
Xiao Lu, Jing Mi dan Qi Xuan melihat Xiao Shuxiang duduk sambil bersandar pada sebuah pohon, tidak jauh di depan mereka. Segera Xiao Lu berlari sambil memanggil nama adiknya, dia terlihat khawatir dan juga menangis.
Xiao Lu langsung memeluk erat Xiao Shuxiang tanpa dirinya sadari bahwa tubuh anak laki-laki itu saat ini terluka.
"Ja-Jangan Dipeluk! Pu-Punggungku Sakit, Akh!"
Xiao Lu seketika melepaskan pelukannya dari Xiao Shuxiang, "Ma-maafkan aku."
Jing Mi dan Qi Xuan mengusap air matanya, mereka senang sebab Xiao Shuxiang selamat. Keduanya lalu menghampiri dan mengusap pelan punggung Xiao Shuxiang, namun seketika anak itu menjerit sebab merasa kesakitan.
"Ma-maaf Saudara Xiao, ka-kami tidak sengaja..." Qi Xuan merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.
"Punggungku sakit... Bukan hanya itu... Tapi seluruh tubuhku juga," rintih Xiao Shuxiang.
"Ta-tapi kau tidak cedera, kan? Tulangmu tidak ada yang patah, kan?" Xiao Lu merasa khawatir, apa yang harus dia jelaskan kepada ayah dan ibunya nanti.
"Kau pikir tulang itu seperti ranting, yang mudah patah?! Butuh tenaga yang besar untuk membuat tulang seseorang patah, tapi kalau hanya memberi beberapa retakan kecil aku rasa masih bisa..." Xiao Shuxiang berusaha melakukan Pernapasan Angin untuk membantu mengurangi rasa sakitnya.
Dia sebenarnya ingin mengumpulkan Qi di sekitarnya untuk membantu menyembuhkan luka-lukanya meski sedikit. Namun Xiao Shuxiang membutuhkan waktu untuk bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Aku tidak bisa menyimpan Qi di dalam dantianku karena hanya akan bocor keluar, tapi aku masih bisa menggunakan Qi di sekitarku untuk langsung memulihkan tubuhku. Meski pun kemungkinan untuk menyembuhkan seluruh lukaku tidak besar, namun masih bisa dicoba..."
Xiao Shuxiang memejamkan matanya perlahan, menarik napas dan kemudian mengembuskannya.
Masalahnya, belum sempat dia mengumpulkan Qi----Xiao Shuxiang dikejutkan oleh suara geraman Serigala Bertanduk Perak. Bukan hanya dia yang terkejut, tapi juga ketiga anak yang bersamanya.
"Kakek...?!" Xiao Lu berdiri dan segera pergi mencari keberadaan Yang Shu, dia ingat bahwa Yang Shu saat ini sedang bertarung dengan serigala itu.
Jing Mi dan Qi Xuan berusaha menghentikan Xiao Lu, mereka berkata agar Xiao Lu sebaiknya menunggu bersama mereka. Namun tetap saja Xiao Lu bersikeras untuk pergi ke tempat Yang Shu, dia mengkhawatirkan keselamatan kakeknya.
"Kalian tunggu di sini, bi-biar aku yang-ukh!!"
Xiao Shuxiang mencoba berdiri namun rasa sakit tubuhnya membuat dia terjatuh.
"Saudara Xiao! Kau jangan bergerak dulu!" Jing Mi menyentuh pundak Xiao Shuxiang, dia lalu menyandarkan anak laki-laki itu pada dadanya.
"Saudara Jing, kau tetaplah di sini dan jaga Saudara Xiao. Aku akan menyusul Kakak Lu Yang Cantik..."
"Berhati-hatilah Saudara Xuan!"
Qi Xuan berlari dan meninggalkan Jing Mi bersama dengan Xiao Shuxiang, dia pergi menyusul Xiao Lu.
Sepanjang perjalanan, Qi Xuan melihat bekas-bekas pertarungan seperti bekas sayatan pedang. Beberapa semak belukar dan rumput terlihat seperti pernah dihantam oleh sesuatu yang berat.
Qi Xuan lalu melihat Xiao Lu memeluk Yang Shu, dia kemudian mempercepat larinya.
"Tetua, apa Anda baik-baik saja?!" Qi Xuan kaget karena pakaian tetuanya kotor dan terlihat koyak. Kedua tangan Yang Shu dipenuhi darah, terdapat beberapa percikan darah pada wajahnya, begitu pun dengan pakaian Yang Shu.
"Tenang Lu'Er, Kakek baik-baik saja..." Yang Shu mengelap kedua tangannya menggunakan pakaiannya, dia kemudian mengelus lembut kepala cucunya itu.
Yang Shu lalu menepuk pelan pundak Qi Xuan, "Ayo kita ke tempat saudara seperguruan kalian."
Qi Xuan menyadari bahwa Serigala Bertanduk Perak itu tidak ada di sekitar tempat Yang Shu dan Xiao Lu tadi. Dia pun menyakannya, "Tetua. Serigala itu... Apa yang terjadi padanya?"
Yang Shu, "Tenanglah. Mayat serigala itu berada jauh di sini. Kakek telah mengalahkannya sebelum bertemu Lu'Er di jalan."
"Jadi Tetua berhasil membunuh serigala itu sebelum Kakak Lu Yang Cantik datang?" Qi Xuan tidak menyangka Yang Shu bisa sehebat itu.
Jujur, dia sebenarnya tidak terlalu percaya saat Yang Shu pernah mengatakan bahwa dia bisa membunuh demonic beast seorang diri, dan sekarang dia tidak akan meragukan gurunya lagi.
"Tapi bagaimana dengan luka Tetua...?" Qi Xuan khawatir sebab melihat keadaan Yang Shu sekarang, tidak mungkin tetuanya ini tidak terluka.
"Tenang saja, Kakek bisa menyembuhkannya nanti. Kakek lebih khawatir dengan keadaan Xiao'Er..."
Saat melihat Jing Mi dan Xiao Shuxiang----Yang Shu mempercepat langkahnya. Jing Mi yang menyadari keberadaan Yang Shu, mulai memanggil gurunya itu.
"Guru?! Guru tidak apa-apa?!"
Sama seperti Qi Xuan, Jing Mi juga kaget saat melihat wajah dan pakaian Yang Shu.
"Ini bukan masalah, bagaimana keadaan Xiao'Er?" Yang Shu memeriksa kondisi tubuh Xiao Shuxiang. Terlihat cucunya ini berkeringat dingin dan nampak tertidur.
__ADS_1
"Saudara Xiao mengatakan bahwa punggungnya sakit,"
Yang Shu kemudian mengangkat perlahan Xiao Shuxiang, dia lalu meminta kepada murid-muridnya yang lain untuk mengikutinya.
*
*
*
Xiao Shuxiang perlahan membuka mata, "Sejak kapan aku tertidur...?" Xiao Shuxiang perlahan bangun, dia melihat keadaan di sekelilingnya yang ternyata adalah sebuah ruangan. Dia sendiri saat ini sedang berada di atas sebuah dipan.
"Xiao'Er? Kau sudah bangun?!" Yang Shu membawa sebuah mangkuk di tangannya, dia berjalan cepat saat mengetahui bahwa cucunya sudah sadar.
"Kakek... Ini... Di mana...?"
"Kita sedang ada di pondok..." Yang Shu memberikan mangkuk berisi cairan obat berwarna hijau kepada Xiao Shuxiang.
"Rasanya pahit..." Xiao Shuxiang merasakan pahit di lidahnya. Dia hampir muntah karena obat yang diberikan Yang Shu terasa sangat pahit.
"Lalu, di mana yang lainnya...?" Xiao Shuxiang menanyai keberadaan Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu.
"Mereka sedang makan, tunggulah di-"
"Si Cantik sudah bangun...?"
Sebuah suara terdengar bersamaan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya. Dia terlihat membawa nampan dengan mangkuk dan gelas yang terbuat dari kayu di atasnya.
Wanita paruh baya ini menghampiri Yang Shu dan Xiao Shuxiang. Sambil tersenyum ramah, wanita paruh baya ini meminta Xiao Shuxiang memakan bubur yang dia bawa.
"Siapa nenek tua ini...? Berani sekali dia menyebutku 'Cantik'!!" Xiao Shuxiang menatap kesal ke arah wanita tua yang saat ini duduk sambil tersenyum kearahnya.
Wajah wanita yang dilihat Xiao Shuxiang ini memiliki banyak keriput, dan dari penampilannya----wanita ini hanyalah manusia biasa, dia bukan seorang kultivator. Bahkan cara berjalan wanita ini tadi terlihat membungkuk. Jika saja Yang Shu tidak berkultivasi, wajahnya mungkin sudah setua wanita ini sekarang.
Yang Shu menyadari bahwa Xiao Shuxiang sedang memperhatikan wanita tua di depannya. Dia lalu menjelaskan bahwa wanita tua ini adalah pemilik dari pondok yang mereka tempati sekarang.
"Kau bisa memanggilku Nenek Tian, jadi siapa namamu Nona manis?"
"Aduh duh! Pu-punggungku...!"
Nenek Tian memperhatikan wajah Xiao Shuxiang dengan seksama, dia merasa heran sebab Xiao Shuxiang terlihat kesal kepadanya saat dia memangilnya dengan sebutan 'Nona'.
Yang Shu tidak mengatakan apa pun, dia malah terlihat tersenyum dan seakan senang saat ada yang memanggil cucu kesayangannya ini dengan sebutan 'Nona'.
"Kau ini...? Perempuan, kan...?"
Xiao Shuxiang kembali terbatuk, kali ini batuknya cukup keras sampai Yang Shu tersentak. Yang Shu kemudian mencoba menenangkan cucunya.
Xiao Shuxiang, "Aku Bukan Perempuan...!"
Suaranya begitu nyaring sampai-sampai Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu yang sedang menikmati bubur mereka di luar pondok tersentak.
"Sepertinya Saudara Xiao sudah sadar,"
Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu meletakkan mangkuk bubur mereka dan dengan tergesa memasuki pondok untuk melihat kondisi Xiao Shuxiang yang sedang berada di salah satu ruangan di dalam pondok tersebut.
Yang Shu dan Nenek Tian tersentak saat mendengar suara Xiao Shuxiang yang begitu nyaring, untuk saja mereka bukan orang yang mudah jantungan.
"Nenek pikir kau ini perempuan," Nenek Tian mengusap kepala Xiao Shuxiang dengan lembut, namun anak itu memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Huh!"
Nenek Tian tertawa kecil sambil meminta maaf kepada Xiao Shuxiang, "Jadi siapa namamu...?" tanyanya.
"Xiao Shuxiang,"
Raut wajah Nenek Tian sedikit berubah saat mendengar nama dari anak di depannya. Dia lalu menoleh ke arah Yang Shu.
"Jadi ini anak yang kau katakan?" suara Nenek Tian terdengar serius dan tidak seramah dan selembut yang tadi.
"Apa maksudnya...?" Xiao Shuxiang menyadari sikap wanita tua di depannya agak berubah.
__ADS_1
"Iya, dia adalah Cucu Kesayanganku," Yang Shu tersenyum sambil mengelus lembut kepala Xiao Shuxiang.
Nenek Tian menatap Xiao Shuxiang lagi, kali ini raut wajah dan pandangan matanya begitu serius. Dia kemudian menghembuskan napas sambil menggeleng pelan. Apa yang Nenek Tian lakukan membuat Xiao Shuxiang mengerutkan alisnya.
"Shu'Er... Kupikir waktu itu kau bercanda, ternyata kau benar-benar melakukannya... Haiih"
Nenek Tian bangun dan berjalan pergi meninggalkan Yang Shu dan Xiao Shuxiang.
"Kakek? Apa maksud ucapan nenek tua tadi...?" Xiao Shuxiang terlihat penasaran.
Belum sempat Yang Shu menjawab pertanyaannya... Jing Mi, Xiao Lu dan Qi Xuan terlihat berlari sambil memanggil nama Xiao Shuxiang.
"Xiao'Er?!"
"Saudara Xiao?!"
Xiao Lu dan Qi Xuan senang saat menyadari bahwa Xiao Shuxiang sudah bangun serta terlihat baik-baik saja.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Saudaraku..!" Jing Mi memeluk Xiao Shuxiang erat sambil menangis, tindakannya ini membuat Xiao Shuxiang menjerit karena kesakitan.
Jing Mi tersentak dan langsung melepaskan pelukannya dari Xiao Shuxiang.
"Kau Jangan Memeluk Adikku Seperti Itu!" Xiao Lu memarahi temannya. Dia juga mengkhawatirkan keadaan Xiao Shuxiang dan cukup senang karena adiknya sudah bangun sekarang.
"Ma-maafkan aku Kakak Lu Yang Cantik, aku hanya terlalu senang karena Saudara Xiao sudah bangun..." Jing Mi mengusap air matanya.
"Memang berapa lama aku tidur sampai-sampai kau menangis?" Xiao Shuxiang merasa bahwa kesedihan Jing Mi terlalu berlebihan.
"Kau tidak sadarkan diri selama dua hari Saudara Xiao. Kami semua sangat mengkhawatirkanmu," ucap Qi Xuan
Xiao Shuxiang tersentak saat mendengar ucapan Qi Xuan. "Bagaimana itu mungkin...?"
"Jadi... Apa sekarang kita sudah keluar dari hutan?" tanya Xiao Shuxiang kemudian.
"Kita masih butuh tiga hari untuk bisa keluar dari hutan ini," Yang Shu mengelus pelan kepala Xiao Shuxiang dan kemudian menjelaskan bahwa di dalam hutan terdapat pondok yang ditujukan untuk para pengelana.
Pondok ini sendiri dihuni oleh sebuah keluarga, mereka secara khusus menyediakan tempat peristirahatan dan juga makanan bagi pengelana sambil bertaruh nyawa. Karena ada kemungkinan demonic beast menyerang mereka atau yang singgah ditempat mereka adalah perampok.
Xiao Shuxiang tidak mau menanyakannya lebih jauh, sebab dikehidupan pertamanya dia cukup mengenal tentang Pondok Pengelana.
"Hanya orang tidak waras yang mau membahayakan dirinya membangun tempat seperti ini.."
Yang Shu meminta Xiao Shuxiang untuk memakan buburnya, "kita akan tinggal disini sampai lukamu sembuh.." ucapnya.
Xiao Shuxiang mengangguk, dia kemudian mulai memakan buburnya. Yang Shu meminta Xiao Lu, Jing Mi, dan Qi Xuan untuk menemani Xiao Shuxiang.
"Kakek akan keluar menemui Nenek Tian, kalian tetaplah disini bersama Xiao'Er."
"Baik, Kek."
***
-
-
-
Catatan Si Hamster:
Di Arc 1 Ini, Kamu akan lebih sering dihantui oleh Catatan Penulis. Bukannya apa, sebab di antara kalian atau mungkin kamu sendiri kadang tidak mengindahkan peringatan kami. Alur Cerita Ini Lambat dan perjalanan MC menjadi kuat sangatlah panjang.
Kamu yang suka Tokoh Utama langsung OP, sebaiknya berhenti membaca sekarang. Arigatou atas pengertiannya dan Gomenkudasai bila nanti Catatan Penulis akan menganggu.
.
.
.
Kami menulis dengan sepenuh hati, tetapi terkadang komentar beberapa orang tidak memiliki hati. Yaah... Manusia memang seperti itu. TINGKATKAN...!!
__ADS_1