
Xiao Shuxiang mengajak Ling Qing Zhu untuk pergi, keduanya bertemu dengan Jing Mi dan yang lainnya di halaman depan Sekte Kupu-Kupu.
"Saudara Xiao!" Hou Yong berseru, dia terlihat khawatir. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi firasatnya sungguh tidak nyaman.
"Saudara Xiao.."
"Hou Yong, jangan katakan apa pun untuk sekarang ini, aku yakin kau pasti sudah menyadari situasinya. Pergilah, kurasa kalian tidak punya banyak waktu." Xiao Shuxiang tahu benar bahwa Hou Yong dan teman-temannya membutuhkan penjelasan darinya, namun dia merasa ini bukan saat yang tepat untuk bicara.
Yi Wen yang berada di antara teman-temannya juga nampak gelisah. Dia memain-mainkan rambutnya dengan cepat dan nampak memikirkan sesuatu.
Dia tahu Qian Kun pelaku dari keadaan ini, Yi Wen sendiri juga terlibat dalam kelompok tersebut. Hanya saja yang membuatnya gelisah adalah persoalan mengenai Qian Kun yang bergerak secara terburu-buru.
"Kenapa kalian hanya berdiam diri saja? Apa perlu kutendang baru kalian bergerak? Sana..!" Xiao Shuxiang tidak percaya teman-temannya masih saja diam di saat gemuruh yang terdengar semakin keras.
Jing Mi, Hou Yong, dan Hai Feng bergegas pergi, mereka bermaksud menyelamatkan warga Kota Awan Dingin. Yi Wen menyusul ketiganya dari belakang, dia bersama dengan Ling Qing Zhu dan Zhi Shu.
Setelah teman-temannya pergi, Xiao Shuxiang juga ikut melesat, namun ke arah yang berlawanan. Dia sebelumnya sudah mencium bau yang pekat, hanya saja tidak memberi tahu Jing Mi dan yang lainnya.
!
Xiao Shuxiang menapak di salah satu pohon, dia berhenti sejenak dan terbatuk. Aroma yang diciumnya merupakan bau dari kebencian dan begitu pekat. Dia menutup hidungnya dengan punggung tangan kiri sementara tangannya yang satu bersandar pada batang pohon.
Kedua alis Xiao Shuxiang bertaut dengan raut wajah yang berubah antara pucat dan berkedut sedikit. Saat dia fokus pada indra penciumannya, hidungnya terasa seperti disiksa dengan aroma pekat ini.
Terdapat titik keringat di dahi Xiao Shuxiang, dia mengusapnya sebelum kembali melesat pergi. Kedua kakinya terkadang saling bergantian berpijak pada dahan pohon, ekspresi wajahnya tidak seperti yang biasa.
Tujuan Xiao Shuxiang adalah daerah paling selatan dari Kekaisaran Matahari Tengah, sebuah hutan luas dan lebat yang pernah menjadi saksi dalam perjalanannya di masa lalu.
Sebagian dari hutan tersebut pernah terkena dampak Pedang Kaisar Langit yang dikeluarkan Xiao Shuxiang untuk melawan Wyvern dahulu. Namun setelah beberapa lama, hutan itu kembali indah dengan pepohonan yang baru. Hanya saja sekarang, keindahannya telah dirusak oleh pertarungan para mayat kultivator yang dibangkitkan Gong Zitao.
Butuh waktu bagi Xiao Shuxiang untuk tiba di hutan itu. Saat menapakkan kakinya di salah satu batang pohon yang tumbang, dia melihat ada sekitar lima belas sosok dengan pakaian berbeda-beda yang tengah berdiri tenang dan seolah telah menunggu kedatangannya.
Sosok-sosok itu mempunyai pakaian yang kotor, kurang rapi, dan koyak pada beberapa bagian. Rupa mereka berbeda-beda, namun memiliki kulit pucat dengan urat-urat tipis kehitaman pada punggung tangan, leher, hingga wajahnya.
Ada beberapa di antara mayat-mayat itu yang nampak sepuh, lainnya terlihat bagai kultivator berusia sekitar 30 Tahun keatas.
"Kau akhirnya datang.."
"Lama tidak bertemu.. Xiao Shuxiang."
Suara barusan berasal dari seorang sesepuh yang memiliki kepala plontos, dan satunya lagi adalah pria dengan tubuh tegap berwajah garang. Keduanya merupakan kultivator dari Sekte Bulan Emas dan Sekte Pedang Perak yang keberadaan sekte itu sudah tidak ada di Benua Timur.
"Dia memang Xiao Shuxiang,"
"Aku tidak akan pernah melupakan wajah orang yang sudah membunuhku,"
"Benar-benar takdir yang buruk. Kenapa harus dia yang bereinkarnasi kembali?"
Kali ini suara-suara itu berasal dari kultivator wanita. Xiao Shuxiang memperhatikan mereka semua, wajah-wajah yang tidak asing baginya. Walau dia masih belum mengucapkan apa pun, namun jujur saja dia amat kesal pada Qian Kun karena menggunakan cara selicik ini untuk melawannya.
Qian Kun melibatkan terlalu banyak orang, padahal yang berurusan dengannya hanyalah Xiao Shuxiang. Tetapi bila dipikir-pikir lagi, melibatkan orang-orang yang tidak bersalah sudah menjadi kebiasaan mereka yang berada di jalan penuh keburukan.
__ADS_1
"Kejutan yang tidak terduga.." Xiao Shuxiang akhirnya bicara, dia nampak tersenyum tipis. ".. Aku sampai kehilangan kata-kata, bagaimana aku harus menyapa kalian? Apa neraka terlihat indah, Senior Jian Shen?"
"Bedebah," Jian Shen berujar dingin. Urat menegang di dahinya saat melihat senyuman tipis Xiao Shuxiang yang nampak bagai sindiran baginya. ".. Suara dan wajahmu benar-benar sama. Kenapa kau tidak mati untuk menebus segala dosamu itu?"
"Haah.. Bagaimana ya. Surga tidak menerimaku dan neraka juga menolakku. Aku pikir akan menjadi roh gentayangan, tapi Tuhan rupanya sangat adil. Aku dibuang ke dunia lagi, sayang tidak terlahir sebagai b*bi."
Nada suara Xiao Shuxiang seperti memprovokasi, dia tahu Jian Shen masih menahan diri untuk tidak berteriak lantang dan memaki sambil mengutuknya. Dia pun mengedarkan pandangannya dan memperhatikan wajah-wajah dari kultivator yang lain.
Rasanya seperti reuni, hanya saja dengan suasana yang penuh ketegangan. Kelima belas orang ini adalah sosok-sosok yang begitu benci padanya sampai ke sum-sum tulang.
Xiao Shuxiang. "Tidak perlu menatapku seperti itu, aku juga kecewa karena Benua Timur masih ada sampai sekarang. Tapi jika kalian tetap di sini, mungkin saja keberadaan Benua Timur bisa menghilang dan kalian pasti tidak akan menyukainya,"
"Hah, apa peduliku? Tempat yang sudah rusak memang seharusnya dimusnahkan saja. Lagipula kami semua yang berada di sini bangkit karena kebencian padamu."
Di antara para kultivator, hanya Jian Shen yang membalas ucapan Xiao Shuxiang. Kultivator yang lainnya kebanyakan tidak sudi untuk sekadar menghina Koki Alkemis tersebut, sebagian yang lain bahkan masih bertanya-tanya mengapa Xiao Shuxiang bisa bereinkarnasi tanpa kehilangan ingatan masa lalunya.
"Senior Jian Shen, aku tahu kau orang yang tidak pernah peduli apa pun, termasuk bila berhubungan dengan kekacauan yang kutimbulkan. Tapi bagaimana dengan yang lainnya? Senior Lou Ye misalnya, bukankah dia berasal dari Sekte Pedang Langit?"
Xiao Shuxiang menatap kultivator yang memakai sebuah pita dahi. Pakaian putihnya nampak kotor dan terlihat sudah tua. Meski wajahnya pucat serta dipenuhi urat-urat tipis kehitaman, namun sosok itu masih amat tampan dan penuh wibawa.
"Senior Jian Shen, kau berasal dari Aliran Hitam, jadi aku tahu bagaimana pikiranmu. Tapi kurasa apa yang kau katakan tidak mungkin disepakati oleh Senior Lou Ye. Dia mana mau membahayakan orang lain. Dia hanya akan melanggar aturan Sekte Pedang Langit bila melakukannya."
"Kau benar," Wei Lou Ye menimpali. Dia berwajah tenang dengan postur tubuh penuh wibawa, ".. Aku tidak sejalan dengan pikiran Jian Shen. Aku tidak akan membunuh siapa pun kecuali dirimu. Kau adalah penyebab dari semua ini,"
"Hmm. Kurasa memang begitu.." Xiao Shuxiang tersenyum pahit. "Haah.. Aku ingin sekali tertawa keras sekarang ini. Senior merupakan sosok yang kuhormati, rasanya berat saat bertarung denganmu di masa lalu. Tapi tidak kusangka akan seberat ini saat berhadapan denganmu lagi.."
"Kau sepertinya tidak mau mengatakan apa pun. Di masa lalu saat kutanyakan alasan kau berbuat kekacauan, kau juga bersikap seperti ini."
"Senior Lou Ye, apa yang bisa kukatakan padamu? Setiap ucapan dan tindakan dari Xiao Shuxiang ini selalu salah di mata orang yang membencinya. Apa aku diberi kesempatan untuk menjelaskannya waktu itu? Apa kalian bersedia mendengarkanku? Hah. Sama sekali tidak. Justru kalian bersatu dengan pasukan ribuan orang hanya untuk melenyapkan Xiao Shuxiang ini. Lalu apa yang bisa kulakukan? Menerima kematianku begitu saja tanpa melawan? Itukah yang kalian inginkan?"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, tidak ada yang pantas dirinya sesali. Kenyataannya adalah karena dia 'berbeda', sebab itulah mereka membencinya.
Orang-orang menginginkan dia menjadi bagian dari mereka. Menginginkannya menjadi seperti mereka. Tetapi karena dia memilih untuk menjadi diri sendiri, melewati jalan yang dia inginkan. Dia pun dianggap sebagai musuh yang akan membawa keburukan bila tidak segera disingkirkan.
"Walau sudah lama tidak bertemu, kau masih keras kepala.. Xiao Shuxiang" salah seorang sesepuh berujar, dia memiliki tatapan mata seperti menyimpan dendam yang hampir meledak.
"Entahlah Tetua Fang, bagiku justru kalianlah yang keras kepala.." asap tipis kehitaman mulai terbentuk dan menyelimuti tangan kanan Xiao Shuxiang. Asap tipis itu memadat dan membentuk sebuah pedang yang tidak lain adalah Yīng xióng.
Kelima belas kultivator di hadapan Xiao Shuxiang sudah bersiap sejak tadi. Suasana yang begitu tegang dan tidak nyaman telah membuat mereka kehilangan selera untuk bertegur sapa, sekarang waktunya bicara dengan cara yang lain.
"…"
"…"
Bersamaan dengan hembusan angin yang berlawanan arah, Xiao Shuxiang dan para kultivator itu saling melesat. Tiba di pertengahan, senjata mereka berbenturan dan menciptakan bunyi nyaring yang mampu membuat ngilu telinga.
Xiao Shuxiang tidak menghadapi sembarangan orang. Kelima belas kultivator berbagai sekte ini adalah sosok-sosok yang kuat. Mereka memiliki teknik bertarung yang hebat dan tidak pernah menahan kekuatan sama sekali.
"Kenapa Xiao Shuxiang? Apa sekarang kau sudah memiliki hati? Kau menyesali perbuatanmu hingga semangat bertarungmu berkurang, huh?!"
Suara Jian Shen terdengar bagai ledekan, pedangnya berbenturan dengan Yīng xióng hingga tercipta percikan api dan bunyi bagai dua petir yang bertabrakan.
__ADS_1
!!
Xiao Shuxiang merasakan kebas pada tangan kanannya, dia melompat mundur dan melentingkan tubuh ke belakang ketika mendadak diserang dari udara oleh kultivator yang lain.
Kalau saja dia tidak teringat dengan peringatan Ling Lang Tian, Xiao Shuxiang pasti sudah menggila sekarang. Kakak iparnya telah memberinya peringatan bahwa dia harus bisa menahan diri selama masa-masa pernikahan untuk tidak melakukan pembunuhan.
Tujuh belas hari adalah batasnya, dan Xiao Shuxiang harus bisa bertahan selama itu. Ini adalah ketetapan yang wajib diikuti oleh dua pendekar yang menikah, bila tidak ditunaikan dengan baik----hal yang buruk bisa mengancam pernikahan pendekar tersebut.
"Xiao Shuxiang, kenapa kau tidak berani melawan?! Ini tidak seperti dirimu yang kukenal," seorang kultivator wanita bertukar serangan dengan Xiao Shuxiang. Gerakannya lincah, kuat, dan tanpa celah sama sekali.
"Nona Yi, kalau bukan karena aku sudah menikah sekarang.. Aku pasti tidak akan menahan diri."
"Apa? Kau sudah menikah? Dengan siapa?! Gadis bodoh mana yang menikah denganmu?!"
!!
Xiao Shuxiang terkejut dan segera menghindar saat aura kebencian yang dikeluarkan oleh gadis berpakaian ungu pudar di hadapannya semakin pekat. Sayang Yīng xióng malah menariknya untuk kembali menyerang dan kali ini pedang itu tidak mau diajak bekerja sama.
"Yīng xióng, kawan! Aku tidak boleh sampai membunuh mereka meskipun aku ingin. Yīng xióng!" Xiao Shuxiang berseru di dalam hati, dia berusaha menahan pergerakan pedang pusakanya, tetapi senjata di tangannya terlalu kuat.
"Aku ini pemilikmu, sadarilah batasanmu pedang sialan! Kenapa kau jadi tidak akur begini? Yīng xióng!" Xiao Shuxiang berdecak kesal, dia tidak bisa mengendalikan pedangnya.
".. Mengesalkan. Inilah sebabnya aku tidak suka mengeluarkanmu, kau terlalu liar dan tidak mau menuruti perintah Tuanmu. Aku yang telah menempamu, Yīng xióng! Jadi dengarkan aku!"
Kaki Xiao Shuxiang menapak pada sehelai daun yang ada di udara dan lalu menahan serangan dari Jian Shen. Ekspresi wajahnya serius dan begitu fokus pada setiap langkahnya. Hanya saja di dalam hati dia berusaha membujuk Yīng xióng agar mau menurutinya walau hanya sejenak.
Jian Shen dan rekan-rekannya sendiri bertarung sekuat tenaga. Mereka memanfaatkan keadaan Xiao Shuxiang yang sepertinya tidak bisa melakukan pembunuhan.
!!
Pertarungan itu berlangsung sengit, Xiao Shuxiang berada di posisi yang terpojok. Dia bukannya tidak bisa membunuh, tetapi tidak diizinkan. Sementara di sisi lain, para musuhnya menyerang dengan sangat serius seolah-olah ingin menjadikan dia sebagai cincangan daging.
"Kau sekarang benar-benar lemah, Xiao Shuxiang! Apa setelah diberi kesempatan hidup kembali, kau menjadi selunak ini, huh?"
"Tua bangka. Aku memang tidak bisa sebanding denganmu, dan jika bukan karena menghormati seseorang, aku tidak akan selunak ini."
"Hoh? Jadi sekarang kau sudah mulai mendengarkan orang lain? Sejak kapan? Bukankah kau tidak pernah mendengarkan siapa pun? Kau bahkan menebas mereka yang menasehatimu. Kau yang tidak pernah taat dengan aturan, bagaimana bisa menjadi sepenurut ini?"
!!
Xiao Shuxiang terpental saat tidak kuat menahan serangan tiga orang kultivator sesepuh secara sekaligus. Dia nyaris menghantam batang pohon andai tidak segera melentingkan tubuh dan menapak dengan mulus di salah satu dahan yang ada.
Sebenarnya ini keadaan yang sulit. Dia harus melawan lima belas orang mayat hidup, namun tidak boleh sampai membunuh mereka. Masalahnya, para kultibator ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memprovokasinya.
Di sisi lain, pertarungan Xiao Shuxiang dan para mayat kultivator itu disaksikan oleh Gong Zitao. Kultivator dari Sekte Pagoda Langit tersebut bersembunyi di balik salah satu pohon dan memperhatikan betapa sengitnya pertarungan yang terjadi.
Seulas senyum terlukis di bibir Gong Zitao. Karena aura kebencian dari para mayat kultivator itu, hawa keberadaannya jadi sulit disadari oleh Xiao Shuxiang. Apalagi, dia sendiri tidak mengeluarkan aura apa pun.
"Bertarunglah sekuat tenagamu Xiao Shuxiang. Entah kau membunuh atau tidak membunuh mereka, kau tidak akan pernah selamat. Ling Qing Zhu sendiri.. Aku akan membuatnya menjadi milikku."
Gong Zitao sebelumnya sudah mengatasi para kultivator yang dia bangkitkan. Lima belas mayat dengan aura kebencian paling pekat memancing Xiao Shuxiang agar datang ke hutan ini. Sementara mayat-mayat kultivator lainnya telah menyebar ke segala arah dan membuat banyak kerusuhan.
__ADS_1
Gong Zitao hanya sebentar memperhatikan pertarungan Xiao Shuxiang. Setelah memastikan bahwa pemuda itu mengalami kesulitan, dirinya pun pergi dengan niat mencari Ling Qing Zhu. Dia bertekad akan mendapatkan gadis berambut putih tersebut.
***