
"Bagaimana keadaan kalian? Apa ada yang terluka?" Ling Chu Zhen langsung menanyakan kondisi para muridnya saat dia baru saja tiba di hutan bambu milik Sekte Pagoda Langit.
"Kami baik-baik saja, Tetua."
"Kami dalam keadaan baik, Tetua."
"Mohon jangan khawatir,"
Tiga murid Sekte Pagoda Langit mewakili saudara-saudaranya yang lain. Ling Chu Zhen akhirnya bisa bernapas lega melihat kondisi para muridnya.
"Kakek..!"
Seruan dari Ling Ya Bing membuat Ling Chu Zhen menoleh. Cucu perempuan kecilnya tersebut nampak berlari dengan ditemani dua orang murid Sekte Pagoda Langit lainnya.
"Bing'Er, kau baik-baik saja kan? Kau tidak terluka?" rasa khawatir terpatri jelas pada tatapan mata Ling Chu Zhen, ekspresi wajahnya memang tenang, tetapi bukan berarti dia tidak mencemaskan keselamatan cucunya.
Ling Ya Bing tersenyum dan mengatakan dirinya baik-baik saja, "Aku baru saja ingin membantu Ayah, tapi Hu Li malah meminta kedua kakak ini membawaku pergi. Padahal aku sudah siap bertarung,"
"Nona Bing, Anda hanya akan menjadi potongan daging bila tetap nekat. Penyusup itu bukan pendekar sembarangan,"
Salah satu murid Sekte Pagoda Langit membuka suara. Dia tahu Ling Ya Bing adalah anak hebat dengan usianya yang masih 7 Tahun, tapi harusnya anak tersebut tahu batas dari kemampuannya sendiri.
Ling Qin Qi, murid perempuan yang memiliki tahi lalat kecil di pipi sebelah kirinya memperhatikan bagaimana Ling Ya Bing terus memaksa Grand Elder agar dibiarkan pergi. Dia perlahan berjalan mendekat dan mencoba memberi pengertian pada anak tersebut.
Di antara kerumunan murid Sekte Pagoda Langit, Qingyu Mao masih dapat mempertahankan kejelian matanya. Dia bisa mendeteksi siapa saja murid yang cukup kuat di tempat ini.
Mata kucing miliknya bersinar redup dan seperti mampu menembus setiap tubuh orang di tempat ini. Qingyu Mao mengedarkan pandangannya ke segala penjuru hingga tatapannya mengarah di satu titik.
"Aku menemukannya," senyum samar terlukis di wajah manis Qingyu Mao saat dia melihat Ling Ya Bing.
Misi keempat anggota Scarlet Darah ini memang untuk menculik anak dari Ling Lang Tian tersebut, hanya saja mereka tidak melakukannya secara diam-diam seperti teknik penculik biasa.
Qingyu Mao dan teman-temannya lebih suka membuat kehebohan selama menjalankan misi mereka. Jika dengan ini bisa mengurangi kekuatan Sekte Pagoda Langit, maka itu lebih baik lagi.
"Jika kau terus menangis, semua orang akan melihat ke arahmu.." Qingyu Mao berujar pelan sambil sedikit melirik ke arah Miao Gang.
Rekannya ini memang tidak mengeluarkan suara isakan, tetapi dia cukup terganggu karena kedua mata Miao Gang terus saja mengeluarkan air mata. Jujur, awal pertama dirinya bertemu gadis ini--Miao Gang tidak pernah berhenti menangis, dia memang orang yang aneh.
"Ini.. Tangisan kesedihan.." Miao Gang bersuara pelan tanpa menoleh ke arah Qinyu Mao, ".. Satu persatu kedamaian telah lepas dari tempat ini.. Aku tidak bisa menahan air mataku.. Sangat menyedihkan.."
Qingyu Mao mengembuskan napas pelan, "Terserah kau sajalah.. Lagipula sekarang adalah giliran kita yang beraksi,"
!!
Anak perempuan yang nampak berusia 9 Tahun tersebut memang berwajah manis. Tetapi saat menyeringai, Qingyu Mao terlihat mengerikan. Dia dapat membuat salah satu murid Sekte Pagoda Langit menoleh dan menatap dalam padanya.
!!
Mata murid perempuan berusia sekitar 18 Tahun yang berdiri di samping Qingyu Mao terlihat melebar. Dia begitu terkejut sampai tanpa sadar menahan napas, dirinya baru saja ingin berteriak--tetapi tatapan matanya langsung berubah kosong.
"Aaah.. Aku ingin menangis.. Kau membuatnya takut.. Dia gadis cantik tapi tidak beruntung. Kasihan sekali.. Dia mempunyai takdir yang menyedihkan.. Kasihan.."
Miao Gang terus saja mengusap boneka kain miliknya. Tatapan matanya mengandung kesedihan yang mendalam, dirinya bahkan mendapat dengusan pelan dari Qingyu Mao.
"Kau cepat juga. Sepertinya aku harus memuji kemampuanmu ini.." Qingyu Mao menatap murid Sekte Pagoda Langit di sampingnya. Gadis itu sekarang berada dalam kendali Miao Gang.
"Jangan keluarkan senyuman menakutkanmu.. Kau membuatku takut sampai ingin menangis.."
"Kau sudah menangis sejak tadi,"
Qingyu Mao mulai memperhatikan tangan kanannya, kuku jarinya perlahan tumbuh memanjang dan sedikit runcing pada ujungnya.
Tiga garis tipis muncul di kedua pipi Qingyu Mao bersamaan dengan warna matanya berubah hitam. Dia mempunyai pupil mata kucing berwarna keemasan dan saat ini sedang menatap lurus ke depan.
Detik itu juga Qingyu Mao melesat dan menembus setiap tubuh murid di depannya hingga menimbulkan teriakan serta jerita pilu yang mengagetkan. Dia adalah Demonic Beast yang mampu menyembunyikan Aura Pembunuhnya dengan sangat baik.
!!
"Apa Itu?!"
"Aakh!"
!!
Qingyu Mao seperti makhluk transparan yang dikelilingi asap putih tipis dan menembus setiap tubuh murid yang berada di jalannya. Dia membuat murid-murid tersebut merasakan seperti tulang punggung mereka ditarik ke depan dalam sekali hentakan.
Praktik Qingyu Mao berada di Grand Master Tingkat Bumi dan para murid di sini tidak mampu menghadapi dirinya. Bahkan dia yakin Patriarch serta Grand Elder Sekte Pagoda Langit juga mustahil tidak merasa kesulitan.
__ADS_1
!!
Ling Chu Zhen membalikkan tubuhnya dengan cepat kala mendengar teriak murid-muridnya. Dia terkejut saat merasakan ada hembusan angin yang begitu cepat melintas dari atas kepalanya.
"Kakek..!!"
Ling Chu Zhen, Ling Qin Qi, dan para murid Sekte Pagoda Langit mengarahkan pandangan mereka ke rimbunan pohon bambu. Suasana yang tidak terlalu terang tetap membuat mereka bisa melihat penampakan sosok makhluk yang matanya bersinar.
"Kakek..!!"
"Bing'Er.."
Ling Chu Zhen melihat cucunya berada di tangan sosok yang menyerupai anak-anak tersebut. Dia mulai yakin bahwa orang yang memegang kerah belakag pakaian cucunya benar-benar seorang anak.
"Kakek..!" Ling Ya Bing terus memberontak, dia lalu memutar tubuhnya hingga bisa lepas dari siapa pun orang yang berani memperlakukannya dengan tidak sopan seperti ini.
Ling Ya Bing menggunakan tendangan untuk menyerang lawannya selama dia masih berada di udara. Usianya memang 7 Tahun, tetapi dia tidak pernah takut berhadapan dengan siapa pun termasuk kematian.
!!
Anak perempuan berambut putih tersebut menggunakan dua pohon bambu yang berdekatan sebagai pijakan kaki. Dia memasang posisi bersiap walau kedua kakinya menekan pohon bambu itu.
"Benar-benar menarik. Kupikir kau anak yang lemah, penakut, dan juga cengeng. Tidak kusangka kau bisa melawan juga," suara ledekan dari Qingyu Mao membuat siapa pun mengetahui bahwa dirinya masihlah anak-anak yang kemungkinan seusia Ling Ya Bing.
"Hmph, tidak tahu siapa pun dirimu. Kau adalah anak yang jahat!"
"Beraninya kau mengacau di sekteku." Ling Chu Zhen mengepalkan kedua tangannya dan seketika melesat ke arah Qingyu Mao.
Saat hampir mencapai anak perempuan tersebut--Ling Chu Zhen mulai menarik pedangnya dan tanpa aba-aba mengayunkannya ke arah lawan.
!!
Hanya satu kepalan tangan dari Qingyu Mao dan dirinya mampu menahan ayunan pedang seorang Grand Elder Sekte Pagoda Langit. Keadaan ini mengejutkan tetapi kemampuan Ling Chu Zhen tidak sampai di sini saja.
Grand Elder Sekte Pedang Langit tersebut mengeluarkan Aura Pendekar yang dia miliki dan mengerahkan kemampuan terbaiknya hingga mampu membuat Qingyu Mao terpental dalam kondisi tubuh menjadi puluhan potongan daging.
Ling Chu Zhen tidak akan menaruh kasihan bahkan pada lawan yang berusia muda. Penyusup ini telah berani menyentuh cucu kesayangnya.
!!
Tidak ada waktu bernapas lega. Murid-murid yang sebelumnya merasakan sakit di punggung mereka tiba-tiba saja menggila dan menyerang saudara seperguruan sendiri.
Trang!
"Hei! Sadarlah Saudaraku!"
!!
Ling Xuan Lu dan nenek dari Ling Qing Zhu juga terkejut dengan apa yang terjadi. Keduanya berusaha menahan serangan dari murid sendiri dan berusaha menyadarkan mereka.
Beberapa murid yang dikendalikan mempunyai kondisi tubuh yang sama, yakni terdapat urat tipis kehitaman di leher dan sebagian wajah mereka.
Ada juga yang dikendalikan tetapi memiliki tatapan mata kosong dan nampak mengeluarkan air mata. Mereka semua kuat dan terus menyerang tanpa peduli bila tubuh mereka terkena sayatan pedang.
"Siapa pun penyusup di sekteku ini.. mereka pasti mengincar sesuatu.." Ling Ya Bing tahu sektenya sedang terancam bahaya, dia menyadarinya dengan begitu jelas.
!!
Ling Chu Zhen sendiri nampak tersentak saat menyadari tubuh lawan yang sebelumnya menjadi potongan daging kembali menyatu dengan cepat. Ini membuktikan bahwa yang dirinya hadapi kemungkinan besar adalah makhluk Immortal.
"Seranganmu benar-benar tanpa ampun, bahkan pada anak kecil sepertiku.." Qingyu Mao terlihat melayang di udara sambil berdecak pelan, ".. Kau tidak bisa menjadi Kakek yang baik,"
Ling Chu Zhen tidak mengatakan apa pun saat mendengar ucapan bocah perempuan berambut pendek tersebut. Dia hanya melesat dan kembali melakukan serangan terbaiknya.
!!
Qingyu Mao mampu menangkis serangan dari Grand Elder Sekte Pagoda Langit termasuk membalasnya. Dia begitu gesit hingga beberapa kali kesempatan dirinya mengeluarkan suara tawa mengerikan.
Ling Ya Bing tidak bisa mengikuti pertarungan Kakeknya, ini sesuatu yang sulit ditangkap oleh mata. Sebuah pertarungan dimana hanya percikan cahaya yang nampak di udara dan disertai bunyi nyaring serta suara debaman keras.
!!
Bukan hanya di udara, pertarungan juga berlangsung di atas tanah. Ling Ya Bing yang masih bertahan di antara pohon bambu sambil menyaksikan bagaimana nenek, bibi, dan para gurunya melawan murid Sekte Pagoda Langit.
Perasaannya saat ini tidak bisa diungkapkan, tetapi yang jelas penuh dengan amarah. Dia membenci siapa pun orang yang telah berani mengganggu kedamaian tempat tinggalnya.
Trang!
__ADS_1
Trang!
Suara benturan pedang mengalun di sepanjang malam. Terkadang terdengar petir yang seolah akan membelah langit dan terkadang tersengar suara debaman keras yang mampu membuat tanah berguncang.
"Suara yang penuh kesedihan ini membuatku menangis.. Malam masih panjang dan aku harus terperangkap dalam permainan takdir yang menyedihkan.. Aku sangat kasihan.."
Miao Gang mengangkat pelan boneka kain miliknya dan lalu memeluk boneka tersebut. Tidak ada senjata maupun serangan yang mengenainya meski dia berada di tengah-tengah pertarungan antar murid Sekte Pagoda Langit.
Trang!
TRAANG!
Keributan ini tidak hanya berlangsung di hutan bambu Sekte Pagoda Langit, tetapi juga di kediaman para murid inti dan murid luar sekte. Yang paling besar adalah pertarungan dari Ling Lang Tian dengan Pendekar Cambuk Darah.
Ayah dari Ling Ya Bing tersebut awalnya berhasil menyelamatkan nyawa murid laki-laki yang menjadi sandera Pendekar Cambuk Darah. Namun karena kondisi tubuh murid tersebut yang terlalu parah hingga nyawanya tidak mampu diselamatkan.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku..!" Pendekar Cambuk Darah tersenyum seram, kedua tangannya penuh dengan darah kental--begitu pula dengan senjata miliknya.
Leher dan sebagian wajahnya pun tidak kalah dalam terkena percikan darah. Dia menikmati keadaan ini, apalagi bila melihat kondisi lawannya yang sudah penuh luka.
"Tuan Muda Ling, apa kau tahu kenapa aku membenci pemuda sepertimu? Karena di situasi sekarat pun, kau masih mempertahankan wibawa dan ketenangan wajahmu itu,"
"Aku tidak sekarat." suara Ling Lang Tian begitu dingin, dia lalu menyerang Pendekar Cambuk Darah dan membuat lawannya tersebut mengambil posisi bertahan.
BAAM..!
"Hmph, apa hanya ini kemampuan dari seorang Ling Lang Tian. Kenapa kau terus menahan kekuatanmu, huh? Tidak ingin sektemu hancur?" Pendekar Cambuk Darah terus meledek Ling Lang Tian sambil menangkis setiap serangan yang dialamatkan padanya.
"Kau ini kuat, tapi karena khawatir sektemu hancur.. Kau jadi menahan kekuatanmu. Dan karenanyalah hingga kau menjadi lemah..!"
Pendekar Cambuk Darah kini melakukan serangan balasan. Dia menyerang dengan penuh kekuatan hingga satu bangunan besar yang terkena cambuknya langsung meledak dan berubah menjadi puing-puing.
Di sisi lain, Ling Qing Zhu dan Ling Jian Tou bertarung bersama untuk melawan Pangeran Sabit Kematian. Keduanya memiliki teknik berpedang masing-masing dan sebenarnya ini sudah kelima kalinya Pangeran Sabit Kematian menghantam segel pelindung sekte.
Tubuh anggota Scarlet Darah itu pun telah lima kali hangus diterjang petir dan bagian tubuhnya beberapa kali ditebas, namun tetap saja dia bisa bangkit kembali.
Yang lebih buruk, staminanya tidak berkurang sedikit pun dan ini membuat Ling Jian Tou cemas di dalam hati.
Sebagai kultivator, dia memang bisa menggunakan Qi apalagi Sekte Pagoda Langit memang dipenuhi cukup banyak Qi alam daripada di tempat lain yang ada di Benua Tengah. Hanya saja dirinya tidak bisa menafikkan fakta bahwa dia juga punya batasannya sendiri.
"Adik, apa kau masih sanggup?" Ling Jian Tou bertanya pada Ling Qing Zhu yang berdiri di sampingnya dalam posisi bersiap.
"Mn,"
Ekspresi wajah Ling Qing Zhu masih tenang, tetapi kondisi tubuhnya jauh dari kata baik. Dia terkena sayatan di berbagai tempat dan nyaris salah satu serangan lawan mengenai tepat di area jantungnya.
"Nona Ling.. Hatiku sakit saat melihatmu terluka. Bagaimana jika kau terima tawaran dariku. Aku berjanji akan membahagiakanmu, jadi menikahlah denganku.." Pangeran Sabit Kematian tersenyum penuh arti, ucapannya membuat Ling Jian Tou memegang erat pedangnya.
Ling Qing Zhu, "Kau.. Tidak pantas."
"Aah~ suara yang begitu indah, lebih indah dari benda langit di atas sana. Aku jadi semakin menginginkanmu.." Pangeran Sabit Kematian menjilat bibir bawahnya yang membuat Ling Qing Zhu menatapnya dengan tajam.
Ling Jian Tou, "Adik.. Kau jangan khawatir. Meski harus mati, aku akan tetap melindungimu,"
"Mn, tidak perlu. Pelindungku akan segera datang."
!!
Ling Jian Tou tersentak saat Ling Qing Zhu melesat tanpa memberi tanda. Sepupunya tersebut melakukan serangan terkuat yang langsung berbenturan dengan serangan Pangeran Sabit Kematian.
Dirinya tidak tinggal diam dan langsung bergegas membantu Ling Qing Zhu dalam melakukan serangan. Andai bukan karena lawan memiliki kemampuan bangkit setelah dibunuh, maka sudah lama pertarungan ini selesai.
BAAAM..!
Sebenarnya Ling Qing Zhu sudah hampir mencapai batasnya. Yang membuatnya tetap bergerak adalah kepercayaannya bahwa bantuan yang dia butuhkan pasti akan datang.
Ling Jian Tou, "Orang ini sebenarnya makhluk apa? Kenapa setiap kali dibunuh, dia bisa bangkit kembali? Apa tidak ada cara untuk mengalahkannya?"
TRAANG!
Serangan Ling Jian Tou berbenturan dengan senjata milik Pangeran Sabit Kematian. Dia berusaha mengatur napas dan kembali menyerang.
Pangeran Sabit Kematian nampak menahan tawa, "Kau ingin tahu siapa aku? Kau sudah melihatnya, bukan? Aku abadi. Seberapa pun kuatnya seranganmu, kau tidak akan bisa mengalahkanku."
!!
Ling Jian Tou dan Ling Qing Zhu tersentak saat senjata Pangeran Sabit Kematian tiba-tiba bercahaya merah redup dan langsung menghilang. Detik itu juga sabit tersebut datang dari arah belakang tubuh mereka hingga keduanya sulit untuk menghindar.
__ADS_1
CRAAASH..!
***