XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
37 - Perjalanan Bersama (3) [Revisi]


__ADS_3

Xiao Shuxiang perlahan membuka matanya, dia sedikit menggeliat sambil merenggangkan kedua tangan dan kaki, serta otot-otot pada tubuhnya.


kraaak!


"Aaah...! E~naak... Aku seperti sudah tua saja..." Xiao Shuxiang merasa lega mendengar suara tulang pada pinggangnya ketika dia melakukan peregangan.


Dia pun kembali melanjutkan tidurnya, rasanya sangat nyaman tidur di dalam kereta yang bergerak. Xiao Shuxiang merasa seperti berada dalam ayunan.


Yang Shu dan Gu Ta Sian cukup tersentak saat mendengar suara aneh ketika Xiao Shuxiang merenggangkan otot pinggangnya.


Para pedagang yang sebelumnya terluka, kini mulai membaik. Mereka juga tersentak dengan suara dari tulang anak kecil yang berbaring di samping mereka ini.


"Itu bukan suara tulang yang patah, kan?"


"Apa anak ini masih hidup?"


"Suaranya keras sekali..."


Para pedagang menatap tak percaya ke arah Xiao Shuxiang. Namun anak itu sama sekali tidak menyadari tatapan para pedagang ini, dia hanya kembali melanjutkan mimpi yang sempat terhenti.


Yang Shu mencoba membangunkan Xiao Shuxiang, "Xiao'Er... Ayo bangun. Lihat, matahari hampir berada tepat di atas kita. Ayo bangunlah Nak, kau bahkan belum makan..."


Yang Shu menepuk-nepuk pelan lengan cucunya itu sambil terus membangunkannya.


Xiao Shuxiang baru ingat bahwa dirinya belum sarapan. Meskipun dia bisa saja menggunakan Qi sebagai pengganti makanan, namun melatih ketahanan gigi adalah hal yang penting baginya.


Xiao Shuxiang tidak ingin memberi siksaan pada lidahnya, setidaknya mengisi perut dengan makanan jauh lebih nikmat daripada menggunakan Qi.


Dia pun perlahan bangun sambil menutup mulutnya ketika menguap.


Gu Ta Sian mengeluarkan sebuah botol pot kecil berisi air dari cincin spasial-nya, dia kemudian memberikannya kepada Xiao Shuxiang dan meminta anak ini untuk membasuh wajahnya.


"Ambil ini dan basuh wajahmu, berhati-hatilah saat kau melangkah..."


Xiao Shuxiang mengangguk sambil menerima botol pot kecil tersebut. Dia merangkak sedikit menuju pinggiran kereta.


duk duk


Terdengar suara roda kereta saat menabrak bebatuan. Hampir saja Xiao Shuxiang terjatuh dengan posisi menungging ke depan kalau saja seorang pedagang tidak sigap menahan tubuhnya.


!!


Yang Shu, Gu Ta Sian dan para pedagang sangat terkejut. Syukurlah anak berusia tujuh tahun ini baik-baik saja.


Xiao Shuxiang seakan tidak menyadari bahwa dirinya hampir saja terjatuh, dia hanya memasang wajah ngantuknya sambil perlahan menuangkan air pada tangannya dan lalu membasuh wajah.

__ADS_1


"Xiao'Er...? Apa kau benar-benar sudah bangun?" Yang Shu merasa bahwa cucunya ini masih setengah sadar.


Tepat di belakang keretanya, Xiao Shuxiang dapat melihat kereta lainnya. "Eh? Ini di mana...?"


Pertanyaan Xiao Shuxiang tadi seakan menjadi jawaban dari pertanyaan Yang Shu. Gu Ta Sian menggeleng pelan, "Anak ini sepertinya baru sadar sekarang..."


"Xiao'Er, kita sedang ada di kereta. Kemarilah, ada yang ingin Kakek tanyakan," Yang Shu meminta Xiao Shuxiang untuk duduk didekatnya.


Setelah membasuh wajahnya----Xiao Shuxiang kembali menguap, namun dengan cepat dia menutup mulut. Dia pun lalu merangkak dan duduk didekat Yang Shu.


Gu Ta Sian memberikan sebuah apel kepada Xiao Shuxiang yang dengan senang hati diambil oleh anak itu. Xiao Shuxiang pun memakannya.


Para pedagang serta Gu Ta Sian yang melihat cara makan Xiao Shuxiang sedikit menahan tawa. Anak keci ini makan dengan mata tertutup dan begitu sangat pelan, seakan menghitung kunyahannya.


Yang Shu sendiri merasa keheranan dengan tingkah cucunya ini, "Xiao'Er... apa yang kau lakukan?"


"Aku... Aku sedang memanjakan gigi dan lidahku..." Xiao Shuxiang hanya terus menutup matanya sambil terus memakan apel di tangan kanannya.


Jawaban dari Xiao Shuxiang membuat Yang Shu menggeleng, ada-ada saja tingkah cucu kesayangannya ini.


Yang Shu kemudian membuka pembicaraan, "Xiao'Er... Cucu kesayangan Kakek. Bagaimana kau bisa begitu berani melawan Perampok Bersaudara itu?"


Xiao Shuxiang seketika berhenti menguyah apel di tangan kanannya dan mulai membuka mata. Detik berikutnya, dia kembali memakan apelnya dan menjawab pertanyaan dari Yang Shu.


"Tapi apakah kau sama sekali tidak takut melihat tindakan yang kedua perampok itu lakukan?"


Xiao Shuxiang tersentak setelah mendengar pertanyaan Yang Shu, sebuah kilas balik tentang pembunuhan yang dilakukan Gong Peng terlintas diingatannya.


"... belum sempat aku menebas leher pria berotot itu, seorang anak kecil tiba-tiba datang dan menarikku menjauh. Bahkan ada anak lain yang merebut peranku dalam melakukan tebasan..Cih!"


Xiao Shuxiang terlihat kesal saat mengingat Ying Liu menebas leher Gong Peng di depan matanya. Padahal dia sendiri sangat ingin melakukan hal itu.


"Aaah... kapan aku bisa menyentuh daging dan darah lagi. Tanganku sudah sangat gatal untuk melakukan pembantaian..." Xiao Shuxiang sedikit tertunduk dengan raut wajah sedih.


Yang Shu, Gu Ta Sian, dan yang lainnya melihat raut wajah Xiao Shuxiang berubah-ubah. Awalnya anak ini terlihat kesal, kemudian sekarang tertunduk sedih.


"Sepertinya dia tertekan mengingat kejadian mengerikan itu.. Sebaiknya aku bertanya yang lain saja,"


Gu Ta Sian dan Yang Shu seperti memiliki pemikiran yang sama, keduanya tidak ingin membahas tentang pembantaian yang dilakukan oleh Perampok Bersaudara, apalagi di depan Xiao Shuxiang.


Sementara itu, para pedagang yang bersama mereka seakan memiliki trauma dalam akibat penyerangan Perampok Bersaudara. Mereka sampai saat ini tidak bisa percaya jika kedua perampok yang terkenal dengan kesadisannya itu, kini sudah tewas.


Xiao Shuxiang kemudian bertanya mengenai keadaan ketiga teman seperguruannya kepada Yang Shu. "Bagaimana dengan Saudara Jing dan yang lainnya? Apa mereka masih pingsan sampai sekarang...?"


Yang Shu, "Mereka sudah sadar dan ikut sarapan bersama tadi. Kakakmu bahkan berulang kali membangunkanmu, tapi kau tidak bangun-bangun juga."

__ADS_1


Xiao Shuxiang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Apakah aku begitu sulit untuk dibangunkan...?"


Perjalanan Gu Ta Sian dan yang lainnya terus berlanjut. Kereta mereka kemudian melewati sebuah batu besar yang cukup tinggi, di atas batu itu ada batu lainnya namun berbentuk bunga teratai lengkap dengan daunnya yang juga terbuat dari batu.


Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu bisa melihat dengan jelas batu besar yang seakan menyambut mereka.


Jing Mi seperti biasa, dia melambaikan tangan ke arah batu besar tersebut. Matanya nampak memperlihatkan binar kekaguman, "Waaah... Itu batu besar cantik yang lain. Batu Besar...! Heii...! Kau melihatku...?! Kau sangat cantik...!"


Raut wajah Zong Ming terlihat aneh ketika menatap bagaimana Jing Mi melambai-lambaikan tangan sambil menyapa sebuah batu besar. "Ehm..."


Xiao Lu menyadarinya, dia pun menepuk pundak Zong Ming. "Tidak perlu kau pikirkan, dia biasa seperti itu."


Dan kedua kereta pun terus berjalan.


Jauh di depan mereka terlihat tiga kereta pedagang lain. Di belakang kereta itu, ada enam orang yang masing-masing menunggangi seekor kuda.


Enam orang ini adalah kultivator, mereka berasal dari dua sekte berbeda. Tiga orang di antara mereka memiliki pakaian berwarna ungu terang, sementara tiga lainnya memiliki pakaian berwarna hijau muda dengan motif akar menjalar.


Ketiga kereta di depan para kultivator ini mulai melewati sebuah gerbang besar yang terbuka dan seketika mereka disambut dengan pemandangan indah.


Rumah-rumah bertingkat yang terbuat dari kayu berjejer rapi, seakan menyambut orang-orang yang melewati gerbang tersebut.


Rumah-rumah ini berwarna merah, dihiasi dengan lampion berwarna putih dan hiasan seperti bendera-bendera kecil yang memiliki motif bunga teratai.


Lampion dan bendera-bendera ini seakan tertempel pada tali panjang membentang disetiap bangunan-bangunan yang ada. Terus terikat dan terhubung sepanjang jalanan.


Kereta yang membawa Gu Ta Sian, Yang Shu, murid-murid mereka, serta para pedagang juga ikut melewati gerbang yang terbuka.


Jing Mi, Qi Xuan dan Xiao Lu terlihat melebarkan mata dan mulut mereka saat melihat rumah-rumah yang besar dan tinggi-tinggi.


Ketiganya juga melihat lampion-lampion dan bendera berwarna merah yang seakan-akan menutupi langit. "Inikah yang dinamakan kota!?" Jing Mi berseru sambil tak henti-hentinya kagum.


"Bangunannya jauh lebih besar dari Desa Peristirahatan. Dan juga sangat ramaii...!" Xiao Lu melihat sekeliling.


Banyak orang yang berlalu-lalang. Pakaian yang berbeda-beda dari orang-orang itu semakin menambah keindahan pada tempat ini.


Qi Xuan, "Luar biasa..."


Xiao Lu, "Waah... Lihat itu! Cantiknya..."


Jing Mi, "Kota besar...! Ini benar-benar kota yang besar...! Hai semuanya...! Kakak Lu, lambaikan tanganmu sepertiku dan sapa mereka."


Zong Ming dan Ying Liu saling berpandangan saat melihat reaksi teman-teman baru mereka yang sedikit berlebihan.


***

__ADS_1


__ADS_2