
Hanya dalam waktu lima menit, ketiganya telah sampai di tempat tujuan. Pasar saat malam benar-benar berbeda.
Lan Guan Zhi mulai turun, disusul oleh Xiao Shuxiang dan Feng Ying. Harimau Bulan tunggangan mereka menarik perhatian semua orang.
Meski semua orang itu tahu bahwa Lan Xiao adalah kebanggaan Sekte Pedang Langit dan biasa melihatnya terbang, tetapi tetap saja dia menjadi pusat perhatian. Apalagi saat mengetahui bahwa pemilik dari Harimau Bulan tersebut adalah seorang Lan Guan Zhi.
Lan Xiao segera mengubah tubuhnya menjadi sebesar anak kucing dan melompat ke dalam pelukan Xiao Shuxiang. Dia mengeluarkan suara dengkuran sebagai tanda bahwa dia menyukai anak tersebut.
Feng Ying mengajak Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi untuk berjalan-jalan menikmati festival sambil menunggu kedatangan teman-temannya.
Xiao Lu, Dai Chen, dan yang lainnya baru sampai setelah tiga jam. Untungnya mereka bisa menemukan Xiao Shuxiang, Feng Ying, dan Lan Guan Zhi.
Festival 1000 Lentera benar-benar meriah, Xiao Shuxiang beberapa kali kewalahan karena ditarik oleh Xiao Lu dan Yi Wen. Mereka mengajaknya untuk membeli banyak hiasan yang menurut Xiao Shuxiang tidak berguna.
"Haaah.. Anak-anak ini.." pada akhirnya Xiao Shuxiang tetap membayar barang yang dibeli Xiao Lu dan Yi Wen.
Bagaimana tidak dibayar?! Kedua gadis itu langsung pergi setelah mengambil barang hingga membuat pedagang hampir meneriaki mereka pencuri. Akan sangat memalukan jika Sekte Kupu-Kupu dikenal dengan murid-muridnya yang seorang pencuri, dan Xiao Shuxiang tidak ingin itu terjadi..!
Xiao Shuxiang meminta Jing Mi, Hou Yong, dan Bao Yu untuk mengawasi teman mereka utamanya Xiao Lu dan Yi Wen, ".. Mereka dapat menjadi sumber kebangkrutanku jika tidak dihentikan sekarang.."
"Serahkan pada kami, Saudaraku." Jing Mi, Hou Yong dan Bao Yu segera menghampiri kedua target mereka.
Xiao Shuxiang lalu memperhatikan Ro Wei yang saat ini sedang di depan pedagang Tanghulu, dia bersama Feng Ying dan Ying Liu. Kedua gadis tersebut nampak seperti kakak bagi Feng Ying.
Dibandingkan dengan kedua gadis yang hampir membuatnya sakit kepala.. Ro Wei dan Ying Liu jauh lebih baik, mereka berdua sangat santai melihat-lihat aneka manisan di pasar besar ini.
Agak jauh di depannya, Xiao Shuxiang bisa melihat Zong Ming dan Dai Chen sedang bicara membahas sesuatu yang sepertinya menyenangkan. Mereka sesekali melihat lukisan pemandangan salah satu pedagang dan saling bertukar pendapat.
Nyawn~
Harimau Bulan yang berada digendongan Xiao Shuxiang meronta saat berada di depan salah satu pedagang manisan, seakan dirinya ingin berkata bahwa dia mau manisan tersebut.
Nyawn~
"Makanan manusia tidak baik untuk perutmu. Kau makan wortel saja," Xiao Shuxiang mengeluarkan sebuah wortel perak dari Cincin Spasialnya, buah tersebut dia dapatkan dari Sekte Akar Teratai.
Xiao Shuxiang lalu menoleh ke arah Lan Guan Zhi yang ada di sampingnya, sejak tadi laki-laki ini tidak bicara sedikit pun. Dia memperhatikan Lan Guan Zhi dari bawah ke atas, postur tubuh dan cara jalan temannya ini bak seorang Kaisar.
Xiao Shuxiang menggeleng pelan, sungguh hasil dari didikan Sekte Pedang Langit yang sempurna.
Sepanjang jalan, Xiao Shuxiang lebih banyak bicara dan Lan Guan Zhi hanya sesekali menanggapi. Xiao Shuxiang hanya membahas masalah sepele seperti makanan Lan Xiao, atau kegiatan harian yang Harimau Bulan ini lakukan.
"Bagaimana kondisi adik Dai Chen?" untuk pertama kalinya Lan Guan Zhi bertanya pada Xiao Shuxiang.
"Buruk sekali, urat-urat di tubuhnya berada di posisi yang salah dan banyak retakan pada tulangnya. Dai Chan masih bisa bernapas adalah sebuah keajaiban.." Xiao Shuxiang menjelaskan, "Aku pernah merasa berhasil mengobati Dai Chan, bahkan gadis tersebut sudah bisa duduk dan tidak berbaring lagi."
"... Dia juga mulai tertawa lepas saat mendengarku bercerita. Tapi keesokannya, kondisi tubuhnya kembali memburuk.." Xiao Shuxiang mengembuskan napas sambil mengusap pelan kepala Lan Xiao.
Tanpa terasa waktu berlalu cepat, saat yang dinanti-nantikan oleh semua orang untuk menerbangkan lentera kertas. Xiao Lu menggambar bunga pada sisi lentera kertas sebelum dia menyulutnya, Yi Wen dan Ro Wei melakukan hal yang sama.
Semua orang memegang lentera kertasnya masing-masing, kecuali Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi. Keduanya hanya menyaksikan teman-temannya begitu serius menggambar dan menulis harapan mereka.
Xiao Shuxiang sedikit mendengus saat membaca harapan Jing Mi yang ternyata meminta diberi gadis secantik Xiao WeiWei.
Xiao Shuxiang lalu memperhatikan yang ditulis oleh Feng Ying, dia hampir tersedak napasnya sendiri saat membaca harapan temannya ini yang ternyata meminta gadis berbokong indah.
Lan Guan Zhi menyadari perubahan wajah Xiao Shuxiang, dia lalu ikut melihat apa yang ditulis oleh Feng Ying.. Namun seketika Xiao Shuxiang langsung menutup matanya. Dia dilarang untuk melihat apalagi membaca tulisan Feng Ying.
Xiao Shuxiang baru menurunkan tangannya saat Feng Ying pergi ke tempat Ro Wei. Entah mengapa dia menutup mata Lan Guan Zhi secara spontan. Ada sesuatu di dalam hatinya yang mengatakan bahwa Lan Guan Zhi harus dihindarkan dari hal-hal semacam itu.
"Tuan Muda Lan, Saudara Xiao, kemana lentera kalian? Sebentar lagi waktunya menerbangkan lentera.." Ying Liu menghampiri Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang, semua orang memiliki lentera selain kedua temannya ini.
Ying Liu lalu memberikan satu yang belum disulut pada Lan Guan Zhi, dia tidak memiliki lentera lain untuk Xiao Shuxiang.
Nyawn~
Harimau Bulan yang berada digendongan Xiao Shuxiang terlihat sangat ingin memegang lentera tersebut, dia seakan melihat mainan yang begitu disenanginya.
"Wah, apa kau suka lentera kertas itu, Lan Xiao?" Xiao Shuxiang bertanya yang langsung dijawab dengan antusias oleh Lan Xiao.
Nyan, Nyawn!
Lan Guan Zhi menyodorkan lentera tersebut pada Harimau Bulan. Lan Xiao benar-benar gembira bahkan suaranya sampai dapat didengar semua orang yang ada didekat mereka.
"Manisnya.."
__ADS_1
"Anak kucing yang menggemaskan.."
Pujian mulai terarah pada Lan Xiao, ini membuat Xiao Shuxiang mengusap gemas kepala Harimau Bulan yang dipeluknya. "Kau sudah mengambil semua perhatian tanpa menyisakannya untukku, dasar.."
Jing Mi memberikan kuas dan tinta pada Xiao Shuxiang lalu meminta saudaranya untuk menghias sisi lentera kertas dengan tulisan atau pun gambar.
"Lan Zhi, kau yang tuliskan untukku. Aku ingin Lan Xiao bisa terus berumur panjang,"
Harimau Bulan begitu senang, banyak orang yang mendekat supaya bisa melihat tulisan dari Lan Guan Zhi. Xiao Shuxiang memberi sedikit tinta pada salah satu kaki depan Lan Xiao dan menggunakannya sebagai stempel.
Nyawn!
Lan Guan Zhi lalu menyerahkan kuas di tangannya pada Xiao Shuxiang, "Kau juga tulislah."
"Hm? Oh! Baiklah, jadi apa harapanmu Lan Zhi?" Xiao Shuxiang mengerti bahwa dirinya diminta menulis harapan temannya ini.
"… menjadi manusia.." Lan Guan Zhi mengusap pelan kepala Lan Xiao dan kemudian menatap Xiao Shuxiang.
!
"Lan Zhi, kau harusnya mengunakan kata yang jelas. Seperti, 'Aku ingin Lan Xiao menjadi manusia'. Kau hanya mengatakan dua kata membuatku terkejut," Xiao Shuxiang menggeleng pelan, dia lalu menulis harapan Lan Guan Zhi pada sisi lain lentera kertas.
Xiao Lu yang melihat tulisan adiknya dan secara spontan mengeluarkan pendapat menusuk, "Ya ampun, tulisanmu jelek sekali..! Begini cara menulis yang benar, perhatikan baik-baik..!"
Xiao Lu dengan kuasnya sendiri malah menulis harapannya di kertas lentera milik Lan Guan Zhi, Xiao Shuxiang, dan Lan Xiao. Teman-temannya yang lain juga ikut melakukannya, mereka membuat lentera tersebut dipenuhi gambar dan tulisan yang entah apa.
Lan Xiao sendiri terlihat senang saat lentera miliknya penuh dengan coretan tinta, namun tidak dengan Xiao Shuxiang. "Jelas-jelas mereka punya lentera sendiri.. Tetapi malah mengacaukan lentera milik kami, dasar bocah-bocah nakal..!"
"Lihat Lan Xiao, gambar Bibi bagus, kan?"
"Yang ini, buatan Bibi Yi Wen.."
Bibir atas Xiao Shuxiang berkedut, teman-temannya sangat keterlalun.
Xiao Lu kemudian memberikan lentera itu pada Lan Guan Zhi, dia lalu mengambil lenteranya sendiri.
Semua warga termasuk teman-teman Xiao Shuxiang berdiri sambil memandangi langit, mereka masih memegang lentera yang mulai disulut.
"Sekarang apa? Kenapa mereka tidak menerbangkannya..?"
"Kita harus menunggu, Saudara Xiao." Jing Mi menyentuh pundak Xiao Shuxiang sambil tatapannya terus mengarah ke langit.
"Tunggu sampai lentera pertama terlihat," Hou Yong menyipitkan kedua matanya, dia fokus mencari titik cahaya bergerak di langit.
Seseorang kemudian berseru dan detik berikutnya Hou Yong juga ikut menyerukannya. Dia melihat cahaya kecil mulai perlahan terbang, itu adalah lentera pertama sebagai penanda mereka.
Xiao Shuxiang juga mulai melihatnya, di samping lentera itu ada lentera lain yang lebih kecil. Saat dirinya bertanya, Jing Mi menjawab bahwa yang menerbangkan lentera tersebut adalah Kaisar Matahari Tengah.
"Berarti lentera kecil itu mungkin milik Li Qian Xie," Xiao Shuxiang melihat teman-temannya mulai ikut menerbangkan lentera mereka.
Xiao Shuxiang menggunakan api birunya untuk menyulut lentera di tangan Lan Guan Zhi, dia menggelengkan kepala sebab lentera ini memiliki banyak hiasan tinta yang entah apa tulisannya.
Nyawn!
Lan Xiao bersuara saat lentera yang terdapat stempel kaki depannya mulai perlahan terbang. Pemandangan di langit seketika dipenuhi oleh banyak lentera dengan lukisan yang berbeda-beda.
Hanya lentera Harimau Bulan yang memiliki api biru, walau diantara banyaknya lentera kertas yang terbang.. Mereka tetap bisa membedakan lentera yang dilukis oleh Xiao Shuxiang dan teman-temannya.
Xiao Shuxiang jadi teringat di kehidupan pertamanya, dia hanya melihat lentera-lentera tersebut di kejauhan. Wilayah Aliran Hitam tidak memiliki tradisi tahunan semacam ini, karenanya dia sempat bingung tadi.
Sebuah lentera dengan tulisan bertinta merah perlahan turun dan tepat berada di depan Xiao Shuxiang. Lentera ini memiliki api yang sedikit redup hingga membuatnya tidak bisa terbang tinggi.
"'Kuharap paman dapat berumur panjang, aku selalu menyayanginya,'" Xiao Shuxiang tersenyum saat membaca tulisan pada sisi lentera kertas tersebut.
Dia lalu menggunakan api birunya pada lentera itu, membuatnya kembali terbang perlahan. Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan sambil terus melihat ke langit. Ucapan Shouxing seketika terlintas dibenaknya.
… Kau memiliki orang tua, kakek, saudara, dan teman-teman disekelilingmu..
.. Jalani kehidupan keduamu ini dengan lebih baik..
"Hm, aku masih berusaha. Tapi sampai sekarang.. aku belum merasakan hubungan itu, Shouxing. Mereka adalah temanku, tetapi andai mereka mati di depanku.. Aku tidak akan peduli. Sama seperti saat aku melihat kedua orang tuaku mati di kehidupanku terdahulu.. Aku belum menemukan hubungan yang bisa membuatku peduli pada mereka.."
Xiao Shuxiang terus memperhatikan lentera-lentera kertas yang menghiasi langit Kekaisaran Matahari Tengah, sebuah seruan lalu membuatnya menoleh.
Yang berseru tadi adalah salah satu murid Sekte Pedang Langit, dia memanggil Lan Guan Zhi.
__ADS_1
"Tuan Muda Lan, syukurlah aku bisa menemukanmu. Hah.. Hah.. Patriarch Kedua menyuruhku untuk mencarimu," murid Sekte Pedang Langit yang seorang laki-laki berusia 16 tahun tersebut nampak terengah-engah.
Xiao Shuxiang menyerahkan Lan Xiao pada Lan Guan Zhi, dia tersenyum sambil mengatakan bahwa temannya ini sebaiknya pergi.
"Jaga dirimu,"
Xiao Shuxiang tersenyum dan membalas ucapan Lan Guan Zhi. Dia terus melihat temannya mulai berjalan pergi sampai benar-benar menghilang di kerumunan banyak orang.
Xiao Shuxiang berniat mendekat ke arah teman-temannya saat sebuah tangan membekap mulutnya dan menariknya ke tempat yang sunyi.
Dia tidak merasakan Aura Pembunuh dari orang yang membekapnya, jadi dia tidak merasa perlu melawan.
Ketika sampai di salah satu lorong, bekapan Xiao Shuxiang mulai terlepas. Dia akhirnya tahu bahwa yang menculiknya dari kerumunan adalah seorang anak laki-laki, terlihat berusia 13 tahun dan memiliki rambut pendek berwarna putih.
"Tuan Muda Xiao, aku sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi..!"
!!
Xiao Shuxiang terkejut saat tiba-tiba dipeluk erat, dia tidak mengenal anak ini. Segera dia meminta anak tersebut melepaskan pelukannya.
"Kau ini siapa..?" tanyanya.
"Tuan Muda Xiao, walau kau banyak berubah.. Aku tetap bisa mengenalimu. Ini aku, Hu Li."
Merasa Xiao Shuxiang tidak mengenalinya, Hu Li seketika merubah telinganya dan mengeluarkan ekor berwarna putih. Membuat Xiao Shuxiang seketika teringat.
!!
"Hu Li..! Kau anak nakal, bagaimana bisa kau menjadi manusia?! Berapa usiamu sekarang, hah?!" Xiao Shuxiang langsung heboh, dia memutar tubuh Hu Li, menggosok telinga rubahnya dan meremas ekornya.
Xiao Shuxiang tentu tahu dengan Hu Li, dia adalah Demonic Beast berwujud Rubah Salju yang berasal dari Benua Utara. Salah satu rekan di kehidupan pertamanya sebelum dia bertemu Zhou Yuan.
Hu Li melakukan perjalanan jauh hingga sampai ke Benua Timur. Dia bertemu Xiao Shuxiang dalam kondisi sekarat karena diburu oleh para pendekar termasuk kultivator. Sejak saat itu dia mengangkat Xiao Shuxiang sebagai tuannya.
"Tuan Muda Xiao, sejak Si Pengkhianat Mu Zan itu meracuni dan menyerang kita hingga terjatuh ke laut … Kau menyelamatkanku dan malah tenggelam. Saat itu … Kupikir aku tidak bisa … Melihatmu lagi.." Hu Li mulai menangis, dia masih ingat kejadian yang memisahkan dirinya dengan Xiao Shuxiang.
".. Selama bertahun-tahun aku mengembara sendiri. Harus menghadapi banyak Demonic Beast dan kultivator yang berniat membunuhku … Sampai akhirnya aku mendengar nama besarmu … Dan perang besar-besaran itu.."
Xiao Shuxiang mengusap pelan punggung Hu Li, dia masih tidak percaya dengan pertemuan tidak terduga ini.
".. Saat itu … Aku berada di Kekaisaran Matahari Tenggelam. Aku segera bergegas pergi menuju Kekaisaran Matahari Terbit untuk menemuimu … Tapi semuanya sudah.." Hu Li semakin menangis, dia kembali memeluk Xiao Shuxiang erat.
"Tenanglah, kawan. Semua adalah masa lalu, aku sudah lama melupakan itu semua. Berhentilah menangis, Tuanmu sekarang ada di sini.." Xiao Shuxiang mengusap dan menepuk-nepuk pelan punggung Hu Li.
"Tuan Muda Xiao, setelah ledakan itu … Aku masih berharap kau tetap hidup … Aku mencarimu di setiap tempat, dan yang kutemukan hanyalah pegangan pedangmu saja … A-aku.."
!!
Xiao Shuxiang terkejut saat Hu Li mengatakan dia yang menemukan pegangan Pedang Bintang Malamnya. Tangisan dan cerita Hu Li masih berlanjut, Xiao Shuxiang berusaha menahan pertanyaannya.
".. Aku menunggumu sangat lama … Selama lebih dari seratus tahun, aku selalu menunggumu.. Sampai akhirnya aku melihat tanda di langit. Dan ternyata ini benar-benar kau..! Tuan Muda Xiao..!"
"Sudah, sudah.. Kau pasti mengalami hari-hari yang berat, bukan? Kau harus bangga mendapat banyak kesulitan hidup, dari sanalah kau bisa dewasa dan bijaksana. Tenanglah.. Tenangkan dirimu, kawan. Biar kubelikan Tanghulu, kau mau kan?"
Xiao Shuxiang melepaskan pelukannya dari Hu Li, dia membantunya menghapus air mata anak laki-laki tersebut. Seketika dirinya tersentak,
"Ah, benar. Air mata rubah sangat berkualitas, bisa kugunakan dalam uji coba pembuatan pil milikku." Xiao Shuxiang dalam hati mulai tersenyum, sesuatu diotaknya baru saja memberi dirinya ide.
"Hu Li, banyak penderitaan dan kesedihan yang kau alami.. Kau memendamnya terlalu lama tanpa bisa mengatakannya pada siapa pun.. Sekarang kita sudah bertemu lagi, aku akan mendengarkan semuanya kawan. Keluarkanlah, hm.. Xiao Shuxiang di depanmu.. Ini benar-benar aku.."
"Tuan Muda Xiao..!" Hu Li semakin menangis membuat Xiao Shuxiang memeluknya, dia sangat tahu betul sifat Demonic Beast Rubah Salju.
Mereka adalah Demonic Beast yang setia pada satu orang tuan. Apabila tuannya mati, mereka akan terus menunggu sampai tuannya bereinkarnasi kembali.
Tidak peduli dimanapun..
Tidak peduli berapa lama waktu..
Mereka akan tetap menunggu..
Bahkan jika tuan mereka tidak ingat.. Mereka akan tetap setia.
Hu Li terlalu polos, dia mengangkat Xiao Shuxiang sebagai tuan adalah sebuah kesalahan. Sang Bintang Penghancur ini sama sekali tidak peduli dengan perasaan makhluk apapun.
Hanya ada dua alasan kenapa Xiao Shuxiang berbuat kebaikan seperti menyelamatkan Hu Li. Pertama, karena dia menginginkan sesuatu, dan yang kedua adalah iseng.
__ADS_1
Dirinya menyelamatkan Hu Li dalam keadaan sekarat dahulu hanyalah keisengan belaka, sekadar main-main untuk mengisi waktu. Tidak Xiao Shuxiang sangka, pertolongannya kala itu membuat Hu Li mengangkatnya sebagai 'Tuan'.
***