
"Meski sering kemari, aku tidak pernah bosan dengan keindahan Kota Bintang Biduk..."
Seorang gadis berpakaian putih dengan corak burung bangau nampak duduk di lantai empat sebuah penginapan. Di depannya ada meja kayu dengan beberapa makanan serta seguci sedang arak terbaik tempat ini.
Perhatiannya tertuju pada pemandangan yang ada di bawah. Malam ini udara terasa lebih mendamaikan daripada yang biasanya. Dia duduk bersama seorang gadis yang berpakaian sama dengan miliknya, mereka berdua adalah kultivator dari Sekte Bangau Putih.
"Kakak benar, aku juga suka melihat keindahan kota ini. Apalagi sekarang, semua orang sedang merayakan kelahiran putra dari Kaisar Langit Tengah. Lihat, mereka menerbangkan lentera."
Senyuman dari gadis berambut pendek itu terlihat sangat manis, dia memiliki mata terang dengan tahi lalat kecil di samping kanan bibir bagian bawahnya.
Kakak seperguruannya sendiri mempunyai rambut hitam panjang, cukup bergelombang dengan pewarna bibir yang terlalu tebal. Walau demikian, dia mempunyai pesona yang mengagumkan.
"Kota Bintang Biduk dari Kekaisaran Langit Tengah..." gadis berambut panjang itu memperlihatkan wajah tanpa ekspresi, meski tatapan matanya mengandung rasa kasihan.
"... Tempat ini lebih banyak dihuni oleh orang-orang luar, didominasi dengan penduduk Benua Timur. Bukankah Kaisar Langit Tengah terlalu murah hati?"
"Yang Mulia Kaisar memang seperti itu. Dia menikahi seorang bangsawan dari Benua Timur, istrinya melahirkan dan semua rakyatnya menerbangkan lentera sebagai bentuk penghormatan.."
Gadis berambut pendek itu mulai memakan hidangan yang tersaji di depannya. Dia pun kembali melanjutkan ucapannya, ".. Kebudayaan dari bangsa asing benar-benar diterima baik di tempat ini. Berbeda dengan Kekaisaran Langit Utara yang lebih didominasi oleh orang-orang pribumi dan lebih sensitif menerima hal-hal semacam ini,"
"Mn, mungkin inilah yang mereka sebut dengan 'akulturasi'.." gadis berambut panjang itu meminum arak di cawan miliknya dan memperhatikan adik seperguruannya makan. "... Sebaiknya kau cepat agar kita bisa sampai di Sekte Pagoda Langit tepat waktu,"
"Kakak, kau juga harus makan. Di sana kita harus menjaga sikap, tidak mungkin dapat makan banyak.."
"Baiklah.. Baiklah, kau benar. Ayo makan,"
Kedua gadis itu tidak lain merupakan salah satu dari tamu undangan di Sekte Pagoda Langit. Mereka memutuskan untuk pergi mengisi perut terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.
Banyak kabar yang beredar bahwa malam ini merupakan malam terbaik dan penuh kebahagiaan. Pernikahan gadis yang memiliki sebagian besar kecantikan dunia ini dan kelahiran seorang pangeran di Kekaisaran Langit Tengah merupakan keberuntungan.
Jauh di tempat lain, yakni Sekte Pagoda Langit. Jing Mi, Hou Yong dan Hai Feng terlihat berdiri tegak di sisi gerbang utama sekte. Mereka mengawasi setiap tamu undangan yang datang, memeriksa identitas mereka, dan selalu bersiap meringkus orang yang dirasa mencurigakan.
Tidak hanya ketiganya yang menjaga keamaan di sekte ini, tetapi juga beberapa murid berbakat dari Sekte Pagoda Langit. Walau demikian, Jing Mi yang paling banyak menarik perhatian di luar gerbang ini.
Dia mempunyai ukuran tubuh yang besar, berotot, dan begitu perkasa. Pakaian cokelat kehitaman yang dia kenakan dan sepasang pedang yang berada di bagian belakang pinggangnya membuat Jing Mi nampak garang.
Tidak hanya Jing Mi yang mencuri perhatian di gerbang luar Sekte Pagoda Langit, tetapi juga Hai Feng. Pemuda itu mempunyai wajah bersih, tubuh tegap, nampak berwibawa dan mirip seperti keluarga bangsawan.
Hou Yong memperhatikan setiap murid Sekte Pagoda Langit yang berjaga bersamanya dan sekarang mengerti bahwa hanya dirinyalah yang paling pendek di sini.
Hou Yong menghela napas panjang dan itu didengar oleh Hai Feng yang berdiri di sampingnya. "Bahkan tanpa memakai pakaian berwarna cerah, Saudara Jing merebut banyak perhatian dari kita.."
Hai Feng tersenyum dan kemudian menoleh ke arah Jing Mi, "Aku tidak bisa menemukan pakaian seukuran tubuh Saudara Jing, dan butuh waktu lama menjahitkan yang baru untuknya. Apalagi Saudara Jing punya tubuh yang aneh, pakaiannya hari ini bisa menjadi tidak muat besok."
"Aku mendengar apa yang kalian bicarakan.." Jing Mi menoleh ke arah Hai Feng dan Hou Yong, dia protes sebab ucapan saudaranya terlalu berlebihan.
Selama ini pakaiannya selalu melekat pas di tubuhnya. Karena itulah sedikit saja gerakan berlebihan, Jing Mi dapat merobek pakaiannya.
"Tampan~"
?!
Jing Mi tersentak kala mendengar suara seorang wanita. Dia terlalu fokus pada teman-temannya hingga hampir lupa dengan pekerjaannya. Dia pun meminta maaf pada wanita berpakaian merah muda di depannya dan meminta undangan Sekte Pagoda Langit sebagai tanda pengenal.
Wanita yang nampak berusia 32 Tahun itu merupakan perwakilan dari salah satu partai Aliran Putih yang berasal dari Kekaisaran Langit Tengah. Setiap partai dan sekte yang diundang hanya boleh mengirim maksimal 2 orang perwakilan saja.
Jing Mi merasa canggung sebab setiap kali ada tamu undang yang lewat, perhatian selalu tertuju padanya.
Berulang kali dia menelan ludah dan mengusap keringat dingin yang menuruni pipinya. Hou Yong dan Hai Feng yang melihat itu nampak mengembuskan napas pelan.
Salah seorang murid Sekte Pagoda Langit yang berdiri di samping Hai Feng juga ikut menatap Jing Mi. Dia pun tidak tahan untuk bicara.
"Kurasa.. Walau tubuh Tuan Muda Jing begitu kekar, namun dia memiliki hati selembut tahu.."
Hai Feng menoleh dan lalu mengangguk setuju, "Kau benar sekali, Saudaraku. Dia juga orang yang mudah gugup saat berhadapan dengan orang asing. Kelihatannya saja yang garang, tapi sifatnya masih sangat baik."
Hou Yong, "Kalau dalam hari-hari biasa, Saudara Jing memang seperti itu. Tapi dia akan sangat berbeda jika terlibat dalam sebuah pertarungan,"
Murid Sekte Pagoda Langit terlihat penasaran. Hai Feng yang mengetahui rasa penasaran murid tersebut pun berkata, "Maksud Hou Yong adalah Saudara Jing bisa menjadi monster mengerikan bila sudah bersemangat dalam pertarungan."
Hai Feng melanjutkan, kali ini dia tertawa canggung. "Sebenarnya... Kami semua juga sama,"
Hai Feng menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal dan berkaya, "Aku sering terbawa suasana ketika mulai mengayunkan senjata."
"Ehm.." Murid Sekte Pagoda Langit berkedip, "Kalian suka bertarung ya?"
Hou Yong menggeleng, "Kami sebenarnya tidak suka bertarung. Hanya saja jika dalam keadaan terpaksa, kami sering terbawa suasana. Masalahnya, sulit untuk meninggalkan tubuh lawan dalam keadaan utuh, aku terkadang susah menelan makanan saat mengingatnya."
"Aah~ aku juga sering mengalaminya. Terakhir kali aku mencoba memakai teknik 'Lingchi' untuk membunuh lawan. Namun baru tiga kali pemotongan, lolongan kesakitannya sudah membuatku tak tahan.." Hai Feng menggeleng sambil berdecak, "Sial sekali. Aku berusaha membuatnya berhenti berteriak, namun malah tidak sengaja menggorok lehernya."
__ADS_1
Hou Yong menepuk lengan Hai Feng sambil mengembuskan napas, "Kau terlalu pemberani. Teknik 'Lingchi' tidak bisa digunakan oleh sembarangan orang. Hanya mereka yang seperti Saudara Xiao yang bisa melakukannya. Aku sendiri pernah menebas jari-jari lawan dan kubiarkan dia mati kehabisan darah, aku merobek mulutnya saat mulai tidak tahan mendengar lolongannya,"
"Aah, kau kejam sekali Saudara Hou. Harusnya kau sumpal saja mulutnya dengan capit belalangmu, itu jauh lebih baik."
"Hai Feng, nama senjataku ini 'Ài'. Kau tidak boleh memanggilnya capit belalang. Dan kau tahu, bilah senjataku ini sepuluh kali lebih menyakitkan daripada pedang kembar bergerigi milik Saudara Jing.."
Hou Yong tersenyum lebar, dia berkata. "Aku pernah memakai teknik 'Lingchi' dengan senjataku dan hasilnya cukup memuaskan. Aku bisa membuat potongan setipis kain terhadap tubuh lawan dengan konsentrasi penuh, walau aku hanya dapat bertahan dalam lima belas kali pemotongan...."
!!
Murid-murid Sekte Pagoda Langit dan beberapa tamu undangan yang mendengar ucapan Hou Yong nampak terkejut. Mereka menatap pemuda setinggi 169 cm itu dengan penuh rasa tak percaya.
Membicarakan cara menghabisi lawan sebenarnya merupakan hal sensitif dan tabu untuk para pendekar. Hanya saja sepertinya itu tidak berlaku bagi kedua pemuda ini.
Apalagi, teknik yang sedang mereka bicarakan tadi merupakan 'Eksekusi Lingchi'. Itu berarti mati dengan cara pemotongan.
Korban 'Lingchi' akan menerima 3357 luka di mana dirinya tidak dibiarkan tewas sebelum potongan terakhir. Dan karenanya, seseorang yang memakai teknik ini harus sangat terampil untuk mencegah korban tewas lebih awal.
Salah satu tamu undangan menghampiri Hou Yong dan bertanya dengan takut-takut, wajahnya nampak pucat. "Anu.. Kalian berdua membicarakan hal semengerikan itu apa tidak merasakan apa pun?"
"Tidak sama sekali," Hou Yong terlihat biasa saja, "Di sekte kami, ada aturan di mana murid dapat menjadi 'Senior Besar' jika sudah pernah menggunakan teknik 'Lingchi' untuk membunuh lawan. Makin banyak angka yang didapatkan, maka semakin dihormati dia."
Hou Yong tersenyum bangga, "Rekorku sendiri berada di urutan ketiga teratas. Tentu saja di urutan kedua adalah Yi Wen dan di posisi pertama di tempati oleh orang yang menjadi sumber aturan itu sendiri, siapa lagi jika bukan Saudara Xiao-Ku."
Hou Yong mengepalkan tanga dan menyemangati dirinya, "Haah.. Sampai kapan pun, aku tidak bisa mengejar ketertinggalanku dari Saudara Xiao. Tapi aku tidak akan menyerah. Pelan namun pasti, rekor terbaruku harus sampai di angka 20."
"Saudara Hou.." Jing Mi akhirnya ikut bicara, ".. Sebelum itu terjadi, kau akan lebih dulu kalah dariku."
"Heh? Itu mustahil, butuh ketahanan dan keterampilan yang sangat baik untuk memakai teknik 'Lingchi'. Aku tidak yakin kau bisa bertahan mendengar jeritan kesakitan yang memilukan itu,"
"Aku bisa menggunakan penutup telinga saat melakukannya."
"Bukankah itu curang?"
!!
Para tamu yang masih berada di gerbang depan serta murid-murid Sekte Pagoda Langit yang berjaga tanpa sadar menahan napas. Wajah mereka terlihat pucat, beberapa bahkan sulit menggerakkan kakinya.
Tamu undangan yang merupakan perwakilan dari partai dan sekte menengah nampak khawatir jika masuk ke dalam sana.
Beberapa gadis terlihat menggigit jarinya karena takut, ada juga yang tangannya terkepal karena berusaha menahan gemetar. Tidak sedikit yang bahkan kesulitan mengusap keringat dingin yang mengucur di pipi mereka.
"Bagaimana ini..? Aku tidak meragukan kemampuanku, tetapi aku hanya tidak yakin akan pulang hidup-hidup."
Dua orang pria saling berpandangan dan seperti memikirkan hal yang sama. Wajah mereka semakin pucat, ingin beranjak pergi dari tempat ini tetapi tidak bisa. Satu hal di pikiran mereka adalah.. Pernikahan yang berlangsung di dalam sana merupakan acara paling mengerikan yang pernah ada.
Dia memakai pakaian ungu kehitaman, rambutnya pendek berwarna putih keperakan, dan dia membawa sebuah kipas berwarna senada dengan pakaiannya.
".. Aku pernah mendengar ini. 'Di malam bulan purnama, keindahan yang memabukkan, kupu-kupu menjadi lebah, kelinci mati dalam pengorbanan, gelap mulai menelan nyawa'. Rasanya.. Mirip seperti sekarang,"
Pemuda yang memakai kain hitam sebagai penutup mata itu nampak mengipas pelan wajahnya, dia mengatakan bahwa kebanyakan pembunuhan berantai selalu berawal dari malam yang indah.
Hou Yong menoleh ke arah Hai Feng dan Jing Mi. Kedua saudaranya seperti tahu apa yang dia pikirkan dan mereka terlihat menaikkan sedikit bahu.
"Ehm.. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi kami berasal dari Sekte Kupu-Kupu.." Hou Yong menatap pemuda yang memainkan kipas itu. Ucapannya yang terdengar polos malah membuat para tamu terkejut bukan main.
Ucapan pemuda berpakaian ungu kehitaman itu tadi sekarang mulai terasa jelas. Mereka seperti kelinci yang sedang dalam perjalanan menuju keindahan memabukkan di balik gerbang di depan mereka.
"'Kupu-Kupu menjadi lebah', apa itu artinya mereka akan membantai kita di dalam sana?"
"Kita akan dikorbankan. Mungkinkah kabar yang beredar itu benar? Bahwa kecantikan Nona Ling berasal dari pengorbanan manusia? Pernikahan ini hanyalah kedok di mana kita akan dihabisi.."
"Jangan bicara begitu.. Kau membuatku semakin takut,"
!!
Murid-murid Sekte Pagoda Langit yang berjaga bersama Jing Mi, Hou Yong, dan Hai Feng dapat melihat keraguan pada wajah para tamu undangan.
"Tu-tunggu, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Kami.."
Salah seorang murid Sekte Pagoda Langit kesulitan mencari kata-kata. Wajah para tamu yang dirinya lihat penuh dengan kekhawatiran, beberapa menatap curiga, dan tidak sedikit yang mulai memegang erat senjata masing-masing.
"Ada apa ini..?"
!!
Sebuah suara lembut mengejutkan mereka semua. Kaki seorang gadis mulai menapak anggun di tanah, pakaian putih bercampur merah miliknya terlihat sangat serasi dengan lekuk tubuhnya yang mengagumkan.
Gadis itu mempunyai wajah cantik, riasan sederhana namun dengan pewarna bibir yang agak tebal. Dia terlihat memain-mainkan sedikit rambut pendeknya dan berjalan mendekati Jing Mi.
"Saudara Jing, kenapa kau menahan para tamu di sini? Dan mengapa mereka terlihat pucat? Kau.."
__ADS_1
"Yi Wen, aku tidak melakukan apa pun. Hanya.." Jing Mi menunduk sedikit dan lalu membisikkan sesuatu di telinga saudaranya.
Gadis yang menarik perhatian karena tubuh bagusnya itu nampak mendengarkan Jing Mi dan lalu tersentak. Setelah tahu kondisi yang terjadi, dia pun mengembuskan napas pelan.
Di belakang Yi Wen ternyata ada Zhi Shu. Gadis berambut panjang dengan pakaian berwarna merah muda itu nampak berjalan anggun. Wajah polos dan mata teduhnya sangat menenangkan. Untuk sejenak, beberapa tamu seperti melupakan kekhawatiran mereka.
Yi Wen dengan sopan mengatakan pada para tamu agar tidak perlu takut. Acara pernikahan yang berlangsung di dalam benar-benar terjadi dan mereka tidak seharusnya mendengar omong kosong saudara seperguruannya.
".. Mereka ini suka bicara berlebihan. Mana mungkin sekte kami punya aturan semacam teknik 'Lingchi' atau apa pun. Ketiga orang ini adalah pembuat onar, mereka senang menakut-nakuti. Iya kan, Zhi Shu?"
"A-oh! Iya, Saudara Jing meski punya tubuh yang kekar namun dia terlalu perasa. Saudara seperguruanku semuanya anak-anak polos dan baik hati, walau memang terkadang mereka suka bertindak nakal."
Zhi Shu dengan sopan memberi hormat, suara dan wajahnya yang penuh kelembutan sangat cocok di situasi semacam ini.
Yi Wen pun demikian, wajah cantik dan senyuman manisnya tidak akan membuat para tamu undangan menyadari kebohongannya. Apalagi, Jing Mi, Hou Yong, dan Hai Feng tidak melakukan protes dengan ucapannya tadi.
".. Mereka ini suka menganggu. Kuharap Tuan dan Nona semua tidak menaruh dendam pada saudaraku." Yi Wen membungkuk hormat. Dia kembali melanjutkan bahwa para tamu undangan bisa masuk dan memastikan sendiri apa yang terjadi di dalam sana.
Pemuda dengan mata yang tertutup kain hitam itu tersenyum ke arah Yi Wen. Dia memainkan kipasnya dan mengangguk setuju atas ucapan gadis cantik tersebut. Ada baiknya memastikan sendiri apakah di dalam sana benar-benar sebuah pernikahan atau bukan.
Sebelum dia melangkah, seorang gadis berpakaian serba merah menghentikannya. Gadis itu memiliki kulit seputih salju, paha ramping tanpa cacat, dan terdapat ukiran kalajengking merah pada salah satu bagian pahanya. Dia mempunyai rambut panjang dengan bagian atas tubuh yang sedikit terbuka.
"Yun Fei'Ge, aku tidak ingin kau masuk duluan. Ini seperti melukai harga diriku karena kau memakai penutup mata, mana bisa melihat."
Gadis tersebut bernama Han Ying, dia memberi salam hormat pada Yi Wen dan Zhi Shu kemudian memberikan kartu undangannya pada Jing Mi. Dia dan pria yang berpakaian ungu itu merupakan perwakilan dari Partai Iblis, rekannya sendiri bernama Gou Yun Fei.
"Tampan~" Han Ying sedikit menyentuh dada Jing Mi hingga membuat pemuda itu terkejut, ".. Lain kali aku akan memakai teknik 'Lingchi' pada tubuh berototmu ini.."
Senyuman Han Ying terlukis di wajahnya. Dia mulai berjalan masuk dengan disusul oleh Gou Yun Fei. Beberapa pendekar menyusul mereka dari belakang.
"Hei.." salah seorang pendekar menghampiri Jing Mi, ".. Apa kau sungguh berbohong saat mengatakan kau dan temanmu pernah melakukan teknik 'Lingchi'?"
"Tidak sama sekali, aku tidak berbohong. Tapi di dalam sana kejadiannya berbeda dari yang kau pikirkan. Ini pernikahan Saudara Xiao-ku dengan Nona Ling,"
Jing Mi menjawab dengan senyuman teramah miliknya, pemuda di depannya merupakan kultivator dari sekte menengah Aliran Putih.
Dia mempunyai kemampuan yang cukup hebat, namun selalu rendah hati. Dia sama seperti Jing Mi, yakni mudah bergaul dengan siapa saja.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi jika nanti terjadi sesuatu di dalam sana dan menimpaku, aku akan mengutuk tujuh keturunanmu."
!!
Jing Mi berkedip, dia menatap pemuda tadi yang sudah melangkah memasuki gerbang. Dia belum mempunyai seorang pun kekasih dan sudah ada yang mau mengutuk keturunannya. Benar-benar kejadian yang langka.
Yi Wen memperhatikan setiap tamu undangan yang berlalu di hadapannya. Mereka rupanya adalah perwakilan dari partai dan sekte ketiga Aliran. Bisa dibilang, untuk malam pertama ini--Undangan hanya ditujukan bagi para pendekar.
"Mereka hanya mengirim murid-murid biasa sebagai perwakilan, dan ternyata hanya sedikit yang muridnya terlihat kuat. Padahal di dalam.. Perwakilan dari Partai dan Sekte Besar adalah Patriarch serta Grand Elder. Ada apa sebenarnya.."
Yi Wen mengusap-usap dagunya sambil memikirkan sesuatu. Seseorang berpakaian hitam dengan jubah merah lewat di hadapannya dan itu membuat dirinya tersentak.
!!
Yi Wen segera menoleh, namun hanya mampu melihat punggung orang yang dia yakini merupakan pria dewasa. Dari belakang, pria tersebut mempunyai rambut hitam panjang dengan cara berjalannya yang penuh wibawa.
Jubah merah pria itu nampak dilambai-lambaikan angin. Yi Wen memperhatikan dengan seksama sampai punggung pria itu mulai terhalang oleh tubuh para tamu undangan yang lain.
"Nona, Anda kenapa menangis?"
?!
Suara dari Hai Feng menyadarkan Yi Wen. Dia melihat saudara seperguruannya yang tengah berhadapan dengan seorang wanita berpakaian serba putih.
Hai Feng sendiri kebingungan karena wanita yang memeluk boneka kain di depannya ini meneteskan air mata. Dia tidak melakukan apa pun, apalagi membentak. Wanita di hadapannya-lah yang lebih dulu menangis.
"Aku sedih.. Pernikahan selalu membuatku menangis. Ini sangat menyedihkan,"
"Nona.. Ehm.. Nona Miao Gang.." Hai Feng membaca nama wanita ini dari undangan yang ada di tangannya. Dia meminta Miao Gang untuk tenang sebelum bertanya dengan suara yang lembut.
".. Kenapa Nona begitu sedih? Apa ada yang menyakiti Anda?"
"Aku tidak suka dengan pernikahan.. Aku kasihan pada mempelai pria dan wanita.. Melihat mereka bersanding membuatku ingin menangis.."
"Tapi kau sudah menangis sejak tadi..!" Hai Feng mengembuskan napasnya, dia merasa bertemu dengan kultivator yang aneh. Jujur, dia tidak bisa menghadapi wanita seperti ini.
"Nona..!" Hou Yong tiba-tiba menepuk punggung Miao Gang dengan penuh semangat hingga membuat wanita itu terkejut.
".. Kau tidak perlu menangis dan sebaiknya segera masuk. Lupakan kesedihanmu, lagipula air mata gadis secantik dirimu terlalu berharga untuk jatuh begitu saja,"
Hai Feng menjitak kepala Hou Yong, dia mengatai temannya cebol serta merutukinya karena telah berani menggoda tamu undangan.
Hai Feng pun mengapit Hou Yong di ketiaknya dan mempersilahkan Miao Gang untuk masuk. Saudara seperguruannya sendiri terlihat berusaha memberontak.
Miao Gang lewat di depan Yi Wen dan bertemu pandang sejenak dengan gadis itu sebelum berlalu pergi meninggalkannya.
__ADS_1
!!
***