XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
189 - Tanah Batu


__ADS_3

!!


Kaki Shuai Niao benar-benar mulus, melihatnya membuat kedua telinga Xiao Shuxiang semakin memerah. Dia memegang lipatan lutut Shuai Niao dan menyingkirkannya dari atas pahanya.


"Kau sudah tidak waras, Paman. Apa begini caramu memperlakukan keponakanmu sendiri, hah..?!" Xiao Shuxiang mengusap-usap dadanya, tanpa sadar darah di hidungnya menetes.


"Bocah, kau jangan bicara keras-keras. Jika ada orang yang mendengarmu, akan kupotong 'Belalaimu'."


Suara Shuai Niao mulai berubah jantan, wajah dan tubuhnya benar-benar menipu semua orang. Dia lalu berjalan ke arah kursi dan memperhatikan Xiao Shuxiang dari atas sampai bawah.


".. Beberapa tahun yang lalu, ada fenomena di langit. Meski aku tahu kau telah kembali, tapi tak kusangka wajahmu yang dulu dan sekarang masih saja sama.." Shuai Nao menuangkan arak pada cawan kecil di dekatnya, dia menatap Xiao Shuxiang yang berjalan ke arahnya.


Xiao Shuxiang duduk di kursi lainnya dan ikut meminum arak, "Kau juga sama sekali tidak berubah, Paman. Bahkan kau jauh lebih cantik dari terakhir kali aku melihatmu, benar-benar membuat sakit hati.."


Shuai Niao merupakan Demonic Beast berwujud Ular Putih, dia pernah diselamatkan oleh Xiao Shuxiang saat kehidupan pertamanya. Sejak itu, Xiao Shuxiang mengangkatnya menjadi 'Paman'.


"Kupikir, kau tidak akan bereinkarnasi lagi karena dosamu yang terlalu banyak. Tak disangka Tuhan malah lebih sayang padamu dan bukan Benua ini.."


Ucapan Shuai Niao sebenarnya memiliki arti bahwa Xiao Shuxiang tak seharusnya bereinkarnasi karena kejahatannya sudah terlalu banyak.


Kalaupun bereinkarnasi, setidaknya dia akan menjadi binatang berhidung besar, gemuk, dan bermainkan lumpur. Bukan manusia seperti di depannya ini.


"Paman, dosaku mungkin terlalu banyak hingga langit tidak mampu menampungnya. Makanya aku dapat bereinkarnasi kembali menjadi diriku lagi,"


"Haah.. Benua ini tidak akan selamat untuk kedua kalinya. Jadi, apa yang kau cari di tempatku? Jangan bilang kau benar-benar ingin melakukan 'itu' denganku. Yaah aku juga sama sekali tidak keberatan.." Shuai Niao menggosokkan kaki kanannya pelan ke betis kiri Xiao Shuxiang.


!!


Xiao Shuxiang seperti baru saja tersetrum, tindakan Shuai Niao barusan membuatnya menyemburkan arak yang diminumnya, dia terbatuk.


"Paman kurang ajar, secantik apapun dirimu.. Xiao Shuxiang tidak akan pernah tertarik. Aku bukan penyuka 'Lengan Pendek', berhentilah menggodaku. Kedatanganku kemari ingin mencari informasi tentang lokasi pasti keberadaan makam kuno yang kudengar kemarin, sekaligus menghibur hati temanku,"


"Kau memang datang ke tempat yang tepat. Makam kuno muncul tiba-tiba di wilayah netral, semua kultivator dan pendekar tiga Kekaisaran sudah mengetahuinya. Mungkin sudah banyak yang tiba di makam itu saat ini. Lokasinya ada di Tanah Batu, kau perlu enam bulan perjalanan untuk sampai di sana."


!


Xiao Shuxiang berdecak kesal, dia terlalu lama mendengar kabar makam kuno itu. Dia baru saja ingin mengurungkan niat untuk pergi, namun Shuai Niao mengatakan makam tersebut belum bisa dimasuki sekarang.


Ada segel yang terpasang di bibir gua makam kuno, para kultivator saat ini sedang berusaha menghancurkan segel tersebut.


".. Menurut perhitunganku, saat ini segel tersebut telah melemah sekitar sembilan puluh persen. Kau memang akan terlambat jika perjalananmu memakan waktu selama itu, tapi aku punya jalan pintas yang lebih baik.."


"Kalau begitu cepat beritahu aku, Paman.."


Shuai Niao mengatakan bahwa dia akan memberitahu Xiao Shuxiang jika pemuda tersebut mau mencium pipinya. Mendengarnya, membuat Xiao Shuxiang tersentak.


".. Kalau kau tidak mau, jangan harap aku memberitahumu.." Shuai Niao menepuk pelan pipi kanannya, dia mengatakan Xiao Shuxiang tidak perlu malu karena dahulu keponakannya ini sering melakukannya.


".. Cepatlah, Xiao'Er. Pipi cantikku menunggu,"


"Aku sama sekali tidak malu, tapi kau sudah kelewatan. Beruntung kau adalah Pamanku,"


Xiao Shuxiang benar-benar melakukannya dan itu berlangsung hanya satu detik. Dia bertekad akan mematahkan tulang pipi Shuai Niao jika sampai mengerjainya setelah dia memberikan keperawanan bibirnya.


"Sekarang, kau pergi ke Kota Embun Bunga dan temui Wali Kotanya. Minta dia untuk membawamu ke Tanah Batu dengan tanda yang kuberikan tadi,"


?

__ADS_1


Shuai Niao menyentil dahi Xiao Shuxiang karena menatapnya dengan tatapan bingung dan keheranan. Dia menjelaskan bahwa ciuman tadi adalah tanda titik kemunculan Cermin Pemindah milik Tianqi Mao.


".. Jika kau sudah pernah melewati suatu tempat dan setelah itu kau ingin kembali ke tempatmu yang sebelumnya, maka kau hanya perlu menggunakan cermin pemindah meski tanpa membuat segel langsung sebagai titik kemunculanmu.."


Xiao Shuxiang terdiam sejenak dan kemudian mengangguk, selama ini dia selalu menandai suatu tempat dengan segel langsung agar dirinya dapat menghemat waktu perjalanan. Tidak dia sangka, segel langsung ternyata belum cukup efektif.


"Jadi, tunggu apalagi? Atau kau mau kita ke tahap selanjutnya.." Shuai Niao kembali menggosokkan pelan kakinya di betis Xiao Shuxiang sambil memperlihatkan paha putih mulusnya.


"Kau Paman yang mesum, aku benar-benar belajar banyak darimu," Xiao Shuxiang pamit karena ingin segera pergi ke kota Tanah Batu. Dia meninggalkan ruangan Shuai Niao dan kembali ke tempat teman-temannya.


Jing Mi, Nie Shang, dan Hu Li masih tetap pada posisi duduk yang sama. Ketiganya terlihat berkeringat dingin dan sama sekali tidak menyentuh cawan arak mereka.


Ekspresi kaku ketiganya cukup lucu bagi Xiao Shuxiang, apalagi dia melihat tatapan mata Jing Mi dan Nie Shang terus menghadap ke atas sambil menggumamkan peraturan Sekte Pedang Langit.


?!


Melihat Xiao Shuxiang kembali.. Jing Mi, Nie Shang, dan Hu Li segera berdiri lalu melompat ke arah teman mereka.


Xiao Shuxiang meminta semua gadis yang ada di ruangan ini untuk keluar. Dia mengatakan butuh bicara pribadi dengan ketiga temannya.


Salah satu wanita dengan manja menolak pergi, dia memeluk erat lengan kanan Xiao Shuxiang.


"Nona Cantik, bagaimana jika kuberi hadiah untukmu dan beri aku waktu bersama teman-temanku, oke?" Xiao Shuxiang mengeluarkan sebuah pil berwarna merah dan memasukkannya ke dalam mulut wanita cantik ini dengan lembut.


Hanya dalam tiga tarikan napas, efek pil tersebut mulai terlihat. Wanita ini bersemu merah saat merasakan bagian tubuhnya berubah, dia menatap Xiao Shuxiang yang tersenyum ramah ke arahnya.


"Tuan Muda, kau.. Apa kau punya pil itu lagi..?"


"Nona Cantik, pil itu hanya berefek sekali pada orang yang sama. Kau tidak akan mendapatkan pil serupa jika memakannya lagi, tapi biar kuberi kau pil yang lain.."


Wanita tersebut mencium pipi Xiao Shuxiang dan memeluknya erat saat pemuda ini memberinya satu botol giok kecil berisi sepuluh butir pil pembersih tubuh.


Dia lalu membentuk segel, titik air perlahan muncul dan memadat menjadi cermin. Xiao Shuxiang melangkah masuk, diikuti oleh Jing Mi, Nie Shang, dan Hu Li.


Keempatnya benar-benar berada di Tanah Batu. Tempat ini memiliki tanah bebatuan yang keras tanpa adanya pepohonan. Rumput yang tumbuh pun hanya bisa dihitung dengan jari.


Untungnya tidak ada kultivator yang melihat mereka keluar dari sebuah cermin, Xiao Shuxiang dan teman-temannya bisa terkena masalah jika sampai ketahuan.


Mereka mulai berjalan sambil melihat-lihat kesekeliling. Pantas lokasi ini disebut wilayah netral, tidak ada yang dapat diambil dari sini, tanahnya juga tidak bisa ditanami.


".. Aku akan terkejut jika ada pemukiman di tempat seperti ini.."


"Ehm, Saudara Xiao.." Nie Shang menepuk pelan pundak Xiao Shuxiang. Cukup jauh di depan mereka.. Nampak beberapa rumah.


Semakin dekat mereka, semakin keempatnya tahu bahwa rumah yang mereka lihat tidak hanya beberapa, tetapi ada sekitar 45 bangunan berbagai ukuran, jelas ini sebuah desa.


Tidak jauh di belakang Xiao Shuxiang dan ketiga temannya, nampak beberapa kultivator dari berbagai sekte yang juga ikut berjalan. Mereka semua menuju ke desa tersebut untuk sekedar beristirahat dan mengumpulkan informasi tentang keberadaan makam kuno.


Para warga Tanah Batu rupanya adalah warga yang kesusahan, mereka menyewakan tempat istirahat dengan imbalan makanan atau air.


Para warga ini tidak bisa pergi atau keluar dari wilayah netral, fisik mereka terlalu lemah untuk berjalan jauh.


".. Tidak ada satu pohon pun di wilayah ini, kami tidak bisa berteduh jika melakukan perjalanan pada saat matahari bersinar terang. Dan jika melakukannya di sore hari hingga malam, kami hanya akan sampai tidak separuh jalan.."


Xiao Shuxiang, Hu Li, Jing Mi, dan Nie Shang mendengar ucapan seorang pria paruh baya yang sedang ditanya oleh seorang kultivator Sekte Pulau Hujan.


Kebanyakan kultivator tidak membawa makanan, lainnya hanya membawa air putih dan itu pun sedikit. Mereka tidak menyangka ada pemukiman di tempat seperti ini, warga Tanah Batu akan mati kelaparan jika tidak segera ditolong.

__ADS_1


"Saudara Xiao, apa kau membawa makanan? Mereka semua terlihat kurus dan lemah.." Jing Mi memperhatikan warga Tanah Batu yang berusaha meminta bantuan pada kultivator yang berwajah ramah.


!!


Xiao Shuxiang tersentak saat pakaiannya ditarik oleh seorang anak perempuan berusia 7 Tahun.


"Kakak.. Rumahku bersih, beristirahatlah di sana.."


Anak tersebut begitu sangat kurus, entah sejak kapan bibir anak ini menyentuh air. Nie Shang dan Jing Mi tidak membawa bekal makanan selain kepingan emas, namun benda tersebut tidak berlaku di tempat ini.


"Ayo, Kakak.. Beristirahatlah di rumahku,"


Xiao Shuxiang hanya mengikuti anak perempuan yang menarik tangannya, dia belum berkata apa-apa dan masih melihat-lihat situasi.


Beberapa orang tua dan wanita dewasa seperti mengemis belas kasihan para pendekar, sementara anak yang menarik Xiao Shuxiang sama sekali tidak mengemis padanya.


Seperti yang dikatakan anak perempuan berusia 7 Tahun tersebut, rumahnya memang bersih, bahkan tak ada satu pun kursi, meja, atau tempat tidur di dalam rumah ini. Benar-benar bersih..!


Xiao Shuxiang dan teman-temannya bisa melihat seorang wanita dan pria dewasa yang ternyata adalah orang tua anak perempuan ini.


!!


Jing Mi, Nie Shang, dan Hu Li terkejut saat kedua orang tua anak perempuan yang membawa mereka dalam kondisi terbaring lemah di lantai, keduanya sangat kelaparan.


"Saudara Xiao, cepat tolong mereka..!"


"Bibi, bertahanlah.."


"Tuan Muda Xiao, jangan diam saja..! Paman, Anda harus bertahan.."


Xiao Shuxiang menggaruk dan sesekali menjambak rambutnya, bukan urusannya jika kedua orang tua ini mati kelaparan. Lagipula dia juga tidak mengenal mereka, untuk apa menolongnya?!


"Ibu.. Ayah.. Jangan tinggalkan aku.."


Xiao Shuxiang menghembuskan napas saat melihat anak perempuan tersebut menangis, dia lalu mendekat dan mengeluarkan dua guci kecil air dari Cincin Spasialnya.


Xiao Shuxiang memberikan guci itu kepada Hu Li dan Jing Mi. Dia juga mengeluarkan tiga butir pil yang memiliki khasiat mengenyangkan. Sayangnya dia hanya membawa sepuluh butir saja pil yang seperti ini.


Setelah beristirahat cukup lama, anak perempuan tersebut beserta kedua orang tuanya membaik.. Xiao Shuxiang dan ketiga temannya melanjutkan perjalanan menuju ke makam kuno.


Xiao Shuxiang beberapa kali dibujuk oleh Nie Shang dan Jing Mi untuk membantu warga desa yang lain, namun dirinya menolak sebab mereka tidak punya banyak waktu.


"Mereka bisa mati jika kita tidak menolongnya, Saudara Xiao..?!"


"Dasar anak-anak baik. Aku mengerti, kita akan menolong mereka sepulang dari menjelajahi makam..!" Xiao Shuxiang segera melesat pergi, dia tidak ingin ditahan oleh ketiga temannya.


Keempatnya baru sampai di bibir gua makam kuno saat malam hari, bertepatan dengan berhasilnya para kultivator senior menghancurkan segel di bibir gua itu.


"AWAAS..!"


!!


Xiao Shuxiang dan kultivator lainnya terkejut saat mendengar suara teriakan. Demonic Beast berwujud Kepiting Kura-Kura berusia 5.000 Tahun langsung keluar dan menyerang kultivator manapun.


Jing Mi dan Hu Li berniat menyerang, namun Xiao Shuxiang menghentikan keduanya dengan berkata mereka harus menunggu dan biarkan para kultivator itu mengalahkan Demonic Beast besar tersebut.


".. Akan bagus jika banyak pendekar yang tewas. Setidaknya saingan menjarah makam akan berkurang," Xiao Shuxiang tersenyum dan mengajak teman-temannya untuk mengawasi dari jauh.

__ADS_1


Jing Mi dan Nie Shang hanya mengikuti Xiao Shuxiang karena tidak tahu bahwa apa yang diusulkan saudara mereka ini termasuk siasat licik. Sementara Hu Li yang meski tahu, namun dirinya hanya menurut pada Tuannya.


***


__ADS_2