
Yang membuka pintu tidak lain adalah Hu Li. Dia sebelumnya berjalan tenang dan bermaksud melihat keadaan Tuan Mudanya. Namun saat langkahnya makin dekat dengan kamar Tuannya, Hu Li seketika mendengar teriakan pilu.
Dia yang merasa khawatir terjadi sesuatu di dalam kamar Tuannya itu segera bergegas. O Zhan dan Lan Xiao ikut berlari di belakangnya.
Saat berhasil menggeser pintu dengan kasar, Hu Li tersentak kala melihat ada banyak orang di dalam kamar Tuan Muda Xiao-nya, apalagi mereka nampak berekspresi kaget.
"Tuan Muda Xiao..?!" Hu Li berlari mendekat, dia baru memperhatikan dengan baik bahwa yang menjerit barusan adalah Yi Wen dan benar-benar terkejut menyaksikan apa yang terjadi di sini.
"Tu-Tuan Muda.."
"Kau terlihat lelah, Hu Li." Xiao Shuxiang sendiri bersikap seperti biasa walau tatapan matanya sedang penuh semangat, ".. Beristirahatlah, kau sudah banyak membantu dalam pernikahanku ini,"
"Tuan Muda Xiao, apa yang sedang Anda lakukan?! Ka-kalian semua.."
"Apa lagi yang kulakukan? Tentu saja bermain. Kau tahu kan, pengantin pria tidak dibiarkan keluar kamar. Dan mereka semua menjenguk serta menemaniku di sini. Apa kau juga ingin bergabung?"
Hu Li tersenyum pahit, dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa pada Tuan Mudanya. Apalagi saat memperhatikan Yi Wen, dia merasa seolah sudah masuk ke tempat yang tidak seharusnya.
"Hu Li~ Apa aku mengagetkanmu?" Yi Wen masih kesakitan, namun dia tetap bicara pada Hu Li dan berusaha tersenyum. Matanya berair, tetapi dia tidak membenci rasa sakit yang dirasakannya.
".. Kau jangan khawatir, Hu Li. Ini menyenangkan~" Yi Wen terengah-engah, ".. Sakit sekali..! Tapi aku suka~"
Yi Wen mulai berdiri dan berjalan pelan ke tempat Jing Mi berada. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai menggeliat sambil mengerang kesakitan.
Yi Wen tidak mengambil Pil Napas Naga. Di masih ingin merasakan denyut nyeri dari setiap jari-jari pada tangan kirinya.
Air matanya mengalir dan napasnya terputus-putus. Penglihatan Yi Wen memburam karena air matanya, tapi dia masih bisa tersenyum.
"Rasanya sakit~ sakit sekali..! Darahnya belum berhenti keluar.." Yi Wen berusaha melihat darah yang mengucur di setiap jari tangan kirinya.
".. Aku akan sulit menggunakan sebelah tanganku sekarang~ Aaah! Rasanya tidak tertahankan~" Yi Wen tertawa sebelum kembali mengerang kesakitan.
Dia seperti memiliki kesenangan sendiri terhadap rasa sakit dan jujur itu agak menakutkan. Apalagi, mata Yi Wen sekarang berkilat dan dia mulai meracau tidak jelas.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan melihat teman-temannya yang mengarahkan pandangan ke tempat Yi Wen berada.
"Kalian jangan pikirkan gadis itu. Yi Wen berada pada level di mana kalian, makhluk-makhluk baik tidak bisa membayangkannya.."
Xiao Shuxiang melihat kartu di atas meja yang sebelumnya terkena percikan darah Yi Wen. Bibirnya tertarik membentuk senyuman yang tiba-tiba meledak menjadi tawa.
!!
Tawa Xiao Shuxiang mengejutkan teman-temannya termasuk Zhi Shu yang masih setia duduk di sisinya. Xiao Shuxiang bahkan memukul-mukul meja saking senangnya.
Hou Yong dan Hai Feng merasa tidak ada yang lucu, namun entah mengapa Saudara Xiao mereka tertawa begitu lepas.
Siu Yixin dan Zhi Shu juga merasakannya. Tidak ada yang membuat lelucon di antara mereka, jadi saat melihat Xiao Shuxiang tertawa, rasanya sangat janggal sekali.
"Mo Huai, kenapa kau tersenyum?" Hai Feng menatap pemuda yang berdiri di sisi Zhi Shu. Dia membuat Mo Huai tersentak.
"Ehm.. Aku.. Tidak tahu. Hanya saja, melihat Tuan Muda Xiao tertawa lepas.. Membuatku senang."
Suara Mo Huai pelan dan lembut, dia merupakan pemuda yang memiliki tampang serta postur tubuh layaknya orang biasa pada umumnya.
Hu Li mengembuskan napas. Di antara teman-temannya, hanya dia yang kemungkinan mengetahui alasan di balik tawa Xiao Shuxiang.
Koki Alkemis itu mentertawakan Yi Wen dan menertawai mereka yang tidak mengerti. Ada rasa salut dan ejekan yang berpadu dalam tawa geli Tuannya.
Xiao Shuxiang salut pada Yi Wen karena gadis itu telah berada di kelas para penikmat rasa sakit sepertinya. Sementara Xiao Shuxiang mengejek teman-temannya yang lain sebab belum bisa menyusul tingkatan Yi Wen.
Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas. Dengan suara yang setengah berbisik, dia mengatakan pada Hou Yong bahwa Xiao Shuxiang sudah melebihi orang yang tidak waras.
".. Aku memang dikenal sebagai 'Bocah Pengemis Gila', tapi aku tidak pernah tertawa tanpa alasan seperti orang itu. Apa kau pernah melihatku tertawa sendiri atau bicara sendiri?"
Hou Yong berkedip, dia mengusap punggung pemuda yang memegang tongkat bambu itu dan lalu bicara.
"Aku tahu kegilaanmu berasal dari sifat menyimpangmu yang belum menemukan obatnya. Kau jelas tidak bisa disamakan dengan kegilaan yang ada pada Saudara Xiao-ku. Tapi kalau boleh jujur, aku dan para saudara seperguruanku menjadikan Saudara Xiao sebagai panutan. Kau tahu maksudnya, kan?"
Bocah Pengemis Gila tersenyum pahit sebelum akhirnya mengembuskan napas. Dia sudah lama hidup dan baru kali ini dirinya tahu telah satu atap dengan kumpulan anak liar yang merangkak menjadi monster.
Xiao Shuxiang mulai bisa mengendalikan diri dan nampak tersenyum senang. Dia merapikan kartu-kartu yang penuh bercak darah tersebut dan mengajak Hu Li untuk duduk bersamanya.
"Tuan Muda Xiao, sebaiknya Anda hentikan ini. Jika ada orang luar yang tahu, Anda bisa terkena masalah."
"Hu Li, tidak perlu takut. Saat ini keluarga dari Kucing Putihku sedang sibuk menghukum murid-murid mereka. Dan para pelayan pun berada di sana untuk menyaksikan hukuman massal itu. Jadi sebaiknya kau di sini bersama kami, oke?"
"Tapi Tuan Muda.."
__ADS_1
Hou Yong dan Hai Feng bangun dari kursinya. Mereka menghampiri Hu Li dan merangkul pemuda itu.
"Kau tidak boleh kemana-mana. Tetaplah di sini," Hou Yong tersenyum penuh arti. Dia dan Hai Feng mendudukkan Hu Li di antara mereka.
Siu Yixin pergi menutup pintu kamar Xiao Shuxiang dan bergabung kembali dengan teman-temannya.
"Baiklah, mari bermain lagi. Jadi sekarang siapa berikutnya? Hu Li, kau mau bermain kartu denganku?"
Hu Li menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Tuan Mudanya. Dia jelas tidak mau terlibat saat tahu permainan di depannya bukan permainan biasa. Sayangnya Hou Yong dan Hai Feng tidak membiarkannya pergi meninggalkan kamar ini.
Xiao Shuxiang tidak memaksa Hu Li. Dia pun mengajak Hou Yong bermain, namun belum sempat saudaranya itu menjawab, sebuah suara pelan nan lembut terdengar.
"Anu.. Tuan Muda Xiao. Apa aku boleh bermain kartu melawanmu?"
?!
Xiao Shuxiang dan teman-temannya menoleh menoleh. Yang barusan mengajukan diri adalah Mo Huai.
"Wah, aku tidak menduga ini. Keberanianmu patut dipuji. Ayo duduk,"
"♩♪ Yo, yo..! Apa kau benar-benar yakin, ingin melawan Xiao Shuxiang? Pikirkanlah lagi kawan, kau bisa saja kehilangan kepala yo! ♬♪"
"Saudara Mo, kau yakin?!" Hou Yong menatap Mo Huai dengan tidak percaya. Hai Feng dan Zhi Shu juga ikut memberinya tatapan yang sama.
"Aku.. Mungkin tidak bisa sekuat kalian.." Mo Huai tertunduk, suaranya terdengar pelan. ".. Tapi aku ingin mencoba permainan ini. Aku.. Ada sesuatu yang ingin kuminta dari Tuan Muda Xiao.."
Bocah Pengemis Gila memiringkan kepalanya, dia memperhatikan pemuda berpakaian abu-abu bercorak bambu tersebut dari atas sampai bawah.
Di antara orang-orang dalam ruangan ini, hanya Mo Huai yang terlihat paling lemah. Pemuda itu memang kultivator, namun tingkatannya bahkan berada di bawah Nie Shang.
Mo Huai dahulunya adalah manusia biasa dari Kota Awan Dingin. Dia pernah ikut bertualang dengan Jing Mi dan Xiao Shuxiang ke Pulau Demonic Beast walau tidak pernah berkontribusi dalam pertarungan.
Kehadiran Mo Huai waktu itu bagai sebuah beban. Ini karena pada beberapa kejadian, dia selalu mendapat perlindungan dari Xiao Shuxiang. Bahkan beberapa kali Koki Alkemis itu hampir celaka akibat menolong dirinya.
Walau Mo Huai tahu dia sama sekali tidak berguna, namun Jing Mi tidak pernah menganggapnya demikian. Nie Shang, Siu Yixin dan teman-temannya yang lain menerima dia sebagai salah satu anggota keluarga.
Mo Huai dahulu pernah berjanji pada Xiao Shuxiang akan menjadi kuat. Namun memang sampai sekarang, kemampuannya masih belum menonjol.
Bocah Pengemis Gila memperhatikan pemuda itu yang mulai duduk berseberangan dengan Xiao Shuxiang. Kepala Mo Huai tertunduk dan seperti canggung karena ditatap oleh banyak pasang mata.
Jing Mi pun ikut bergabung. Jujur saja, dia tidak yakin Mo Huai akan menang. Tidak hanya dia, tapi teman-temannya yang lain juga berpikiran sama.
Hu Li merasa was-was, dia mengkhawatikan Mo Huai. Semoga saja saat Tuan Mudanya menang, dia tidak mengajukan permintaan yang mengerikan pada pemuda ini.
Tidak butuh waktu lama, sampai kartu terakhir dari Mo Huai habis dan memenangkan permainan. Dia mengejutkan semua orang termasuk Xiao Shuxiang.
"Mo Huai, kau ternyata pemain yang handal.."
"Ehm.. Di penginapan.. Aku selalu bermain permainan kartu dengan para tamu."
Xiao Shuxiang dan teman-temannya berkedip. Pemuda yang mereka lihat ini memiliki bakat, tapi kurang percaya diri. Mo Huai terlalu mudah gugup, bahkan tidak berani mendongakkan kepalanya saat bicara.
Di Penginapan Seribu Tahun, Mo Huai melayani banyak tamu. Dia hanya gugup saat bersama Xiao Shuxiang dan teman-temannya. Kepribadiannya di penginapan terlihat seperti orang yang bisa diandalkan.
Tidak seperti Xiao Shuxiang yang sembrono, Mo Huai adalah orang yang hati-hati.
Koki Alkemis itu bisa saja menepuk pundak seorang Grand Elder dan memanggilnya dengan sebutan 'Tua Bangka' tanpa ragu, tetapi Mo Huai tidak mungkin dapat melakukan itu.
Baginya, berhati-hati dalam bicara dan bertindak akan sedikit menjauhkannya dari kematian. Meskipun dia sadar, telah berteman dengan orang-orang yang disukai bahaya.
Siu Yixin mengatakan bahwa Mo Huai sebenarnya dikenal oleh para pelayan dan juga juru masak di dapur Penginapan Seribu Tahun. Pemuda itu selalu menyibukkan diri menyapa para tamu dan membantu berbagai keperluan mereka tanpa pernah ikut latihan dengannya.
Siu Yixin bahkan harus mencari Mo Huai ke berbagai tempat di penginapan, bahkan tidak jarang harus menyeret pemuda itu dan mendesaknya untuk latihan. Namun tidak pernah dia sangka, Mo Huai punya bakat yang seperti ini.
"Karena kau menang, jadi apa yang kau inginkan?" Xiao Shuxiang tidak meremehkan Mo Huai, dan dia selalu yakin pada dirinya sendiri. Karena itulah kekalahan ini jujur saja mengejutkan untuknya.
"Saudara Mo, buat dia memotong satu jarinya..!" Hai Feng berseru penuh semangat.
"Saudara Mo, minta Saudara Xiao mencabut tulang kakinya." Hou Yong ikut menambahkan.
"Mo Huai~ Minta Saudara Xiao mencongkel.. Aaahk.. Hah.. Satu matanya untukku~" Yi Wen mengerang, dia masih ada di tempat tidur sambil menikmati rasa sakit di tangan kirinya.
Kelakuan aneh dari Yi Wen itu bahkan membuat Jing Mi merinding. Dia tidak tahan terlalu dekat dengannya. Gadis itu kadang tertawa, mengerang kesakitan, dan kemudian meracau tidak jelas. Karenanya dia memilih duduk bersama teman-temannya kembali seperti sekarang.
"Tidak perlu dengarkan Yi Wen. Anggap dia tidak ada di sini," Zhi Shu terlihat membeku, ucapannya mendapat anggukan kaku dari teman-temannya.
Mereka seakan sudah tahu maksud dari Xiao Shuxiang yang mengatakan Yi Wen ada di kelas berbeda dari yang lain. Gadis itu berada di tingkatan di mana rasa sakit memberinya rangsangan yang aneh.
__ADS_1
"Kalau kalian mendengar suara erangan Yi Wen lagi, anggap itu seperti angin lalu. Jangan membahasnya, jangan pedulikan, dan berusahalah untuk tidak membayangkan apa pun." suara Hai Feng pelan, dia menatap setiap wajah teman-temannya.
Jing Mi, Hu Li, dan Hou Yong mengangguk walau terlihat semu merah di pipi mereka. Siu Yixin dan Bocah Pengemis Gila juga ikut mengangguk meski keduanya memiliki pengendalian diri yang lebih dewasa.
Hanya Xiao Shuxiang yang tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Dia pun memanggil Mo Huai yang sejak tadi diam dan bertanya tentang keinginan pemuda itu.
"Tuan Muda Xiao.." Mo Huai ragu, namun dia tetap mengajukan permintaannya. Kedua tangannya mencengkeram kuat pakaiannya dan berusaha mengumpulkan keberanian.
".. Apa aku boleh.. Meminta.. Ehm.. Pil itu?"
!!
Jing Mi dan teman-temannya terkejut. Tidak disangka Mo Huai akan mengajukan permintaan semacam ini, bahkan Xiao Shuxiang sendiri juga kaget.
"Kau ingin Pil Napas Naga?"
Mo Huai mengangguk pelan, dia menatap Xiao Shuxiang takut-takut. Dia adalah manusia sekaligus kultivator biasa, lebih lemah dari siapa pun, namun mengerti khasiat dan nilai sesungguhnya dari pil yang ada dalam kotak kayu di depannya.
"Tuan Muda Xiao.. Anda adalah Alkemis yang hebat, dan pil Anda pasti sangat sulit dibuat.." suara Mo Huai terdengar gemetar, dia menelan ludahnya sejenak sebelum kembali berbicara.
".. Anda memakainya dalam permainan semacam ini.. Bukanlah tindakan bijak. Ini seperti.. Membuang-buang berlian dengan sesuatu.. Ehm.. Yang tidak berguna."
Mo Huai benar-benar takut jika dia menyinggung perasaan pemuda tampan di depannya. Dia hanyalah manusia biasa, bahkan sampai saat ini dia tidak mau disebut 'Kultivator'. Dia yang paling lemah, jelas sekali bahwa ini adalah hari terakhir hidupnya.
Jantung Mo Huai berdetak kencang, titik keringat terbentuk di dahinya. Secara tidak langsung, dia menceramahi Xiao Shuxiang. Bagaimana jika pemuda itu marah dan mencekiknya?
Baiklah. Mencekik terlalu mudah. Bagaimana jika jari-jarinya di patahkan satu persatu, lalu dipelintir dan dicabut hingga terputus?! Atau yang lebih buruk daripada itu.
Mo Huai tidak bisa merasakan kakinya sekarang. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah bicara terlalu banyak. Dia pasti akan mati. Ini mungkin adalah saat-saat terakhirnya.
"Ada apa denganmu?"
!!
Mo Huai terkejut. Dia menatap Xiao Shuxiang seperti melihat malaikat kematian. Tidak ada yang tahu arti dari wajah polos pemuda tampan di depannya. Dia merasa nyawanya sudah di ujung kepala.
"Kau tidak perlu setakut itu, aku tidak akan menggigitmu." Xiao Shuxiang tersenyum, dia menyukai kejujuran Mo Huai dan senang karenanya.
"Kawan, kau sangat benar bahwa yang kulakukan ini seperti membuang-buang berlian. Tapi kebahagiaan itu memang mahal, dan yang kulakukan ini sama sekali tidak sia-sia."
Hu Li, "Tuan Muda Xiao. Pil Napas Naga milik Anda sangat berguna menolong banyak nyawa, dan Anda malah menghambur-hamburkannya seperti ini. Bukankah Anda orang yang sayang harta? Di mana sifat Tuan Mudaku yang pelit itu?"
Xiao Shuxiang mengeluarkan satu pot kecil yang berisi sepuluh Pil Napas Naga dari dalam Gelang Semestanya. Dia meletakkan pot itu sambil menatap Hu Li.
"Aku membuat banyak sekali, Hu Li. Dan Tuanmu ini memang sangat pelit. Daripada pil-pil ini kujual atau kubagi-bagikan pada orang-orang di Benua ini dan membuatku semakin terkenal, lebih baik aku membuang semuanya.."
Xiao Shuxiang lalu mengarahkan pandangannya pada Mo Huai, ".. Pil milikku tidak bisa dihargai dengan apa pun. Tapi kalau kau bisa mengalahkanku tiga ronde permainan ini berturut-turut, akan kuberikan pot kecil ini untukmu."
Mo Huai berkedip dan langsung mengangguk tanpa sadar, dia terpesona dengan senyuman Xiao Shuxiang. Dia tidak seperti Hu Li dan lainnya yang merasa terkejut dengan ucapan dari Koki Alkemis itu.
"Saudara Xiao, pil buatanmu memang tidak bisa dihargai dengan apa pun. Tetapi kau menggunakannya sebagai hadiah taruhan, kau ini gila atau memang bodoh?" Hou Yong bicara spontan, dia didukung oleh Hai Feng dan Jing Mi.
Xiao Shuxiang mendengus, dia mulai merapikan kartu-kartu yang ada di meja dan lalu mengocoknya.
"Hou Yong, Mo Huai tidak akan mendapatnya secara cuma-cuma, dia harus mempertaruhkan nyawanya untuk itu." seringai kecil itu muncul saat Xiao Shuxiang membagikan kartu tersebut pada pemuda di depannya. Dia membuat teman-temannya mengembuskan napas dan tak tahu harus berkata apa lagi.
"Haiih.. Kau membuang-buang bakatmu." Bocah Pengemis Gila menyayangkan ini. Entah mengapa Tuhan memberikan kemampuan Alkemis pada orang seperti Xiao Shuxiang. Pemuda itu jelas hanya peduli pada kesenangan dirinya sendiri.
"Kalau saja Lan'Er Gege ada di sini.. Dia pasti bisa mendisiplinkanmu,"
"Bocah Pengemis Gila, jangan ingatkan aku padanya. Aku sekarang sedang menikmati hari-hari bebasku tanpa wajah papan datar itu.." Xiao Shuxiang terlihat fokus dengan kartu-kartu miliknya, ".. Mo Huai, berhati-hatilah. Kau mungkin akan kehilangan satu kakimu,"
!!
"Saudaraku, kau jangan menakut-nakutinya..!" Jing Mi berseru, dia menepuk pelan pundak Mo Huai yang terlihat gemetar, "Jangan takut Saudara Mo, aku akan mendukungmu."
Mo Huai mengangguk pelan, dia menatap kartu-kartu miliknya dan lalu menelan ludah. Tangannya gemetar setiap kali dia meletakkan satu kartunya untuk menghadapi kartu Xiao Shuxiang.
"Mereka orang-orang yang baik. Mereka menerimaku yang hanyalah pemuda lemah dan biasa ini.." Mo Huai memperhatikan bercak darah pada bagian belakang kartu Xiao Shuxiang dan kembali tertunduk.
".. Aku mungkin tidak akan berguna, tapi kuharap dengan kekuatanku yang kecil ini.. Aku bisa mendukung dan membantu semuanya."
Di antara Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang lain, Mo Huai-lah yang paling bahagia karena bisa menjadi bagian dari para pendekar kuat ini. Dia tidak diperlakukan layaknya orang asing, bahkan terlihat--Xiao Shuxiang begitu serius melawannya dalam permainan kartu.
".. Aku pasti tidak akan bisa menang melawan Tuan Muda Xiao jika ini sebuah pertarungan. Aku jelas akan mati hanya dengan satu jarinya saja. Tapi melihat Tuan Muda Xiao yang sama sekali tidak meremehkanku.. Entah mengapa membuatku merasa seperti orang yang kuat."
Mo Huai diam-diam tersenyum saat memperhatikan raut wajah Xiao Shuxiang, pemuda di depannya mengerutkan kening dan seperti sedang berpikir keras. Xiao Shuxiang nampak meniup kasar rambut poni depannya.
__ADS_1
***