
Para pedagang, Xiao Shuxiang atau pun Yang Shu tidak merasa terkejut. Bisa dibilang mereka tahu apa yang terjadi pada dagangan tersebut.
Gu Ta Sian tidak lain menggunakan benda bernama Cincin Spasial untuk menyimpan barang dagangan pedagang yang begitu banyak.
Cincin Spasial sendiri adalah salah satu benda pusaka bagi para kultivator. Luas di dalam cincin ini berbeda-beda. Yang paling kecil, luasnya hanya sekitar 5m. Sementara yang paling besar sampai 1 km.
Harga cincin ini sangatlah mahal dan juga sangat sulit untuk didapatkan. Bahkan sekte besar pun hanya memiliki Cincin Spasial seluas 40-50 meter. Itu pun yang menggunakannya adalah GrandElder.
Cincin Gu Ta Sian sendiri memiliki luas 9 meter, dia mendapat cincin ini dari Tetua Sekte Bambu Perak untuk memudahkannya membawa bekal.
Sekte Bambu Perak bisa dibilang cukup beruntung, sebab memiliki dua buah cincin spasial dengan luas yang sama.
Setelah Gu Ta Sian memindahkan semua barang-barang pedagang kedalam Cincin Spasial, dia kemudian membantu para pedagang untuk mengangkat pedagang lain beserta kusirnya yang pingsan.
"Terima kasih, Tuan..." seorang pedagang dibantu naik ke kereta oleh Gu Ta Sian.
"Hati-hati melangkah. Perlahan saja,"
Zong Ming sendiri menghampiri Yang Shu, "Tetua... Mari naik ke atas kereta,"
Yang Shu awalnya sedikit ragu, namun dia melihat luka dipundak Xiao Shuxiang serta wajah cucunya ini bisa dibilang terlihat buruk.
Dia pun perlahan menggerakkan kakinya, dia lalu berusaha menggendong Jing Mi dan kemudian membawanya pada salah satu kereta.
Gu Ta Sian tersenyum ke arah Yang Shu, dia lalu membantunya untuk mengangkat Qi Xuan dan Xiao Lu. Sementara Xiao Shuxiang diajak oleh Zong Ming dan Ying Liu.
Raut wajah Xiao Shuxiang memang terlihat buruk, namun bukan karena sakit dipundaknya melainkan karena dirinya tidak bisa memenggal kepala Gong Peng.
Dari 5 orang pedagang dan 3 orang kusir yang selamat, dua orang pedagang dan satu orang kusir pingsan dengan darah keluar dari mulut mereka.
Kereta kemudian ditarik dengan empat ekor kuda, di mana ditempati oleh Zong Ming, Xiao Lu, Qi Xuan, Jing Mi dan tiga orang pedagang yang masih bisa mempertahankan kesadarannya.
Xiao Lu, Xi Xuan dan Jing Mi sendiri masih belum sadarkan diri. Untung saja, mereka hanya merasakan sedikit aura pembunuh Gong Ru sehingga mereka tidak mengalami luka serius seperti dua orang pedagang yang muntah darah.
Meski ketiganya baik-baik saja, namun mereka masih pingsan dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Oleh sebab itu, Zong Ming berusaha menyadarkan ketiganya dengan cara mengalirkan Qi miliknya.
Sedangkan kereta lain yang ditarik oleh tiga ekor kuda di tempati oleh Xiao Shuxiang, Ying Liu, Yang Shu, Gu Ta Sian dan dua orang pedagang, serta satu orang kusir yang pingsan.
Hanya tujuh ekor kuda ini sajalah yang masih hidup setelah penyerangan Perampok Bersaudara beberapa saat yang lalu.
Dua pedagang dan kusir ini terbaring pingsan di dekat Gu Ta Sian, wajah mereka pucat dengan mulut yang berdarah.
Ying Liu bersuara, "Senior? Apa kita biarkan mereka terbaring seperti itu?"
Gu Ta Sian, "Aku punya obat racikan. Mari gunakan ini untuk menyembuhkan mereka,"
Yang Shu melihat Gu Ta Sian mengeluarkan obat racikan dari balik lengan bajunya. Pria itu menggunakan obat tersebut disertai dengan mengalirkan Qi miliknya untuk mempercepat proses penyembuhan luka pedagang.
__ADS_1
Obat racikan itu hanya obat biasa yang dibuat tabib dari Desa Peristirahatan. Tabib itu sendiri bukanlah seorang kultivator dan sebenarnya obat racikan dari manusia biasa tidak terlalu berguna bagi sosok seperti Gu Ta Sian maupun Ying Liu.
Hanya saja, tabib itu tetap memberikannya kepada mereka sebagai bekal dan ucapan terima kasih karena Gu Ta Sian beserta juniornya mau membantu orang-orang di Desa Peristirahatan untuk mengatasi Perampok Bersaudara yang sangat ditakuti tersebut.
Gu Ta Sian yang tidak enak menolak pemberian dari Sang Tabib kemudian mengambil obat racikan tersebut karena mungkin saja dapat berguna nanti dan ternyata, obat dari Sang Tabib benar-benar digunakan oleh Gu Ta Sian. Setidaknya dengan bantuan obat ini, dia tidak perlu mengeluarkan banyak Qi.
Gu Ta Sian mengobati tiga orang, sementara juniornya.. yaitu Ying Liu, mengobati Xiao Shuxiang.
Ying Liu juga memberikan obat racikan untuk diminumkan kepada Xiao Shuxiang, namun anak laki-laki berumur tujuh tahun ini menggeleng tidak mau.
Ying Liu, "Jangan takut. Lukamu akan sembuh jika meminumnya. Ini akan baik-baik saja,"
Xiao Shuxiang, "Aku tidak mau. Obat racikan sangat pahit, jauhkan dariku."
Yang Shu, "Cucu kesayangan Kakek... Ayo minumlah, tidak apa-apa. Itu baik untukmu,"
Gu Ta Sian juga membujuk, "Obat itu memang memiliki rasa yang pahit, tetapi khasiatnya sangat baik untuk penyembuhan. Percaya padaku, kau anak pemberani, kan?"
Yang Shu, "Nak. Lihat dulu siapa yang meraciknya untukmu. Dia kakak yang cantik, rasa pahitnya akan menghilang jika kau minum sambil melihat wajahnya,"
Ying Liu berkedip namun segera mengangguk, "Benar. Kau lihat aku, rasanya tidak akan pahit."
"Aku tidak mau, tidak mau!" Xiao Shuxiang menggeleng sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan. "Kakek, jangan paksa aku~ Aku tidak mau meminumnya."
Setelah beberapa kali membujuk, akhirnya Yang Shu, Gu Ta Sian dan Ying Liu menyerah. Mereka tidak sanggup memaksa Xiao Shuxiang lagi sebab anak ini memperlihatkan tatapan mata dan wajah menggemaskan layaknya anak kelinci.
"Huuf... Liu'Er, kau obati luka luarnya saja dengan Qi..." Gu Ta Sian menghembuskan napas pelan, dia tidak sanggup melihat mata polos yang menggemaskan milik Xiao Shuxiang.
Kereta pun kemudian berjalan dibawa oleh kedua kusir yang masih sadarkan diri. Mereka meninggalkan mayat-mayat pendekar, pedagang, serta perampok dan yang lainnya begitu saja.
Gu Ta Sian akan melaporkan semua kejadian yang dialaminya, serta keberhasilannya membunuh Perampok Bersaudara saat dirinya sampai di kota.
Selama perjalanan, Gu Ta Sian berbincang-bincang dengan Yang Shu. Dari perbincangan itu, dirinya tahu bahwa tujuan dari perjalanan mereka ternyata sama, yaitu untuk pergi ke Sekte Bunga Lotus.
"Maaf Senior, kalau aku lancang. Tapi apa aku boleh tahu... Kenapa kau tidak membantu muridmu bertarung dengan perampok itu?" Gu Ta Sian bertanya.
Dia bisa membaca tingkat praktik Yang Shu. Meski tingkat praktiknya lebih tinggi dari Yang Shu, namun dari segi usia... Yang Shu jelas lebih tua dari dirinya, karena itulah Gu Ta Sian menyebut Yang Shu sebagai 'Senior'.
"Senior, menurutku... Anda harusnya yang bertarung dengan perampok bersaudara itu, bukan anak kecil berusia 7 tahun yang duduk di depanku ini. Apalagi tingkat praktik anak kecil ini sangatlah menyedihkan,"
Xiao Shuxiang hanya duduk diam sambil mendengarkan percakapan antara
Gu Ta Sian dan Yang Shu. Dia sebenarnya setuju dengan pendapat Gu Ta Sian.
Ying Liu sendiri tidak berkata apa-apa, dirinya serius mengobati luka yang ada dipundak Xiao Shuxiang.
Yang Shu mengelus-elus kumis dan janggutnya, dia sebenarnya ingin membantu cucunya. Hanya saja, kaki dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Yang Shu terlalu terkejut saat melihat banyak mayat dan potongan-potongan tubuh yang berceceran. Apalagi saat dirinya melihat seorang pendekar dipenggal tepat di depan matanya.
__ADS_1
"Kau berasal dari Sekte Bambu Perak? Apa... kau mengenal pria bernama Fu, Yang Fu?"
Gu Ta Sian tersentak saat mendengar nama orang yang disebut oleh Yang Shu. "Bagaimana Senior tahu nama itu? Beliau adalah Patriarch kami, tapi tak banyak yang tau marga Beliau. Apa mungkin..."
Gu Ta Sian menatap Yang Shu dalam. Sepengetahuannya, tidak ada orang di luar Sekte Bambu Perak yang mengetahui marga Patriarch nya.
Lalu siapa orang ini..?
Yang Shu hanya tersenyum penuh arti kepada Gu Ta Sian. Hal ini membuat Gu Ta Sian seketika membulatkan matanya karena terkejut.
"Senior Adalah..?!"
"Yaaah, itu benar." Yang Shu tersenyum sambil mengelus-elus kumis dan janggutnya.
Gu Ta Sian tersenyum, "Begitu rupanya... ternyata Senior adalah saudara patriarch Fu. Saya merasa tidak enak duduk di samping Anda,"
"Jangan merasa tidak enak, di sini aku hanyalah orang biasa. Jadi, bagaimana keadaan patriarch Fu kalian?"
Gu Ta Sian menghirup napas pelan, lalu perlahan-lahan mengembuskannya. "Patriarch baik-baik saja. Namun sejak Beliau tidak mengetahui keadaan Anda... Beliau terlihat lesu dan tak pernah tersenyum lagi. Malah sering kali Beliau marah-marah tidak jelas... ck ck"
Gu Ta Sian menggeleng, "Aku masih ingat kejadian saat patriarch Fu memarahi salah seorang murid di sekte hanya karena murid itu membantu mengencangkan ikat rambut temannya,"
Yang Shu juga ikut menggeleng, "Haah... saat kau pulang ke sektemu, katakan padanya kalau aku masih hidup dan sekarang sudah memiliki dua orang cucu,"
"Tapi, apa Yang Fu sudah menikah?" Yang Shu tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Ehm... Patriarch, sampai sekarang belum menikah. Sepertinya... Patriarch tidak memiliki keinginan untuk membina rumah tangga." Gu Ta Sian sedikit ragu saat menjawab pertanyaan dari Yang Shu.
Xiao Shuxiang yang mendengar ucapan dari Gu Ta Sian terlihat menggaruk pelan pipinya. Dalam dunia kultivasi, banyak kultivator lebih memilih untuk tidak terikat hubungan pernikahan karena beranggapan bahwa pernikahan hanya akan menjadi penghambat dalam peningkatan praktik mereka.
Sebagai contoh, adalah Gu Ta Sian. Dia sudah berusia 42 tahun dan masih belum menikah sampai sekarang.
Bukannya Gu Ta Sian tidak ingin menikah, namun dirinya terlalu fokus meningkatkan praktik kultivasi-nya hingga lupa mencari pasangan hidup.
Menurut Gu Ta Sian, usia 42 tahun masih terlalu muda untuk membina rumah tangga. Tipe ideal pernikahan yang direncanakan Gu Ta Sian adalah saat dirinya berusia 80 tahun keatas, itu pun jika ada gadis yang mau dengannya.
Yang Shu menghela napas kemudian menggeleng pelan, "Saudaraku benar-benar menjadi kultivator sekarang... haiih" Yang Shu memijat pelan keningnya.
***
-
-
-
Catatan Penulis :
__ADS_1
Tema Slice Of Life dunia kependekaran. Tidak ada paksaan membaca karya ini. Terima kasih.
Tidak suka, jangan menganggu.