
Yang Chai Jidan, pria yang terlihat berusia 86 Tahun, memiliki tubuh yang lumayan berotot dengat rambut putih panjang merupakan ayah dari Yang Shu dan Yang Fu.
Dia adalah Kaisar Salju Putih sekaligus kultivator yang praktiknya berada di GrandMaster Tingkat Langit. Walau usianya nampak 86 Tahun, namun sebenarnya usia Yang Chai Jidan lebih tua daripada itu.
Awalnya, Yang Chai Jidan bermaksud melihat latihan berkuda para cicitnya atau anak dari cucu-cucunya, namun dua orang pengawal datang dan mengabarkan bahwa dirinya kedatangan tamu dari Benua Timur.
Mendengar hal itu Yang Chai Jidan terkejut dan di sisi lain merasa begitu senang. Dia memang sudah lama menunggu tamu yang berasal dari Benua Timur, segera Yang Chai Jidan menyuruh kedua pengawalnya untuk membawa para tamunya itu masuk.
Apa yang dirasakan oleh pria tua berjanggut dan berkumis putih ini tidak bisa diungkapkan. Dia seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun menahan rindu.
Tap
Tap
Langkah kakinya semakin ringan, namun hatinya begitu berat karena menumpuk kerinduan yang mendalam. Saat berjalan masuk ke dalam Aula Pengadilan--pandangannya terarah pada dua sosok pria tua yang berdiri di depannya.
!!
Yang Chai Jidan tidak memiliki ingatan yang cukup baik. Tetapi melihat raut wajah dua pria berjanggut di depannya.. Dirinya sangat yakin mereka adalah putra yang selama ini dia rindukan.
"Ayah.."
Yang Shu dan Yang Fu tidak bisa menahan air mata lagi. Ayah mereka memang sudah berjanggut dan berkumis putih, kulit wajahnya pun nampak mengendur--tetapi wibawa dan ketampanan Sang Ayah masih sama seperti yang dahulu.
"Shu'Er.. Fu'Er.."
!!
Xiao Shuxiang terkejut saat Kaisar Salju Putih memeluk kedua Kakeknya. Rasanya sama sekali tidak memalukan, malahan hatinya merasa sesak. Pemandangan di depannya seperti diselimuti kesedihan, rindu, dan kebahagiaan yang menyesakkan.
Bukan hanya Xiao Shuxiang yang merasakannya, tetapi Bocah Pengemis Gila yang duduk di sampingnya juga demikian. Pemuda dengan tongkat bambu berwarna hitam tersebut bahkan meneteskan air mata.
"Kau cengeng sekali," Xiao Shuxiang menampar pelan lengan Bocah Pengemis Gila, dia lalu memandang kembali ke arah Kaisar yang masih berpelukan dengan kedua Kakeknya.
Bocah Pengemis Gila mengusap-usap lengannya, dia terlihat cemberut dan kemudian menoleh ke arah Xiao Shuxiang. Baru saja ingin merutuki pemuda itu dan menyebutnya tidak berperasaan--namun seketika niatannya terhenti.
!
Wajah yang dilihat Bocah Pengemis Gila memang sangat menawan, tetapi yang membuatnya tersentak adalah sebuah titik air jatuh di salah satu sudut mata wajah tersebut, dia dapat melihatnya dengan jelas.
Xiao Shuxiang baru sadar ada titik air yang jatuh di punggung tangan kanannya. Dia lalu mengusap pelan pipinya dengan memakai jari tangan kanan.
??
Xiao Shuxiang menengadah ke atas, dia berpikir atap ruangan ini bocor, tetapi tidak butuh waktu lama sampai dirinya menyadari titik air yang menetes barusan jatuh dari pelupuk matanya.
Tidak ingin duduk terus di sini dengan perasaan aneh.. Xiao Shuxiang perlahan bangun dan berjalan ke luar ruangan. Yang Shu, Yang Fu, dan Kaisar seperti tidak menyadari kepergiannya.
Bukan hanya mereka, tetapi Hai Feng, Zhi Shu, Xiao WeiWei, Xiao Qing Yan, dan Yang Hao juga tidak menyadarinya. Kelimanya seakan terhanyut dalam suasana rindu akibat pertemuan ayah dan anak yang telah berpisah selama bertahun-tahun.
Bocah Pengemis Gila menyadari kepergian temannya, namun dia tidak bergerak dari tempat duduknya. Lain halnya dengan Lan Guan Zhi, pemuda itu ikut berdiri dan menyusul teman baiknya meninggalkan ruangan.
"Ayah.. Kami minta maaf karena sudah pergi terlalu lama.." meski usia Yang Fu tidak lagi muda dan perawakannya seperti Kakek Jahat Berkumis Tebal, tetapi dibanding Yang Shu--dirinyalah yang paling berhati lembut.
Lihat saja, dia tidak pernah bisa menahan tangisnya. Dirinya sungguh sangat merindukan Sang Ayah, sosok yang ditinggalkannya tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
"Aku.. Sudah menjadi putra yang paling buruk. Pergi begitu saja dan membuat Ayah khawatir. Selama bertahun-tahun.. Dan baru sekarang kami memiliki keberanian untuk datang kemari.. Aku.. Benar-benar minta maaf.."
"Fu'Er.."
Yang Chai Jidan mengusap-usap pelan punggung putranya. Dia memang memiliki banyak anak, cucu, dan cicit yang hidup bersamanya. Namun tidak pernah satu hari pun terlewati tanpa memikirkan kedua anaknya yang pergi entah ke mana.
"Ayah.." Yang Shu seperti tidak bisa mengatakan apa pun. Dialah yang memutuskan untuk pergi dan meninggalkan semuanya tanpa berpikir dua kali.
Andai bukan karena dirinya, Yang Fu pasti tetap akan di sini. Dia terlalu lemah hingga membiarkan adiknya ikut. Karena kelemahan dan ketakutan inilah.. Ayahnya menjadi sangat direpotkan.
Yang Chai Jidan tahu bagaimana perasaan Yang Shu dan Yang Fu, serta rasa bersalah di hati kedua putranya ini. Namun penting mengingat bahwa masa yang sudah lewat tidak perlu lagi disesali.
".. Aku sudah sangat bahagia melihat kalian lagi, aku benar-benar merasa bahagia.."
Hai Feng dan Zhi Shu berusaha menahan rasa haru mereka, walau keduanya tidak mampu menahan air mata yang tumpah.
Di dalam ruangan ini, terselimut sebuah kehangatan dan juga kesedihan. Hai Feng dan Zhi Shu tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Guru mereka saat ini. Mereka hanya bisa diam sambil sesekali mengusap air mata.
Xiao Qing Yan sendiri juga nampak meneteskan air mata. Dia sebenarnya tidak pernah mengingat bahwa dirinya adalah anak sebatang kara, ini semua karena keberadaan teman-temannya dan Lan Xiao telah membuatnya melupakan hal itu.
Namun melihat pemandangan di depannya, Xiao Qing Yan jadi mengingat--dia tidaklah seberuntung Yang Shu dan Yang Fu.
Rrrrrr~
"Aku tidak akan mengatakan apa pun, Lan Xiao. Tidak kukatakan apa pun.."
Air bisa saja jatuh dari pelupuk mata Xiao Qing Yan, namun dia tidak akan mau mengingat apa yang dirinya tidak pernah miliki.
Bocah Pengemis Gila memang terharu, dia juga mempunyai keadaan yang sedikit mirip dengan Xiao Qing Yan. Namun sudah terlambat bagi keduanya untuk merasa kesepian, apalagi merindukan kasih sayang sosok yang disebut Ayah dan Ibu.
"Shuxiang.."
?!
Sebuah suara tenang dan lembut membuat Xiao Shuxiang menoleh, dia melihat teman baiknya sedang berjalan mendekat padanya.
"Kau kenapa?" Lan Guan Zhi sejak tadi memperhatikan ada yang aneh pada raut wajah temannya ini. Meski wajahnya mengandung ketenangan, namun tidak dengan perasaannya.
"Lan Zhi.. Kenapa kau keluar..?"
"Kau sendiri bagaimana?"
Xiao Shuxiang tidak menjawab pertanyaan temannya, dia terlihat memandangi langit kembali.
Lan Guan Zhi sendiri juga tidak memaksa, pemuda dengan pita dahi tersebut berdiri di samping Xiao Shuxiang dan ikut menatap langit.
Keduanya berdiri berdampingan tanpa ada yang buka suara lebih dari dua menit. Mereka seakan menikmati suasana tenang dan dinginnya udara di tempat ini.
"Lan Zhi.." suara pelan Xiao Shuxiang memecah keheningan, ".. Aku rasa.. Aku sudah semakin lemah,"
Lan Guan Zhi menoleh dan menatap teman baiknya.
Raut wajah pemuda berpakaian serba putih ini setenang air dan tatapan matanya begitu meneduhkan. Lan Guan Zhi merupakan pemuda menawan yang tidak akan membuat orang bosan memandanginya.
Xiao Shuxiang sadar sedang ditatap, dia lalu menoleh ke arah teman baiknya sejenak sebelum akhirnya memandang lurus ke depan.
__ADS_1
"Selama ini.. Aku yakin bahwa mengikat hubungan dengan manusia akan membuatku lemah, karenanya aku tidak pernah mau melakukannya.." Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan dan kembali berucap, kali ini dia menatap Lan Guan Zhi.
"Lan'Er, jujur saja. Di kehidupanku yang sekarang, kau adalah orang pertama yang mendapat pengakuanku. Bila ada yang ingin kuanggap berharga, itu adalah dirimu. Aku tidak akan peduli siapa pun, termasuk ayah dan ibuku. Bahkan bila harus memilih antara mereka dengan dirimu.. Aku tanpa ragu akan memilihmu."
!!
Lan Guan Zhi bisa mendengarnya dengan jelas, apalagi dari wajah teman baiknya ini--dia bisa tahu bahwa Xiao Shuxiang tidak sedang bercanda.
"Shuxiang.."
"Kau satu-satunya yang kuanggap sebagai keluarga. Dahulu, aku bahkan tidak peduli bila Sekte Pedang Langit musnah atau para Patriarch tewas asalkan bisa menyelamatkanmu.."
Xiao Shuxiang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari menatap Lan Guan Zhi.
Teman baiknya tidak banyak bicara, dan ketenangan ekspresi wajahnya tidak pernah berubah. Hanya saja, bila diperhatikan lebih teliti--pandangan mata teduh teman baiknya kini menampakkan sesuatu yang berbeda.
Bagi orang lain, mungkin ucapan Xiao Shuxiang terdengar ambigu. Tetapi untuk Lan Guan Zhi, pemuda di sampingnya ini sedang berusaha memberi tahunya sesuatu.
".. Lan'Er.. Awalnya alasan aku menyelamatkanmu adalah karena kuyakin hanya kaulah yang bisa membunuhku. Tetapi setelah beberapa lama aku menyadarinya.. Semua itu kulakukan karena aku menyayangimu. Bagiku, kau adalah teman, saudara, sekaligus orang yang kuanggap berharga. Hanya kau satu-satunya.."
"Mn, aku tahu. Tapi sekarang berbeda." Lan Guan Zhi mulai bisa memahami arti ucapan temannya, tatapan mata pemuda berambut panjang di sampingnya ini mengandung kegelisahan dan rasa takut. Sesuatu yang memang sangat dihindari teman baiknya.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan lalu mengangguk pelan. "Kau benar, sekarang bukan hanya kau yang kuanggap berharga. Aku mulai menyayangi ibu cantikku, menyayangi Tetua Tiga, Lan Xiao, Saudara Jing, Kakek, Saudara Seperguruanku, Duan De, dan seluruh warga Benua Timur.."
Xiao Shuxiang menyentuh bagian bawah dadanya, tepat di mana hatinya berada. Dia mengatakan ada sesuatu yang berubah, hal yang membuatnya menjadi lemah.
".. Melihat bagaimana Kakek berpelukan dengan Yang Mulia Kaisar tadi.. Rasanya sangat aneh di tempat ini. Seakan hatiku baru saja diruntuhkan dan aku membencinya,"
Xiao Shuxiang tidak ingin berhubungan dengan manusia yang akan membuatnya menjadi lemah. Dia lebih baik menjauhi hubungan semacam itu dan kembali menjadi dirinya yang dahulu.
"Kurasa sudah cukup aku hidup di lingkungan yang sama denganmu, Lan'Er. Berhubungan dengan kalian hanya akan membuat musuhku mengambil kesempatan memanfaatkanmu dan yang lainnya. Kau, ibu, ayah, dan kalian semua telah menjadi kelemahan terbesarku.."
!!
Xiao Shuxiang memang ingin menjadi manusia dan menjalani hidup yang lebih baik seperti yang diinginkan Shouxing, Roh Pedangnya. Dia berusaha melakukannya, tetapi itu malah membuatnya seperti orang yang tidak berdaya.
".. Aku yang selama ini tidak pernah menangis, untuk pertama kalinya meneteskan air mata hanya karena takut kau mati. Sejak saat itu aku mulai sering terharu, bahkan pada Duan De, Tetua Tiga, Ibuku, dan sekarang karena Kakek. Xiao Shuxiang yang memiliki gelar 'Sang Bintang Penghancur' seperti telah benar-benar mati.."
Xiao Shuxiang kesulitan menelan ludahnya dan juga sulit melanjutkan ucapannya. Dia menarik napas, memejamkan mata sejenak, sebelum kembali menatap Lan Guan Zhi.
".. Aku.. Tidak mau lagi. Aku memang mencoba untuk mengendalikan kekuatanku, tetapi bukan berarti aku ingin melemahkan hatiku.." Xiao Shuxiang mengepalkan erat kedua tangannya sebelum kembali bersuara.
".. Dekat denganmu, hidup bersamamu dan kalian semua telah membuatku menjadi berbeda dari diriku yang dahulu. Aku benar-benar harus mengakhirinya. Aku tidak bisa menjalaninya lagi.."
Xiao Shuxiang perlahan berjalan mundur, dia lalu berbalik dan bermaksud meninggalkan pemuda berpakaian serba putih di sampingnya.
"…"
Lan Guan Zhi tidak mengatakan apa pun selain meraih tangan Xiao Shuxiang dan menahannya untuk pergi. Tindakannya ini membuat teman baiknya terkejut.
"Kau tidak boleh pergi."
!!
***
__ADS_1