
Xiao Shuxiang melihat enam orang pria terbaring kaku di tanah. Ada bekas luka sayatan pedang di tubuh dan leher mereka.
"Mereka terbunuh tanpa bisa melawan..."
Dia pun menyadari bahwa Jing Mi mematung dengan wajah pucat dan tubuh gemetaran, seketika Xiao Shuxiang menutup mata anak laki-laki itu dan mencoba menenangkannya.
Yang Shu juga melihat mayat enam orang pria tersebut. Dilihat dari pakaian mereka, enam orang itu adalah manusia biasa yang berprofesi sebagai pedagang.
Qi Xuan dan Xiao Lu tiba-tiba mundur ke belakang karena takut, tubuh mereka bergetar hebat. Ini pertama kalinya mereka melihat sesuatu yang mengerikan begini.
Xiao Lu bahkan kesulitan bernapas, pandangannya menggelap, dia merasakan darah mengalir deras naik ke kepalanya. Sedetik berikutnya, dia kehilangan kesadaran.
Qi Xuan sendiri menekan dadanya, dia merasakan jantungnya seperti akan keluar dari telinganya, dia tidak bisa berkata apa-apa, dia begitu ketakutan.
Xiao Shuxiang, "Kakek. Tenangkan Qi Xuan,"
Yang Shu tersentak, dia baru sadar bahwa muridnya terlihat ketakutan dengan wajah pucat sementara Xiao Lu sudah tidak sadarkan diri.
"Xuan'Er, tenanglah... Tidak apa-apa. Kakek di sini..." Yang Shu menenggelamkan wajah Qi Xuan dalam pelukannya sambil mengelus lembut kepala dan punggung muridnya itu.
Bagi anak-anak seperti Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu... pemandangan mengerikan seperti ini baru pertama kali mereka lihat. Tentu saja itu sangat mengguncang batin mereka.
"Saudara Jing, kau harus tenang. Bernapaslah pelan-pelan, Saudara Jing..." Xiao Shuxiang masih menutup mata Jing Mi sambil berusaha menenangkannya.
Yang Shu berdiri sambil menggendong Qi Xuan. Dia membawa muridnya itu ke tempat yang agak jauh dari mayat-mayat tersebut.
Saat Yang Shu ingin menurunkan Qi Xuan, ternyata muridnya sudah tidak sadarkan diri. Dia pun mulai membaringkannya dan kembali ke tempat yang tadi untuk membawa Xiao Lu, Jing Mi dan Xiao Shuxiang.
Di antara keempat muridnya, hanya Qi Xuan dan Xiao Lu yang tidak sadarkan diri. Jing Mi memang tidak pingsan, namun raut wajahnya begitu pucat dan tubuhnya masih gemetaran. Sementara Xiao Shuxiang berusaha untuk menenangkannya.
Yang Shu sebenarnya cukup kaget sebab Xiao Shuxiang tidak terlihat takut sama sekali, bahkan cucunya itu malah terlihat biasa-biasa saja saat menyaksikan mayat yang begitu mengerikan.
Namun Yang Shu tidak mau memikirkannya, dia harus fokus untuk menyadarkan Qi Xuan dan Xiao Lu.
"Xiao'Er? Apa Kakek bisa mempercayakan mereka kepadamu? Kakek akan pergi mengambil air..."
__ADS_1
Xiao Shuxiang mengangguk pelan sebagai jawaban. Yang Shu kemudian berjalan pergi meninggalkan keempat muridnya.
"Saudara Jing? Apa kau mendengarku?" Xiao Shuxiang melambai-lambaikan tangannya ke depan wajah Jing Mi, dia merasa bahwa anak ini tidak bisa mendengarnya karena terlalu terguncang.
Xiao Shuxiang menghembuskan napas pelan, pandangan matanya menatap pepohonan dan juga dedaunan. Dia lalu berbicara dengan suara yang tenang.
"Saudara Jing, apa yang kau lihat tadi... Hanya bagian terkecil dari dunia yang kejam ini..."
Xiao Shuxiang menjelaskan, "Peperangan yang berakhir pada pembunuhan dan pembantaian selalu menghiasi Dunia Kultivator. Tidak ada tangan mereka yang bersih dari darah, Saudara Jing. Bahkan anak seperti Feng Ying juga harus melumuri tangan mereka dengan darah dan melakukan pembunuhan."
Xiao Shuxiang lantas menepuk pelan pundak Jing Mi, "Kau harus terbiasa dengan hal semacam ini jika ingin menjadi Kultivator yang hebat..."
Jing Mi masih belum bisa menenangkan dirinya, namun dia mendengar semua yang diucapkan oleh Xiao Shuxiang.
Dia memang pernah mendengar dari pamannya dan juga Yang Shu, bahwa dunia kultivator penuh dengan pertumpahan darah. Namun tetap saja, menyaksikan dengan mata kepala sendiri sangat jauh berbeda dari mendengar sebuah cerita.
"Sa... Saudara Xiao...? A-apa kau... Tidak takut...?" Jing Mi bertanya dengan suara yang gemetaran.
Xiao Shuxiang terdiam. "Kapan aku pernah takut melihat mayat? Aku selalu berjalan di atas mayat-mayat yang pernah kubunuh, setiap langkahku dipenuhi oleh darah dan daging manusia serta monster. Jadi, kenapa aku harus takut?"
Jing Mi melihat ada keyakinan dan juga keberanian besar terpancar di dalam mata Xiao Shuxiang. Dia tidak menyangka anak sekecil ini bisa memiliki keberanian yang begitu besar, bahkan lebih besar darinya. Seakan-akan anak ini sudah terbiasa melihat hal mengerikan seperti tadi.
"Saudara Jing, kau bilang ingin menjadi Kultivator hebat, bukan? Mulai sekarang kau tidak boleh takut, kau harus membiasakan dirimu untuk melihat hal semacam itu."
Jing Mi menutup mata perlahan, menarik napas dalam lalu mengembuskannya pelan-pelan. Jantungnya masih berdegup sangat kencang, namun raut wajahnya sudah tidak terlalu pucat lagi.
"Saudara Xiao...? Apa be-benar yang kau katakan? Ba-bahwa tak ada tangan Kultivator yang bersih?" Jing Mi bertanya dengan suara yang masih gemetaran.
"Itu kenyataannya. Kalau melihat hal semacam ini saja kau takut... Sebaiknya kau lupakan saja impianmu untuk menjadi kultivator yang hebat," Xiao Shuxiang berucap pelan namun cukup mengena ke dalam hati Jing Mi.
Saat Jing Mi sedang memikirkan ucapan Xiao Shuxiang... Yang Shu terlihat berjalan mendekati mereka.
"Kakek membawakan air, ayo minumlah..." Yang Shu memberikan air kepada Jing Mi dan Xiao Shuxiang, "Bagaimana keadaanmu...?"
Jing Mi berusaha tersenyum, "Su-sudah lebih baik Guru..."
__ADS_1
"Syukurlah... Kau minumlah yang banyak dan tenangkan dirimu,"
Yang Shu kemudian memeriksa keadaan Qi Xuan dan Xiao Lu, "Mereka berdua juga tidak apa-apa, hanya tidak sadarkan diri saja."
Sambil menunggu, Yang Shu terus memperhatikan Xiao Shuxiang. Cucunya ini bahkan terlalu berani untuk melihat orang yang mati dengan mengenaskan.
"Gu-Guru...? Se-sebenarnya... Apa yang terjadi? Ke-kenapa mereka semua..." Jing Mi bertanya mengenai kejadian yang menimpa enam pria yang dia lihat, namun suaranya masih terdengar gemetar.
"Sepertinya mereka adalah para pedagang. Dilihat dari lukanya... mereka dirampok dan juga dibunuh."
Jing Mi merasa napasnya tercekat, wajahnya kembali memucat saat membayangkan mayat-mayat yang dia lihat sebelumnya.
Xiao Shuxiang dan Yang Shu kembali menenangkannya.
Cukup lama Yang Shu, Jing Mi dan Xiao Shuxiang menunggu Qi Xuan dan Xiao Lu bangun.
Saat Xiao Lu bangun, dia langsung berteriak sambil menangis. Kondisi itu membuat Yang Shu, Jing Mi dan Xiao Shuxiang terkejut.
"Te-tenanglah Lu'Er! Tenanglah..." Yang Shu menenangkan Xiao Lu, dia sebenarnya khawatir jika batin cucu perempuannya ini merasa tertekan saat melihat kejadian mengerikan tadi.
Berbeda dengan Xiao Lu yang berteriak----Saat Qi Xuan bangun, dia langsung mual bahkan terlihat muntah. Jing Mi dan Xiao Shuxiang berusaha membantu Qi Xuan dengan cara mengelus pelan punggungnya.
Butuh waktu untuk membuat Xiao Lu dan Qi Xuan tenang. Saat mereka bisa mengendalikan diri lagi... Yang Shu mulai menjelaskan apa yang seharusnya diketahui oleh murid-muridnya ini.
Semua penjelasannya sama dengan apa yang dikatakan oleh Xiao Shuxiang kepada Jing Mi.
"... Kakek sudah pernah menceritakan berulangkali kepada kalian selama di desa. Ini memang tidak baik, tapi Kakek harap kalian harus terbiasa..."
"Kakek...? Ke-kenapa harus ada pembunuhan, Kek? A-apa tidak bisa kita hidup dengan tenang dan damai...? Lu'Er tidak suka ji-jika seperti ini..." Xiao Lu terisak, dia sangat takut jika harus melakukan pembunuhan. "... Selama ini Lu'Er hanya mengayungkan pedang untuk menakut-nakuti. Tidak pernah ada maksud melukai atau pun sampai membunuh orang lain. Ka-Kakek..."
Yang Shu, "Lu'Er... Beberapa orang tidak mempunyai hati selembut dirimu. Mereka tidak akan segan membunuh siapa pun yang memghalangi jalan mereka. Semua orang memiliki hati yang berbeda-beda Lu'Er, tidak banyak orang yang memiliki pemikiran yang sama denganmu. Bukankag Kakek sudah sering sekali mengingatkanmu mengenai ini..."
Yang Shu menepuk pelan pundak Xiao Lu, "Kita akan beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kembali..."
Dia merasa harus memberikan waktu bagi murid-muridnya untuk lebih menenangkan diri.
__ADS_1
***