
Ling Qing Zhu tidak dapat mendengar apa-apa, manik biru itu bahkan perlahan tertutup bersamaan dengan kilasan memori yang muncul dihadapannya.
Dia dahulu hanyalah anak kecil yang tidak memiliki teman akrab. Setiap hari yang dilakukannya adalah menjadi panutan bagi semua saudara seperguruannya.
Tidak boleh ada kesalahan, dia harus melakukan semuanya dengan sempurna. Ibu dan neneknya selalu mengatakan jika dia harus bisa sejajar dengan kakaknya yang jenius, Ling Lang Tian.
Ayahnya, Grand Elder Sekte Pagoda Langit mungkin tidak pernah memberinya penekanan apa pun. Namun, ayahnya selalu menempatkan diri di posisi seorang pemimpin, tidak benar-benar nampak sebagai 'Ayah'.
Jujur saja, sebenarnya hidupnya benar-benar sempurna, tertata dengan sangat baik dan tidak pernah keluar dari perkiraan. Satu-satunya anggota keluarganya yang nakal dan sering membuat masalah kemungkinan hanyalah Ling Ya Bing, namun anak itu tetap bisa diatur dengan baik.
Dia merasa hidupnya tidak akan pernah bisa berubah. Tetapi sebuah kejadian membuat hari-harinya yang tenang dan sempurna menghilang seketika.
Perubahan itu datang, memberinya hantaman kuat hingga tidak bisa dia lupakan. Untuk pertama kalinya, dia bahkan merasa amat sangat kehilangan.
Seseorang masuk ke dalam hidupnya dan mengubah setiap hari sempurnanya menjadi sulit untuk diterka. Ketenangan yang selama ini dia jaga, tiba-tiba saja dikacaukan oleh sebuah kerikil bernama Xiao Shuxiang.
Awalnya, dia memang tidak menyukai pemuda itu, dia membencinya. Sosok yang membuatnya takut hingga selalu bermimpi buruk. Sosok yang telah membunuh seseorang yang terpenting baginya dalam hidup ini. Sosok yang terlihat sebagai kematian baginya.
Tetapi saat banyak hari yang dia habiskan dan telah banyak sifat dari sosok itu yang dirinya saksikan. Dia merasa sosok tersebut tidak semenakutkan dengan pikirannya selama ini. Justru karena pertemuannya dengan orang itu, dia jadi bisa memiliki beberapa teman bicara.
Shuxiang... Dia adalah teman baikku.
Seperti mendengar suara lembut seorang pemuda. Ling Qing Zhu terbayang oleh ucapan Lan Guan Zhi saat pemuda itu pertama kali datang ke Benua Tengah.
Dia duduk bersama adik dari Patriarch Lan tersebut. Selalu dan setiap malam. Ling Qing Zhu menghabiskan lebih banyak waktu dengan Lan Guan Zhi dibanding dengan Jing Mi dan Xiao Lu.
Nona Ling harus bisa menjaganya dengan baik. Jangan tinggalkan dia,
Ucapan Lan Guan Zhi saat itu sangat tulus dan benar-benar seperti seseorang yang memberikan separuh jiwanya untuk dirawat dan dijaga dengan baik oleh Ling Qing Zhu.
Tuan Muda Lan, apa dia sangat penting bagimu?
Mn, dia berharga untukku.
Kalian... Apa lahir dan tumbuh besar bersama?
Mn, tidak. Dia lebih muda dariku. Kami juga tidak terlalu akur saat pertama kali bertemu. Tapi aku... Ingin selalu melindunginya.
Wajah Lan Guan Zhi saat itu tersentuh oleh cahaya lembut bulan. Dia memiliki tatapan mata yang jernih, menenangkan, termasuk mampu menarik hati siapa pun untuk tenggelam dalam keindahannya.
Genggaman tangannya masih terasa hangat saat dia menyentuh tangan Ling Qing Zhu dan mengucapkan kata yang kemungkinan hanya sekali terlontar di bibir seorang Lan Guan Zhi.
Dia sangat berharga dibanding apa pun di dunia ini. Kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan untuknya... Kuharap Nona Ling dapat memberikannya.
Tuan Muda Lan, anda seperti sedang menyerahkan cintamu padaku.
Anggap saja demikian.
!!
Tuan Muda Lan..?
Mn, aku bercanda. Dia sama seperti adik bagiku. Dia saudara dan teman yang istimewa. Nona Ling harus bisa menjaganya dengan baik.
Ingatan itu terbayang dan semakin kuat. Ling Qing Zhu ingat dia memiliki janji pada Lan Guan Zhi untuk selalu menjaga teman baik pemuda tersebut. Saat ini, dia merasa harus bangun dan menolong Xiao Shuxiang.
Wali Pelindungnya kemungkinan tidak bisa mengendalikan diri. Pemuda itu membutuhkan seseorang yang dapat menyadarkannya dari perbuatan brutal yang dia lakukan. Jika tidak ada yang menghentikannya, bukan hanya lokasi ini yang hancur, tetapi lebih buruk daripada itu.
BLAAAAAR..!!
Petir menyambar langit kembali. Xiao Shuxiang tidak peduli dengan apa pun selain mencabik-cabik setiap makhluk yang dilihatnya. Tidak hanya pohon, bahkan semut sekali pun tidak luput menerima kematian darinya.
Partai Pedang Tengkorak sebenarnya memiliki cukup banyak murid yang berusia sangat muda, sekitar 15 Tahun ke bawah. Namun yang nampak sekarang hanyalah mereka yang usianya jauh di atas itu, entah di mana para murid junior semuanya.
!!
Ukh!
Ini adalah korban terakhir Xiao Shuxiang. Seorang pria yang berusaha melepaskan cengkeraman kuat dari lehernya.
Kuku hitam Xiao Shuxiang terbenam indah di leher pemuda yang perutnya dia duduki ini. Dia bahkan tanpa ragu menusuk perut pria itu dan mengambil sebuah gumpalan daging. Organ tubuh yang merupakan hati manusia.
"......"
Setelah banyak membunuh, Xiao Shuxiang jadi ingin lagi. Mangsa terakhirnya belum juga mati dan itu membuatnya lebih senang. Dia lalu melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh kultivator Aliran Hitam manapun.
"Kau yang paling lama. Apa otakmu seenak wanita peniru itu?"
!!
Xiao Shuxiang menyinggung Rou Mei Qi. Wanita berpakaian serba merah yang memiliki bakat meniru setiap teknik berpedangnya. Ucapannya barusan terdengar dingin, berat, namun juga amat menakutkan.
!!
Pendekar dari Partai Pedang Tengkorak itu terbelalak ketika menyaksikan apa yang dilakukan pemuda di atas tubuhnya ini pada gumpalan daging di tangan yang telah banyak mencabik-cabik orang itu.
!!
Keadaan terlalu gelap dan penglihatannya sendiri juga tidak baik-baik saja. Namun dia yakin benar bahwa gumpalan daging itu dimakan! Tepat di hadapannya.
__ADS_1
Tubuh pendekar tersebut sudah sangat kesakitan dan kembali kesakitan saat kedua matanya tiba-tiba meledak. Yang terjadi selanjutnya sama dengan yang dialami oleh kedua rekan sebelum dirinya sendiri.
Organ tubuh pendekar itu dikeluarkan satu persatu. Setiap tulangnya dirontokkan dan lalu ditarik keluar. Tiga mangsa terakhir memang yang paling banyak menerima siksaan.
"......."
Saat tidak ada lagi yang tersisa, Xiao Shuxiang berniat pergi untuk membunuh lebih banyak orang. Dia masih belum puas melakukannya. Dia ingin yang lebih daripada ini.
Hanya saja baru ingin melesat, sebuah suara lirih memanggil namanya dan membuatnya berhenti bergerak seketika.
"Shu... Xiang..."
?!
"Mn, ternyata masih ada."
Sebuah asap yang nampak bagai bentangan tali itu melesat dan menangkap seseorang yang terbaring. Membawanya tepat di hadapan Xiao Shuxiang.
Tangan kiri yang sudah basah akibat darah itu mencengkeram leher yang seputih salju. Kilauan pada rambut putih yang terurai panjang dan nampak dilambai-lambaikan angin sama sekali tidak berefek apa pun pada pemuda berambut hitam tersebut.
"Bagaimana aku harus membunuhmu?"
Suara dingin yang mengerikan itu terdengar. Kilat pada matanya yang berwarna merah dan sedikit hijau itu semakin membuatnya nampak menakutkan. Barangkali Xiao Shuxiang tidak sadar dengan leher siapa yang dia cengkeram saat ini.
"Shu... Xiang..."
Suara yang begitu lirih, nyaris tidak terdengar. Xiao Shuxiang baru akan mematahkan leher gadis yang dicengkeramnya saat dia mendengar kembali suara lirih itu.
"Shu... Xiang..."
!!
Gadis tersebut memuntahkan darah. Beberapa tetes mengenai pipi kanan Xiao Shuxiang dan membuat pemuda itu tersentak. Sedetik berikutnya, kepulan asap mengerikan yang ada di tubuh Koki Alkemis itu perlahan-lahan memudar.
"Kucing Putih..."
Xiao Shuxiang menangkap dengan lembut tubuh gadis berambut putih itu yang ternyata adalah Ling Qing Zhu. Dia nyaris membunuh istrinya sendiri dan hal tersebut amat sangat mengerikan bila dibayangkan.
"Kucing Putih...? Kucing Putih, kau mendengarku?! Bicaralah...! Kau harus bicara padaku..!"
"Shuxiang..."
Ling Qing Zhu belum membuka matanya, tetapi dia dapat mendengar suara Wali Pelindungnya sekarang ini. Dia juga bisa merasakan kehangatan tubuh pemuda yang menggendongnya.
"Tetap bicara padaku. Kau jangan berhenti mengucapkan namaku. Buka matamu, Kucing Putih..! Buka matamu..!"
"Shuxiang... Sakit."
"Aku akan menyembuhkanmu. Kau jangan berhenti bicara, kau masih mendengarku, kan? Apa kau tahu siapa Ling Lang Tian?"
Xiao Shuxiang berusaha mengajak Kucing Putihnya bicara. Sementara kepalanya saat ini sedang memikirkan cara untuk mengobati luka pada gadis yang dirinya gendong.
"Jangan berhenti menyebut namaku, Kucing Putih..! Jika kau berhenti melakukannya aku akan... Akan kubunuh seluruh keluargamu!"
Xiao Shuxiang mengancam, dia menatap wajah gadis digendongannya yang benar-benar nampak pucat. "Apa kau masih mendengarku? Bukan Gong Zitao yang akan kubunuh, tetapi keluargamu. Ling Ya Bing yang akan kubunuh lebih dahulu."
"Shuxiang... Jangan."
"Aku tidak main-main. Gadis kecil itu akan kukuliti hidup-hidup di depan seluruh anggota keluarga 'Ling'. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada ibu dan ayahmu. Anggota keluargamu akan kubunuh satu persatu dan para saudara seperguruanmu juga. Sekte Pagoda Langit akan kumusnahkan dan tidak akan kubiarkan siapa pun mengubur jasad mereka. Aku bersumpah."
"Shuxiang..."
Mata Ling Qing Zhu perlahan terbuka walau dia tidak bisa melihat apa-apa. Dia memuntahkan darah sebelum tetesan air keluar dari matanya.
Dia mendengar semuanya. Ancaman Xiao Shuxiang terlalu nyata untuk disebut sebagai candaan. Pemuda itu mengatakannya dengan sangat serius dan jujur, ini pertama kalinya dia mendengar Wali Pelindungnya bahkan sampai bersumpah.
"Kau tahu aku tidak pernah berbohong, Kucing Putih. Aku benar-benar akan membunuh seluruh anggota keluargamu. Mereka akan membayar semuanya jika sampai kau tidak memiliki tekad untuk hidup. Aku pernah membunuh pamanmu, jadi aku tidak akan ragu membunuh ayah termasuk ibumu juga."
!!
Hanya pemuda itu yang bisa membuat seorang Ling Qing Zhu menangis. Gadis berambut putih tersebut bahkan mencengkeram kuat pakaian Xiao Shuxiang dan meminta agar pemuda ini tidak melakukan apa pun yang membahayakan keluarganya.
"Jangan lakukan..."
"Kalau begitu tetaplah bicara. Katakan padaku apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan pada keluargamu,"
"Kau... Jangan bunuh mereka..." Ling Qing Zhu mati-matian untuk bicara walau seluruh tubuhnya kesakitan.
Di sisi lain, Xiao Shuxiang mengeluarkan Cermin Pemindah dan segera membawa Kucing Putihnya pergi. Dia terus mendesak Ling Qing Zhu untuk tetap berbicara tanpa jeda sedikit pun, meski gadis ini sedang kesakitan.
*
*
Xiao Shuxiang membawa Ling Qing Zhu ke Dunia Demon. Satu-satunya tempat yang dia yakini dapat menyembuhkan istrinya hanyalah dunia tempat paman dan bibi angkatnya berada.
Dia tiba tepat di halaman belakang kediaman Lui Me Tian. Saat itu, kebetulan saja bibinya terlihat duduk dan bermain catur dengan paman angkatnya, Wu Yu.
"Ini sudah kelima kalinya, adik. Apa kita bisa menghentikannya? Waktu makan pisangku sudah lewat,"
__ADS_1
"Hei, kau hampir kalah. Jangan mencari alasan untuk lari dariku," Lui Me Tian mulai menggerakkan salah satu pionnya yang terbuat dari tulang manusia itu saat sebuah seruan membuatnya tersentak.
"Bibi..!!"
!?
Lui Me Tian dan Wu Yu spontan menoleh, keduanya terkejut saat tiba-tiba melihat keponakan angkat mereka yang tengah menggendong seseorang.
"Xiao'Er..?!"
"Xiang'Er..?!"
Lui Me Tian dan Wu Yu bergegas. Mereka meninggalkan permainan dan segera menghampir Xiao Shuxiang. Pemuda itu nampak khawatir sekali.
!!
"Xiao'Er..! Apa yang terjadi padanya?!" Lui Me Tian baru melihat dengan baik gadis digendongan Xiao Shuxiang yang dalam kondisi buruk. Dia lantas menyuruh pemuda itu untuk segera membawanya masuk.
"Bibi, aku tidak punya banyak waktu..! Aku butuh tanaman herbal. Aku membutuhkannya secepat mungkin..!" Xiao Shuxiang bicara cepat dan lalu mengguncang Kucing Putihnya dan berseru agar gadis itu tetap bicara.
Walau Lui Me Tian dan Wu Yu bingung dengan apa yang terjadi, namun keduanya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Xiao Shuxiang. Kondisi Ling Qing Zhu sedang sekarat dan butuh pertolongan segera.
Masalahnya, Lui Me Tian tidak memiliki tanaman herbal apa pun dan Wu Yu juga demikian. Mereka menyampaikan permasalahan tersebut dan membuat Xiao Shuxiang terkejut.
"Biar kucoba memeriksanya terlebih dahulu, mungkin saja aku bisa mengobatinya."
Xiao Shuxiang mengangguk mendengar ucapan Wu Yu. Bersama-sama dengan paman dan bibi angkatnya, dia membawa Ling Qing Zhu masuk ke kediaman Lui Me Tian dan membaringkan Kucing Putihnya di sebuah tempat tidur.
Wu Yu menarik belati yang ada di perut gadis itu dan lalu menutup lukanya dengan memakai Qi. Wajahnya perlahan berubah pucat dan seperti berat untuk bicara.
"Bagaimana, Paman?!"
"Xiang'Er, kau jangan marah. Tapi dia kehabisan banyak darah dan ada racun di dalam tubuhnya."
"Apa Paman bisa mengeluarkan racun itu?"
"Aku... Bisa saja malah membunuh istrimu jika sampai melakukannya,"
!!
Wu Yu hanya bisa menutup luka Ling Qing Zhu dengan Qi, tapi tidak yakin dapat mengeluarkan racun di tubuh gadis tersebut. Qi miliknya tidak bisa digunakan lebih dari ini pada manusia.
"Bibi, bagaimana denganmu?! Apa kau bisa menyembuhkannya?!"
"Xiao'Er, Qi milikku mengandung racun. Apalagi kondisi Qing Zhu'Er tengah kehabisan banyak darah, aku tidak bisa melakukannya." Lui Me Tian tidak mau mencoba, keponakan angkatnya dapat membuat kekacauan di tempat ini jika sampai karena dirinya----Ling Qing Zhu kehilangan nyawa.
"Lalu apa yang harus kulakukan?! Apa kalian tidak punya pil atau apa pun?!"
Lui Me Tian baru ingat, "Gunung herbal pamanmu! Hanya paman Xi Fan-mu yang memiliki banyak tanaman herbal. Tapi masuk ke dalamnya sangat.."
Wu Yu, "Tidak masalah. Biar aku dan Xiang'Er yang ke sana, kau tetap di sini."
"Tapi bagaimana dengan Kucing Putih?!"
"Kau jangan khawatir. Bibimu akan menjaganya, dia akan baik-baik saja." Wu Yu memegang pundak Xiao Shuxiang dan mengajaknya pergi.
"Paman, tapi aku mencemaskan Kucing Putihku."
"Keponakan, kecemasanmu wajar. Tapi jika kita tidak bergegas, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi."
!!
Xiao Shuxiang tersentak, dia tidak mau membayangkannya. Dia lalu menoleh ke arah Lui Me Tian dan meminta wanita berpakaian serba merah itu agar selalu mengajak Ling Qing Zhu bicara.
Dirinya pun bergegas pergi bersama Wu Yu ke Gunung Kaisar Putih, wilayah tempat kediaman Yan Xi Fan berada. Di dunia ini Xiao Shuxiang bisa bergerak tanpa hambatan, berbeda dari saat dia berada di Dunia Manusia, Benua Tengah.
Lui Me Tian sendiri mengusap-usap tangan Ling Qing Zhu dan meminta pelayannya untuk mengalirkan Qi pada tubuh gadis tersebut. Mereka harus menjaga racun itu tidak menyebar ke bagian organ vital.
"Qing Zhu'Er..? Qing Zhu'Er apa kau mendengar Bibi..? Kau bisa lihat aku?" Lui Me Tian melambaikan tangan di depan wajah Ling Qing Zhu, dia melihat mata gadis itu bergerak.
"Shuxiang..."
"Xiao'Er akan datang. Kau harus tetap terjaga, jangan tidur. Coba ceritakan pada Bibi apa yang terjadi padamu, kau bisa mengatakannya, kan?"
!!
Ling Qing Zhu memuntahkan darah, dia menyebut lirih nama Xiao Shuxiang dan menangis. Ancaman pemuda itu terbayang diingatannya dan membuatnya takut.
Dia sebenarnya sudah tidak sanggup bertahan lagi. Dia ingin tidur agar rasa sakitnya tidak lagi terasa. Namun jika dia melakukan itu, Wali Pelindungnya akan membantai seluruh keluarga dan saudara seperguruannya.
"Bibi... Sakit."
"Ya ampun..." Lui Me Tian benar-benar cemas, "... Tahanlah sebentar lagi. Xiao'Er akan datang. Dia akan secepatnya kemari. Kau harus tetap terjaga. Kau jangan tidur."
Bukan hanya keluarga Ling Qing Zhu yang akan dibantai jika sampai gadis berambut putih itu tidak selamat, tetapi nyawa Lui Me Tian dan para warganya pun akan dalam bahaya.
Wanita berpakaian serba merah sekaligus pemilik wilayah Gunung Kaisar Merah ini tahu benar bagaimana sifat keponakannya. Xiao Shuxiang akan membunuh mereka semua, pemuda itu bisa tidak mengenal siapa pun jika sedang mengamuk.
***
__ADS_1