XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
411 - Ling Qing Zhu VII


__ADS_3

Kening Xiao Shuxiang sedikit mengerut saat dia membuka mata. Rasanya masih tidak nyaman di bagian belakang bahu sebelah kanannya. Walau dia akui, rasa sakit yang menyiksa diawal sudah tidak ada lagi.


Samar-samar, dia dapat mendengar suara teman-temannya. Penglihatan Xiao Shuxiang pun mulai jelas, dia bisa melihat wajah Yi Wen, gadis cantik berambut sepanjang leher itu dan juga Jing Mi.


"Saudara Xiao! Kau jangan bangun dulu," Yi Wen menghentikan Xiao Shuxiang yang berusaha untuk bangun. Dia mengatakan agar sebaiknya Xiao Shuxiang tetap berbaring dan beristirahat.


Nyawn~


Lan Xiao senang induknya bangun, dia mengusap-usapkan kepalanya pada tangan Xiao Shuxiang sambil mengeluarkan suara dengkuran.


"Saudaraku, bagaimana perasanmu? Apa rasanya masih sakit?" Jing Mi khawatir, untuk pertama kalinya dia melihat Xiao Shuxiang seperti tidak bersemangat.


"Mn.. Seperti yang kau lihat, Saudara Jing.." suara Xiao Shuxiang terdengar lemah, dia masih begitu kelelahan.".. Aku masih hidup.. Sangat buruk, bukan?"


Xiao Shuxiang sedikit tersenyum, awalnya dia pikir dirinya sudah mati. Sayang sekali Tuhan belum mau mengasihaninya.


"Saudara Xiao, kau jangan bicara begitu.. Kau tidak tahu seberapa takutnya kami kehilanganmu.." Zhi Shu meneteskan air mata, dia tidak bisa menahan harunya.


Dirinya merebut tangan Xiao Shuxiang yang dipegang oleh Yi Wen dan lalu mengenggamnya sambil menciuminya dengan lembut.


Xiao Shuxiang mencoba bangun, dia sedikit meringis saat dibantu oleh Hu Li. Dirinya lalu mengusap pelan kepala Zhi Shu dan meminta gadis itu agar tidak menangis.


".. Aku tidak sebaik itu untuk kau tangisi. Simpan air matamu pada orang yang benar-benar pantas, Zhi Shu.."


Suara pelan dan lemah milik Xiao Shuxiang membuat gadis cantik di depannya terisak. Dia tersentak saat tanpa peringatan sebelumnya, Zhi Shu menyandarkan kepalanya pada dadanya yang bidang.


"Saudara Xiao, aku sangat takut kehilanganmu..! Kau segalanya bagiku.." Zhi Shu seperti menenggelamkan kepala dan wajahnya pada dada Xiao Shuxiang.


!


Tindakan Zhi Shu sebenarnya mengagetkan teman-temannya termasuk Yi Wen. Dia mendapat tatapan yang tidak biasa dari gadis berambut pendek itu.


Meski sedikit sakit, tetapi Xiao Shuxiang tidak menolak pelukan dari seorang gadis cantik. Dia bahkan mengusap pelan kepala Zhi Shu dan seperti menenangkan saudaranya ini.


"Aku tidak tahu kau begitu menyukaiku.. Tapi tolong untuk tidak menangis. Kecantikanmu nanti berkurang.."


Xiao Shuxiang mengusap lembut air yang mengalir di pipi Zhi Shu. Dia lalu mencium pucuk kepala gadis tersebut dan kemudian berterima kasih.


Yi Wen berkedip kala menyaksikan tindakan spontan Saudara Xiao-nya. Dia lalu menegur Zhi Shu dan meminta gadis itu untuk berhenti memeluk pemuda yang sudah lama menjadi incarannya. Zhi Shu harusnya memberi dirinya ruang juga.


!!


Xiao Shuxiang meringis saat Yi Wen memeluknya. Gadis berambut pendek ini seperti terlalu sayang padanya hingga pelukannya pun begitu erat dan sedikit menyesakkan.


"Yi Wen.. Kau ini sebenarnya makan apa..? Kau sudah tumbuh dewasa dari yang terakhir kali kuperhatikan,"


Maksud ucapan Xiao Shuxiang merujuk pada pertumbuhan bagian atas dari tubuh Yi Wen. Dia jadi merasa 'bukit' gadis ini semakin subur saja.


"Saudara Xiao.." Yi Wen melonggarkan pelukannya dan menatap lembut pemuda tampan di depannya. Tangannya lalu terulur untuk mengusap pelan pipi Saudaranya tersebut.


".. Kau tahu aku sangat menyukaimu. Jadi kau tidak boleh sampai terluka, aku benar-benar tidak sanggup melihatmu seperti ini. Kau adalah masa depanku.."


Xiao Shuxiang menyentuh tangan Yi Wen yang berada di pipinya, dia tersenyum dan lalu menyentil pelan dahi gadis cantik di depannya.


"Kau dan Zhi Shu sama saja, kalian berdua mencemaskan orang yang salah.. Aku tidak memiliki rasa suka seperti itu padamu ataupun pada Zhi Shu. Kalian merupakan saudara seperguruanku,"

__ADS_1


Bocah Pengemis Gila memperhatikan bagaimana orang-orang yang dikenalnya begitu perhatian pada Xiao Shuxiang. Dia jadi merasa pemuda yang selalu bertengkar dengannya itu memiliki teman-teman yang baik.


Sepanjang hari, perbincangan antara Xiao Shuxiang dengan teman-temannya terus terjadi. Dia perlahan melupakan rasa sakit di tubuhnya dan mulai terlihat sedikit berbeda dibandingkan sebelumnya.


Raut wajah Xiao Shuxiang seakan memiliki semangat hidup kembali, walau terkadang rasa nyeri menghampirinya.


Kabar bahwa dirinya telah siuman baru tersebar saat Zhi Shu dan Yi Wen meninggalkan ruangan dan bermaksud membuatkannya beberapa makanan.


Yang Shu dan Yang Hao mendengar hal ini langsung bergegas menuju kamar tempat Xiao Shuxiang dan teman-temannya berada.


Hu Li di dalam hati nampak begitu bersyukur. Tuan Mudanya sangat beruntung karena memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya.


Xiao Shuxiang sendiri juga melihatnya. Bagaimana nampak jelas raut kekhawatiran pada wajah tua Kakeknya, tatapan mata penuh cinta dari ibu dan ayahnya, serta keharuan yang dapat terlihat dari wajah teman-temannya.


Jujur saja, dia senang mempunyai teman-teman yang baik dan peduli padanya. Namun, ingatan tentang ucapan Lumière tiba-tiba terngiang di kepalanya.


Entahkah itu besok, tiga hari, seminggu, sebulan, atau setahun dari sekarang--pasti ada saat dia tidak akan lagi melihat wajah-wajah ini.


Teman-temannya tahu bahwa dia adalah Sang Bintang Penghancur, tetapi mereka belum mengetahui identitasnya yang merupakan makhluk dari Dunia The Fallen Angel.


Mustahil makhluk dari dunia itu akan diterima oleh para manusia. Xiao Shuxiang tidak mau terlalu memikirkannya, tetapi dia juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


"Mn? Di mana Lan Zhi?" Xiao Shuxiang baru menyadari bahwa Lan Guan Zhi tidak ada di antara teman-temannya. Dia jadi bertanya-tanya ke mana perginya teman baiknya itu.


Yi Wen dan Zhi Shu sedikit cemberut saat Saudara Xiao mereka malah mencari Lan Guan Zhi. Padahal merekalah yang selalu menjaga Xiao Shuxiang, sementara kultivator dari Sekte Pedang Langit itu tidak pernah sekali pun menampakkan batang hidungnya.


"Tsk, menyebalkan sekali. Sebenarnya sepenting apa Tuan Muda Lan bagimu, Saudara Xiao. Kami yang selalu ada untukmu, tapi kau terlihat lebih peduli padanya. Aku malah merasa kami bukan siapa-siapa bagimu.. Kau begitu keterlaluan,"


Yi Wen menggelembungkan pipinya, dia dan Zhi Shu terlihat merajuk dan seperti butuh dibujuk. Sayang sekali Xiao Shuxiang yang walau sadar, namun dia tidak mau melakukannya.


Rengekan dari kedua gadis cantik ini sama sekali tidak berpengaruh padanya. Dia bahkan suka melihat wajah cemberut Yi Wen dan Zhi Shu.


Dia akui tubuhnya masih sangat lemas dan sedikit nyeri, ini dikarenakan Paku Penembus Tulang masih tertancap di tubuhnya. Namun kehadiran teman-teman serta keluarganya yang selalu mengajaknya bicara lumayan membunuh kebosanannya, apalagi dengan kehadiran Siu Yixin yang memiliki gaya bicara paling unik di antara mereka.


Xiao Shuxiang baru ditinggal seorang diri di dalam kamar saat dia tertidur. Sebenarnya, Yi Wen, Zhi Shu, Ling Ya Bing, Lan Xiao, dan Hu Li ingin menemaninya. Namun mereka ditahan oleh Xiao WeiWei.


Wanita cantik itu menginginkan putranya bisa istirahat dengan tenang. Jika teman-teman putranya menginap di kamar ini, maka bisa dipastikan putra kesayangannya tidak akan tidur.


Buruknya, orang seperti Jing Mi, Hou Yong, Siu Yixin, dan Bocah Pengemis Gila juga akan ikut bergabung. Bila para pemuda ini berkumpul, pembicaraan mereka tidak pernah ada habisnya.


*


*


Xiao Shuxiang sudah tiga kali mengembuskan napas. Tatapan matanya terus mengarah pada langit-langit kamarnya, dia jelas tidak bisa tidur.


Keadaan di sekelilingnya begitu sunyi, hanya dia seorang di dalam kamar ini. Semua teman-temannya diusir secara lembut oleh Xiao WeiWei dan dirinya dibiarkan beristirahat begitu saja.


"Haah.. Hu Li bahkan tidak ada di sini.." helaan napas keempat dari Xiao Shuxiang.


Sebelumnya, ruangan ini ramai dan berisik, namun sekarang begitu sunyi sepi. Dia benar-benar sendirian.


?!


Xiao Shuxiang tersentak saat mendengar suara pintu digeser. Dia perlahan bangun walau sedikit meringis.

__ADS_1


?!


"Wah.. Kunjungan yang tidak biasa, ada apa ini..?" bibir Xiao Shuxiang tertarik membentuk senyuman, sebuah senyuman yang terkesan nakal.


Dia bersikap begitu karena yang baru saja menggeser pintu dan masuk ke dalam kamarnya adalah seorang gadis berambut putih, bercadar tipis, dan tak lain ialah Ling Qing Zhu.


"Aku jadi berdebar-debar mendapat kunjungan malam oleh seorang gadis. Kau datang dengan siapa, Kucing Putih? Sepertinya kau hanya sendirian.." Xiao Shuxiang tetap tersenyum, dia tidak melihat siapa pun di belakang Ling Qing Zhu. Jelas sekali bahwa Kucing Putihnya datang sendirian.


".. Ini sangat tidak terduga, tak kusangka kau mengambil inisiatif duluan.."


"Mn. Sepertinya kau sudah sembuh." suara Ling Qing Zhu terdengar tanpa emosi, terkesan begitu datar. Dia dengan wajah tenangnya berjalan ke arah lemari kayu yang ada di salah satu sudut ruangan.


Mendengar Wali Pelindungnya cerewet seperti biasa, membuat Ling Qing Zhu merasa bahwa pemuda ini sudah membaik.


"Kucing Putih.. Aku masih sakit. Kau tidak mau kemari dan memeriksa kondisiku..?"


Ling Qing Zhu membuka lemari berukiran kuno di depannya dan mengambil beberapa pakaian di dalamnya, "Aku sudah melihatnya. Kau nampak baik,"


Xiao Shuxiang menggelengkan kepala pelan, semangatnya seakan menghilang. "Rasa-rasanya kau ini sangat menyebalkan. Apa begini caramu memperlakukanku? Calon suamimu?"


Ling Qing Zhu menutup lemari kayu di depannya dan lalu berbalik dengan pandangan mata mengarah pada Xiao Shuxiang. Walau tertutup cadar tipis, wajah cantiknya masih nampak dengan jelas.


"Mn, kuserahkan kamarku padamu. Inilah caraku memperlakukanmu.. Calon Suami."


Xiao Shuxiang berkedip, Ling Qing Zhu membalas ucapannya seakan tanpa perasaan sama sekali. Kucing Putihnya ini memang benar-benar berbeda dengan gadis lain pada umumnya.


"Selama hidupku.. Dia adalah gadis paling mengesankan. Entah bagaimana, dia terlihat menyebalkan dan manis secara bersamaan.. Haah.. Sepertinya aku punya selera yang unik,"


Xiao Shuxiang memperhatikan Ling Qing Zhu yang berjalan ke arah pintu. Gadis itu mengucapkan 'selamat malam' tanpa berbalik ke arahnya. Andai saat ini dirinya bisa bebas bergerak, mungkin sudah sejak tadi dia melempar bantal ke arah Kucing Putihnya.


Xiao Shuxiang kembali berbaring. Dia baru memperhatikan isi dari ruangan ini dan memang benar--tempat ini bukanlah kamar yang biasa dihuninya.


Lukisan pohon wisteria merah, lemari, perabot, kasur lantai dan selimut yang dipakainya memiliki aroma selembut bunga. Semakin lama, aroma rumput malam yang menenangkan mulai terasa dan sebuah aroma khas yang membuat Xiao Shuxiang nyaris melompat keluar dari kasurnya.


Ujung telinganya memerah, Xiao Shuxiang berkedip beberapa kali karena baru sadar dengan kesalahannya barusan.


Tidak seharusnya dia bertindak kurang sopan dengan mencium selimut milik seorang gadis. Walau dia akui dirinya bukan orang baik, namun tingkahnya barusan sama dengan menodai kehormatannya sebagai bujangan.


Xiao Shuxiang memilih memejamkan matanya dan tidak ingin membayangkan bagaimana dirinya akan dirajam oleh Calon Kakak Iparnya dan juga Grand Elder Sekte Pagoda Langit bila mereka tahu hal ini.


Di sisi lain, tepatnya di luar kamar Xiao Shuxiang--Ling Qing Zhu masih berdiri di depan pintu yang tertutup sambil memeluk pakaiannya yang dia ambil tadi.


Wajah dan tatapan matanya masih begitu tenang, namun tangannya terlihat sedikit gemetar. Dia sebenarnya sangat gugup saat masuk ke dalam, walau pada dasarnya itu merupakan kamarnya sendiri.


Salahkan kamarnya yang cukup berdekatan dengan ruangan Pembersihan Kolam Darah, dan salahkan Grand Elder Sekte Pagoda Langit yang menyarankan kamar miliknya dipakai sebagai tempat istirahat Wali Pelindungnya.


Sekarang, dia harus bertukar kamar dengan Wali Pelindungnya dan merelakan kasur lantai kesayangannya ditempati oleh pemuda mempesona itu.


Ling Qing Zhu mengembuskan napas pelan. Dia memang lega sebab Xiao Shuxiang terlihat membaik, meski dirinya sedikit kecewa karena tidak hadir saat pemuda itu siuman.


Ling Qing Zhu mulai melangkah pergi. Walau sangat samar, namun nampak semburat kemerahan pada pipinya. Dia sebelumnya memang mengumpulkan banyak keberanian demi agar bisa masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Tidak ada yang mengetahui hal ini, namun dibalik wajah serta tatapan mata tenangnya--Ling Qing Zhu juga bisa malu seperti gadis lainnya.


Dia tidak mau memperlihatkannya pada siapa pun termasuk Xiao Shuxiang. Jika Wali Pelindungnya tahu, maka kemungkinan besar pemuda itu akan meledeknya dan mengatakan banyak hal yang tidak tahu malu.

__ADS_1


Xiao Shuxiang memang seperti itu.


***


__ADS_2