
Bocah Pengemis Gila memperhatikan bagaimana Jing Mi, Yi Wen, dan yang lainnya berjalan mengikuti Ling Lang Tian. Raut wajah teman-temannya memperlihatkan rasa keberatan yang amat dalam.
Mereka tidak mau mengikuti Ling Lang Tian karena pasti ini berhubungan dengan kehebohan yang mereka timbulkan semalam. Bisa dibilang, Jing Mi dan yang lainnya pergi untuk mendapatkan hukuman mereka.
"Kenapa Hu Li dan dua kucing itu juga pergi?" Bocah Pengemis Gila menatap Xiao Shuxiang, dia mengatakan bahwa Hu Li tidak terlibat dalam kerusuhan semalam dan tidak seharusnya pemuda itu ikut mendapat hukuman.
"Mereka tidak mungkin menghukum yang tidak terlibat. Kurasa Kakek memanggil Hu Li untuk meminta bantuannya tentang sesuatu. Kau sendiri, kenapa tidak mengikuti mereka?"
"Aku tidak suka berada di antara orang-orang berwajah gunung es itu. Apalagi jika harus mendengar ucapan serigala tua dan menantunya, mereka membuat telingaku sakit.."
Bocah Pengemis Gila mengusap-usap lengannya, dia merinding ngeri dan kemudian berjalan masuk ke kamar Xiao Shuxiang. Orang yang dia sebut 'serigala tua' tidak lain adalah Ling Shen Yue.
Xiao Shuxiang yang mengetahuinya nampak tersenyum. Ternyata ada orang seperti dirinya yang tidak menyukai Nenek Tua itu. Dia pun menyusul Bocah Pengemis Gila dan menutup pintu kamarnya kembali.
Bila ingin diperhatikan, sifat Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila sedikit mirip. Mereka berdua tidak suka berada di antara orang-orang yang kaku, disiplin akan aturan, apalagi selalu serius setiap saat.
Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila adalah pemuda bersemangat, melakukan kenakalan hanya untuk kesenangan mereka, bahkan jika itu membuat orang lain memiliki pandangan yang aneh.
Keduanya melanjutkan permainan dan seakan tidak mengkhawatirkan keadaan Jing Mi, Yi Wen, dan yang lainnya. Mereka baru berhenti saat matahari terbenam.
Malam kedua di Sekte Pagoda Langit, Xiao Shuxiang kembali harus memakai pakaian berat dan duduk di pelaminan bersama Kucing Putihnya. Kali ini, pakaiannya berwarna putih dengan sulaman burung Phoenix.
Hanya pengantin pria yang wajahnya kini tidak lagi tertutupi kain. Xiao Shuxiang bahkan bisa bicara dengan para tamu undangan.
Beberapa pendekar mengajaknya untuk bersulang, Xiao Shuxiang jelas menerimanya dengan senang hari. Dia juga menjawab pertanyaan dari salah satu pendekar yang penasaran dengan dirinya.
Bocah Pengemis Gila terlihat seperti biasa, dia duduk di salah satu dahan pohon dan mengawasi jalannya acara malam ini.
Dia tidak melihat Siu Yixin, hanya Nie Shang dan Mo Huai. Kedua pemuda itu duduk dan nampak berbincang dengan salah seorang pedagang terkenal di Kekaisaran Langit Tengah.
Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini acara yang ada terbilang lancar dan penuh khidmat. Apalagi setelah beberapa saat, para tamu undangan diajak masuk ke ruang jamuan kedua.
Ada saat di mana Bocah Pengemis Gila mendengus dan seperti menertawai Xiao Shuxiang. Itu adalah saat di mana seorang pendekar menggunakan bahasa khas Benua Tengah untuk bicara pada teman baik Lan'Er Gege-nya tersebut.
Xiao Shuxiang sendiri sejenak membeku, dia sama sekali tidak mengerti bahasa warga Benua Tengah. Yang selalu dia rasakan saat diajak bicara dengan bahasa asing adalah pasti dirinya tengah diledek.
Bocah Pengemis Gila saat ini berada di salah satu atap bangunan Sekte Pagoda Langit. Dia mengintip acara perjamuan tersebut dan selalu tertarik pada raut wajah Xiao Shuxiang yang mudah berubah tergantung suasana hatinya.
[".. Ini adalah sebuah keberuntungan dan kebanggaan untukku. Sudah lama aku ingin bertemu dengan sosok pahlawan dari Benua Timur, dan kini keinginanku telah dikabulkan langit.."]
["Tuan Muda Xiao, saya juga sangat beruntung. Selama ini, dalam setiap pelayaran yang saya lakukan, dan pelabuhan yang saya tempati singgah, pasti selalu mengelukan nama Anda.."]
["Tuan Muda Xiao.."]
Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas sambil menggelengkan kepalanya. Cukup banyak suara bergantian yang dia dengar dan jelas rasanya seperti mereka berusaha menarik perhatian Xiao Shuxiang.
"Beberapa tamu undangan yang hadir adalah mereka yang kulihat kemarin malam. Sebagian tua bangka itu menggunakan bahasa Benua Tengah untuk menguji kemampuannya, mereka mencari kekurangan pemuda itu dan sepertinya sudah menemukannya,"
Bocah Pengemis Gila terlalu fokus mengintip sampai tidak menyadari ada seseorang yang kini ikut mengintip bersamanya.
"Saudara Xiao-ku memang tidak pandai bahasa asing dan dia payah dalam belajar. Kalau tidak ada yang membantunya, dia pasti akan terlibat masalah,"
?!
Bocah Pengemis Gila berkedip, suara feminim barusan sangat dia kenali. Dia pun menoleh dan membeku seketika saat hidungnya membentur sesuatu yang lembut.
!!
Tubuh Bocah Pengemis Gila lebih cepat merespon daripada isi kepalanya. Dia berdiri dan bergerak mundur dengan terburu-buru bahkan sampai terjatuh dari atap. Sosok yang berada di sampingnya bahkan kaget karena tindakannya ini.
?!
Suara saat Bocah Pengemis Gila terjatuh didengar oleh orang yang ada di dalam ruangan, termasuk Xiao Shuxiang. Namun karena Ling Lang Tian berkata itu hanyalah seorang penjaga keamanan sekte, mereka pun tidak lagi mempedulikannya.
Di sisi lain, Bocah Pengemis Gila merintih dan mengusap-usap punggung serta bokongnya. Wajahnya terlihat buruk. Apalagi saat Bocah Pengemis Gila ingat dengan apa yang barusan terjadi, jantungnya pun berpacu kencang.
"Kau tidak apa-apa, kan?"
Kaki sosok itu menapak anggun, dia memakai seragam berwarna putih dengan corak sulaman kupu-kupu.
Potongan bajunya membuat bagian bahu sosok tersebut terlihat, dia memiliki bentuk tubuh yang bagus, apalagi rok mengembang itu membuat libido siapa pun semakin meningkat.
Bocah Pengemis Gila kebetulan belum bangun dari posisi terjatuhnya, dan sosok berpakaian putih itu malah berdiri sangat dekat dengannya hingga saat mendongak--dia nyaris melihat 'Keajaiban Alam Semesta'.
!!
Sosok berpakaian putih itu spontan menutup telinga kala mendengar jeritan Bocah Pengemis Gila yang sangat tidak terduga. Pemuda itu bergegas berlari tanpa peduli apa dia membawa tongkatnya atau tidak, bahkan sebelah sepatunya pun tertinggal.
"Hah, ekspresi wajahnya seperti aku ini hantu saja..? Apa pakaian warna putih tidak cocok untukku ya..?"
Di bawah cahaya bulan, Yi Wen terlihat mengagumkan. Dia bahkan mengatur bunga-bunga putih sedemikian rupa untuk dijadikan hiasan rambut dan telah berdandan sebaik mungkin agar terlihat bagai gadis polos baik hati.
__ADS_1
Namun sepertinya, dandanan ini masih belum cukup untuk memikat Bocah Pengemis Gila. Dan bahkan, pemuda itu lari terbirit-birit seperti baru saja melihat penampakan mengerikan.
"Ada yang salah dengan kepala orang itu.." Yi Wen mengusap pelan pipinya, dia pun berkedip dan mulai mengambil sepatu serta tongkat Bocah Pengemis Gila.
Di sisi lain, pemilik dari tongkat bambu yang dibawa Yi Wen tanpa sadar berlari ke arah hutan wisteria buatan. Napasnya terengah-engah dan dia baru berhenti berlari saat merasa tidak kuat lagi.
Tangan kanan Bocah Pengemis Gila menyentuh salah satu batang pohon dan sedikit menekannya. Sementara tangan lainnya mengusap bibirnya dengan kasar.
"Yi Wen sialan! Kenapa dia harus sedekat itu?!" Bocah Pengemis Gila meludah, dia merinding saat mengingat kejadian barusan. Selain hidung dan bibirnya, matanya juga terkontaminasi oleh sesuatu yang harusnya tidak dia lihat.
"Gadis itu sangat memalukan, kenapa dia harus memakai pakaian yang aneh semacam itu?! Kalau tidak mau menutupi bagian tubuhmu, maka sekalian saja buka semuanya! Sialan,"
"Kau sedang mengomeli siapa?"
Bocah Pengemis Gila mendengar suara yang seakan berasal dari atas kepalanya. Seperti umumnya manusia, dia spontan menengadah dan langsung terjatuh saat melihat rok mengembang yang tidak sopan itu.
"Waaaa..!!"
Bocah Pengemis Gila berteriak saat Yi Wen melompat turun. Gadis cantik itu sebenarnya sering memakai pakaian dengan rok pendek, namun selalu memakai celana panjang nan ketat. Penampilan yang jelas berbeda dari saudara-saudara seperguruannya yang lain.
Hanya saja, untuk pertama kalinya kaki Yi
Wen tidak tertutupi kain. Bocah Pengemis Gila bahkan sekarang bisa melihat paha giok tanpa cacat itu.
"Menjauh..! Menjauhlah dariku..!!"
!?
Yi Wen berkedip, tidak menduga Bocah Pengemis Gila akan bereaksi sangat berlebihan saat melihatnya.
"Ehm.. Aku hanya ingin mengembalikan.. Tongkat dan sebelah sepatumu," Yi Wen tersenyum pahit. Jika sampai pemuda ini trauma karenanya, maka kesempatannya untuk lebih dekat tidak akan ada lagi.
"Ka-Kau.. Lempar ke sana..! Cepat lempar ke sana..!"
"Oh, baiklah." Yi Wen melempar sepatu dan tongkat bambu milik Bocah Pengemis Gila sesuai tempat yang ditunjuk pemuda tersebut. Dia tidak mencoba mendekat dan lebih memilih memperhatikan bagaimana pemuda tampan itu sangat takut dengannya.
Yi Wen jadi merasa tidak enak. Jika pemuda lain yang melihatnya, mereka tidak akan bisa mengalihkan pandangan dan pasti sudah 'menegang' sekarang.
Tapi Bocah Pengemis Gila ini..
Jangankan merona atau mimisan, dia malah terlihat seperti baru saja diserang anjing liar. Yi Wen bahkan mematung saat tahu pemuda di hadapannya malah sedikit terisak.
"Anu.."
!!
Yi Wen berdiri tanpa bergerak, dia melihat bagaimana Bocah Pengemis Gila meraba-raba sepatu dan tongkatnya sambil memberinya tatapan penuh ketakutan.
"Kenapa reaksimu harus berlebihan begini..? Kau terlihat seperti korban pelecehan saja, aku kan tidak berbuat apa-apa.."
"Berhenti bicara dan jangan coba-coba untuk dekat padaku..! Kau gadis mengerikan, menjauhlah..!"
Bocah Pengemis Gila mendapatkan kembali tongkatnya. Dia pun berdiri dan menodongkan senjata tersebut seolah mengisyaratkan agar gadis di depannya tidak boleh melangkah melampaui batas.
Yi Wen mendengus sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Apa dekat dengan seorang gadis benar-benar membuatmu takut, Bocah Pengemis Gila? Kau sungguh pemuda yang menyimpang."
"Kalau iya, lantas kenapa?! Kalau kau jijik denganku, maka pergilah! Menjauh! Aku tidak mau didekati olehmu ataupun gadis manapun. Kalian adalah makhluk yang mengerikan!"
Bocah Pengemis Gila terengah-engah. Ada rasa takut dan benci pada tatapan matanya. Yi Wen yang melihat itu terkejut, apalagi saat tahu bahwa pemuda di depannya berusaha menahan diri untuk tidak menangis kencang.
"Aku.. Aku minta maaf jika menakutimu.." suara Yi Wen parau, detik berikutnya dia menangis mendahului Bocah Pengemis Gila.
!!
"Ke-Kenapa Kau Menangis?!"
"Kau terlihat sangat membenciku..! Padahal aku hanya ingin dekat dan berteman denganmu, apa aku sebegitu buruknya?!" Yi Wen mengusap-usap matanya.
Ini pertama kalinya dia menangis begitu kencang. Sekarang giliran Bocah Pengemis Gila yang mematung, terkejut, dan merasa tidak enak.
"Kau itu pemuda tampan. Seorang laki-laki. Aku hanya ingin membantumu menjadi pemuda yang normal, tapi kau malah memberiku tatapan seolah aku ini anjing liar. Kau begitu keterlaluan..!"
Mata Yi Wen sembab, ini pertama kalinya dia menangis di depan laki-laki, atau mungkin.. Ini merupakan yang pertama dalam hidupnya.
Bocah Pengemis Gila, "Aku tidak butuh bantuan. Aku menyukai diriku yang sekarang. Kau tak seharusnya melakukan ini. Jangan menangis, aku yang tertindas di sini tahu..!"
"Kau duluan yang menangis. Jadi bagaimana mungkin aku tidak menangis? Aah.. Sialan! Air mataku tidak bisa berhenti keluar,"
"Aku tidak menangis," Bocah Pengemis Gila terisak, ".. Mataku hanya sedikit berair.."
Entah apa yang terjadi, tapi Yi Wen dan Bocah Pengemis Gila sama-sama menangis untuk waktu yang lama.
__ADS_1
"Kau jelek saat menangis," Bocah Pengemis Gila baru memperhatikan wajah gadis di hadapannya, dia sedikit tersenyum saat melihat hidung Yi Wen yang berair.
Yi Wen terisak, "Bodoh. Apa kau pikir ada gadis yang terlihat cantik saat menangis? Kau sendiri juga.. Menyebalkan, kenapa kau malah terlihat tampan?"
Bocah Pengemis Gila tertawa, namun matanya masih mengeluarkan air. Beberapa bunga wisteria jatuh dan mengenai wajahnya.
Tingkahnya terlihat lucu saat ada bunga yang masuk ke mulutnya. Kali ini gantian dia yang membuat Yi Wen tertawa.
"Kau bodoh. Ayo berhenti menangis, kita seperti anak-anak saja.." Yi Wen tersenyum dan mengusap air matanya. Dia mengatakan tidak suka menangis, itu membuat riasan wajahnya luntur.
"Aku menangis kan juga karena ulahmu, kau yang melakukannya.." Bocah Pengemis Gila bersungut.
Biasanya saat seorang gadis menangis di depan pria, pasti orang lain akan mengira gadis tersebut sebagai korban. Tetapi dalam keadaan ini, justru korban yang sesungguhnya adalah Bocah Pengemis Gila. Jadi tentulah bukan dia yang patut disalahkan.
"Iya, itu benar. Aku minta maaf, sekarang berhentilah menangis.."
"Kau duluan,"
"Bocah Pengemis Gila, aku baru bisa berhenti saat kau selesai duluan,"
"Tapi aku tidak dapat melakukannya,"
"Kalau begitu lakukan bersama,"
"Baiklah.. Tapi hitung sampai tiga.."
Yi Wen mengangguk pelan. Dia dan Bocah Pengemis sepakat akan berhenti menangis dalam hitungan ketiga.
Tingkah mereka jelas kekanakan, walau dalam hal ini justru membuat hubungan keduanya menjadi sedikit lebih akrab.
*
*
Malam kedua pernikahan, Xiao Shuxiang tidur dengan teman-temannya. Jing Mi dan Hou Yong mengeluhkan hukuman yang mereka terima.
Mereka tidak dicambuk, ataupun disuruh menyalin sebuah kitab sambil handstand. Hanya saja, hukuman mereka jauh lebih berat.
Jing Mi, Hou Yong, Yi Wen, dan Hai Feng dihukum duduk sambil membaca Aturan Sekte Pagoda Langit yang berjumlah mengerikan tersebut.
Awalnya mereka mencoba untuk melakukan negoisasi. Jing Mi dan teman-temannya meminta hukuman cambuk atau yang berhubungan dengan pekerjaan yang memerlukan tenaga berat. Namun tetap saja Yang Shu tidak mengabulkan permintaan murid-muridnya.
Bagi Yang Shu, hukuman paling tepat untuk murid-murid nakalnya adalah menyuruh mereka duduk dan memberikan tugas yang paling tidak disukai. Dan memang rata-rata murid generasi kedua dari Sekte Kupu-Kupu itu, tidak ada yang betah duduk lama sambil membaca tulisan penuh kebaikan.
Jing Mi memegang perutnya kala mengingat hukuman yang dia jalani. Beberapa kali dia harus keluar kamar untuk muntah.
Keadaan yang sama juga berlaku pada Hou Yong. Wajahnya terlihat pucat dan kepalanya serasa berdenyut. Bahkan meskipun ada makanan enak tersaji di depannya, dia akan lebih memilih untuk tidak menyentuhnya.
Xiao Shuxiang yang mendengar dan menyaksikan sendiri tingkah teman-temannya juga ikut memucat. Jika itu dirinya, dia yakin tidak akan tahan bahkan selama dua menit.
Jujur saja, Xiao Shuxiang dan teman-temannya memiliki sifat yang tidak bisa diam. Mereka sebenarnya suka membaca, tetapi tidak banyak buku yang membuat mereka tertarik. Buku tentang 'Kedisiplinan' atau 'Seni Beretika' jelas masuk ke dalam daftar hitam mereka.
Karenanya, hukuman yang terlihat ringan dan sepele bagi orang-orang justru menjadi hukuman paling berat bagi mereka. Bahkan, memotong satu tangan saja masih jauh lebih baik.
Siu Yixin sendiri hanya diajak berbincang dengan Yang Shu dan Ling Lang Tian. Dia tidak mendapat hukuman. Padahal semua kekacauan yang ada beberapa waktu lalu merupakan sebab dari konser tunggalnya.
Pembicaraan ini sebenarnya rahasia, dan termasuk dalam pengumpulan informasi tentang Scarlet Bayangan yang sekarang lebih dikenal sebagai Scarlet Darah.
Sebagai mantan Pilar, Siu Yixin mengetahui banyak informasi tentang bagaimana pergerakan anggota Scarlet Bayangan, apa yang mereka incar, dan bagaimana jenis kekuatan mereka, termasuk siapa yang menjadi ketua.
Ling Lang Tian kebingungan saat Siu Yixin berkata bahwa tidak ada dari para pilar yang tahu bagaimana wajah asli ketua Scarlet Darah, namun yang pasti--sosok tersebut adalah ahli dalam memanipulasi.
Ling Lang Tian tidak bisa bergerak sekarang. Dia harus memikirkannya baik-baik dan mempersiapkan semuanya dengan matang. Salah satu informasi yang Siu Yixin sampaikan padanya adalah, bahwa Scarlet Bayangan hanya memiliki satu tujuan--Membuat sebuah benua kacau.
Apa yang dikatakan Siu Yixin ini ada benarnya, dan Ling Lang Tian sudah pernah melihat kekacauan tersebut di Benua Timur. Hal yang sama kemungkinan akan terjadi di Benua Tengah, tidak lama lagi.
Ling Qing Zhu, adik dari Ling Lang Tian sekaligus putri dari Grand Elder Sekte Pagoda Langit terlihat disibukkan dengan banyaknya perihal terkait pernikahannya. Dia bahkan tidak sempat untuk berlatih pedang atau bermain dengan 'Peri', makhluk berbulu dari Dunia Elf yang diberikan Xiao Shuxiang padanya.
Setelah tiga malam acara pernikahan diadakan di tempat tinggalnya. Kini Ling Qing Zhu bersama-sama Wali Pelindungnya dibawa ke Benua Utara. Mereka menggunakan sebuah Cermin Pemindah.
Di sisi lain, Gong Zitao hanya bisa menahan diri saat tubuh kedua mempelai itu mulai tertutupi oleh punggung anggota keluarga Ling yang juga ikut memasuki Cermin Pemindah.
Gong Zitao yang merupakan murid luar Sekte Pagoda Langit jelas tidak memiliki hak untuk ikut ke Benua Utara. Karena itulah dia sangat marah dan pergi mencari Qian Kun di Partai Pedang Tengkorak.
Bukannya segera bergerak, Qian Kun justru meminta Pedang Pembeku Jiwa pada Gong Zitao dan bermaksud meningkatkan kekuatan pedang tersebut.
Qian Kun sebenarnya sudah menunggu Xiao Shuxiang dan Ling Lang Tian meninggalkan Benua Tengah. Dia memang mewaspadai kedua pemuda itu.
Di sisi lain, dirinya juga cukup senang sebab Grand Elder Sekte Pagoda Langit dan beberapa anggota inti keluarga 'Ling', ikut juga ke Benua Utara.
Enam Pendekar Bayangan sendiri sudah tidak sabar untuk bergerak. Mereka sudah menandai tempat-tempat yang akan menjadi pusat kekacauan, dan targetnya adalah dua wilayah kekaisaran di Benua Tengah.
__ADS_1
***