XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
383 - Kekesalan II


__ADS_3

Yang Ni melepaskan sarung tangannya, raut wajahnya terlihat lebih dingin dari yang biasa. Jelas sekali bahwa saat ini hatinya sedang dalam kondisi buruk.


"Kenapa kalian tidak bisa menemukannya?!"


"Pangeran, kami sudah berusaha mencari ke setiap tempat di Kekaisaran ini, tetapi gadis itu tidak kami temukan.."


"Maka cari lagi. Berusahalah lebih keras dan kali ini jangan kembali sebelum kalian menemukannya."


!!


Dua pengawal yang ada di belakang Yang Ni terkejut. Dalam hati mereka ingin mengeluh, namun raut wajah pangeran mereka menandakan tidak ingin mendengar keluhan apa pun. Bila tetap nekat, keduanya mungkin akan kehilangan kepala saat ini juga.


"Pangeran, banyak gadis yang lebih cantik di kota ini. Kenapa kau harus menyiksa kami mencari satu orang yang wajahnya bahkan tidak kami kenali,"


Dalam hati kedua pengawal ini mengusap-usap wajah. Mereka sebenarnya sudah hampir mencapai batas, keduanya sangat lelah dan nyaris gila hanya karena seorang gadis bernama 'Shu Xiang'.


Nama itu cukup banyak dipakai oleh para gadis di pinggiran kota, apalagi di sekitar pelabuhan. Masalahnya, kedua pengawal ini tidak memiliki sketsa lukisan wajah gadis yang diinginkan pangeran mereka.


Yang Ni sudah mengundang lebih dari dua puluh orang pelukis terbaik, namun dirinya selalu kurang puas dengan hasil lukisan wajah gadis yang berdasarkan ingatannya.


Dia sendiri juga hampir berada diambang batas. Setiap pelayan yang dia temui--tidak ada satu pun yang mengenal gadis itu. Dirinya lantas bertanya pada Sang Kakek, namun Kaisar malah menggeleng dan memberinya jawaban yang sama sekali tidak berguna baginya.


"Bagaimana caranya aku dapat menemukanmu.." Yang Ni mengembuskan napas pelan dan sedikit memijat dahinya.


Dia terus melangkah sambil diikuti oleh kedua pengawalnya. Semakin berjalan, Yang Ni mulai menyadari ada pemuda berpakaian serba putih yang nampak asing baginya.


"Mn?"


Kening Yang Ni sedikit mengerut, ini pertama kalinya dia melihat pemuda itu. Dirinya merasa bahwa alasan mengapa Kaisar tidak datang menyaksikan saudara-saudaranya berkuda adalah karena Sang Kaisar sedang kedatangan tamu.


Lan Guan Zhi masih berdiri tenang, ekspresi wajahnya tidak berubah meski pemuda yang diikuti oleh dua pengawal itu menghampiri dirinya.


Hanya dengan sekali lihat, dia tahu bahwa pemuda yang berjalan ke arahnya adalah salah satu dari pangeran. Dirinya lalu memberi hormat dan menyapa pemuda itu dengan ucapan khas Benua Timur.


?!


Yang Ni membalasnya seperti hormat yang selalu dilakukan pendekar. Dia baru memperhatikan ternyata ada sebuah pedang terselip di pinggang kiri pemuda berpakaian putih di depannya ini.


Dari ucapan yang dirinya dengar pun, dia tahu bahwa tamu Kakeknya ini berasal dari tempat yang jauh. Hanya saja, Yang Ni sedikit keheranan dengan teman pemuda di depannya yang seperti sedang bersembunyi.


"Mm.. Tuan Muda ini.."


"…"


Lan Guan Zhi tidak tahu harus memberi tanggapan yang seperti apa. Dia sendiri tidak mengerti kenapa teman baiknya malah bersembunyi di belakangnya.


Xiao Shuxiang sendiri terus menyembunyikan wajahnya, ekspresinya seperti orang yang berusaha menahan buang air besar. Dia mencoba mencari akal agar pemuda yang bicara dengan Lan Guan Zhi ini tidak sampai mengenalinya.


Yang Ni meski berbicara dengan Lan Guan Zhi, tetapi dirinya masih penasaran dengan orang yang bersembunyi di belakang pemuda ini.


"Tuan Muda, aku tidak menggigit. Kenapa Anda harus bersembunyi?"


?!


Xiao Shuxiang sekarang tidak bisa berbuat banyak. Dia mengacak-ngacak sedikit rambut poninya dan lalu menggunakannya untuk menyembunyikan matanya serta separuh wajahnya. Dirinya tetap memegang pundak Lan Guan Zhi dan kemudian mengintip pemuda yang baru saja bicara padanya.


!!


"Hantu..!"


Dua pengawal Yang Ni terkejut, namun tidak demikian dengan dirinya. Dia malah berkedip dengan pemikiran bahwa pemuda di belakang Lan Guan Zhi adalah seseorang yang aneh.


"Jadi Tuan Muda, siapa namamu?"


Xiao Shuxiang memegang erat pundak Lan Guan Zhi dan dengan hati-hati menyebutkan namanya. Dia menyakinkan diri bahwa pangeran yang dilihatnya ini tidak akan mengenalinya lewat suara.


Yang Ni sudah sering mendengar nama 'Shuxiang' dan belakangan ini dia memang sibuk mencari gadis dengan nama itu. Dirinya benar-benar hampir gila hanya karena seorang gadis.


Meski kedua mata Xiao Shuxiang tertutup rambut, namun dia bisa melihat raut wajah pangeran di depannya dan jika diperhatikan lebih baik--Pangeran Yang Ni seperti kurang tidur.


Xiao Shuxiang tidak mau berlama-lama di tempat ini, dia berbisik pada teman baiknya dan meminta agar mereka segera pergi dari sini.


".. Ayo temui Kakek.."


"Ada apa?" Lan Guan Zhi merasa tingkah temannya sedikit aneh, seakan Xiao Shuxiang gelisah dan tidak merasa tidak nyaman.


"Akan kujelaskan nanti.. Ayo kita pergi.." suara Xiao Shuxiang begitu pelan, tindakannya ini dapat memunculkan rasa penasaran di dalam hati teman baiknya.


Lan Guan Zhi memberi hormat kembali pada Yang Ni dan meminta maaf karena tidak bisa berbincang lebih lama, ".. Kami harus kembali ke dalam,"

__ADS_1


"Aku juga kebetulan ingin menemui Yang Mulia, mari masuk bersama." Yang Ni tersenyum, dia memang berada di depan Aula Pengadilan dan sekarang sedang mengajak Lan Guan Zhi untuk bersama-sama menemui Kaisar, Yang Chai Jidan.


!!


Xiao Shuxiang telah gagal. Awalnya dia bermaksud menghindari Yang Ni dan merasa pangeran itu akan pergi ke tempat lain. Tetapi tidak disangka pangeran ini malah ingin bertemu Kaisar.


"Aku tidak bisa menghindar lagi. Cepat atau lambat dia akan tahu.. Dia pasti akan tahu.." kaki Xiao Shuxiang terasa sulit untuk melangkah dan mengikuti teman baiknya. Berulang kali dia memegang perutnya karena merasa tidak enak.


Di dalam ruangan, Yang Chai Jidan terlihat memeluk Yang Hao dan Xiao WeiWei secara bergantian. Dirinya merasa senang sebab bisa bertemu dengan cucunya ini.


"Yang Mulia.." Yang Ni memanggil kakeknya. Dia berjalan sambil sejenak menoleh ke sekitaran dan memperhatikan setiap wajah asing yang dirinya pertama kali lihat ini.


??


Hai Feng, Zhi Shu, dan Bocah Pengemis Gila penasaran dengan pemuda tampan yang berjalan bersama kedua temannya. Mereka jadi bertanya-tanya mengenai identitas pemuda tersebut. Hanya saja, ketiganya tiba-tiba tersentak saat memperhatikan Xiao Shuxiang yang wajahnya tertutup rambut poni.


Nyan?


"Aah.. Tidak tahu Lan Xiao. Mungkin udara dingin membuat indukmu bertingkah konyol," Xiao Qing Yan mengusap-usap kepala Harimau Bulan yang dipangkunya, dia memperhatikan pemuda berpakaian serba hitam di depannya dari atas sampai bawah.


"Nak, kemarilah dan berkenalan dengan Kakek, Bibi, serta Pamanmu.." Yang Chai Jidan meminta Yang Ni mendekat, dia lalu mengenalkan cicitnya tersebut pada Yang Shu, Yang Fu, Xiao WeiWei, dan Yang Hao.


Kedua pengawal yang sebelumnya ada bersama Yang Ni tidak mengikutinya memasuki Aula Pengadilan. Mereka pergi dan kembali mencari gadis bernama 'Shu Xiang'.


Yang Ni sebenarnya terkejut karena bertemu dengan sosok yang selama ini diceritakan Kaisar padanya. Dia sudah banyak mendengar kisah tentang Yang Shu dan Yang Fu, jadi tentulah berita kepulangan Kakeknya ini sangat menggembirakan.


Yang Chai Jidan sudah melakukan yang terbaik dengan menjaga para putra, cucu, dan cicitnya. Selama ini bentrokan di istananya berasal dari keserakahan selir-selirnya.


Mereka menginginkan tahta untuk putra mereka masing-masing, tidak peduli cara kotor apa yang dilakukan, bahkan termasuk menanamkan kebencian di hati anak-anak mereka.


Keputusan Yang Chai Jidan memilih Yang Shu untuk menggantikannya menjadi Kaisar telah membuat guncangan besar di hati para selir, termasuk permaisuri dan Ibu dari Kaisar sendiri.


Puncak dari kondisi istana yang semakin memburuk berada saat Yang Shu dan Yang Fu melarikan diri. Beruntung kala itu Kaisar telah pulih dan dapat mengatasi keadaan yang terjadi. Sampai pada akhirnya.. Waktu telah mengubah segalanya.


Ambisi dan keserakahan para selirnya bak tertelan usia senja mereka. Satu demi satu meninggal, dan beberapa yang dapat bertahan karena mempelajari kultivasi. Namun untuk selir yang dianggap akan membawa keburukan, sudah lebih dulu disingkirkan oleh Yang Chai Jidan.


Dialah Kaisar yang tidak pernah ragu membunuh para selir atau anaknya yang diyakini akan membawa masalah di masa depan. Caranya begitu bersih dan tanpa mengotori tangannya sama sekali. Yang Chai Jidan hanya tinggal memberi perintah, dan satu selirnya dapat langsung mati tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun.


Saat ini, keadaan istananya telah berada di titik yang penuh nuansa damai serta bahagia. Para cicitnya memang sering bertengkar, namun tidak sampai saling mendendam. Apalagi sekarang, tidak ada satu orang pun dari anak-anaknya yang berambisi menduduki tahta.


Yang Chai Jidan merasa bahagia karena telah berhasil memberi pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, cucu-cucunya, serta para cicitnya. Apalagi sekarang kebahagiaannya semakin bertambah dengan kedatangan kedua putra yang sudah lama dia rindukan.


"Xiao'Er? Apa yang terjadi padamu?" Yang Hao juga tersentak, rambut putranya seperti baru saja terpa badai--terlihat berantakan sekali.


"Xiao'Er.."


"Aahm.. Ha ha.. Ini gaya rambut terbaru," tawa Xiao Shuxiang terdengar dipaksakan, penampilannya jelas menimbulkan rasa kebingungan pada semua orang di ruangan ini.


Xiao WeiWei menggelengkan kepalanya pelan, tingkah putranya benar-benar tidak bisa dimengerti. Dirinya lalu berjalan dan mulai ingin merapikan rambut putra kesayangannya namun seketika tangannya ditahan.


"Xiao'Er..?"


"I-Ibu.. Apa yang Ibu lakukan?" Xiao Shuxiang tidak mau Xiao WeiWei merapikan rambutnya. Jika Yang Ni melihat wajahnya, dia mungkin akan segera tamat.


"Kau tanya apa yang akan kulakukan? Tentu saja merapikan rambutmu. Kau jangan bertingkah seperti ini, diam dan turuti ibumu.."


!!


Xiao Shuxiang sudah tidak bisa ditolong. Dirinya telah berusaha menolak Xiao WeiWei, namun tetap saja ibu cantiknya merapikan rambut poninya hingga tersingkap.


"Perhatikan Tuan Muda Lan, kau berteman dengan seseorang yang selalu menjaga penampilannya. Dia terlihat sangat tampan dan rapi, jadi jangan kalah darinya.."


"Ibu.." Xiao Shuxiang merasa wanita cantik di depannya ini mulai cerewet. Dia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya juga selalu menjaga penampilan, tetapi untuk sekarang dia butuh menyembunyikan wajahnya.


".. Putraku yang manis dan mempesona ini.. Kau menggemaskan sekali~" Xiao WeiWei mencubit pelan pipi putranya dan tak lupa memberinya ciuman, anaknya sudah tumbuh besar sekarang.


!!


Xiao Shuxiang berkedip beberapa kali, ujung telinganya terlihat memerah. Refleksnya barusan terlalu lambat hingga tidak dapat menghindari serangan barusan.


Yang Ni memang sudah sejak tadi merasa penasaran dengan wajah pemuda berpakaian serba hitam itu. Namun saat ini wanita cantik yang berdiri di depan pemuda tersebut tengah menghalangi pandangannya.


Baru setelah Xiao WeiWei berbalik dan menyamping sedikit.. Yang Ni sudah bisa melihat wajah dari putra Paman dan Bibinya ini.


"Ni'Er.. Kau harus menganggapnya sebagai Saudaramu mulai sekarang. Akrablah dengannya.." Yang Chai Jidan menepuk pelan pundak cicitnya, dia baru ingin bicara kembali--Namun dirinya melihat kening Yang Ni mengerut.


!


Xiao Shuxiang bisa merasakan dahinya berkeringat, dia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jelas sekali bahwa saat ini dirinya gugup sebab terus ditatap oleh pemuda yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Hm, aku mengerti.." Yang Chai Jidan sadar dengan ekspresi wajah Yang Ni, dia lalu tersenyum dan mengusap pelan punggung cicitnya tersebut.


"Ni'Er.. Tidak perlu berusaha keras berpikir. Biar Kakek yang mengatakannya. Gadis yang kau cari selama ini ada tepat di depanmu,"


!!


Xiao Shuxiang terkejut saat mendengar ucapan Kaisar. Dia melototi Tua Bangka itu yang suaranya tadi dapat didengar begitu jelas. Yang Shu, Yang Hao, Xiao WeiWei, termasuk Lan Guan Zhi nampak keheranan.


Sementara itu, Bocah Pengemis Gila, Xiao Qing Yan, Hai Feng, dan Zhi Shu hanya saling menatap satu sama lain dan lalu mengangkat sedikit bahu. Mereka tahu apa yang sedang terjadi di sini dan lebih memilih menjadi penonton.


"Kau tidak mendengarku..? Identitas pelayan yang selama ini kau cari dengan susah payah bahkan sampai kau tidak tidur karenanya adalah Xiao Shuxiang, saudaramu itu.."


"Aku.. Mendengarnya,"


Entah disadari atau tidak--tetapi Yang Ni sudah sejak tadi mengepalkan erat kedua tangannya. Darah bahkan terlihat di sela-sela jarinya dan menetes ke lantai. Jelas bahwa Yang Ni telah melukai tangannya sendiri.


"Aku tidak percaya ini.. Tidak mungkin.."


!!


Xiao Shuxiang berkedip, dia merasa sangat tidak nyaman ditatap seperti akan dimakan hidup-hidup. Masalahnya, kenapa Tua Bangka ini membongkar identitasnya tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Berani sekali.. Berani sekali dia menipu di tempat ini.." ekspresi wajah Yang Ni masih sama seperti yang tadi, tetapi tidak dengan tatapan matanya.


Dia sangat kesal sampai-sampai dapat merasakan ada kobaran api di dalam dadanya. Tetesan demi tetesan darah jatuh ke lantai akibat kuku pada jarinya melukai tangannya sendiri.


Jujur saja, Xiao Shuxiang sebenarnya ingin protes. Tatapan mata pemuda di depannya terlihat seperti menuduh dirinya melakukan kejahatan. Padahal dia yakin tidak pernah menyakiti Yang Ni, tidak bahkan sekali pun.


"Aku harusnya tidak perlu segugup ini. Aku sama sekali tidak bersalah. Aku tidak pernah memukulnya, membantingnya, apalagi menendangnya. Jadi kenapa aku harus-"


!!


Napas Xiao Shuxiang tercekat, dia sulit mengeluarkan kata-kata saat menatap pemuda di depannya ini. Dia seakan telah menjadi pusat dari kebencian seseorang.


Bocah Pengemis Gila memperhatikan Yang Ni dan Xiao Shuxiang secara bergantian. Ekspresi wajahnya berubah saat melihat darah segar seakan menetes dari kepalan tangan Pangeran Yang Ni.


Xiao Qing Yan, "Kau juga melihatnya?"


"Um, sepertinya Shuxiang terlibat masalah yang tidak sepele dengan pemuda tampan itu. Dan kurasa mereka berdua juga menyadarinya," Bocah Pengemis Gila menatap ke arah Hai Feng dan Zhi Shu.


"Saudara Xiao sebenarnya punya masalah apa dengan pangeran itu?"


"Sst, Hai Feng. Bukannya kau tadi sudah dengar ucapan Yang Mulia? Saudara Xiao menyamar menjadi perempuan dan itu membuat pangeran Yang Ni salah paham. Kau pasti sudah tahu bagaimana akhirnya.."


Hai Feng mengerjap dan mulai memperhatikan Saudara Xiao-nya dengan teliti. Dia tahu saudaranya sangat menawan tetapi tidak mungkin seseorang akan mengenalinya sebagai perempuan.


".. Saudara Xiao punya suara yang jantan dan kalau ingin jujur, Hu Li jauh lebih cocok menyamar menjadi perempuan. Jadi mustahil pangeran itu tidak mengenali saudaraku hanya dalam sekali pandang saja,"


"Hai Feng, apa kau lupa? Saudara Xiao adalah Alkemis, dia bisa membuat pil aneh termasuk yang dapat mengubah suara dan membesarkan bagian dada. Kalau rambutnya diurai, diberi polesan sedikit, dan pakaiannya diganti.. Kau tidak akan bisa mengenalinya lagi,"


Zhi Shu terus memperhatikan bagaimana Yang Ni menatap nyalang ke arah Xiao Shuxiang. Dia sendiri merasa merinding sekaligus sakit di dalam dadanya bila membayangkan tatapan mata itu tertuju padanya. Dirinya yakin tidak akan sanggup untuk hidup.


Yang Ni berjalan dan baru berhenti saat berada tepat di depan Xiao Shuxiang. Dengan suaranya yang dingin, dia mengatakan ingin bicara secara pribadi dan sebaiknya tidak ada penolakan.


".. Kau kutunggu di luar."


?!


Xiao Shuxiang menatap pangeran tersebut yang mulai berjalan pergi. Dia mengembuskan napas pelan dan mengikuti pemuda tersebut, namun baru dua langkah--dirinya dihentikan oleh Lan Guan Zhi.


"Dia begitu marah padamu,"


Xiao Shuxiang menatap mengikuti pandangan teman baiknya. Lan Guan Zhi sedang melihat tetesan darah segar di lantai, ini membuatnya yakin kemarahan Yang Ni ada di puncaknya.


"Xiao'Er? Apa kau bermusuhan dengannya?" Yang Shu bertanya karena khawatir cucu kesayangannya telah membuat musuh di lingkungan keluarga sendiri.


Yang Chai Jidan menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana Xiao Shuxiang menyamar menjadi pelayan wanita sampai Yang Ni merasa terpesona karenanya.


Xiao Shuxiang tidak ingin mendengar cetita memalukan tentang dirinya sampai selesai. Dia memilih pamit dan menemui pemuda tadi yang saat ini mungkin sedang menunggunya.


Di luar ruangan, tepatnya di halaman yang lumayan luas--Pangeran Yang Ni terlihat menggertakkan giginya. Pikirannya sangat kacau sekarang ini.


"Memalukan, sangat memalukan. Bagaimana bisa aku.." Yang Ni benar-benar ingin menghajar pemuda yang telah menipunya selama ini. Tidak dirinya sangka gadis yang dia cari ternyata adalah perwujudan dari lelaki tulen.


"Sialan..! Kurang Ajar..! Dia tidak tahu malu.." Napas Yang Ni tidak beraturan, dirinya merutuk dan terus saja marah-marah.


Tatapan mata dan ekspresi wajahnya seolah mengartikan bahwa dia tidak akan melepaskan orang yang telah menipunya.


***

__ADS_1


__ADS_2