XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
389 - Bantuan


__ADS_3

Ling Qing Zhu dan Ling Jian Tou terkejut, keduanya tiba-tiba saja merasakan punggung mereka dingin. Suara tebasan barusan telah membuat tubuh mereka sulit untuk digerakkan.


"Kucing Putih, bagaimana keadaanmu?"


!!


Suara itu terdengar tidak asing bagi Ling Qing Zhu maupun Ling Jian Tou. Tidak salah lagi, suara tersebut adalah milik Xiao Shuxiang.


Sebelumnya, sebuah Cermin Pemindah muncul di dalam kamar--tempat di mana Xiao Shuxiang membahas tentang rencana pernikahannya pada kakek dan kedua orang tuanya.


Di kamar itu juga ada Lan Guan Zhi, Bocah Pengemis Gila dan teman-teman Xiao Shuxiang yang lain. Kedatangan Hu Li yang begitu tiba-tiba jelas saja mengejutkan. Apalagi dia dan O Zhan membawa kabar bahwa Sekte Pagoda Langit tengah dilanda kekacauan.


Hu Li tidak menjelaskan banyak hal, dia langsung menarik Tuan Muda Xiao-nya agar segera ikut dengannya. Lan Guan Zhi, Xiao Qing Yan, Lan Xiao, dan Bocah Pengemis Gila ikut di belakang mereka.


Beruntungnya, Xiao Shuxiang sempat memberi Yang Shu sebuah kertas segel agar nanti saat kakeknya ingin pergi ke Benua Tengah--mereka tidak perlu menaiki kapal layar lagi.


Ketika sampai di Sekte Pagoda Langit, Xiao Shuxiang dan teman-temannya tiba tepat di bawah salah satu pohon wilayah murid luar. Mereka dengan jelas mendengar suara seorang pria yang berkata bahwa dirinya abadi.


Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan Bocah Pengemis Gila seketika mendongak ke atas bersamaan dengan sebuah tongkat sabit berwarna merah menghilang tiba-tiba dan muncul tepat di belakang tubuh dua orang murid Sekte Pagoda Langit yang dikenal oleh ketiganya.


Tanpa aba-aba, Xiao Shuxiang dan kedua temannya ini melesat untuk menahan serangan tersebut. Bocah Pengemis Gila menggunakan tongkat bambu hitamnya dan itu menghasilkan suara nyaring bagai dua senjata tajam yang beradu.


Lan Guan Zhi sendiri menahan sabit tersebut dengan pedang pusakanya, Shǎndiàn. Tidak seperti teman baiknya yang menggunakan lengan kanan untuk menangkis serangan itu.


Suara bagai tubuh tertebas yang didengar oleh Ling Qing Zhu dan Ling Jian Tou tidak lain berasal dari lengan kanan Xiao Shuxiang. Koki Alkemis tersebut sedikit meringis karena sabit yang dirinya tahan seperti menyentuh tulangnya.


Bocah Pengemis Gila juga kaget saat melihat tindakan Xiao Shuxiang ini. Dia sampai membentak pemuda tersebut.


"Apa kau bodoh? Kenapa kau menggunakan lenganmu? Bukankah kau punya senjata?!"


Mereka baru tiba dan pemuda di sampingnya ini sudah terluka. Benar-benar… Bocah Pengemis Gila sangat ingin menendang bokong orang ini sekarang juga!


Xiao Shuxiang, "Hmph, rasa sakit dibutuhkan untuk menjadi pengingat bahwa aku masih bisa mati," bibirnya tertarik dan membentuk senyuman.


Entah ada yang menyadarinya atau tidak--tetapi saat merasakan sakit, mata Xiao Shuxiang seperti memancarkan kobaran semangat. Belum lagi, dirinya jauh lebih mempesona saat terluka dibanding dengan tampilannya yang biasa.


Ling Qing Zhu tersenyum samar di balik cadar tipisnya. Dia sebelumnya sudah mengatakan pada sepupunya, Ling Jian Tou bahwa pelindungnya pasti akan datang. Dan sekarang orang yang ditunggu-tunggu itu telah tiba di waktu yang sangat tepat.


!!


Tidak seperti Ling Qing Zhu--Pangeran Sabit Kematian nampak tersentak saat tahu bahwa serangan dari senjatanya ditangkis oleh tiga orang asing yang entah datang dari mana.


"Penganggu," Pangeran Sabit Kematian berdecak kesal. Dia mengulurkan sedikit tangannya yang detik itu juga.. Senjata miliknya telah berada digenggamannya.


Xiao Shuxiang berbalik saat senjata sabit yang dirinya tahan bersama Lan Guan Zhi dan Bocah Pengemis Gila menghilang. Tatapan matanya lalu tertuju pada sosok pria yang di wajahnya terdapat bekas parut.


Xiao Shuxiang menyentuh pundak Ling Qing Zhu dan lalu berujar pelan, "Kau sudah bekerja keras. Pergi dan beristirahatlah, biar kami yang mengurus sisanya." dia menepuk-nepuk pelan pundak Ling Qing Zhu hingga membuat gadis itu menatap ke arahnya.


"Aku masih bisa bertarung."


"Aku suka gadis yang kuat, tapi kau tak harus memaksakan diri. Kau bisa sekali-kali bersikap lemah dan biarkan aku melindungimu, mengerti..?"


Xiao Shuxiang begitu serius, ucapannya seolah memang berasal dari dalam hatinya. Itu bahkan tersampaikan dengan jelas dari ekspresi wajah serta tatapan matanya yang begitu lembut.


"Aku.. Tidak memaksakan diri." Ling Qing Zhu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia terganggu melihat Wali Pelindungnya bersikap penuh perhatian seperti ini.


Xiao Shuxiang sendiri malah tersentak mendengar ucapan gadis di sampingnya. Dia mengembuskan napas pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kucing Putih, aku sudah mengucapkan hal romantis yang sudah kulatih diam-diam bahkan begitu luar biasa sampai aku dapat jatuh hati pada diriku sendiri.. Tapi kenapa kau tidak merasakannya?"


"Mn?" Ling Qing Zhu menatap Wali Pelindungnya saat mendengar ucapan pemuda itu. Alisnya sedikit naik dan ini membuat pemuda di sampingnya mendengus pelan.


"Kau gadis yang menyebalkan, tidak berperasaan, dan bahkan tidak peka. Keterlaluan.. Kau baru saja menginjak wajah Xiao Shuxiang,"


"Kapan aku menginjak wajahmu?" Ling Qing Zhu begitu serius bertanya dan ucapannya ini membuat Xiao Shuxiang spontan mengayunkan Yīng xióng ke arah Pangeran Sabit Kematian sambil terus memandang Kucing Putihnya.


!!


Pangeran Sabit Kematian terkejut kala mendapat serangan yang tiba-tiba. Satu ayunan Yīng xióng menghasilkan lima buah serangan dan dirinya hanya mampu menangkis dua.


Tiga serangan lainnya mengenai Pangeran Sabit Kematian hingga dia terpental cukup jauh. Kejadian ini juga membuat Bocah Pengemis Gila yang tubuhnya perlahan turun menjadi terkejut hingga tidak sadar membuka mulut karena terlalu terpukau.


Lan Guan Zhi dan Ling Jian Tou ikut terkejut. Mereka tidak menyangka Xiao Shuxiang dapat memberi serangan kejutan pada lawan dengan cara yang tidak biasa seperti ini.


"'Menginjak wajah' hanyalah ungkapan, Kucing Putih.." Xiao Shuxiang begitu gemas dan ingin sekali mencubit keras pipi gadis di sampingnya. Dia jadi merasa bahwa Kucing Putihnya bertarung terlalu lama hingga isi kepalanya sedikit bergeser.


Ling Qing Zhu menyadari rasa frustrasi Wali Pelindungnya tersebut. Dia mengerti apa yang dikatakan Xiao Shuxiang, termasuk kalimat yang benar-benar menyentuh hatinya. Namun rasanya menarik bila dia sendiri bisa membuat pemuda ini kehilangan ketenangannya.


Tangan Ling Qing Zhu terulur dan menyentuh pipi kiri Xiao Shuxiang, ekspresi wajah serta tatapan matanya tetap sama, yakni dingin, tenang, berwibawa, dan lembut secara bersamaan.


Xiao Shuxiang sebenarnya kaget dengan tindakan Kucing Putihnya ini, dia sampai tidak tahu harus melakukan apa. Mungkinkah dirinya memegang tangan yang menyentuh pipinya? Atau dirinya mengeluarkan suara dan memberi komentar bahwa tangan Kucing Putihnya terasa dingin.


Pada akhirnya, Xiao Shuxiang hanya diam sambil memandang ke arah Ling Qing Zhu tanpa kehilangan kewaspadaan terhadap lawan yang mungkin saja akan menyerangnya tiba-tiba.


"Kau.. Pantas,"

__ADS_1


?!


"Mn? Pantas? Pantas apa?" Xiao Shuxiang mengerutkan kening kala mendengar ucapan singkat gadis di depannya ini.


Ling Qing Zhu menepuk pelan pipi Wali Pelindungnya dan kemudian melesat turun untuk berkumpul kembali dengan Hu Li, Xiao Qing Yan, serta Lan Xiao.


Xiao Shuxiang berkedip beberapa kali karena tidak mendapat jawaban dari gadis yang menurutnya aneh itu. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kucing Putih itu sebenarnya bicara apa? Aku pantas apa? Pantas mati? Pantas menjadi cincangan daging? Pantas menjadi debu? Pantas apa?!"


Tidak bisa dimengerti, Ling Qing Zhu hanya mengucapkan dua kata dan kemudian pergi tanpa menjelaskan apa pun. Xiao Shuxiang yang seumur hidupnya bisa membaca setiap ekspresi wajah para gadis bahkan tidak mampu bila harus membaca ekspresi papan datar milik Kucing Putihnya.


".. Haah.. Sebenarnya anak itu benar-benar suka padaku atau tidak? Biasanya seorang gadis akan malu-malu atau paling tidak suaranya sedikit gemetar, salah tingkah atau apa saat bicara dengan pemuda yang disukainya, tapi Kucing Putih.. Sikapnya barusan seolah aku ini anaknya. Benar kan?"


Pemuda berwajah menawan ini mulai lagi. Dia seperti bicara sendiri tetapi ujung-ujungnya meminta pendapat Lan Guan Zhi, bahkan termasuk meminta pendapat pada Pangeran Sabit Kematian yang notabenenya adalah pengacau di sekte ini.


"Nona Ling suka padamu," Lan Guan Zhi baru buka suara. Sejak tadi dirinya hanya diam karena ingin memberi kesempatan pada teman baiknya untuk bicara pada Ling Qing Zhu.


"Kau jangan bercanda, Lan Zhi. Bagaimana bisa kau tahu Kucing Putih menyukaiku..?" Xiao Shuxiang menggelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. ".. Lupakan saja. Dia memang-!"


Xiao Shuxiang tersentak saat tiba-tiba Lan Guan Zhi memegang pundak kirinya dan membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan teman baiknya ini.


Lan Guan Zhi menyentuh pipi Xiao Shuxiang seperti meniru apa yang dilakukan Ling Qing Zhu tadi, hanya saja dia sedikit mengusap-usap lembut pipi teman baiknya itu dengan ibu jari tangan.


"Aku tahu.. Saat dia melakukan ini.." suara Lan Guan Zhi terdengar rendah, tatapan matanya melembut dan seakan mampu membawa seseorang pada kedamaian.


Bocah Pengemis Gila yang melihat kejadian tidak terduga ini nampak menyentuh pipinya karena terasa panas. Sebagai pemuda dengan perilaku menyimpang--pemandangan ini adalah hal yang romantis, tidak seperti Pangeran Sabit Kematian yang malah merasa jijik sampai-sampai ingin muntah.


Baru saja ingin menyerang.. Pangeran Sabit Kematian seketika mendengar suara salah satu rekannya yang mengatakan bahwa target mereka telah ditemukan.


[".. Aku dan Miao Gang yang akan mengurusnya, sementara kau bunuh sebanyak mungkin murid dan kali ini jangan bermain-main lagi," ]


Suara tersebut hanya didengar oleh Pangeran Sabit Kematian, dia sedikit menggerakkan kepalanya karena terasa pegal. "Aku baru saja akan menebas pasangan homo dan kau mengacaukannya..!"


["Hm? Pasangan apa?" ]


"Sudah. Fokus saja pada pertarunganmu,"


Pangeran Sabit Kematian mulai akan menyerang saat seseorang lebih dulu menerjangnya dan membuat dirinya terpental cukup jauh.


"Aku tahu kau penjahat, tapi cobalah bersikap baik sedikit. Lan'Er Gege berada dalam tingkat menawan yang tertinggi, aku sampai ingin menangis melihat betapa lembut sikapnya pada Bocah nakal dan menyebalkan itu. Aku sebenarnya sangat iri, tapi aku tidak mau mengganggu mereka. Jadi lebih baik kau menghadapiku saja,"


Tubuh Pangeran Sabit Kematian menghilang tiba-tiba dan muncul di jarak 15 meter dari tempat di mana Bocah Pengemis Gila melayang turun.


Pemuda dengan tongkat bambu hitam tersebut menapak mulus di puncak sebuah pohon. Kedua kakinya berpijak pada dedaunan, sama seperti yang dilakukan Pangeran Sabit Kematian.


Bila ingin dikatakan, sebenarnya Bocah Pengemis Gila lebih dikenal dari riasan wajahnya yang mirip hantu gantung. Pangeran Sabit Kematian pun akan mengenalinya andai dia memakai riasan itu, tetapi saat ini wajah Bocah Pengemis Gila berada dalam kondisi bersih nan tampan.


"Kuperhatikan dengan baik usiamu ini masih sangat muda. Kenapa kau mau menikmati hidup sebagai penjahat? Apa kau tidak bisa hidup seperti aku?"


Bocah Pengemis Gila mengoceh dengan niatan ingin mengubah pemikiran lawannya supaya tidak melakukan sesuatu yang bisa merugikan diri sendiri.


".. Aku punya prinsip bahwa orang sepertimu juga layak mendapat kesempatan untuk berubah. Sia-sia saja bila kau harus bertarung dengan nyawamu sebagai bayarannya,"


"Hmph. Tidak perlu menceramahiku. Sebaiknya kau bersiap dan mati di ujung sabitku sekarang juga."


Pangeran Sabit Kematian melempar senjatanya dengan kecepatan yang tinggi, namun begitu mudahnya Bocah Pengemis Gila menangkis senjata itu bahkan tanpa melihat arah di mana serangan tersebut datang.


Setelah ditangkis oleh lawan, senjata itu kembali ke tangan Pangeran Sabit Kematian.


Bocah Pengemis Gila mengatur posisi dan kembali bicara, "Dibandingkan 'dia', aku ini orang yang baik. Aku dapat mengampunimu dan menganggap apa yang kau lakukan tidak pernah terjadi. Sangat berbeda 'dengannya' yang bahkan menganggap kematian terlalu indah untukmu,"


"Hah, kau ingin mengampuniku? Tapi aku tidak berbuat kesalahan, jadi bagaimana kau bisa mengampuniku,"


Pangeran Sabit Kematian terlihat begitu angkuh, dia memain-mainkan senjatanya dan kemudian melesat ke arah Bocah Pengemis Gila. Serangannya cepat dan mematikan, namun tetap saja lawannya seolah dapat menghindar dengan mudah.


"Hanya orang yang begitu cintanya pada darah dan daging manusia yang akan menolak bahwa dirinya telah berbuat kesalahan. Lihatlah sekitarmu, apa kau pikir kekacauan ini tercipta sendiri?"


Bocah Pengemis Gila menangkis bagian luar senjata sabit lawan, tongkat bambunya benar-benar keras hingga benturan seperti dua pedang beradu nampak terdengar jelas.


Dirinya menggunakan daun yang diterbangkan angin sebagai pijakan untuk melentingkan tubuhnya dan menyerang lawan dari atas.


"Aku memang suka membuat kekacauan. Aku bahkan suka makan daging makhluk sepertimu. Kakacauan ini.. Masih belum seberapa," Pangeran Sabit Kematian tersenyum saat senjatanya kembali berbenturan dengan tongkat bambu Bocah Pengemis Gila.


Senyuman Pangeran Sabit Kematian semakin melebar hingga merobek bibirnya. Dia terlihat senang kala lawannya memasang ekspresi wajah penuh keterkejutan.


"Malam masih panjang dan aku belum membantai banyak orang, jadi mari bertaruh. Seberapa cepat kau bisa melindungi mereka semua..!"


!!


Tongkat dari senjata Pangeran Sabit Kematian seketika berubah menjadi rantai dan langsung menerjang secara liar hingga mengenai beberapa bangunan, termasuk pohon.


"Awas..!!"


BAAAM..!

__ADS_1


!!


Para murid luar Sekte Pagoda Langit masih banyak yang belum pergi ke tempat yang aman. Serangan dari Pangeran Sabit Kematian telah melukai lebih dari sepuluh orang di antara mereka.


!!


Bocah Pengemis Gila terkejut, dia tidak bisa mengerahkan cukup banyak kekuatan karena efeknya dapat membahayakan orang-orang yang ingin dirinya lindungi.


Pangeran Sabit Kematian malah tertawa keras dan semakin gencar melakukan serangan secara membabi buta. Dia sama sekali tidak peduli dengan kondisi sekitarnya atau menaruh belas kasihan pada para murid yang tengah berlarian menyelamatkan diri.


"Malam yang indah..! Malam yang indah untuk kehancuran sekte ini..!" seruan dari Pangeran Sabit Kematian terdengar sangat bersemangat disertai dengan betapa cepat gerakannya dalam mengayunkan senjata.


Di tempat lain, kekacauan juga dibuat oleh Pendekar Cambuk Darah. Dia bertarung dengan Ling Lang Tian tanpa menahan kekuatannya. Banyak kediaman yang sudah hancur dan bahkan tanah ikut terkena imbas pertarungannya.


BLAAAAR..!


Serangan terkuat Pendekar Cambuk Darah dialihkan Ling Lang Tian ke arah atas hingga membentur segel pelindung Sekte Pagoda Langit. Suara bagai memecah langit tersebut terdengar keras hingga membuat tanah bergetar.


"Sektemu memiliki segel pelindung yang hebat, bahkan serangga pun sulit memasuki sekte ini. Tapi.. Kau yakin tidak apa? Sektemu bisa rata dengan tanah bila bantuan tidak juga datang,"


Suara Pendekar Cambuk Darah terkesan sedang meledek Ling Lang Tian. Dia memang benar, segel pelindung Sekte Pagoda Langit tidak mudah ditembus oleh penyusup, tetapi bukan berarti segel ini bisa meloloskan satu orang murid untuk keluar dan mencari bantuan.


Benar. Segel Sekte Pagoda Langit telah berada dalam kendali sosok berjubah hitam dan bertopeng rubah yang berdiri tenang pada salah satu bangunan tertinggi di Kota Bintang Biduk.


Sosok tersebut telah membuat semua makhluk di tiga kota tertidur nyenyak hingga tak seorang pun dapat merasakan ada kekacauan di Sekte Pagoda Langit.


"Mereka berempat kenapa lama sekali.." sosok berjubah hitam nampak bergumam pelan, ".. Aku hanya memberi perintah untuk menculik seorang anak kecil, bukan satu sekte. Apa perlu aku yang turun tangan sendiri.."


Jubah sosok tersebut nampak dilambai-lambaikan angin, tiga api biru kecil mulai muncul di sekitarnya dan melayang naik-turun secara perlahan. Mereka seperti mengatakan sesuatu pada sosok di depan mereka.


Selain orang-orang di Sekte Pagoda Langit--semua penduduk di Kota Bintang Biduk telah tertidur sangat lelap, tidak terkecuali mereka yang notabenenya adalah kultivator. Bukan hanya itu, tetapi kejadian yang sama juga terjadi pada dua kota terdekat. Sosok berjubah hitam inilah pelakunya.


Dia menggunakan tiga api biru kecilnya untuk membakar masing-masing satu stik dupa di tiga kota yang berbeda. Efeknya begitu luar biasa bahkan sampai mampu menyebar ke setiap sudut kota.


"Jika sampai dini hari mereka belum kembali, maka akan kubuat keempat orang itu menjadi makanan keledai,"


BLAAAR..!


Sudah beberapa kali dia mendengar gemuruh petir, sosok berjubah hitam itu tidak punya waktu menghitungnya. Dia hanya memikirkan keempat bawahannya yang saat ini sedang mengacau di Sekte Pagoda Langit.


Di tempat lain, suara keras juga sangat didengar oleh Xiao Shuxiang. Pemuda itu masih bersama teman baiknya dan saat ini mereka nampak serius.


"Dilihat dari kekacauan yang terjadi.. Penyusup itu tidak peduli dengan nyawa orang lain.." Xiao Shuxiang memegang tangan Lan Guan Zhi yang kemudian memindahkan Gelang Semestanya pada teman baiknya ini.


"Aku harus merepotkanmu lagi, Lan Zhi.."


"Mn, bukan masalah." Lan Guan Zhi bisa merasakan lengan kirinya menghangat, ini berasal dari tulisan keemasan yang pindah dari lengan Xiao Shuxiang menuju ke lengannya.


"Berhati-hatilah, Lan Zhi.."


"Kau juga," Lan Guan Zhi segera melesat ke arah para murid dan memasukkan mereka semua ke dalam Gelang Semesta tanpa memberi penjelasan apa pun.


Xiao Shuxiang sendiri pergi menuju ke tempat di mana Bocah Pengemis Gila bertarung sengit dengan Pangeran Sabit Kematian. Dia ikut menyerang penyusup itu tepat di titik butanya.


!!


Pangeran Sabit Kematian tidak bisa menghindari serangan yang tiba-tiba saja datang. Dia terpental dan menghantam atap salah satu bangunan hingga roboh, tulang rusuknya seperti baru saja dipatahkan.


"Sialan..!" Pangeran Sabit Kematian terbatuk darah, dia menggeram dengan wajah yang begitu kesal. Dirinya lalu melesat naik tanpa peduli dengan sakit pada tubuhnya.


".. Menyerang dengan cara yang kotor, apa ini ajaran Aliran Putih, huh?"


Xiao Shuxiang malah tersenyum mendengar ucapan lawannya, "Kapan aku pernah bilang bahwa aku berasal dari Aliran Putih? Kau sudah salah mengerti,"


Dengan Yīng xióng yang telah berada di tangan kanannya, Xiao Shuxiang menerjang Pangeran Sabit Kematian dan mengambil alih pertarungan tanpa membiarkan Bocah Pengemis Gila ikut serta.


Serangannya kuat dan tajam, Xiao Shuxiang juga seperti menggila. Dia tidak membiarkan lawannya mengambil posisi apalagi bernapas. Dirinya bahkan bisa mengelak dengan cepat hingga pakaian dan kulit tubuhnya tidak terkena goresan dari senjata musuh.


BAAAM..!


Hanya sekali Xiao Shuxiang terluka dan itu adalah awal pertama kali dirinya datang lalu menangkis sabit dari musuh. Berikutnya hingga dua puluh serangan dilancarkan--dirinya tidak lagi menderita luka.


"Bagaimana? Apa kau suka?" seringaian Xiao Shuxiang tidak kalah menakutkan. Dia mungkin tidak bisa merobek pipinya saat menyeringai, tetapi dirinya bukanlah amatir bila menyangkut soal seringaian yang jahat. Dia jelas sudah berpengalaman melakukannya.


TRAANG!


"Siapa kau sebenarnya?!" Pangeran Sabit Kematian penasaran dengan identitas Xiao Shuxiang. Dia selama ini terkenal sebagai pendekar dengan gerakan yang sangat cepat, tetapi mengapa dirinya bisa sampai kalah oleh pemuda ini? Benar-benar tidak bisa dipercaya.


Jawaban dari pertanyaannya malah sebuah senyuman yang licik, ini membuat Pangeran Sabit Kematian tersentak sekaligus merasa terganggu. Belum lagi mata lawannya berkilat merah dan detik berikutnya menyerang dirinya secara brutal.


!!


Bocah Pengemis Gila berseru, "Shuxiang! Tahan Kekuatanmu! Kau Dapat Membuat Tempat Ini Hancur..!" dia panik saat teman baik Lan'Er Gege-nya itu bertarung dengan penuh kesungguhan.


"Xiao Shuxiang..!!"

__ADS_1


!!


***


__ADS_2