerakan saja, tapi jurus miliknya membutuhkan ketenangan dan konsentrasi yang baik.


Huan Fei, Yuen Liang, serta seluruh orang yang berada di tempat ini belum bisa berhenti dari kekagetan mereka. Di antara peserta ada yang bertanya-tanya mengenai jurus milik Qi Xuan, beberapa dari mereka juga ada yang bertanya keberadaan sekte milik anak laki-laki tersebut.


"Pakaian mereka biasa saja, bahkan bukan termasuk pakaian yang seharusnya dimiliki oleh seorang kultivator. Tapi sudah dua kali murid Sekte Kupu-Kupu membuatku terkejut seperti ini, sebenarnya siapa mereka?!"


"Aku belum pernah mendengar nama sekte itu. Dan murid-murid dari Sekte Kupu-Kupu hanya memiliki praktik yang biasa saja. Tetapi..."

__ADS_1


"Mereka punya teknik berpedang dan jurus yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Anak-anak dari Sekte Kupu-Kupu...ck ck" Yuen Liang menggeleng sambil berdecak kagum, dia bertanya kepada Huan Fei mengenai sekte yang diundangnya ini. Sebab, dia baru pertama kali mendengar ada sekte dengan nama seperti itu.


"... Aku sempat berpikir itu teknik Perubahan Jenis Qi, tetapi ternyata bukan. Dia memiliki jurus yang aneh." sambung Yuen Liang lagi.


Patriarch Lan juga sebenarnya terkejut, hanya saja dia tidak seheboh Yuen Liang dan Huan Fei. Dalam hati, Patriarch Lan kagum dengan Yang Shu, sebab Kaisar Muda dari Benua Utara tersebut ternyata memiliki murid-murid yang penuh bakat.


Huan Fei sendiri terkejut bukan karena mengagumi jurus aneh milik Qi Xuan, tetapi dia terkejut dengan pedang yang ada di tangan anak laki-laki tersebut. Pedang itu hanyalah pusaka tingkat menengah, namun terlihat seperti milik cucunya----Huan Mei.


Huan Fei sangat yakin itu milik cucunya, sebab dia sendiri yang menghadiahkan pedang tersebut saat cucunya berusia lima tahun.


Huan Fei tak hanya terkejut dengan pedang Qi Xuan, tetapi jurus yang anak laki-laki tersebut gunakan tadi sedikit mirip dengan jurus Tarian Kelopak Bunga milik Sekte Bunga Lotus.


Hanya saja, jurus tersebut tidak pernah diajarkan kepada murid-murid sekte termasuk kepada Huan Ran dan Huan Mei. Karena jurus ini membutuhkan ketenangan batin dan konsentrasi yang besar. Bahkan Dia sendiri hanya bisa menggunakan jurus ini selama dua menit, itu pun hanya angin sepoi-sepoi saja yang berhasil didapatkannya.


"Senior, kenapa kau menyembunyikan harta karun seberharga ini..." Huan Fei hampir menangis, andai saja dia tahu bahwa salah satu murid Yang Shu memiliki bakat untuk mewarisi jurus sektenya----mungkin sudah sejak lama dia mengambil Qi Xuan sebagai muridnya.


"Tidak bisa dibiarkan! Anak itu harus menjadi muridku, aku harus mengatakannya kepada Senior sebelum di dahului oleh orang lain!" Huan Fei seketika berjalan pergi, tanpa mengatakan apa pun kepada Yuen Liang dan Patriarch Lan.


Yuen Liang sendiri merasa kebingungan saat Huan Fei tiba-tiba pergi, sementara Patriarch Lan tersenyum tipis karena tahu apa yang akan dilakukan oleh Grand Elder Sekte Bunga Lotus tersebut.


"Untung saja semua Grand Elder dan Patriarch dari sekte lain tidak hadir. Jika tidak, mereka pasti akan memperebutkan anak itu..." Patriarch Lan menyeruput teh yang dihidangkan oleh murid Sekte Bunga Lotus.


"Benar juga, aku sebenarnya sedikit tertarik dengan anak itu. Sayangnya aku lebih suka anak perempuan..." Yuen Liang kembali duduk dan mulai memainkan kipasnya.


Turnamen Kultivator Muda, selain merupakan pertandingan persahabatan juga sebenarnya memberi peluang kepada murid Sekte Kecil untuk bisa direkrut menjadi murid Sekte Menengah, atau pun Sekte Besar.


Peluang yang hanya datang 10 tahun sekali, dan tak banyak murid sekte kecil yang bisa direkrut seperti ini.


Beberapa perwakilan dari sekte lain juga memiliki misi dari Grand Elder dan Patriarch mereka, yaitu mencari calon-calon murid yang memiliki bakat hebat.


Saat melihat Qi Xuan di awal-awal, mereka sama sekali tidak merasakan bahwa anak ini berbakat.


Bahkan mereka malah memandanginya dengan kasihan, apalagi setelah Qi Xuan terus menerus mendapat serangan bertubi-tubi dari Huan Ran, ini membuat mereka semua beranggapan bahwa Qi Xuan hanyalah anak payah yang tidak tahu kata 'menyerah'.


Baru setelah Qi Xuan mengeluarkan jurusnya, mereka semua begitu kaget. Sayang sekali Huan Ran cepat terpental hanya karena angin dari serangan Qi Xuan, sehingga para penonton merasa kecewa dan tidak puas dengan pertarungan kali ini.


Mereka sangat ingin melihat kehebatan Qi Xuan, beberapa dari mereka mengatakan bahwa Qi Xuan akan bertanding lagi nanti. Dan ini membuat para penonton dan peserta turnamen bersemangat.


"Aku ingin bertarung dengannya!"


"Kuharap aku yang akan menjadi lawannya!"


Beberapa peserta terlihat sudah menargetkan Qi Xuan sebagai lawan tanding mereka.


"Anak yang menarik, bagaimana jika kita rekrut saja dia...?" Salah satu Kultivator Sekte Serigala Iblis memberi saran kepada temannya yang bertindak sebagai pemimpin.


Pletak!


"Kau ini, kita tidak datang untuk mencari calon murid. Tapi menculik anak perempuan!" Kultivator dari Sekte Serigala Iblis menjitak kening temannya, dia lalu menyuruh temannya untuk melihat keberadaan Grand Elder Bunga Lotus.

__ADS_1


***


__ADS_2