XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
315 - Raka Daksa


__ADS_3

Partai Pedang Tengkorak memiliki tiga buah bangunan. Satu bertingkat empat dan dua lainnya bertingkat tiga. Partai ini mempunyai dua ketua, yang pertama adalah Raka Daksa, dan kedua merupakan adiknya sendiri, yakni Saka Daksa.


Tewasnya sang adik dengan kondisi mengenaskan membuat Raka Daksa diliputi dendam dan amarah.


Tatapan matanya mengandung kebencian yang amat sangat pada siapa pun pelaku yang membunuh adiknya.


Tidak ada apa-apa lagi yang kembali selain kepala Saka Daksa, Barayuda, dan mayat rekan mereka yang mengenaskan.


Tubuh Saka Daksa dan Barayuda telah menjadi abu, sementara di tempat kejadian tak ditemukan satu pun senjata, baik milik Saka Daksa, Barayuda, maupun anggota Partai Pedang Tengkorak yang mengikuti keduanya.


Salah satu anggota partai yang nampak berusia 34 Tahun memberi keterangan bahwa Saka Daksa dan anggota partai yang bersamanya pertama-tama menghancurkan Desa Semilir Air, kemudian menetap sementara di Hutan Tanah Senyap.


".. Dari yang kami temukan. Tuan Saka Daksa sepertinya bertarung dengan pendekar pengelana dan mungkin itu kultivator. Terdapat banyak jejak kaki kuda, dan saya rasa Tuan Saka Daksa telah bertemu lawan yang tidak biasa.."


Selama ini kemampuan Saka Daksa bertarung di gelapnya malam tidak diragukan oleh siapa pun di Partai Pedang Tengkorak. Jadi saat mengetahui dirinya tewas, tentulah membuat anggota partai merasa terkejut sekaligus tak percaya.


Kemampuan Saka Daksa yang hebat dalam bertarung di kegelapan telah membuatnya mengabaikan satu hal yang penting.


Itu adalah ketika seseorang merasa bahwa dirinya yang terbaik, maka pandangannya seakan buta hingga tidak menyadari betapa luasnya dunia, dan pastinya akan ada orang yang lebih baik lagi.


"Adik.."


Tatapan mata Raka Daksa perlahan tertunduk, dia tahu betul sifat adiknya yang begitu angkuh. Kekalahan ini bisa dibilang merupakan kesalahan dari adiknya sendiri. Tapi apa harus adiknya dibunuh dengan cara semengenaskan ini?!


"Ketakutan yang terlihat pada wajahnya menandakan dia mengalami kematian paling menyakitkan,"


!!


Raka Daksa terkejut saat mendengar suara asing bersamaan dengan adanya sebuah bayangan tepat di depannya. Bukan hanya dia, tetapi anggota Partai Pedang Tengkorak juga sama terkejutnya.


"Siapa Kau..?!" seru seorang pendekar Partai Pedang Tengkorak, dia nampak menarik pedangnya dan bersikap seakan siap bertarung.


Rekannya yang berjumlah sekitar tiga puluh orang juga menarik senjata mereka. Ini adalah jumlah kecil dari keseluruhan anggota Partai Pedang Tengkorak.


Bisa dibilang saat ini banyak anggota partai yang mencari keberadaan Saka Daksa dan belum kembali sampai sekarang. Para anggota itu tidak mengetahui bahwa Saka Daksa telah ditemukan, meski hanya kepalanya saja.


Raka Daksa berdiri dan menatap ke atas, tepat di mana pemilik bayangan yang dilihatnya berada. Tatapan matanya saling bertemu pandang dengan pemuda berjubah dan bertudung hitam, serta memakai topeng rubah tersebut.


...


Angin malam yang berhembus cukup kencang nampak memain-mainkan jubah pemuda itu, bahkan termasuk pakaian dan rambut Raka Daksa sendiri. Dia baru pertama kali melihat pemuda bertopeng itu di sektenya.


!!


Sangat mengejutkan ketika Raka Daksa baru saja ingin bersuara namun pemuda misterius itu tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di depannya dengan tangan kanan menyentuh topeng rubahnya.


!!


Raka Daksa dan para pendekar Partai Pedang Tengkorak tidak bisa bergerak. Kaki mereka seakan menempel pada tanah dan sulit untuk diangkat.


"Aku kemari membawa informasi tentang kematian adikmu.."


Pemuda berjubah dan bertudung hitam tersebut sedikit membuka topeng rubahnya hingga memperlihatkan kedua matanya yang berwarna merah.


Raka Daksa tak sengaja menatap mata pemuda bertopeng rubah di depannya dan detik berikutnya.. Warna matanya juga ikut memerah meski setelah itu normal kembali.


"Kau ingin tahu tentang siapa pembunuh adikmu, bukan? Aku bisa memberi tahumu tentang identitasnya,"


Pemuda berpakaian serba hitam tersebut memakai kembali topeng rubah miliknya. Apa yang baru saja dia lakukan adalah mengendalikan sedikit pikiran Raka Daksa agar tidak meragukan setiap ucapannya.


"Tuan-!!"


Seorang pendekar baru akan berseru kembali, tetapi dia seketika mengurungkan niat saat Raka Daksa memberinya tanda untuk tidak berkata apa pun.


Dibalik topengnya, pemuda misterius itu kembali tersenyum. Kemampuan yang dia dapatkan dari Sri Anyar ternyata bisa dimanfaatkan dengan cara seperti ini.


Memang saat menyembuhkan Sri Anyar, Gong Zitao, Ge Yu Han, Wisesa, dan yang lainnya.. Pria bertopeng rubah itu sedikit menyerap kemampuan orang yang dia sembuhkan.


Bakatnya ini membuat dirinya mampu memberikan kemampuan yang dia dapatkan pada orang tertentu yang diinginkannya.


"Kau tadi bilang mengetahui nama pembunuh adikku. Cepat beritahu aku, siapa orang itu..?"

__ADS_1


Raka Daksa sepertinya tidak sadar sedang dikendalikan, ini memang wajar sebab pemuda bertopeng rubah hanya menggunakan sedikit trik miliknya.


"Kau yakin akan mendengarkannya di tempat ini..? Ceritaku akan cukup panjang karena tidak hanya identitas adikmu yang kuketahui, tetapi juga bagaimana adikmu bisa sampai tewas,"


!!


Raka Daksa dan anggota Partai Pedang Tengkorak nampak terkejut. Berikutnya dia mengajak pemuda bertopeng rubah untuk ikut dengannya dan berbicara di tempat lain. Dia ternyata bisa menggerakkan kaki kembali.


Para pendekar Partai Pedang Tengkorak masih berdiri kaku. Sepertinya memang hanya Raka Daksa yang dibebaskan oleh pemuda misterius itu, bukan mereka.


"Siapa namamu?"


Raka Daksa berjalan ke bangunan utama Partai Pedang Tengkorak, dia mengajukan pertanyaan pada pemuda bertopeng rubah yang berjalan di sampingnya.


"Qian.. Kun,"


..


Para pendekar Partai Pedang Tengkorak mulai dapat menggerakkan tubuh mereka saat Raka Daksa dan pemuda bertopeng rubah tersebut memasuki bangunan utama.


Salah satu pendekar yang bernama Dersana terlihat menyarungkan pedangnya secara kasar. Dia jelas mencurigai pemuda bertopeng rubah tersebut adalah dalang dibalik tewasnya Saka Daksa.


"Datang tidak diundang dan bertepatan dengan penemuan mayat Ketua Saka, apalagi jika bukan dia pelakunya,"


"Kau benar, kita harus mewaspadainya. Dam sebisa mungkin, jangan biarkan Ketua Raka dekat dengan orang itu,"


Salah satu pendekar berujar, dia terlihat masih begitu muda. Ucapannya disetujui oleh saudara seperguruannya yang lain.


Malam semakin larut, Dersana dan para pendekar Partai Pedang Tengkorak memutuskan untuk mengubur kepala Barayuda serta mayat dari rekan mereka yang lain.


Beberapa pendekar terlihat memejamkan mata erat, seakan tak tahan melihat tubuh saudaranya yang mana pada bagian organ dalam berupa usus menyembul keluar.


Xiao Shuxiang memang tidak membakar semua mayat. Setelah mengambil harta dan senjata Saka Daksa serta para perampok yang menghadang jalannya, dia meninggalkan mayat mereka begitu saja.


Bukan tanpa alasan Xiao Shuxiang melakukan ini, dia membiarkan mayat lawannya tidak dikubur apalagi dibakar adalah agar binatang liar di Hutan Tanah Senyap bisa memperoleh sedikit makanan, jadi mereka tidak perlu keluar hutan dan membuat keributan di desa atau pun kota.


Ini mungkin alasan gila yang pernah terlintas di pikiran Xiao Shuxiang. Namun andai dirinya tahu, bahwa kebanyakan kultivator serta pendekar juga memiliki pendapat demikian, tak terkecuali mereka yang berada di Aliran Putih dan Netral.


Jika pertarungannya ada di desa, dia pasti akan menyerahkan penguburan itu kepada warga.


Namun berbeda bila pertarungannya ada di hutan atau tempat yang tak berpenghuni, dia pastinya akan meninggalkan mayat lawannya begitu saja.


Kalaupun ada yang harus dikubur, itu tak lain hanyalah mayat rekannya sendiri.


Tap


Tap


Pemuda bertopeng rubah mengikuti Raka Daksa ke sebuah ruangan, dia sesekali mengedarkan pandangannya dan menilai bangunan ini besar dan cocok sebagai markas Scarlet yang baru.


Ruangan pribadi Raka Daksa nampak besar dan luas, dia mempersilahkan pemuda bertopeng untuk duduk pada salah satu kursi.


Sebenarnya Raka Daksa adalah tipekal orang yang sulit mempercayai kata orang asing, apalagi jika orang tersebut begitu misterius, dia pastinya akan langsung menyerang dan malah berujung pertarungan habis-habisan.


Tetapi karena pikirannya sedikit dikendalikan oleh pemuda bertopeng rubah tanpa dia sadari.. Raka Daksa untuk pertama kalinya menjadi pria yang mau mendengar.


"Bisa dibilang, aku ini adalah saksi yang mengetahui kejadian yang menimpa saudaramu,"


Raka Daksa, "Apa kau tidak bisa melepas topengmu lebih dulu baru kita bicara?"


Pemuda bertopeng rubah tersebut mengangguk dan mulai melepaskan topengnya.


Warna matanya masih saja merah, namun yang cukup mengejutkan adalah dia memiliki wajah cantik seorang gadis.


Suaranya juga mulai berubah feminim setelah topengnya dilepas, wajahnya putih bersih dengan bibir selembut bunga, Raka Daksa bahkan tak sadar lupa berkedip kala mengetahui siapa yang sedang dia ajak bicara ini.


Bukan hanya lupa berkedip, napasnya seakan tertahan di tenggorokan dan dirinya juga kesulitan menelan ludah.


Tidak banyak pendekar wanita di Partai Pedang Tengkorak, kalaupun ada.. Mereka tidak secantik gadis di depannya ini.


"Aku sudah melepasnya, apa sekarang kau mau mendengarku..?"

__ADS_1


!!


Sulit diungkapkan bagaimana perasaan Raka Daksa saat ini, bibir gadis yang tertarik ke atas nan membentuk senyuman itu seakan membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Dia belum pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.


Tanpa membuka tudung hitamnya, gadis tersebut mulai menceritakan alur kejadian yang menimpa Saka Daksa di Hutan Tanah Senyap sekaligus menyebutkan nama 'Xiao Shuxiang' sebagai pelaku dari tewasnya Saka Daksa.


".. Anda mungkin tidak akan percaya dengan yang kukatakan. Aku tahu itu, keraguan pada ucapan orang asing adalah sesuatu yang wajar. Aku sangat mengerti. Tapi yang bisa kukatakan hanyalah.. Anda harus mencari Xiao Shuxiang bila ingin membuktikan ucapanku,"


Raka Daksa memikirkan sejenak ucapan gadis di depannya sebelum membuka suara. "Apa sebenarnya tujuanmu hingga memberi bantuan padaku?"


"Hmh. Bukan Anda, tapi aku yang butuh bantuan. Tidak ada yang tidak mengenal Partai Pedang Tengkorak di Tiga Kekaisaran, bisa menjalin kerja sama dengan partai Anda merupakan keinginan orang sepertiku.."


Gadis di depan Raka Daksa juga mengatakan bahwa dia tidak berasal dari Benua Tengah, dan kedatangannya kemari adalah karena terlibat masalah dengan Xiao Shuxiang.


".. Tetapi siapa sangka orang itu malah membuat masalah dengan partai Anda. Setelah mengetahuinya aku langsung datang kemari karena kupikir kita punya musuh yang sama,"


"Nona, tapi aku belum tahu pasti apakah pemuda yang kau katakan benar-benar terlibat dengan tewasnya adikku atau bukan, aku masih harus membuktikannya.."


Gadis di depan Raka Daksa mengangguk setuju, dia lalu berdiri dan mulai mengatakan bahwa Raka Daksa bisa membawa orang-orangnya ke Sekte Pagoda Langit, karena Xiao Shuxiang merupakan 'Wali Pelindung' dari Ling Qing Zhu. Mendengarnya sontak membuat Raka Daksa terkejut.


"Sekte Pagoda Langit.." mendengar nama itu membuat Raka Daksa mengepalkan erat kedua tangannya, nampak sekali bahwa saat ini dirinya sedang sangat kesal.


"Hm? Apa ada yang salah dengan sekte itu?"


Rak Daksa menjawab dengan suara yang seakan diliputi amarah. Selama ini, partainya memang tidak pernah akur dengan Sekte Pagoda Langit. Hal itu disebabkan karena sekte tersebut terlalu mendominasi Kekaisaran Langit Tengah.


Banyak anggota Raka Daksa yang tidak bisa bebas bergerak dan menyebar banyak ketakutan akibat terus dihalangi oleh murid-murid Sekte Pagoda Langit.


Gadis bertudung hitam tersebut nampak tersenyum tipis saat melihat raut wajah Raka Daksa, "Kebencian di matamu itu.. Terlihat sangat indah,"


!!


Rak Daksa tersentak dan seketika menatap ke arah gadis berjubah serta bertudung hitam tersebut yang mulai berjalan ke arah pintu.


Tap


Tap


".. Sebaiknya Anda pikirkan ceritaku baik-baik. Lagi pula tidak ada salahnya untuk datang dan memastikan apakah Xiao Shuxiang benar-benar pelaku dari tewasnya adikmu atau bukan.."


Gadis tersebut kembali memakai topeng rubahnya dan mulai membuka pintu. Dia meninggalkan Raka Daksa seorang diri.


Sepertinya Ketua Partai Pedang Tengkorak tersebut tidak terlalu memperhatikan tubuh gadis yang dia ajak bicara tadi.


Dalam pakaian serba hitam, lengkap dengan jubah, dan tudung berwarna senada tersebut.. Gadis itu memiliki dada yang datar, belum lagi cara berjalannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang gadis.


Tap


Tap


Suara langkah kakinya perlahan memelan seiring dengan tubuhnya yang mulai berubah transparan sebelum akhirnya menghilang.


Malam tersebut seakan menjadi awal bagi kesulitan yang harus dihadapi oleh Xiao Shuxiang dan teman-temannya. Dia sendiri tidak mengetahui musuhnya mulai mengambil langkah pertama dari rencana besar yang kemungkinan akan menjadi penyebab dari kekacauan besar di Benua Tengah.


Jangankan memikirkan masalah yang akan datang.. Xiao Shuxiang malah nampak tertidur nyenyak di atas seutas tali sambil mendengkur cukup keras. Dia dan Bocah Pengemis Gila memenuhi kamar tersebut dengan suara dengkuran mereka.


Padahal di malam itu juga, Sri Anyar dan kelima adiknya mulai bekerja untuk mengajak satu persatu penjahat yang mereka kenal agar bergabung dengan Scarlet Darah.


Tepat saat cahaya matahari pagi mulai menerangi lantai tertinggi Pagoda Tingkat Sembilan.. Xiao Shuxiang akhirnya bangun dari tidurnya.


Biasanya dia adalah orang yang paling sulit dibangunkan ketika sudah tidur, tetapi ini benar-benar keajaiban dirinya dapat bangun sendiri bahkan lebih cepat dari Bocah Pengemis Gila.


Xiao Shuxiang turun dari bentangan tali miliknya, dia membereskan dan menyimpan tali panjang tersebut ke dalam Cincin Spasialnya.


Dirinya sedikit mendengus kala melihat Bocah Pengemis Gila masih setia mendengkur dengan posisi tubuh yang terlentang, tetapi dalam kondisi pakaian yang kacau.


"Ck ck ck.. Apa saja yang dia lakukan.." Xiao Shuxiang menggeleng pelan, dirinya melangkah menuju sekat kayu dan berniat membersihkan diri.


Suara kicauan burung di pagi yang cerah tak berawan ini juga seakan menyambut keluarnya Grand Elder Sekte Pagoda Langit dari tempat dia melakukan Pembersihan Iblis Hati.


Dia adalah ayah dari Ling Lang Tian dan Ling Qing Zhu, memiliki rambut panjang berwarna putih dengan mata biru, wajahnya bersih serta tampan. Usianya sudah sangat tua, tetapi tubuh dan tampilan wajahnya seakan dia masih berusia 39 Tahun. Namanya tak lain adalah Ling Chu Zhen.

__ADS_1


***


__ADS_2