XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
467 - Keburukan


__ADS_3

Rencana kedua dari Qian Kun mulai berjalan. Setelah kelemahan dari murid Partai Pedang Tengkorak diketahui dan ditemukan, kemudian di hancurkan tanpa ragu--para pendekar merasa keadaan langsung berbalik.


Mereka akhirnya bisa mengalahkan musuh, namun yang terjadi justru lebih mengerikan lagi. Entah bagaimana, tetapi mayat dari rekan-rekan mereka sendiri kini kembali hidup dengan wujud yang mengerikan.


Mayat-mayat itu bangkit perlahan, organ tubuh mereka yang terpisah melesat dan secara cepat terjahit kembali dengan sebuah benang merah. Hanya saja beberapa bagian tidak berada pada posisi yang benar.


Ada mayat pendekar yang kaki kirinya menghadap ke belakang. Kondisi yang sama juga terjadi pada bagian tangan dan kepala pendekar lainnya. Kulit wajah mereka pucat dengan berbagai bekas sayatan.


!!


Para murid dari partai dan sekte yang ada awalnya merasa pertarungan ini telah berakhir, tetapi rupanya semua hal tersebut masih berlanjut sampai sekarang.


["Aku.. Tidak bisa lagi.."] seorang pendekar terengah-engah, dia sudah sangat lelah bertarung.


["Tidak tahu ini hari apa, aku benar-benar melupakannya. Aku tidak ingat kita telah bertarung berapa lama.."]


["Ini buruk. Sebenarnya musuh apa yang kita lawan sekarang?! Kenapa mereka sangat kuat dan selalu mengejutkan?!"]


Banyak pendekar yang sudah kelelahan, mereka tidak sanggup untuk terus bertarung. Belum lagi, fakta bahwa kini mereka harus melawan mayat rekan sendiri adalah hal yang menyesakkan.


Bukan hanya pendekar yang ada di Partai Pasak Bumi, tapi juga seluruh kota di Kekaisaran Langit Tengah kini berguncang oleh kedatangan mayat-mayat hidup yang keluar dari tanah.


Mayat itu menggigit dan memakan daging manusia, keributan terjadi di mana-mana dan sulit diatasi. Teriakan serta jeritan warga terdengar di segala penjuru kota.


Hari itu seakan matahari tidak sanggup melihat kengerian di Benua Tengah hingga lebih memilih bersembunyi di balik tebalnya awan.


Tidak hanya Kekaisaran Langit Tengah yang berada dalam situasi berbahaya, namun juga Kekaisaran Langit Selatan.


Kota-kota di tempat itu juga entah bagaimana di serang oleh kumpulan mayat hidup. Wanita dan anak-anak lari bersembunyi, sementara para pria berusaha sekuat tenaga untuk membunuh mayat-mayat itu dan menyelamatkan keluarga mereka.


Kultivator dan pendekar tidak bisa diandalkan sekarang ini. Mereka juga memiliki masalah yang sama hingga tidak mampu melindungi orang lain. Ini adalah kekacauan terbesar, sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan.


Langit kemungkinan sedikit berpihak, atau justru juga ikut mempermainkan mereka. Ia menyembunyikan diri di balik tebalnya awan hitam, yang entah kapan juga akan meluapkan beban yang dikandungnya.


"…"


Lewat buramnya air mata, seorang wanita bisa melihat awan di atasnya makin menebal. Dia memeluk erat boneka kainnya dengan kedua tangan dan lalu mengarahkan pandangannya ke bawah, tempat di mana pertempuran masih terjadi.


"Bahkan langit memilih bungkam untuk mereka.. Ini membuatku sangat sedih,"


Suara itu sangat lemah, terasa serak, dan bagai orang yang telah putus asa. Mata yang memandang ke bawah itu nampak memerah akibat terus menangis. Namun demikian, dia hanya berdiri sambil memeluk erat boneka kain miliknya.


Angin berhembus pelan melambai-lambaikan pakaian dan juga memainkan rambut panjangnya, tetapi sosok itu sama sekali tidak bergeming dan kemungkinan tidak peduli.


Sekilas terlihat kilatan bagai bentangan benang merah di antara hembusan angin. Kilatan itu kembali datang dan mulai menampakkan sesuatu yang teramat mengagumkan.


Berbagai lapisan benang meliuk-liuk mengikuti angin. Itu menyebar di langit dan butuh mata yang khusus untuk bisa melihatnya dengan jelas.


!!


Kebetulan sekali, Hu Li yang sekarang ada di Sekte Pagoda Langit dapat melihat kilatan benang merah itu. Dia mencoba mengambilnya sehelai dari udara dan tersentak kala benang itu sangat halus seperti sutra.


"…"


Hu Li menurunkan kembali tangannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia bisa melihat banyak warga terluka dan mengungsi di halaman depan Sekte Pagoda Langit.


Semalam, dia beserta Grand Elder Sekte Pagoda Langit, Ling Lang Tian, Ling Shen Yue, dan Wang Rui Chan tiba di tempat ini dengan memakai sebuah Cermin Pemindah.


Segera setelah tahu kondisi kota Bintang Biduk dan Kekaisaran Langit Tengah, Ling Lang Tian bergegas pergi untuk menjadi bala bantuan. Dia tidak perlu bertanya siapa yang menyebabkan ini semua karena telah jelas itu bersumber dari Partai Pedang Tengkorak dan Scarlet Darah.


Hanya para junior dan lima orang murid senior yang tinggal di Sekte Pagoda Langit sekarang. Sementara saudara seperguruan mereka yang lain ada di Partai Pasak Bumi, dan sisanya membentuk kelompok kecil untuk menjadi bantuan di berbagai tempat lainnya.


Hu Li diminta oleh Ling Chu Zhen agar tetap tinggal di sekte dan membantu merawat orang-orang yang terluka. Itulah sebabnya dia ada di tempat ini dan tidak terlibat dalam pertarungan.


Sekte Pagoda Langit termasuk satu-satunya tempat yang aman di Kota Bintang Biduk. Hu Li dapat membuat perisai penghalang dari Api Rubahnya tanpa harus khawatir kehabisan Qi karena tempat ini cocok untuk para kultivator.


["Tuan.."]


["Anda akan baik-baik saja,"] Hu Li menenangkan seorang wanita yang bahunya terluka akibat digigit oleh mayat hidup. Dia memeriksa luka wanita itu dengan cara mengalirkan Qi miliknya.


Rasanya sedikit melegakan saat tahu bahwa bekas gigitan itu tidak menjadi racun bagi tubuh, karena biasanya terdapat racun mayat yang dapat merusak organ dalam manusia.


["Anda jangan menangis, cobalah untuk menarik napas dan tenangkan diri Anda sebisa mungkin.."]


["Bagaimana aku dapat melakukannya, Nak. Pertarungan para pendekar.. Membuat kami yang hanya manusia biasa ini ikut menjadi korban. Suami dan putraku.."]


!

__ADS_1


Wanita itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia menangis saat mengingat bagaimana suami dan putranya menjadi rebutan para mayat hidup hingga berakhir mengenaskan.


Hu Li mengulurkan tangan dan memeluk wanita tersebut dengan penuh kasih. Dia mengusap lembut punggung wanita itu dan meminta maaf karena tidak bisa membantu lebih dari ini.


Kepolosan wajah Hu Li dan kelembutan dari suaranya sedikit menjadi penenang. Wanita itu mengeratkan pelukannya sambil terus terisak.


Hu Li mungkin sedih, tapi dia sama sekali tidak meneteskan air mata. Baginya, satu-satunya orang yang dia kasihi di dunia ini hanyalah Tuan Muda Xiao-nya.


["Maafkan Saya.. Tapi tidak ada yang lebih berharga daripada hari tenang Tuan Muda dan teman-temannya. Saya tidak bisa mencari bantuan sekarang dan merusak kedamaian mereka. Ini.. Juga adalah perintah. Tuan Muda Xiao sudah memberikan perintah bahwa apa pun yang saya saksikan di tempat ini, saya tidak boleh memberitahukannya pada siapa pun di Benua Timur, termasuk padanya. Saya minta maaf,"]


Hu Li terlihat seperti pemuda yang baik, polos, dan lugu. Dengan wajah manisnya, dia mampu meluluhkan hati siapa pun. Senyuman dan suara lembut Hu Li dapat menyentuh bagian terdalam hati serta menghapus kesedihan. Kata 'maaf' yang dia ucapkan bahkan telah menghentikan tangisan dari wanita dipelukannya.


Wanita itu secara perlahan melonggarkan pelukannya. Dia memandangi wajah sosok yang dipeluknya dan berusaha tersenyum.


["Kau pemuda yang baik.."]


Tangannya terulur dan mengusap pelan pipi Hu Li. Pemuda berambut putih yang dilihatnya ini nampak seperti masih berusia 19 Tahun, dan itu mengingatkan dia pada putranya.


Hu Li menyentuh tangan wanita di hadapannya sambil tersenyum tipis, "Saya tidak sebaik yang Anda pikirkan.. Saya membenci manusia.. Namun yang paling saya benci adalah mereka yang berani menyakiti Tuan Muda Xiao."


Hu Li meminta agar wanita itu beristirahat, dia masih harus memeriksa kondisi warga yang lain. Masih banyak orang yang memerlukan bantuannya.


Apa yang Hu Li lakukan sekarang hanya berdasarkan perintah. Dia tidak memiliki alasan mengobati para manusia yang terluka jika itu bersumber dari hatinya sendiri. Jujur saja, dia bahkan tidak peduli dengan segala kekacauan yang ada, karena baginya.. Mereka semua tidak lebih baik daripada Xiao Shuxiang.


*


*


Di sisi lain, tepatnya di Sekte Darah Roh. Tong Due dan Wisesa menyeringai karena berhasil membunuh Siu Yixin. Mereka membuat tubuh pemuda itu terpisah menjadi banyak potongan hingga tidak dapat dikenali.


["Aku sekarang sangat puas. Akhirnya orang berpenampilan aneh dengan gaya bicara yang sama anehnya sudah mati."]


["Kau benar, adik. Dia ini sangat merepotkan."] Tong Due menendang potongan tangan Siu Yixin ke sembarang arah dan lalu mendengus.


Dia lalu melanjutkan ucapannya dengan mengatakan bahwa saatnya mereka menyerang pendekar yang lain. Dia yang telah berbalik menjadi tidak sadar bahwa bekas darah serta tubuh Siu Yixin di belakangnya mulai mengeluarkan asap tipis kemerahan.


Baru sekitar tiga langkah, Wisesa dan Tong Due tiba-tiba tersentak akibat merasakan kehangatan yang aneh di belakang punggung mereka. Keduanya lantas membalikkan tubuh dan terkejut melihat apa yang terjadi.


!!


Asap kemerahan mengepul pada bekas darah dan potongan tubuh Siu Yixin. Detik berikutnya muncul ribuan serangga yang seperti menyembur keluar dari bekas darah Siu Yixin dan potongan tubuhnya.


Itu adalah ribuan Semut Neraka. Jenis binatang kecil yang memiliki gigitan paling menyakitkan. Satu gigitan saja, dapat membuat tubuh serasa panas dan akhirnya demam selama tiga hari. Jadi wajar apabila Wisesa dan Tong Due begitu panik. Sayangnya, ribuan semut yang mereka saksikan ini jauh lebih berbahaya daripada Semut Neraka pada umumnya.


Wisesa mengayunkan pedangnya. Dia melesat dengan mengerahkan tenaga dalamnya hingga mampu menebas sekumpulan semut yang terbang di atas kepalanya.


?!


Sedikit membingungkan. Semut-semut tersebut terlihat tidak menghindar, bahkan justru seperti menyerahkan diri pada serangan Wisesa. Mereka mati dengan tubuh tertebas dan cairan hitam yang memercik.


!!


Mata Tong Due terbelalak saat tahu apa yang terjadi. Dia sebenarnya juga ikut menebas segerombolan serangga itu, namun tidak sampai terkena percikan dari cairan hitam tersebut karena kemampuan indera penciumannya.


Saat segerombolan Semut Neraka berhasil ditebas, Tong Due dapat mencium racun yang ada pada cairan itu, dan firasatnya pun mengatakan ini berbahaya. Dia baru akan memberi tahu adiknya, namun rupanya sudah terlambat.


Wisesa berteriak keras, dia menjatuhkan pedangnya dan bagaikan orang yang baru saja disiram air panas. Wajah dan pakaiannya yang terkena cairan hitam Semut Neraka memunculkan uap yang kemudian berubah menjadi api berwarna hitam.


!!


Api Hitam merupakan jenis dari Api Abadi. Ia akan membakar tubuh seseorang sampai benar-benar tidak bersisa.


Tidak butuh waktu lama sampai tubuh Wisesa hancur. Namun karena kemampuannya, tubuh itu terbentuk ulang walau dalam keadaan yang masih terbakar.


["Adik..!!"]


Wisesa tidak bisa menyelamatkan diri, dia tetap terbakar dalam kobaran api hingga tubuhnya hancur lagi. Sekarang mungkin telah terlihat kerugian dari Teknik Terlarang.


Wisesa akan terus merasakan sakitnya terbakar hidup-hidup. Dia menjadi abu, namun tidak berapa lama tubuhnya kembali terbentuk ulang, dan kemudian dia akan merasakan sakitnya dibakar hidup-hidup lagi.


Hal ini akan terus berlanjut sampai Wisesa benar-benar mati. Sifat dari Api Hitam yang menyelimutinya sama dengan racun mematikan yang ada pada Yīng xióng.


!!


["Adik..!!"]


Tong Due sangat terkejut melihat saudaranya yang berjuang keras. Dia menyaksikan bagaimana tubuh Wisesa terbentuk ulang dalam kobaran api hitam, namun kemudian menjadi abu lagi.

__ADS_1


Wajahnya memperlihatkan rasa tidak percaya. Sebelumnya dia dan saudara-saudaranya telah diperingatkan bahwa hanya Xiao Shuxiang dan Yīng xióng yang dapat membunuh mereka, jadi karena itulah mereka tidak takut pada siapa pun.


Tetapi yang terlihat sekarang ini membuktikan bahwa rupanya ada orang lain yang bisa melakukannya selain Xiao Shuxiang.


["Penipu.. Dia telah membohongi kami. Dia menyakinkan bahwa selain jantung, hanya Yīng xióng yang ada di tangan Xiao Shuxiang yang membawa kematian untuk kami, tapi rupanya ada orang lain lagi."]


Tangan Tong Due terkepal kuat. Dia marah, sedih, dan menyesal di saat yang bersamaan. Dia ahli Tenaga Dalam Suhu, karena itulah Tong Due tahu untuk tidak menebas serangga-serangga terbang itu secara gegabah.


Sayangnya dia terlambat memberi peringatan pada Wisesa hingga saudaranya harus mati dengan cara yang mengenaskan.


Kemarahannya tertuju pada dua orang sekarang ini. Yang pertama adalah Siu Yixin, sosok pria yang telah membunuh adiknya. Dan kemarahannya yang lain ditujukan pada Qian Kun, dia merasa telah dibohongi.


Andai saja Xiao Shuxiang melihat kejadian ini, dia pasti akan tersenyum dan lalu tertawa sambil meledek Tong Due. Koki Alkemis itu akan berkata bahwa tidak seharusnya mereka mendukung Qian Kun.


Sosok yang membentuk Scarlet Darah itu hanya ingin mewujudkan keinginannya. Kerja sama dan kekuatan yang Qian Kun tawarkan tidak mungkin tanpa bayaran. Dia adalah orang yang licik, mustahil bisa bersikap baik.


["Kakak Pertama harus tahu ini. Qian Kun tidak layak lagi dipercayai. Dia sudah keterlaluan karena tidak mengatakan apa pun tentang orang itu. Pria yang rupanya juga memiliki Tubuh Abadi."]


Urat menegang di punggung tangan Tong Due. Matanya melotot tajam dan nampak berkilat. Serangga-serangga kecil itu mulai berkumpul di satu titik dan membentuk tubuh seorang pemuda.


Siu Yixin terlihat dengan posisi tubuh yang membungkuk rendah dan mengapit pedang di kedua lipatan lututnya. Kedua tangannya juga memegang pedang, dia masih tampan walau wajahnya memang agak kotor.


Penampilan Siu Yixin tetap meriah, dia suka menjadi pusat perhatian dan pertarungannya pun harus penuh kemeriahan.


"♪♬ Mata yang bagus, yo! ♩♬"


Tatapan mata Tong Due sangat menarik baginya. Pemuda itu seperti menaruh dendam, tapi yang aneh adalah dendam tersebut terlihat tidak tertuju padanya.


Siu Yixin berbicara dengan memakai nada, dia mengatakan bahwa harusnya Tong Due menghormatinya sebagai senior. Dialah yang lebih dulu menjadi pilar dari Scarlet Darah, bahkan sebelum nama kelompok itu berubah seperti sekarang.


Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Tong Due. Dia hendak memperingatkan pada pemuda itu agar jangan sampai memikirkan untuk mengkhianati Qian Kun, namun sepertinya dia terlambat.


Tong Due menyerukan nama Qian Kun dengan dipenuhi amarah. Hati dan pikirannya seakan telah tertuju pada satu tindakan, yakni membongkar kebusukan sosok bertopeng merah itu yang telah berani membohongi dirinya dan saudara-saudaranya yang lain.


Sayang belum sempat niatnya terwujud, dada Tong Due seketika terasa sesak. Dia merasakan panas pada tenggorokan dan perutnya. Dia menjatuhkan senjatanya dan segera mencengkeram lehernya seolah ada sesuatu yang ingin keluar.


!!


Siu Yixin dan beberapa pendekar di sekitarnya melihat bagaimana perubahan mengerikan yang terjadi secara cepat pada tubuh lawan di hadapan mereka.


Tangan, kaki, dan perut Tong Due tiba-tiba saja membengkak. Mulutnya pun terbuka lebar dan sebuah tangan besar berwarna hijau kehitaman keluar dari mulut itu, kondisinya mencuri banyak perhatian.


Tangan itu sangat besar, berotot, dan nampak mengerikan dengan mulut pada telapaknya. Seringai muncul dari mulut tersebut yang langsung mencengkeram kepala Tong Due dan memakannya.


!!


Siu Yixin benar-benar kaget, apalagi perut Tong Due juga ikut mengeluarkan sebuah tangan yang besar. Dia tidak sanggup mengalihkan perhatian dan terus menatap ke depan.


Tubuh musuhnya perlahan berubah dan kemudian meledak. Suaranya amat keras dan membuat yang melihatnya terkejut. Siu Yixin bahkan tidak menyangka hal ini akan terjadi.


["Kau melihatnya?! Kau melihat yang barusan itu?!"]


Seorang pendekar berseru, satu tangannya menepuk-nepuk lengan rekan yang berdiri di sampingnya dan tangannya yang lain menunjuk ke arah Tong Due.


["Dia meledak! Dia benar-benar meledak!"]


["Aku tahu. Kau tidak perlu seheboh itu..!"]


["Astaga.. Mengerikan sekali. Aku jadi takut,"]


Pendekar berpakaian hitam dengan rompi berwarna putih itu nampak mengusap-usap lehernya. Dia merinding ngeri melihat mulut Tong Due yang mengeluarkan sebuah tangan besar.


Pendekar itu mempunyai paras yang lumayan tampan. Hanya tingkahnya sedikit aneh. Lihat saja, dia bahkan secara sadar menepuk pundak musuh yang berdiri di sampingnya dan mengajaknya bicara.


Di sisi lain, untuk pertama kalinya Siu Yixin akhirnya tahu mengapa Qian Kun selama ini bersikap mudah menerima siapa pun yang ingin bergabung dengannya.


Qian Kun nampak bersikap baik dan begitu terbuka menolong pendekar yang butuh kekuatan. Dia tidak pernah khawatir atau mencemaskan keselamatan dirinya sendiri. Padahal bisa saja salah satu pengikutnya berbalik dan justru menikamnya dari belakang.


Siu Yixin menggeleng pelan, dia mengembuskan napas dan mulai menyarungkan senjata miliknya. Dia pun berdiri dengan baik dan melihat tempat di mana tubuh Tong Due pernah berada.


Rupanya karena ini. Inilah kutukan dari Teknik Terlarang itu. Saat seorang pengikut Qian Kun memikirkan akan berkhianat dan berniat mengungkap sesuatu tentangnya, maka kutukan tersebut akan aktif.


Siu Yixin bisa terbebas dari kutukan itu karena saat menculik Duan De dahulu, dia rutin meminum Arak Anak Linglung pemberian Tua Bangka tersebut yang mana menghilangkan kutukan di tubuhnya secara berangsur-angsur hingga dia menjadi seperti sekarang.


Tong Due tidak mempunyai keberuntungan yang sama sepertinya. Pendekar itu harus berakhir tewas akibat kutukan yang ditanamkan Qian Kun padanya. Siu Yixin jadi berpikir bahwa ada kemungkinan para pendekar yang mempunyai Tubuh Abadi tidak tahu mengenai hal ini.


!!

__ADS_1


Saat Siu Yixin ingin kembali bicara, tiba-tiba saja sebuah suara tawa terdengar dan mengejutkan semuanya. Mereka spontan menoleh dan melihat ada pendekar berpakaian hitam yang tengah berdiri sambil menyilangkan tangannya.


***


__ADS_2