
Para warga Desa Tani begitu terkejut saat melihat sesuatu yang bergerak di atas mereka.
Mereka semakin dikejutkan saat mengetahui bahwa itu adalah dua orang manusia, dan salah satunya sangat mereka kenal.
"Shu'Er..?!"
"ITU YANG SHU!!"
"YANG SHU KEMBALII!!"
"MEREKA KEMBALI!!"
Beberapa warga desa berlari dan berseru bahwa Yang Shu dan murid-muridnya kembali.
Jing Mi yang masih menaiki pedang melihat pamannya, Jing Bai. Segera, dia memanggil-manggil pamannya begitu kencang.
Hou Yong dan murid-murid Sekte Kupu-Kupu yang melihat saudaranya terbang tidak bisa berkata apa-apa. Mereka memperlihatkan mata terbelalak dengan mulut terbuka lebar.
Saat Patriarch Lan dan Yang Shu mendarat, semua warga desa langsung mengerumuni mereka. Beberapa langsung memeluk Yang Shu sambil menangis.
"Kami sangat khawatir, kau tidak pernah mengirim surat atau apa pun.."
Tidak hanya warga desa, tetapi juga murid-murid Yang Shu langsung berlari dan memeluk tetua mereka. Tidak terbayang betapa rindunya mereka dengan guru serta saudara-saudaranya.
"Saudara Jing!!" Hou Yong yang baru memeluk gurunya, langsung berlari dan melompat ke arah Jing Mi. Dia begitu senang karena lawan bergulatnya sudah kembali.
Hou Yong, "Saudara Jing, Ceritakan Padaku Semua Petualanganmu! Kau Harus Mengatakan Semuanya!!"
"Iya, iya! Tapi kau turun dulu. Kau ini semakin berat saja!"
Jing Mi mengacak-acak rambut Hou Yong, dia lalu berlari ke arah paman dan bibinya. Jing Bai begitu senang karena keponakannya terlihat sehat dan baik-baik saja, dia tidak henti-hentinya memeluk erat Jing Mi sambil sesekali mengusap dan mencubit keponakannya dengan gemas.
Xiao Shuxiang menggeleng tak percaya melihat betapa antusiasnya paman dan bibi Jing Mi. Ini semua bisa dilihat dari ekspresi wajah ketiganya yang seperti baru bertemu setelah seratus tahun berpisah.
!!
Xiao Shuxiang tersentak saat sesuatu tiba-tiba mengigit jari tangan kanannya. Dan saat Xiao Shuxiang menoleh, dia bisa melihat Feng Ying yang menatapnya dengan mata yang kelaparan.
"Lapar.."
"Tanganku bukan maka-!!"
"Saudara Xiao..!!"
bruuk!
Hou Yong dan Yi Wen secara bersamaan berseru dan melompat ke arah Xiao Shuxiang. Tindakan mereka membuat Xiao Shuxiang terjatuh dengan ditindih oleh keduanya.
Tidak hanya Hou Yong dan Yi Wen, tetapi juga murid Sekte Kupu-Kupu yang lain juga melakukan hal yang sama. Xiao Shuxiang menjadi kesulitan untuk melepaskan diri dari pelukan dan cubitan dari mereka.
Baru setelah Qi Xuan dan Xiao Lu menyelamatkannya, Xiao Shuxiang mulai bisa bernapas lega.
Xiao Lu dan Qi Xuan juga ikut berpelukan dengan saudara seperguruan mereka. Tidak disangka, beberapa anak mulai tumbuh sedikit lebih tinggi dari terakhir kali mereka lihat.
__ADS_1
Tiga orang murid Sekte Pedang Langit terlihat menggelengkan kepala pelan. Tian Ri merasa bahwa warga desa yang didatanginya ini sedikit aneh.
Setelah melepas rindu dengan warga desa, Yang Shu mulai memperkenalkan Patriarch Lan dan juga keempat muridnya.
Beberapa warga desa langsung meraih tangan Patriarch Lan untuk berjabat tangan dengannya. Murid-murid Sekte Pedang Langit juga ikut diserbu oleh anak-anak di Desa Tani termasuk murid-murid Sekte Kupu-Kupu.
Hanya saja, tidak ada satu pun dari mereka yang berani mendekati Lan Guan Zhi.
Bahkan Yi Wen yang notabenenya adalah gadis centil dan cerewet pun, menjadi canggung serta tak bisa berkata apa-apa saat mencoba berkenalan dengan Lan Guan Zhi.
Zhi Shu dan Ro Wei juga terlihat canggung, mereka berdua bahkan berusaha bersembunyi di belakang punggung Xiao Shuxiang.
"Eh?! Kalian berdua kenapa?!"
"Saudara Xiao, bantu kami berkenalan dengannya," Ro Wei setengah berbisik dan terlihat mengintip Lan Guan Zhi dari bawah ketiak Xiao Shuxiang.
"Haah? Kalian kenalan saja sendiri, kenapa harus meminta bantuanku. Dan berhenti mengintip seperti itu, ketiakku gatal..!"
Meski Xiao Shuxiang melarang Zhi Shu dan Ro Wei untuk tidak bersembunyi di belakangnya dan mengintip Lan Guan Zhi dari bawah ketiaknya, namun kedua anak perempuan ini sama sekali tidak memperdulikan ucapan Xiao Shuxiang.
Mereka berdua hanya fokus memperhatikan Lan Guan Zhi dari bawah sampai atas. Beberapa kali Ro Wei dan Zhi Shu berdecak kagum.
Yang Shu dan warga desa mengajak Patriarch Lan dan murid-muridnya untuk pergi ke rumah Yang Hao.
Sepanjang jalan, Jing Mi begitu antusias menceritakan semua yang bisa dia ingat saat perjalanan meninggalkan desa. Dia mengeraskan suaranya agar tidak hanya saudara-saudara seperguruannya yang mendengarkan, tetapi juga warga desa Tani yang lain.
Jing Mi tidak menceritakan tentang penderitaannya di Padang Rumput Kering dan saat dirinya melihat pembantaian yang dilakukan oleh Perampok Bersaudara. Dia tidak mau membuat saudara seperguruannya dan warga desa menjadi takut dan khawatir.
Jing Mi hanya menceritakan keindahan yang dia lihat dan juga Kota Daun Teratai. Saat cerita anak tersebut mengarah pada dirinya yang menaiki sebuah kapal, Hou Yong dan Yi Wen langsung melemparinya berbagai pertanyaan.
Bao Yu dan Hai Feng juga ikut bertanya, namun mereka berdua mempertanyakan cara Jing Mi terbang. Jujur, mereka sangat kaget menyaksikan saudaranya pulang dengan cara yang begitu mengagumkan.
Sambil tertawa bangga, Jing Mi menjelaskan semua yang dikatakan oleh murid Sekte Pedang Langit saat sedang terbang tadi. Ucapan Jing Mi membuat saudara-saudara seperguruannya menatapnya dengan kagum.
"Tidak lama bertemu, kau jadi semakin pintar Saudara Jing!" puji Hou Yong dan Bao Yu hampir bersamaan.
Cerita Jing Mi berakhir saat mereka semua sudah sampai di tempat tinggal Yang Hao dan Xiao WeiWei.
Salah satu warga desa memanggil Yang Hao dan memintanya untuk ke luar. Namun yang membuka pintu ternyata adalah Xiao WeiWei. Dia kaget ketika banyak orang yang mengerumuni rumahnya.
Yang Hao terlihat berjalan dari arah samping rumahnya, tangan dan pakaiannya kotor karena baru saja memberi makan keledai-keledainya. Dia juga kaget ketika banyak orang yang datang dan memanggil-manggil dirinya.
"A-ada apa ini?!"
"Hao'Er!! Coba Lihat, Siapa Yang Datang Ini?!"
!!
Yang Hao dan Xiao WeiWei baru memperhatikan dengan seksama, di antara warga desanya ada lima orang yang berpakaian putih dan nampak berwibawa.
Namun pandangan Yang Hao jatuh pada seorang pria berkumis dan berjanggut hitam tebal. Dia sangat mengenali orang tersebut.
"Tua Bangka, jadi kau sudah pulang..!"
__ADS_1
"Anak kurang ajar, siapa yang mengajarimu bicara begitu pada Ayahmu sendiri, hah?!"
Yang Hao langsung memeluk ayahnya, Yang Shu. Dia sangat senang karena Yang Shu terlihat sehat-sehat saja. Yang Hao juga senang karena melihat kedua anaknya, Xiao Lu dan Xiao Shuxiang dalam keadaan yang baik.
Xiao Lu langsung memeluk ibunya, dia begitu rindu karena sudah lama tidak bertemu dengannya. Jing Mi juga ikut memeluk ibu Xiao Lu, dia begitu senang karena bisa melihat Xiao WeiWei lagi.
"Bibi, aku sangat merindukanmu! Aku bertemu dan melihat banyak anak perempuan, tapi tidak ada yang sebaik dan secantik Bibi WeiWei. Mereka malah mengayungkan pedang ke arahku dan memberi tatapan seperti akan menelanku hidup-hidup saja. Aku benar-benar tersiksa, Bibi..!!"
Jing Mi merengek dan meminta Xiao WeiWei untuk mengelus dan mengusap kepalanya, tindakan Jing Mi membuat Xiao Lu menatapnya kesal.
Xiao Lu merasa disaingi, dia tidak bisa percaya saudara seperguruannya ini begitu berani untuk bersikap manja kepada ibunya.
"Kau jangan merebut ibuku, pergi sana..!" usir Xiao Lu sambil mendorong pelan pundak Jing Mi yang masih setia memeluk ibunya.
Jing Mi sama sekali tidak menghiraukan Xiao Lu, dia hanya terus memeluk Xiao WeiWei sambil sesekali mengadu padanya.
"Bibi, Kakak Lu Yang Cantik Selalu Memarahiku! Dia tidak seperti Bibi yang begitu penyayang dan baik hati,"
"Apa Kau Bilang?!"
"Lihat, kan?! Dia terus marah-marah setiap hari..!"
Xiao Lu menggelembungkan pipinya dan kemudian berkata bahwa Jing Mi berbohong.
"Aku hanya sesekali marah-marah, tidak setiap hari.."
Hou Yong, Feng Ying, dan Ro Wei, yang melihat Jing Mi memeluk Xiao WeiWei juga berniat untuk ikut bergabung. Sayangnya, mereka bertiga segera dihalangi oleh saudara seperguruan mereka yang lain.
"Lepaskan, aku juga mau memeluk Bibi..!"
"Aku juga, siapa tau sedikit kecantikan Bibi bisa menular padaku!"
"Feng Ying lapar.."
Xiao Shuxiang menggeleng dan menatap aneh ke arah teman-teman seperguruannya. "Aku saja yang anaknya, tidak berminat untuk memeluk.. tetapi kalian malah berebutan dengan heboh begini.. ck ck haaah"
***
-
-
-
Catatan Penulis :
Arigatou karena masih mau mampir. Gomennasai bila Catatan Penulis terus bergentayangan dan membuat kalian risih.
.
.
.
__ADS_1
.
we love and appreciate our writing. It's up to you to do the same or vice versa, we have no obligation to satisfy your will.