XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
36 - Perjalanan Bersama (2) [Revisi]


__ADS_3

Setelah keluar dari hutan, kedua kereta yang membawa Yang Shu, Gu Ta Sian serta murid-murid mereka dan para pedagang kini melewati sebuah jalan di tengah-tengah padang rumput.


Tidak seperti padang Rumput Kering yang hanya memiliki sebuah pohon. Padang ini di tumbuhi oleh pohon dan semak-semak di setiap sisi jalannya.


Xiao Shuxiang bisa merasakan aroma rumput dan angin malam yang begitu menenangkan. Keadaan di sekeliling kereta mereka tidak terlalu gelap, meskipun bulan yang bersinar bukanlah bulan purnama, namun itu sudah cukup sebagai penerang jalan.


Gu Ta Sian meminta kepada kusir untuk mencari tempat beristirahat, dia juga memberi tanda kepada kusir lain yang ada di belakang keretanya.


"Perjalanan bisa kita lanjutkan besok. Tidak apa kan, Senior?" Gu Ta Sian bertanya pada Yang Shu.


"Tentu tidak masalah. Kita tidak bisa memaksa kuda-kuda ini untuk terus berjalan di malam hari, mereka butuh istirahat. Begitu juga dengan kusirnya, mereka hanyalah manusia biasa."


Gu Ta Sian tersenyum sambil mengangguk saat mendengar ucapan dari pria tua tersebut.


Stamina kultivator memang lebih kuat daripada manusia biasa. Mereka bisa berjalan jauh tanpa beristirahat, menahan lapar berhari-hari, bahkan sampai mampu menahan kantuk.


Ini bisa dilakukan jika kultivator tersebut dapat mengontrol Qi dan mengubahnya menjadi nutrisi bagi tubuh mereka.


Bagi Gu Ta Sian dan Yang Shu, sebenarnya mereka masih sanggup melanjutkan perjalanan, namun tidak begitu dengan para kusir serta kudanya.


Selama para kuda serta kusirnya tertidur pulas, Gu Ta Sian dan Yang Shu terus terjaga sambil mengawasi keadaan sekitar.


Para pedagang yang pingsan mulai sadarkan diri, namun mereka tidak diizinkan untuk bergerak atau pun bangun dulu, sebab luka dalam mereka masih belum pulih sepenuhnya.


"Terima kasih... Pendekar..." salah seorang pedagang berterima kasih kepada Gu Ta Sian dan Yang Shu meski suaranya pelan dan terkesan menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Anda jangan bicara dulu, istirahatlah. Aku akan berusaha menyembuhkan Anda," Gu Ta Sian lalu mengambil obat racikan lain dari dalam Cincin Spasial-nya.


Hanya dengan mengalirkan sedikit Qi ke dalam Cincin miliknya, sebuah bungkusan kain berwarna putih, mangkuk, serta botol pot kecil berisi air, seketika berada di sampingnya.


Sambil Gu Ta Sian menyiapkan obat, Yang Shu memeriksa kondisi pedagang lainnya.


Xiao Shuxiang hanya memperhatikan kedua orang tua ini memberikan obat kepada pedagang serta kusir yang terluka, tatapan matanya terlihat biasa-biasa saja bahkan terkesan tidak peduli.


Di kereta lain, saat para pedagang tertidur pulas----Jing Mi dan Qi Xuan mulai sadarkan diri. Mereka berdua membuka mata secara perlahan dan mencoba menerawang apa yang sebenarnya mereka alami.


Jing Mi perlahan bangun, pandangannya gelap, namun tidak berlangsung lama sampai dirinya menyadari bahwa hari ternyata sudah malam.


Qi Xuan juga perlahan bangun, dia cukup tersentak dan keheranan sebab dirinya berada di dalam sebuah kereta, apalagi bersama dengan orang yang tidak dikenalnya.


"Bagaimana perasaan kalian...?" tanya Zong Ming, yang duduk di samping Qi Xuan.


"E-Ehm... Ka-kau siapa...?"


Di dalam kereta cukup gelap, sehingga Qi Xuan tidak bisa melihat wajah Zong Ming dengan jelas. Namun dari suara yang Qi Xuan dengar, Zong Ming adalah seorang anak laki-laki dan sepertinya memiliki usia yang sama dengan dirinya.


"Ah, kita belum berkenalan yah? Aku Zong Ming, murid Sekte Bambu Perak." Zong Ming memperkenalkan dirinya sekaligus menceritakan semua yang terjadi hari ini.


Mulai dari dia dan seniornya yang melihat asap hingga suara jeritan keras, sampai akhirnya mereka berada di dalam kereta saat ini.


Mendengar cerita Zong Ming membuat perasaan Qi Xuan dan Jing Mi tidak enak, mereka jadi mengingat kejadian saat melihat pemenggalan kepala di depan mata mereka.

__ADS_1


Namun perasaan itu tidak berlangsung lama, sebab Jing Mi dan Qi Xuan baru saja mengalami mimpi yang jauh lebih buruk dari kejadian mengerikan tersebut.


Tapi anehnya, meski mimpi yang dialami oleh kedua anak itu mengerikan, nyatanya mereka sama sekali tidak ketakutan. Malahan, ada rasa semangat dan gairah bertarung yang Jing Mi dan Qi Xuan rasakan.


Xiao Lu mulai membuka mata ketika samar-samar dirinya mendengar suara orang yang sedang berbincang-bincang.


"Dimana... Aku...?" Xiao Lu mengusap pelan matanya sambil bergumam pelan, namun cukup didengar oleh Jing Mi, Qi Xuan, Zong Ming dan Ying Liu.


"Kakak Lu Yang Cantik, kau sudah sadar? Kita sekarang ada di dalam kereta," Jing Mi membantu Xiao Lu untuk mengubah posisinya yang sebelumnya berbaring menjadi duduk.


"Aku... bermimpi aneh..." Xiao Lu berkata pelan, dia lalu menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi.


Ying Liu, "Apa yang kalian mimpikan itu merupakan bagian dari Tahap Penguatan Mental. Dengan Penguatan Mental, kalian tidak akan merasa takut apalagi sampai pingsan ketika melihat darah dan pembantaian di depan kalian lagi nanti."


"Tahap Penguatan Mental..." Qi Xuan menggumam namun tidak bertanya apa pun. Dia dan Jing Mi terlalu lelah saat ini.


"La-lalu... di mana Kakekku?" Xiao Lu menyadari bahwa Yang Shu dan adiknya, Xiao Shuxiang tidak ada bersamanya.


"Mereka ada di kereta yang satunya, mereka bersama dengan senior kami," jawab Zong Ming sambil tersenyum, namun senyuman Zong Ming tidak bisa dilihat oleh Xiao Lu disebabkan karena suasana disekitarnya gelap.


Ying Liu, "Kalian sebaiknya tidur. Ini sudah terlalu larut, kita berbicara besok pagi saja.."


Jing Mi, Qi Xuan, dan Xiao Lu terpaksa mengikuti ucapan Ying Liu, meskipun sebenarnya mereka ingin berbicara lebih banyak. Tapi karena mengingat malam sudah terlalu larut, akhirnya mereka memutuskan untuk berbaring kembali.


Malam sungguh begitu tenang, suara hewan-hewan kecil seperti sebuah musik merdu yang menenangkan.


Disaat semua orang sedang tertidur pulas, Yang Shu dan Gu Ta Sian tetap terjaga. Mereka berusaha menjaga para pedagang serta murid-murid mereka.


Ini karena bisa saja di tengah-tengah malam yang damai akan ada serangan mendadak dari binatang liar, demonic beast, atau pun penjahat.


Xiao Shuxiang sendiri tidak ikut makan bersama, dia tertidur begitu pulas. Bahkan ketika Xiao Lu membangunkannya, dia sama sekali tidak bergeming. Ini membuat Xiao Lu cemberut sekaligus kesal. Anak perempuan itu akhirnya pergi ke kereta yang satunya, di mana teman-temannya berada.


Kali ini, Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu bisa melihat dengan jelas wajah anak-anak yang berbicara dengan mereka semalam. Ketiganya lalu berkenalan dengan Zong Ming dan Ying Liu.


Tidak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk bisa akrab dengan Zong Ming dan Ying Liu, sebab Jing Mi dan Xiao Lu memang anak yang cerewet dan mudah bergaul.


Qi Xuan sendiri adalah anak yang kaku dan sering kesulitan berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Namun karena ada Jing Mi yang cerewet, dia tidak lagi merasa kesulitan.


Zong Ming memiliki tinggi yang sama dengan Qi Xuan, serta umur yang sama dengannya. Rambut Zong Ming pendek, terlihat seperti mangkuk yang dibalik dan berwarna cokelat gelap.


Zong Ming memiliki wajah yang biasa-biasa saja, tidak bisa dibandingkan dengan wajah Qi Xuan apalagi wajah feminin Xiao Shuxiang.


Bahkan ada sebuah luka parut di pipi Zong Ming, tepat berada di pinggir atas bibir sebelah kanannya. Walau begitu, Zong Ming sama sekali tidak terlihat jelek.


Luka parut Zong Ming ini sebenarnya bisa disembuhkan dengan Qi atau pun pil, namun Zong Ming tidak melakukannya sebab dia menganggap bahwa luka di wajahnya ini begitu berharga.


Dia mendapatkan luka itu ketika menolong ibunya dari serangan demonic beast berwujud Serigala Bertanduk Perak.


Selain luka parut di wajahnya, Zong Ming juga memiliki beberapa luka parut di punggung dan juga perutnya. Semua luka parut itu adalah hasil dari setiap pertarungannya dan Zong Ming sangat bangga mendapatkannya.


Jing Mi dan Qi Xuan tidak bisa menahan keterkejutannya setelah mendengar asal mula parut di wajah Zong Ming. Apalagi saat Zong Ming memperlihatkan luka parut di perutnya, hal itu membuat Jing Mi dan Qi Xuan merinding ngeri.

__ADS_1


Luka yang ada di perut Zong Ming sangat besar, berada di samping kanan pusarnya dan tergaris naik hampir berada di bawah ketiaknya. Luka ini merupakan bekas sabitan pedang saat Zong Ming menjalankan misi menangkap penjahat.


"Kau hebat Saudara Zong! Jika itu aku... Mungkin aku tidak akan selamat." Jing Mi mengusap-usap kedua lengannya sebab dia merasakan bulu-bulu di lengannya berdiri.


"Waktu itu... Aku sudah pikir bahwa aku akan mati dengan tubuh terpotong dua. Tidak aku sangka masih hidup sampai saat ini..." Zong Ming menyentuh parutnya sambil menggelengkan kepala pelan.


"I-itu pasti sangat sakit..." Xiao Lu bergidik ngeri saat mendengar cerita Zong Ming dan melihat luka parutnya.


"Sebenarnya, saat perampok itu menyerangku... Aku tidak merasakan apa-apa. Aku baru merasakan sakit yang hebat saat darah mulai keluar dari bekas tebasannya. Itu merupakan pengalaman yang tidak akan bisa kulupakan..."


Dibanding dengan Zong Ming yang supel, Ying Liu lebih pendiam dan terkesan sulit untuk diajak bicara.


Ying Liu memiliki wajah sedikit tirus, berambut cokelat dengan panjang sebahu yang diikat pada ujung rambutnya.


Ying Liu hanya berbicara seadanya saja tanpa memberikan pertanyaan balik kepada Jing Mi atau pun Xiao Lu.


Zong Ming mengatakan bahwa Ying Liu sebenarnya adalah gadis yang suka berbicara dan tidak bisa diam. Hanya saja, dia sedikit kaku saat baru mengenal orang lain.


Zong Ming lalu bertanya mengenai pengalaman bertarung yang tak bisa dilupakan oleh Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu.


"Aku tidak pernah bertarung dengan demonic beast, tapi kalau hewan liar seperti b*bi hutan dan serigala, aku pernah bertarung dengan mereka saat di pondok nenek Tian. Walau pada akhirnya... aku harus naik ke atas pohon untuk bisa lepas dari kejaran mereka..." Qi Xuan tersenyum getir saat menceritakan pengalamannya.


Jing Mi sendiri menceritakan pengalaman bertarungnya kepada Zong Ming yang sangat membekas diingatannya. Itu adalah pergulatan antara dirinya dengan Hou Yong dan juga Xiao Shuxiang saat masih berada di desa.


Jing Mi juga menceritakan pergulatannya dengan Xiao Shuxiang ketika berada di Padang Rumput Kering.


"Selama ini, belum pernah ada anak yang mengalahkanku dalan gulat serampangan, kecuali saudara Xiao. Bahkan saat itu, aku kesulitan untuk bisa seimbang dengannya.." Jing Mi menggelengkan kepalanya sambil mengingat pergulatannya dengan Xiao Shuxiang selama ini.


Xiao Lu juga ikut melanjutkan ucapan Jing Mi, dia menceritakan saat di mana dirinya bertarung dengan adiknya, Xiao Shuxiang.


"... dia sangat lincah. Dengan tubuhnya yang kecil itu, dia bisa membuatku dalan posisi bertahan. Yang membuatku hampir jantungan adalah, saat Xiao'Er melemparkan pedang Jing Mi ke arah kaki-ku... dan itu hampir saja menusuk kaki cantik milikku.." Xiao Lu pucat saat membayangkannya.


Qi Xuan, "Bukan hanya itu. Saudara Xiao juga dengan berani melawan Serigala Bertanduk Perak seorang diri. Untuk anak yang memiliki dantian cacat, saudara Xiao adalah anak yang hebat."


Jing Mi mengangguk setuju dengan pendapat Qi Xuan. Mendengar ucapan ketiga teman barunya ini membuat Zong Ming dan Ying Liu penasaran dengan anak yang dimaksud tersebut.


"Dantian cacat...? Mungkinkah anak kecil yang bersama kalian itu...?" Zong Ming mengingat tentang anak kecil dengan luka di pundaknya.


"Eh? Bukankah harusnya kalian sudah berkenalan dengan saudara Xiao?" Jing Mi menaikkan sebelah alisnya sebab merasa keheranan dengan pertanyaan Zong Ming.


"Kami belum mengetahui namanya. Belum berkenalan..." Ying Liu menjawab dengan suara yang pelan.


"Begitu yaah, nanti biar kukenalkan saudara Xiao pada kalian... Dia anak yang baik. Tapi, kenapa saudara Xiao tidak bergabung dengan kita yah...? Apa mungkin dia masih tidur...?"


"Jing Mi, kau tidak tahu Xiao'Er saja... di saat seperti ini dia masih belum bangun..." Xiao Lu terlihat cemberut mengingat dirinya pergi ke tempat Xiao Shuxiang yang berada di kereta lain untuk membangunkannya.


Namun sesampainya di sana, Xiao Shuxiang sama sekali belum bangun. Bahkan dia terlihat tertidur pulas sambil mendengkur.


"Haaah.... Anak itu sangat susah dibangunkan. Padahal biasanya dia tidak seperti ini.." Xiao Lu memijat pelan keningnya.


Ji Mi, "Mungkin saudara Xiao terlalu lelah, karena itulah dia butuh tidur yang lebih banyak."

__ADS_1


"Aah... sepertinya begitu..." Xiao Lu mengangguk malas sambil berkata dengan pelan.


***


__ADS_2