
TRANG..!
Yi Wen terlihat terpojok, dia berusaha menghindari serangan pria berpakaian hitam yang rupanya memiliki keahlian Tenaga Dalam Udara.
BAAAM..!
Serangan barusan kuat dan bahkan saat Yi Wen menghindar, pohon besar di belakangnya tumbang begitu saja. Dia mengembuskan napas dan detik berikutnya membalas serangan tadi.
"Selama ini aku tidak pernah bertemu denganmu. Lalu kenapa kau datang dan membuat kekacauan di tempatku..?!"
Pria tersebut adalah Tetua dari Partai Giok Besi, salah satu partai kecil yang ada di perbatasan antara Kekaisaran Langit Tengah dengan Kekaisaran Langit Utara. Dia merupakan pendekar yang berada di tingkat ke-Enam.
"Aku juga tidak mengenalmu, tapi seseorang memintaku untuk melenyapkan Partaimu ini.. Jadi maaf saja," suara Yi Wen terdengar tenang, dia membuat lawannya merasa kesal dan semakin mempercepat serangan.
TRAANG!
Benturan senjata keduanya menciptakan percikan api dan juga angin kejut, mereka bertarung tanpa peduli serangan itu berimbas pada bangunan atau pun nyaris melukai orang lain.
"Menghindar..!"
Salah seorang murid berseru, dia dan beberapa orang temannya melompat mundur kala sebuah serangan nyasar datang ke tempat mereka.
!!
Serangan itu menghasilkan suara debaman keras di sertai angin kejut yang dapat mendorong para murid hingga sejauh tujuh meter.
!!
Tanah bekas serangan itu berlubang dengan diameter 5 meter, terlihat asap-asap tipis bak tanah tersebut baru saja habis terbakar. Para murid yang melihatnya tanpa sadar menahan napas.
Traang..!
Trang..!
"Siapa orang yang dilawan oleh Guru? Dia.. Terlihat berbahaya,"
"Apa pantas kau mempedulikan itu? Lihat di depanmu!"
Salah seorang murid menegur temannya, mereka berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengkhawatirkan orang lain, apalagi memperhatikan pertarungan Tetua mereka.
"Penting bagi kita menghadapi mayat-mayat tidak tahu diri itu. Mereka sudah bau tanah, tapi tetap saja merepotkan..!"
Rutukan dari murid laki-laki berusia sekitar 22 Tahun tersebut membuat teman-temannya mengerjapkan mata. Mereka ingin bicara, tetapi mayat-mayat hidup tidak membiarkan mereka tenang barang sejenak.
Craaash..!
Seorang murid Partai Giok Besi berhasil menebas satu mayat hidup menjadi lima bagian, tetapi tidak butuh waktu lama--potongan tubuh mayat tersebut menyatu kembali.
!!
Keadaan ini sangat buruk, apalagi mereka hanyalah pendekar yang tidak bisa berkultivasi. Bila mereka mengalami luka yang parah, mustahil menyembuhkannya dalam sekejap.
Kebanyakan wilayah di Benua Tengah tidak mendukung kultivator, tetapi bukan berarti kultivator mudah dikalahkan. Bisa dibilang, para kultivator dapat kalah bila dia telah berada dititik kehabisan Qi.
Dan untuk mengatasi hal tersebut, kultivator yang bertarung sering melakukan satu tindakan nekat--yakni menyerang diawal secara langsung tanpa menahan kekuatannya.
BAAAM..!
Itulah yang dilakukan Yi Wen saat ini. Dia mengerahkan 30 mayat hidup untuk menyerang Partai Giok Besi yang jumlah muridnya sekitar 70 orang. Dirinya memang nekat, tetapi dia tidak melakukan hal tersebut tanpa pertimbangan.
30 mayat hidupnya adalah yang terbaik, mereka berasal dari golongan para pendekar. Kuku dan tangan mereka merupakan senjata mematikan, apalagi Yi Wen telah membuat para mayat hidupnya menjadi makhluk yang beracun.
Aaaakh..!
Erangan kesakitan tiga orang murid Partai Giok Besi membuat rekan di samping mereka terkejut. Sekujur tubuh mereka nampak berwarna ungu gelap dan tidak butuh waktu lama sampai ketiganya terbaring dengan mulut, hidung, dan telinga mengeluarkan darah.
TRAANG..!
Di sela-sela pertarungannya dengan Tetua Partai--Yi Wen terlihat menyeringai. Racunnya memang tidak sehebat racun Xiao Shuxiang yang dapat membuat tubuh manusia menjadi gumpalan daging, tetapi racunnya tetaplah mematikan.
TRANG!
Tetua Partai Giok Besi tidak tinggal diam, dia mengeluarkan semua teknik berpedang terbaiknya tanpa peduli tubuhnya terkena racun.
TRANG!
BAAAM..!
"Ini akibat karena kau berani mencari masalah di Partaiku..!" Tetua dari Partai Giok Besi berhasil membuat Yi Wen menghantam salah satu dinding bangunan dengan sangat keras.
Tatapan matanya terlihat tajam dan wajahnya mengandung kekesalan. Dia memegang kuat pedangnya dan sedikit menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.
Yi Wen sendiri merasakan punggungnya sakit, tetapi meski dahinya berkeringat dan mulutnya mengeluarkan darah segar--Dia masih bisa tersenyum.
"Kekuatan dari pendekar lumayan juga. Aku bisa merasakan tulang punggungku seperti dipatahkan, tapi anehnya--aku tidak membenci rasa ini.."
Yi Wen perlahan mulai bangun, dia baru ingin berdiri saat Tetua Partai Giok Besi kembali menyerangnya. Dirinya tidak mampu menghindar hingga harus terpental dan menghantam dinding lagi.
BAAAAM..!
Suara debamannya lebih keras daripada yang tadi, Yi Wen memuntahkan darah kental tetapi masih bisa tersenyum. Tetua dari Partai Giok Besi merasa kesal dan kembali menyerang.
__ADS_1
"MATI KAU..!!"
Teriakan Tetua Partai Giok Besi menjadi penyambut dari ayunan pedangnya yang penuh tenaga. Dia tidak berniat membiarkan lawannya bersiap, apalagi menghindari serangan mematikannya ini.
BAAAAM..!
Debaman keras disertai getaran pada tanah membuat para murid terkejut. Suara serangan Tetua mereka bersamaan saat mayat-mayat hidup yang mereka lawan tumbang satu persatu.
!!
"Ini.. Apa sudah selesai? Apa mungkin Guru berhasil..?"
Salah seorang murid nampak tak percaya, tubuhnya sudah penuh luka dan tatapan matanya telah memburam. Dia terlihat terengah-engah dan berusaha membuat detakan jantungnya kembali normal.
Teman di sampingnya juga sama menyedihkannya. Selama ini dia tidak pernah bertarung dengan mayat hidup yang begitu lincah dan seakan mempunyai pikiran sendiri. Ini merupakan pengalaman pertama baginya.
"Aku rasa.. Hah.. Hah.. Ini memang sudah-!!"
Ucapan murid tersebut seketika berhenti saat mayat hidup yang awalnya terjatuh tanpa bisa bergerak, tiba-tiba bangkit dan langsung menyerangnya.
!!
Dia sulit menghindar hingga terkena cakaran kuku mayat itu untuk kelima kalinya. Dirinya menyerang sekuat tenaga tanpa peduli bahwa saat ini pandangan matanya mulai memburam.
Di sisi lain, Tetua Partai Giok Besi merasa sudah menang karena lawannya sekarang terbaring dengan tubuh terbelah dua. Dia memegang kuat pedang pusakanya dan menatap penuh rasa jijik pada gadis yang tewas di depannya.
"Apa kau pikir Bocah sepertimu bisa mengalahkanku? Kalau kau pengguna racun, maka begitu juga denganku. Ini akibatnya karena kau berani menyerang Partaiku..!"
Tetua Partai Giok Besi baru saja ingin menebas tubuh lawannya kembali, namun saat bilah pedangnya nyaris menyentuh tubuh lawan--detik itu juga asap hitam menyembur dan mengejutkan dirinya.
!!
Pria tersebut melompat mundur, dia terbatuk dan mengeluarkan kata-kata kasar yang dialamatkan pada Yi Wen. Sayang lawannya lebih memilih menyerang dirinya tanpa peduli dengan apa yang diucapkannya tadi.
TRAANG..!
Yi Wen menggunakan pedang biasa, dia tidak memakai pedang berbilah dua miliknya karena merasa itu hanya digunakan saat dirinya tidak berniat mengampuni lawan.
Dirinya memang hanya mengirim 30 mayat hidup untuk membantunya mengacaukan partai ini, tetapi bukan berarti mayat-mayat tersebut tidak akan bertambah banyak.
"Sekaranglah saatnya.. Kalian semua bangun.." mata Yi Wen berkilat ungu, detik itu juga murid-murid Partai Giok Besi yang sudah tak bernyawa perlahan bangun dengan kondisi wajah serta tubuh yang berbeda-beda.
!!
Para murid yang melihat ini nampak membulatkan matanya. Mereka terkejut. Saudara seperguruan mereka mengeluarkan suara geraman hewan buas dan detik berikutnya langsung menyerang.
TRAANG..!
Mayat hidup milik Yi Wen yang awalnya berjumlah 30 orang menjadi bertambah dengan memanfaatkan mayat para murid Partai Giok Besi. Gadis cantik berambut sepanjang leher itu terlihat tersenyum sebelum akhirnya tertawa geli.
TRAANG!
"Aku akan memberimu pilihan. Kalau kau mau bergabung dengan Scarlet Darah, maka kau dan para muridmu akan kubiarkan tetap hidup."
Mendengar ucapan gadis di depannya, Tetua Partai Giok Besi meludah dan terkesan meledek. "Kau berkata demikian seakan-akan nyawaku dan nyawa para muridku ini berada di tanganmu. Hah, gadis liar sepertimu lebih baik dilempar ke tempat bordil."
Ucapan Tetua Partai Giok Besi terdengar dingin, namun Yi Wen malah mengerutkan kening kala mendengarnya. Dia lalu memberi serangan sekuat tenaga dan kemudian melompat mundur.
"Tempat bordil? Haah.. Paman! Aku memang punya tubuh yang bagus, tapi aku bukan gadis murahan. Memang kalau aku bekerja di sana, kau akan datang dan menyewaku?" Yi Wen meledek, dia menyingkap rambutnya dan sedikit membusungkan dada.
Pakaian Yi Wen berwarna hitam, tetapi tidak berlengan. Gadis cantik itu punya bagian atas yang menggiurkan dan meski tertutup--seseorang masih saja dapat membayangkan seperti apa empuknya.
!!
Tetua Giok Besi sedikit kehilangan fokus hingga terkena serangan dari Yi Wen. Dia terpental dan tanpa sengaja menubruk beberapa orang muridnya yang juga sedang bertarung.
"Hmph, pada dasarnya pendekar yang berasal dari aliran hitam memang tidak bisa menahan nafsu.." Yi Wen berjalan dan dengan sengaja merobek kain pada bagian bawah dadanya.
!!
Dia melakukan hal tersebut sampai memperlihatkan perut mulus tanpa cacat miliknya. Beberapa murid Partai Giok Besi membelalakkan mata hingga tanpa sadar menahan napas.
"Kenapa..? Apa begini saja kalian sudah tegang?" tatapan mata Yi Wen terarah pada bagian lutut murid-murid Partai Giok Besi, namun detik itu juga para murid spontan menangkup dan seakan melindungi 'Pilar Surgawi' mereka.
!!
"Ka-Kau Mau Apa?!" salah satu murid sampai tergagap sambil melotot horor ke arah Yi Wen, ekspresi wajahnya mirip seperti korban yang mau dilecehkan.
Yi Wen mengerutkan keningnya melihat ekspresi para murid Partai Giok Besi, matanya sedikit menyipit dan detik itu juga mayat-mayat hidupnya berhenti menyerang.
Senyum samar terlukis di wajah Yi Wen, dia jadi ingin mengerjai para murid ini dengan 'Siasat Gadis Cantik' versi terbarunya.
"Kau bilang aku mau apa..? Mm.. Kau perhatikan saja sendiri.." Yi Wen mengayunkan pedang ke arah paha kanannya, dia merobek kain celana miliknya hingga bagian paha mulusnya terlihat.
"Gadis Setan..! Apa Yang Kau Lakukan..?!" Tetua Partai Giok Besi mengumpat, dia menunjuk Yi Wen dan menatap gadis tersebut dengan geram.
"Hentikan Sekarang Juga Sialan..!"
Yi Wen, "Kenapa kau jadi heboh begitu? Aku tidak melakukan apa pun padamu? Aku merobek pakaianku sendiri, kau tak harusnya semarah ini?"
Tetua Partai Giok Besi dan para muridnya yang menyaksikan tindakan gila Yi Wen menjadi terbakar emosi. Di satu sisi mereka mengumpati gadis cantik tersebut, namun di sisi lain--batin mereka sedang diuji.
__ADS_1
Senyuman Yi Wen menjadi seringai licik, matanya sedikit menyipit dan detik berikutnya para mayat hidupnya melompat menyerang dengan begitu lincah.
!!
Tidak ada yang bisa menghindar, wajah Yi Wen memperlihatkan kepuasan saat para Partai Giok Besi kewalahan bahkan beberapa di antara mereka dibabat habis oleh mayat-mayat hidup tersebut.
Tawa Yi Wen pecah saat melihat tubuh tiga orang murid Partai Giok Besi dicabik hingga diperebutkan oleh para mayat hidupnya. Teriakan melengking karena rasa sakit malah menambah semangat Yi Wen untuk membuat para mayat hidupnya menggila.
".. Tenanglah.. Aku tidak akan membunuh kalian semua.."
Asap tipis terbentuk di kedua kaki Yi Wen dan perlahan tubuhnya menyatu dengan asap tersebut. Tetua Partai Giok Besi tidak menyadari perubahan tubuh Yi Wen menjadi asap dan perlahan menghilang.
Craash..!
"Gadis j*lang! Beraninya kau-!" Tetua Partai Giok Besi tersentak kala gadis yang menggunakan cara liciknya untuk membuat konsentrasinya buyar telah menghilang. Dia menggeram dan terlihat begitu murka.
Senjata Tetua Partai Giok Besi memang beracun, tetapi tidak berguna bila lawannya adalah manusia yang telah mati. Belum lagi, lawan-lawannya ini mempunyai racun yang tak kalah berbahaya. Efeknya memang lebih lambat, namun tetap saja mematikan.
Para murid Partai Giok Besi mengerahkan seluruh tenaga yang mereka miliki untuk melawan mayat-mayat hidup ini. Namun usaha mereka sama sekali tidak berguna.
Di tempat lain, yakni di hutan terdekat dengan Partai Giok Besi--Yi Wen terlihat duduk di sebuah batang pohon sambil mengusap-usap lengannya.
"Aku kedinginan.. Tidak kusangka aku benar-benar melakukannya.." Yi Wen seperti bicara pada dirinya sendiri, dia memang berada cukup jauh dari Partai Giok Besi, tetapi dirinya masih bisa mengendalikan para mayat hidupnya.
Perlahan titik-titik cahaya redup terbentuk di udara, tepat di samping Yi Wen. Cahaya itu mulai membentuk sosok tubuh manusia transparan yang hanya memperlihatkan bagian pinggang ke atas.
"Kalau kau tidak bisa menjadi penjahat, kenapa malah melakukannya?"
Yi Wen menoleh ke arah sosok makhluk di sampingnya. Bila diperhatikan lebih jelas, sosok tersebut adalah roh dari kakek tua berambut putih dengan mata berwarna merah. Dia baru saja bersuara.
"Tua Bangka, kenapa kau masih di sini? Harusnya kau sudah pergi ke Alam Nirwana. Jangan ganggu urusanku.." Yi Wen berujar ketus, dia seketika mendapat jitakan keras dari roh Kakek Tua di sampingnya.
"Aaah! Kakek! Apa yang kau lakukan?!"
"Aku tidak menjadikanmu sebagai pewarisku untuk membuat masalah, jadi hentikan semua ini sekarang juga."
Roh Tua Bangka yang melayang di samping Yi Wen tidak lain adalah Pilar Dunia yang selama ini dicari oleh Bocah Pengemis Gila. Dia bernama Light--Sang Pengendali Roh.
Yi Wen menatap sinis ke arah Tua Bangka di sampingnya dan langsung diberi jitakan lagi. Rasanya sakit, tetapi dia tidak bisa membalas jitakan tersebut dan harus dengan rela mendapat teguran dari Pilar Kelima ini.
Apa yang dikatakan Qian Kun tempo hari yang lalu memang benar, Yi Wen bukanlah warga asli dari Benua Timur. Saudara seperguruan Xiao Shuxiang ini adalah warga asli dari Benua Barat.
Light sendiri adalah ayah kandung dari ibu Yi Wen, kemampuannya yang dapat mengendalikan Roh sangat ditakuti dan teknik tersebut tidak boleh sampai jatuh ke tangan orang yang salah. Karena itulah Light memutuskan menjadikan cucu sendiri sebagai pewarisnya--saat itu usia Yi Wen masih sekitar 3 Tahun.
Terlalu muda? Itu memang benar. Tetapi untuk Sang Pengendali Roh, ini bukanlah masalah. Dia mendidik cucunya dengan baik, dan juga menulis semua kemampuan Pengendalian Roh untuk nantinya Yi Wen pelajari ketika usianya telah matang.
Tidak tanggung, Light menggunakan nyawanya sendiri untuk melindungi gulungan berisi tulisan tangannya agar hanya pewarisnya yang dapat membuka gulungan tersebut. Dia bahkan tidak sempat bertemu dengan Pilar Dunia yang lain.
Banyak yang sebenarnya mengincar Teknik Pengendalian Roh ini dan untuk membuat hidup mereka tenang--Yi Wen serta kedua orang tuanya memalsukan kematian mereka dalam sebuah kebakaran.
Ketiganya lalu melakukan pelayaran jauh hingga sampai ke Benua Timur. Mereka bersembunyi di sebuah desa terpencil yang bisa dikatakan terisolasi dari dunia luar. Desa yang beberapa warganya juga adalah pelarian.
Yi Wen sendiri baru fokus mempelajari teknik warisan kakeknya saat dia tidak lagi menjadi bagian dari Sekte Pedang Langit. Gadis cantik ini menyembunyikan kemampuannya bahkan saat perang melawan Wyvern dahulu, padahal andai dia menggunakan Teknik Pengendalian Roh--mungkin saja Xiao Shuxiang tidak harus mengalami luka parah akibat dantian berakarnya direbut.
".. Tugas Seorang Pilar Dunia adalah melindungi, tetapi kau malah terlihat lebih mendukung musuh dari saudara seperguruanmu sendiri. Kau jangan membuatku merasa.. Bahwa aku sudah sangat salah karena telah memilihmu sebagai pewarisku,"
Yi Wen mengalihkan pandangannya ke arah lain, ekspresi wajahnya sulit diartikan. Tetapi dengusan disertai senyum tipisnya seakan membuat Roh di sampingnya merasa telah melakukan kesalahan.
"Aku memang tumbuh besar di Benua Timur, teman-temanku juga sangat baik, tetapi aku tidak merasa bahwa tempat itu berhak kulindungi.." Yi Wen mulai bicara serius, dia menoleh sejenak ke arah Roh di sampingnya dan kembali memandangi pepohonan di depannya.
".. Saat perang melawan Wyvern, aku sangat yakin Saudara Xiao-ku bisa mengatasinya. Dia sosok yang kukagumi dan begitu kupercaya. Saudara Xiao adalah orang yang sangat kusukai,"
"Kalau kau memang begitu menyukainya, lantas mengapa-"
"Aku melukainya?" Yi Wen memotong pembicaraan roh di sampingnya, ".. Kakek, kau pasti sudah tahu.. Saudara Xiao-ku memiliki hati giok hitam. Dia tidak akan pernah peduli pada orang lain, dia bisa melukai siapa pun termasuk membunuh orang tuanya sendiri.."
Suasana di sekitar Yi Wen semakin lama kian menggelap. Entah sejak kapan matahari kembali ke tempat peraduannya dan digantikan oleh rembulan. Lebatnya hutan membuat Yi Wen sulit menatap langit berbintang.
".. Qian Kun ingin agar saudara Xiao-ku bertambah semakin kuat hingga tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Sementara aku ingin saudaraku mengerti bahwa keberadaannya tidak untuk membuat kekacauan. Dia membenci penghianat, Kakek. Tetapi demi mengubah pemikirannya dan menyadarkan saudaraku itu.. Aku rela menjadi orang yang paling dirinya benci."
Mata Yi Wen berubah warna menjadi ungu terang, dengan sekali gerakan tangan--dia mengendalikan para mayat hidupnya dari jarak jauh dan menyadari bahwa roh di sampingnya nampak menggelengkan kepala pelan.
"Wen'Er.. Aku tidak pernah bisa mengerti jalan pikiranmu. Jika kau tahu saudaramu sangat membenci penkhianat, kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau menyukainya..?"
"Aku suka padanya, Kakek.. Karena itulah kulakukan ini. Bagiku.. Aku tidak pernah menjadi penghianat, tetapi bila Saudara Xiao nantinya melihatku demikian.. Maka aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Seperti inilah caraku membuktikan cinta pada saudaraku itu.."
Yi Wen begitu serius mengatakannya, dia fokus membuat para mayat hidupnya menangkap Tetua Partai Giok Besi dan beberapa murid yang bisa diajak bekerja sama, sementara para murid lain dijadikan bagian dari mayat-mayat hidup miliknya.
Tidak ada partai ataupun sekte terdekat yang mau memberi bantuan. Sebagian mereka tidak peduli dan lainnya malah mendukung lenyapnya partai ini. Toh bila satu perguruan menghilang, maka saingan juga akan berkurang satu.
Bagi yang berasal dari Aliran Netral, jarak mereka terlalu jauh dan memang tidak mendengar apa pun tentang serangan tersebut. Kalaupun ada yang mendengarnya, mereka akan terlambat datang.
"Wen'Er.."
"Aku tahu tindakanku kelewatan, Kakek. Tapi bukan hanya saudara Xiao yang memiliki hati giok hitam.."
Roh di samping Yi Wen nampak mengembuskan napas pelan. Dia memang selalu berada di sisi cucunya dan keberadaannya bahkan tidak bisa dirasakan oleh orang lain, apalagi Pilar Dunia yang lain.
"Kau gadis yang baik, Wen'Er.. Tetapi jangan membuat saudaramu salah paham tentang tindakanmu ini. Kau mengenal saudaramu itu dengan sangat baik, jadi kau pasti tahu apa yang bisa dia lakukan."
"Mm, aku tahu.." Yi Wen tersenyum, ".. Tapi Teknik Pengendalian Roh milikku, jauh lebih kuat dibanding Teknik Pengendalian Darah milik Saudara Xiao-ku. Dan juga.. Dia akan sering merasa sakit mulai dari sekarang,"
__ADS_1
"Haaah.. Sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menasehatimu. Semoga saja tindakanmu ini tidak sampai membuatmu dibenci oleh teman-temanmu, Wen'Er.."
***