XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
58 - Teman Baru Qi Xuan [Revisi]


__ADS_3

"Jadi, Kakak berasal dari Sekte Kupu-Kupu?! Apakah di sana banyak Kupu-Kupu?! Aku ingin ke sana! Ajak aku ke sana!!"


Huan Mei begitu antusias saat mengetahui bahwa Qi Xuan berasal dari Sekte Kupu-Kupu, dia bahkan menarik-narik tangan Qi Xuan dan memintanya untuk membawa dirinya pergi ke tempat tinggal anak laki-laki ini.


Qi Xuan baru mengatakan nama sektenya, dia belum memberi tahu kondisi sektenya kepada Huan Mei, tetapi gadis ini sudah begitu girang dan ingin dibawa kesana.


"Tu-tunggu dulu, bi-biarkan aku menyelesaikan ceritaku..."


Huan Mei langsung menghentikan tarikannya pada tangan Qi Xuan, dia lalu semakin merapat kedekat Qi Xuan sambil memperlihatkan tatapan yang tidak sabaran mendengar cerita keindahan sekte anak laki-laki ini.


Sayang sekali, yang diceritakan Qi Xuan tidak seperti bayangan Huan Mei. Gadis itu malah terlihat cemberut ketika tahu bahwa Sekte Kupu-Kupu tidak seindah namanya.


"Aku kecewa..."


"Ma-maaf," Qi Xuan mengusap pelan rambut Huan Mei, dia sebenarnya takut anak perempuan ini menangis. Jika Huan Mei mengadukan dirinya, entah apa yang akan terjadi kepada Qi Xuan.


"Ka-kau jangan menangis, aku minta maaf. Tapi, memang seperti itu keadaan sekte kami. Karena itulah kami di sini, berusaha menjadi kuat supaya bisa memperbaiki kondisi sekte dan juga Desa Tani..."


Qi Xuan mulai menceritakan teman-teman di sektenya. Dia mengatakan bahwa meskipun sektenya memiliki kondisi yang jauh dari kata layak, tetapi semua teman-temannya tidak seorang pun yang mengeluh. Malahan, mereka semua sangat senang bisa berlatih pedang bersama, bermain, dan mencari makanan beramai-ramai.


"Hou Yong dan Yi Wen adalah pembuat onar, sementara Bao Yu dan Hai Feng adalah anak yang penurut, sangat penurut malahan... Mereka berdua selalu saja mengikuti apa yang dikatakan oleh Yi Wen..." Qi Xuan terlihat senang saat menceritakan teman-temannya kepada Huan Mei.


Huan Mei juga terlihat tersenyum, beberapa kali dia tertawa saat mendengar tingkah lucu teman-teman Qi Xuan setiap harinya.


Dari yang Huan Mei dengar, dirinya mengetahui bahwa anak laki-laki di dekatnya ini adalah anak pendiam dan hanya mengamati teman-temannya.


Huan Mei awalnya beranggapan bahwa Qi Xuan adalah anak yang membosankan, karena anak ini tidak pernah menceritakan dirinya berbuat onar atau menjahili teman-teman seperguruannya.


Tetapi sekarang Huan Mei tahu, bahwa Qi Xuan adalah anak yang selalu mengawasi dan menjadi penengah saat teman-temannya bertengkar.


"Pasti menyenangkan mempunyai banyak teman yang setiap harinya bisa bermain bersama..." ada kesedihan dalam ucapan Huan Mei, ini membuat Qi Xuan berhenti bercerita dan memandang ke arahnya.


"Tentu saja, mereka semua adalah keluargaku. Lain kali, aku pasti akan memperkenalkanmu pada mereka...!" Qi Xuan mengusap pelan kepala Huan Mei sambil tersenyum lembut.


"Benarkah?! Kakak harus berjanji padaku! Kakak harus membawaku pergi dari tempat ini!!" Huan Mei menyodorkan jari kelingkingnya kepada Qi Xuan, sambil memberinya tatapan penuh harap.


"Baiklah, tapi kalau kakekmu mengizinkan. Aku tidak bisa membawamu pergi tanpa izin darinya," Qi Xuan meraih jari kelingking Huan Mei dengan jari kelingkingnya.


Huan Mei malah terlihat cemberut saat mendengar ucapan Qi Xuan barusan. "Kakek tidak akan pernah memberi izinnya, tapi Kakak Xuan sudah berjanji! Tidak boleh ditarik lagi!"


"Aku yakin dia akan memberi izin, tidak mungkin kakekmu akan terus mengurungmu di tempat ini..."


"Apa benar begitu?"


Qi Xuan mengangguk dan berusaha menyakinkan Huan Mei. Dia sebenarnya tahu keadaan anak ini setelah dirinya mendengar cerita Huan Mei, bisa dibilang kakek Huan Mei terlalu melindungi cucunya.


Bahkan selain kakak perempuannya, Huan Mei tidak bermain dengan anak manapun. Padahal Sekte Bunga Lotus memiliki murid-murid yang berusia sama dengan Huan Mei.


Meskipun Qi Xuan tidak tahu sebab kakek anak kecil ini yang begitu melindunginya, namun dia yakin ada alasan dari itu semua.


"Kurasa aku harus pergi, sudah waktunya untuk kembali." Qi Xuan mulai berdiri, dia juga mengatakan bahwa mungkin saja namanya yang akan disebut nantinya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar," Huan Mei meminta Qi Xuan untuk menunggunya, dia kemudian berlari dan masuk ke dalam gudang tua.


Qi Xuan hanya menunggu dengan alis terangkat sebelah sambil bertanya-tanya dalam hati mengenai apa yang dilakukan oleh Huan Mei di dalam gudang tersebut.


"AAAAA!"


"Mei'Er!"


Jeritan Huan Mei terdengar lagi, Qi Xuan yang kaget mendengarnya langsung berlari ke arah gudang.


"Mei'Er?! Kau kenapa?" Qi Xuan menoleh kesekitaran dan menemukan Huan Mei berdiri di pojokan ruangan, tepat di tempat awalnya berdiri.


"Kakak Xuan! Tadi Aku Melihat Ada Lipan! Kakak Xuan, Cepat Singkirkan!"


Qi Xuan menghela napas pelan saat melihat kepanikan anak perempuan tersebut. "Tadi tikus, sekarang lipan?" Qi Xuan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal dia bisa melihat bahwa Huan Mei juga adalah kultivator, dan saat ini praktiknya berada di Forging Qi tingkat 2.


"Harusnya kau tidak perlu takut seperti itu, haah"


Qi Xuan mencari-cari lipan yang membuat Huan Mei menjerit, namun dia tidak menemukannya. "Lipannya sudah pergi. Sebenarnya kau mencari apa di sini?"


Huan Mei bertanya kepada Qi Xuan tentang lipan yang benar-benar pergi, sambil meminta keyakinan dari anak laki-laki tersebut.


Qi Xuan mengangguk dan berkata bahwa lipan itu benar-benar sudah pergi. Huan Mei yang mendengarnya langsung menarik napas lega. Dia lalu meminta Qi Xuan untuk membantunya membuka sebuah peti yang ada di antara dua buah lemari kayu.


Qi Xuan hanya menurut, dia sendiri bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Huan Mei. Saat Qi Xuan membuka peti yang ditunjuk oleh anak perempuan ini, terlihat koin perak dan perhiasan yang bersinar di dalamnya.


Meski Qi Xuan kaget dengan koin perak sebanyak ini, tetapi dia tidak terlihat tertarik. Qi Xuan mengatakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


"Kenapa kau memberiku pedang?" Qi Xuan malah terlihat keheranan saat Huan Mei memberinya pedang dengan sarung berwarna cokelat dan bermotif bunga teratai.


"Itu sebagai tanda pertemanan kita, Kakak harus mengambilnya..."


"Dengar, kau anak yang baik dan kau baru mengenalku. Tapi tidak seharusnya kau memberiku ini... Ambillah, aku tidak bisa menerimanya.."


Huan Mei cemberut dan terlihat bersiap-siap untuk menangis keras. Melihat wajah Huan Mei membuat Qi Xuan panik, dia lalu berusaha menenangkan anak perempuan ini dan memintanya untuk tidak menangis.


Huan Mei sedikit tersedu-sedu sambil berkata agar Qi Xuan menerima pedang tersebut.


"Kalau Kakak Xuan tidak menerimanya, maka Kakak tidak mau be-berteman denganku..!"


"Tapi kau tak seharusnya memberiku pedang, bagaimana jika kakekmu marah?"


"Itu pedang punyaku, bukan punya kakek. Aku juga sudah punya yang baru, pokoknya sekarang itu milik Kakak Xuan!"


Qi Xuan menimbang-nimbang pedang di tangannya. Pedang ini jauh lebih berat daripada pedang yang diberikan Xiao Shuxiang, dan saat Qi Xuan menarik pedang tersebut, dia begitu kaget melihat pedang tersebut berkilau.


"Ini pedang yang sangat tajam, sangat berbahaya!" Qi Xuan segera menyarungkan kembali pedang di tangannya, dia sedikit gemetar saat mengetahui bahwa pedang yang diberikan Huan Mei begitu tajam.


Huan Mei menjelaskan bahwa pedang di tangan Qi Xuan adalah pusaka tingkat menengah, bisa dialiri dengan Qi dan mampu memisahkan kepala lawan hanya dengan satu serangan, yaah... tergantung dari orang yang menggunakannya.


Qi Xuan tidak bisa berkata apa-apa saat mendengar penjelasan Huan Mei, wajahnya terlihat sedikit pucat saat tahu bahwa pedang ini pernah digunakan untuk menebas leher demonic beast dan manusia.

__ADS_1


"Ku-kurasa aku tidak bisa memakai pedang ini di pertandingan nanti. Karena pedang ini sangat tajam dan berbahaya,"


"Kakak Xuan, pedang dan senjata manapun hanya akan berbahaya jika yang memegangnya adalah orang jahat. Itu yang dikatakan kakekku,"


"Entahlah, ini sangat membebani. Aku sepertinya tidak bisa," Qi Xuan mengerti betul ucapan Huan Mei barusan. Pedang hanya akan berbahaya jika berada di tangan orang yang berhati jahat.


Huan Mei terus menyakinkan Qi Xuan untuk mengambil pedang tersebut, dia mengatakan bahwa semua kultivator di sektenya minimal memiliki pedang yang setajam itu.


Cukup lama Huan Mei membujuk Qi Xuan sampai anak laki-laki ini kemudian mengangguk dan menerima pedang tersebut. "Tapi, kalau aku merasa terbebani dengan pedang ini. Aku akan mengembalikannya,"


"Tidak boleh, pedang yang sudah kuberikan pada Kakak Xuan adalah punya Kakak sekarang. Jadi Kakak Xuan tidak boleh mengembalikannya, atau aku akan marah!"


"Kalau begitu akan kuberikan pada Tetuaku, Beliau tidak memiliki pedang sebagus ini..."


"Tidak boleh, itu kan punya Kakak Xuan!"


Qi Xuan mengatakan bahwa selama ini dirinya tidak pernah memberikan apa pun kepada tetuanya, setidaknya mengganti pedang tetuanya yang usang jauh lebih baik.


"Ini kan pedangku sekarang, jadi urusanku mau memberikannya pada siapa..." Qi Xuan mencubit pelan pipi Huan Mei yang terlihat mengembang.


"Tapi itu pemberian dari-!!"


Qi Xuan langsung berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Huan Mei sebelum anak perempuan ini menyelesaikan ucapannya. Tindakan Qi Xuan membuat Huan Mei membuka mulutnya lebar.


"Kakak Xuan, Tunggu!!" Huan Mei berdiri dan berlari menyusul Qi Xuan.


Qi Xuan sendiri terlihat menahan tawa saat anak perempuan tersebut berlari sambil menggerutu tidak jelas.


*


*


*


"Kapan pertarungan Saudara Zong selesai..?" Xiao Shuxiang terlihat kelelahan terus duduk, beberapa kali dia mencari posisi duduk yang nyaman.


"Aku bosan..."


Xiao Shuxiang kembali mengatur posisi duduknya. "Bagi seorang Xiao Shuxiang, pertandingan tanpa saling membunuh adalah pertandingan yang paling membosankan. Haah.. Aku sebenarnya berharap Zong Ming berhadapan dengan Dai Chen sehingga aku bisa sedikit terhibur, sayang sekali harapan itu tidak terkabulkan..."


Xiao Shuxiang kemudian bangkit dari tempat duduknya sambil meminta izin kepada Yang Shu untuk ke bawah, dia ingin keluar dari tempat ini dan mencari hal yang mungkin saja menarik baginya.


Yang Shu menganggap Xiao Shuxiang ingin menghampiri Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu. Dia kemudian tersenyum sambil mengingatkan Xiao Shuxiang untuk tidak jauh-jauh dari kakaknya.


Xiao Shuxiang tidak mengatakan apa pun, dia hanya melambaikan tangan tanpa menoleh kearah Yang Shu.


Sambil menuruni tangga, Xiao Shuxiang menggumamkan sesuatu. Dan saat dirinya sudah berada di bawah, dia bisa melihat Jing Mi sedang beristirahat sambil tiduran pada tempat yang disediakan oleh murid-murid Sekte Bunga Lotus.


Diam-diam, Xiao Shuxiang berjalan sambil menghindari Xiao Lu dan Jing Mi. Tujuannya saat ini adalah pintu gerbang Turnamen.


Untung saja ada beberapa orang yang masuk dan keluar melewati pintu gerbang yang terbuka tersebut, sehingga saat Xiao Shuxiang keluar, dia tidak ditanya-tanya oleh murid Sekte Bunga Lotus yang berjaga.

__ADS_1


***


__ADS_2