
Di Benua Tengah, tepatnya di Sekte Pagoda Langit, Kekaisaran Langit Tengah--Lang Guan Zhi nampak sedang bertarung dengan pemuda bertubuh kekar, berambut pendek, dan bersenjatakan kapak besar.
Pertarungannya disaksikan oleh banyak orang, termasuk Lan Xiao, Jing Mi, Hou Yong, dan Ling Qing Zhu. Bila dilihat lebih teliti--dirinya berada dalam Arena yang cukup besar. Sebuah Arena Pertarungan.
Pedang Lan Guan Zhi berbenturan dengan bilah kapak pemuda besar di depannya. Ukuran tubuh lawannya tiga kali lipat dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Jika diukur berdasarkan besar tubuh gorila--di mana yang terbesar adalah level 5 dan yang terkecil adalah level 1, maka ukuran tubuh pemuda yang dilawan Lan Guan Zhi berada di level 3, satu level di atas Jing Mi.
Sejak membawa Ling Qing Zhu pulang, Lan Guan Zhi dan ketiga temannya harus tertahan di Sekte Pagoda Langit. Mereka menjadi pengganti sementara dari Xiao Shuxiang.
Sejak Ling Chu Zhen, GrandElder sekaligus kepala keluarga 'Ling' mengetahui bahwa saudaranya, Ling Hao Yu tewas dibunuh seorang pemuda.. Dirinya meski sedih namun tidak menyimpan dendam.
Baginya, pemuda yang berhasil membunuh saudaranya merupakan orang yang kuat dan sekarang mempunyai status menjadi 'Wali Pelindung' putrinya.
Hanya saja, sampai detik ini dirinya belum bertemu dengan pemuda tersebut. Padahal perebutan gelar 'Wali Pelindung' dimulai ketika saudaranya telah terbunuh.
Ling Chu Zhen memiliki rambut berwarna putih dengan mata berwarna biru. Wajahnya putih bersih dan seakan terbuat dari pahatan giok. Setiap orang yang melihatnya pasti akan beranggapan bahwa usianya masih berada di tiga puluhan tahun.
Selama kabar tentang kematian saudaranya tersebar, Ling Chu Zhen selalu kedatangan tamu yang ingin menantang 'Wali Pelindung' putrinya. Karena orang yang ditantang tidak berada di tempat, maka yang menjadi perwakilan adalah teman-teman calon menantunya itu.
Pihak penantang berhak memilih di antara ketiga pemuda yakni Lan Guan Zhi, Jing Mi, dan Hou Yong sebagai lawan bertarung mereka. Bila dapat membunuh salah satu dari ketiganya, maka pihak penantang akan menjadi 'Wali Pelindung' yang baru.
Selama tinggal di Sekte Pagoda Langit, Lan Guan Zhi dan teman-temannya sudah mendapat lebih dari 13 tantangan. Yang paling banyak ditantang adalah Hou Yong, meski demikian dirinya sampai saat ini masih bisa mempertahankan nyawa.
TRAANG!
Bilah pedang Lan Guan Zhi kembali berbenturan dengan senjata milik lawan. Di pertarungan ini, dirinya tidak diizinkan memakai Qi.
Tentu saja hal ini menyulitkannya, tetapi Lan Guan Zhi dapat menjadikan cara tersebut sebagai bentuk dari latihan. Setidaknya dia tidak hanya mengandalkan Qi untuk bertarung.
BAAAM!
Cara Lan Guan Zhi menghindari hantaman lawan begitu anggun. Sudah lebih dari dua puluh menit dirinya bertarung, tetapi satu koyakan pun tidak nampak pada pakaiannya yang berwarna putih.
Sementara itu, lawannya sudah penuh dengan luka. Tubuhnya yang besar ternyata belum bisa menumbangkan ataupun menggores Lan Guan Zhi. Dia seperti telah salah memilih lawan.
"Tuan Muda Lan benar-benar hebat,"
"Setiap teknik berpedangnya tanpa celah, aku bersyukur karena dia ada bersama kita,"
Jing Mi dan Hou Yong begitu terpukau melihat cara Lan Guan Zhi bertarung. Keduanya seakan mendapat pelajaran tentang teknik berpedang bila menyaksikan pertarungan pemuda berpita dahi itu.
Nyawn!
Lan Xiao yang menjadi seukuran anak kucing dan berada digendongan Hou Yong juga nampak berseru. Dia merasa bangga memiliki induk seperti Lan Guan Zhi.
TRANG!
TRANG!
Setelah beberapa kali bertukar serangan dan mampu membuat lawan terpojok, akhirnya Lan Guan Zhi menggunakan serangan terakhir yang hampir menusuk leher lawannya andai dia tidak menghentikan hunusan pedangnya.
__ADS_1
!!
Pemuda dengan senjata kapak tersebut sedikit meringis saat ujung pedang Lan Guan Zhi menyentuh kulit lehernya. Darah segar mengalir dari titik di mana pedang lawannya sedikit tertancap.
"A-aku menyerah,"
Lan Guan Zhi segera menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali. Dengan wajah yang masih tenang, dirinya memberi hormat dan kemudian melangkah pergi.
Dia sebenarnya tidak benar-benar ingin menancapkan pedangnya ke leher lawan meski hanya sedikit, namun isi kepalanya sedang dipenuhi banyak pikiran.
Sudah lebih dari lima bulan dirinya belum membalas pesan dari temannya, dia juga tidak mendapat kabar tentang keadaan Benua Timur dari GrandElder Sekte Kupu-Kupu, dan yang terburuk--temannya sampai sekarang belum juga datang.
Ling Lang Tian yang duduk di samping ayahnya dapat mengetahui ada yang sedang dipikirkan oleh Lan Guan Zhi, meski wajah pemuda berpakaian putih itu tetap saja datar.
Dia juga merasakan hal tersebut, bahkan lebih dari itu. Bisa dibilang, Ling Lang Tian merasa gelisah. Semakin hari, sektenya kedatangan cukup banyak penantang.
Tidak ada dari pemuda manapun yang tidak tertarik mempersunting adiknya. Tradisi keluarganya dapat menjadi bencana bila Xiao Shuxiang tidak juga datang kemari. Entah di mana bocah menyebalkan itu sekarang.
Selain Ling Lang Tian, Jing Mi dan Hou Yong juga bisa menyadari ada perubahan pada tatapan mata Lan Guan Zhi. Menurut mereka, kultivator muda itu sedang merindukan seseorang.
"Tapi apa mungkin..?"
"Entahlah, Saudara Jing. Sepertinya ini hanya perasaan kita saja.."
Jing Mi dan Hou Yong sudah melewati banyak hari bersama Lan Guan Zhi selama ini, jadi wajar bila mereka mulai sedikit membaca setiap gerak-gerik pemuda tampan itu, walau keduanya masih sering meragukan diri sendiri.
"Nona Ling, bagaimana menurutmu?"
".. Kemungkinan dia rindu rumahnya,"
"Aah~ kupikir dia merindukan Saudara Xiao,"
Ling Qing Zhu memberi tatapan yang sulit diartikan pada Hou Yong. Dia akan terkejut bila apa yang dikatakan pemuda di sampingnya ini benar.
"Nona Ling, apa kau tidak rindu Saudara Xiao?"
Kali ini Jing Mi yang menanyai dirinya. Ling Qing Zhu terdiam cukup lama sebelum menjawab bahwa dirinya tidak begitu rindu. Ini dikarenakan pemuda yang mirip malaikat kegelapan itu hanya memberinya sedikit kesan.
Dibicarakan seperti ini, membuat Xiao Shuxiang yang berada di Benua Utara merasakan salju semakin dingin. Sebanyak tiga kali dirinya bersin dan mengigil kedinginan secara tiba-tiba, padahal sebelumnya dia baik-baik saja.
"Brr.. Sepertinya sudah mulai ada orang yang berani mengutukku,"
Xiao Shuxiang mengusap-usap lengan kirinya. Dia tidak bisa menunjukkan bulu halus di lengan kirinya pada Hu Li karena tertutup sarung tangan, tetapi dirinya bisa merasakan bulu-bulu di lengannya berdiri.
"Tuan Muda, itu karena Anda tidak terbiasa dengan cuaca sedingin ini. Jadi jangan menyalahkan orang lain,"
Pii..!
Xiao Shuxiang mengusap gemas kepala O Zhan dan mencubit pipi Hu Li. Kedua makhluk ini sepanjang waktu tidak pernah satu pemahaman dengan dirinya.
Saat ini, Xiao Shuxiang dan kedua temannya sedang berada di depan gerbang Kota Walet Ungu. Sebuah tempat di mana istana milik Kaisar Yang berada.
__ADS_1
Ada tiga penjaga di depan mereka, Xiao Shuxiang dan Hu Li dicegat dengan sopan. Kedua penjaga itu rupanya menjelaskan bahwa setiap kultivator yang akan memasuki Kota Walet Ungu harus diberi segel terlebih dahulu.
".. Maaf Tuan, tetapi kota ini hanya diisi oleh orang-orang biasa. Jadi demi keamanan mereka, kami harus merepotkan Anda,"
"Tidak masalah. Lakukan apa yang menurut kalian baik,"
Dua penjaga yang dilihat Xiao Shuxiang memakai seragam berwarna putih dengan lambang burung walet, mereka hanyalah kesatria dan tidak berkultivasi. Sementara satu orang lagi merupakan kultivator dan berada di praktik yang sama dengan Xiao Shuxiang.
Kultivator berpakaian putih dengan mantel bulu berwarna merah muda tersebut mulai mendekat. Dia sebelumnya memberi hormat dan kemudian meletakkan segel di kening Xiao Shuxiang, Hu Li, dan O Zhan.
Sebuah tanda yang menyerupai bunga wisteria kecil terbentuk di kening Xiao Shuxiang dan kedua temannya. Mereka akhirnya diperbolehkan untuk melewati gerbang.
Kota Walet Ungu jauh lebih rapi dibandingkan dengan kota yang Xiao Shuxiang dan Hu Li pernah singgahi. Banyak pohon wisteria ungu di kota ini, dan terdapat burung walet salju yang terbang memutari pohon tersebut.
Xiao Shuxiang mengeluarkan buku yang berisi peta Benua Utara dari dalam Gelang Semesta miliknya. Tindakan ini membuat Hu Li tersentak. Pasalnya, segel yang diberikan dapat membuat mereka tidak bisa memakai Qi, namun nyatanya Tuan Muda Xiao-nya masih mampu.
Segel di kening Xiao Shuxiang entah sejak kapan menghilang. Ketika Hu Li menanyakannya, Tuannya menjawab bahwa Segel Pengekang Jiwa mampu menyerap segel lainnya.
".. Segel ini juga telah diserapnya hingga menipis. Dan aku hanya mengeluarkan sedikit tenaga untuk membuatnya lebih melonggar,"
Xiao Shuxiang lalu melonggarkan segel pada Hu Li dan O Zhan. Dia bisa saja melepaskannya, tetapi mereka masih butuh segel tersebut nantinya.
Kota Walet Ungu memiliki jalanan yang bersih dari tumpukan salju. Banyak kereta yang ditarik dengan kuda berada di pinggir jalan, seakan mereka sedang menunggu penumpang.
Hu Li meminta Xiao Shuxiang menunggu sebentar, dirinya akan menyewa sebuah kereta kuda untuk mereka gunakan ke istana Kaisar Yang.
Tidak butuh waktu lama, Hu Li datang dengan sebuah kereta yang ditarik oleh sepasang kuda. Xiao Shuxiang sebenarnya masih ingin menaiki kereta yang mirip ular, tetapi kereta itu ada di jalur berbeda dengan lokasi istana Kaisar Yang.
Suara roda yang ditarik kedua ekor kuda menemani perjalanan Xiao Shuxiang dan Hu Li. Mereka bisa saja melesat cepat, namun mentaati peraturan di tempat asing adalah merupakan etika yang tertulis di gulungan pemberian Lan Guan Zhi.
Butuh waktu kurang lebih lima jam sampai mereka tiba di jarak 30 meter dari gerbang utama istana. Ada empat prajurit yang berjaga saat Xiao Shuxiang dan Hu Li turun dari kereta, keduanya kemudian memilih pergi ke dinding samping istana.
Xiao Shuxiang dan Hu Li yang baru saja memanjat tembok yang tingginya sekitar delapan meter mendadak dikejutkan dengan suara lolongan anjing.
!!
"Siapa Di Sana?!"
"Ada Penyusup!!"
!!
Xiao Shuxiang dan Hu Li bisa melihat beberapa prajurit mulai berlari sambil membawa berbagai senjata. Keduanya mematung beberapa saat sebelum tersadar.
Cara duduk Xiao Shuxiang dan Hu Li tidak terlalu seimbang karena dinding istana terasa licin, apalagi konsentrasi keduanya diganggu oleh tiga anjing yang melolong keras.
"Tuan Muda, apa yang harus kita lakukan?!"
"Bunuh mereka,"
!!
__ADS_1
***