
Kedai arak terkenal di Kota Bintang Biduk bernama Arus Bulan. Memiliki satu bangunan utama bertingkat dua dan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai penginapan.
Penerang di tempat ini adalah lilin yang terbuat dari sarang lebah dan lemak hewan, beberapa juga di terangi dengan obor dari potongan bambu.
Arus Bulan memiliki nuansa biru langit, dan saat malam hari seperti ini.. Tempat tersebut mempunyai keindahannya sendiri.
Di bangunan utama, tepatnya di ruangan paling dalam yang dekat dengan kolam teratai.. Nampak Xiao Shuxiang sedang minum arak bersama teman-temannya.
Jing Mi dan Hou Yong sudah menghabiskan masing-masing dua pot kecil arak, sementara Siu Yixin telah meminum arak dari pot kecilnya yang ketiga.
Nie Shang dan Ling Lang Tian meminum arak dengan menggunakan cawan keramik, tidak seperti Xiao Shuxiang yang langsung meminumnya dari pot kecil.
Hanya Mo Huai yang sama sekali tidak mau meminum arak meski telah ditawari beberapa kali oleh teman-temannya, sementara Lan Guan Zhi meminum arak tanpa kandungan memabukkan buatan Xiao Shuxiang.
".. Meskipun belum seenak Arak Kaisar Naga, tetapi ini juga arak terbaik. Benar-benar enak,"
Xiao Shuxiang memanggil pelayan di dekatnya dan meminta dibawakan guci berisi arak lagi, kali ini yang berukuran lebih besar.
Pelayan yang seorang pemuda berusia 23 Tahun tersebut terlihat bersemangat. Ini jelas sebab dari sekian banyak pelanggan, hanya Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang meminta dibawakan arak terbaik.
"Saudara Xiao, kau tidak biasanya sedermawan ini.. Apa mungkin akan turun salju di Benua Tengah?"
Jing Mi sangat tahu bahwa Xiao Shuxiang adalah pemuda yang sangat pelit, membuatnya mengeluarkan uang sama saja dengan 'mencubit tanduk kerbau yang berlari kencang'. Dalam artian kata, itu sesuatu yang mustahil.
"Saudara Jing, kau harus tahu.. Xiao Shuxiang tidak akan pernah pelit dalam dua hal. Pertama adalah membayar hutang dan kedua menghabiskan uang untuk membeli arak,"
Xiao Shuxiang tersenyum saat mengatakannya, wajahnya masih terlihat tenang dan sama sekali tak nampak tanda-tanda bahwa dirinya sedang mabuk. Padahal, arak terbaik di Kedai Arus Bulan ini terkenal dengan kepekatannya.
Selain arak, terdapat juga senampan besar kacang rebus, Nie Shang yang memesan ini. Baginya, jika ada arak.. Maka harus ada kacang rebus yang mendampingi, barulah bisa disebut pesta minum arak.
"Rasanya menenangkan jika tidak ada Kakak Lu Yang Cantik. Jujur saja, dia itu sangat berisik dan kemauannya harus selalu dituruti, dia benar-benar berbeda dengan Bibi WeiWei,"
Jing Mi mulai memakan kacang rebus yang baru saja dia kupas. Ucapannya barusan mendapat anggukan setuju dari Nie Shang, Hou Yong, dan Xiao Shuxiang.
"Aah iya, dulu kau sangat suka pada Ibuku sampai niat melamarnya, bagaimana perasaanmu sekarang Saudara Jing?"
"Saudaraku, Bibi WeiWei selalu jadi cinta pertama yang tertanam kuat di dalam hati. Tidak ada yang bisa menggantikan Bibi WeiWei, meski seluruh gadis cantik datang dan melamarku,"
Hou Yong, "Bukan hanya kau yang suka Bibi WeiWei, dia juga adalah cinta pertamaku. Senyuman lembut dan sentuhan tangan halusnya itu.. Telah membuat hatiku meleleh,"
Sepertinya Xiao Shuxiang sudah membuat kesalahan dengan membicarakan tentang ibunya.
".. Kalian ini terlihat begitu tergila-gila pada ibu cantikku, padahal aku yang anaknya sendiri tak sampai sebegitunya,"
"Saudara Xiao, kau tidak mengerti. Bagiku dan bagi semua saudara seperguruanku.. Bibi WeiWei telah menjadi dewi kami. Aku akui kecantikan Bibi WeiWei belum menyamai kecantikan Nona Ling, tetapi tetap saja.. Bibi WeiWei akan selalu berada di dalam hati,"
Nie Shang mengangguk setuju dengan ucapan Hou Yong, dia juga ikut menambahkan bahwa dirinya sama seperti Jing Mi dan Hou Yong, yakni menyukai ibu dari Xiao Shuxiang.
"♬♩ Dia memang wanita yang baik, aku juga menyukainya, yo♪♩"
Lan Guan Zhi, Ling Lang Tian, dan Mo Huai sejak tadi hanya diam sambil menyaksikan teman-teman mereka. Ketiganya lebih memilih menjadi pendengar, apalagi ketika Jing Mi mulai menceritakan pengalamannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Benua Tengah.
".. Kami baru saja datang dan sudah disambut dengan pertarungan pendekar melawan kultivator. Aku yang tidak tahu apa-apa malah ikut diseret dalam pertarungan itu, haiih.. Benar-benar pengalaman yang buruk,"
Jing Mi menenggak habis arak pada pot kecilnya, ujung hidungnya terlihat memerah, nampak sekali bahwa saat ini dirinya mulai mabuk.
"Memang di benua ini kebanyakan kultivator dan pendekar tidak pernah akur. Mereka akan mencari masalah jika sedang bertemu, termasuk masalah yang sepele sekali pun.."
Ling Lang Tian mulai buka suara setelah sempat menjadi pendengar. Dia mengatakan pada Xiao Shuxiang dan teman-temannya untuk tidak terpancing jika ada pendekar yang mencoba membuat gara-gara dengan mereka.
".. Tempat ini keras, bahkan senggolan tak sengaja sekali pun dapat berakibat pembantaian,"
"Itu benar," Mo Huai menyetujui ucapan Ling Lang Tian, ".. Saya pernah melihatnya saat di penginapan. Waktu itu ada pelanggan yang baru datang, dia hanya menatap biasa ke arah pelanggan lain yang duduk tenang, namun belum sempat menarik napas.. Pertarungan habis-habisan terjadi di antara mereka. Padahal mereka baru pertama kali bertemu,"
Mo Huai menggelengkan kepala sambil berdecak ngeri, dia merasa bersyukur karena saat itu dirinya belum duduk hingga bisa lari. Kalau tidak, mungkin dia sudah menjadi potongan daging sekarang ini.
"Apa yang waktu itu? Saat aku dan Siu Yixin menerima tamu?" Nie Shang ingat pernah mendengar suara keributan di lantai dasar, memang jaraknya cukup jauh dari kamarnya dan Siu Yixin berada.
Mo Huai menggangguk, "Itu benar. Hari itu saya izin keluar untuk makan, dan juga karena tak ingin mengganggu rapat Anda. Tapi tidak disangka saya hampir berada di situasi yang membahayakan,"
"Mo Huai, tidak ada tempat yang benar-benar aman di dunia ini. Kau harus kuat untuk bisa melindungi dirimu sendiri,"
__ADS_1
Xiao Shuxiang menuangkan arak pada cawan keramiknya dan mulai menceritakan pengalamannya di Benua Utara. Dirinya mengatakan pernah ikut terseret dalam pertarungan karena dijadikan sandera oleh orang yang tidak dia kenali.
".. Padahal hari itu aku dan Hu Li baru akan makan sambil menunggu hujan salju reda, tapi tak disangka seseorang langsung menempelkan pedangnya di leherku. Dan yang terburuknya, makanan enak di atas meja baru kumakan sesumpit,"
Xiao Shuxiang menundukkan kepala sambil memijat dahinya dengan tangan kiri, ".. Dan kalian tahu apa yang hampir membuatku menangis? Itu adalah saat aku melihat makanan enak jadi terbuang sia-sia,"
"Saudara Xiao, apa kau lebih mengkhawatirkan makanan daripada dirimu sendiri? Lehermu ditempeli bilah pedang tapi kau malah mencemaskan makanan, kau ini.."
Jing Mi dan Hou Yong tidak habis pikir, keduanya lalu bertanya bagaimana Xiao Shuxiang bisa lepas dari orang yang menyanderanya itu. Jangan bilang, saudaranya ini langsung memakai Yīng xióng.
Xiao Shuxiang tersenyum, "Aku tidak melakukannya.. Aku hanya menunggu sampai orang itu melepaskanku. Kami tidak punya masalah dan saat itu dia terlihat berada dalam kondisi terdesak, jadi kubiarkan dia melakukan apapun yang diinginkannya,"
Entah mengapa Jing Mi, Hou Yong, dan Nie Shang merasa kesal. Ketiganya tidak percaya Saudara Xiao mereka bisa sebaik ini. Padahal tak seharusnya Xiao Shuxiang bersikap terlalu naif, dia kemungkinan dapat kehilangan kepala jika terus seperti itu.
".. Kau harusnya melawan dia, Saudaraku. Pedulikan keselamatanmu sendiri,"
Jing Mi sepertinya melupakan sesuatu yang penting, Xiao Shuxiang adalah orang yang suka mengambil risiko.
Saudaranya ini tidak akan pernah peduli dengan keselamatan dirinya ataupun orang lain selagi apa yang diinginkannya terpenuhi, dan paling tidak.. Memberinya jawaban atas pertanyaannya.
Sama seperti sekarang, Xiao Shuxiang bisa saja terlihat tersenyum, sesekali bercanda, dan mengobrol santai dengan teman-temannya seolah tanpa beban.
Padahal sebenarnya, jauh di dalam pikirannya.. Dia sedang berusaha keras memikirkan cara untuk memancing keluar musuhnya yang sebenarnya.
Di tempat lain, tepatnya di sebelah ruangan milik Xiao Shuxiang dan teman-temannya berada.. Nampak Gong Zitao dan Ge Yu Han yang sedang berdiri dengan telinga mereka menempel di dinding kayu.
Keduanya sejak tadi terus menguping pembicaraan Xiao Shuxiang dengan teman-temannya, bahkan pelayan di ruangan itu hanya bisa menyaksikan tingkah aneh pelanggan mereka.
"Tuan Muda Gong, apa kita akan terus seperti ini? Aku tidak banyak mendengar apa yang mereka bicarakan.."
"Sssst.. Kau harus diam dan pasang telingamu baik-baik,"
Suara di ruangan sebelah terlalu kecil, hingga Gong Zitao dan Ge Yu Han harus bernapas pelan-pelan supaya dapat mendengar perbincangan Xiao Shuxiang dengan teman-temannya.
Kurang lebih satu setengah jam Gong Zitao dan Ge Yu Han menguping.. Mereka cukup banyak mendapat informasi, salah satunya adalah Nie Shang berencana membangun bisnis penginapan di Kota Bintang Biduk, dirinya mendapat dukungan dari Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang lain.
Bahkan Jing Mi dan Hou Yong menawarkan diri untuk membantu. Keduanya mengatakan sangat ahli dalam membangun rumah, jadi Nie Shang tinggal duduk dan memberi perintah saja.
"Partai Pedang Tengkorak?!"
!!
Suara Gong Zitao dan Ge Yu Han begitu keras, keduanya langsung menutup mulut karena baru tersadar sedang menguping. Untunglah seruan mereka bersamaan dengan milik Jing Mi, Hou Yong, dan Nie Shang.. Sehingga baik Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, Ling Lang Tian, dan Mo Huai tidak menyadarinya.
"Saudara Xiao, apa kau sadar dengan yang kau lakukan ini?!"
Tangan Jing Mi terlihat gemetar ketika memegang pedang milik Saka Daksa yang dikeluarkan Xiao Shuxiang dari dalam Gelang Semestanya.
Pedang besar tersebut berbentuk tengkorak pada ujung pegangannya, bilah lebar dan tajam.. Dengan warna keperakan nan mengkilap, jelas sekali ini adalah pedang pusaka dari Partai Pedang Tengkorak.
"Saudara Xiao.. Kau sudah membuat masalah besar,"
Bukan Jing Mi pelakunya, tetapi dirinyalah yang merasa lemas. Meski dia belum lama tinggal di Benua Tengah, namun Jing Mi cukup tahu dengan Partai Pedang Tengkorak.
Di Perbatasan antara Kekaisaran Langit Utara dengan Kekaisaran Langit Tengah terdapat sebuah wilayah yang luasnya meliputi tiga kota, tempat tersebut lebih terkenal dengan sebutan Hutan Beringin Hitam. Di sanalah Partai Pedang Tengkorak berada.
".. Mereka adalah mimpi terburuk di benua ini. Partai itulah yang terbesar pertama dari Aliran Hitam, Sekte Pagoda Langit pun tidak mau mencari gara-gara dengan mereka, tetapi kau malah.."
Jing Mi merasa kepalanya hampir meledak, dia sudah merinding duluan sebelum menceritakan sepak terjang para murid Partai Pedang Tengkorak pada Xiao Shuxiang.
Ling Lang Tian sama sekali tidak kesal ataupun marah saat Jing Mi menyebut nama sektenya, sebab memang benar apa yang dikatakan pemuda besar nan berotot tersebut. Sekte Pagoda Langit memang tidak mau terlibat masalah dengan Partai Pedang Tengkorak.
Sebenarnya, bukan berarti Sekte Pagoda Langit lemah. Namun jika sampai mereka bertarung, maka bukannya kemenangan yang di dapat.. Tetapi justru kerugian.
".. Mereka pasti tidak akan melepaskanmu," Ling Lang Tian bicara dengan begitu tenang, dirinya meminum kembali arak pada cawannya yang entah keberapa.
"Kau sangat suka mencari masalah dan tindakanmu ini sudah membuat kami ikut terlibat,"
Lan Guan Zhi bicara dengan tenang dan tanpa emosi sedikit pun, namun Xiao Shuxiang malah merasa sedang disalahkan saat ini.
"Lan Zhi, aku yakin kalian bisa mengatasinya. Lagi pula jika mereka mengincarku, ada kau yang akan menolongku. Benar kan?"
__ADS_1
Xiao Shuxiang tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, dirinya langsung mendapat teguran dari Ling Lang Tian karena berani bertingkah memalukan kepada Tuan Muda Lan. Mendengarnya membuat Xiao Shuxiang mendengus pelan.
"Saudara Jing, berikan aku ciuman jauh.."
Mendengar permintaan Saudara Xiao-nya.. Jing Mi benar-benar melakukannya. Dia tanpa rasa malu memanggil Xiao Shuxiang 'Sayang,' dan kondisi tersebut membuat Hou Yong, Nie Shang, serta Siu Yixin bersikap biasa saja.
"Kau lihat, aku dan Saudara Jing biasa melakukan ini. Itu hal normal dalam pertemanan antar pria.."
Ling Lang Tian memang tidak merasa risih saat Xiao Shuxiang dan Jing Mi mulai saling menyahut serta memanggil dengan ucapan-ucapan 'Sayang', ini karena kedua pemuda tersebut telihat seperti teman sekaligus saudara.
Hanya saja, jika Xiao Shuxiang memanggil Lan Guan Zhi dengan sebutan 'Sayang', maka itu akan lain lagi ceritanya.
Jing Mi dan Xiao Shuxiang adalah tipekal pemuda yang suka bicara dan sesekali bercanda, keduanya memiliki pancaran aura humoris. Karenanya meski Xiao Shuxiang dan Jing Mi saling memanggil dengan sebutan 'Suami-Istri' sekali pun, tidak akan ada yang menganggap serius hal itu.
Tetapi lain halnya bila Xiao Shuxiang melakukannya dengan pemuda serius seperti Lan Guan Zhi.. Yang ada malah memunculkan kesalah-pahaman tak berujung.
"Kau jangan pernah memanggil Tuan Muda Lan dengan kata itu, kau bisa menodai nama besarnya,"
Ling Lang Tian begitu serius, meski dia cukup banyak meminum arak, namun dia sama sekali tidak terlihat mabuk. Berbeda dengan Hou Yong dan Nie Shang, kedua pemuda itu sudah lama tertidur karena tak sanggup lagi.
"Calon Kakak Ipar, apa kau hanya mengkhawatirkan nama besar Lan Zhi? Bagaimana dengan nama besarku sendiri?"
"Memang kau punya?"
!!
Xiao Shuxiang tersedak arak yang diminumnya saat mendengar Ling Lang Tian bicara, dia terbatuk-batuk hingga Lan Guan Zhi mencoba menolong dengan mengusap pelan punggungnya.
Jing Mi, Siu Yixin, dan Mo Huai nampak menahan tawa, namun tidak sampai tiga tarikan napas.. Tawa Jing Mi langsung pecah.
Tidak disangka pertanyaan dari Ling Lang Tian tadi begitu menusuk sampai-sampai Saudara Xiao-nya tersedak arak.
"Hahahaha.. Itu benar. Benar sekali..! Saudara Xiao, memang sejak kapan kau punya nama besar? Hahahaha"
Xiao Shuxiang berkedut melihat Jing Mi yang begitu senangnya menghina dirinya. Sejurus kemudian, dirinya menerjang saudaranya tersebut dan memberi jitakan yang cukup keras.
Ling Lang Tian, Lan Guan Zhi, Mo Huai, dan Siu Yixin hanya bisa menyaksikan bagaimana kedua teman mereka ini mulai berguling-guling serta saling mengunci pergerakan.
Xiao Shuxiang dan Jing Mi baru berhenti setelah satu jam bergulat.
Malam semakin larut dan tak ada yang berniat untuk meninggalkan kedai Arus Bulan.
Jing Mi tertidur karena lelah bergulat dan juga efek dari arak yang diminumnya. Siu Yixin juga nampak tertidur di samping Jing Mi.
Yang masih terjaga saat ini adalah Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, Ling Lang Tian, dan Mo Huai.
"Saudara Mo, sebaiknya kau juga tidur. Kau terlihat sudah mengantuk berat,"
Mo Huai mengangguk pelan, dia memang tidak minum arak seperti teman-temannya, tetapi melihat Jing Mi dan Hou Yong tidur sambil mendengkur.. Membuatnya juga ikut mengantuk.
Mo Huai lalu mulai berbaring di samping Siu Yixin, dirinya perlahan menutup mata tetapi samar-samar masih mendengar suara Xiao Shuxiang yang berbicara dengan Ling Lang Tian.
Gong Zitao dan Ge Yu Han yang berada di ruangan sebelah masih setia menguping. Keduanya kali ini mendengar bahwa Xiao Shuxiang akan pergi ke Lembah Batu Api yang masih berada di wilayah Kekaisaran Langit Tengah.
"Untuk apa kau ke sana?" Ling Lang Tian bertanya, dia sedikit memberi penjelasan mengenai Lembah Batu Api yang rupanya sangat berbahaya, namun Xiao Shuxiang tidak peduli karena dirinya memang harus ke sana, ini demi misinya.
".. Aku akan berhati-hati,"
"Aku tidak akan mencegahmu, tetapi sebaiknya kau ingat ini. Kau tidak boleh sampai mati, dan segeralah pulang ke sekte bila urusanmu selesai,"
Ling Lang Tian juga menjelaskan bahwa untuk pergi ke Lembah Batu Api.. Xiao Shuxiang harus melewati Hutan Hujan Bunga terlebih dahulu, dan tempat itu berada di luar Kota Bintang Biduk.
".. Bukankah harusnya kau melakukan persiapan?"
"Semua persiapanku sudah selesai, hanya tinggal membersihkan diri dan kemudian pergi,"
Xiao Shuxiang kembali meminum araknya, dia tetap bersama dengan Ling Lang Tian, Lan Guan Zhi, dan yang lainnya sampai sinar matahari kembali muncul.
Gong Zitao dan Ge Yu Han sudah tahu lokasi di mana mereka bisa menjalankan rencana. Keduanya segera pergi meninggalkan Kedai Arus Bulan untuk menemui para pembunuh bayaran yang telah mereka sewa sebelumnya.
***
__ADS_1