XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
274 - Sesuatu Yang Tidak Diduga III


__ADS_3

Kondisi Benua Timur saat ini sudah kembali seperti semula jika dilihat dari kegiatan para penduduknya.


Dua Gunung Berapi yang meledak karena perang dahulu menimbulkan anakan gunung berapi yang baru. Setelah banyaknya kerusakan, kini pepohonan kembali tumbuh dan mengawali sebuah ekosistem yang baru.


Sekte Kupu-Kupu telah mencatatkan namanya menjadi Aliran Netral terbesar ketiga dan menggeser keberadaan Sekte Phoenix Iblis. Ro Wei dan Shao Nu menjadi sibuk mengurusi setiap murid baru sekte mereka.


Bukan hanya keduanya, tetapi Yang Shu juga demikian. Bersama dengan Sang Adik, dirinya menjalin banyak kerja sama dengan sekte-sekte lain dan para bangsawan. Tentu saja, marga mereka tetap dirahasiakan.


Yang Hao sendiri sibuk menjadi Wali Kota Awan Dingin, begitu pula dengan Tianqi Mao. Sementara itu, Shuai Niao kembali membangkitkan bisnis hiburan, yakni membangun bordil terbesar di Kekaisaran Matahari Tengah.


Feng Ying terobsesi menjadi Koki Alkemis seperti Xiao Shuxiang. Dia berlatih memasak dan meracik herbal setiap hari, tentu di kediaman Patriarch Ketiga Sekte Pedang Langit.


Jika Xiao Shuxiang belajar secara otodidak, maka Feng Ying mendapat pengajaran langsung dari Patriarch Ketiga.


Antara Alkemis Zhou Yan dan Xiao Shuxiang tidak pernah ada hubungan Guru-Murid. Mereka belum pernah melakukan upacara ataupun bertukar cawan, jadi bisa dibilang.. Feng Ying merupakan orang pertama yang telah bertukar cawan dengan Zhou Yan.


Meski belum pernah bertukar cawan dengan Xiao Shuxiang, nyatanya Zhou Yan tidak keberatan bila banyak orang yang menganggap dirinyalah Guru dari Sang Bintang Pelindung tersebut.


Feng Ying sendiri tidak pernah menganggap dialah murid pertama dari Alkemis yang begitu disegani. Baginya, Saudara Xiao-nya tetaplah senior yang dia jadikan panutan.


Saat Xiao Shuxiang berada di Dunia Elf selama dua tahun lebih, kehidupan teman-temannya juga mengalami perubahan. Salah satunya adalah kehidupan Dai Chen, dirinya telah resmi menjadi Kaisar Matahari Tengah menggantikan ayah dari Li Qian Xie.


Li Jing Hua, Kaisar yang lama kini lebih menikmati kedamaian hidup masa tuanya, dia merasa bahagia karena mendapat menantu yang begitu cerdas dan menyayangi putri semata wayangnya.


Xiao Lu, meski seorang istri Kaisar--nyatanya dia lebih suka berada di Sekte Kupu-Kupu bersama ibunya.


Di sana, dirinya belajar Teknik Terlarang dari klan Xiao, sesuatu yang sebenarnya tidak boleh diwariskan pada generasi baru, tetapi Xiao WeiWei percaya putrinya tidak akan menyalah-gunakannya.


Bao Yu dan Hun Fung fokus mengajari saudara seperguruan mereka yang baru. Hai Feng dan Zhi Shu lebih tertarik menjalankan bisnis di Asosiasi Bangau Merak bersama Thian Zhai.


Untuk Dai Chan, adik perempuan dari Kaisar Matahari Tengah--dirinya memilih menjadi seniman dan bekerja di tempat Shuai Niao.


Perlu diketahui, tidak semua wanita di tempat bordil bekerja sebagai pemuas nafsu para laki-laki, Dai Chan adalah contohnya. Dengan bekerja di tempat bordil, dia bisa menjadi mata dan telinga Kakaknya dalam memperoleh informasi yang kemungkinan tidak akan bisa didapatkan di tempat lain.


Sian Ru, murid dari Sekte Pedang Langit yang sampai sekarang masih tidak suka pada Xiao Shuxiang--kini mengikuti jejak pemuda menyebalkan itu menjadi seorang Penempa.


Benar, Sian Ru merupakan murid langsung dari Duan De setelah Xiao Shuxiang. Dia adalah kultivator wanita pertama yang menjadi Penempa.


Sementara itu, Qi Xuan kini menjadi GrandElder Sekte Bunga Lotus, dia juga telah bertunangan dengan Huan Mei. Gadis yang pernah dioperasi mata kanannya oleh Xiao Shuxiang dan Zhou Yan ini sudah mendapat kembali penglihatannya yang baru.


Huan Mei kini mempunyai mata yang berbeda warna, sebelah kiri merupakan Mata Peri Bulan, yakni berwarna merah. Sementara mata barunya yang di sebelah kanan memiliki warna biru laut.


Mata kanannya yang baru tersebut mempunyai kemampuan melihat warna kematian. Jika ada seseorang yang dibangkitkan dari kematiannya dan membaur di antara manusia, maka Huan Mei akan bisa mengenalinya. Kemampuan matanya ini dia rahasiakan dari semua orang termasuk Qi Xuan.


Kehidupan para murid di Sekte Pedang Langit kembali berjalan seperti sebelumnya, termasuk juga dengan para Patriarch. Kali ini, Pelatihan Etika kembali dibuka dan waktunya pun lebih lama dari yang dulu.


Nie Shang, salah satu teman Xiao Shuxiang sekaligus penanggung jawab di Tanah Batu dan seorang pedagang handal--kini sedang melakukan perjalanan bersama dengan Mo Huai, Yi Wen, dan Siu Yixin ke Benua Tengah.


Kabar keempatnya akan pergi dari Benua Timur terdengar sampai di telinga Xiao Lu. Kakak dari Xiao Shuxiang itu akhirnya mengikuti teman-temannya untuk menjalani petualangan yang baru.


Saat ini, mereka sudah tiga bulan lebih berlayar di laut--bersamaan ketika Xiao Shuxiang dan Hu Li berada di kediaman Kaisar Salju Putih, Benua Utara.


Xiao Shuxiang dan Hu Li diantar sampai ke pintu gerbang belakang kediaman Kaisar. Beberapa penjaga diberi perintah agar pergi, ini karena Kaisar tidak ingin ada yang melihatnya bersama cucu dari putranya.


Xiao Shuxiang mengibaskan tangannya, para pelayan dan prajurit yang sebelumnya dia masukkan ke dalam Gelang Semesta kini telah keluar.


Ada satu orang mayat prajurit, lainnya dalam keadaan mata tertutup kain dan tubuh terikat. Prajurit yang lengannya pernah ditebas Xiao Shuxiang kini telah tumbuh kembali.


Sepertinya selama di dalam Gelang Semesta miliknya, Xiao Shuxiang menyuruh Api Biru kecilnya untuk merawat prajurit yang terluka.


Setelah berpamitan, Xiao Shuxiang dan Hu Li melanjutkan perjalanan mereka. Keduanya mencari tempat yang sepi terlebih dahulu untuk berganti pakaian sekaligus membersihkan riasan pada wajah mereka.


Xiao Shuxiang kembali mengenakan pakaian berwarna merah dengan hakama abu-abu miliknya. Sementara itu Hu Li memakai pakaian berwarna putih, sama seperti sebelumnya.


Xiao Shuxiang mengeluarkan O Zhan kembali. Tujuan ketiganya kini adalah Kekaisaran Es Abadi.


Xiao Shuxiang dan Hu Li menikmati perjalanan mereka, keduanya menaiki kereta kuda dan berhenti saat lewat di depan sebuah kedai makan.


Kedai tersebut lumayan ramai, sayang tidak ada ruangan khusus pada kedai ini sehingga Xiao Shuxiang dan Hu Li harus berdesakan dengan pelanggan yang lain.


Alasan Xiao Shuxiang dan Hu Li berhenti sejenak adalah karena selain untuk mencicipi makanan khas Benua Utara--mereka juga menunggu badai salju reda. Dan sepertinya kebanyakan pelanggan juga melakukan hal yang sama.


Xiao Shuxiang dapat melihat ada manusia biasa, pendekar, dan kultivator di dalam kedai ini. Dia tidak terlalu peduli dan lebih fokus pada makanan yang disajikan, tepat di atas mejanya.


Xiao Shuxiang sebenarnya cukup tersentak dengan pelayanan yang dirasanya aneh ini. Pelayan laki-laki yang nampak berusia 20 Tahun, berpakaian cokelat gelap memberi nampan berisi daging dan sayuran mentah.


Dia juga melihat ada tahu, kerang, udang, bahkan cumi-cumi, dan itu semua telah dibersihkan tetapi sama sekali belum dimasak.


Anehnya, di atas mejanya juga ada sebuah periuk yang terbuat dari keramik, nampak berwarna hitam dengan ukuran sedang. Periuk tersebut berisi kuah panas yang mendidih, Xiao Shuxiang terdiam beberapa saat dan menunggu otaknya bekerja.


"Hu Li, apa ini maksudnya aku harus memasak sendiri, di tempat ini?"


Xiao Shuxiang memberi tatapan tidak percaya pada Hu Li yang duduk di depannya. Dia datang untuk makan dan dirinya jelas akan membayar, tetapi mengapa dia harus memasak sendiri?! Kedai macam apa ini?!"

__ADS_1


"Tuan Muda Xiao, hanya Anda yang komplain di sini. Lihat para pelanggan yang lain, mereka sama sekali tidak keberatan, malah nampak menikmatinya,"


Hu Li tidak ingin bicara lebih jauh, dia kemudian memasukkan berbagai sayur dan daging ke dalam periuk di depannya sambil mengatakan bahwa Tuannya nikmati saja hidangan ini.


Butuh waktu sekitar tiga menit sampai daging di dalam periuk bisa dimakan. Xiao Shuxiang baru mengambil potongan daging cumi-cumi saat suara keributan terdengar.


BAAM!


Tiga buah meja terlempar cukup jauh, untungnya pelanggan yang berada di dekat meja tersebut berhasil menghindar meski beberapa harus terkena kuah panas pada kaki dan tangannya.


!!


Semua orang terkejut termasuk Xiao Shuxiang dan Hu Li, para pelanggan yang hanya manusia biasa mencoba untuk berlari keluar pintu, walau pada akhirnya mereka lebih memilih keluar lewat jendela.


Daging cumi-cumi yang sudah setengah jalan untuk sampai ke dalam mulut Xiao Shuxiang harus terhenti karena seseorang langsung terpental dan menghantam meja miliknya.


Hu Li refleks melompat mundur, tidak seperti Xiao Shuxiang yang duduk mematung dengan pakaian dan sebagian pipinya yang terkena kuah panas.


Potongan daging cumi-cumi masih terjepit di antara sumpit Xiao Shuxiang. Dia kemudian mulai akan memasukkannya ke dalam mulut saat orang yang menghantam mejanya seketika bangun dan menyodorkan pedang di depan lehernya.


"Tuan Muda Xiao!"


Hu Li tidak sempat menolong Xiao Shuxiang. Dia jelas kaget karena seketika Tuannya menjadi sandera, kejadian tersebut berlangsung begitu cepat, ini tentu membuatnya sangat khawatir.


Xiao Shuxiang dapat melihat betapa tajam dan berkilaunya bilah pedang di depannya ini, namun dia masih ingin memakan potongan cumi-cumi yang selamat dari hantaman mengejutkan tadi.


Cumi-cumi ini rasanya sangat enak, sayangnya Xiao Shuxiang hanya bisa memakan sepotong untuk sekarang. Pipinya yang terkena kuah panas awalnya memerah, namun sekarang telah kembali pulih.


Dua orang pria berjalan dengan pedang tajam di tangan kanan mereka. Salah seorang nampak berusia 27 Tahun, rambut pirangnya pendek dan dia memakai pakaian berwarna ungu.


Satunya lagi nampak berusia 20 Tahun, sebagian rambutnya pendek dan pada rambut bagian belakang lehernya lumayan panjang. Rambutnya berwarna putih keperakan dengan wajah yang lumayan tampan.


Xiao Shuxiang dapat mengetahui kedua pria yang dia perhatikan ini merupakan orang yang mengincar lelaki di dekatnya.


!!


Hu Li terkejut saat pemuda yang menyandera Xiao Shuxiang menyentuhkan bilah pedangnya tepat di kulit leher Tuan Mudanya. Matanya nampak terbelalak, terdapat darah segar yang mengalir pada bilah pedang tersebut.


Tidak hanya Hu Li yang terkejut, tetapi juga dua pemuda yang diperhatikan Xiao Shuxiang tadi. Keduanya berwajah marah, mereka bergegas mendekat namun dihentikan oleh pria yang menyandera Xiao Shuxiang.


誰も近づかない、さもないとこの男は死ぬ!


"Dare mo chikadzukanai,-sa mo naito kono otoko wa shinu!"


Xiao Shuxiang meringis, dia sebenarnya bisa saja melepaskan diri dengan mudah. Namun mendengar orang di belakangnya berucap dengan bahasa yang aneh--membuat dia mengurungkan niat untuk melakukan apapun.


しのぶ、 あきらめろ! あなた は 囲ま れて ぃ まった!


"Shinobu, akiramero! Anata wa kakoma rete i matta!"


["Shinobu, menyerahlah! Kamu sudah dikepung!"]


!!


Bukan dua pria di depan Xiao Shuxiang yang bicara, namun suara tersebut terdengar cukup dekat dan mendominasi.


Hu Li menoleh ke asal suara tadi, pandangan matanya lalu tertuju pada seorang pria berpakaian hitam dengan hakama berwarna ungu.


Pria tersebut nampak berusia 23 Tahun, memiliki wajah tampan dan mata berwarna kuning emas, rambutnya hitam panjang dan diikat. Hu Li mengerjap, pria tersebut sedikit mirip dengan Tuan Muda Xiao-nya.


Xiao Shuxiang masih tidak bergerak di tempat duduknya. Dia mendengarkan suara pria berpakaian ungu meski dirinya sama sekali tidak mengerti.


Xiao Shuxiang hanya membaca dari ekspresi wajah, sepertinya dia secara tidak terduga telah masuk ke dalam pertengkaran orang-orang asing ini.


Pria yang menyanderanya-- menarik lengan Xiao Shuxiag dan mengeluarkan kata aneh, karena gerakan pada lengannya--Xiao Shuxiang tahu dirinya sedang disuruh berdiri.


Dia mengikuti permainan para pria ini. Dirinya tetap menjadi sandera sampai orang yang menyodorkan pedang ke arahnya telah berada di bibir pintu. Dua orang pria yang dia perhatikan memperlihatkan wajah kesal sambil mencengkeram kuat pedangnya.


Ada satu pria yang menarik perhatian Xiao Shuxiang, itu adalah pria berambut hitam panjang dan bermata kuning emas. Pandangan matanya bertemu sekilas dengan pemuda tersebut sebelum dirinya ditarik sampai keluar.


Hu Li mengepalkan kedua tangannya, matanya terlihat berkilat, ada nafsu membunuh yang nampak jelas pada tatapannya tersebut. Dia tidak akan pernah mengampuni orang yang berani menyandera apalagi sampai melukai Tuan Muda Xiao-nya.


Hu Li berjalan keluar dengan hati-hati, dia masih memperhatikan situasi--sekaligus mengingat setiap detail wajah pelaku yang menjadikan Tuannya sebagai sandera.


Ada satu orang anak laki-laki yang berusia sekitar 6 Tahun, dia memiliki rambut pendek berwarna putih dengan sedikit keemasan. Anak tersebut mempunyai mata berwarna abu-abu dan juga memegang pedang yang sesuai dengan tubuh kecilnya.


Anak laki-laki itu juga hanya melihat Xiao Shuxiang. Tidak ada yang berniat menyerang, mereka hanya terus memperhatikan Xiao Shuxiang yang dipaksa berjalan mundur.


Merasa sudah waktunya, Xiao Shuxiang segera mengeluarkan sedikit Aura Pendekarnya yang membuat pria di dekatnya terkejut dan refleks melompat mundur.


Pria itu langsung melesat pergi meninggalkan Xiao Shuxiang yang menarik kembali Aura miliknya. Anak laki-laki yang dia lihat sebelumnya juga sudah tidak ada, sepertinya anak tersebut mengejar pria yang tadi.


Pria berpakaian bermata emas dan rekannya yang berambut putih keperakan juga melesat pergi. Mereka seperti sudah merencanakan ini, target melesat ke tempat yang sudah mereka perkirakan.

__ADS_1


Xiao Shuxiang mengusap pelan lehernya, dia melihat darah pada jari-jari tangan kirinya. Lukanya sudah menutup kembali bersamaan dengan Hu Li berjalan mendekat ke arahnya.


"... Hu Li, apa usia seseorang itu berpengaruh pada perubahan sikapnya? Dahulu aku tidak pernah melepaskan orang yang berani menggoresku sedikit saja. Jika bukan lidahnya kupotong, maka ususnya yang kukeluarkan dan kulilitkan pada lehernya. Tetapi sekarang.."


Xiao Shuxiang menatap ke arah pria yang menyanderanya pergi. Secara tidak sadar dia meletakkan tangannya tepat di area hati.


Dia khawatir ketidak-peduliannya ini bukanlah kebaikan dan tindakannya barusan malah membuatnya terlihat lemah.


Saat sedang memikirkan hal tersebut, pria berpakaian ungu yang sebelumnya kini menghampiri Xiao Shuxiang dan Hu Li.


ご不便おかけしてすみません。怪我をしていますか?


"Go fuben okake shite sumimasen. Kega o shite imasu ka?"


["Maaf untuk ketidak-nyamanan ini. Apa kamu terluka?"]


!!


Xiao Shuxiang mengerutkan kening, dia tahu pria tampan dengan mata cokelat gelap di depannya sedang bicara padanya, tetapi dia sama sekali tidak mengerti bahasa orang ini.


これは問題ではありません。あの男 ..


"Kore wa mondaide wa arimasen. Ano otoko.."


[Ini bukan masalah. Orang itu..]


!


Xiao Shuxiang tersentak saat Hu Li bicara dengan bahasa asing. Dia mengerjap dan kemudian bertanya apa yang sedang Hu Li bicarakan.


Pria yang berpakaian ungu di depan Xiao Shuxiang nampak mengerutkan kening, dia memperhatikan Xiao Shuxiang dari atas sampai bawah.


"Hm? Kau orang baru di tempat ini?"


?!


"Eh, Kau bisa bicara sepertiku?!"


Xiao Shuxiang tidak menyangka pria di depannya dapat berbicara dengan bahasa penduduk Benua Timur, bahkan begitu fasih.


"Tentu saja. Kami sudah terbiasa dengan bahasa penduduk Benua Timur, kau tidak belajar bahasa kami?"


"Tuan Mudaku ini anak rumahan. Dia lebih suka mengurung diri di Sekte, mengurung diri di tempat menempa, dan mengurung diri di tempat dia membuat racikan.."


Xiao Shuxiang menatap Hu Li dengan rasa tak percaya. Entah mengapa ucapan rekan yang berdiri di sampingnya ini terdengar sedang meledeknya.


"Sekte? Kalian kultivator? Pantas kalau begitu. Kupikir kau orang gua. Sudah lebih dari seratus tahun yang lalu hubungan dagang Empat Benua berlangsung dengan baik. Kami mempelajari bahasa Benua Timur, begitu pula sebaliknya. Banyak penduduk di sini yang menetap di tempat kalian, jadi seharusnya kau mengerti apa yang kuucapkan meski sedikit. Tapi mengingat kau adalah kultivator, aku jadi mengerti akar masalahmu.."


Xiao Shuxiang merasa pria di depannya terlalu banyak bicara. Dirinya jadi tahu sedikit mengenai pria ini, salah satunya adalah namanya.


Pria berwajah tegas namun nyatanya begitu cerewet ini bernama Washi, dia berasal dari keluarga Aozora dan dirinya merupakan Samurai, tetapi Xiao Shuxiang mengartikannya sebagai Pendekar.


Hu Li meminta izin pada Tuan Muda Xiao-nya, dia mengatakan ingin mengurus sesuatu terlebih dahulu. Tanpa menunggu persetujuan, dirinya langsung melesat dengan membawa O Zhan--meninggalkan Xiao Shuxiang bersama Washi.


Xiao Shuxiang diajak ke tempat yang lebih baik, Washi menceritakan bahwa pria yang menyandera dirinya merupakan buronan.


".. Dia bekerja dengan seorang Ratu kejam di Kekaisaran Es Abadi. Kami sedang dalam misi menuju ke sana. Harusnya aku tidak memberitahukannya padamu, tetapi yaa.. Ini sudah terlanjur.."


"Itu karena kau terlalu cerewet,"


Washi terpaku beberapa saat sebelum dia tertawa cukup keras bahkan sampai membuat Xiao Shuxiang mengerutkan kening. Padahal dia sama sekali tidak mengucapkan lelucon.


".. Kau adalah orang kedua yang mengataiku cerewet setelah Yuuichi," Washi kemudian memperhatikan Xiao Shuxiang setelah selesai tertawa.


".. Jika kuperhatikan lebih teliti--wajahmu cukup mirip dengan temanku. Hanya saja kau jauh lebih baik karena terlihat ramah, sementara temanku itu memiliki wajah dingin dan dia sangat minim ekspresi,"


Xiao Shuxiang sepertinya tahu orang yang dikatakan Washi. Dia memang sekilas bertatapan mata dengan rekan Washi itu.


Xiao Shuxiang cukup lama bersama pria yang cerewet ini dan pembicaraan mereka berakhir bersamaan dengan meredanya badai salju.


Orang bernama Shinobu merupakan pelayan kepercayaan seorang Ratu. Tugasnya adalah menculik anak-anak yang nantinya akan dijadikan budak sekaligus obat panjang umur dan awet muda oleh Sang Ratu.


Washi dan ketiga rekannya mempunyai misi menangkap Shinobu serta membebaskan anak-anak yang diculik. Meski berbeda misi, tetapi tujuan Xiao Shuxiang juga adalah Kekaisaran Es Abadi. Lagipula, dirinya memang butuh pemandu selain Hu Li.


".. Apa kau tidak keberatan jika aku dan Hu Li ikut dengan kalian?"


"Kau tidak perlu bertanya, Kawan. Kalian diterima dengan baik. Ayo cari teman-temanku,"


Washi merupakan pria yang suka menjalin hubungan persahabatan. Meski dia bukan kultivator, namun dirinya tidak layak diremehkan.


Buktinya, Washi dapat melesat cepat dan sesekali menapak pada sehelai daun dan kembali melesat. Dia diikuti oleh Xiao Shuxiang dari belakang.


***

__ADS_1


__ADS_2