
Bertepatan saat pemuda bertopeng rubah mengeluarkan api birunya--di tempat lain, tepatnya di sebuah kapal--bangau kertas buatan Xiao Shuxiang menghilang dari dalam kotak kayu.
Bangau kertas itu merupakan pengantar surat yang diberikan pada Yang Shu, kakek Xiao Shuxiang. Namun tanpa disadari, bangau itu hilang entah ke mana.
Saat ini, Yang Shu sedang melakukan perjalanan menuju Benua Utara. Dia bersama dengan Yang Hao, Yang Fu, Xiao WeiWei, Zhi Shu, dan Hai Feng.
Mereka menaiki sebuah kapal besar dan telah melakukan perjalanan selama tiga bulan lebih. Ada perasaan rindu yang nampak di wajah Yang Shu selama perjalanannya ke Benua Utara. Ayahnya pasti sudah sangat tua sekarang.
"Adik.. Kira-kira bagaimana bayanganmu tentang rumah kita saat ini..?"
Yang Shu menoleh ke arah adiknya, Yang Fu. Mereka berdua sekarang sedang berada di dalam sebuah kabin kapal.
Terlihat dua buah tempat tidur, satu set kursi, sebuah sekat kayu, dan nampak juga jendela yang jika melihat ke arah sana.. Kita dapat menyaksikan betapa luasnya lautan dan indahnya langit berbintang tak berawan.
"Yang bisa kupastikan, kamar Kakak tidak pernah berubah. Ayah pasti selalu menjaganya, dia akan menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar itu setiap hari. Ayah sangat menyayangimu.."
Yang Fu meminum teh di depannya dan mulai kembali mengatakan Kaisar Yang akan selalu menjadikan kakaknya sebagai putra kesayangan, dan itu tidak akan pernah berubah.
"Fu'Er, kau salah. Aku tidak pernah menjadi anak kesayangannya. Bisa dibilang, akulah yang paling sedikit menghabiskan waktu dengan Ayah. Di antara anak-anaknya, hanya aku yang tidak pernah peduli padanya.."
Yang Shu masih ingat dengan jelas betapa dirinya lebih memilih bergaul dengan para rakyat biasa. Dia bahkan sering salah menyebut nama setiap saudaranya, dan yang terburuk.. Saat Kaisar sakit, hanya dia yang tidak ada di tempat untuk sekadar menanyakan kondisinya.
".. Aku selalu memberinya masalah. Di saat orang lain menginginkan kasih seorang Ayah, aku malah memilih membuangnya. Aku benar-benar putra yang buruk,"
"Kakak, kau lebih memilih rakyat biasa dan kupikir itu bagus. Kalau kau ingin tahu, Ayah selalu memperhatikanmu. Dia malah senang karena kau sudah melakukan apa yang selalu dia ingin lakukan. Ayah juga ingin menyalami setiap rakyatnya dengan tangannya sendiri. Dia ingin dianggap sebagai teman dan saudara oleh rakyatnya. Tetapi kau tahu.. Kaisar tidak diizinkan melakukan itu semua. Ayah tidak bisa sebebas dirimu.."
Yang Shu mengusap-usap janggut dan kumis panjangnya saat mendengar ucapan adiknya. Dia memiliki banyak penyesalan namun adiknya selalu memberinya nasehat untuk tidak menyesali apa pun.
"Fu'Er, selama ini kau begitu setia dan selalu menolongku. Aku sudah memberimu banyak masalah, dan gara-gara pelarian kita.. Kau jadi berpisah dengan kekasihmu,"
!!
Yang Fu menyemburkan teh yang diminumnya saat mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan kakaknya. Itu sudah masa lalu dan dia sendiri bahkan telah melupakannya.
"Kakak, aku tidak punya kekasih. Selalu bersamamu adalah impianku. Lagipula, aku sebenarnya tidak menyukai suasana istana kekaisaran. Banyak orang yang haus akan tahta, mereka tega membunuh saudara sendiri untuk bisa menduduki singgasana. Kalau ingin memilih, aku lebih menginginkan lahir di kalangan rakyat biasa,"
"Fu'Er.. Cobalah cari impian yang lain. Lihat aku? Kakakmu ini sudah memiliki cucu, kau sendiri masih saja bujangan. Usiamu itu sudah sembilan puluh tahun lebih. Kau jangan hanya memperhatikan kumismu, perhatikan juga usiamu. Menikah itu anugrah Fu'Er.. Hidupmu akan lebih berwarna,"
Yang Fu menggeleng pelan saat mendengar ucapan kakaknya. Baginya, menikah adalah persoalan yang mudah. Dia hanya perlu menyebutkan marganya pada seorang gadis dan dirinya mustahil ditolak.
".. Aku ini pangeran, dan gadis mana pun akan langsung jatuh hati padaku. Usia dan tampang itu soal kedua setelah harta Kakak.. Inilah yang namanya 'Kekuasaan',"
Yang Shu tidak tahu harus berkata apa saat melihat tingkah adiknya. Apalagi pemikiran sempitnya itu. Tidak semua wanita gila harta dan kekuasaan, tetapi adiknya mengatakan hanya lima persen wanita yang tidak menginginkannya, tetapi itu pun diselimuti kebohongan.
".. Kakak, tidak ada orang tua yang mau putrinya diajak susah. Mereka jelas ingin putrinya punya kehidupan pernikahan yang baik. Banyak harta tidak menjamin kebahagiaan, tapi tidak memiliki harta kau akan lebih sengsara.."
"Fu'Er.. Kau sama sekali tidak berubah. Untung saja istriku dahulu adalah wanita yang ingin diajak susah. Menantuku juga wanita yang tak banyak menuntut. Semoga saja cucuku bisa menemukan gadis yang baik dan punya sifat seperti ibunya.."
Yang Shu jadi teringat dengan cucu kesayangannya, Xiao Shuxiang dan Xiao Lu. Entah apa yang mereka lakukan saat ini, dirinya juga sudah lama tidak mengirim pesan. Dia jadi merindukan cucunya.
".. Sebaiknya kukirimkan pesan untuk mereka,"
Yang Shu berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan ke arah kotak kayu berukuran sedang, tempat dia menaruh bangau kertas buatan Xiao Shuxiang.
Saat hendak membuka kotak tersebut.. Terdengar suara ketukan pintu, itu adalah Zhi Shu yang memanggil Gurunya untuk makan malam bersama.
Yang Shu jadi mengurungkan niat membuka kotak kayu tersebut dan berujar pelan bahwa dia akan mengirimi pesan pada cucunya nanti, setelah dirinya makan.
__ADS_1
Kultivator memang bisa menahan lapar selama berhari-hari, tetapi Xiao WeiWei selalu punya kebiasaan memasak makanan.
Di kapal ini saja, menantunya tersebut mengambil alih dapur. Tak hanya memasakkan untuk suaminya, tetapi dia juga memasakkan untuk semua penumpang termasuk para awak kapal ini.
Xiao WeiWei dapat marah bila ada satu orang yang menolak memakan masakan buatannya, dan itu juga berlaku bagi kultivator seperti Yang Shu.
Di saat Kakek Xiao Shuxiang sedang berjalan keluar kamarnya bersama dengan Yang Fu.. Di waktu yang sama dirinya berada di dalam kamar Lan Guan Zhi.
Xiao Shuxiang tidak tahu Kakeknya sekarang tengah melakukan perjalanan ke Benua Utara, termasuk bangau kertas buatannya yang menghilang tiba-tiba.
Dia saat ini sedang menemui Lan Guan Zhi untuk memberikan Guqin yang dia dapatkan dari Dunia Siren pada temannya.
Guqin bersenar lima tersebut berwarna putih giok, memiliki bentuk yang ramping dan cembung ke atas. Dia mendapatkannya dari Siren bernama Man Yue sebagai bentuk persahabatan.
"Kau harus menyimpannya," Lan Guan Zhi menolak menerima Guqin yang ada di atas meja duduknya ini. Alat musik tersebut ditujukan untuk Xiao Shuxiang, dan temannya ini tak seharusnya memberikan Guqin pemberian itu padanya.
"Lan Zhi, aku sudah mengatakan pada pemilik Guqin ini bahwa aku akan memberikannya pada seseorang yang kuyakini dapat memainkannya. Dan kau harus tahu, alat musik ini sangat suci dan dari yang kudengar suaranya dapat membunuh manusia berhati buruk. Aku yang punya banyak dosa ini.. Merasa tidak pantas menyentuh apalagi memainkannya,"
Xiao Shuxiang mengatakan dia hanya tahu cara bermain seruling, itu pun dirinya masih pemula. Akan jauh lebih baik jika Lan Guan Zhi memainkan Guqin ini, jadi dia memiliki teman bermain alat musik.
".. Sebaiknya kau coba dulu Lan'Er, daripada Guqin itu menganggur di dalam Gelang Semestaku.. Lebih baik kau memakainya,"
Lan Guan Zhi memang berniat mencari senjata lain, sebab dirinya merasa tak nyaman jika hanya memakai Shǎndiàn. Tetapi senjata yang dicarinya adalah pedang, bukan sebuah alat musik.
"..."
Lan Guan Zhi terdiam sambil menatap Guqin putih giok di depannya. Dia pernah belajar bermain alat musik ini, karena Kakaknya, Patriarch Kedua Sekte Pedang Langit adalah pemain Guqin yang ahli.
Namun dia hanya belajar dua kali sebelum dirinya lebih fokus memainkan seruling. Itu pun.. Hanya sebuah seruling yang terbuat dari bambu biasa dan pernah dipinjam Xiao Shuxiang.
Sambil menghembuskan napas pelan.. Dirinya mulai meletakkan kedua tangannya pada senar Guqin. Rasanya benar-benar asing, ini mungkin karena dia sudah sangat lama tidak menyentuh alat musik.
Warna dari Guqin itu pun berubah hitam, dan sebuah ukiran berbentuk naga emas terbentuk pada lengkungan papan Guqin tersebut. Perubahan tidak terduga ini membuat Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi tersentak.
!!
"Apa yang terjadi..? Kau apakan Guqin ini Lan Zhi..?"
"Mn.."
Xiao Shuxiang mengartikan gumaman pelan temannya sebagai ungkapan ketidaktahuan. Dia jadi ingat pesan Man Yue yang mengatakan bahwa tidak sembarangan orang yang dapat memainkan Guqin ini.
".. Jangan-jangan kau sebenarnya bukanlah orang yang suci Lan'Er-!!"
Xiao Shuxiang langsung mendapat sentilan di dahi dari Lan Guan Zhi. Dirinya refleks merintih dan jelas serangan barusan dia tidak bisa hindari.
"Kau keterlaluan.." Xiao Shuxiang mengusap-usap dahinya dan kemudian berdiri. Dia mengatakan pada Lan Guan Zhi untuk berlatih memainkan Guqin, dirinya sendiri akan kembali ke kamar dan istirahat.
Lan Xiao sendiri nampak tertidur pulas hingga tak menyadari kedatangan Xiao Shuxiang bahkan sampai pemuda itu kembali ke kamarnya. Jelas sekali Lan Xiao begitu kelelahan.
Malam itu, Lan Guan Zhi mulai berlatih memainkan Guqin pemberian temannya, sementara Xiao Shuxiang tidur dengan beralaskan seutas tali yang membentang di dalam kamarnya.
Bocah Pengemis Gila terlihat tertidur pulas, dia menguasai bantal dan tempat tidur Xiao Shuxiang. Cara tidurnya begitu serampangan dan dengkurannya benar-benar keras.
Meski demikian, itu sama sekali tidak menganggu tidur Xiao Shuxiang. Jelas karena dia juga adalah tipekal pemuda yang suka sekali mendengkur.
Jika malam itu sangat tenang di Sekte Pagoda Langit.. Lain halnya dengan kondisi Partai Pedang Tengkorak.
__ADS_1
Sudah beberapa hari Saka Daksa, Barayuda, dan rekan-rekan mereka tidak kembali ke Partai Pedang Tengkorak. Pencarian dilakukan dan sampai sekarang belum menemui hasil.
Partai Pedang Tengkorak adalah sebuah partai besar Aliran Hitam, lokasinya yang jarang diketahui orang membuat partai ini memiliki keamanan yang cukup tinggi.
[".. Apa kalian belum juga menemukan mereka?! Bagaimana cara kerja kalian selama ini, hah?!"]
Seorang pria bertubuh tegap, memiliki wajah bersih dengan tatapan mata tajam nampak memarahi salah satu anggota Partai Pedang Tengkorak.
Pria ini terlihat berusia 44 Tahun, mempunyai rambut sedikit panjang dan menggunakam seragam cokelat berompi hitam. Dialah Raka Daksa, Kakak dari Saka Daksa, pendekar yang telah dibunuh oleh Xiao Shuxiang saat di Hutan Tanah Senyap.
["Tuan..! Tuan...?!"]
?!
Raka Daksa menoleh saat mendengar seruan dari salah satu anggota partai miliknya. Itu adalah pendekar berusia sekitar 25 Tahun, dia memberi informasi bahwa dirinya mendapatkan kabar mengejutkan.
["Katakan.. Cepat Katakan..!"]
["Tu-Tuan.. Adik Anda.. Tu-Tuan Saka Daksa.. Dia telah tewas,"]
!!
Raka Daksa terkejut saat mendengarnya, dia tidak percaya adiknya bisa tewas semudah itu. Pemuda berusia 25 Tahun ini pasti sudah membohonginya.
Dengan diliputi amarah.. Dia mencengkeram kuat kerah pemuda tersebut dan bicara dengan pandangan yang gelap. [".. Coba kau ulangi ucapanmu.. Apa yang sudah kau katakan Mengenai Adikku?!"]
["Tu-Tuan.. Apa ya-yang kukatakan memang benar. A-aku memiliki buktinya. Tu-Tuan Saka Daksa.. Dia telah tewas bersama Barayuda di Hutan Tanah Senyap,"]
!!
Dua orang anggota Partai Pedang Tengkorak nampak ragu membawa sebuah bungkusan yang terbuat dari kain. Saat membukanya.. Kedua tangan mereka begitu gemetar.
Raka Daksa dan anggota Partai Pedang Tengkorak terkejut bukan main kala menyaksikan bungkusan tersebut terbuka.
!!
Itu rupanya adalah kepala Saka Daksa dan Barayuda yang telah mengeluarkan aroma busuk. Ini membuktikan bahwa kedua pemilik kepala tersebut sudah lama mati dan mayatnya baru ditemukan, meskipun dalam keadaan sudah menjadi abu.
[".. Yang tersisa dari tubuh Tuan Saka Daksa hanyalah kepalanya saja. Ja-jadi kami-"]
["AAADIIIK...!"]
!!
Raka Daksa seakan tidak peduli dengan penjelasan anggota Partai Pedang Tengkorak. Dia terlalu terguncang dengan kondisi adiknya yang mati secara mengenaskan. Siapa yang begitu tega membunuh adiknya dengan cara sekejam ini?!
[".. Hah.. Hah.. Adik..?"] Raka Daksa tidak sanggup menyentuh kepala adiknya, tangannya gemetar dan seakan dirinya ingin menepis ini. Dia berharap semua ini mimpi, tetapi..
[".. Wajahnya terlihat ketakutan. Adikku.. Kematian apa yang sudah kau alami..?"]
Raka Daksa berusaha menahan air matanya, namun kemarahan yang memuncak membuatnya berteriak keras. Dia membuat tanah tempat partainya berdiri bergetar hebat.
[".. Akan kubunuh siapa pun orangnya.. AKAN KUBUNUH ORANG ITU..!"]
Ketika Raka Daksa berteriak keras.. Seseorang mulai menapak dengan anggun di atap salah satu bangunan Partai Pedang Tengkorak.
Jubah berwarna hitam yang dipakai orang itu nampak berkibar, bayangannya dipantulkan jelas oleh sinar bulan dan itu seakan berada tepat di depan Raka Daksa. Orang tersebut tidak lain adalah pemuda bertopeng rubah.
__ADS_1
!!
***