XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
322 - Kota Bulan Darah


__ADS_3

Dibandingkan dengan Kaisaran Langit Selatan--Kaisar Langit Tengah sebenarnya lebih bersahabat dengan Kaisar Langit Utara. Banyak terjalin hubungan kerja sama antara dua Kekaisaran ini, bahkan dipererat kembali oleh suatu ikatan pernikahan antara anggota keluarga dua Kaisar tersebut.


Sebagai pemilik dari wilayah yang lebih besar, Kaisar Langit Tengah juga selalu menjaga hubungannya dengan Kaisar Langit Selatan. Meski demikian, persaingan politik tetap saja sering terjadi, dan kadang menimbulkan cukup banyak masalah.


Selain itu, permasalahan yang kadang timbul juga berasal dari para kultivator dan pendekar, khususnya perselisihan antara Aliran Putih dengan Aliran Hitam.


Mengatasi masalah ini, ketiga Kaisar sebenarnya lebih memilih bungkam. Mereka berdalih menjadi bagian dari Aliran Netral yang sepertinya tujuan dan prinsip aliran tersebut disalah-artikan.


Aliran Netral harusnya yang menjadi penengah, melerai, dan membantu kedua aliran agar bisa kembali akur.


Namun ternyata justru Aliran Netral lebih bersikap apatis, merasa bahwa perselisihan kedua aliran yang berbeda prinsip tersebut harus diselesaikan sendiri tanpa mereka harus ikut campur tangan di dalamnya.


Sikap semacam ini dimiliki Xiao Shuxiang sejak dulu dan mungkin sampai sekarang. Anggapan bahwa 'Mencampuri urusan orang lain adalah tindakan paling bodoh' seakan masih melekat padanya.


Dia benar-benar bisa tidak peduli dengan apa pun, bahkan bila ada orang yang sekarat dan butuh pertolongan di depan matanya.


Alih-alih berwajah panik, Xiao Shuxiang malah akan memasang wajah datar nan penuh rasa ketidak-pedulian miliknya.


Mungkin ini jugalah yang membuatnya terlihat kejam di mata orang lain. Yaah.. Kau tidak akan bisa mendapat apa-apa jika berharap pada seseorang berhati Giok Hitam seperti Xiao Shuxiang.


Pemuda itu hanya akan membantu orang-orang yang dia kenal saja, sementara bila melakukannya untuk orang lain.. Xiao Shuxiang baru mau membantu jika memang ingin.


Sama seperti sekarang, Alkemis muda tersebut nampak acuh tak acuh dengan penjelasan dua penjaga gerbang Kota Bulan Darah. Sementara itu, teman-temannya yang lain malah nampak serius mendengarkan.


".. Kami selalu memberi peringatan semacam ini bagi pendatang baru. Tapi kebanyakan memang tak ada yang mau mendengar dan menganggap ini bualan,"


Pria yang sedang bicara ini memiliki titik kemerahan di keningnya. Untuk usia 40 Tahun.. Tubuhnya jauh lebih berotot walau tak sebesar Jing Mi.


".. Ada aturan yang melarang warga kota bahkan para pendatang untuk tidak beraktivitas di luar rumah setelah matahari tenggelam, apalagi melakukannya sampai tengah malam.."


Pria tersebut menjelaskan bahwa aturan ini dibuat sudah sangat lama, namun tetap saja banyak yang melanggarnya, apalagi dari kalangan kultivator dan pendekar. Padahal aturan itu dibuat demi keselamatan diri.


Rekannya ikut menambahkan bahwa sebelum tengah malam, banyak warga Kota Bulan Darah yang mengikat diri dan anggota keluarga mereka pada tempat tidur, kursi, ataupun dinding. Bahkan ada yang membuat ruang bawah tanah agar mereka dapat bersembunyi.


".. Tepat di tengah malam, suara musik yang entah dari mana asalnya akan mulai terdengar. Lima menit pertama, suaranya terdengar merdu dan menenangkan. Hanya saja pada menit kesepuluh.. Suara musik itu mulai terdengar mengerikan, apalagi.."


Pria berpakaian hijau muda tersebut menelan ludah sebelum kembali melanjutkan ucapannya. ".. Apalagi jeritan kesakitan juga menjadi pengiringnya, dan pagi harinya.. Akan ada saja warga yang tewas di luar rumah dalam keadaan mengenaskan,"


Sulit sebenarnya mengatakan ini, namun kedua penjaga tersebut tidak punya pilihan lain. Mereka bisa dibilang tidak mau ada lagi korban yang berjatuhan.


"Jika itu benar, lantas mengapa kalian masih di sini? Hari sudah benar-benar senja dan sebentar lagi akan malam. Bukankah aneh bila kalian masih berjaga di saat kota ini dalam keadaan mengkhawatirkan..?"


Yi Wen menyilangkan kedua tangannya saat bicara, dia membuat Xiao Lu mengangguk setuju mengenai ucapannya.


Dua pengawal tersebut sama sekali tidak tersentak saat mendengar pertanyaan dari gadis berambut sepanjang leher tersebut.


Salah satu di antara keduanya menjawab bahwa mereka juga akan segera pergi ke tempat aman dan menyembunyikan diri.


Mereka hanya memberi penjelasan seperlunya, namun Xiao Lu malah menanyakan apakah warga Kota Bulan Darah tidak ada yang mau mengungsi ke tempat lain? Sayangnya hal tersebut tidak bisa dilakukan.


Warga asli Kota Bulan Darah tidak akan bisa meninggalkan tempat tinggal mereka. Dahulu memang pernah ada yang nekat pergi, namun hari berikutnya dia ditemukan tewas dalam keadaan terpasak pada dinding rumahnya.


".. Wali Kota sudah berusaha sebisa mungkin untuk mengatasi masalah ini. Beliau bahkan meminta bantuan para Taois, namun orang-orang itu.."


Xiao Lu, Yi Wen, dan teman-teman mereka nampak mengerti apa yang terjadi dengan para taois tersebut saat memperhatikan raut wajah kedua pria di depan mereka.


Tidak hanya para taois, tetapi pendekar dan kultivator yang cukup angkuh serta tak mengindahkan peringatan mereka juga ikut mengalami hal yang sama.


".. Kalian terlihat masih muda dan rasa penasaran kalian begitu besar. Tapi ingatlah untuk selalu berhati-hati dan lakukan apa yang kami katakan.. Sembunyi dan jangan pernah keluar saat malam hari,"


Bocah Pengemis Gila yang paling terlihat jelas begitu takut, dia terus saja merangkul lengan Xiao Shuxiang sambil memohon agar dilindungi.


Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu mengangguk pelan, keduanya memberi hormat lalu mengajak teman-teman mereka untuk mencari penginapan.


"Padahal aku masih mau bertanya.." Yi Wen jelas yang paling tertarik dengan cerita kedua penjaga gerbang itu, informasi yang dirinya dapat masih terlalu sedikit.


Xiao Lu, "Aku sebenarnya juga penasaran. Kalau cerita kedua paman tadi benar, maka malam ini akan terdengar musik mengerikan itu.."


Xiao Qing Yan berjalan di belakang Xiao Lu sambil memegang tali kekang kudanya. Rasa penasarannya cukup tinggi, namun dirinya lebih memilih untuk tidak mengeluarkan suara apapun.

__ADS_1


...


Sebenarnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, firasat Xiao Qing Yan sudah mulai tidak enak. Dia merasa seakan-akan sedang diawasi, namun yang membingungkan dirinya adalah.. Kenapa teman-temannya terlihat begitu tenang dan biasa-biasa saja? Apa mungkin hanya dia yang merasakan hal ini?


Xiao Qing Yan menghentikan langkahnya dan kemudian menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun selain kedua penjaga gerbang tadi dan sekarang mereka juga mulai berjalan pergi.


Dia menghembuskan napas pelan dan lalu menggeleng, "Mungkin aku yang terlalu penakut.."


Xiao Qing Yan kembali menyusul teman-temannya, mereka mencari penginapan terdekat untuk digunakan beristirahat. Kuda yang sebelumnya mereka tunggangi dimasukkan ke dalam Gelang Semesta Xiao Shuxiang ketika kondisi sekitar cukup sepi.


*


*


Salah satu penginapan sederhana yang cukup dekat dengan pintu Gerbang Kota Bulan Darah bernama Penginapan Serabut Bunga.


Tempat tersebut hanya memiliki sebelas kamar, sebuah dapur, dan ruangan yang lumayan luas bagi para pelanggan yang hanya datang untuk makan atau sekadar beristirahat sejenak.


Tidak ada hidangan istimewa yang membuat penginapan ini ramai dikunjungi, bisa dibilang Serabut Bunga tergolong penginapan yang tidak mempunyai nama besar di Kota Bulan Darah.


".. Nyonya, kita harus segera menutup gerbangnya," seorang gadis berpakaian putih dengan corak bunga kuning nampak bicara pelan pada wanita tua di sampingnya.


Gadis berusia sekitar 20 Tahun tersebut mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat di ruangan ini. Ada sekitar 21 meja lengkap dengan masing-masing empat buah kursi, namun yang terisi hanya delapan meja saja.


Para pelanggan yang dilihat gadis manis ini kebanyakan adalah biksu dan sepertinya mereka nampak membicarakan kejadian yang menimpa kota tempat tinggalnya.


Wanita tua yang berdiri di sampingnya mempunyai usia sekitar 45 Tahun, terdapat beberapa kerutan pada bagian dahi dan kulitnya pun sedikit mengendur.


Setiap malam menjelang, rasa khawatir, takut, dan perasaan tidak nyaman lainnya selalu datang menghampiri. Dalam pikirannya selalu terlintas pertanyaan, 'Siapa selanjutnya yang akan mati?'.


"Miu'Er, beritahu pada para pelanggan bahwa kita akan segera menutup gerbang,"


"Baik, Nyonya."


Gadis cantik berambut panjang nan dikepang dua tersebut melaksanakan perintah dari pemilik penginapan. Dia berjalan ke salah satu meja dan memberi tahu pelanggan itu dengan penuh sopan santun.


Tidak ada pelanggan yang diusir, gadis cantik itu hanya meminta para pelanggannya untuk tak meninggalkan penginapan sampai matahari terbit.


"Nona, kedatangan kami kemari tidak untuk beristirahat dengan tenang. Tetapi kami juga akan membantu mengatasi masalah yang warga kota ini hadapi,"


"Nona, jika aku berhasil menyelamatkan kotamu, maka kau harus menikah denganku,"


Che Miu, itulah nama dari gadis pelayan yang berbicara dengan empat orang pendekar. Dia hanya bisa tersenyum masam ketika empat pria ini malah menggodanya di saat dirinya sedang dalam masa-masa sulit.


Ini bukanlah candaan. Ketakutan yang menyelimuti Kota Bulan Darah sudah berlangsung selama hampir tiga tahun penuh. Banyak pendekar dan kultivator yang ahli dalam taois tewas secara mengenaskan.


Mulut yang disumbat besi panas, kedua mata yang tertusuk ranting, tubuh tersalib di dinding, hingga kepala menggantung pada sebuah pohon seakan menjadi pemandangan pertama yang warga Kota Awan Dingin lihat pada pagi hari.


Che Miu mencengkeram kuat pakaiannya, kedua tangannya nampak gemetar. "Jika.. Jika Anda memang bisa menyelamatkan kota ini.. Maka akan kuberikan apa pun yang Anda inginkan, termasuk tubuhku sendiri,"


Dilanda ketakutan yang begitu lama dan tak mampu untuk meninggalkan kota.. Sungguh menjadi beban terberat Che Miu. Dia sudah kehilangan orang-orang terdekatnya, temannya satu demi satu tewas, dan entah kapan gilirannya akan datang. Dirinya benar-benar hampir tidak bisa bertahan lagi.


Banyak gadis seumuran Che Miu yang tidak akan peduli dengan harga dirinya asalkan kotanya dapat diselamatkan, bahkan bila dia diminta menjadi penghangat tempat tidur sekali pun.


Keempat pendekar tersebut sepertinya menyepelekan masalah ini, mereka tersenyum dan mulai tertawa. Salah satu diantara mereka berdiri dan mendekat ke arah Che Miu kemudian menyentuh dagu gadis cantik itu.


"Sebaiknya kau pegang kata-katamu Nona.."


Che Miu takut dengan pria bertangan besar nan kasar yang menyentuh dagunya ini, dengan hati-hati dirinya melihat wajah pria di depannya yang rupanya memiliki bekas luka bakar di bagian pipi sebelah kanan.


Wajah tegas, garang, dan diperkuat oleh tatapan mata pembunuh nampak semakin menakutkan baginya, namun bila dibandingkan dengan kondisi kotanya sekarang.. Ini jelas bukan apa-apa.


Perlahan, wajah pria di depannya semakin dekat. Che Miu ingin menolak tetapi bila itu dia lakukan, kemungkinan besar pendekar ini malah akan tersinggung.


Dirinya terpaksa hanya bisa memejamkan mata erat saat merasakan deru napas pria ini mulai menyapu kulit wajahnya.


Setitik air terbentuk di sudut mata Che Miu yang terpejam erat, dia merapatkan bibirnya dan jelas raut wajahnya memperlihatkan penolakan. Namun seakan pria yang menyentuh dagunya ini malah semakin mendekatkan wajah.


Jantung Che Miu berpacu dengan kencang, bersamaan saat pria berwajah garang tersebut membuka mulut dan nyaris meraup bibirnya andai suara berisik tidak terdengar.

__ADS_1


!!


".. Bibi..! Bawa Arak dan Makanan Terbaikmu Kemari..! Saudara Xiao, kau yang bayar."


"Tsk, Yi Wen.. Apa aku terlihat seperti sumur uang berjalan bagimu?"


Xiao Shuxiang memilih meja yang cukup dekat dengan pintu, sebelumnya dia sudah duduk, namun berdiri kembali dan mulai menggeser satu meja lagi untuk disatukan, dirinya dibantu oleh Bocah Pengemis Gila yang mengangkat kursi.


Dua meja yang disatukan dan dengan tujuh kursi telah tersusun cukup rapi. Xiao Shuxiang duduk saling berhadapan dengan Ling Qing Zhu, di sisi kanannya duduk Bocah Pengemis Gila, sementara di sisi lainnya ada Yi Wen.


Lan Guan Zhi sendiri berdekatan dengan Xiao Qing Yan, sementara Xiao Lu duduk di antara dirinya dengan Ling Qing Zhu. Kehadiran mereka mengundang perhatian pelanggan yang juga berada di dalam ruangan tersebut.


Che Miu akhirnya dapat lepas karena kedatangan para pelanggan barunya. Dia bergegas pergi dengan beralasan masih banyak pekerjaan yang menunggunya.


Pendekar yang menyentuh dagu Che Miu tadi nampak begitu kesal pada Xiao Shuxiang dan teman-temannya. Namun, rasa kekesalannya seketika menghilang saat dia melihat salah satu gadis yang menurutnya sangat cantik.


!!


Bukan hanya pria berwajah garang tersebut, namun juga rekan-rekannya dan para pelanggan yang lain. Pandangan mereka seakan terpaku pada sosok gadis berambut putih panjang yang memakai cadar tipis tersebut.


Adapun para kultivator dan pendekar wanita juga tak bisa mengalihkan tatapan mata mereka.


Ada tiga objek yang begitu indah di pandang. Pertama adalah pemuda suci yang seakan baru turun dari langit, kedua merupakan malaikat kematian yang mempesona, dan ketiga ialah jenis manusia berwajah seindah giok.


Bukan hanya itu, Yi Wen, Xiao Lu, dan Xiao Qing Yan juga menarik cukup banyak perhatian. Gadis seperti Yi Wen selain wajahnya.. Dia juga memiliki bentuk tubuh indah, apalagi bagian atasnya lebih berisi dari kebanyakan gadis seusianya.


Xiao Lu tidak perlu ditanyakan, walau tak sebesar Yi Wen.. Namun dirinya mempunyai daya tarik tersendiri. Warna matanya yang nampak seperti bunga bermekaran ketika terkena cahaya, bibir lembut dan semburat alami di pipinya sudah terlalu sayang untuk dilewatkan.


Xiao Qing Yan adalah perempuan, namun pakaian dan rambutnya yang memang tidak terlalu panjang membuat dirinya nampak seperti anak laki-laki, apalagi gaya pakaiannya yang jauh dari kata 'feminim'. Dia jelas dapat menipu banyak orang, termasuk Yi Wen, Xiao Lu, dan Bocah Pengemis Gila.


"Saudara Xiao, bagaimana pendapatmu tentang cerita kedua penjaga gerbang tadi?" Yi Wen bertanya sambil menuangkan arak yang baru saja dibawa seorang pelayan, dia memberikan secawan keramik pada pemuda di sampingnya.


Xiao Shuxiang meminum arak pemberian Yi Wen dalam satu kali tegukan, dia berdecak pelan dan meletakkan cawannya di atas meja. ".. Menurutku, sebenarnya terlalu konyol jika warga kota ini harus mengikat tubuhnya di malam hari, dan musik mengerikan yang mereka ceritakan.. Tidak mungkin dapat terdengar begitu saja,"


Bocah Pengemis Gila mengangguk setuju, "Itu benar. Benar sekali. Pasti ada dalang dibalik kejadian ini.. Pelaku yang memainkan musik tersebut. Aku benar, kan? Lan'Er Gege..?"


"Mn, pelakunya.. Kemungkinan adalah manusia." Lan Guan Zhi juga merasa demikian. Musik itu dimainkan oleh seseorang dan dirinya yakin itu adalah kultivator.


Xiao Lu, "Aku memikirkan hal yang sama. Tetapi alasan orang itu melakukan ini semua masih belum kupahami,"


"Jika kau memiliki kecanduan terhadap darah dan melakukan pembunuhan, atau mungkin kau mempelajari Teknik Larangan.. Maka bukan lagi hal aneh menjadikan warga kota ini sebagai objek pemuas candumu,"


Xiao Qing Yan teringat ketika dia masih terkurung di tempat Tomoaki Maeno. Baginya, tidak ada alasan khusus bagi seseorang untuk melakukan kejahatan, sama halnya saat orang tersebut berbuat suatu kebaikan.


Xiao Shuxiang menikmati meminum araknya sambil sesekali disuapi makanan oleh Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen. Dia sebenarnya ingin keberatan mengenai pendapat Xiao Qing Yan barusan, namun bila dipikirkan lagi.. Bocah tersebut ada benarnya juga.


"Kalau aku yang menjadi orang itu, maka-!!"


Xiao Shuxiang tersentak ketika sedang bicara dan Ling Qing Zhu malah mengambil cawan arak yang di pegangnya. Dia dan teman-temannya jelas terkejut dalam hal ini.


"Jangan meminum terlalu banyak arak,"


!!


Xiao Shuxiang tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Ling Qing Zhu memperingatkannya dengan begitu tenang, dia bahkan tak menduga hal ini terjadi.


"Sejak kapan gadis ini begitu perhatian padaku..?"


Saat Xiao Shuxiang tetap bersama dengan teman-temannya.. Gerbang penginapan mulai ditutup rapat. Che Miu yang telah selesai meletakkan hidangan terakhir di meja Xiao Shuxiang--nampak berjalan ke arah pintu dan kemudian menutupnya.


"Hm? Nona? Kenapa kau menutup pintunya?" Yi Wen bertanya, dia mengatakan belum selesai makan dan tak seharusnya diusir dengan cara seperti ini.


Che Miu memberi penjelasan sama seperti yang dia katakan pada para pendekar tadi. ".. Bila Nona butuh kamar, kami masih mempunyai beberapa yang kosong. Nona tidak perlu membayar asalkan mematuhi aturan di sini,"


Aturan yang dimaksud Che Miu adalah Yi Wen harus mengikat kaki dan tangannya pada tempat tidur. Ini sebagai bentuk pencegahan agar ketika terdengar suara musik mengerikan.. Yi Wen tidak sampai keluar bangunan.


".. Suara itu membuat siapa pun yang mendengarnya akan menggila. Bahkan meski kami menutup telinga dengan berbagai cara.. Suara itu masih saja terdengar. Saya.. Saya berkata yang sebenarnya dan tolong percaya ini,"


Che Miu meminta izin pamit, dia sebelumnya memberi tahu tentang kamar kosong di tempat ini pada Xiao Shuxiang dan teman-temannya.

__ADS_1


Tepat saat dirinya melangkahkan kaki.. Angin yang berhembus di luar penginapan mulai berubah arah. Satu demi satu penerang di setiap rumah menjadi padam dengan sendirinya.


***


__ADS_2