XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
134 - Menyelamatkan Xiao Lu [Revisi]


__ADS_3

Xiao Shuxiang melesat lebih dalam, dia menyipitkan matanya kala melihat sesuatu.


Semakin dekat, pandangan matanya mulai jelas. Ada orang yang duduk di atas batu sambil memegang tengkorak berambut.


Tap


Xiao Shuxiang menapakkan kakinya, dia akhirnya tahu bahwa orang yang duduk di batu tersebut adalah gadis dengan rambut pendek, pakaiannya sedikit terbuka.


Gadis ini terlihat membelai rambut pada tengkorak di tangannya, dia begitu tenang dan tidak begitu waspada dengan kehadiran Xiao Shuxiang.


"Kupikir yang datang adalah seorang pria tampan, rupanya hanya anak kecil. Tapi... Wajahmu lumayan juga..." suara gadis tersebut begitu manis, sayangnya Xiao Shuxiang malah seperti ingin muntah mendengarnya.


Tanpa bicara, Xiao Shuxiang langsung melesat dan menyerangnya. Gadis tersebut tidak bergerak di tempatnya, hanya saja pedang Xiao Shuxiang ditangkis oleh seseorang yang ternyata adalah Xiao Lu.


!!


Sama seperti Zhi Shu, kakak perempuan Xiao Shuxiang di kehidupan keduanya ini juga telah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Hanya saja, wajahnya kini terlihat pucat dan tubuhnya penuh dengan luka.


Di kedua tangan dan kakinya melilit sehelai rambut berwarna hitam, terlihat kuat serta tajam.


Xiao Lu memperhatikan dengan jelas wajah anak laki-laki di depannya, dia seketika tersentak kala menyadari bahwa orang yang dilawannya ini adalah adiknya sendiri.


"Xiao'Er, pergi dari sini..!" Xiao Lu menyerang Xiao Shuxiang lagi, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya.


TRAAANG!


Benturan pedang Xiao Lu dan Xiao Shuxiang menghasilkan suara keras dan angin kejut. Helaian rambut yang melilit Xiao Lu rupanya dialiri oleh Qi.


"Hmm, Xiao'Er...? Ah! Jadi dia adikmu...?" Gadis yang masih duduk di atas batu mulai memperhatikan lebih jelas wajah Xiao Shuxiang dan Xiao Lu.


Dia lalu meletakkan tengkorak berambut di pangkuannya dan mengeluarkan sebuah kertas di balik pakaiannya. Kertas dengan lukisan wajah seorang pria.


"Mari kita lihat... Apakah kau orang yang kami cari..." gadis tersebut menggerakkan dua jari tangannya, membuat Xiao Lu menyerang Xiao Shuxiang dengan begitu cepat.


Tangan dan kaki Xiao Lu mengeluarkan darah, bisa dipastikan tubuhnya dipaksakan untuk bertarung dengan Xiao Shuxiang.


TRAANG!


Xiao Lu terus meminta agar adiknya pergi. Sejak penyerangan pada sektenya kala itu, tubuhnya dikendalikan untuk menyerang saudara seperguruannya sendiri.


Sudah banyak murid Sekte Bambu Perak yang mati di tangannya, Xiao Lu tidak ingin adiknya menjadi korban selanjutnya.


TRAANG!


Xiao Shuxiang berdecak kesal, dia menatap gadis yang berani mengendalikan Xiao Lu.


"Kau pengecut..! Menggunakan cara sampah untuk bertarung melawanku..!"


Xiao Shuxiang memfokuskan serangan pada helaian rambut yang melilit Xiao Lu. Sayangnya, bukan rambut itu yang terputus melainkan pedang Xiao Shuxianglah yang patah.


"Walaupun kini aku punya banyak uang dan juga seorang penempa, tapi mengganti pedang dua kali sehari adalah pemborosan...! Dan sangat melelahkan menempa satu buah pedang berkualitas..! Ini.. Haaah, sudahlah..! Merutuknya nanti saja."


Xiao Shuxiang melempar pedang di tangannya dan mengeluarkan pedang yang baru di dalam Cincin Spasialnya. Dia kembali melesat untuk menyerang gadis yang mengendalikan Xiao Lu.


Sayangnya, Xiao Lu menghalangi niatan Xiao Shuxiang. Tubuhnya terus bergerak tanpa bisa dikendalikan oleh keinginannya sendiri.


Xiao Shuxiang sambil menahan serangan Xiao Lu, dia juga melemparkan senjata rahasia berupa jarum beracun ke gadis yang mengendalikan kakaknya.


!!


BAAAM!!


Dengan cepat gadis tersebut melompat, jarum milik Xiao Shuxiang menghantam batu hingga meledakkannya.


"Hmph, berani sekali kau menyerang Bing Mei Si..!"

__ADS_1


Gadis tersebut menggerakkan jari-jari tangannya kembali, kali ini dia melapisi tubuh Xiao Lu dengan Qi miliknya.


"Ja-Jangan Lakukan Itu..! Pergi Dari Sini, Xiao'Er!" Xiao Lu ketakutan, dia tidak ingin melukai adiknya.


Seketika Xiao Lu menghilang dan langsung muncul di belakang Xiao Shuxiang dengan pedang terayun kuat.


BAAAM!


!!


Bing Mei Si tersenyum karena merasa dirinya telah membunuh anak laki-laki tersebut melalui tangan Xiao Lu, namun yang terjadi justru sebaliknya.


Xiao Lu muntah darah, sebuah pedang menusuk tepat di tengah dadanya. Yang melakukannya tidak lain adalah Xiao Shuxiang.


Bing Mei Si tersentak, dia tidak percaya Xiao Shuxiang bisa tersenyum saat menusuk kakaknya sendiri.


Xiao Shuxiang menarik pedangnya dan mulai memutuskan bentangan rambut yang melilit Xiao Lu.


"Namamu Bing Mei Si, bukan..? Aku tidak tahu apa yang kalian... Para anggota Scarlet Bayangan inginkan dengan menculik Si Gadis Cerewet. Tapi..." Xiao Shuxiang menusuk punggung Xiao Lu yang telah terbaring di tanah sambil menatap dingin Bing Mei Si.


"... Apa kau pikir, kedatanganku kemari untuk benar-benar menolong gadis ini..?" Xiao Shuxiang menarik pedangnya dan mulai menatap tajam Bing Mei Si.


Xiao Lu terkejut dengan tindakan Xiao Shuxiang, dia tidak menyangka adiknya akan menusuknya. Pandangan matanya menggelap, dia hampir berada di detik-detik terakhir hidupnya.


Xiao Shuxiang segera melesat dan menyerang Bing Mei Si, dia tidak membiarkan gadis tersebut mengendalikan benda apa pun termasuk Xiao Lu dengan rambutnya.


Sambil bertarung, Xiao Shuxiang mendesak Bing Mei Si untuk memberitahukan letak markas Scarlet Bayangan sekaligus keberadaan pegangan Pedang Bintang Malam. Sayangnya, Bing Mei Si tidak mau mengatakan apapun.


"Cepat bicaralah! Di mana markas kalian!"


"Hmph, cari tahu saja sendiri."


"Kalau begitu, aku tidak membutuhkanmu..!" Xiao Shuxiang mengeluarkan tiga api biru kecilnya yang langsung melesat dan menyerang Bing Mei Si.


!!


Tidak ada jeda dalam serangan yang dialamatkan padanya, Bing Mei Si seakan tidak diberi kesempatan bahkan untuk menarik napas.


"Bocah yang gila..!!"


Bing Mei Si mengeluarkan Aura Pembunuhnya, tindakan yang menurut Xiao Shuxiang sangat bodoh. Harusnya sejak tadi Bing Mei Si mengeluarkan Aura Pembunuhnya!


Merasa dirinya lebih kuat dan hebat hingga berani meremehkan lawan, apalagi meremehkan seorang Xiao Shuxiang! Keangkuhan manusia seperti inilah.. Yang harusnya dimusnahkan.


CRAAASH!!


Xiao Shuxiang berhasil menebas tangan kanan Bing Mei Si sebelum gadis tersebut mengeluarkan Aura Pembunuhnya. Gerakan Xiao Shuxiang terlalu cepat dan ada keanehan pada bekas tebasan anak laki-laki berusia 14 tahun itu.


Bing Mei Si tidak bisa menyambung kembali tangannya yang telah terpotong dengan rambut. Bahkan darah mengucur lebih deras dari yang seharusnya. Sebenarnya.. Apa yang telah dilakukan bocah ini padanya?!


!!


Bing Mei Si mulai terlihat pucat, dia berusaha menghentikan darah pada tangannya dengan Qi, tetapi tidak bisa.


"Apa... Kau takut...?" Xiao Shuxiang menyeringai.


Sebenarnya darah Zong Ming dan Grand Elder Sekte Bambu Perak mengingatkan Xiao Shuxiang pada salah satu tumbuhan yang dibahas dalam buku resep Zhou Yan.


Dia membaca buku Patriarch Ketiga yang membahas tentang tumbuhan penghisap darah, mirip dengan lintah.


Xiao Shuxiang mengolah tumbuhan itu dengan hati-hati dan melumuri setiap pedangnya dengan cairan tumbuhan tersebut.


Sayangnya, tumbuhan ini tidak bisa ditanam sembarangan sehingga jika dia menginginkannya lagi, Xiao Shuxiang harus mengambilnya di kediaman patriarch.


"Melihat ekspresi wajahmu itu... Aku jadi tahu, kau hanya punya satu nyawa." Xiao Shuxiang tiba-tiba menghilang dan muncul di depan Bing Mei Si.

__ADS_1


Dengan beberapa gerakan, tubuh Bing Mei Si terpotong menjadi beberapa bagian dan terlempar ke berbagai arah. Xiao Shuxiang menendang kepala Bing Mei Si hingga menghantam salah satu pohon dengan keras.


"Wuuh! Baru kali ini aku bertarung tanpa dihentikan oleh orang lain atau membiarkannya kabur..!" Xiao Shuxiang menyarungkan kembali pedangnya dan menatap dingin ke arah kepala Bing Mei Si.


"Kau kuat. Dan mustahil bagiku menang melawanmu dengan praktikku yang lemah ini. Tapi, kau membuat kesalahan besar karena tidak melawanku dengan sungguh-sungguh sejak awal. Kau meremehkan Xiao Shuxiang..!"


Xiao Shuxiang segera memeriksa kondisi Xiao Lu, dia merasakan napas gadis tersebut sudah hampir hilang. "Dia kehabisan banyak darah..!"


Xiao Shuxiang mengeluarkan pil emasnya, dia memasukkan pil tersebut ke mulut Xiao Lu sambil membantunya agar pil itu segera tercerna.


Napas Xiao Lu kembali normal, namun tubuhnya begitu lemah. Xiao Shuxiang menjambak rambutnya karena telah menusuk Xiao Lu dengan pedangnya sebanyak dua kali.


Sebuah api biru kecil melayang di dekat Xiao Shuxiang dan seperti berbicara.


"........"


Xiao Shuxiang, "Aku memang tidak peduli dia tewas, tapi bukankah sia-sia membawa mayat kembali ke sekte? Aku sudah datang jauh-jauh, menghabiskan waktu berharga Xiao Shuxiang demi untuk menyelamatkan mayat?! Yang benar saja..!"


Xiao Shuxiang mengeluarkan seguci sedang Arak Anak Linglung di dalam Cincin Spasialnya. Dia lalu merobek pakaian Xiao Lu hingga tubuh bagian atasnya terlihat.


Xiao Shuxiang dengan tenang menarik air di guci tersebut dengan Qi yang terkumpul pada tangannya.


Air yang membentuk bola kenyal secara perlahan masuk ke tengah dada Xiao Lu sambil terus ditekan oleh Xiao Shuxiang.


Apa yang dilakukannya ini termasuk ke dalam operasi untuk mengeluarkan cairan tumbuhan lintah pada bekas tusukan pedang Xiao Shuxiang.


"Aku tidak bisa menggunakan darahku, dia hanya akan mati. Kau, cari binatang atau manusia apa pun yang bisa diambil darahnya. Cepatlah..!" Xiao Shuxiang memerintahkan api biru kecilnya, segera.. Api tersebut menghilang.


Tidak butuh waktu lama, api Xiao Shuxiang kembali dengan dua ekor kelinci. Xiao Shuxiang memarahinya karena darah kelinci ini tidak cukup untuk mengganti darah Xiao Lu.


"Ingat baik-baik aroma darah gadis cerewet dan cari manusia yang memiliki aroma sama. Pergi..!"


Api biru milik Xiao Shuxiang kembali menghilang. Dia terlihat muncul di sebuah desa terdekat dan langsung menangkap seorang gadis yang berjalan sendirian, sepertinya gadis itu baru pulang melihat festival.


Gadis tersebut berteriak dan memberontak, namun dengan cepat api biru Xiao Shuxiang mematahkan lehernya.


Ketika sampai di tempat tuannya, tanpa banyak bicara dan rasa bersalah.. Xiao Shuxiang menarik gadis tersebut, lalu mengambil darahnya.


Butuh waktu yang lama hingga proses operasi selesai. Meski Xiao Lu belum sadar, namun nyawanya sudah tidak terancam lagi.


Xiao Shuxiang melepas seragam luarnya dan menutupi tubuh Xiao Lu. Dia lalu menggendong gadis tersebut di punggungnya dan melesat menemui keempat temannya.


Jing Mi, Hou Yong, Bao Yu dan Hai Feng nampak berbaring dengan napas tidak beraturan. Tubuh keempatnya dipenuhi luka, untunglah Xiao Shuxiang selalu membekali mereka dengan pil.. Walaupun rasanya mirip seperti permen.


Xiao Shuxiang meminta Jing Mi untuk membawa Xiao Lu. Mereka lalu melesat pulang dengan kecepatan rendah.


Mayat keenam wanita kembar yang dilawan Jing Mi dan saudara-saudaranya tadi langsung meleleh dan menyisakan tengkoraknya saja. Di tempat lain, potongan tubuh termasuk kepala Bing Mei Si juga mengalami hal yang sama.


Seseorang berpakaian ungu muda dengan memakai topeng penangkal berbentuk rubah menapakkan kakinya di depan tengkorak berambut milik Bing Mei Si.


Hanya dengan gerakan satu jari, mayat gadis yang dibawa oleh api biru Xiao Shuxiang tadi langsung menghilang dan muncul dengan tiba-tiba dipelukannya.


"Jangan bercanda, Mei Si. Cepat kembali.."


Suara orang ini seperti suara pria, wajahnya sama sekali tidak terlihat karena memakai topeng. Dia memiliki praktik yang tinggi sebab Xiao Shuxiang bahkan tidak menyadari keberadaannya.


Tengkorak berambut milik Bing Mei Si melayang dan membentur pelan kepala mayat gadis dipelukan pria bertopeng tersebut, lalu menghilang. Seakan tengkorak itu masuk ke dalam kepala Sang Gadis.


Perlahan, mata gadis tersebut terbuka. Luka yang diakibatkan karena Xiao Shuxiang mengambil darahnya seketika sembuh. Dia lalu tersenyum tipis dan mulai merenggangkan tubuhnya.


"Bagaimana? Apa anak laki-laki itu orang yang kita cari?"


"Dia menyebut namanya 'Xiao Shuxiang', tetapi aku masih tidak yakin dia orang yang tetua cari. Kita harus menunggu sampai dia sedikit dewasa untuk memastikannya.."


Pria bertopeng rubah mengangguk, "Aku akan kembali melaporkan kejadian hari ini pada Tetua."

__ADS_1


***


__ADS_2