
Yang Ni merupakan cucu dari pangeran kelima, dia tidak hanya terkenal sebagai pemuda yang tampan dan ahli dalam memakai tombak, tetapi dirinya juga dikenal sebagai pemilik Hati Giok Hitam.
Seperti yang diketahui, seseorang berhati giok hitam dianggap sebagai manusia yang tidak memiliki perasaan. Dia bisa membunuh siapapun dan sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan bila orang yang dibunuh tersebut adalah orang terdekatnya.
Selama hidupnya, ini pertama kalinya Yang Ni merasakan hatinya disentuh sesuatu yang dingin. Terdengar desiran di dalam dadanya dan dirinya tidak tahu apa itu. Perasaan ini muncul bersamaan saat dia menyentuh kedua lengan pelayan di depannya.
Jarak Yang Ni dengan gadis jadi-jadian tersebut begitu dekat. Dia bahkan dapat mencium aroma lembut susu bayi yang seakan berasal dari tubuh pelayan dirangkulannya. Keadaan ini secara tidak sadar membuat ujung hidungnya memerah.
Hu Li terlihat masih mematung, sudah lebih dari dua menit Tuan Muda Xiao-nya berada dalam posisi yang membuatnya geli sendiri.
Andai Tuannya perempuan, Hu Li mungkin akan merasa pemandangan yang dilihatnya ini romantis. Sangat disayangkan dirinya tahu hal yang begitu fatal, Tuan Muda Xiao-nya adalah pria.
"Pangeran, te-terima kasih.."
Xiao Shuxiang dengan suara lembut dan wajah malu-malu berusaha menyeimbangkan kembali dirinya. Dalam hati dia tidak sanggup memuji diri sendiri, sandiwaranya sebagai perempuan terlalu luar biasa hingga dirinya merasa telah membuat 'Pilar Surgawinya' turun derajat.
"Tenanglah Xiao Shuxiang.. Hanya kau, Hu Li, O Zhan, dan Tuhan yang tahu. Tahanlah sebentar lagi.."
Meski sedang menyemangati diri sendiri, nyatanya Xiao Shuxiang belum bisa tenang apalagi bersemangat. Aura keperkasaannya sedang dipertaruhkan sekarang, lebih tepatnya dia menggantinya dengan aura feminim seorang gadis lugu nan polos.
Hasil yang sempurna sama sekali tidak membuat Xiao Shuxiang senang, malah dirinya hampir menangis. Perasaannya ini terlihat jelas dari tatapan mata dan raut wajahnya.
Yang Ni tersentak kala melihat mata pelayan di depannya nampak berair dan itu membuat dadanya sesak. Pertama kali dalam hidupnya dia merasa bersalah.
"Apa.. Kau terluka?"
Xiao Shuxiang menyentuh rambut depannya sambil sedikit tertunduk, dia lalu menggeleng pelan dan menjawab pertanyaan Yang Ni dengan berkata dirinya baik-baik saja.
"Kau yakin?"
Yang Ni ingin memastikan sekali lagi, ini karena menurutnya-- kata 'baik-baik saja' memiliki makna berbeda bila diucapkan oleh perempuan. Jadi dirinya mau memastikan apakah pelayan di depannya benar-benar dalam keadaan baik.
"Terima kasih.. atas perhatiannya, Pangeran. Saya.. Sama sekali tidak terluka,"
Bibir Xiao Shuxiang bergerak merdu, suaranya lembut, terdengar segar dan manis. Dia secara tidak sengaja telah membuat siapapun yang mendengar suaranya seakan diselimuti keharuman.
Xiao Shuxiang merasa sedikit gelisah karena pemuda di depannya hanya menatapnya dalam diam. Merasa ini waktu yang tepat untuk pergi, dirinya pun mulai berpamitan.
"Tunggu. Kau mau pergi ke mana?"
"Saya.. Harus ke kediaman Yang Mulia Kaisar.."
Xiao Shuxiang begitu malu-malunya menatap Yang Ni, jelas hal tersebut termasuk ke dalam sandiwaranya. Dia kembali akan berpamitan namun tiba-tiba pemuda di depannya menawarkan diri untuk mengantar.
"Di jam seperti ini Kaisar sedang beristirahat, jadi pelayan tidak diizinkan masuk. Tetapi aku bisa menjamin kau dapat bertemu Kaisar. Ayo ikuti aku,"
"Tapi.."
Xiao Shuxiang belum sempat memberi penolakan dan Yang Ni sudah lebih dulu berjalan di depannya. Dia dan Hu Li terpaksa mengikuti pemuda yang mereka yakini adalah seorang pangeran.
"Gawat, apa kupatahkan saja lehernya? Kaisar punya banyak cucu, jadi dia tidak akan sadar kalau salah satu cucunya menghilang, kan?"
Xiao Shuxiang yang berjalan di belakang Yang Ni mulai memikirkan untuk melakukan sesuatu. Dia melirik Hu Li dan langsung mendapat gelengan tanda tidak setuju dari temannya itu. Hu Li sepertinya tahu yang dirinya pikirkan barusan.
"Berjalanlah di dekatku. Ini agar kau tidak tertinggal,"
Yang Ni begitu perhatian pada Xiao Shuxiang, dia bahkan memegang pergelangan tangan kanan gadis jadi-jadian tersebut dengan alasan cara jalan Xiao Shuxiang terlalu lambat.
Yang Ni hanya sekilas menatap Hu Li, pelayan tersebut berwajah manis dan terlihat masih berusia belasan tahun. Dia merasa biasa saja pada pelayan itu, tidak seperti saat dirinya menatap Xiao Shuxiang.
Hu Li yang berjalan di belakang Tuan Muda Xiao-nya nampak menghembuskan napas pelan. Dia kagum karena Tuannya dapat memikat seorang pangeran dengan sandiwaranya sebagai perempuan, tetapi di satu sisi dirinya merasa tidak tenang.
Bukan karena Yang Ni bersama mereka, tetapi kegelisahannya disebabkan cara jalan Tuan Mudanya. Tangan dan kaki Hu Li hampir di ambang batas, dia ingin sekali menampar serta menendang bokong Xiao Shuxiang.
"Cara berjalan perempuan tidak seberlebihan itu Tuan Muda Xiao..! Aiih.. Semoga saja tidak ada 'binatang buas' di tempat ini,"
Hu Li mengkhawatirkan keselamatan Xiao Shuxiang. Walau malu mengakuinya, namun menurutnya Tuan Mudanya mempunyai bokong yang berisi, dan tentu akan sangat berbahaya bila ada orang mesum yang memperhatikan bokong Tuannya, apalagi sekarang ini Tuan Muda Xiao-nya sedang menyamar menjadi perempuan.
Xiao Shuxiang sendiri tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan Hu Li di belakangnya. Dia hanya fokus memperhatikan setiap sudut tempat dan mengingatnya.
"Kenapa kau ingin menemui Kaisar?"
Suara dari Yang Ni memecah keheningan, Xiao Shuxiang dengan suara lembut dan menenangkannya memberi jawaban atas pertanyaan Yang Ni.
__ADS_1
"Maaf, Pangeran.. Saya tidak bisa memberitahu Anda.."
Yang Ni tidak merasa pelayan di sampingnya adalah orang jahat. Dirinya hanya penasaran dengan sensasi aneh yang dia rasakan saat bersama pelayan ini. Perasaannya gelisah, namun hangat di waktu bersamaan.
"Gadis ini.. Siapa sebenarnya dia?"
Yang Ni merasa gugup untuk bertanya, namun setelah cukup tenang--dirinya pun mulai berani. Dia menanyakan berapa lama Xiao Shuxiang bekerja di tempat ini dan di bagian apa. Karena jujur saja, ini pertama kali bagi dirinya bertemu pelayan seperti Xiao Shuxiang.
"..."
"Kau tidak mau bicara?"
Xiao Shuxiang menatap Yang Ni beberapa detik sebelum menundukkan kepalanya sedikit. Dia mengatakan masih baru di tempat ini dan dirinya juga baru pertama kali bertemu Yang Ni.
"Apa tidak ada pelayan senior yang mendampingimu?"
Xiao Shuxiang mulai merasa Yang Ni sudah terlalu banyak bicara. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan barusan dengan berbohong. Daripada melakukannya, dia lebih mengalihkan perhatian Yang Ni dengan memintanya untuk melepas pegangan tangannya.
"Jalanmu terlalu lambat. Jadi lebih baik seperti ini,"
"Tapi.. Seseorang mungkin akan beranggapan lain. Saya.. Tidak mau terlibat.. Masalah,"
"Aku akan melindungimu,"
!
Xiao Shuxiang berusaha menahan diri untuk tidak menjitak kepala pemuda di sampingnya. Apa penyamarannya begitu luar biasa sampai-sampai tidak disadari? Dia jadi penasaran ingin mencobanya untuk mengerjai Lan Guan Zhi.
"Tunggu, kenapa aku memikirkan hal itu?! Aku pasti sudah tidak waras,"
Xiao Shuxiang akhirnya merelakan pergelangan tangannya tetap dipegang. Dia bersyukur karena dirinya sudah memasuki kediaman Kaisar.
Mudah bagi Xiao Shuxiang dan Hu Li untuk melewati penjaga, ini dikarenakan Yang Ni ada bersama mereka.
Di tempat lain, kesebelas kultivator masih tetap mengawasi setiap gerak-gerik Xiao Shuxiang dan Hu Li. Informasi tentang kedatangan penyusup yang mereka sedang perhatikan ini sebenarnya telah sampai di telinga Kaisar. Namun, mereka belum diizinkan melakukan tindakan apapun.
Xiao Shuxiang dan Hu Li dapat melihat banyak selendang berwarna ungu muda yang terbentang dan sebagian lagi nampak terlilit pada pilar-pilar di kedua sisi mereka.
Ruangan ini terang, dihiasi oleh kristal yang terbuat dari Es dan mengeluarkan cahaya keperakan. Setiap sudutnya terdapat guci yang terbuat dari perak dan berukir bunga wisteria.
Pria tersebut mempunyai rambut panjang berwarna putih, tubuhnya lumayan berotot tetapi ditutupi oleh pakaian berwarna putih dengan corak burung walet emas.
Pria tersebut terlihat berusia 86 Tahun, terlalu muda untuk usianya yang sebenarnya. Semakin dekat dirinya berjalan, Xiao Shuxiang akhirnya bisa mengetahui bahwa Tua Bangka yang dia lihat merupakan kultivator dengan praktik berada di Grand Master Tingkat Langit.
Alis Xiao Shuxiang mengerut, pria berkumis dan berjanggut putih panjang yang berjalan mendekatinya adalah kultivator, tetapi pangeran tampan di sampingnya hanyalah manusia biasa.
Padahal dia yakin bahwa Tua Bangka tersebut merupakan orang yang dia cari, yakni Sang Kaisar. Dan bila seorang Kaisar berkultivasi, maka itu juga harusnya menurun pada anggota keluarganya.
"Yang Mulia, kupikir Anda sudah tidur.."
Yang Ni begitu sopan berbicara saat Tua Bangka yang dilihat Xiao Shuxiang telah berdiri di depannya. Aura seorang penguasa benar-benar terpancar dari Kakek ini.
"Yang Ni, bagaimana latihanmu?"
Kaisar Salju Putih bernama Yang Chai Jidan, dia merupakan ayah dari kakek Xiao Shuxiang. Sampai sekarang, tahta kaisar masih diduduki olehnya.
Yang Chai Jidan awalnya hanya manusia biasa, kepergian putranya Yang Shu dan Yang Fu membuat dirinya memutuskan menjadi kultivator agar bisa berumur panjang. Semua ini dia lakukan supaya Tahta Kaisar tetap terjaga sampai pemilik yang sebenarnya kembali.
Ibu suri dan permaisuri yang menentang keputusannya sudah lama meninggal dunia. Setiap orang terdekat Yang Chai Jidan, baik dari para anak dan istrinya--maupun para menteri telah berubah dari segi fisik. Yang berbakat akan berkultivasi dan yang tidak hanya bisa menunggu takdirnya.
Sebenarnya, Tiga Tua Bangka yang Xiao Shuxiang dan Hu Li temui sebelumnya merupakan kultivator, namun praktik mereka masih sebatas di Master Foundation. Para Tua Bangka tersebut juga memiliki segel di keningnya, karena itulah Xiao Shuxiang dan Hu Li tidak merasa khawatir.
Ada beberapa pangeran dan juga pelayan yang mempunyai tanda segel itu. Meski sebenarnya tidak perlu, namun Hu Li tetap menyembunyikan segel di keningnya dengan memakai suatu trik.
Yang Ni berbasa-basi sebentar pada Kakeknya dan kemudian membahas tentang pelayan yang masih dia pegang ini.
".. Namanya Shu Xiang, pelayan baru di tempat ini dan sepertinya sedang disuruh oleh salah satu selir untuk menyampaikan sesuatu pada Kakek. Aku hanya mengantarnya kemari,"
"Yang Ni. Tapi apa kau perlu memegang tangannya sampai seperti itu?"
!!
Yang Ni tersentak, dia baru tersadar belum melepaskan pegangan tangannya pada Xiao Shuxiang. Rasanya benar-benar memalukan dan membuatnya gugup di waktu bersamaan.
__ADS_1
Yang Chai Jidan tahu bahwa dua pelayan di depannya merupakan pria yang sedang menyamar. Namun dirinya belum mau mengungkap identitas mereka, dia ingin tahu apa yang mau di sampaikan kedua penyusup ini.
"Hm? Anak ini.." Yang Chai Jidan mengerutkan kening saat memperhatikan Xiao Shuxiang dengan baik. Dia merasa tidak asing ketika melihat pemuda yang berpakaian pelayan wanita di depannya.
"Nak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
?!
Xiao Shuxiang tersentak, dia memperhatikan Tua Bangka di depannya dari bawah sampai atas. Tatapan matanya bertemu dengan milik Yang Chai Jidan. Mata orang di depannya seperti dapat mengungkap siapa dia yang sebenarnya.
Xiao Shuxiang menggeleng pelan, dia baru pertama kali bertemu Yang Chai Jidan, jadi tidak mungkin Tua Bangka ini mengenal dirinya.
"..."
Yang Chai Jidan tidak merasa ada bahaya apapun yang dibawa pelayan di depannya. Dia juga tidak merasakan ada niatan jahat yang tersembunyi selain rasa keakraban seolah pelayan ini adalah bagian dari keluarganya.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Hu Li berjalan maju dan berhenti tepat di belakang punggung Xiao Shuxiang bersamaan dengan Tuannya itu meletakkan tangan kirinya di belakang punggung.
Hu Li hanya berpura-pura meletakkan sesuatu di tangan Xiao Shuxiang, padahal sebenarnya Tuan Mudanya sedang mengeluarkan gulungan titipan Yang Shu dari dalam Gelang Semesta miliknya.
Xiao Shuxiang bersandiwara dengan membuat tangannya sedikit gemetar saat memberikan gulungan tersebut pada Yang Chai Jidan.
Yang Ni sebenarnya penasaran dengan isi gulungan yang ada pada Kakeknya, namun dia masih bisa memasang wajah tenang dan seakan tidak peduli. Perhatiannya lalu tertuju pada pelayan berambut panjang di depannya.
Xiao Shuxiang sadar sedang diperhatikan, dirinya lalu menunduk perlahan dan seperti menghindari tatapan Yang Ni. Semburat kemerahan nampak di wajah mempesona miliknya.
Yang Chai Jidan mulai membuka gulungan yang diberikan Xiao Shuxiang. Baru saja dia melihat tulisan pada gulungan tersebut dan dirinya langsung membelalakkan mata saking terkejutnya.
Yang Chai Jidan tidak memiliki ingatan yang cukup baik, dia sering salah menyebut nama cucu dan anak-anaknya. Tetapi ada satu yang dirinya tidak pernah lupa, yakni tulisan dari salah satu putranya.
'Ayah, bagaimana keadaanmu?
Aku percaya Ayah masih menungguku saat ini,
Sudah sangat lama, aku bahkan tidak tahu berapa waktu kuhabiskan di tempat yang asing ini, maafkan aku..'
"Shu'Er.."
Yang Chai Jidan tidak percaya dengan isi gulungan yang dia terima. Dirinya berusaha tetap tenang walau sebenarnya ingin menangis.
Bertahun-tahun dia mencari putranya, berbagai usaha selalu dirinya lakukan. Sampai sekarang pun, dia masih melakukannya meski harus secara diam-diam.
"Yang Ni, kau lanjutkan latihanmu. Dan kalian berdua, ikuti aku."
Xiao Shuxiang dan Hu Li mengangguk, keduanya mengikuti Yang Chai Jidan dari belakang. Yang Ni sendiri meski penasaran, namun dia tidak berani menolak perintah Kakeknya.
Dia pun berpamitan untuk pergi melanjutkan latihannya, dirinya yakin pasti akan bertemu dengan pelayan yang menurutnya cantik dan mempesona tersebut.
Dalam sebuah ruangan yang luas dan megah, Xiao Shuxiang dan Hu Li duduk sambil memperhatikan Yang Chai Jidan membaca surat dari putranya.
'.. Aku sudah membuat Ayah kesusahan, kuharap Ayah tidak terlalu merindukanku.
Aku orang yang lemah, pergi hanya demi keselamatanku sendiri dan tidak memberi tahu apapun padamu. Aku telah membuat kesalahan yang besar, kuharap Ayah mau memaafkanku..'
Yang Chai Jidan mengusap wajahnya, dia tidak sanggup membaca pesan dari putranya lagi. Sudah berpuluh-puluh tahun Yang Shu pergi dan setiap anaknya yang lain kini telah memiliki cucu.
Ada satu waktu, dirinya pernah ingin menyerah mencari putranya. Namun perasaannya selalu gelisah ketika tidak melakukan apa-apa.
Yang Chai Jidan menarik napas dan berusaha menenangkan diri. Dia kemudian mulai melanjutkan membaca surat dari putranya.
Dalam surat tersebut, Yang Shu mengatakan bahwa dia dan saudaranya Yang Fu baik-baik saja. Saat ini mereka menjadi kultivator dan Yang Fu memutuskan melajang entah sampai berapa lama.
'.. Aku beberapa kali melihat utusan dari Ayah, tetapi mereka sepertinya tidak mengenaliku. Itu terasa melegakan,
Ayah, aku tahu kau orang yang keras kepala. Dirimu pasti akan datang kemari bila aku memberitahumu lokasiku saat ini, karenanya aku lebih memilih tetap merahasiakannya.
Saat ini, aku sudah berkeluarga. Aku mempunyai seorang putra dan dua orang cucu. Salah satu cucuku merupakan orang yang memberimu gulungan ini. Ayah jangan terkejut jika dia menyebutkan namanya, karena Cucu Kesayanganku itu memakai marga ibunya.
Aku dan Yang Fu sebenarnya rindu padamu, tetapi kita tidak bisa bertemu sekarang. Kami harus menjadi lebih kuat, Ayah tunggulah sebentar lagi. Semoga aku dan adikku bisa pulang untuk menjengukmu,'
Yang Chai Jidan belum selesai membaca seluruh tulisan putranya, tetapi dirinya langsung menatap ke arah Xiao Shuxiang dan memintanya mendekat.
__ADS_1
Dirinya menanyakan nama gadis jadi-jadian tersebut ketika Xiao Shuxiang berada di dekatnya. Dia baru memperhatikan dengan teliti, pelayan ini memang miliki wajah yang sedikit mirip dengan putranya.
***