
Xiao Shuxiang kembali melesat, kali ini tidak ada Ying Liu yang menjadi penghambatnya menyerang. Dia sebenarnya tidak mau terlibat dengan perkelahian yang sama sekali bukan urusannya, tapi karena Xiao Shuxiang butuh teman berlatih----maka Dai Chen-lah yang menjadi targetnya.
Zong Ming, Qi Xuan, Xiao Lu dan Jing Mi begitu terpukau saat Xiao Shuxiang membuat Dai Chen berada di posisi bertahan. Mereka benar-benar takjub sebab ada anak yang masih berada di Forging Qi tingkat satu mampu membuat lawan kewalahan seperti ini, yang notabenenya lawan itu memiliki tingkat praktik yang jauh lebih tinggi darinya.
Traaang!
"Kau boleh juga, bisa membuatku menarik pedang!" Dai Chen tersenyum lebar, baru kali ini ada anak yang lebih muda darinya mampu seimbang dengannya, meski pernyataan Dai Chen itu salah.
"Kau juga lumayan," Xiao Shuxiang tersenyum tipis.
"Andai kau tak berteman dengan Zong Ming, kita pasti sudah berteman sekarang. Sayang sekali aku sudah memutuskan, bahwa baik Zong Ming dan siapa pun yang berteman dengannya adalah musuhku."
BAAM!!
Tiga akar menjalar milik Dai Chen menyerang Xiao Shuxiang dari tiga arah, namun dengan cepat Xiao Shuxiang melompat dan menghindari serangan akar menjalar itu.
Qi Xuan terlihat melompat dan dengan segera menggendong Ying Liu untuk membawanya ke tempat yang aman saat Dai Chen sedang serius bertarung dengan Xiao Shuxiang.
"Liu'Er...? Liu'Er, kau bisa mendengarku?!" Zong Ming menepuk-nepuk pelan pipi Ying Liu, dia sangat khawatir karena saudara seperguruannya tidak sadarkan diri.
"Liu'Er... Kuharap kau baik-baik saja," Zong Ming benar-benar khawatir, dia tidak membawa pil obat apa pun saat ini, seakan sakit yang diderita oleh Zong Ming tidak terasa karena terlalu mengkhawatirkan keadaan Ying Liu.
Zong Ming, "Dai Chen, kau sangat keterlaluan! Sa-saudara Jing, tolong kau jaga Liu'Er. Aku akan membantu Saudara Xiao,"
Zong Ming sekuat tenaga berdiri sambil memegang pedangnya, dia lalu mengalirkan Qi pada pedangnya dan langsung melesat di antara Dai Chen serta Xiao Shuxiang.
Xiao Shuxiang, "Saudara Zong?! Apa yang kau lakukan?!"
Xiao Shuxiang tidak suka jika ada yang berani ikut campur dalam pertarungannya. Tetapi setelah dia memikirkannya, memang pertarungan ini harusnya milik Zong Ming dan Dai Chen.
"Yaah, terserah saja. Lagipula Xiao Shuxiang bukanlah orang yang egois," Xiao Shuxiang kembali menyerang Dai Chen bersama dengan Zong Ming.
Traaang!!
Traaang!
Zong Ming dan Xiao Shuxiang benar-benar kompak, di mana Xiao Shuxiang menutupi kekurangan Zong Ming dan melindunginya dari serangan akar-akar menjalar Dai Chen dari titik buta Zong Ming.
"Cih! Siapa sebenarnya anak ini? Jelas-jelas dia hanya berada di Forging Qi tingkat satu..."
Dai Chen keheranan dengan anak laki-laki yang masih terlalu muda di depannya ini. Dia tidak pernah melihat gerakan berpedang yang tanpa celah sedikitpun dari anak kecil tersebut, apalagi usia anak ini harusnya bisa dibilang belum memiliki banyak pengalaman bertarung, tetapi...
".. Dia seperti sudah melalui banyak pertarungan, Cih! Aku harus bisa menyelesaikan ini secepatnya!"
Traaang!
*
__ADS_1
*
Huan Fei dan Patriarch Lan kini berada di depan rumah di mana Yang Shu dan murid-muridnya menginap, ilmu meringankan tubuh mereka sangat hebat.
Huan Fei mengetuk pelan pintu yang ada di depannya, tak lama pintu tersebut terbuka dan kemudian memperlihatkan seorang pria tua dengan kumis dan janggut putih tebal.
Yang Shu tersentak saat mengetahui bahwa yang mengetuk pintu tadi adalah Huan Fei, sahabatnya.
"Senior..." Huan Fei tersenyum bahagia saat bisa melihat wajah sahabat lamanya ini.
"Fei'Er, kau kah ini...?"
"Senior!"
Huan Fei dan Yang Shu saling berpelukan, keduanya memang sangat akrab layaknya saudara kandung.
"Kupikir kau tidak akan datang Senior,"
"Bagaimana mungkin aku tidak akan datang saat sahabatku yang memintanya,"
Yang Shu mengusap-usap punggung Huan Fei, mereka berdua masih saling berpelukan bahkan lupa bahwa Patriarch Lan ada di dekat mereka saat ini.
"Ahem!"
Yang Shu dan Huan Fei tersentak saat mendengar suara dehaman Patriarch Lan, mereka berdua seketika saling melepaskan pelukan.
"Sahabatku, kau...?" Yang Shu memandangi Huan Fei dengan tatapan aneh, dia tidak menyangka sahabatnya ternyata memiliki kepribadian seperti ini.
Tatapan Yang Shu membuat Huan Fei salah tingkah, dia lalu menjelaskan bahwa tak ada hubungan yang seperti pria tua ini pikirkan tentangnya.
"Tu-tunggu, Senior. Ini tidak seperti yang ka-kau pikirkan. A-aku..."
Ekspresi wajah Huan Fei yang begitu panik membuat Patriarch Lan dan Yang Shu menahan tawa. Hanya mereka berdua yang mampu membuat Huan Fei bertingkah seperti ini.
"Ha ha ha, Fei-Er... kau sama sekali tidak berubah meski umurmu sudah tua," Yang Shu menepuk-nepuk pelan pundak Huan Fei, dia kemudian memberi hormat kepada Patriarch Lan.
Patriarch Lan dengan sopan berkata, "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Yang Mulia Kaisar,"
"Patriarch, jangan memanggilku begitu. Aku hanyalah orang biasa, bukan lagi seorang Kaisar..." Yang Shu tersenyum tipis, dia lalu mempersilahkan Patriarch Lan dan Huan Fei untuk masuk ke dalam.
Huan Fei dan Patriarch Lan mengangguk, mereka kemudian berjalan masuk dan duduk di kursi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Yang Shu berniat menyajikan teh dengan berjalan menuju dapur, namun segera dihentikan oleh Patriarch Lan karena dia mengatakan membawa minuman sendiri.
"Yang Mulia tak seharusnya menyajikan teh, aku sudah membawa yang lebih baik..." Patriarch Lan mengibaskan tangannya, seketika seguci kecil arak dan tiga cangkir berada di atas meja di depannya.
"Patriarch Lan, sudah kubilang jangan menyebutku 'Yang Mulia'. Aku bukan siapa-siapa di Benua ini..."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin, seorang Kaisar tetaplah Kaisar di mana pun dia berada. Adik Fei sudah menceritakan semuanya kepadaku, dan tentang pelarian Yang Mulia ke Benua ini..."
Yang Shu sebenarnya merupakan Kaisar Benua Utara, dia adalah putra selir kesebelas Kaisar Yang.
Yang Shu diangkat menjadi Kaisar saat usianya masih 17 tahun. Harusnya pangeran pertama yaitu putra mahkota-lah yang menjadi Kaisar, namun secara mengejutkan Yang Shu-lah yang terpilih.
Alasan ayah Yang Shu memilihnya adalah karena putranya ini memiliki kebaikan hati yang tak banyak dimiliki oleh anak-anaknya yang lain.
Yang Shu disenangi oleh seluruh rakyat, dia begitu dekat dengan mereka hingga Yang Shu tahu penderitaan dan masalah apa yang melanda rakyatnya. Inilah yang membuat ayahnya memilih Yang Shu tanpa mengedipkan mata.
Tentu saja dipilihnya Yang Shu sebagai Kaisar sangat tidak terduga dan membuat saudara-saudaranya termasuk Ibu Suri, serta Permaisuri begitu murka. Padahal Sang Permaisuri sudah sangat yakin bahwa putranya-lah yang akan diangkat menjadi Kaisar.
Kemarahan banyak pihak bahkan datang dari para menteri, mereka meminta Kaisar untuk tidak memilih Yang Shu sebagai pewaris tahta dengan alasan Yang Shu tidak pernah sekali pun ikut berperang. Alasan lainnya adalah bahwa Yang Shu hanya anak dari selir ke-sebelas yang notabenenya selir itu hanya gadis biasa dari desa kecil.
Namun Kaisar tidak mau menerima kedua alasan itu. Meski Yang Shu tidak pernah sekali pun ikut berperang, tetapi dia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh rakyatnya, bahkan masalah yang begitu sepele.
Menurut Kaisar, meskipun seorang anak gembala sekali pun selama dia disayangi oleh rakyat dan memiliki kebaikan hati yang jauh lebih besar, maka dia layak untuk menggantikan dirinya mewarisi tahta.
Banyak menteri dan raja-raja kecil yang menganggap Kaisar ini sudah tidak waras. Gosip mulai menyeruak yang mengatakan bahwa selir ke-sebelas telah melakukan sesuatu untuk mempengaruhi Kaisar.
Semakin dekat dengan pengangkatan Yang Shu, gosip itu semakin membesar.
Selir ke-sebelas hanyalah putri kepala desa kecil, tidak memiliki hubungan dengan menteri mana pun, perlakuan Kaisar juga biasa-biasa saja.
Dipilihnya Yang Shu sebagai Kaisar tentu membuatnya sangat terkejut, dia tidak percaya Kaisar menunjuk putranya sebagai pewaris dari tahta Kaisar.
Yang Shu diangkat sebagai Kaisar saat usianya 17 tahun, usia yang begitu muda. Hal ini jugalah yang membuat banyak pihak sangat tidak setuju. Meski para menteri, Ibu Suri dan Permaisuri menolak untuk hadir, namun seluruh rakyat begitu gembira dengan pengangkatan Yang Shu ini.
Sayangnya, kemarahan Ibu Suri, Permaisuri dan para menteri mengancam nyawa selir ke-sebelas. Mereka bekerjasama dengan kultivator aliran hitam untuk menggulingkan Yang Shu. Hanya saja, Yang Shu dilindungi oleh kekuatan rakyatnya.
Para rakyat dan raja-raja yang mengakui Yang Shu sebagai Kaisar. Mereka menggunakan segenap kekuatan mereka untuk meminta bantuan dari kultivator aliran putih dan netral.
Yang Shu sebenarnya tidak ingin menjadi Kaisar, sebab dirinya tidak akan bebas untuk berjalan-jalan dan membantu rakyatnya lagi dengan tangan sendiri. Apalagi saat dirinya terpilih, semua saudaranya kecuali Yang Fu begitu membenci dirinya.
Namun, alasan Yang Shu tidak menolak adalah karena dia juga menyadari sifat saudara-saudaranya yang terlalu angkuh dan sering memandang rendah orang lain. Perlakuan mereka juga sangat kasar dan tak pernah mau bersentuhan langsung dengan rakyatnya. Yang lebih parahnya, mereka terlalu ambisius.
Yang Shu khawatir dengan keselamatan rakyatnya jika tahta Kaisar diduduki oleh saudaranya yang memiliki semua sifat itu. Usia Yang Shu memang masih muda, namun kepekaannya terhadap masalah yang akan datang begitu hebat.
Bisa saja jika saudaranya yang sangat berambisi melakukan penyerangan untuk memperluas wilayah, maka peperangan pasti akan terjadi. Dan yang paling menakutkan adalah Pertempuran Antar Benua.
Yang Shu tidak ingin itu, dia memang merasa bahwa dirinya tidak pantas menjadi Kaisar. Tahta Kaisar akan Yang Shu serahkan kepada saudaranya yang memiliki sifat lebih baik dari dirinya. Apalagi Yang Shu betul-betul paham, permasalahan dan bahaya yang mengancam nyawanya serta nyawa ibunya.
Kemarahan dari Ibu Suri, yang notabenenya adalah nenek Yang Shu----membuatnya melakukan hal yang sangat tidak terpuji. Dengan berbagai cara, Ibu Suri mengatur rencana untuk bisa menghabisi Yang Shu dan ibunya. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan berani meracuni putranya sendiri untuk membuatnya sakit, sebab menurutnya... putranya-lah yang selama ini melindungi Sang Kaisar Muda.
Yang Shu sadar hal ini diawali dengan pengangkatannya. Para pemberontak dari istana dan juga penolakan dari para menteri serta raja yang tidak mendukungnya, tidak akan berhenti sampai dirinya turun dari tahta Kaisar.
Di antara saudaranya, hanya Yang Fu-lah orang paling dekat dengannya. Dibantu oleh Sang Adik, mereka berdua memutuskan untuk pergi dari Benua Utara.
__ADS_1
***