
Pergerakan Partai Pedang Tengkorak dibantu oleh Scarlet Darah semakin menjadi di Kekaisaran Langit Tengah. Target mereka adalah Partai dan Sekte kecil dari Aliran Hitam.
Mereka membunuh murid-murid lemah, dan menyisakan murid yang berpotensi menjadi kuat. Sementara untuk Tetua partai dan sekte dibiarkan tetap hidup untuk nantinya diajak bekerja sama.
Berkurangnya Partai dan Sekte kecil Aliran Hitam merupakan kabar yang menggembirakan bagi mereka yang berada digolongan partai dan sekte Besar. Tidak jarang, beberapa dari mereka mengirim perwakilan untuk pergi ke Partai Pedang Tengkorak guna menjalin pertemanan.
Mereka yang berada di Partai dan Sekte Menengah juga tidak tinggal diam. Daripada membiarkan Partai Pedang Tengkorak menyerang, lebih baik mereka menyerahkan diri lebih dahulu. Toh tidak ada ruginya bila bekerja sama dengan Partai Pedang Tengkorak.
Partai dan Sekte dari Aliran Putih serta Netral awalnya tidak peduli, tetapi setelah memantau pergerakan dari Partai Pedang Tengkorak--mereka mulai dapat memberi kesimpulan.
Partai Pedang Tengkorak ingin mendominasi Aliran Hitam dan ini kemungkinan akan berakhir pada penyerangan besar-besaran di Kekaisaran Langit Tengah.
["Apa kita juga harus menyampaikan berita ini pada Tetua? Kupikir, jika Kekaisaran Langit Tengah terancam, maka Kekaisaran Langit Selatan juga bisa berada dalam bahaya,"]
Salah seorang pemuda berpakaian hitam dengan corak mawar merah terlihat berbicara. Di depannya terdapat sebuah meja dengan tiga kendi arak, dia bersama dua orang rekannya yang juga memakai seragam berwarna senada.
["Kau tenang saja, Kekaisaran Langit Tengah lebih luas dan pendekar di sini pun kuat. Kalian juga jangan lupakan Sekte Pagoda Langit dan Partai Pasak Bumi, kedua Aliran Netral itu sulit diruntuhkan,"]
Partai Pasak Bumi sebenarnya merupakan partai yang lebih mendominasi dibandingkan Sekte Pagoda Langit.
Partai itu mempunyai markas yang besar dan berlokasi di Tiga Kekaisaran. Para murid di partai itu telah mendapat didikan terbaik, mereka termasuk pendekar yang berbakat.
["Kalian pasti sudah tahu dengan nasib Rumah Besar Dewi Surgawi. Partai Pasak Bumi hanya mengirim 50 murid yang berada di tingkat sepuluh dan sembilan untuk menyerang bordil itu dan hanya satu malam tempat tersebut rata dengan tanah,"]
Pemuda berusia sekitar 30 Tahun tersebut kembali mengatakan bahwa pendekar yang berada di tingkat 10 apalagi 9 adalah golongan Pendekar Pemula. Bisa meruntuhkan sarang Demonic Beast di Rumah Besar Dewi Surgawi merupakan pencapaian yang luar biasa.
["Kudengar pendekar dari Partai Pasak Bumi juga dibantu oleh dua kultivator wanita, tapi saat pertarungan selesai kedua wanita cantik itu menghilang tanpa jejak. Bahkan mayatnya pun tidak ditemukan,"]
["Memang siapa yang peduli.. Dua wanita itu adalah kultivator, dan bila mereka kuat--namanya pasti sudah terkenal. Kalau hanya kecantikannya saja, banyak pendekar yang cantik di tempat ini, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Nona Ling dari Sekte Pagoda Langit,"]
Ketiga pendekar ini berasal dari Partai Darah Roh, mereka berada di kedai dan menunggu kedatangan teman mereka yang lain.
Pembicaraan ketiganya didengar jelas oleh seorang gadis cantik yang duduk tidak jauh dari mereka. Gadis tersebut berpakaian hitam dengan sebuah jubah ungu bercorak sayap kupu-kupu.
["Kudengar, Wali Pelindung Nona Ling adalah kultivator Aliran Hitam yang berasal dari Benua Timur. Cara bertarungnya sangat mengerikan, dia memiliki wajah buruk rupa dan usianya sudah begitu tua. Tidak ada yang berani mengajukan tantangan padanya.."]
["Aku juga mendengarnya. Kau tahu tuan Ling Hao Yu? Dia tewas di tangan kultivator itu, mati dalam kondisi mengenaskan dan tepat di depan Nona Ling.."]
Gadis cantik berambut sepanjang leher mendengar pembicaraan tersebut, namun tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya menikmati makanan yang tersaji di depannya dan sesekali mengedarkan di ruangan ini.
Suara lain yang dirinya dengar berasal dari tiga orang wanita biasa yang nampak sedang mengerumuni seorang pria tua. Mereka terlihat berseri-seri sambil memuji apa yang digendong oleh pria tersebut.
[".. Dia anak yang manis, lucu sekali~"]
["Dahinya terlihat luka, apa ini tanda lahir atau memang pernah.."]
["Yaa.. Ini luka. Aku menemukannya di dalam keranjang sayur keretaku dan itu pun awalnya tidak sengaja kutumpuk dengan keranjang lain. Untunglah anak ini bisa selamat, aku merasa sangat bersalah.."]
Pria tua tersebut menciumi pipi bayi laki-laki digendongannya. Dia merasa kasihan pada bayi manis tersebut yang dengan tega dibuang oleh orang tuanya sendiri.
Pria bertubuh kurus dengan wajah keriput ini bernama Barma, seorang pedagang yang tempat tinggalnya berada di Kekaisaran Langit Utara.
Seorang wanita tua datang sambil membawa semangkuk susu. Dia dipersilahkan duduk dan ikut dalam perbincangan ketiga wanita cantik ini.
__ADS_1
["Siapa pun yang membuang anak semanis ini.. Mereka adalah orang tua yang buruk,"]
Wanita tua tersebut tidak lain adalah pemilik kedai, dia mengembuskan napas pelan dan perlahan mengaduk susu yang dibawanya memakai sendok kayu.
Dirinya lalu menyuapi bayi di gendongan Barma dengan susu itu sambil disaksikan oleh tiga wanita cantik yang berdiri di depannya.
["Coba lihat dia.. Manis sekali~"] pemilik kedai ini terlihat senang dan sesekali mengajak bayi mungil itu untuk bicara. Bayi tersebut nampak mengeluarkan tawa yang menggemaskan.
["Apa tidak masalah bila kau terus membawanya dalam perjalananmu? Kau berdagang hanya sendirian, kan?"]
["Anak ini hanya rewel saat lapar saja, dia anak yang baik. Aku merasa tidak pernah merasakan lelah saat bersamanya, seakan kehadirannya adalah obat dan keberuntungan untukku,"]
Pria tua tersebut mencium kening bayi digendongannya. Dia merasa bersyukur karena bayi mungil ini berada di keretanya. Dirinya sudah lama memdambakan anak dan akhirnya langit memberinya kesempatan, walau dengan cara yang tidak pernah diduga.
["Kau sangat beruntung, Paman. Jadi siapa namanya?"] salah seorang wanita cantik bertanya dan pemilik kedai juga ikut merasa penasaran.
["Namanya.."]
Pria tua itu tersenyum penuh kasih, dia menyebutkan nama bayinya pada pemilik kedai dan ketiga wanita cantik yang mengerumuninya.
Yi Wen mengorek sedikit kupingnya karena terlalu banyak suara berisik yang dia dengar. Dirinya telah selesai makan dan saat ini sedang menunggu kedatangan Qian Kun.
Barma sendiri sudah mau pergi, dia tidak dapat berlama-lama sebab harus kembali berdagang. Pria tua itu mengucapkan terima kasih pada pemilik kedai dan lalu diantar keluar.
Bayi digendongannya tidak lain adalah bayi yang pernah Xiao Shuxiang selamatkan. Anak tersebut nampak dalam kondisi yang sehat, namun memang sedikit kecelakaan kecil membuat dahi sebelah kanannya terluka.
Tidak lama pria tua itu pergi, Qian Kun mulai datang. Dia memakai jubah putih dan sebuah topeng berbentuk kelinci, ini pertama kali Yi Wen melihat perubahan pada penampilan pemuda yang wajahnya tidak pernah dia lihat tersebut.
Yi Wen mengerutkan kening, dia pun mendengus pelan dan lalu bangun dari tempat duduknya. "Kau tak biasanya sesopan ini.. Apa karena kita ada di luar?"
Suara Yi Wen pelan, namun masih bisa didengar oleh pemuda bertopeng di sampingnya. Dia memain-mainkan rambut pendeknya dan berjalan mengikuti Qian Kun.
"Hei, bukankah kau terlalu dingin karena tidak menjawab pertanyaanku? Kau baru saja mengabaikan seorang gadis cantik,"
"Serahkan gulungannya dan pergilah temui teman-temanmu. Aku tidak ingin mereka curiga,"
Yi Wen mengedutkan bibir atasnya saat mendengar ucapan ketus dari pemuda di sampingnya. Dia lalu mengambil gulungan yang terselip di pinggangnya dan menyerahkan gulungan tersebut pada Qian Kun.
"Aku menyelesaikannya tanpa tidur dan tanpa istirahat. Wilayah di Benua Tengah sangat sulit untuk kultivator sepertiku, terbang ke sana kemari itu melelahkan dan kau malah berbicara ketus padaku? Hah, kau tidak punya perasaan dan menyebalkan."
"Hmph, bukannya kau hebat? Kau memperoleh energi dari para roh milikmu itu, jadi kenapa harus mengeluh? Dan lagi, aku memang tidak punya perasaan."
!!
Yi Wen berkedip saat pemuda di sampingnya berjalan lebih cepat. Dia lalu menghentakkan kakinya kesal dan kemudian ikut berjalan.
Saat berada di jalanan sunyi, asap tipis mulai terbentuk di kaki Yi Wen dan Qian Kun. Tubuh keduanya perlahan menyatu dengan asap tersebut dan kemudian menghilang.
Jauh di tempat lain, yakni di Benua Utara--Xiao Shuxiang, Yang Shu, dan yang lainnya telah berada di depan gerbang istana Kaisar Salju Putih. Mereka menunggu dua orang penjaga yang baru saja pergi untuk memberi tahu Kaisar mengenai kedatangan mereka.
Dua penjaga lainnya masih berdiri tenang dan memperhatikan Yang Shu dari atas sampai bawah. Keduanya merasa pria tua berjanggut dan berkumis tersebut sedikit mirip dengan Kaisar, karenanya mereka berusaha menjaga sikap.
Yang Shu dan Yang Fu tidak banyak bicara, keduanya seperti diam seribu bahasa. Hanya raut wajah dan tatapan mata yang mampu menggambarkan betapa bahagia hati mereka karena akhirnya dapat pulang.
__ADS_1
Yang Hao dan Xiao WeiWei juga tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka sebenarnya sedang gugup, ini pertama kalinya Yang Hao dan Xiao WeWei akan bertemu dengan keluarga yang tidak pernah mereka temui sebelumnya.
"Kapan kita akan diizinkan masuk? aku kedinginan.." Hai Feng sudah tidak sabar, dia sebenarnya tidak merasa dingin walau tanah yang dipijaknya sedang dipenuhi tumpukan salju, itu hanyalah sebuah isyarat.
"Lihat, mereka sudah datang." Xiao Qing Yan berujar, dia melihat dua pengawal yang sebelumnya pergi--kini berjalan mendekat ke arah mereka.
" 待たせてごめんなさい。 私たちと一緒に来てください。"
["Mata sete gomen'nasai. Watashitachi to issho ni kite kudasai."]
["Saya minta maaf karena telah membuat Anda menunggu. Silahkan ikutlah dengan kami,"]
Salah satu pengawal mempersilahkan Yang Shu dan yang lainnya untuk masuk. Mereka mengantar para tamu asing ini ke bangunan utama, tempat yang sering kali disebut sebagai Aula Pengadilan.
Rutinitas harian para pangeran saat masih pagi adalah berkuda. Ini bukan hanya dilakukan oleh para pangeran seusia Xiao Shuxiang, tetapi juga dilakukan oleh para Saudara Yang Shu dan Yang Fu.
"Ini benar-benar tempat yang luas.."
"Kau benar, aku yakin luasnya dapat meliputi satu kota besar.."
Zhi Shu dan Hai Feng tidak pernah berhenti kagum. Keduanya memang berusaha menjaga wibawa, tetapi melihat kemegahan tempat ini--mereka tanpa sadar membuka mulut sambil sesekali berdecak kagum.
Nyawn~
Lan Xiao yang berada gendongan Xiao Qing Yan nampak menyetujui ucapan Hai Feng. Ini pertama kali dirinya mengunjungi istana yang bahkan lebih besar daripada milik Kaisar Matahari Tengah, Benua Timur.
"Ck ck ck, tidak kusangka kau punya darah bangsawan. Ini tempat yang hebat," suara Bocah Pengemis Gila terdengar pelan, tetapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran Xiao Shuxiang.
"Aku punya identitas yang tidak biasa di Dunia Elf, jadi bisa mengetahui bahwa aku ini punya darah bangsawan tidak membuatku senang sama sekali," suara Xiao Shuxiang sama pelannya dengan Bocah Pengemis Gila.
Dirinya lalu mengikuti Lan Guan Zhi dan yang lainnya masuk ke sebuah ruangan. Mereka dipersilahkan duduk sambil menunggu kedatangan Kaisar.
Yang Shu dan Yang Fu melihat ke sekeliling mereka. Memang ada beberapa kemiripan ruangan ini dengan masa lalu dan membuat Yang Shu serta adiknya bernostalgia.
Dua orang pengawal yang sebelumnya memutuskan untuk memberi hormat dan meminta undur diri. Mereka memperlakukan Yang Shu dan lainnya dengan begitu sopan.
Saat kedua pengawal itu pergi, Xiao Shuxiang duduk di salah satu kursi sambil memandangi Yang Fu dan Yang Shu. Kedua tua bangka itu nampak melamun mengenai masa kecil mereka.
Tap
Tap
Samar-samar, Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila bisa mendengar suara langkah kaki. Awalnya mereka tidak peduli, tetapi setelah suara tersebut semakin jelas--mereka mulai menaruh perhatian dan mengarahkan pandangan ke tempat di mana pintu berada.
Tap
Tap
Seorang pria tua dengan kumis serta janggut putih tebal nampak melangkah masuk. Pakaiannya begitu besar dan Xiao Shuxiang sudah pernah melihatnya.
Yang Shu dan Yang Fu berdiri kala mengetahui yang masuk ke dalam ruangan ini adalah sosok yang sudah lama mereka rindukan.
***
__ADS_1