
Hu Li dan Liu Xi Ling mengerutkan kening saat memperhatikan raut wajah Xiao Shuxiang yang seperti sedang lesu, padahal peta Benua Utara sudah ada di tangannya.
"Tuan Muda Xiao, Anda kenapa?"
Xiao Shuxiang menatap Liu Xi Ling sekilas sebelum menghembuskan napas kecewa. Dia lalu mengatakan bahwa semenjak dirinya keluar dari laut, Lan Guan Zhi tidak lagi mengiriminya pesan sesering yang biasanya.
".. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kondisi Lan Xiao sekarang. Lan Zhi selama ini hanya mengatakan dia baik-baik saja.."
Xiao Shuxiang belum pernah mendapat pesan yang berisi suara Lan Xiao, padahal dia cukup merindukan Harimau Bulan tersebut. Entah mengapa dirinya tiba-tiba memikirkan Lan Xiao, seakan ada sesuatu yang terjadi pada temannya.
Tidak ingin memikirkannya terlalu jauh, Xiao Shuxiang kembali memandangi peta Benua Utara di tangannya. Dia bisa melihat bahwa Benua Utara lebih kecil bila dibandingkan dengan Benua Timur.
Seperti yang diketahui wilayah di sini terbagi dua. Pertama adalah Kekaisaran Salju Putih dan Kekaisaran Es Abadi.
Lokasi Xiao Shuxiang dan Hu Li berada di Kekaisaran Salju Putih. Tempat ini memiliki empat musim, namun bukan hal yang aneh bila salju tetap bisa turun di musim panas.
Dalam peta tersebut, Xiao Shuxiang bisa melihat dengan jelas lokasi istana Kaisar Salju Putih, tempat di mana keluarga ayahnya tinggal.
"Nona Liu, terima kasih. Anda boleh menyimpan peta ini sekarang,"
?!
Liu Xi Ling tersentak saat Xiao Shuxiang mengembalikan peta yang telah dia berikan sebelumnya. Pemuda di depannya mengatakan dirinya tahu bahwa peta sedetail ini pastilah barang yang sangat penting. Liu Xi Ling memberikan padanya begitu saja kemungkinan karena melihat mereka adalah rekan bisnis.
"Tuan Muda Xiao, Anda tidak harus-"
"Tidak apa Nona Liu. Sekarang aku sudah tahu lokasi pertama yang ingin kudatangi, itu saja sudah cukup."
Bila Xiao Shuxiang berkata seperti itu, Liu Xi Ling tidak bisa lagi menolaknya. Lagipula memang benar apa yang dikatakan pemuda di depannya ini.
Peta yang begitu detail tentang Benua Utara sebenarnya adalah hal rahasia dan jelas tidak bisa diperlihatkan begitu saja.
Dia membiarkan Xiao Shuxiang memiliki peta itu karena baginya pemuda ini merupakan orang yang bisa dipercaya.
Tetapi siapa sangka peta tersebut dikembalikan kepadanya lagi. Xiao Shuxiang bahkan nampak tidak tertarik dengan hal apapun selain menanyakan kapan dirinya diajak menaiki kereta.
Dengan kejadian ini, pandangan dan kepercayaannya terhadap Xiao Shuxiang semakin baik. Dirinya lalu berkata akan mengajaknya menaiki kereta esok hari.
Liu Xi Ling kemudian berpamitan dengan membawa peta Benua Utara di tangannya. Xiao Shuxiang dengan ramah mengucapkan selamat malam dan semoga bermimpi indah.
Setelah melihat pintu kamarnya tertutup dan Liu Xi Ling sudah tidak ada, barulah Xiao Shuxiang mengeluarkan sebuah buku resep dan meminta Hu Li memberinya alat tulis.
Dirinya menggambar peta Benua Utara yang telah dia lihat sebelumnya. Dia melukisnya pada lembaran kertas resep yang kosong tanpa kehilangan suatu detail apapun.
Hu Li begitu kagum karena Tuannya bisa mengingat peta Benua Utara dalam waktu tidak sampai sepuluh menit dan mampu menggambarnya kembali tanpa cacat sedikit pun.
"Padahal tulisannya jelek, tapi kenapa gambarnya sangat bagus? Tuan Mudaku ini aneh,"
Xiao Shuxiang tidak mengetahui isi pikiran Hu Li tentang dirinya. Dia terlalu serius menggambar setiap detail peta Benua Utara yang diingatnya.
Tidak butuh waktu lama sampai Xiao Shuxiang selesai, dia kini memiliki petanya sendiri.
Salah satu kemampuannya memang dapat mengingat sesuatu dalam waktu singkat termasuk mampu mempraktekkannya dengan sempurna. Tetapi entah mengapa dia tidak bisa menggunakan kemampuannya untuk mengingat aturan dari Sekte Pedang Langit.
Xiao Shuxiang mulai mendiskusikan lokasi yang kemungkinan terdapat salah satu Gerbang Dunia pada Hu Li. Apa yang pernah disampaikan Kakek Buta penulis Kitab Pernapasan Langit dan Bumi padanya adalah terdapat dua Gerbang Dunia di Benua Utara. Kemungkinan salah satunya ada di Kekaisaran Salju Putih.
Xiao Shuxiang tidak menanyakan tentang kehadiran Gerbang Dunia pada Liu Xi Ling karena menurutnya gadis cantik tersebut baru sampai ke benua ini, akan mencurigakan bila dirinya lebih tahu dibandingkan dengan orang-orang asli Benua Utara.
Hu Li juga setuju dengan keputusan yang diambil Tuannya. Dia kemudian berkata akan mencari tahu informasi itu dan berjanji akan mendapatkannya sebelum fajar tiba.
Hu Li sebenarnya mencurigai satu tempat di Kekaisaran Salju Putih yang mungkin terdapat Gerbang Dunia di sana. Itu adalah daerah pegunungan yang penuhi Demonic Beast.
"Kalau begitu kita akan menandainya,"
Xiao Shuxiang segera memberi tanda pada titik yang ditunjuk Hu Li. Rekannya tersebut lalu pamit untuk pergi mencari informasi.
*
*
Sesuai janjinya, Hu Li benar-benar mendapatkan infomasi akurat tentang Gerbang Dunia. Rupanya banyak pendekar dan kultivator yang membicarakan ini, termasuk saat mereka sedang berjalan-jalan di malam hari.
Lokasi Gerbang Dunia itu tidak jauh dari apa yang ditandai Xiao Shuxiang sebelumnya. Hu Li lalu menjelaskan bahwa banyak kultivator yang kini melakukan perjalanan ke tempat tersebut.
".. Aku mendengar banyak kultivator yang sedang berusaha membukanya, mereka yakin bahwa itu adalah pintu memasuki makam kuno. Tetapi ada juga yang melakukan pelarangan, mereka merasakan ada aura jahat yang seakan ingin keluar dari gerbang itu,"
"Bersihkan dirimu, Hu Li. Kita akan segera berangkat,"
Tepat saat Xiao Shuxiang selesai berkata demikian, sebuah ketukan di pintu terdengar. Yang mengetuk ternyata adalah pelayan Liu Xi Ling, mereka mengantar pakaian sekaligus mengundang Xiao Shuxiang dan Hu Li ke bangunan utama untuk sarapan.
?!
Keheranan terlihat di wajah Xiao Shuxiang. Ini terlalu cepat bagi dirinya bila mendapat undangan sarapan bersama, tetapi Hu Li memberi penjelasan bahwa orang-orang di Benua Utara selalu bangun pada pukul tiga dini hari.
__ADS_1
Mendengarnya membuat Xiao Shuxiang menyentil keras dahi Hu Li, pantas saja temannya ini begitu semangat mencari informasi bahkan sampai berjanji padanya, ternyata aktivitas warga di Benua Utara dimulai sebelum sinar matahari terlihat.
Xiao Shuxiang mempersilahkan para pelayan Liu Xi Ling untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia bisa melihat ada sekitar tiga orang gadis muda yang berpakaian kimono dengan corak bunga sakura.
Xiao Shuxiang merasa pernah melihat model pakaian gadis-gadis muda ini, memperhatikan lebih seksama membuatnya mengingat Tianqi Mao.
Wali Kota Embun Bunga itu juga memiliki model pakaian yang sama, namun rok ketiga pelayan ini lebih panjang dan nampak sempit. Kondisi itu mengharuskan mereka berjalan pelan.
Ketiganya mempersiapkan segala perlengkapan mandi pada Xiao Shuxiang dan Hu Li. Bisa dibilang ada dua bak mandi di ruangan ini dan telah diisi air.
Xiao Shuxiang dibantu mandi oleh dua orang pelayan meski dirinya sudah menolak. Dia sebenarnya merasa geli karena cara menggosok punggung kedua gadis ini terlalu lembut, tidak seperti yang dilakukan Yi Wen.
?!
Lukisan Phoenix di punggung Xiao Shuxiang membuat tersentak kedua pelayan karena kemunculannya yang begitu tiba-tiba. Namun mereka sama sekali tidak berusaha bertanya.
Hu Li yang lebih dulu selesai mandi, dirinya sekarang memakai tiga lapis pakaian. Pertama adalah warna hitam, kedua berwarna putih, dan yang terakhir merupakan sebuah jubah putih bertudung dengan lengan yang panjang, bahkan melebihi tangannya sendiri.
Xiao Shuxiang juga dibantu berpakaian. Lapisan pertamanya berwarna hitam, kedua berwarna merah dengan corak burung merak pada bagian sisi sebelah kanannya.
Dia memakai jubah berwarna biru kehijauan dan sebuah celana panjang yang warga Benua Utara menyebutnya 'Hakama'.
Bila warna hakama yang dipakai Hu Li adalah hitam, maka 'Hakama' Xiao Shuxiang berwarna abu-abu. Pakaian ini dapat melindungi mereka dari dinginnya salju.
Setelah selesai bersiap, keduanya diajak ke bangunan utama. Xiao Shuxiang mengeluarkan Seruling Giok Putih yang dia selipkan pada sabuk pinggangnya.
Liu Min Jie dan Liu Xi Ling ternyata sudah menunggu kedatangannya. Mereka menikmati sarapan bersama sambil sesekali Xiao Shuxiang menanyakan tentang keberadaan murid-murid Sekte Lotus Es.
Liu Min Jie mengatakan bahwa saat ini sebagian besar murid-muridnya pergi ke pegunungan bersalju dan Xiao Shuxiang tahu untuk apa mereka ke sana.
Di Kekaisaran Salju Putih, keluarga Liu memegang Sekte Lotus Es dan Asosiasi Bangau Merak. Ini membuat mereka menjadi keluarga yang dipandang tinggi.
Tidak hanya sarapan, Liu Min Jie rupanya ingin mengajak Xiao Shuxiang ikut bersamanya ke perkumpulan pemegang saham asosiasi, sekaligus menggunakan cara itu untuk tujuan tersembunyinya.
Liu Min Jie ingin memperkenalkan Xiao Shuxiang sebagai teman dekat putrinya. Sangat disayangkan rencana tersebut tidak bisa dijalankan sebab Alkemis muda di depannya lebih dulu mengajukan diri untuk berpamitan.
Xiao Shuxiang sudah menyerahkan segala tanggung jawab atas sahamnya pada Hai Feng dan Zhi Shu. Bisnis semacam ini akan mengarahkannya pada politik dan dirinya jelas tidak suka.
"Hari ini Nona Liu sudah berjanji akan mengajakku menaiki kereta. Jadi aku minta maaf karena harus menolak,"
Liu Min Jie ternyata merasa senang, tidak disangka putrinya sudah mengambil inisiatif duluan. Dia tentu tidak akan memaksa Xiao Shuxiang, bahkan dirinya segera meminta putri kesayangannya bersiap-siap.
Liu Min Jie sepertinya tidak tahu bahwa putrinya telah ditolak oleh Xiao Shuxiang. Sekarang ini hubungan keduanya hanya sekedar teman, kalaupun ada yang lebih, maka itu karena Xiao Shuxiang menganggap Liu Xi Ling sebagai 'Bibi Angkatnya'.
Setelah berpamitan dengan ayahnya, Liu Xi Ling mengajak kedua tamunya untuk menaiki kereta yang mempunyai sebelas gerbong.
Kereta ini dapat membawa Xiao Shuxiang dan Hu Li berkeliling kelima kota yang ada di Kekaisaran Salju Putih. Selain mereka, nampak juga beberapa kultivator yang ikut menaiki kereta bersama mereka.
Ada satu momen yang hampir membuat Liu Xi Ling kelepasan ingin tertawa, itu adalah ketika Xiao Shuxiang menanyakan tentang kekuatan dari kuda yang menarik kereta ini.
Hu Li juga penasaran, dia sudah lama tidak pulang dan sekarang malah menyaksikan perubahan tidak terduga di tempat kelahirannya.
Liu Xi Ling meminta kedua pemuda ini untuk tenang, dia lalu menjelaskan sesuai yang dia ketahui mengenai kereta bernama 'Pemecah Es' yang sedang mereka tumpangi.
Beberapa penumpang yang duduk di kursi belakang tempat Xiao Shuxiang berada terlihat menggeleng saat menyaksikan betapa antusiasnya pemuda di depan mereka.
"Siapa pemuda itu?"
"Dari yang kulihat.. Dia adalah kultivator. Tapi praktiknya tidak bisa kubaca,"
Xiao Shuxiang bisa mendengar suara beberapa orang yang sedang membicarakannya, tetapi dia sama sekali tidak merasa terganggu.
"Aku juga bertingkah seperti itu saat pertama kali menaiki ular panjang ini,"
"Namanya kereta,"
Hu Li menoleh ke belakang, suara yang barusan dia dengar berasal dari dua orang kultivator berpakaian ungu muda bercorak kobaran api.
"Mereka sepertinya tidak jahat,"
Hu Li kembali duduk dengan baik. Dia juga dapat mendengar suara para gadis yang seperti sedang membicarakan dirinya. Tampilan Hu Li memang begitu menggemaskan, bukan hal aneh bila ada beberapa orang yang menjadikannya target penculikan.
Xiao Shuxiang dan Hu Li mengelilingi dua kota, sebelum keduanya memilih turun di Kota Gurun Bulan, tempat yang tidak jauh dari lokasi kemunculan Gerbang Dunia.
Liu Xi Ling menanyakan alasan mereka memilih Kota Gurun Bulan sebagai tempat pemberhentian, suaranya terdengar seperti menaruh curiga. Padahal bukan hanya Xiao Shuxiang dan Hu Li yang turun di sini, tetapi beberapa pendekar dan kultivator juga ikut turun.
"Nona, Kota Gurun Bunga dekat dengan wilayah tempat tinggal kaumku. Aku ingin membawa Tuan Mudaku ke sana,"
"Nona Liu, apa kau juga ingin ikut?"
"Aa~ kupikir kalian mau pergi ke tempat Gerbang Kuno. Ehm.. Apa Anda sudah mendengar kabarnya?"
Xiao Shuxiang tersenyum dan meng-iyakan, dia memang berencana pergi ke gerbang itu setelah urusannya di tempat tinggal Hu Li selesai.
__ADS_1
"Kalau begitu kita bertemu di Gerbang Kuno saja,"
"Baiklah,"
Xiao Shuxiang kemudian berpamitan, dia mulai melangkah pergi diikuti oleh Hu Li. Saat kepergian mereka, Liu Xi Ling membaur dengan para kultivator dan melangkah menuju ke tempat gerbang yang mereka anggap sebagai Gerbang Kuno.
Wilayah tempat tinggal Demonic Beast berwujud Rubah adalah sebuah bukit kecil bersalju yang dipenuhi pohon wisteria ungu. Hu Li datang kemari tidak lain untuk bertemu adiknya.
".. Kita diperbatasannya saja. Bila nekat masuk, mereka akan menangkapku dan ada kemungkinan aku tidak bisa keluar lagi,"
Xiao Shuxiang kurang mengerti masalah yang dihadapi Hu Li, tetapi dia tidak berniat menanyakannya apalagi sampai mencari tahu. Menurutnya, temannya ini pasti akan bicara bila memang ingin.
Ketika tiba di bawah bukit, tepat di salah satu pohon wisteria.. Hu Li mulai mengeluarkan suara siulan. Tidak butuh waktu lama sampai seekor rubah kecil berlari dan melompat ke dalam pelukannya.
"Pi'Er!"
Hu Li begitu senang karena bisa bertemu lagi dengan adiknya. Sudah lebih dari seratus tahun dan adik kecilnya masih tetap sama.
Pii..!
Hu Li memperkenalkan rubah kecil digendongannya pada Xiao Shuxiang, "Namanya O Zhan, tapi aku sering memanggilnya Pi'Er,"
Xiao Shuxiang menggendong rubah yang ukuran tubuhnya mirip anak kucing. Adik dari Hu Li ini memiliki bulu berwarna putih dan terdapat bulu tebal pada bagian lehernya.
Dirinya tidak menyangka karena O Zhan memakai jubah kecil. Ini semakin membuatnya terlihat menggemaskan.
Selama ini O Zhan selalu hidup sendiri. Meski memiliki kaum, tetapi dia lebih memilih tinggal di perbatasan wilayah Demonic Beast dan terus menunggu kedatangan Hu Li.
Tidak seperti Kakaknya, O Zhan belum bisa menjadi manusia. Meski demikian, dirinya dapat mengerti apa yang sedang dibicarakan Xiao Shuxiang dan Hu Li.
"Tuan Muda Xiao, aku ingin meminta izinmu untuk membawanya. Apa boleh?"
"Kau tidak perlu memintanya. Pi'Er terlalu menggemaskan untuk ditolak,"
Pii~
Setelah menemukan O Zhan, keduanya melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka menaiki pedang terbang dan melayang perlahan menuju ke tempat Gerbang Dunia berada.
Karena jaraknya tidak terlalu jauh, Xiao Shuxiang dan Hu Li bisa sampai dalam waktu kurang dari tujuh menit. Keduanya samar-samar dapat mendengar suara pedang yang saling berbenturan.
?!
Tidak jauh di bawah Xiao Shuxiang dan Hu Li, ada beberapa kultivator serta pendekar yang bertarung dengan sengit. Mereka nampak terbagi menjadi dua kelompok, satunya adalah orang-orang yang menginginkan membuka Gerbang Kuno, dan yang lainnya memilih untuk menghentikan gerbang tersebut dibuka.
TRANG!
"Apa kau tidak bisa merasakannya? Ada benda jahat di dalam gerbang itu. Jangan pernah membukanya..!"
"Bilang saja kau ingin menyimpannya untuk dirimu sendiri, kan? Aku sama sekali tidak merasakan Aura apapun, kecuali rasa iri hatimu..!"
TRANG!
Ada dua orang kultivator yang dilihat Xiao Shuxiang dengan begitu serius. Keduanya telah bertukar puluhan jurus tetapi belum juga ada tanda-tanda akan berhenti. Padahal pakaian dan tubuh mereka telah dipenuhi oleh bekas sayatan pedang.
TRANG!
Xiao Shuxiang perlahan melayang turun, dia memasukkan kembali pedang pusaka tingkat tinggi miliknya ke dalam Gelang Semesta dan mulai mengeluarkan sebuah Gulungan yang berisi 5.000 Aturan Sekte Pedang Langit.
TRANG!
TRANG!
Suara pertarungan masih terdengar, Xiao Shuxiang dan Hu Li beberapa kali menghindari serangan nyasar dari para pendekar dan kultivator.
Salah satu Aturan Sekte Pedang Langit yang dibaca Xiao Shuxiang adalah tentang melerai perkelahian dari dua orang atau lebih yang sedang berselisih.
"Hu Li, apa menurutmu aku harus membunuh mereka semua supaya tidak ada pertarungan lagi?"
!!
"Tuan Muda Xiao, Anda jangan salah mengartikan tulisan itu. Perhatikan baik-baik,"
O Zhan yang berada di atas kepala Hu Li juga nampak mengangguk, dia seperti setuju dengan ucapan Kakaknya.
!!
Xiao Shuxiang dan Hu Li segera melompat saat sebuah serangan yang lumayan kuat mengarah pada mereka. Serangan nyasar tersebut menghantam tanah dan menghasilkan bunyi debaman. Beruntung mereka dapat menghindar dengan tepat waktu.
Xiao Shuxiang memasukkan Gulungan Kertasnya ke dalam Cincin Spasial, dirinya lalu menarik serulingnya dan mulai berkonsentrasi memainkannya.
Lagu 'Ketenangan' yang dia latih selama ini dapat menghilangkan kotoran di dalam hati manusia. Beberapa kultivator yang berasal dari Aliran Hitam langsung merasakan perutnya sakit, seakan ada sesuatu di dalam tubuhnya yang mendesak ingin keluar.
!!
__ADS_1
***