
".. Haiih.." Xiao Shuxiang menggeleng pelan kala mendengar cerita salah seorang kultivator dari Aliran Hitam,
".. Kalau kau ingin membunuh lawan, maka jangan lakukan setengah-setengah. Kesalahan terbesar saat menghadapi lawan yang tingkat praktiknya di bawahmu adalah.. Kau terlalu meremehkannya,"
Xiao Shuxiang mengatakan selama ini ada banyak kultivator maupun pendekar kuat yang pernah dia temui malah tewas begitu mudah karena meremehkan lawan.
".. Kesombongan memang perlu, tapi jangan sampai kesombongan tersebut menjadi penyebab dari kematian kalian,"
Para pendekar yang mendengar ucapan Xiao Shuxiang mengangguk mengerti. Salah satu di antara mereka mengatakan dirinya pernah nyaris mati karena bertarung dengan memakai setengah tenaga.
".. Tapi itu kulakukan untuk bermain-main dengan lawan. Kau tahu Saudaraku.. Rasanya menyenangkan melihat ekspresi wajah lawan yang begitu putus asa,"
Pendekar berpakaian cokelat kehitaman dengan bekas luka parut di pipi kirinya tersebut nampak tersenyum senang, dia lalu memakan pil hijau buatan Xiao Shuxiang yang memiliki rasa asam-asam manis.
"Kalian yang berasal dari Partai Pedang Tengkorak memang begitu menjijikkan. Mempermainkan manusia seolah mereka adalah binatang, cih.. Benar-benar merusak moral saja,"
Seorang pendekar dari Aliran Putih berujar dengan sinis, dia sejujurnya tidak pernah seberani ini sebelumnya. Namun entah kenapa nuansa yang dirasakannya seakan-akan dirinya bersama dengan teman-teman akrabnya.
"Mn? Partai Pedang Tengkorak.." Xiao Shuxiang menoleh ke arah pemuda yang duduk bersila di sampingnya. Dia pikir seluruh pendekar partai tersebut adalah musuhnya, tidak disangka dirinya malah mengobrol akrab seperti ini.
"Tenanglah, kau jangan kesal. Memang seperti itulah hidup di lingkungan Aliran Hitam. Jujur saja, aku juga punya penyakit yang sangat sulit disembuhkan. Apalagi ketika membunuh lawan dengan memakai tangan kosong, rasanya benar-benar luar biasa.."
Xiao Shuxiang menceritakan bagaimana indahnya suara jeritan pilu lawan, tulang yang dipatahkan dan organ dalam yang diledakkan.. Semua itu adalah rasa paling menyenangkan yang pernah dia alami.
".. Bagi kami dari Aliran Hitam, membunuh lawan dengan cara menebas leher merupakan hal biasa, dan jelas membosankan. Tapi semenjak aku hidup di lingkungan Aliran Putih dan Netral.. Aku tidak banyak melakukan pembunuhan lagi,"
Sebenarnya, banyak pendekar yang tersentak dengan ucapan Xiao Shuxiang barusan. Namun mereka masih mendengarkan saat pemuda berpakaian hitam dengan wajah mempesona tersebut menceritakan bahwa lingkungan Aliran Hitam jauh lebih keras bila dibandingkan dengan lingkungan Aliran Putih maupun Netral.
".. Tidak ada anak di wilayah Aliran Hitam yang merasakan kasih sayang kedua orang tua. Kami diajari untuk tidak mempunyai rasa belas kasih, dituntut agar bisa hidup sendiri, tidak bergantung pada orang lain, tidak percaya pada siapa pun, memegang prinsip 'Yang kuat akan hidup dan yang lemah akan mati'.." Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan dan kemudian menggelengkan kepala.
Pendekar dan Kultivator dari Aliran Hitam yang mendengarnya nampak mengangguk membenarkan. Prinsip tersebut memang akrab di telinga mereka.
".. Aku setuju dengan pendapatmu Saudaraku. Aku bahkan disuruh membunuh anjing kesayanganku. Itu adalah pembunuhan pertama sekaligus paling menyulitkan yang pernah kualami,"
"Tidak hanya dirimu. Ayah dan ibuku bahkan menyuruh agar aku membunuh mereka. Ini dilakukan supaya aku tidak memiliki kelemahan apa pun, rasanya benar-benar sangat menyakitkan,"
Tidak ada dari pendekar maupun kultivator Aliran Putih dan Netral yang bicara. Mereka tidak menyangka kehidupan di wilayah Aliran Hitam sekejam itu. Beberapa di antara mereka memperlihatkan raut wajah dan tatapan mata penuh rasa kasihan.
Xiao Shuxiang malah tersenyum kala mendengar cerita para pendekar dan kultivator Aliran Hitam yang bersamanya ini. "Pembunuh pertama yang menyulitkan dan sangat menyakitkan hati adalah perasaan yang sebenarnya ingin sekali kurasakan. Kalian bisa melakukannya adalah bukti bahwa kalian masih memiliki hati,"
Ucapan Xiao Shuxiang membuatnya ditatap oleh teman-teman barunya ini. Terlihat wajah mereka mengandung pertanyaan yang tidak dapat dilontarkan.
".. Aku sudah banyak melakukan pembunuhan, tapi tidak pernah merasakan apa-apa selain rasa yang menyenangkan, seolah bebanku terangkat."
Senyuman Xiao Shuxiang yang begitu normal malah membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas sejenak. Sejujurnya, mengambil nyawa orang lain adalah beban, namun mendengar ada orang yang malah merasakan sebaliknya jelas bukanlah hal baik.
Obrolan mereka kembali berlanjut, kali ini malah membahas tentang hubungan buruk Aliran Hitam dan Putih yang sudah berlansung berabad-abad lamanya.
Xiao Shuxiang sebagai orang yang usianya lebih tua dari para pendekar dan kultivator ini mengeluarkan pendapat bahwa pertengkaran kedua aliran tersebut diakibatkan oleh perbedaan pandangan, tetapi pada dasarnya.. Mereka hanya menginginkan kedamaian.
".. Kita semua sebenarnya ingin menjadi kuat, namun tetap dengan alasan berbeda-beda. Ada yang ingin kuat untuk bisa melindungi orang-orang terdekatnya, membalaskan dendam, dan agar tidak dilukai lagi.."
Selama hidupnya, Xiao Shuxiang banyak belajar bahwa tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Sekelam apa pun hatinya.. Seorang manusia bisa melakukan kebaikan, termasuk kebaikan terkecil sekali pun.
".. Dan jika ada yang benar-benar jahat, dia bukanlah manusia."
Xiao Shuxiang terdiam sejenak sambil memikirkan ucapannya barusan, apa dia baru saja membicarakan diri sendiri? Dirinya merasa tidak pernah berbuat kebaikan kecuali didesak teman-temannya.
Tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, dirinya lalu menanyakan tujuan hidup setiap pendekar selain menjadi kuat. Apakah mereka ingin menguasai benua ini dan membuat manusia lain menjadi budak? Atau membantai semua manusia dan hidup damai sendirian?
Pertanyaan itu jauh lebih menusuk bagi para pendekar yang berada di Aliran Hitam. Selama ini mereka tidak terlalu memikirkannya, bahkan mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu membenci para pendekar yang berasal dari Aliran Putih dan Netral.
".. Ini mungkin karena selama kami menjalankan misi, mereka selalu saja menjadi penghalang. Jadi karena itulah kami membenci mereka,"
"Misi kalian adalah merampok, membunuh dan menghancurkan desa. Bagaimana mungkin kami tidak menghentikan kalian,"
Para pendekar Aliran Putih dan Aliran Hitam malah beradu mulut. Mereka saling menyalahkan satu sama lain dan inilah alasan terbesar mereka bisa sampai bermusuhan.
"Kalian harus dengarkan aku Kawan. Hati manusia sangat sulit ditebak. Banyak pendekar dari Aliran Putih yang sebenarnya sangat suka mencari gara-gara dengan pendekar Aliran Hitam, dan begitu pula sebaliknya.
Sekarang aku ingin bertanya, apa kalian begitu membenci pendekar Aliran Putih hanya karena sering mengganggu misi kalian? Apa kalian tidak pernah memikirkan mengapa mereka menjadi pengganggu?"
__ADS_1
Para pendekar dari Aliran Hitam memikirkan pertanyaan Xiao Shuxiang dalam-dalam. Mereka sejujurnya tidak terlalu membenci para pendekar dari Aliran Putih, semua ini mereka lakukan hanya demi misi.
".. Sebenarnya, kami jadi ikut membenci mereka yang berasal dari Aliran Putih karena Tetua yang meminta kami, dan itu pun tidak kami ketahui penyebabnya apa,"
Xiao Shuxiang menjentikkan jarinya, "Itu dia. Kalian saling memusuhi karena perintah Tetua kalian. Tapi apa kalian tetap akan terus saling bermusuhan? Bahkan di masa depan?"
Salah seorang pendekar berkepala plontos dengan pakaian berwarna jingga bercampur hitam mengangkat tangannya. Dia membuat perhatian Xiao Shuxiang dan yang lainnya mengarah padanya.
"Aku bernama Pandu, dari Partai Serambi Angin. Menurut ajaran di partaiku.. Semua pendekar adalah sama. Kita menginginkan perdamaian di atas kekuatan. Jika manusia bisa saling memahami dan bersama-sama menjadi yang terkuat, maka perdamaian bisa saja tercipta.."
"Ajaran di Partaimu terlalu baik, sayangnya tidak banyak manusia yang akan berpikir demikian.." Xiao Shuxiang tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia berkata bahwa pada dasarnya manusia tidak ingin disaingi.
".. Mereka ingin lebih unggul dari yang lain. Jika sama-sama menjadi kuat, lantas siapa yang akan menghormati mereka?"
!?
"Kalau seperti itu.. Maka kedamaian benar-benar tidak akan tercipta," Pandu tertunduk dan berikutnya menghembuskan napas berat, pendekar yang lain juga nampak melakukannya.
"Sebenarnya ada yang bisa kalian lakukan," ucapan Xiao Shuxiang membuat para pendekar menatapnya dalam.
"Apa itu Saudaraku?"
Xiao Shuxiang memegang tangan pendekar dari Partai Pedang Tengkorak dan kemudian memegang tangan kultivator wanita dari Aliran Putih. Dia lalu mengedarkan pandangannya pada teman-teman barunya ini, sebelum kembali bersuara.
".. Yang menjadi pemilik masa depan bukanlah Para Tetua, tapi Kalian. Jadi entah akan seperti apa masa depan nantinya, semua tergantung dengan tindakan kalian yang sekarang,"
Pembicaraan Xiao Shuxiang dan para pendekar berlangsung hingga matahari terbit kembali. Mereka sebenarnya saling menceritakan banyak hal, meski kadang berdebat ringan.
Xiao Shuxiang bisa berbincang-bincang dengan akrab karena sebagian pendekar tahu berbicara memakai bahasa penduduk Benua Timur.
Sebagian pendekar juga tidak terlalu kesulitan mengajukan pertanyaan karena rekan mereka ada yang membantu sebagai penerjemah bahasa.
Xiao Shuxiang dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan, kali ini mereka diantar oleh orang kepercayaan Wali Kota.
Sama seperti sebelumnya, Xiao Shuxiang menunggangi kuda bersama Bocah Pengemis Gila, sementara Xiao Lu membawa Yi Wen.
Xiao Qing Yan dan Ling Qing Zhu menunggangi kuda sendiri-sendiri. Lan Guan Zhi terlihat membawa Lan Xiao bersamanya. Tujuan mereka sekarang adalah Kota Sayap Pegar, tempat di mana pelelangan besar sedang terjadi.
Xiao Shuxiang seakan tidak dilihat sebagai seorang Wali Pelindung yang Kejam, melainkan sebagai Alkemis hebat dan bersahabat.
Perjalanan dari Kota Bulan Darah menuju Kota Sayap Pegar memakan waktu seharian. Saat sampai di gerbang Kota Sayap Pegar.. Hari sudah sore. Ini merupakan hari terakhir dari pelelangan besar.
Orang kepercayaan Wali Kota Bulan Darah membawa Xiao Shuxiang dan teman-temannya ke sebuah penginapan bernama Bulu Phoenix.
Tempat tersebut hanya diperuntukkan bagi para bangsawan serta pendekar yang menjadil hubungan pemilik penginapan ini.
"Selamat Datang, Tuan dan Nona Muda..!" Xiao Shuxiang dan yang lainnya disapa begitu ramah oleh pemilik Penginapan Bulu Phoenix.
Orang kepercayaan Wali Kota Bulan Darah nampak membicarakan mengenai keadaan kotanya sekarang pada pemilik penginapan.
Sementara itu, Xiao Shuxiang dan teman-temannya diizinkan beristirahat, mereka diperlakukan layaknya tamu yang istimewa.
Wanita paruh baya dengan rambut yang sedikit putih terlihat begitu lega sebab Kota Bulan Darah bisa kembali seperti sebelumnya.
Dia sangat bersyukur karena putranya yang tinggal di kota tersebut selamat dan akhirnya dapat menjenguknya.
Setelah lama berbicara, orang kepercayaan Wali Kota Bulan Darah meminta pemilik penginapan membantu Xiao Shuxiang dan teman-temannya agar perjalanan mereka tidak menemui hambatan. Dia lalu berpamitan pergi.
*
*
Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan yang lainnya diperlakukan sangat baik. Mereka dijamu dengan makanan terbaik di penginapan ini.
"Saudara Xiao, gara-gara dirimu.. Aku jadi tidak bisa berkenalan dengan para pendekar itu. Kau juga tega sekali tidak mengenalkanku pada teman barumu,"
Yi Wen menggigit keras paha ayam miliknya, dia memperlihatkan wajah cemberut karena memikirkan kejadian di Kota Bulan Darah.
".. Kau seperti melupakan kami Saudara Xiao, kau keterlaluan.."
"Yi Wen, aku tidak pernah mencegahmu untuk tak mendekat padaku. Selama ini kau selalu menempeliku seperti lem, tapi kenapa saat kita di kediaman Wali Kota Bulan Darah kau tak melakukannya? Padahal biasanya kau tidak tahu malu,"
__ADS_1
"Saudara Xiao~ kau seperti tidak kenal aku saja~"
Xiao Shuxiang menyumpit potongan daging ayam dan kemudian memakannya. Dia berkata tidak pernah melupakan teman-temannya.
".. Selama bicara dengan para teman baruku itu.. Aku beberapa kali menoleh ke arah Lan Zhi dan kalian semua, berharap bahwa kalian ikut bergabung, tapi ternyata tidak. Sungguh disayangkan.."
Bocah Pengemis Gila mengangguk-ngangguk, dia begitu menikmati makanannya. Dirinya setuju dengan ucapan Xiao Shuxiang karena memang pemuda tersebut selalu memberi tanda agar dirinya ikut berkenalan dengan teman-teman baru Xiao Shuxiang.
Xiao Qing Yan dan Lan Xiao juga nampak menikmati makanan mereka. Keduanya hanya fokus makan tanpa peduli dengan pembicaraan orang-orang dewasa, padahal usia Xiao Qing Yan tidak semuda yang terlihat.
Hanya Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu yang berhenti setelah makan sesumpit nasi. Keduanya duduk dengan tenang sambil memperhatikan teman-teman mereka yang begitu gaduh saat makan.
Aturan di sekte mereka, bicara sambil makan merupakan sebuah bentuk pelanggaran. Hukumannya adalah berlutut selama dua hari penuh.
Di saat Xiao Shuxiang dan teman-temannya menikmati makan malam bersama--di waktu yang bersamaan itu juga pelelangan besar di Asosiasi Gagak Putih berlangsung dengan penuh ketegangan.
Para tetua dari berbagai aliran memperebutkan sebuah Pedang Pembeku Jiwa. Pusaka tersebut memiliki kemampuan dahsyat membekukan jiwa lawan hanya dengan satu ayunan saja.
Banyaknya orang yang dapat dibekukan jiwanya tergantung dari seberapa kuat ayunan pedang pemakaian. Namun yang paling rendah adalah--Pedang tersebut dapat membekukan jiwa sepuluh orang pendekar Tingkat 7 dan kultivator yang praktiknya berada di bawah Master Foundation Tahap Emas Kuning.
["25.000 Demonic Core Murni..!"]
!!
Orang yang menawar barusan merupakan Grand Elder dari Sekte Darah Roh, dia adalah pria yang nampak berusia 50 Tahun dengan wajah tegas berkumis putih tebal.
["30.000..! Kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya, Tua Bangka..!"]
!!
Yang berseru sekarang adalah wanita tua berpakaian serba merah. Tubuhnya nampak membungkuk dengan bertopang pada tongkat kayu berwarna hitam.
Dia berkata akan mendapatkan pedang pusakan tersebut meski harus menghabiskan seluruh harta di Partainya.
[Hmph, jangan pikir hanya kalian yang beradu di sini--32.000 Demonic Core Murni..!"]
Seorang wanita cantik yang nampak berusia sekitar 30 Tahun tidak tinggal diam. Wajahnya memang tertutup cadar tipis berwarna merah, senada dengan warna pakaiannya.. Tetapi dari tatapan matanya--dia jelas berasal dari Aliran Hitam.
[Nona, apa kau sedang menyinggung Ninik ini? Kau sepertinya tidak takut mati, heh?"]
["Ini pelelangan Ninik Bungkuk, kalau kau sudah mencapai batas, maka tidak perlu menawar lagi. Kau pulang saja dan jaga kesehatanmu,"]
Wanita bercadar tipis kemerahan tersebut berujar sinis. Dia membuat Ninik Bungkuk menggeram dan menghentakkan keras tongkatnya ke lantai. Dalam satu tarikan napas.. Seluruh ruangan tiba-tiba saja bergetar dan diterpa angin cukup kencang.
["Berani sekali bocah sepertimu berlaku tidak sopan padaku.."]
Begitu geramnya Ninik Bungkuk hingga matanya melotot tajam, nyaris menyembul keluar. Dia benar-benar akan menyerang andai penanggung jawab pelelangan ini tidak segera ambil alih.
Pelelangan terus berlangsung, bahkan Sri Anyar dan kelima saudaranya juga turut menyaksikan pelelangan ini. Mereka berusaha memutar otak untuk membuat Pedang Pembeku Jiwa bisa didapatkan kembali.
["35.000..!"]
["38.000..!"]
["40.000 Demonic Core Murni..!"]
Pelelangan semakin memanas, padahal ini masih hari keempat dan suasana sudah begitu tegang. Beberapa pegawai Asosiasi merasa cemas, mereka takut pelelangan ini berakhir ricuh dan ternyata itu benar.
BLAAAAR..!
Suara gemuruh petir terdengar saling bersahut-sahutan. Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang masih makan nampak tersentak. Suara yang mereka dengar bukan berasal petir yang biasa.
Dengan wajah diliputi kekhawatiran--Pemilik Penginapan Bulu Phoenix datang begitu terburu-buru.
"Tuan Muda, Nona Muda..! Anda semua harus secepatnya pergi dari tempat ini. Tolong ikuti saya segera..!"
?!
Xiao Shuxiang dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka bingung karena malah disuruh pergi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
__ADS_1