XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
26 - Desa Peristirahatan [Revisi]


__ADS_3

"Aku sangat kenyang...!" Jing Mi tersenyum puas sambil mengusap-usap perutnya yang sedikit membesar.


Saat ini dia, Xiao Shuxiang, Qi Xuan, Xiao Lu dan Yang Shu berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Ada dua buah tempat tidur di dalam ruangan ini, di mana Xiao Shuxiang terlihat tertidur pada salah satunya.


"Tidak biasanya Saudara Xiao cepat tidur. Biasanya dia melakukan latihan malam," Jing Mi melihat Xiao Shuxiang tertidur sangat nyenyak.


Yang Shu, "Biarkan saja. Xiao'Er sepertinya sangat kelelahan. Kalian juga sebaiknya tidur, besok pagi kita masih harus melanjutkan perjalanan,"


"Kakek, jadi kita hanya menginap di sini semalam...?" Xiao Lu merasa bahwa dia masih ingin menginap.


"Perjalanan kita masih panjang, Lu'Er. Dan uang kita tidak akan cukup jika masih tetap tinggal di desa ini.."


Xiao Lu mendengar ucapan Yang Shu dan menjadi sedikit cemberut. Jing Mi yang juga mendengar ucapan gurunya ini mendadak menyadari sesuatu.


"Guru jangan khawatir tentang uang," Jing Mi berujar. "Aku bisa membunyikan perutku lagi nanti. Mereka pasti memberiku kepingan perak."


Xiao Lu menjadi bersemangat, "Itu benar! Bunyi dari perut Jing Mi bisa menghasilkan uang. Kita akan melakukannya lagi hari ini."


Qi Xuan mengangguk setuju.


Yang Shu menghela napas, "Kalian anak-anak yang baik. Dengarkan guru, apa yang kalian lakukan itu adalah mengemis."


??


"Mengemis? Apa itu?" Xiao Lu, Qi Xuan dan Jing Mi mengerutkan kening. Jelas ketiganya masih amat polos. Mereka terlihat begitu serius mendengarkan Yang Shu.


Ketiganya tertunduk sedih saat Yang Shu memberi penjelasan.


"... Banyak orang yang tidak punya pilihan lain lagi. Mereka hanya bisa berharap pada tangan orang lain. Kalian masih muda, jadi jangan pernah berpikiran melakukan itu lagi."


Xiao Lu, "Jadi mengemis itu tidak baik?"


Yang Shu, "Mn dan lebih tidak baik lagi jika dilakukan oleh anak-anak seperti kalian."


Qi Xuan, "Tapi Guru... Kenapa Anda memuji perbuatan kami saat itu?"


"Kalian pertama kali melakukannya dan tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya Kakek tidak memberi teguran. Sekarang kalian tidurlah, pagi-pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan kembali."


"Baik,"


Yang Shu tidur bersama dengan Xiao Lu, sementara Jing Mi dan Qi Xuan tidur bersama dengan Xiao Shuxiang. Mereka berlima tampak sangat pulas sekali tertidur.


Keesokan paginya, Yang Shu dikejutkan dengan teriakan Xiao Lu. Bukan hanya cucunya, namun juga Qi Xuan dan Jing Mi bangun secara tiba-tiba sambil berteriak.


Xiao Lu, Qi Xuan dan Jing Mi bermimpi buruk, mereka memimpikan tentang mayat-mayat yang mereka temui di dalam hutan.


Ketiganya mencoba untuk menenangkan diri, terlihat keringat dingin membasahi kening dan pipi mereka.

__ADS_1


Yang Shu menenangkan ketiga murid-muridnya, dia menempatkan Qi Xuan, Jing Mi dan Xiao Lu ke sebuah tempat tidur. Yang Shu memberikan mereka minum satu persatu.


"Kakek... hah hah.. Aku... sangat takut.." napas Xiao Lu tidak beraturan, dia bisa merasakan bahwa tangannya gemetaran. Ingatan itu sangat mengerikan, bahkan hampir saja Xiao Lu muntah saat membayangkannya.


Yang Shu, "Tidak apa-apa. Sekarang semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir... Kakek ada di sini,"


Xiao Shuxiang perlahan membuka matanya, dia tidak mendengar teriakan dari Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu tadi, makanya saat dia bangun----dia terlihat bingung sebab raut wajah ketiga teman seperguruannya itu nampak pucat.


"Kalian... Kenapa...?" Xiao Shuxiang mengusap-usap wajahnya sambil turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil meminum segelas air.


"Kami... bermimpi buruk," Qi Xuan menjawab ucapan Xiao Shuxiang dengan suara yang sedikit gemetaran.


Xiao Shuxiang mengangguk, "Mm... memang tidak mudah untuk melupakan hal yang begitu mengerikan apalagi itu pertama kali kalian melihatnya. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Apa pun yang terjadi kemarin, jangan biarkan itu mempengaruhi kalian di hari ini."


Yang Shu memperhatikan Xiao Shuxiang yang nampak menguap, bocah laki-laki itu masih sangat mengantuk. Rasanya seperti ucapan yang dikatakan anak tersebut adalah kata-kata bijak yang bahkan tidak dipikirkan sama sekali.


Setelah Xiao Lu, Qi Xuan dan Jing Mi sudah membaik.. Yang Shu kemudian mengajak keempat muridnya untuk bersiap-siap.


*


*


"Kita ke tempat pedagang bekas dulu untuk membeli pedang. Pedang Kakek dan Mi'Er sudah tidak ada," Yang Shu berjalan diikuti keempat muridnya.


Xiao Shuxiang sendiri tidak mengeluhkan hal ini meski jauh di dalam hatinya dia sangat ingin merutuki Yang Shu. Membeli pedang di penjual barang bekas?! Oh ya ampun! Tidak mungkin ada kultivator yang memikirkan hal itu. Tetapi Tua Bangka ini...?! Haiih, Xiao Shuxiang. Kau kehabisan kata-kata.


Yang Shu mengelus pelan kepala Xiao Lu, "Untuk saat ini uang Kakek hanya bisa membeli dua buah pedang. Jika kakek membelikanmu pedang yang baru, kita tidak akan punya bekal untuk membeli makanan."


Dada Xiao Shuxiang, Jing Mi dan Qi Xuan terasa sakit mendengarnya. Xiao Lu sendiri nampak cemberut, namun dia mengerti bahwa saat ini lebih baik menghemat uang untuk bekal perjalanan mereka. "Baiklah, Kek.."


Yang Shu dan keempat muridnya menemui salah satu pedagang barang bekas. Sepanjang jalan begitu sangat ramai, bahkan lebih ramai dari pasar di desa mereka.


Pedang yang dibeli oleh Yang Shu hanyalah pedang tua biasa, tidak ada hal istimewa apa pun pada pedang ini dan dia juga tidak butuh waktu lama bagi untuk memilih pedang. Ini karena saat Yang Shu memanggil pemilik toko tersebut, pria itu segera memberikan pedang sesuai yang dipesannya.


Pria ini bahkan memberikan potongan harga kepada Yang Shu, seakan-akan Yang Shu adalah orang yang begitu akrab dengannya.


"Kalau begitu, Aku dan murid-muridku pamit dulu..." Yang Shu berpamitan dengan sang pemilik toko.


"Hati-hati di jalan!" Pria tua itu melambaikan tangannya ke arah Yang Shu dan keempat muridnya.


Xiao Shuxiang bertanya tentang hubungan Yang Shu dan pemilik toko barang-barang bekas tersebut. Benar saja, pemilik toko itu bisa dibilang cukup mengenal Yang Shu.


Yang Shu dan keempat muridnya berjalan-jalan di sepanjang desa. Menurut Jing Mi, desa ini bahkan lebih ramai daripada semalam.


Banyak yang menjual aneka manisan dan juga mainan. Xiao Lu dan Jing Mi terlihat berlarian sambil melihat satu persatu dagangan di sepanjang jalan.


Xiao Shuxiang bersama dengan Qi Xuan berjalan pelan didekat Yang Shu, mereka berdua ikut mengamati tingkah kedua temannya itu.

__ADS_1


"Tetua, setelah melewati desa ini. Apakah kita sudah sampai di tempat tujuan?" Qi Xuan mendongak saat bertanya kepada Yang Shu.


"Setelah melewati desa, kita harus kembali melewati hutan dan kemudian memasuki kota."


Qi Xuan sedikit tersentak, dia sebenarnya sudah tidak ingin melewati hutan lagi karena tidak ingin bertemu dengan mayat mengerikan. Meskipun Qi Xuan sudah memantapkan hati untuk tidak takut, namun dia tidak yakin akan mudah terbiasa jika melihat seperti itu lagi.


Yang Shu menyadarinya, dia lalu mengusap pelan kepala Qi Xuan, "Jangan takut. Kali ini kita tidak akan masuk ke dalam hutan hanya berlima saja. Akan ada para pedagang yang juga ikut. Bersama-sama kita akan pergi menuju ke kota besar."


Qi Xuan merasa lega saat mendengar penjelasan Yang Shu. Dia lalu menyusul Jing Mi dan Xiao Lu yang sedang asyik melihat-lihat mainan.


"Xiao'Er...? Kau tidak ikut bersama mereka...?" tanya Yang Shu sambil mengusap pelan kepala Xiao Shuxiang.


"Tidak Kek, aku sebaiknya di sini saja."


Yang Shu kemudian mengajak keempat muridnya untuk makan di salah satu kedai.


Mereka berlima duduk di bangku yang ada di luar kedai tersebut.


Jing Mi, Xiao Lu dan Qi Xuan terlihat seru mengobrol. Mereka membicarakan tentang perbedaan tempat ini dengan tempat tinggal mereka. Yang Shu dan Xiao Shuxiang hanya mendengarkan ketiganya.


"Aku tadi melihat ada orang memakai pakaian yang sama dengan kita, dan dia juga membawa pedang diikuti oleh beberapa anak. Apa mereka juga seperti kita, Guru?" Jing Mi begitu antusias saat bertanya kepada Yang Shu.


"Selain kalian, ada banyak pendekar yang ikut dalam Turnamen Kultivator Muda dan beberapa dari kultivator itu singgah di desa ini."


Yang Shu dan keempat muridnya sambil menunggu makanan tiba, mereka memperhatikan beberapa orang yang juga ikut mampir dan duduk di bangku dekat mereka. Beberapa di antaranya memakai seragam yang berwarna sama dan terlihat membawa pedang.


Xiao Lu dan Qi Xuan agak gugup saat melihat tatapan aneh dari beberapa pendekar di dekat mereka. "Kakek, kenapa mereka menatap kita seperti itu...? Apa ada daun di pakaianku...?" Xiao Lu merasa bahwa tatapan para pendekar tersebut diakibatkan oleh daun yang tertempel pada pakaiannya.


Jing Mi dan Qi Xuan memperhatikan pakaian Xiao Lu mulai dari depan hingga belakang punggungnya. "Tidak ada daun di pakaianmu Kakak Lu Yang Cantik, tidak ada." Ucap Jing Mi yang di-iyakan oleh Qi Xuan.


"Tapi kenapa mereka menatap kita seperti itu?"


Jing Mi dan Qi Xuan ikut memperhatikan tatapan para pendekar yang duduk tidak jauh dari mereka. Dan seketika Jing Mi menyadari bahwa tatapan mereka ternyata mengarah kepada pakaian Yang Shu.


Terlihat beberapa tambalan di pakaian Yang Shu, ini diakibatkan saat Guru mereka melawan Serigala Bertanduk Perak di dalam hutan.


Yang Shu menyadari hal yang sama, dia lalu mengelus pelan kumis dan janggutnya. "Sepertinya Nenek Tian tidak bisa menjahit pakaian dengan baik," gumammnya yang cukup didengar oleh Xiao Shuxiang.


Qi Xuan, Xiao Lu dan Jing Mi menggeleng sambil memijat kening mereka. Mereka baru menyadari bahwa di pakaian Yang Shu terdapat beberapa tambalan.


Xiao Shuxiang sendiri berusaha menahan tawanya saat menyadari bahwa para kultivator yang melihat mereka menggeleng sambil tersenyum tipis.


Samar-samar Xiao Shuxiang mendengar suara beberapa anak seperti sedang membicarakannya.


Suara itu terdengar di belakangnya, Xiao Shuxiang kemudian menoleh dan melihat tiga orang anak laki-laki. Satu di antara mereka berusia 14 tahun, sementara dua lainnya berusia tujuh tahun. Ketiga anak itu memakai pakaian berwarna putih dengan motif awan merah, mereka adalah kultivator sama seperti Xiao Shuxiang.


Pandangan mata Xiao Shuxiang bertemu dengan mata anak berusia 14 tahun tersebut. Sedetik berikutnya, sebuah senyuman menghiasi wajah Xiao Shuxiang. Senyumannya membuat anak berusia 14 tahun itu tersentak.

__ADS_1


***


__ADS_2