
Xiao Shuxiang berada di Benua Timur, tepatnya di kediaman Zhou Yan, Gunung Induk. Kedatangannya yang begitu tidak terduga menjadi kejutan bagi Alkemis itu dan juga muridnya, Feng Ying.
Saudara seperguruan Xiao Shuxiang yang dahulunya masih begitu kecil serta pernah mengigit tangannya itu sekarang telah tumbuh dewasa.
Feng Ying akan sangat dingin dan hemat bicara pada orang lain, tetapi tidak demikian bila dia berhadapan dengan Xiao Shuxiang.
Dia bahkan membuat Alkemis Zhou Yan terkejut karena dirinya langsung memeluk saudara seperguruannya itu.
"Lapar.."
Xiao Shuxiang tersenyum, "Pertama kali bertemu denganku dan kau malah mengucapkan kata itu..? Apa sekarang kau ingin menggigit tanganku lagi, huh?"
"Aku merindukanmu Saudara Xiao, kau keterlaluan karena tidak pernah menjenguk kami."
"Tapi sekarang aku di sini, kan? Aku juga merindukanmu. Kau sekarang bahkan lebih tinggi dari Hou Yong dan hampir menyamai tinggiku, ini mengejutkan."
Xiao Shuxiang menepuk pelan pundak Feng Ying dan kemudian beralih pada Zhou Yan. Dia menatap sosok berpakaian putih dan bercadar tebal tersebut sebelum meraih tangannya.
"Tetua Tiga.." suara Xiao Shuxiang lembut, pandangannya menghangat dan raut wajahnya begitu menenangkan.
Zhou Yan berkedip, dia tidak tahu harus merespon bagaimana. Awalnya dia pikir Xiao Shuxiang akan langsung melompat dan bersemangat memeluknya erat, namun tidak disangka pemuda nakal ini bersikap begitu dewasa.
"Tetua.."
Xiao Shuxiang mengusap pelan tangan Zhou Yan. Sudah sangat lama dia tidak melihat Alkemis yang memiliki bulu mata indah ini. Dirinya lalu memeluk Patriarch Sekte Pedang Langit tersebut.
"Xiao'Er, kau ini kenapa..? Tindakanmu seperti memperlakukan seorang kekasih. Jangan bilang kau tidak ingat Gurumu ini seorang laki-laki,"
"Aku ingat. Hanya saja aku merindukanmu, Tetua." Xiao Shuxiang tidak bisa bertingkah kekanakan di depan Zhou Yan.
Alkemis ini merupakan putra dari seniornya. Karenanya perlakukan Xiao Shuxiang tidak lebih dari seorang paman yang memeluk keponakannya, walau bila diperhatikan secara kasat mata--Zhou Yan lebih tua darinya.
Xiao Shuxiang melalui malam bersama Feng Ying dan Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit. Dia menyiapkan makan malam dan mempersembahkan hidangan terbaiknya.
Mereka membicarakan banyak hal yang sebagian besarnya merupakan bahasan sepele. Xiao Shuxiang dan Zhou Yan juga meminum Arak Kaisar Naga sambil memperhatikan keindahan langit.
Feng Ying sendiri hanya meminum teh, dia belum diizinkan minum arak oleh Zhou Yan dan Xiao Shuxiang. Ketiganya terus berbincang dan seakan sudah sepakat untuk tidak tidur.
".. Kupikir kau sudah melupakan tempat tinggalmu ini.." Zhou Yan menuangkan arak ke cawan giok putih miliknya.
"Mana mungkin kulupakan rumahku. Hanya saja aku memang sibuk di Benua Tengah."
"Kau benar-benar akan menikah dengan Ling Qing Zhu?"
Xiao Shuxiang meminum arak miliknya dan kemudian mengangguk, "Bukankah Tetua sudah melihat persiapannya? Para orang tua itu benar-benar semangat menyiapkan semuanya,"
"Kau tidak ikut membantu?"
"Tentu saja tidak, aku kan calon pengantinnya.." Xiao Shuxiang tentu tidak mau mengeluarkan tenaga berlebih untuk persiapan pernikahannya.
Lagipula, dia sudah memberikan kertas pemanggil cermin pemindah pada Hu Li. Temannya itulah yang menjadi peran penting dalam kelancaran persiapan pernikahannya di tiga tempat berbeda.
Feng Ying. "Saudara Xiao, persiapan di Sekte Kupu-Kupu sudah selesai. Aku banyak membantu dan sekarang tinggal berbagi tugas penjagaan dengan para saudara yang lain. Mereka semua sudah tidak sabar lagi,"
Xiao Shuxiang mengusap pelan kepala Feng Ying, dia tersenyum dan berterima kasih. "Banyak yang menunggu hari pernikahan itu dan aku sendiri juga gugup mengingat hari itu hampir tiba. Rasanya ingin melarikan diri saja.."
"Saudara Xiao..!" Feng Ying tersentak, "Jangan lakukan hal memalukan seperti meninggalkan pernikahanmu sendiri. Itu tidak baik,"
Xiao Shuxiang tertawa dan menepuk pelan pundak Feng Ying, "Tentu saja tidak. tidak akan melakukannya,"
Xiao Shuxiang berkata, "Aku hanya gugup karena selama ini adalah yang pertama kalinya aku akan menjalin sebuah hubungan pernikahan.."
Sambil menarik napas, Xiao Shuxiang pun menatap Zhou Yan dan bertanya. "Tetua Tiga, usiamu sudah lebih dari seratus tahu.. Bagaimana rasanya hidup berkeluarga itu?"
?!
Zhou Yan tersedak araknya saat mendengar pertanyaan spontan ini, dia menatap pemuda di sampingnya dan lalu menggeleng pelan.
Zhou Yan berkata, "Apa kau pernah lihat aku membawa seorang wanita kemari? Bicara dengan perempuan saja sangat jarang, dan kau malah menanyakan rasanya hidup berkeluarga? Kau pikir aku sudah menikah?"
"Aiya, bukan begitu. Kau tinggal bersama Feng Ying, dan hanya kalian berdua di sini. Apa rasanya tidak sama dengan tinggal sambil diurus oleh seseorang?"
"Tentu saja berbeda. Tinggal di bawah satu atap dengan seorang laki-laki sangat jauh berbeda daripada tinggal hanya berdua dengan perempuan. Dan perlu kau tahu, para gadis itu sangat cerewet.."
Zhou Yan meminum araknya kembali dan melanjutkan ucapannya, dia memberi tahu Xiao Shuxiang untuk selalu berhati-hati. ".. Pernikahan menyatukan dua karakter dan pemikiran yang berbeda. Pertengkaran dan perbedaan pendapat akan sering terjadi, kau tidak bisa mengharapkan akhir bahagia dari sebuah pernikahan."
__ADS_1
"Tapi Tetua, Kucing Putih bukan tipekal gadis yang cerewet. Aku hanya khawatir saat benar-benar menjalani kehidupan bersamanya.. Dan hari-hariku hanya duduk di depan meja sambil menyalin aturan Sekte Pagoda Langit yang banyaknya menyaingi sektemu.."
Xiao Shuxiang meletakkan pot araknya dengan kasar, dia merasakan jantungnya berdebar tidak karuan saat membayangkan masa depannya nanti.
Xiao Shuxiang, "... Tidak.. Itu tidak boleh sampai terjadi."
Zhou Yan berkata. "Xiao'Er, sebelum hari itu tiba.. Ada baiknya kau belajar banyak hal. Temui ayah dan ibumu, atau kultivator mana pun yang sudah menikah. Kau jangan menanyakan hal apa pun padaku,"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan menggeleng pelan. "Aku tidak akan menanyakan hal yang rumit. Lagipula, aku juga tidak berharap ini akan menjadi pernikahan yang indah. Musuhku sudah terlalu banyak hingga sulit dibayangkan apa aku bisa hidup tenang atau tidak. Aku hanya berharap Kucing Putih dapat melindungi dirinya sendiri,"
Feng Ying buka suara. "Saudara Xiao, memang sebanyak apa musuhmu? Satu kekaisaran? Satu benua? Kau punya banyak teman, jadi tenang saja. Saudara Jing, Saudara Hou, Kakak Lu Yang Cantik, dan semuanya akan membantumu. Kita akan menghadapi mereka bersama-sama."
Xiao Shuxiang tersenyum tipis, Feng Ying benar-benar polos. Ucapan yang tulus itu malah membuatnya tidak lagi berselera menghabiskan arak miliknya.
"Ketidaktahuan benar-benar berbahaya. Ucapannya itu telah menyentuh kecemasan terbesar yang selalu ingin kuhindari.."
Xiao Shuxiang hanya punya satu musuh, namun sangat berbahaya. Dia yang telah memiliki seluruh kekuatannya kembali bahkan tidak yakin bisa mengalahkan makhluk itu.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas pelan, dia tidak memikirkan hal semacam itu untuk sekarang. Jauh lebih menyenangkan membahas masalah pernikahan dengan seorang bujangan seperti Zhou Yan.
Feng Ying juga ikut-ikutan, dia menceritakan bagaimana kehidupan ayah dan ibunya saat di Desa Tani dulu. Tidak jarang dia juga membahas tentang keluarga dari teman-temannya.
Dari sinilah Xiao Shuxiang menyadari satu hal, dia ternyata sangat egois karena tidak pernah memikirkan seperti apa kehidupan anak-anak yang dia temui pertama kali.
Xiao Shuxiang, "Aku tahu saudara Jing tidak memiliki ayah dan ibu sejak kecil, tapi tidak pernah menanyakan bagaimana kedua orang tuanya meninggal dunia. Kupikir itu sesuatu yang menyedihkan, jadi tidak pernah kutanyakan padanya."
"Saudara Xiao, ayah dan ibu saudara Jing masih ada. Kurasa mereka hidup dengan baik dan bahkan telah lupa pada anak kandung yang mereka buang," suara Feng Ying terdengar dingin, dia mengepalkan erat tangannya dan mencoba untuk tenang. Dia memiliki mata ikan mati hingga saat sedang kesal, auranya begitu mengerikan.
!!
Xiao Shuxiang dan Zhou Yan bahkan terkejut hingga tanpa sadar menahan napas. Anak yang sebelumnya begitu polos sekarang malah terlihat seperti memiliki dendam kesumat.
"Maafkan aku.." Feng Ying menyadari kesalahannya, dia kembali meminum tehnya dan kemudian memandang ke arah langit.
Zhou Yan berdeham pelan, dia tidak percaya sudah menahan napas saat melihat ekspresi muridnya barusan. Dia lalu memandang Xiao Shuxiang yang rupanya sepemikiran dengannya.
"…"
"…"
"…"
"Sebenarnya Desa Tani bukanlah desa biasa.." Feng Ying akhirnya buka suara. Dia membuat Xiao Shuxiang dan Zhou Yan memperhatikannya dengan seksama.
Feng Ying menjelaskan, "Desa itu tempat tinggal para pelarian. Setiap warga di Desa Tani memiliki masa lalu yang kelam, dendam yang belum terbalaskan, dan banyak lagi yang lainnya."
Ini pertama kali Xiao Shuxiang mendengarnya, Zhou Yan pun demikian. Mereka tidak berniat memotong pembicaraan Feng Ying dan sabar menunggu sampai pemuda itu melanjutkan ucapannya.
Feng Ying menarik napas, "Ayah saudara Jing merupakan saudagar yang kaya, sementara ibunya adalah penari. Kehidupan keluarga mereka tidak pernah berjalan harmonis bahkan sering terlibat pertengkaran, saudaraku.. Selalu menjadi target kemarahan. Sangat beruntung saudaraku tidak sampai dibunuh, dia hanya dibuang dan paman Bai menemukan serta merawatnya,"
Xiao Shuxiang, "Bukankah paman Bai juga bermarga 'Jing'? Jadi bukankah dia merupakan saudara ayah Jing Mi?"
"Bukan, paman Bai yang memberikan marganya pada saudara Jing. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah," Feng Ying memutar-mutar pelan cawan giok di tangannya dan lalu mengembuskan napas.
Feng Ying berkata, "Kakak Zhi Shu sendiri merupakan keturunan keluarga Kekaisaran Matahari Terbit. Ceritanya sangat panjang dan bisa dibilang mereka pergi untuk menyelamatkan diri."
!!
Zhou Yan tidak akan percaya jika tidak mendengarnya. Dia memang pernah tahu sesuatu tentang keluarga Kekaisaran Matahari Terbit, kabar yang dia dengar adalah tahta kekaisaran diambil alih dengan cara yang tidak pantas. Itu terjadi sudah lama sekali, namun dia bersikap acuh sebab hal tersebut bukanlah urusannya.
"Zhi Shu.. Keturunan keluarga kekaisaran?" Xiao Shuxiang tidak menyangka ini. Para saudaranya ternyata memiliki latar belakang yang tidak biasa.
"Benar, tapi Saudara Xiao jangan katakan apa pun pada Kakak Zhi Shu. Dia memang gadis yang pendiam dan jarang marah, tapi saat kami membahas masa lalu masing-masing.. Dia terlihat tidak suka,"
Feng Ying kembali berkata, "Para saudaraku itu mempunyai dendam masing-masing yang belum terbalaskan. Mereka hanya berusaha hidup dengan baik dan menghindari masalah, tidak ingin terjebak pada masa lalu.."
".. Kakak Wen sendiri adalah warga dari Benua Barat, dia memikul beban yang lebih berat dari kami. Tapi sepertinya kakak Wen memilih untuk melepaskan kewajibannya.." Feng Ying mengembuskan napas sebelum kembali bersuara.
".. Kami sudah memiliki keluarga sekarang, memiliki Saudara Xiao dan juga guru. Tapi bohong jika kukatakan kami tidak menyimpan dendam, hanya saja kami berusaha untuk melupakan semuanya." Feng Ying meminum tehnya, dia lalu menatap Xiao Shuxiang dan meraih tangan pemuda itu.
".. Aku sebenarnya tidak pernah mau membencimu, Saudara Xiao. Hanya saja, lebih dari separuh masalah dan kenangan buruk warga Desa Tani disebabkan olehmu."
!!
"Itu.."
__ADS_1
"Kami menaruh dendam pada Sang Bintang Penghancur. Namun entah bagaimana Kakek Shu malah memberikan nama orang yang kami benci pada cucunya. Syukurlah kau memiliki suara menggemaskan, wajah cantik, dan senyuman yang manis hingga warga desa tidak menjadikanmu pusat kemarahan mereka."
Xiao Shuxiang tidak bisa merasakan detakan jantungnya. Dia menolehkan pandangannya ke arah lain dengan rasa tidak percaya. Benar-benar sangat tidak percaya.
"Sang Bintang Penghancur memang layak dibenci," Zhou Yan menuangkan kembali arak ke dalam cawan gioknya, ".. Dendamku padanya bahkan sampai ke sum-sum tulang. Dia sudah banyak membuat kekacauan dan sekarang berharap ingin menjalani hidup yang baik dengan gadis tercintanya? Hah, tidak semudah itu."
"Tetua Tiga.."
Xiao Shuxiang menatap Zhou Yan. Alkemis itu tersenyum namun suaranya barusan seperti telah meluapkan kekesalan yang selama ini ditahan. Dia benar-benar khawatir akan berakhir bertarung dengan kedua orang ini.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan lalu menatap langit. Bintang terlihat sangat indah dan menenangkan, sayang sekarang banyak orang yang tidak menyadarinya.
"Aku tahu yang kulakukan di masa lalu itu salah, sangat salah. Tapi meski kucabut setiap tulangku sebagai permintaan maaf, mereka yang telah mati tidak akan pernah hidup kembali. Bahkan jika aku ingin, masa lalu tidak akan bisa terulang."
Xiao Shuxiang mendengus dan kemudian tersenyum, "Haah.. Aku benar-benar payah. Meminta maaf saja tidak ada rasanya, aku sama sekali tidak menyesal. Jadi bagaimana sekarang?"
Feng Ying memegang erat tangan Saudaranya dan lalu menggelengkan kepala. Dia menyukai Xiao Shuxiang, tapi tidak suka karena Saudaranya ini terlalu jujur.
"Saudara Xiao.. Padahal baru saja aku ingin menaruh kasihan padamu, menyemangatimu, dan mengatakan untuk tidak perlu mengingat masa lalu. Tapi ternyata kau tidak pernah menyesali apa pun. Apa kau tidak merasa takut jika aku dan saudara kita yang lain berbalik dan membencimu?"
"Feng Ying.." Xiao Shuxiang memegang tangan pemuda yang serius menatapnya, ".. Jujur saja, aku sebenarnya takut pada diriku sendiri. Takut bahwa aku akan melupakanmu, melupakan saudara Jing, Tetua Tiga, dan semuanya. Kau tidak tahu saja bagaimana sulitnya memiliki Hati Giok Hitam.."
"Hati.. Apa..?"
Zhou Yan, "Itu artinya.. Meski kau membencinya dan ingin sekali membunuh Saudara Xiao-mu ini. Dia tanpa ragu akan mengayunkan pedang dan melupakan semua hal yang pernah kalian lakukan bersama. Ikatan persaudaraan kalian baru akan diingatnya setelah kau mati, itu pun.. Dia tidak akan menyesal karena telah membunuhmu."
!!
"Bukankah itu sangat kejam?!" Feng Ying terkejut, dia sudah lama hidup dengan Xiao Shuxiang, jadi mana mungkin saudaranya tidak merasakan apa-apa.
"Saudara Xiao, apa benar yang dikatakan Guru?"
Zhou Yan, "Ying'Er, tentu saja benar. Dia bisa membunuhmu bahkan tanpa mengedipkan mata. Tidak peduli sedalam apa hubungan kalian dan berapa lama, dia tidak akan menyesal membunuhmu. Sekejam itulah mereka yang memiliki hati giok hitam."
Xiao Shuxiang tidak menyangkal ucapan Alkemis Zhou Yan. Bisa dibilang, dia setuju pada perkataan Patriarch Ketiga dari Sekte Pedang Langit itu. Hanya saja, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Zhou Yan menuangkan arak ke cawan giok miliknya dan lalu memberikan cawan tersebut pada Xiao Shuxiang. Pemuda berseragam hitam itu sudah tidak berselera, namun terpaksa menerimanya.
"Saudara Xiao.."
"Feng Ying, apa yang harus kukatakan? Aku menganggapmu sebagai teman dan saudara, begitu juga dengan saudara Jing dan yang lainnya. Tapi andai kata pada akhirnya kita akan berada di jalan yang berseberangan, maka aku tidak akan pernah ragu."
"Saudara Xiao," Feng Ying terlihat tidak suka, dia menatap Xiao Shuxiang dan mencoba menggali kebohongan pada mata saudaranya ini.
"Ying'Er.." Xiao Shuxiang tersenyum dan mengusap pelan pundak Feng Ying, tatapan matanya begitu lembut seakan dapat menarik orang lain ke dalamnya.
".. Ying'Er, bukankah kau ingat apa yang kukatakan pada kalian dahulu? Kau harus menjadi kuat.. Sangat kuat hingga bisa membunuhku. Aku akan merasa senang bila dapat mati di ujung pedang mereka yang kuanggap berharga."
"Kau hanya mengatakan itu, tapi terdengar seperti tidak tulus. Senyuman dan tatapan matamu mengandung kebohongan, Saudara Xiao." Feng Ying berekspresi cemberut, dia tidak bisa dibohongi.
Xiao Shuxiang mencubit gemas pipi pemuda di sampingnya, "Siapa yang berbohong padamu? Aku sudah menaruh cinta dalam setiap senyuman dan tatapan mataku. Banyak yang terjebak dalam pesonaku, kecuali kau."
"Saudara Xiao.." Feng Ying baru ingin bicara, tetapi Xiao Shuxiang sudah lebih dulu berdiri dan kemudian berpamitan.
!!
"Saudara Xiao, kau tidak mau menginap?" Feng Ying mencegah Xiao Shuxiang pergi, dia masih ingin bersama saudaranya.
"Aku harus mengunjungi yang lain, tidak punya waktu untuk beristirahat sekarang.." Xiao Shuxiang tersenyum, dia mengusap kepala Feng Ying dan berkata mereka akan bertemu lagi.
"Jangan mencari masalah yang tidak perlu, apalagi menghancurkan pintu orang lain."
!
Permintaan Zhou Yan benar-benar berat. Alkemis itu tahu saja bahwa Xiao Shuxiang berniat mengganggu orang lain dan menghancurkan beberapa pintu rumah.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Kalau begitu aku pergi-"
"Saudara Xiao," Feng Ying meraih tangan Xiao Shuxiang, dia ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa? Kau mau ikut?"
"Tidak.. Aku hanya ingin mengatakan, kau tidak perlu khawatir Saudaraku. Masa lalu tidak akan merubah fakta bahwa sekarang kita bersaudara. Kau tidak pernah sendirian,"
Xiao Shuxiang memeluk Feng Ying, dia tahu itu. Dirinya sangat tahu benar begitu disayangi entah seburuk apa pun kesalahannya, itulah yang membuat manusia terasa menarik.
__ADS_1
Xiao Shuxiang mulai melepaskan pelukannya, dia lalu melangkah pergi dan kali ini tidak lagi ditahan oleh Feng Ying. Langit malam yang dipenuhi bintang menemani setiap langkah kakinya.
***