XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
460 - Pergolakan II [Revisi]


__ADS_3

Kaisar Langit Utara, dengan liciknya dibantu oleh Scarlet Darah untuk membuat sebuah perisai pelindung. Pendekar dan kultivator yang ada di wilayahnya bisa menyeberang ke wilayah Kekaisaran Langit Tengah, namun mereka tidak bisa menyeberang pulang kembali.


Hanya Kekaisaran Langit Utara yang tenang, dan hanya wilayah inilah yang satu-satunya bebas dari target Qian Kun. Bahkan, sosok yang membentuk Scarlet Darah tersebut justru menjadi tangan kanan dari Sang Kaisar.


Bukan tanpa alasan dia melakukannya, semua ini sebenarnya tidak lain adalah karena Kaisar Langit Utara merupakan manusia yang haus kekayaan dan kekuatan. Sosok manusia terburuk berdasarkan penglihatan Qian Kun.


Musuh terbesar dari Xiao Shuxiang itu memang membenci manusia dan menganggap mereka hanyalah alat. Namun ada beberapa manusia yang cukup bagus dijadikan pion dan layak diselamatkan, mereka itulah orang-orang yang mempunyai aroma keserakahan tertinggi.


Sederhananya, Qian Kun ingin yang menghuni dunia ini adalah para manusia yang licik dan dipenuhi keserakahan. Sementara manusia lainnya tidak dia butuhkan.


!!


Trang..!


Trang..!


Suara pertarungan yang terjadi di dua kekaisaran Langit mengalun merdu. Sekarang tidak diketahui sekte dan partai mana dari Aliran Hitam yang selamat, semuanya nampak berantakan jika dilihat dari atas.


Buruknya, bahkan kini Aliran Putih dan Netral pun ikut menjadi korban. Mereka sebenarnya sudah membentuk Aliansi guna mengantisipasi kejadian semacam ini, bisa dibilang para Sekte dan Partai Besar telah lebih dahulu mempersiapkan diri.


["Awas...!!"]


BAAAM..!!


Terdengar suara teriakan disusul oleh debaman keras. Sumber serangan barusan terjadi di Partai Pasak Bumi yang ada di Kekaisaran Langit Tengah. Wilayah inilah yang paling banyak dihujami serangan daripada wilayah Kekaisaran Langit Selatan.


!!


["Guru..!!"]


Seorang pemuda berseru dan menahan gurunya yang baru saja memuntahkan darah. Dia adalah Jian Guang, pria yang pernah bertemu dengan Bocah Pengemis Gila dan Xiao Shuxiang saat keduanya menyusup di Rumah Besar Dewi Surgawi.


Jian Guang merupakan murid dari Partai Pasak Bumi, dia pendekar yang ahli Tenaga Dalam, tetapi bukan termasuk kultivator.


["Kalian, bawa Guru pergi dari sini. Aku akan menahannya,"] Jian Guang memberi perintah pada dua orang juniornya, mereka terlihat masih remaja.


!


["Apa yang kau lakukan?! Kau pikir aku selemah itu?!"] Tua Bangka berambut putih tersebut menepis tangan Jian Guang. Dia merupakan pendekar Tenaga Dalam tingkat tiga dan juga seseorang yang harusnya tidak dipandang remeh.


Guru Jian Guang meludahkan darah dan kembali meluruskan tulang-tulangnya, ["Orang-orang asing itu telah berani membuat kacau wilayah partai ini, mereka layak mati."]


!


Jian Guang berwajah buruk. Dia melihat gurunya memberi perintah pada dua juniornya untuk ikut menarik pedang. Tidak ada pendekar dari Partai Pasak Bumi yang pantas melarikan diri selain mereka yang usianya di bawah 14 Tahun.


[".. Sekarang antara lawan atau kitalah yang mati. Apa kalian mengerti?!"]


["Baik Guru..!!"]


Dua remaja itu berseru, nyaris bersamaan. Mereka menarik pedang dan memperlihatkan tatapan mata yang jelas tidak sayang nyawa.


!


Jian Guang bukannya pengecut, tetapi dia tahu musuh yang menyerang mereka bukanlah pendekar biasa. Buktinya, saat gurunya yang lain berhasil menebas kepala lawan--tidak beberapa lama, kepala yang menggelinding di tanah itu tersambung kembali dengan badannya.


Mereka melawan musuh yang aneh. Sosok monster bertubuh manusia yang tidak bisa mati. Jadi jika tetap nekat, merekalah yang akan tamat.


BAAAAM...!!


!!


Jian Guang, guru dan kedua juniornya baru saja akan bergerak saat tanah tiba-tiba bergetar akibat debaman keras barusan. Keempatnya sulit menyeimbangkan diri dan malah terjatuh.


Di sisi lain, seorang wanita berpakaian merah dengan dua kipas di tangannya baru saja memberi serangan yang kuat pada dua orang pendekar tua. Wajahnya cantik meski tertutup oleh kain cadar yang senada dengan pakaiannya.


Salah satu pendekar mengumpat, dia merupakan Ahli Tenaga Dalam Udara dan nampak kembali berdiri. Tubuhnya sudah penuh dengan luka, namun sorot matanya masih mengandung semangat dan belum menyerah.


["Nona Darah Madu! Menggunakan teknik setan untuk menjadikan tubuhmu abadi tidak akan memberimu kekuatan apa-apa. Teknik semacam itu hanya akan melenyapkan hati manusiamu..!"]


["Hmph, ucapan yang tidak berguna. Bilang saja kau juga ingin, hanya tidak memiliki kesempatan."] Nona Darah Madu memain-mainkan kipas merahnya, dia menatap rendah ke arah dua tua bangka yang sudah kelelahan itu dan sedetik berikutnya kembali menyerang.


!!


Pertarungan antara dia dengan dua guru dari Partai Pasak Bumi tersebut merupakan pertarungan Ahli Tenaga Dalam Udara.


!!


Ketiganya dapat bergerak lincah, lebih cepat dari anak panah, dan benar-benar sulit diikuti mata. Satu-satunya efek yang mungkin dapat dilihat adalah percikan api di udara.


Nona Darah Madu bukanlah kultivator, dia seorang pendekar yang ahli Tenaga Dalam. Sebelumnya, dia sama seperti pendekar lainnya--yakni dapat terluka parah termasuk mati.


Namun semua itu berubah ketika dia memutuskan untuk bergabung dengan Scarlet Darah dan mendapatkan tubuh abadi ini. Sekarang, meski seluruh tubuhnya dicincang habis, Nona Darah Madu bisa hidup lagi.


["Percuma kalian melawan. Sejak awal, kekalahan sudah ada dipihak kalian."]


!!


Serangan yang berasal dari kibasan kipas Nona Darah Madu berbenturan dengan serangan pedang dua pendekar Partai Pasak Bumi.


!!


Angin kejut yang dihasilkan oleh benturan itu membuat mereka sama-sama terdorong mundur. Tetapi tidak beberapa lama sampai mereka bertukar serangan kembali.


BAAAM..!!


Jian Guang mendengar suara debaman lagi, kali ini dia melompat ke salah satu dahan pohon untuk memperhatikan lebih teliti kekacauan yang melanda partainya.

__ADS_1


Sebenarnya, bukan hanya murid Partai Pasak Bumi yang ada di sini, tetapi juga beberapa pendekar dari partai dan sekte lain. Mereka semua nampak berhadapan dengan masalah masing-masing dan terlihat sangat kewalahan.


Jian Guang kesulitan mengambil napas saat tahu bahwa korban lebih banyak berjatuhan di sisinya daripada di sisi lawan. Apalagi setelah diperhatikan lebih baik, lawan yang seharusnya telah tewas dapat membentuk ulang tubuhnya dan hidup kembali seolah tidak terjadi apa-apa.


Batang pohon tempat tangan kiri Jian Guang berada terlihat memiliki bekas cakaran dengan darah yang masih segar. Dia tanpa sadar melukai jari-jari tangannya sendiri akibat marah dengan keadaan partainya sekarang.


Napasnya naik-turun, banyak saudara-saudara seperguruannya yang tewas akibat serangan ini. Dia sendiri tidak tahu berapa jumlah lawannya, sulit membuat mereka diam untuk menghitungnya satu persatu.


!!


Saat memikirkannya, tiba-tiba saja pohon tempat Jian Guang berada dihantam oleh sesuatu. Dia terkejut dan kemudian melompat turun kala mengetahui bahwa yang menghantam pohonnya adalah seorang kultivator dari Sekte Bintang Langit.


Jian Guang terlihat cemas, dia menyentuh pundak kultivator itu sambil bertanya tentang keadaannya, ["Apa kau tidak apa-apa?"]


?!


Kultivator tersebut memuntahkan darah segar, ini jelas bukanlah jawaban yang baik dari pertanyaan Jian Guang barusan.


["Aku tidak bisa.. Mereka seperti tidak punya kelemahan,"]


Suara lemah dari orang yang tak lain adalah Jiu Shen itu membuat mata Jian Guang melebar, dia seakan telah menemukan sesuatu.


[" 'Kelemahan'.. Itu dia! Mereka pasti memilikinya,"]


["Maksudmu? Apa kau tidak lihat mereka masih bisa hidup walau sudah ditebas berulang kali? Ini sangat buruk. Kita tidak akan bisa menang,"]


Jiu Shen menggunakan cukup banyak tenaga saat bicara hingga dia kembali memuntahkan darah. Dadanya terasa sangat sakit dan dia bisa tahu bahwa ada beberapa tulangnya yang retak.


Jian Guang tiba-tiba saja merasakan adanya bahaya, segera dia menarik Jiu Shen dan sedetik berikutnya pohon tempat mereka berada tadi langsung meledak.


!!


Jian Guang dan Jiu Shen terkena angin kejut dari serangan itu. Keduanya terpental cukup jauh dan nyaris binasa andai tidak ditolong oleh senior mereka.


Aliansi pendekar dan kultivator ini seakan tidak mengubah apa-apa, justru semakin banyak korban yang berjatuhan.


Para pendekar dari Benua Tengah merupakan orang-orang yang hebat. Bila mereka serius bertarung atau bersama-sama menggabungkan kekuatan, maka tanah di tiga Kekaisaran Langit dapat bergetar.


Namun tetap saja, sekuat apa pun melawan, musuh mereka adalah seorang yang immortal. Sangat berbeda dari mereka yang hanya mempunyai satu nyawa, apalagi ada batasan tertentu dari stamina yang mereka miliki saat ini.


Jian Guang dan Jiu Shen berusaha bangun. Tidak ada dari keduanya yang peduli dengan luka yang mereka alami sekarang ini. Jelasnya, pertarungan baru akan berakhir bila keduanya benar-benar kehilangan nyawa.


["Guruku selalu berkata bahwa setiap jurus pasti memiliki kelemahan. Tubuh abadi mereka juga sama, jadi kita harus bisa mencari tahu kelemahan mereka supaya dapat menang."]


Jiu Shen mengangguk setuju. Dia dan Jian Guang kemudian memakai segenap kekuatan mereka untuk menyerang musuh yang tak lain adalah Gou Yun Fei, seorang pendekar yang matanya selalu tertutup kain hitam.


?!


Walau melawan pendekar lain, nyatanya Gou Yun Fei tetap menyadari serangan yang datang dari arah belakang tubuhnya. Dia melompat untuk menghindari serangan tersebut dan lalu memberi serangan balasan.


!!


Pertarungan mereka berlangsung sengit dan sama sekali tidak ada suara selain benturan senjata serta angin kejut.


Gou Yun Fei tidak terlihat kewalahan melawan para pendekar dan kultivator ini. Di sisi lain, justru musuhnya-lah yang sulit mengimbangi kekuatan miliknya.


Pertarungan itu jelas berat sebelah. Meskipun Jiu Shen dan Jian Guang bekerja sama dengan pendekar yang lain, namun mereka tetap tidak bisa mengalahkan Gou Yun Fei.


Bukan hanya pemuda yang matanya tertutup kain itu memiliki tubuh yang abadi, tetapi juga karena dia adalah pengguna dari Teknik Kutukan. Jika salah langkah sedikit saja, maka gerbang kematian akan terbuka lebih lebar untuk mereka.


!!


Baru saja dikatakan, seorang pendekar berpakaian ungu tiba-tiba mengerang kesakitan kala melakukan serangan liar ke arah Gou Yun Fei dan bersentuhan dengan asap tipis kehitaman milik pemuda itu.


Jiu Shen, Jian Guang, dan beberapa pendekar lainnya langsung berhenti kala mendengar betapa pilunya erangan penuh kesakitan tersebut.


Mereka sangat terkejut melihat bagaimana wajah pendekar berpakaian ungu itu berangsur-angsur menjadi hitam dengan lubang di wajah, leher dan tangannya.


!!


Jantung mereka seakan berhenti berdetak, apalagi saat rambut pendekar yang kesakitan itu langsung rontok dengan kepala yang meleleh hingga tulang tengkoraknya terlihat. Para pendekar wanita yang juga menyaksikan kejadian ini secara spontan menutup mulut.


Ada sekitar 20 orang yang membuat keributan di tempat ini dan empat orang di antaranya merupakan pendekar yang memiliki serangan paling brutal, Gou Yun Fei adalah salah satu dari empat orang tersebut.


Lainnya adalah Rou Mei Qi, gadis berparas cantik berpakaian serba merah yang memiliki kemampuan meniru setiap gerakan dan teknik lawan. Kemudian ada Ge Yu Han dan Gong Zitao yang berpakaian semerah darah dengan topeng rubah yang menutupi wajah mereka.


Rou Mei Qi mempunyai kemampuan membunuh lawan dengan benang-benang tipis miliknya dan kain selendangnya. Dia juga mempunyai senjata berupa cambuk yang terbuat dari tulang punggung kelabang raksasa.


Bila seseorang terlilit oleh cambuk itu dan Rou Mei Qi menarik senjatanya tersebut dengan keras, maka detik itu juga tubuh lawannya bisa terpisah-pisah menjadi beberapa bagian.


BAAAM..!


["Bagaimana jika kalian menari di depanku!"] Rou Mei Qi berseru, dia tersenyum lebar dan membentangkan jari-jarinya.


!!


Sepuluh orang pendekar tidak bisa menghindar. Leher, lengan, dan kaki mereka terlilit oleh benang tipis yang tak terlihat. Mereka baru mengetahui terkena serangan lawan ketika tidak lagi mampu bergerak.


Rou Mei Qi begitu senang mempermainkan orang-orang ini. Dia menggerakkan jari-jarinya yang membuat benang tipis miliknya membentang kuat.


Bersamaan dengan itu, erangan kesakitan terdengar. Para pendekar yang terjerat dalam benangnya merasakan kulit tubuh mereka seperti diiris tipis. Rou Mei Qi lantas menarik benang-benangnya hingga tubuh lawan benar-benar terpisah.


Kejadian itu sangat memilukan, beberapa pendekar mulai merasa takut untuk menggerakkan pedang. Hanya ada sedikit musuh, tetapi bahkan satu orang pun sulit mereka bunuh.


Pendekar di Benua Tengah adalah orang-orang yang kuat, apalagi jika mereka menguasai lebih dari satu Tenaga Dalam. Namun semua itu seakan tidak ada apa-apanya di hadapan musuh yang kemampuannya lemah, tetapi memiliki tubuh yang abadi.


Keberadaan Rou Mei Qi dan Gou Yun Fei saja sudah memenangkan alur pertarungan ini, apalagi dengan adanya Gong Zitao.

__ADS_1


Pedang Pembeku Jiwa yang sudah disempurnakan oleh Qian Kun itu telah membunuh banyak pendekar maupun kultivator. Hanya sekali ayunan dan siapa pun yang terkena angin kejut dari pedang itu akan langsung membeku.


Tubuh musuh menjadi seperti patung es, namun dengan unsur kaca, sehingga saat ditekan sedikit saja--tubuh itu akan langsung pecah berkeping-keping.


!!


Gong Zitao menikmati ini. Pedangnya mempunyai kemampuan hebat dan sampai sekarang belum ada yang bisa menandinginya. Semangatnya makin menggebu kala dia dapat membekukan sebelah kaki seorang Tetua Partai.


Tidak ada yang tahu siapa Gong Zitao, itu karena dia menyembunyikan wajahnya dengan sebuah topeng rubah.


Trang..!


Trang..!


Ada tiga orang murid Sekte Pagoda Langit yang bertarung dengan murid dari Partai Pedang Tengkorak. Ketiganya memiliki kemampuan berpedang yang hebat dan juga ketenangan yang mengagumkan.


Di saat semua orang sedang panik, tidak tahu harus berbuat apa, dan hanya menyerang secara sembrono untuk mengalahkan musuh, mereka bertiga justru sekuat tenaga bertahan, tidak terburu-buru, dan memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja membuat alur pertarungan ini berubah.


Ketiga murid Sekte Pagoda Langit itu terdiri dari Ling Qin Qi, Ling Jian Tou, dan seorang pemuda yang mempunyai nama khas Benua Tengah.


Mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan orang sekelas Ling Lang Tian dan Ling Qing Zhu, tetapi bila dihadapan orang-orang luar dari Sekte Pagoda Langit--ketiganya adalah pendekar yang tidak dapat dipandang remeh.


Ling Qin Qi menggunakan teknik berpedang yang bernama 'Sembilan Langkah Petir', yang mana setiap langkahnya sulit diikuti mata.


!!


Serangan dari teknik berpedang ini sangat besar, kuat, dan mematikan. Namun sebenarnya kehebatan dari teknik tersebut tergantung dengan kekuatan dan bakat pemakainya.


Untuk Ling Qin Qi, teknik berpedangnya memang sudah bisa membuat orang lain terpukau dan menganggapnya jenius. Tetapi bila dihadapan Grand Elder Sekte Pagoda Langit dan Ling Lang Tian--dia masih harus belajar lagi.


Di sisi lain, Ling Jian Tou sendiri telah mendapat pengakuan dari seorang Ling Lang Tian. Dia adalah pemuda yang selama ini dikabarkan akan bersanding dengan Ling Qing Zhu. Sayangnya, kemampuan Ling Jian Tou masih berada di bawah Sang Wali Pelindung dari adik Ling Lang Tian tersebut.


Jujur saja dia menyukai Ling Qing Zhu, dan itu sudah ada sejak mereka masih kecil. Dia bahkan pernah menyatakan perasaannya walau hanya dijawab dengan rasa terima kasih dari Ling Qing Zhu.


BAAAAM..!


Seorang murid dari Partai Pedang Tengkorak menghantam sebuah pohon dengan sangat keras. Punggungnya hancur dan meledak dari arah depan. Keadaan yang sama juga terjadi pada tengkoraknya, bahkan biji matanya terpental keluar.


Itu adalah serangan paling mematikan. Apalagi seluruh tubuh orang tersebut benar-benar berantakan dan begitu sulit untuk dikenali.


Ling Jian Tou mengembuskan napas pelan, wajahnya masih tenang, namun tatapan matanya mengandung kekesalan. Dia kesal pada dirinya sendiri sebab memikirkan Ling Qing Zhu dalam kondisi bertarung dengan lawan.


Murid Sekte Pagoda Langit yang tahu Ling Jian Tou berbeda dari biasanya tidak mengatakan apa-apa. Murid itu lebih memilih bungkam sebab merasa ini bukan keadaan di mana dirinya bisa ikut campur.


TRAANG..!


Pedangnya berbenturan dengan Pedang Penebas Bayangan milik pendekar dari Partai Pedang Tengkorak. Benturan tersebut menghasilkan percikan api dengan angin kejut yang besar.


Murid dari Sekte Pagoda Langit tersebut menggunakan kakinya untuk memberi serangan dan berhasil menendang dagu musuh. Dia pun mengubah posisi dan kembali menyerang, kali ini tanpa jeda sama sekali.


!!


Pendekar dari Partai Pedang Tengkorak itu menggertakkan giginya. Dia dipaksa mengambil posisi bertahan tanpa bisa melakukan serangan balasan. Pertarungan yang dihadapinya mulai terasa menyulitkan.


["Sialan..! Meski aku memiliki tubuh yang abadi, namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku masih bisa merasakan rasa sakit."]


Pendekar itu mengumpat sambil menahan serangan dari lawan. Dia berusaha mengambil jarak supaya dapat mengubah posisi dan alur pertempuran ini, tapi lawannya sama sekali tidak memberinya peluang.


Ling Jian Tou menyadari kesempatan ini dan kemudian melesat untuk membantu saudara seperguruannya. Dengan beberapa gerakan, dia membuat lawan mengerang kesakitan sebab kedua tangan dan kakinya tiba-tiba saja tertebas.


!!


Murid Sekte Pagoda Langit yang sebelumnya bertarung sengit itu nampak terkejut kala mendapat bantuan dari Ling Jian Tou. Dia pun mengayunkan pedang dan bermaksud mengambil nyawa musuhnya namun ditahan oleh Ling Jian Tou.


Pedangnya berbenturan dengan pedang rekannya yang berwajah tampan itu. Dia menatap Ling Jian Tou dengan rasa tak percaya.


["Saudara! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menghalangiku?!"]


"Jangan membunuhnya. Ini satu-satunya cara agar dia tidak bangkit kembali selagi kita mencari titik kelemahannya."


Kedua pendekar itu memakai bahasa yang berbeda saat bicara, namun masih bisa saling memahami.


Ling Jian Tou lalu menarik kain yang terlilit di tangan kirinya dan kemudian membawa tubuh musuhnya ke salah satu pohon. Dia mengikat tubuh tanpa tangan dan kaki itu di batang pohon sekaligus menyumpal mulut lawan dengan memakai gulungan kain yang dirinya ambil dari pakaiannya sendiri.


["Jian Tou.."]


"Ini harus kulakukan," Ling Jian Tou menatap saudara seperguruannya setelah selesai mengikat tubuh lawan. "Aku tahu ini sama saja dengan menyiksa musuh, dan untuk meringankan penderitaannya.. Seharusnya aku langsung menebas lehernya. Tapi jika itu dilakukan, dia akan membentuk ulang tubuhnya lagi."


Ling Jian Tou menyadari sesuatu. Ketika lawan membentuk ulang tubuhnya, stamina mereka akan kembali seperti semula. Itu tentu saja adalah hal yang buruk dan tidak bisa dibiarkan.


["Tapi Saudaraku, jika kita melakukan ini--lalu apa bedanya kita dengan mereka? Dia mengerang kesakitan dan darah tidak berhenti keluar dari tubuhnya. Dia pasti akan mati, namun kematiannya akan sangat menyakitkan. Kita tidak seharusnya menyiksa dia,"]


".............."


Ling Jian Tou tidak mengatakan apa-apa. Dia menatap wajah musuhnya yang terikat itu dan menemukan betapa pucat wajah tersebut. Dia memperhatikan dengan baik dan tahu bahwa apa yang dirinya lakukan adalah sebuah kesalahan.


Suara pertarungan seakan menghilang bagi Ling Jian Tou dan saudara seperguruannya. Keduanya jelas merasa bersalah serta kasihan pada musuh yang mereka perlakukan dengan tidak manusiawi.


["Apa-Apaan dengan ekspresi wajah itu!"]


!!


Ling Jian Tou dan saudara seperguruannya tersentak, mereka segera menoleh kala mendengar suara asing barusan.


Seorang pemuda berpakaian ungu gelap dengan rompi hitam nampak berjalan mendekat. Wajahnya dipenuhi bercak kemerahan dan terdapat kemarahan pada sorot matanya.


***

__ADS_1


__ADS_2