
Pembahasan rencana pernikahan Xiao Shuxiang kembali berlanjut saat Yang Shu dan Yang Fu datang. Kedua tua bangka itu awalnya terkejut dan penuh rasa tak percaya, karenanya Xiao Shuxiang memberi penjelasan kembali hingga dimengerti oleh Kakek dan kedua orang tuanya ini.
Xiao Shuxiang awalnya menerangkan tentang bagaimana dirinya bisa menjadi Wali Pelindung Ling Qing Zhu, dan kemudian menjelaskan tentang tradisi kuno klan, 'Ling' yang kemungkinan pernah didengar Yang Shu atau Xiao WeiWei.
Penjelasan Xiao Shuxiang tidak sepenuhnya lengkap, dia menyembunyikan beberapa hal dan ini memang tak harus diberitahukan pada kakek maupun kedua orang tuanya.
Malam tersebut begitu panjang. Mereka memang membicarakan tentang keluarga 'Ling' yang ada di Benua Tengah tanpa tahu bahwa saat ini Scarlet Darah sudah mulai melakukan rencana awal mereka.
"Aku sangat ingin menyaksikan bulan purnama saat kita melakukan pembantaian, tapi bulan yang ada di langit malah.. Haaah.. Mengecewakan,"
Helaan napas seorang pemuda dapat didengar jelas oleh rekan yang ada di sampingnya. Dia saat ini berdiri pada sebuah dahan pohon wisteria merah yang ada di dalam wilayah Sekte Pagoda Langit.
"Kenapa kau harus mengeluhkan hal yang tidak penting. Bulan di langit malah jauh lebih indah karena mirip dengan senjata sabit kematianku ini."
"Hmph, cambuk milikku jauh lebih baik daripada sabitmu. Senjataku ini diperuntukkan menyiksa tubuh lawan hingga ke inti tulangnya.." seringai mengembang di wajah pemuda berusia 39 Tahun berseragam semerah darah tersebut.
"Kau pikir senjata sabitku tidak bisa melakukannya? Ini bahkan lebih baik daripada tali tuamu yang tidak terawat itu,"
Pemuda yang nampak berusia 22 Tahun dengan sebuah bekas luka parut besar di pelipis sebelah kirinya terlihat mengusap-usap pelan senjata tongkat sabit kematiannya.
Kedua pemuda ini adalah bagian dari Scarlet Darah dan itu bisa dilihat dari topeng rubah berwarna putih yang terdapat di pinggang kiri mereka.
"Cambukku meskipun tua, tetapi masih bisa memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian. Apa kau mau mencobanya?"
"Hooh? Jadi kau menantangku?"
Aura persaingan begitu terasa di antara kedua pemuda ini. Mereka memang bagian dari Scarlet Darah, tetapi sebelum menjadi anggota kelompok tersebut--keduanya adalah pendekar pengelana.
Pemuda yang wajahnya biasa saja namun memiliki tubuh tegap berotot dijuluki sebagai Pendekar Cambuk Darah, sementara pemuda di sampingnya mempunyai julukan Pangeran Sabit Kematian.
Bekas parut di wajah pemuda bersenjatakan tongkat sabit yang lebih tinggi dari tubuhnya itu tidak membuatnya nampak menggelikan dengan julukan 'Pengeran', dia memang memiliki wajah yang tampan.
Semenjak bergabung dengan Scarlet Darah, mereka berdua saling bersaing bahkan sekarang itu kembali dimulai.
Pendekar Cambuk Darah menantang Pangeran Sabit Kematian, siapa pun di antara mereka yang bisa membunuh lebih banyak orang maka itu adalah pemenangnya.
Kedua pemuda itu mendapat gelengan dari seorang perempuan yang nampak berusia 9 Tahun. Anak berwajah mungil dengan rambut sepanjang leher tersebut terlihat berdiri di dahan pohon wisteria yang lain.
"Kalian berdua! Kita tidak datang untuk membantai di tempat ini, apa kalian lupa?"
Anak bermata kucing yang kulitnya seputih susu tersebut nampak menegur Pendekar Cambuk Darah dan Pangeran Sabit Kematian. Dia juga bagian dari Scarlet Darah dan merupakan salah satu alasan mengapa penyusup bisa menerobos masuk ke wilayah Sekte Pagoda Langit.
Gadis mungil tersebut bernama Qingyu Mao, seekor Demonic Beast berwujud kucing yang satu kekerabatan dengan Tianqi Mao.
Bila Tianqi Mao, Wali Kota Embun Bunga merupakan jenis Kucing Cuaca. Maka Qingyu Mao adalah kucing yang memiliki kemampuan mendorong berbagai hawa nafsu makhluk hidup yang dia inginkan.
Qingyu Mao lebih dulu direkrut oleh Qian Kun dan diubah oleh pemuda tersebut menjadi manusia serta diistimewakan daripada para rekannya yang lain. Karena itulah sikapnya sedikit tidak hormat.
"Aaah.. Aku sangat sedih.. Tempat ini begitu indah.. Aku ingin menangis.. Apa kita harus mengganggu ketenangan dan kedamaian tempat ini..? Aku sangat tidak tega.. Sangat ingin menangis.."
Gadis yang berdiri di samping Qingyu Mao akhirnya bicara, dia sejak tadi memang sudah mengeluarkan gumaman-gumaman kecil namun suaranya baru terdengar jelas.
Gadis yang nampak berusia 25 Tahun dengan sebuah topeng rubah di bagian kiri kepalanya itu terlihat memegang dan mengusap-usap lembut sebuah boneka kain.
Dia memiliki wajah bersih dan mata cokelat muda yang sembab, jelas sekali bahwa gadis ini baru saja menangis.
Qingyu Mao berdecak sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia memperhatikan gadis di sampingnya dan lalu mengembuskan napas, rekannya ini memang memiliki pribadi yang aneh.
"Gang'Er, kau punya banyak cadangan air mata, bukan? Gunakanlah itu saat pekerjaan kita selesai, mengerti?" Pendekar Cambuk Darah sudah tidak sabar lagi, tangannya telah gatal untuk memporak-porandakan tempat ini.
"Aku sangat sedih.. Orang sepertimu tidak akan tahu kesedihan yang kualami.. Tempat ini sangat indah.. Terlalu indah hingga membuatku menangis.." Miao Gang menatap ke langit dan air matanya kembali menetes.
".. Bulannya begitu indah, kedamaian ini harusnya tidak dirusak. Kasihan.. Kasihan sekali.." Miao Gang memeluk erat boneka kain miliknya, raut wajahnya memperlihatkan kesedihan yang mendalam. Walau demikian, ketiga rekannya masih bersikap biasa-biasa saja.
*
*
Memang benar, suasana di Sekte Pagoda Langit indah dan menenangkan. Bulan sabit yang nampak di langit bahkan tidak mampu menyembunyikan keindahan tempat ini.
Mulai dari lebatnya wisteria merah sampai kilauan danau teratai yang digunakan kupu-kupu air untuk bermain bersama kawanannya.
Tidak hanya kupu-kupu air, tetapi para murid luar dan murid dalam Sekte Pagoda Langit memanfaatkan malam ini untuk berlatih. Mereka berada di arena yang terpisah, tetapi semangat para murid nampak jelas sekali dalam setiap gerakan yang mereka ambil.
Salah satu murid luar yang begitu serius berlatih adalah Gong Zitao. Dia saat ini sudah menumbangkan dua orang lawan tandingnya dan membuat mereka mengaku kalah.
"Senior.. Kau hebat.." salah satu murid Sekte Pagoda Langit tetap memuji Gong Zitao meski dirinya berusaha mengatur napas.
Gong Zitao tersenyum ramah dan menepuk pelan pundak murid laki-laki yang sebelumnya dia lawan. "Maaf bila bantinganku tadi terlalu keras, kau tidak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Tentu Senior, punggungku hanya sedikit sakit tapi akan segera sembuh. Senior tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."
Gong Zitao mengangguk dan meminta saudara seperguruannya ini untuk beristirahat, dia lalu melanjutkan kembali latihannya dengan melawan murid Sekte Pagoda Langit yang lain.
"Mohon bantuannya, Senior..!"
Seruan murid laki-laki yang nampak berusia 18 Tahun pada Gong Zitao mengawali pertarungan ronde berikutnya.
Dia memang masih muda, tetapi kelincahan tubuhnya dalam bergerak dan nyaris tanpa celah membuat siapa pun berdecak kagum padanya.
"Lembut dan tajam, mengekang tetapi lepas. Kau memiliki gerakan yang indah.." Gong Zitao tidak pernah ragu memberi pujian pada lawannya.
BAAM..!
Dua kepalan tangan saling beradu, suaranya cukup keras dan membuat para murid yang menonton terpukau. Andai kedua saudara mereka itu menggunakan senjata, tentulah pertarungan tersebut akan semakin memanas.
"Ini pertama kalinya aku melihat gerakan yang begitu indah, di mana kau mempelajarinya? Setiap kali aku menyerang, kau bisa menangkisnya dengan baik. Apa aku kehilangan satu pelajaran dari guru?"
Gong Zitao merasa penasaran, dia memutar tubuhnya dan kemudian memberi tendangan pada lawannya, namun dengan mudah serangannya dihindari.
"Tidak mungkin Senior tidak tahu gerakan ini. Tuan Muda Lan selalu memakainya saat beliau bertarung dengan penantang Wali Pelindung Nona Ling. Aku belajar dengan memperhatikannya bertarung,"
!!
Raut wajah Gong Zitao yang awalnya ramah berubah sedikit kala mendengar penuturan lawan tandingnya ini. Dia mengambil posisi bertahan dan kini tidak berusaha untuk menyerang.
"Senior, ada apa?"
"Hm? Bukan masalah, Tuan Muda Lan memang berbakat. Kau juga berbakat karena bisa belajar dari gerakan bertarung Tuan Muda Lan," Gong Zitao kembali tersenyum, namun kali ini senyumannya sedikit berbeda.
Sejak kekalahannya dari Xiao Shuxiang, Gong Zitao jadi membenci pemuda itu dan teman-teman pemuda tersebut. Dirinya menginginkan kematian Xiao Shuxiang agar Ling Qing Zhu dapat menjadi miliknya.
Kebenciannya seperti sudah sampai ke bagian inti terdalam tulangnya hingga Gong Zitao bahkan tanpa ragu menjadi pengkhianat di sektenya sendiri. Dialah yang menjadi alasan mengapa empat orang dari Scarlet Bayangan bisa sampai memasuki wilayah Sekte Pagoda Langit tanpa ketahuan.
Qingyu Mao adalah Demonic Beast yang juga bisa menggunakan Cermin Pemindah. Dengan hanya memberikan sebuah kertas segel pada Gong Zitao--Qingyu Mao dapat membuat dirinya dan siapa pun yang dia inginkan untuk pergi ke tempat di mana kertas segelnya berada.
Hanya saja, bila dahulu Xiao Shuxiang muncul di tempat yang sama dengan segel penandanya berada--maka Qingyu Mao dapat memperluas jarak titik kemunculan dirinya dengan segel tersebut.
BAAM..!
Tendangan Gong Zitao ditahan oleh lengan kanan lawannya, dia memutar tubuh dan menggunakan tendangan dari kakinya yang satu. Pertarungannya ini berlangsung cukup sengit.
Gong Zitao menapak dengan kedua tangan menyentuh tanah, dirinya masih menggunakan kaki untuk menyerang lawan dan kini dia menendang secara bertubi-tubi.
Ge Yu Han terus menonton pertarungan Tuan Mudanya sambil perlahan mundur ke belakang, dia mulai mencari-cari celah agar bisa menjauh dari kerumunan para murid luar.
Sama seperti Gong Zitao, dirinya juga memiliki kertas segel buatan Qingyu Mao. Kertas tersebut berada dalam pakaiannya dan saat ini mulai dikeluarkan oleh Ge Yu Han kala dirinya berada di tempat yang sunyi.
Dalam sekali gerakan pelan, Ge Yu Han merobek kertas itu hingga terbakar tiba-tiba. Dirinya terkejut, tetapi kemudian bisa kembali tenang.
Di tempat lain, Qingyu Mao menyadari kertas segel miliknya telah rusak satu. Ini artinya dia sudah menerima tanda dari Gong Zitao dan rekannya.
"Ayo, ini sudah saatnya..!"
!!
Pendekar Cambuk Darah dan Pangeran Sabit Kematian sudah menunggu cukup lama, mereka berdua tersenyum lebar dan detik berikutnya segera melesat di dua tempat yang berbeda.
"Aaah.. Akhirnya dimulai.. Tempat seindah ini akan dipenuhi kesedihan.. Aku.. Merasa ingin menangis,"
"Sejak tadi bukannya kau sudah menangis? Ayo pergi..!"
Qingyu Mao melesat dan diikuti Miao Gang, mereka memiliki tugas mencari target yang diinginkan oleh Qian Kun. Misi ini adalah misi penculikan, sekaligus memperlihatkan pada Sekte Pagoda Langit tentang sedikit kekuatan dari bayangan Partai Pedang Tengkorak.
Pendekar Cambuk Darah memilih menuju ke wilayah terdalam Sekte Pagoda Langit. Di udara, dia membentangkan cambuknya dan segera menghantamkannya pada sembarang bangunan.
!!
Suara bagai halilintar mengelegar mengejutkan semua orang. Bangunan yang besar tersebut langsung terbelah dua dan memperlihatkan kepulan asap layaknya tempat itu habis terbakar.
"Ha ha ha..! Ini menyenangkan..!" tawa Pendekar Cambuk Darah terdengar mengerikan, dia menarik kembali senjatanya yang ternyata benar--cambuk tersebut kini terlumuri oleh darah.
"Hmm? Ini milik siapa..? Satu orang? Dua orang? Atau.." Pendekar Cambuk Darah kembali tertawa saat tahu bahwa senjatanya baru saja membunuh lima orang pelayan secara sekaligus.
?!
Terdengar suara pilu dan seruan meminta pertolongan. Bangunan yang diserang oleh Pendekar Cambuk Darah runtuh di beberapa bagian dan menimpa murid serta pelayan yang sedang sial.
Suara menggelegar tadi dapat didengar oleh GrandElder Sekte Pagoda Langit, Para Patriarch, Ling Lang Tian, termasuk Ling Qing Zhu. Mereka semua bergegas untuk memeriksa asal dari suara keras itu.
Di sisi lain, Pangeran Sabit Kematian membuat kekacauan di wilayah murid-murid luar Sekte Pagoda Langit. Kehadirannya yang tidak terduga membuat para murid kesulitan menghindari serangan yang datang.
__ADS_1
Pangeran Sabit Kematian dalam sekali ayunan, dia dapat melukai lima orang murid dengan bilah bagian dalam sabitnya dan menebas tujuh murid memakai bilah luar sabitnya.
Senjata Pangeran Sabit Kematian lebih tajam di bilah luar, pusaka ini tentu tidak sama dengan sabit pada umumnya.
"Awas Kepala Kalian..!!" Pangeran Sabit Kematian berseru sambil mengayunkan kembali senjatanya. Ekspresi wajahnya begitu senang, dia nampak menikmati kepanikan para murid luar Sekte Pagoda Langit.
"Ha ha ha..!! Mari buat ini menjadi malam panjang yang indah..!"
Pangeran Sabit Kematian tidak main-main, dia masih melayang di udara tetapi dengan mudah dirinya mengayunkan senjatanya dan berhasil melukai sembilan orang murid serta merusak salah satu bangunan.
!!
Beberapa murid berusaha menangkis serangan yang datang, namun mereka malah tak sanggup hingga harus terpental cukup jauh dan baru berhenti saat menubruk pohon atau dinding bangunan.
Gong Zitao dan Ge Yu Han memanfaatkan keadaan yang terjadi untuk segera pergi ke tempat aman, tugas yang mereka emban dari Qian Kun adalah tugas yang paling mudah dan saat ini keduanya telah melaksanakan tugas tersebut dengan baik.
CRAAASH..!
Tawa Pangeran Sabit Kematian kembali terdengar, ".. Apa-apaan ini? Kenapa kalian semua lemah, huh? Jika tidak menyerang.. Kalian pasti akan mati. Ayolah, serang aku..! Jangan biarkan pembantaian ini menjadi mudah..!"
BAAAM..!
Para murid luar Sekte Pagoda Langit berusaha menghindar, mereka berkerumung terlalu banyak hingga beberapa orang kembali terluka. Salah satu di antara para murid mulai menyerukan untuk mengatur formasi.
"Bagaimana bisa sekte kita dimasuki penyusup? Apa segel pelindung rusak?"
"Tuan Muda Ling pasti akan langsung menyadarinya bila memang segel pelindung sekte rusak. Tidak perlu pedulikan itu, ayo serang dia..!"
Sebagai sekte Aliran Netral yang terbesar di Kota Bintang Biduk, tentu saja Sekte Pagoda Langit memiliki banyak murid. Kehadiran penyusup yang jumlahnya tidak seberapa--jelas sekali seperti datang mengantarkan nyawa.
"Bagus..! Bagus sekali..! Ha ha ha.. Seperti inilah harusnya..! Jadi aku bisa semakin bersemangat mencincang habis tubuh kalian..!!"
Pangeran Sabit Kematian adalah kultivator yang praktiknya berada di Grand Master tingkat Langit. Umurnya memang lebih muda dan tentu mustahil praktik setinggi itu dimiliki oleh seorang pemuda yang usianya bahkan belum mencapai 30 Tahun.
Ya, mustahil bila orang tersebut tidaklah berbakat dan Pangeran Sabit Kematian sama sekali bukanlah sosok yang berbakat. Peningkatan kekuatannya tidak salah lagi karena dia menggunakan Teknik Terlarang.
"Dia sangat kuat, bagaimana ini?!"
"Aku benar-benar tidak percaya sekte kita bisa kedatangan penyusup seberbahaya ini..!"
Para murid Sekte Pagoda Langit kurang lebih memiliki pemikiran yang sama. Mereka berusaha bertahan dan menyerang balik Pangeran Sabit Kematian.
Benturan senjata mereka terdengar saling sahut-sahutan. Beberapa kali rekan mereka terkena serangan, tetapi para murid tersebut tidak mau menyerah.
Pangeran Sabit Kematian semakin menggencarkan serangannya dan bahkan tidak peduli bahwa senjatanya merusak bangunan yang ada.
"Apa hanya ini kemampuan Sekte Pagoda Langit, huh?"
Ledekan dari Pangeran Sabit Kematian membuat para murid mencengkeram kuat pedang mereka masing-masing dan memberikan pemuda itu tatapan yang tajam.
"Kami tidak tahu siapa dirimu dan apa maumu di tempat ini. Kau bisa saja masuk dengan mudah ke sekte kami, tapi jangan harap kau bisa pergi sesukamu..!"
"Hmph, aku tidak yakin kalian mampu menghentikanku. Bahkan menggores sedikit pakaianku pun kalian tidak bisa. Jika memang kalian mampu, maka jangan banyak bicara dan ayo serang aku..!"
Pangeran Sabit Kematian menantang para murid luar Sekte Pagoda Langit untuk bisa menyerang dan memberinya beberapa luka goresan. Dia terlihat begitu percaya diri, bahkan sebuah titik putih di langit tidak disadarinya.
Titik tersebut bila dilihat dari jauh nampak seperti bintang yang berkedip, tetapi lama-kelamaan titik itu berkilat semakin jelas dan jaraknya pun kian mendekat.
Kilatan itu seperti garis cahaya yang langsung menyerang Pangeran Sabit Kematian hingga dirinya refleks mengambil jarak.
!!
Serangan tadi mampu merubuhkan sebuah pohon besar dan sekarang terlihat buktinya. Kilatan tadi berasal senjata yang dipakai seseorang yang mana para murid sekte akan langsung dapat mengenalinya.
Orang yang menyerang Pangeran Sabit Kematian tidak lain adalah Ling Qing Zhu. Gadis cantik bercadar tipis itu tidak akan mau melihat sektenya diporak-porandakan oleh musuh yang entah bagaimana bisa sampai masuk kemari.
"Pergilah"
Suara Ling Qing Zhu dingin disertai tatapan mata yang nyaris mirip seperti milik Lan Guan Zhi. Dia memainkan pedang seperti menari, terlalu memukau, tajam, dan seketika berubah menjadi cepat.
!!
Tarian Lima Langkah Garis Bintang dan diakhiri dengan mengusap permukaan pedang memakai dua jari merupakan serangan yang terus dilatih Ling Qing Zhu hingga tidak dapat dihindari lawan termasuk Pangeran Sabit Kematian.
Hanya sekali usapan pedang dan serangan datang ke arah lawan seperti lesatan panah api yang terus diikuti oleh panah api lainnya hingga lawan benar-benar terkena serangan tersebut.
!!
Pangeran Sabit Kematian terpental cukup jauh dan jelas merasakan sakit di tubuhnya. Dia baru dapat berhenti saat punggungnya menghantam dinding tembok gerbang wilayah para murid inti Sekte Pagoda Langit.
Ling Qing Zhu tidak membiarkan lawannya bersiap apalagi menarik napas, dia kembali menyerang dan seperti membalas setiap nyawa yang telah dihilangkan lawannya.
__ADS_1
Tidak ada waktu meratapi kematian murid yang tewas tanpa bisa melawan, Ling Qing Zhu dan saudara-saudara seperguruannya harus mengatasi penyusup ini.
***