
Selama makan, Xiao Lu dan Yi Wen tidak henti-hentinya bicara. Mereka kadang membahas model pakaian, rambut, warna mata, dan yang paling sering adalah riasan pemikat kaum pejantan.
Xiao Shuxiang, Lan Guan Zhi, dan Ling Qing Zhu tidak tahu apa yang dibahas kedua temannya itu.
Mereka seakan tidak bisa masuk dalam pembicaraan teman-teman mereka ini, sementara Xiao Qing Yan lebih banyak menjadi pendengar karena informasi ini terasa baru bagi dirinya.
Untuk Bocah Pengemis Gila, tidak perlu ditanyakan lagi. Dialah yang membuat obrolan Xiao Lu dan Yi Wen memiliki durasi yang panjang.
Mereka membahas pewarna bibir saja membutuhkan waktu lebih dari satu jam.
Mulai dari desa yang terkenal dengan pewarna buatannya, sampai nama pedagang yang termasyhur dibahas lengkap beserta sejarah keluarganya.
Xiao Shuxiang hanya terdiam sambil memasang wajah keheranan disertai mulutnya yang terbuka karena tak menyangka Bocah Pengemis Gila tahu banyak tentang riasan, apalagi yang berhubungan dengan warna.
Selama ini, baik Xiao Shuxiang, Ling Qing Zhu, dan Lan Guan Zhi hanya tahu warna merah memiliki tiga jenis, pertama merah darah, merah muda, dan merah Tanghulu.
Tetapi pada pembicaraan Bocah Pengemis Gila, Xiao Lu, dengan Yi Wen.. Warna tersebut mempunyai lebih dari dua puluh jenis.
Tidak hanya Xiao Shuxiang, para pelanggan yang ada di ruangan ini juga ikut menjadi pendengar.
"Ck ck ck, pembicaraan para gadis benar-benar mengerikan. Aku bahkan baru tahu ada warna bernama Merah Rumput Laut, pantas istriku selalu mengataiku buta warna.. Ini gila,"
Salah satu pelanggan yang mejanya tak jauh dari tempat Xiao Shuxiang dan teman-temannya berada nampak menggeleng sambil berdecak pelan.
Dia bersama dengan dua orang rekannya, mereka merupakan pendekar dari Partai Paruh Rajawali.
"Aku setuju, tapi yang paling tidak terduga adalah pemuda itu. Kenapa dia tahu banyak tentang riasan wanita? Apa orang itu pedagang?"
"Kurasa bahkan pedagang pun tidak tahu tentang sejarah lengkap keluarganya. Tetapi orang itu, dia membahas generasi pertama hingga sekarang.. Apa dia cenayang? Orang yang hidup ribuan tahun pun akan kesulitan mengingat setiap detail terkecil dari perjalanan hidupnya, dan dia hanya membahas gincu. Gincu. Benda itu sama sekali tidak penting,"
Pria berusia sekitar 37 Tahun dengan wajah biasa-biasa saja terlihat memijat-mijat pelan dahinya. Dia menggelengkan kepala sambil berkata bahwa dirinya tak bisa percaya ada makhluk semacam pemuda itu di dunia ini.
".. Aku mungkin tidak terlalu kaget bila yang membahas adalah kaum hawa, masalahnya kenapa pemuda itu yang paling banyak memberi informasi?"
"Itu artinya dia tipe pemuda yang peduli dengan apa yang kami.. Para kaum hawa pakai. Kalian hanya tahu mengemut saja, dan memberi penilaian sebatas.. 'Kamu cantik', 'Bidadari surgaku', idiih.."
!!
Keempat pendekar dari Partai Paruh Rajawali tersentak kala kultivator wanita yang bersebelahan dengan mereka ikut bersuara. Wanita itu nampak berusia 31 Tahun, riasannya sedikit berlebihan, apalagi pada bagian bibir.
"Nona, kau harusnya tahu.. Para pria itu lebih suka yang alami. Kau memakai gincu tebal di bibirmu malah akan membuat pasanganmu tidak nyaman. Aku jujur saja, berciuman dengan gadis bergincu tebal rasanya sangat pahit. Benar-benar tidak enak,"
?!
Ucapan pendekar tersebut baru saja menjadikannya pusat perhatian. Beberapa kultivator yang mendengar dengan jelas bahkan tersedak arak yang diminumnya.
"Kawan, apa kau pernah.. Mengalaminya?"
__ADS_1
"Hm?" pria tersebut menatap teman di sampingnya saat dia merasakan tangan rekannya itu menyentuh pundaknya. "..haah.. Tentu saja. Kalau kau mau melepas keperjakaan bibirmu, Bordil di Kota Bintang Biduk adalah yang terbaik. Tapi sebaiknya kau jangan memilih wanita bergincu tebal,"
Pria berwajah biasa tersebut tanpa tahu malu merekomendasikan tempat keramat bagi teman-temannya. Ucapannya yang begitu jelas bahkan membuat beberapa pendekar memberinya tatapan tak percaya.
Wanita yang berusia 31 Tahun dengan pakaian berwarna merah di sampingnya juga mendengar ini, dia tersenyum meledek sambil mendengus singkat.
"Kau pikir kami para wanita memakai riasan untuk terlihat menarik di depan kalian, para pria? Hah, itu tidak benar. Faktanya kami berdandan seperti ini untuk membuat wanita lain iri, kalian para pria saja yang terlalu besar kepala,"
Suara tawa keempat wanita berpakaian merah tersebut dapat didengar jelas oleh Xiao Shuxiang. Tidak hanya teman-temannya, bahkan para pelanggan lain membicarakan tentang riasan para wanita. Mereka seakan lupa suasana mencekam yang menyelimuti Kota Bulan Darah.
Salah satu rumah warga yang tak jauh dari Penginapan Serabut Bunga.. Nampak sunyi dan gelap. Ada empat orang penghuni rumah tersebut, Sang Ayah nampak mengikat tangan dan kaki putrinya yang berusia sekitar 17 Tahun.
Posisi gadis tersebut tidur terlentang, dia sama sekali tidak nampak memberontak ketika diikat oleh Sang Ayah. Ibunya menutup telinga dan matanya dengan kain sambil mengatakan bahwa dirinya harus sanggup melewati malam ini.
"Ibu.. Kenapa kita tidak pergi saja?"
"Nak, kau harus bersabar. Berdoalah agar kita bisa melewati malam ini.."
Jika langit malam di kota lain begitu indah dan banyak warga yang dapat tidur nyenyak, maka di Kota Bulan Darah semua itu hanyalah impian belaka.
Setiap hari mereka harus dihantui ketakutan akan kematian. Rasa itu semakin menjadi kala bulan mulai menampakkan dirinya. Tidak ada warga asli yang mampu keluar dari kota ini, mereka seakan terikat dengan Kota Bulan Darah yang dianggap kutukan.
".. Sekarang giliranmu Nak, ayo.."
Pria paruh baya yang berpakaian cokelat menepuk pundak anak laki-lakinya yang berusia 14 Tahun. Dia beserta istrinya berjalan keluar kamar dengan diterangi obor bambu. Kali ini yang akan diikat adalah putra mereka.
Tidak ada warga Kota Bulan Darah yang pernah tersenyum tulus ataupun tertawa. Kalaupun ada, senyuman tersebut pastilah mengandung kesedihan serta rasa takut.
Beberapa warga yang tertekan dengan nasib kotanya, bahkan memutuskan mengakhiri hidup. Kemungkinan di saat semacam ini, hanya para pendatang yang menganggap musibah ini dilebih-lebihkan sajalah yang akan tertawa.
Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu sendiri sejak tadi tidak banyak bicara, apalagi bergabung ketika teman-temannya mulai membicarakan hal yang lucu.
Mereka bukannya tidak tertarik, hanya saja pikiran keduanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Awalnya, Lan Guan Zhi ingin mencari informasi yang banyak tentang Kota Bulan Darah di penginapan ini, namun sekarang tak satu pun pegawai, apalagi pemilik penginapan yang dirinya lihat.
"Aku rasa saat ini mereka melakukan apa yang dikatakan dua penjaga gerbang kota, mereka mengikat diri dan berusaha bertahan sampai pagi," Xiao Shuxiang seakan tahu apa yang sedang dipikirkan kedua temannya yang hemat bicara ini, dia sejak tadi juga memikirkan hal yang sama.
"Kita harus membantu mereka,"
Lan Guan Zhi mengangguk setuju dengan ucapan Ling Qing Zhu. Dia berpendapat memang sudah seharusnya mereka menolong orang yang membutuhkan. Apalagi sepertinya 32 orang pelanggan di tempat ini juga berniat membantu.
Xiao Shuxiang, "Kalian tahu, aku jujur saja tidak suka ikut campur masalah orang lain. Tetapi jika apa yang dialami warga kota ini mengganggu perjalanan kita, maka itu tidak bisa dibiarkan,"
Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu tersenyum samar saat mendengar pendapat dari Xiao Shuxiang. Mereka sebenarnya tidak menyangka pemuda berpakaian serba hitam tersebut mau membantu, ini tidak seperti Xiao Shuxiang yang mereka kenal.
"Apa mungkin salju akan turun di Benua Tengah?"
__ADS_1
"Kalau tiga hari dia terus seperti ini.. Maka salju benar-benar akan turun,"
Ling Qing Zhu menanggapi ucapan Lan Guan Zhi, keduanya saling menoleh dan berpandangan sejenak sebelum kembali menatap Xiao Shuxiang.
Xiao Lu yang berada di antara mereka nampak tak peduli, dia malah asyik mengobrol dengan Yi Wen dan Bocah Pengemis Gila.
Beberapa pendekar mulai berdiri dari tempat duduknya dan kemudian berjalan ke arah pintu, mereka terdiri dari empat orang pria dan tiga orang wanita.
Mereka berasal dari partai yang berbeda-beda dan saat ini sedang menjalankan misi dari Wali Kota Bulan Darah. Penanggung jawab kota ini memang mengerahkan segala upaya, termasuk meminta bantuan pada para pendekar serta kultivator dari berbagai tempat.
"Gara-gara membahas gincu, kita malah terlambat ke tempat perkumpulan,"
"Anggap saja yang tadi itu adalah hiburan sebelum badai,"
Xiao Shuxiang mendengar ucapan dua pria yang barusan berjalan. Dia memperhatikan para pendekar tersebut yang mulai membuka pintu dan segera keluar ruangan. Beberapa orang yang nampak seperti biksu juga menyusul tujuh pendekar tersebut.
"Kita juga harus pergi,"
?
Yi Wen dan Bocah Pengemis Gila menoleh kala pelanggan yang lain ikut bangun dari tempat duduk mereka. Bisa dibilang, 32 orang sebelumnya mempunyai misi yang sama, yakni membantu warga Kota Bulan Darah.
Kini, yang masih tinggal di dalam ruangan tersebut adalah Xiao Shuxiang dan teman-temannya. Yi Wen merasa penasaran dengan satu hal, ia lalu bangun dari tempat duduknya dan bergegas melangkah keluar.
Hanya beberapa saat sebelum Yi Wen kembali dan bergabung dengan teman-temannya. Dia membuat Bocah Pengemis Gila, Xiao Lu, dan Xiao Shuxiang kebingungan.
?!
"Apa yang kau lakukan tadi?"
"Saudara Xiao, aku hanya penasaran dengan nama kota ini. Saat keluar tadi, aku melihat ternyata bulan di kota ini benar-benar berwarna merah, semerah darah. Sangat menakutkan jika melihatnya terlalu lama,"
Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila berkedip, keduanya saling berpandangan sebelum berlomba keluar ruangan. Kursi yang mereka duduki bahkan terjatuh karenanya.
Xiao Lu, Yi Wen, dan yang lainnya menyusul Xiao Shuxiang. Rasa penasaran mereka terbayarkan ketika melihat bulan di langit yang memang memiliki warna merah menakutkan.
Selain bulan, tidak ada satu pun bintang yang terlihat di langit Kota Bulan Darah. Keadaan ini cukup aneh, apalagi awan juga tak nampak menyelimuti langit. Dan hal lainnya adalah hembusan angin yang dingin nan menusuk.
"Ke mana perginya para pendekar itu?" Xiao Qing Yan mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tak ada siapa pun selain teman-temannya yang dia lihat.
"Sepertinya mereka melompati dinding itu untuk keluar dari sini. Apa kita susul mereka?"
Bocah Pengemis Gila terus memegang tongkat bambunya, pendapatnya benar sebab memang gerbang penginapan ini terkunci dari dalam, jadi jelas para pelanggan yang satu ruangan dengan mereka tadi tidak keluar lewat gerbang.
Xiao Shuxiang baru akan menjawab pertanyaan Bocah Pengemis Gila, namun mendadak terdengar suara alunan musik yang begitu jelas. Dia dan teman-temannya seketika tersentak.
"Suara itu.." Yi Wen mencoba mencari tahu, dia dan Xiao Lu langsung melesat ke atap bangunan. Mereka berdiri dengan pandangan mata mengarah kesekitaran.
__ADS_1
***