
Yang mengerti maksud dari ucapan Xiao Shuxiang tentang pepatah anehnya itu.. kemungkinan hanya Jing Mi, Siu Yixin, Hu Li, dan Mo Huai.
Mereka berempat tahu tentang kehidupan pertama temannya. Dan sampai sekarang, mereka tidak pernah mengatakannya pada siapa pun.
Sementara untuk Yi Wen, Hou Yong dan Xiao Lu, ketiganya mengartikan ucapan Xiao Shuxiang dengan hal lain. Pemuda berambut panjang ini pernah hampir kehilangan nyawa saat melawan Wyvern dahulu, jadi kemungkinan maksud ucapan Xiao Shuxiang adalah karena itu.
Nie Shang sendiri malah beranggapan bahwa 'maut' yang dikatakan Saudara Xiao-nya adalah saat temannya ini lolos dari hukuman mati Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit, kala mereka masih belajar di sekte tersebut.
Dan karenanyalah, Xiao Shuxiang mendapat keberuntungan belajar menjadi Alkemis.
".. Benar, sudah pasti begitu," Nie Shang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tidak perlu menanyakan tentang Xiao Qing Yan, dia sama sekali tidak mengerti ke arah mana pembicaraan para anak muda ini. Dirinya dan O Zhan hanya fokus makan dan kemudian berhenti saat dirasa kenyang.
Yang bertanya selanjutnya adalah Jing Mi, dia sangat ingin tahu bagaimana Saudara Xiao-nya dapat bertemu dengan Xiao Qing Yan dan menjadikannya teman sepetualangan.
Mendengar pertanyaan dari saudaranya, membuat Xiao Shuxiang menahan napas. Dia lalu melirik Hu Li namun temannya itu malah memandang ke arah lain. "Tuan Muda Xiao, maafkan saya. Mereka bertanya pada Anda.."
"Saudara Xiao, bagaimana? Kau pasti punya pengalaman yang berkesan, coba ceritakan pada kami..!" Jing Mi mendesak, Hou Yong dan Nie Shang juga ikut-ikutan.
"Pengalaman yang paling berkesan..?"
Adalah aib bagi Xiao Shuxiang jika menceritakan bagaimana dirinya menyamar menjadi perempuan pada teman-temannya, dan tidak mungkin dia mengatakan bahwa dirinya pernah diberi makan daging manusia oleh sekelompok perompak, bisa-bisa dia membuat takut teman-temannya.
Jing Mi, "Saudaraku, kenapa kau diam? Ayolah ceritakan pada kami, aku ingin tahu seperti apa Benua Utara itu.."
"Aku juga, apa kau mengunjungi istana kaisar? Bagaimana kondisi di sana?" Xiao Lu menjadi bersemangat, Kaisar Benua Utara merupakan ayah dari kakeknya, dia sangat yakin adiknya mengunjungi keluarga mereka.
"Hmm.. Hal yang bisa kukatakan adalah.. Benua Utara sangat dingin, setiap hari selalu turun salju, tidak seperti di Benua Timur. Bahkan tempat aku menemukan anak ini.. Berada di sebuah wilayah berselimut es. Dan yang terburuk, warga di sana bangun jam tiga pagi,"
Xiao Lu mendengus, bangun di jam segitu adalah hal biasa, Xiao Shuxiang saja yang selalu lambat bangun. ".. Kau tidur dalam tiga detik, tapi sangat sulit dibangunkan. Kau bahkan sering lupa bernapas dan jantungmu itu seperti mati saat kau tertidur, apa kau benar-benar manusia?"
"Gadis Cerewet, kapan aku pernah lupa bernapas? Dan jantungku hanya berdetak dua menit sekali, itu yang paling lama. Dan yang tercepat.. terjadi saat aku berada di dekat Kucing Putih,"
Xiao Shuxiang tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ling Qing Zhu, tingkahnya membuat teman-temannya terkejut, Hou Yong bahkan tersedak makanannya sendiri.
Jiu Sheng terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Xiao Shuxiang. Pemuda berambut panjang itu baru saja menggoda Ling Qing Zhu dengan cara tak biasa, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Dirinya lalu memperhatikan dengan teliti raut wajah Ling Qing Zhu. Gadis itu tetap tenang, namun bila diperhatikan dengan seksama.. Bulu matanya nampak sedikit bergetar.
Sedetik kemudian, Ling Qing Zhu menatap Xiao Shuxiang dan lalu mendengus singkat, ".. Memalukan,"
"Saudara Xiao, untuk apa kau menggoda Nona Ling? Kau membuat turun harga dirimu, setidaknya kau goda saja aku.. Nona Ling itu tidak suka dengan pemuda tidak tahu malu seperti dirimu, tetapi aku.. Saaangaat menyukaimu.."
Yi Wen kembali meminum tehnya, ini sudah merupakan gelasnya yang kelima. Dia bertingkah seperti orang yang baru saja minum arak, bahkan Siu Yixin dan Mo Huai berusaha menyadarkannya.
?!
"Nona Wen, apa Anda benar-benar mabuk?" Mo Huai menepuk-nepuk pelan pundak Yi Wen ketika gadis itu tertidur dengan meja sebagai bantalnya.
Siu Yixin mencium aroma teh di gelas bambu Yi Wen dan meminumnya sedikit, dia sama sekali tidak merasakan ada aroma arak di teh ini, begitu pun dengan rasanya.
"♪♩ Apa mungkin terlalu banyak minum teh, Nona Yi Wen bisa mabuk, yo! Ini kasus pertama, yang terasa aneh bagiku yo! ♩♬"
"Saudara Xiao.. Kau jangan.. Pernah menikah.. Dengan Nona Ling.." Yi Wen bergumam sambil sesekali cegukan, pipi dan hidungnya nampak merah, dia benar-benar seperti orang yang sedang mabuk berat.
"Tsk tsk tsk, sekarang aku tahu efek terlalu banyak minum teh adalah mabuk. Gadis Cerewet, kau bawa Yi Wen untuk beristirahat," Xiao Shuxiang kembali menyantap makanannya yang tadi sempat tertunda.
__ADS_1
"Sudah, biarkan saja dia di sini sebentar. Kau belum menceritakan kunjunganmu di istana kaisar, ayo katakan.."
Xiao Shuxiang menghembuskan napas pelan kemudian menjelaskan seperlunya, dia mengatakan kaisar Benua Utara adalah orang yang baik dan istananya juga sangat luas, sayangnya dia dan Hu Li tidak sempat berkeliling serta mengenal lebih banyak anggota keluarga kaisar.
".. Kemudian kami pergi ke wilayah Kekaisaran Es Abadi, menyelamatkan Kucing Hitam, lalu pergi ke pelabuhan, mengarungi laut, dan sampailah kami di sini.."
"Ceritamu tidak ada seru-serunya sama sekali, apa kau tidak bertemu dengan perompak? Berkelahi? Mana mungkin perjalananmu begitu lancar tanpa hambatan, apa Benua Utara se-aman itu? Bagaimana dengan penjahatnya? Kultivator Aliran Hitam, kau tidak bertemu mereka?"
...
Xiao Lu menghembuskan napas kecewa saat melihat ekspresi wajah adiknya yang seperti berkata, 'Entahlah.. Kau pikirkan saja sendiri..'
Alasan Xiao Shuxiang menjelaskan begitu singkat adalah karena dirinya tahu terlalu banyak orang yang menjadi pendengar.
Dia tidak ingin kelepasan memberitahu tentang misinya yang harus menyegel Sembilan Gerbang Dunia pada orang-orang yang kemungkinan akan memberinya masalah.
Setelah selesai makan, Xiao Lu mulai membantu Yi Wen berdiri dan mengajaknya pergi.
Ling Qing Zhu yang merasa akan menjadi satu-satunya gadis di meja makan ini--juga ikut bangun dan membantu Xiao Lu untuk membawa Yi Wen ke kamar, melihatnya membuat Xiao Shuxiang sedikit tersentak.
"Kucing Putih, aku belum selesai makan. Siapa yang akan membayar ini semua? Kucing Putih, aku baru menggodamu sekali, hei..!"
Ling Qing Zhu menoleh dan dengan wajah serta tatapan menenangkannya, dia mulai berkata pada Xiao Shuxiang:
"Kau yang bayar,"
?!
"Tapi, aku belum banyak menggodamu, bagaimana jika aku tersesat saat mencari kamarku?"
!
Ucapan Ling Qing Zhu padat, jelas dan sama sekali tidak peduli jika Xiao Shuxiang nanti benar-benar tersesat. Padahal bukankah harusnya dia menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Wali Pelindungnya?
Xiao Shuxiang menghembuskan napas panjang saat melihat Ling Qing Zhu, Xiao Lu, dan Yi Wen sudah berjalan keluar dan meninggalkannya.
".. Gadis itu menyebalkan. Terkadang aku ingin mencubit keras pipinya sampai dia menangis, wajah papan datarnya itu bahkan lebih buruk dari Lan Zhi,"
"Tenanglah Saudara Xiao, Nona Ling dibesarkan oleh keluarga yang penuh banyak aturan, mirip dengan Tuan Muda Lan. Dia juga jarang bergaul, karena itulah dia tidak bisa bersikap seperti kebanyakan gadis,"
Jing Mi mengangguk setuju dengan pendapat Hou Yong, dia sudah cukup lama tinggal di Sekte Pagoda Langit dan memang semua orang yang bermarga 'Ling', memiliki ekspresi wajah papan datar.
".. Sangat sulit membedakan apakah mereka itu bahagia atau sedih jika hanya dilihat dari ekspresi wajahnya saja. Mereka adalah manusia paling kaku di bumi ini,"
"Aku juga setuju denganmu, Saudara Jing. Tidak hanya di dalam Sekte Pagoda Langit, bahkan setiap orang yang bermarga 'Ling' di Kota Bintang Biduk pasti memiliki ekspresi wajah yang datar. Beberapa kali aku harus berhati-hati jika berbicara dengan mereka,"
Nie Shang mengipas pelan wajahnya, dia kemudian membicarakan tentang pesta minum arak untuk sesama pria malam ini, ".. Siu Yixin yang akan menentukan tempatnya. Saudara Xiao, kau juga ajak Tuan Muda Lan dan Tuan Muda Ling, bagaimana?"
"Aku sebenarnya tidak begitu yakin ceritamu, Saudaraku. Benua Utara tidak mungkin se-aman itu. Kau pasti menyembunyikan sesuatu, hanya kau tidak mau mengatakannya pada mereka. Jadi ikutlah dengan kami dan kita lakukan obrolan sesama pria, ayolah Saudara Xiao.."
Jing Mi terus membujuk Xiao Shuxiang. Saudaranya itu dengan senang hati akan ikut, bahkan tanpa perlu bujukan. Lagipula Siu Yixin pernah berjanji akan membawanya ke kedai arak terbaik di Kota Bintang Biduk.
".. Tetapi kalau untuk mengajak Lan Guan Zhi dan Ling Lang Tian.. Aku akan mengusahakannya,"
Rencana Xiao Shuxiang dengan teman-temannya ini didengar jelas oleh Hei An dan Jiu Sheng, beberapa pendekar juga mendengarnya, namun meski Xiao Shuxiang tahu.. Dirinya tidak peduli.
Gong Zitao, murid luar Sekte Pagoda Langit sekaligus orang yang dikalahkan Xiao Shuxiang juga nampak di salah satu meja.
__ADS_1
Dia sejak tadi sudah menargetkan Xiao Shuxiang. Dirinya tidak akan pernah bisa tenang sebelum membalas lunas kekalahannya.
".. Apa pun yang terjadi.. Dia harus mati,"
"Tuan Muda, jangan perlihatkan emosimu. Tundukkan sedikit pandanganmu, kita tidak boleh terlalu mencolok,"
Pemuda yang bersama Gong Zitao bernama Ge Yu Han, dia juga adalah murid luar Sekte Pagoda Langit dan merupakan pengikut setia keluarga Gong, dirinya ada di tempat ini adalah karena mengikuti Gong Zitao.
Keduanya saling menatap dan kemudian mengangguk saat mengetahui bahwa Xiao Shuxiang akan keluar dari Sekte Pagoda Langit pada pukul sembilan malam.
Mereka masih tidak beranjak saat pemuda berpakaian hitam tersebut mulai bangun dari tempat duduknya dan melangkah pergi bersama teman-temannya.
Di luar Balai Peristirahatan, pandangan semua orang tetap mengarah pada Xiao Shuxiang, namun tidak satu pun di antara mereka yang berani mendekat.
Siu Yixin, Nie Shang, dan Mo Huai berpamitan. Mereka sepakat akan bertemu kembali di luar gerbang Sekte Pagoda Langit.
Setelah ketiga teman mereka pergi, Hu Li mulai mengajak Tuannya kembali ke kamar.
Tidak sulit menemukan tempat itu, sebab dia mengenali aroma kamar Tuan Muda Xiao-nya. Keberadaan Hu Li benar-benar sudah memudahkan Xiao Shuxiang.
**
Kamar Xiao Shuxiang sebenarnya berdekatan dengan milik Hu Li, O Zhan, dan Xiao Qing Yan. Karena itulah bahkan di malam hari seperti ini, mereka masih dapat berkumpul bersama.
Di dalam ruangan yang begitu besar dengan nuansa hijau muda, Xiao Shuxiang nampak menggambar Peta Benua Tengah di salah satu buku tanaman herbalnya.
Daya ingat Xiao Shuxiang memang luar biasa, dia dapat menggambar setiap detail tempat di Benua Tengah setelah melihat peta aslinya beberapa hari yang lalu.
Hu Li memperhatikan bagaimana Tuan Mudanya begitu serius menyalin peta dari dalam ingatannya ke atas kertas, ".. Anda memiliki ingatan yang kuat, bukankah harusnya ini tidak perlu, Tuan Muda?"
"Hu Li, aku tidak pernah meragukan ingatanku, tetapi melakukan ini juga bukan ide yang buruk. Kau jangan mengajakku bicara dulu.. Nanti aku malah salah gambar,"
Hu Li dan Xiao Qing Yan memperhatikan dengan seksama bagaimana setiap goresan tinta mulai membentuk wilayah dan jalanan tempat di Benua Tengah.
Butuh waktu lebih dari dua jam bagi Xiao Shuxiang untuk menyelesaikan gambarnya, dan saat selesai.. Xiao Qing Yan sudah tertidur.
Hu Li melihat anak berusia sepuluh tahun tersebut berbaring di sampingnya sambil memeluk O Zhan, dia lalu menoleh ke arah Tuannya dan bertanya dengan suara pelan mengenai Tuan Mudanya yang akan pergi keluar.
"Mn, aku memang mau keluar malam ini. Nie Shang dan yang lainnya pasti sudah menunggu sekarang,"
"Tuan Muda, Anda tidak boleh terlalu banyak minum dan tetaplah berhati-hati. Saya tidak bisa ikut, saya harus menjaga mereka,"
"Baiklah, kau juga harus tetap berhati-hati," Xiao Shuxiang sebenarnya memang punya rencana untuk tidak mengikut-sertakan Hu Li dan Xiao Qing Yan.
Xiao Shuxiang lalu memasukkan buku tanaman herbalnya ke dalam Gelang Semesta dan mulai bangun dari tempatnya duduk.
Dia mengatakan agar Hu Li tinggal di kamarnya untuk malam ini sambil menjaga Xiao Qing Yan, sementara dirinya akan pergi menemui Lan Guan Zhi dan Ling Lang Tian.
Xiao Shuxiang keluar lewat jendela kamarnya, kedua kakinya mendarat dengan sempurna di atas rerumputan.
Tempat ini merupakan halaman belakang dari kediaman para tamu, bila dilihat dari atas.. Halaman belakang ini berbentuk persegi empat, dengan enam buah pohon mangga dan satu pohon wisteria ungu.
Jarak antara kamar Xiao Shuxiang dengan kamar milik Lan Guan Zhi lumayan jauh, jendela kamar temannya tersebut berada di balik pohon wisteria.
Xiao Shuxiang lebih memilih masuk ke dalam kamar temannya lewat jendela, namun sepertinya itu keputusan yang salah.
***
__ADS_1