
Sebenarnya Bocah Pengemis Gila ingin bertanya hal yang serius pada Xiao Shuxiang, tetapi kemungkinan ini bukan waktu yang tepat. Justru dia lebih tertarik menggoda pemuda ini sekarang.
"Kalau diperhatikan dengan baik, kau dan Lan'Er Gege memang serasi sebagai pasangan. Kenapa kalian tidak menikah saja?"
!!
Xiao Shuxiang terkejut dengan ucapan sembarangan dari Bocah Pengemis Gila, dia menatap tajam ke arah pria dengan tongkat bambu itu.
"Apa kau mau mati? Aku ini pemuda yang normal. Aku sudah menikah dan punya seorang istri. Dan sepertinya kau lupa, Lan Zhi ini laki-laki..! Se-romantis apa pun kau melihat hubungan kami, itu tidak lebih dari persaudaraan belaka. Aiih.."
"Tapi kalian cocok. Anggap saja begini, Nona Ling adalah istrimu dan Lan'Er Gege adalah suamimu. Bagaimana?"
"Kau! Berhenti mengeluarkan pendapat Aliran Sesatmu. Kau sangat tidak tahu malu." Xiao Shuxiang merinding sendiri bila harus membayangkan ucapan tidak karuan dari Bocah Pengemis Gila.
"Aku hanya berpendapat, Wuxian. Kau dan Lan'Er Gege sering bertindak tidak seperti teman pada umumnya. Kalian sering saling menggoda, berpelukan, dan bahkan tidur bersama. Siapa yang tahu kejadian di antara kalian saat di atas tempat tidur dan dalam kondisi ruangan tertutup.."
"Ya ampun, kau mulai lagi."
".. Dan juga, Lan'Er Gege tidak pernah menolak apalagi membantah setiap ucapanku. Dia tidak melakukan pembelaan untuk dirinya, atau pun padamu. Seakan-akan dia menerima semuanya, jadi bagaimana menurutmu?"
"Anak ini hanya tidak ingin berdebat denganmu. Kau selalu bicara omong kosong. Sudahlah, lebih baik kau bantu aku. Tidak baik jika Lan Zhi terus dalam posisi ini,"
Xiao Shuxiang meminta bantuan Bocah Pengemis Gila untuk mengangkat teman baiknya. Tubuhnya sekarang sudah bisa bergerak dan rasa sakitnya juga telah berkurang banyak.
Bocah Pengemis Gila menaruh tongkat bambunya, dia mulai membantu Xiao Shuxiang. "Biar aku yang menggendong Lan'Er,"
"Tidak, biar aku saja." suara Xiao Shuxiang ketus, dia menolak dan itu membuat Bocah Pengemis Gila tersentak.
"Wuxian! Kau ini kenapa?! Lihat dirimu, kau sendiri juga tidak dalam kondisi baik. Sudah, biar aku yang lakukan."
"Aku bilang tidak usah. Dan bukankah kau sudah bisa menyebut namaku dengan baik?! Kenapa kembali menyebutku 'Wuxian'!? Kau ini sangat suka membuatku kesal, ya. Menjauh sedikit!"
Xiao Shuxiang menggendong Lan Guan Zhi dari belakang.
!?
Hampir saja dia terjungkal andai tidak segera ditahan oleh Bocah Pengemis Gila. Meski begitu, Xiao Shuxiang seakan masih ingin bicara ketus pada pria ini.
".. Aku masih tidak percaya padamu. Kau mungkin akan mengambil kesempatan saat menggendongnya. Tidak akan kubiarkan Lan Zhi-ku ternoda. Kau bawa saja pedangnya dan Yīng xióng,"
"Kau menyebalkan dan suka memerintah. Aku ini kan 'Senior-mu'? Tindakanmu ini sudah tidak sopan," meski merutuk, Bocah Pengemis Gila tetap melakukan apa yang dikatakan Xiao Shuxiang. Dia mengambil tongkat bambunya dan lalu ikut membawa Yīng xióng dan Shǎndiàn.
Xiao Shuxiang mulai berjalan, di sisinya ada Bocah Pengemis Gila. Dia tidak tahu bagaimana penampilannya saat ini, tapi kemungkinan besar dia dalam kondisi yang tidak enak dipandang.
"Kita mau ke mana?" Bocah Pengemis Gila bertanya dan itu membuat langkah Xiao Shuxiang berhenti.
!
Koki Alkemis itu tadi tidak memikirkannya. Dia baru ingat bahwa masalahnya dengan para pendekar terutama keluarga istrinya belum selesai. Jika dia kembali dalam kondisi seperti ini dan bertemu dengan mereka, hal yang tidak diharapkan mungkin akan terjadi.
"Kenapa kau diam? Kita mau ke mana?" Bocah Pengemis Gila bertanya saat tidak ada jawaban dari pemuda di sampingnya.
"Aku tidak bisa membawa Lan Zhi ke Sekte Pagoda Langit dan keadaan di Benua Timur juga kurang tepat. Jadi sebaiknya kita pergi ke Benua Utara."
Saat Xiao Shuxiang mengatakan itu, titik-titik air mulai muncul di udara, memadat dan lalu berubah menjadi sebuah cermin setinggi orang dewasa.
Melihatnya membuat Bocah Pengemis Gila berdecak kagum, "Aku tidak pernah bosan melihat bakatmu yang satu ini. Kau dapat menyeberangi benua mana pun hanya dengan sekali melangkah. Benar-benar mengagumkan,"
"Tidak masalah jika kau tahu, aku memang luar biasa." Xiao Shuxiang juga mengagumi bakatnya ini, dirinya lantas memasuki cermin tersebut disusul oleh Bocah Pengemis Gila.
Cermin Pemindah itu pun memudar, meninggalkan suasana sunyi dan mencekam yang ada di wilayah Aliran Hitam, Kekaisaran Langit Tengah.
Bila dilihat dari atas, dampak pertarungan dengan Raka Daksa serta pertempuran aliansi kultivator dengan Scarlet Darah jelas tidak main-main.
Bocah Pengemis Gila tidak mampu menyelamatkan seluruh warga di Dua Kekaisaran, tentu dia tidak sanggup. Namun untunglah para pendekar dan kultivator ketiga Aliran menyadari bahwa di samping pertikaian mereka--masih ada tanggung jawab melindungi tanah air ini.
"…"
Ling Lang Tian akhirnya bisa menyarungkan kembali pedangnya. Dia mengembuskan napas pelan dan lalu menoleh untuk melihat keadaan warga yang berhasil dirinya lindungi.
__ADS_1
Meski merasa lega, namun sejujurnya dia menyesal karena banyak juga yang harus kehilangan nyawa. Apalagi ketika dia mengingat serangan yang mengarah pada wilayah Penginapan Seribu Tahun.
Dia memang tidak terlalu mengenal penghuni penginapan itu, tetapi yang dia ketahui adalah Xiao Shuxiang memiliki teman di sana, dan dirinya tidak mampu melindungi pemuda tersebut.
"Senior..!"
?!
Ling Lang Tian mendengar sebuah seruan. Seorang pendekar dari partai lain menghampirinya dan nampak terengah-engah. Dia terlihat butuh bantuan.
"Ada apa?"
"Senior, ada warga yang butuh diobati segera. Saya hanya bisa mengurangi rasa sakitnya, tidak lebih dari itu.." pendekar tersebut jelas sudah kelelahan, namun masih mencemaskan orang lain.
Ling Lang Tian mengangguk dan segera mengikuti pendekar tersebut. Dia dan para tetua lain yang berada di berbagai tempat memang sibuk menyelamatkan serta mengobati warga yang terluka.
Jauh di tempat Ling Lang Tian berada, tepatnya di puing-puing bangunan Penginapan Seribu Tahun.. Banyak warga yang terkapar dengan kondisi bermacam-macam.
Tubuh mereka hangus, banyak organ dan potongan tubuh manusia. Ini bukan akibat pembantaian, tetapi karena serangan dahsyat yang mampu melelehkan dan menghancurkan sebagian besar bangunan penginapan.
Tempat ini sebenarnya luas, terdiri dari banyak bangunan yang di tempatkan di beberapa arah. Namun sebagian hancur tidak bersisa dan sebagiannya lagi runtuh menjadi kepingan.
Di salah satu reruntuhan itu terdengar suara tangisan bayi. Ling Lang Tian tidak datang ke tempat ini, kemungkinan dia mengira bahwa seluruh warga yang berlindung di wilayah Penginapan Seribu Tahun tidak ada yang selamat--tetapi justru tangisan itu membuktikan bahwa masih ada yang memiliki keberuntungan langit.
!!
Seseorang nampak menapak di tanah, dia berdiri di depan sebuah puing tempat suara keras bayi berasal. Dengan sekuat tenaga dia menyingkirkan setiap puing-puing tersebut hingga mulai terlihat punggung seseorang.
!!
["Masih ada yang hidup..! Di sini masih ada yang hidup..!"]
Seruan dari pria itu mengundang rekan-rekannya yang lain untuk datang membantu. Mereka berusaha menyingkirkan puing-puing hingga ruang lingkup penglihatan mereka semakin jelas.
!!
Pria berpakaian biasa itu dan rekan-rekannya hanyalah warga awam. Mereka merupakan orang-orang beruntung karena dapat menyelamatkan diri sendiri.
!!
Ketiga anak itu dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dan selain bayi yang tidak henti-hentinya menangis, seorang pemuda terlihat dalam posisi menjadi perisai untuk bayi tersebut.
Dia tidak bisa mendengar apa-apa, tetapi matanya masih terbuka walau pandangannya memburam. Dirinya tidak dapat bersuara dan seakan bertahan hanya untuk melindungi bayi perempuan itu.
Para pria segera menolong. Mereka memeriksa setiap anak yang ternyata masih hidup. Salah seorang pria berseru dan memanggil seorang kultivator yang dilihatnya untuk memberikan bantuan.
Dua orang pemuda lantas bergegas yang mana salah satu di antara mereka kaget melihat wajah pemuda yang sebelumnya sudah sekuat tenaga melindungi bayi yang saat ini masih menangis.
"Tuan Muda Nie..! Dia Tuan Muda Nie..!"
Yang barusan berseru itu merupakan salah satu pelayan di Penginapan Seribu Tahun. Dia mengenali pemilik penginapan yang tidak lain adalah Nie Shang. Dirinya menangis memanggil 'Tuannya'.
Dia ditenangkan oleh kultivator yang bersamanya. Sungguh sebuah keajaiban dirinya bisa melihat 'Tuannya' lagi.
Sebenarnya tidak hanya Nie Shang, tetapi dari pihak musuh masih ada yang selamat. Dia tidak lain adalah Gong Zitao, pemuda yang sampai sekarang masih diperlakukan sebagai senior oleh para murid Partai Pagoda Langit.
Dia terlihat membantu salah seorang kultivator untuk berbaring, dan lalu dengan tertatih dirinya berjalan seakan ingin membantu yang lain lagi.
Walau wajahnya terlihat tidak menyimpan niat buruk, namun di dalam hatinya dia begitu gelisah. Sebelumnya dia sudah bertatapan mata dengan Ling Qing Zhu, gadis itu tidaklah tewas--tetapi dalam keadaan yang baik.
"Hanya tinggal menunggu waktu sebelum dia mengungkapkan kebenaranku. Selagi itu belum terjadi, aku harus secepatnya pergi dari sini."
Gong Zitao menggunakan tongkat kayu untuk membantunya berjalan, dia tidak bersama dengan murid Partai Pedang Tengkorak yang sebelumnya menyamar, kemungkinan besar kedua orang itu juga sudah pergi.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan saat tidak ada orang yang melihat-- Gong Zitao mulai melesat pergi.
Kondisi tubuhnya jujur saja tidak baik, kecepatannya semakin berkurang namun dia tetap memaksakan diri. Masalahnya saat melesat di atas sebuah pohon--sebuah serangan datang entah dari mana dan melukai bahu kanannya.
!!
__ADS_1
Gong Zitao tidak sempat menghindar dan terkena serangan itu. Dia terjatuh dengan cukup keras. Erangan kesakitan terdengar di samping jantungnya yang berdegub kencang.
Malam masih panjang dan suasana jelas tidak begitu terang. Gong Zitao berusaha bangun, tapi sebuah lesatan datang dan dia merasakan lehernya dicengkeram oleh sebuah tangan yang kuat.
!!
Sebuah mata tajam menatap Gong Zitao, dirinya berusaha melepas cengkeraman tangan dilehernya dengan sekuat tenaga. Walau demikian, kekuatan tangan ini tidak bisa dipandang remeh.
Gong Zitao kesulitan bernapas, tubuhnya diangkat hingga tidak lagi menyentuh tanah. Dirinya perlahan mulai melihat jelas siapa yang sudah menyerangnya.
["Kau akhirnya keluar, Gong Zitao.."]
!!
Mata Gong Zitao terbuka lebar ketika mengetahui bahwa di hadapannya adalah Sri Anyar, salah satu Pendekar Bayangan yang menjalin kerja sama dengannya.
["Apa-Apaan ini? Ukh! Lepaskan aku.. Kenapa kau begini.. Sri Anyar..!"]
["Apa kau pikir bisa lolos dari kematianmu, huh? Aturan dari Pendekar Bayangan adalah jika misinya gagal--maka orang yang membayar kami akan dihabisi."]
Sri Anyar menggertakkan giginya, wajahnya jelas memperlihatkan kemarahan yang seperti sudah menumpuk sejak lama.
Dia menguatkan cengkeraman tangannya dan kembali bicara, ["Pertama kali aku menerima misimu, kedua adikku tewas. Aku melepaskanmu saat itu karena ingin membalas dendam. Dan sekarang akibat pembalasan dendam itu, Adikku kembali tewas. Kau sekarang tidak akan kulepaskan."]
!!
Gong Zitao benar-benar kesulitan bernapas, mulutnya kini mengeluarkan darah. Padahal Sri Anyar nampak terluka parah, tapi cengkeraman tangannya masih amat kuat.
["Ke-kenapa kau harus.. Ukh! Melimpahkan kesalahanmu padaku?! Kau.. Kaulah yang--Gagal dengan pembalasan dendammu..! Jadi-"]
["Jadi kenapa harus kau yang menanggungnya? Itu yang ingin kau katakan, bukan?"] Sri Anyar memotong ucapan Gong Zitao, suaranya lantas meninggi. ["Tentu saja kau harus menanggungnya! Semua ini dimulai dari dirimu..!"]
!!
["Sri.. Sri Anyar. Kita.. Bisa bicarakan baik-baik,"] wajah Gong Zitao agak membiru, darah seperti berhenti naik ke kepalanya. Dia sungguh tidak bisa bergerak dan hampir mencapai batasnya.
["Sri.. Sri Anyar.."]
["Kau tidak akan mati semudah ini, Gong Zitao. Akan kubuat kau merasakan kematian yang paling menyakitkan."]
Sri Anyar sudah tidak ingin dibujuk lagi. Dia melempar tubuh Gong Zitao dan melakukan sesuatu yang sudah lama dirinya simpan.
BAAAAAM..!!
Tubuh Gong Zitao menghantam batang pohon sebelum terjatuh ke tanah. Sebelum dia bergerak, Sri Anyar kembali melesat dan kali ini memberinya tendangan yang membuatnya memuntahkan darah.
!!
Sri Anyar menendang perut Gong Zitao hingga pemuda itu terpental. Dia kembali menyerang dan kali ini menarik tangan pemuda tersebut sebelum mematahkannya.
Teriakan Gong Zitao tertahan akibat Sri Anyar membungkam mulutnya dengan sebuah kepalan tangan. Di malam itu dia menjadi bulan-bulanan pendekar yang menuntut bayaran nyawa padanya.
Sri Anyar begitu serius, dia baru berhenti ketika setiap bagian tubuh Gong Zitao terpisah-pisah dengan membawa kemarahannya.
"…"
Sri Anyar terengah-engah saat di tangannya hanya tersisa sebuah kepala. Dia pun melemparnya ke sembarang tempat sebelum akhirnya memuntahkan darah.
Ekspresi wajahnya tidak begitu senang, tetapi justru menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Walau demikian, matanya tidak lagi menunjukkan kemarahan. Dia sudah melampiaskan semuanya dan yang tersisa di hatinya adalah kekosongan.
Dirinya pun melangkah, pelan namun pasti menuju kegelapan dan hilang di sana.
Sri Anyar sendirian.
Tentu dia tidak tahu apakah hanya dirinya yang hidup atau masih ada saudaranya yang lain, tetapi memikirkannya sekarang tidak ada gunanya lagi.
["Kekalahan terbesar.. Kekalahan terbesar.."]
Langkahnya sekarang adalah sesuatu yang bercabang. Entah dirinya kembali sebagai pendekar bayaran, membuat dendam yang baru, atau melupakan semuanya dan menjalani hidup yang sedikit lebih baik.
__ADS_1
***