
Untuk mencairkan suasana selama perjalanan, Xiao Shuxiang terkadang bersenandung.
Memang dalam bernyanyi rap seperti Siu Yixin--suaranya nyaris bagai kapal pecah, tetapi saat menyanyikan lagu lain.. Dia cukup berbakat.
Ling Qing Zhu tetap berjalan tanpa bersuara sama sekali, dia seakan serius mendengar Xiao Shuxiang bernyanyi walau dirinya tidak mengetahui dari mana pemuda ini belajar lagu tersebut.
..
Ada damai yang dirasakan Ling Qing Zhu, senandung milik Xiao Shuxiang terdengar seperti sedang mengisahkan kesedihan dan perasaan cinta.
".. Kucing Putih, apa kau tidak kelelahan?" Xiao Shuxiang bertanya tiba-tiba saat Ling Qing Zhu fokus mendengarnya bernyanyi, dia langsung mendapat tatapan dingin dari gadis di sampingnya ini.
"Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Mau mengajakku bergulat?"
"Memalukan,"
?!
"Kali ini apa salahku Kucing Putih? Hei..!"
Xiao Shuxiang menghembuskan napas dan kemudian menggeleng pelan. Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul Ling Qing Zhu.
"Kau tidak suka mendengarku bernyanyi? Padahal suaraku terdengar bagus-bagus saja.."
"Itu memang lumayan,"
Meski pujian yang diterimanya hanya sebatas 'lumayan', tetapi dia jujur tidak menyangka mendengar pujian dari gadis seperti Ling Qing Zhu. Rasanya.. Cukup menyenangkan.
"Kau ingin dengar cerita tentang lagu tadi?"
Tidak ada jawaban dari Ling Qing Zhu membuat Xiao Shuxiang menganggap gadis ini bersedia mendengar ceritanya. Dia mulai berdeham sejenak sebelum kembali bersuara.
"Jadi lagu tadi mengisahkan tentang kisah cinta guru dan muridnya.."
!!
"Itu sangat dilarang."
"Kau jangan komentar dulu, biarkan aku menyelesaikan ceritaku.."
Ling Qing Zhu mengangguk pelan. Dia berjalan bersama Xiao Shuxiang sambil mendengarkan pemuda di sampingnya ini bicara.
".. Kisah ini dimulai oleh seorang pendekar wanita. Dia tinggal di dalam makam kuno, dirinya tidak pernah keluar makam apalagi sampai turun gunung.."
Xiao Shuxiang mengusap-usap dagunya sebelum kembali melanjutkan ceritanya. Kisah yang dia beritahu pada Ling Qing Zhu merupakan kisah seorang pendekar tanpa tanding.
Ada banyak buku di tempat Bai Wu Dang, salah satu patriarch Sekte Pedang Langit. Xiao Shuxiang tidak hanya membaca buku herbal, tetapi dia juga suka membaca buku karangan dari para penulis terkenal.
".. Aku lupa-lupa ingat kisah selanjutnya, tetapi gadis itu pernah sekali turun gunung dan menyelamatkan seorang bayi laki-laki. Dia lalu membawa bayi tersebut dan merawatnya di dalam makam kuno.."
Xiao Shuxiang mengatakan bahwa pada akhirnya bayi tersebut tumbuh besar dan mulai diajari beberapa ilmu. Setelah tumbuh dewasa.. Dirinya memutuskan untuk turun gunung dan berpetualang.
".. Gurunya sejak saat itu tidak tahu dia menyukai muridnya. Dan sama seperti yang kau katakan, hubungan semacam itu antara murid dan guru adalah hal terlarang. Karenanya sepanjang hidupnya.. Pemuda tersebut dan gurunya terus dilanda masalah, bahkan salah satu kejadian membuat mereka berpisah,"
Xiao Shuxiang berdecak kagum, selain buku herbal--dia selama ini tidak pernah benar-benar mencerna buku lain yang dibacanya. Tetapi kisah 'Pendekar Tanpa Tanding' itu dia bisa menceritakannya kembali pada Ling Qing Zhu dengan gaya bahasanya sendiri.
".. Buku itu sangat menguras emosi. Ada kebencian yang melahirkan dendam, cinta hingga saling merindukan. Aku bahkan pernah bertanya-tanya.. Apa pendekar tanpa tanding itu nyata? Dan jika nyata, apa dia masih hidup? Sssh.. Haah.. Kalau dia benar-benar nyata.. Aku sangat ingin bertemu dengannya,"
Ling Qing Zhu tidak pernah mendengar gelar 'Pendekar Tanpa Tanding' di Benua Tengah. Baginya, setiap pendekar memiliki kelemahan dan bila ada yang telah mencapai tahap kesempurnaan.. Pendekar tersebut akan diangkat ke Alam Para Dewa.
"Pendekar semacam itu.. Mustahil ada,"
"Jadi tidak ada..? Sayang sekali.." Xiao Shuxiang menghembuskan napas kecewa. Memang ucapan Ling Qing Zhu ada benarnya, gelar semacam itu sangat sulit didapat dan dipertahankan. Musuh yang tidak tertandingi mungkin saja ada, tetapi pendekar yang tidak tertandingi.. Itu mustahil ditemukan.
*
*
Kruuuuk~
"Oowh.. Aku sangat lapar.. Buah-buahan kecil seperti ini tidak cukup mengisi perutku. Lan'Er Gege~ tolong aku.."
Bocah Pengemis Gila mengusap-usap perutnya, dia terlihat berbaring di atas punggung Harimau Bulan sambil memeluk tongkat bambunya.
Beberapa saat yang lalu, mereka sejenak beristirahat dan mengambil buah Rumput Bulan yang telah matang sebagai perbekalan khusus untuk Bocah Pengemis Gila. Namun pemuda ini masih saja mengeluh dan selalu memanggil Lan Guan Zhi.
Xiao Lu dan Yi Wen hampir tidak tahan dengan tingkahnya. Andai Xiao Shuxiang ada di sini, mungkin saudara mereka itu sudah menendang keras bokong Bocah Pengemis Gila.
"Tuan Muda Lan terlalu baik karena sudah mengizinkanmu ikut. Sebaiknya kau diam sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran,"
"Nona.."
"Panggil 'Kakak Lu Yang Cantik',"
Bocah Pengemis Gila mendesah pelan dan kembali bersuara, "Kakak Lu Yang Cantik.. Kau itu adalah kultivator dan aku hanya manusia biasa. Fisikku ini lebih rentang daripada dirimu. Aku butuh istirahat.. butuh makan.. butuh minum.. Tidak seperti kalian.."
Yi Wen, "Kau pikir hanya kau yang kelelahan di sini? Kami juga sama. Benua tempat tinggalmu tidak mendukung kultivator, sulit menyerap Qi di tempat di sini.."
Di Benua Timur, Yi Wen dan Xiao Lu mungkin tidak akan peduli dengan masalah sepele ini, tetapi di Benua Tengah.. Mereka harus mempedulikannya.
Makan dan tidur adalah kebutuhan, namun di tempat tinggal mereka.. Yi Wen bisa menahannya selama berhari-hari menggunakan Qi sebagai pengganti dua kebutuhannya itu. Dia tidak perlu takut kehabisan Qi karena dirinya dapat menyerap lagi langsung dari alam.
Tetapi ini jelas berbeda bila dia berada di Benua Tengah. Memang, dirinya saat kecil tinggal di tempat yang minim Qi dan dia terbiasa menyerap Qi yang begitu tipis, hanya saja Qi di Benua Tengah jauh lebih sulit diserap.
Yi Wen dan Xiao Lu harus berkonsentrasi penuh, karena jika sedikit saja mereka kehilangan fokus.. Maka keduanya akan sulit merasakan Qi di tanah benua ini.
"Tuan Muda, tahan sebentar lagi.."
__ADS_1
Lan Guan Zhi mengetahui ini berat untuk orang seperti Bocah Pengemis Gila. Namun bila mereka terus beristirahat.. Waktu mereka akan terbuang kembali dan itu akan membuat mereka semakin lama keluar dari terowongan buatan ini.
"Lan'Er Gege.. Pegang tanganku~ aku bisa menahan lapar bila kau terus memegang tanganku.."
!
Bocah Pengemis Gila masih berbaring di punggung Lan Xiao, dia meraih tangan kanan Lan Guan Zhi sambil menatap langit-langit yang keseluruhannya adalah tanah. Dirinya menghembuskan napas, tersenyum dan berkata memegang tangan Lan Guan Zhi membuatnya tenang.
Tindakan Bocah Pengemis Gila memang menenangkan untuk dirinya sendiri, tetapi tidak bagi Xiao Lu. Kakak dari Xiao Shuxiang itu sangat terkejut dan menegur Bocah Pengemis Gila untuk melepas Lan Guan Zhi sekarang.
".. Kalau Xiao'Er tahu, dia akan membunuhmu. Tuan Muda Lan adalah Adik Iparku, jadi cepat lepaskan dia."
"Aah~ aku tidak mau, aku tidak mau~ Lan'Er Gege, kau tidak keberatan kan?"
Yi Wen dan Xiao Lu merasa berdenyut. Lan Xiao sendiri sejak tadi terus mengeluarkan suara seperti gerutuan khas binatang dan seakan tidak menyetujui tangan induknya di pegang oleh Bocah Pengemis Gila.
Yi Wen memijat-mijat kepalanya. Karena tidak memakai riasan, dia menganggap Bocah Pengemis Gila adalah pemuda yang normal. Dirinya seakan lupa bahwa orang yang berbaring di punggung Lan Xiao tersebut merupakan pemuda homo.
"Aiih.. Aku juga melupakan itu.. Hei kau..! Lepaskan Adik Iparku sekarang, ayo lepaskan pegangan tanganmu, cepat lepaskan."
"Nona Lu, tidak apa."
!!
Lan Guan Zhi tak mempermasalahkan ini karena menurutnya pegangan tangan adalah hal yang biasa. Lagi pula jika dengan ini Bocah Pengemis Gila tidak mengeluh lagi.. Maka dia tidak ragu melakukannya.
"Ya ampun. Tuan Muda Lan.. Kau harusnya menjaga perasaan adikku. Kasihan Xiao'Er.. Dia bisa mengamuk bila tahu ini.. Aduuh.. Aku tidak sanggup.."
Berbeda dengan Xiao Lu yang heboh karena tidak rela tangan Adik Iparnya di pegang orang lain, Yi Wen sendiri nampak menaikkan sebelah alisnya sebab merasa heran dengan tingkah saudaranya ini.
"Kakak Lu.. Kau seperti gadis yang suka hubungan terlarang. Mereka sesama laki-laki, pegangan tangan adalah hal biasa. Kau dan aku juga sering melakukannya, jadi jangan terlalu heboh begini.."
"Yi Wen.." Xiao Lu menarik Yi Wen dan berusaha menjelaskan hubungan antara Xiao Shuxiang dengan Lan Guan Zhi. Kemampuannya mengubah informasi khayalan menjadi nyata benar-benar hebat.
"Tidak mungkin.. Saudara Xiao bukanlah pemuda yang seperti itu.."
"Apa kau tidak bisa menyadarinya? Coba ingat-ingat lagi, Xiao'Er pernah pegangan tangan, merangkul Tuan Muda Lan, mandi, dan tidur bersama. Lan Xiao sendiri adalah bukti hubungan mereka. Nama Harimau Bulan itu merupakan bukti penyatuan marga mereka. Hou Yong juga tahu hal ini.. Kau harus percaya padaku Yi Wen.."
"Tidak, itu mustahil.. Aku juga pernah mandi dengan Saudara Xiao walau tidak tidur bersama.. Tapi.."
Yi Wen terlihat ragu, Saudara Xiao-nya adalah pemuda yang normal, begitu pula dengan Tuan Muda Lan. Hubungan kedua orang itu hanya seperti teman akrab, walau terkadang memang ada beberapa kejadian di mana matanya sering sakit melihat betapa dekat Saudaranya itu dengan Lan Guan Zhi.
"Kakak Lu Yang Cantik, kau jangan merusak nama besar adikmu. Saudara Xiao tidak hanya dekat dengan Tuan Muda Lan, dia juga dekat pada yang lain. Contohnya saja Saudara Jing, mereka bahkan saling memanggil dengan kata 'sayang' dan benar-benar saling menggoda secara terang-terangan. Tetapi tidak ada yang menganggap keduanya memiliki hubungan terlarang, jadi hubungan anehnya dengan Tuan Muda Lan.. Aku membantah itu ada,"
"Yi Wen, tatapan mata Xiao'Er saat bersama Saudara Jing berbeda ketika dia bersama Adik Ipar Lan. Aku tahu karena aku ini kakaknya, kau lihat saja nanti."
Xiao Lu begitu yakin dengan ucapannya. Dia lalu berjalan kembali menyusul Lan Guan Zhi, Lan Xiao, dan Bocah Pengemis Gila.
Xiao Qing Yan sendiri sejak mereka menjelajahi terowongan ini--dirinya tidak terlalu banyak bicara. Dia berada di depan teman-temannya dan seakan bertindak sebagai pemandu.
Di tempat lain, Xiao Shuxiang dan Ling Qing Zhu terus menyusuri terowongan. Saat diberi pertanyaan oleh Wali Pelindungnya.. Ling Qing Zhu tidak ragu menjawab.
"Jujur saja, aku suka berjalan bersama seperti ini.. Itu membuat kita semakin dekat. Tapi mengetahui kau menganggapku sebagai 'Kakek', itu benar-benar menyebalkan.."
Xiao Shuxiang kembali melanjutkan ucapannya dengan berkata perjalanan ini harusnya bisa menjadi kencan, tapi sangat disayangkan itu rusak gara-gara dirinya disebut 'Kakek'.
".. Wajahku tidak setua itu, Kucing Putih.. Kau baru saja melukai hatiku, aiih.."
Xiao Shuxiang mengusap-usap dadanya. Dia mendapat tepukan pelan di bahu oleh Ling Qing Zhu. Menurutnya, gadis ini benar-benar aneh. Terkadang bersikap dingin dan sekarang terlihat perhatian padanya.
".. Apa yang kau lakukan ini sebagai bakti cucu pada kakeknya?"
"Mn.. Mungkin saja,"
"Kucing Putih..!"
Xiao Shuxiang baru akan menerjang Ling Qing Zhu, namun gadis tersebut lebih dulu melesat menjauh. Dia lalu mengejar Ling Qing Zhu dan mengancam akan memeluk gadis tersebut bila tidak menarik ucapannya.
".. Aku akan mengapitmu di ketiakku bila kau tidak segera kemari. Ayo berhenti..!"
"Dalam mimpimu,"
Ling Qing Zhu menarik pedangnya dan hanya sekali ayunan.. Serangannya menghasilkan angin kejut yang membawa ribuan butiran debu. Dia bermaksud menghalangi pandangan Xiao Shuxiang sekaligus membuat jarak antara dirinya dengan pemuda itu.
!!
Xiao Shuxiang sadar tidak bisa kemana-mana, dia memutuskan menahan badai buatan yang datang, dirinya memakai lengan kanan sebagai tameng.
"Gadis itu keterlaluan.. Awas kalau aku menangkapmu,"
Xiao Shuxiang melesat dan memutuskan menerjang badai buatan tersebut. Permainan kejar-kejaran mereka berlangsung hingga dua hari penuh. Bahkan di hari ketiga, mereka masih melakukannya.
?!
Ling Qing Zhu baru berhenti berlari saat di depannya tidak ada lagi jalan. Dia selalu mengikuti tanaman Rumput Bulan, tetapi dinding tanah di depannya adalah bukti ini adalah jalan buntu.
Tap
Tap
"Kucing Putih.. Kau benar-benar pelari yang cepat, tapi ini sudah berakhir.."
Ling Qing Zhu berbalik kala mendengar suara Xiao Shuxiang, pemuda itu nampak berjalan santai dan sambil menyuruhnya untuk menyerah.
".. Tarik kembali ucapanmu atau terima hukuman dariku. Kau sebaiknya pilih, diapit pada ketiakku, dipeluk olehku, atau kau ingin tamparan di bokong?"
Hukuman kedua sepertinya lumayan, tetapi Ling Qing Zhu mustahil memilih itu. Dia lebih baik menarik ucapannya dari pada mendapat hukuman yang rata-rata memalukan dari Xiao Shuxiang.
__ADS_1
"Kau menang. Aku tidak akan menganggapmu.. Sebagai 'Kakek' lagi,"
Ling Qing Zhu berujar dengan tenang, dia menyarungkan kembali pedangnya dan menatap Xiao Shuxiang yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
Pemuda tersebut terlihat tersenyum bangga karena sudah menang, dirinya sedikit tersentak kala Xiao Shuxiang mengulurkan tangan seakan meminta berjabat tangan.
"Mulai sekarang.. Ayo berteman,"
!!
Dari banyaknya senyuman yang pernah terlukis di wajah Xiao Shuxiang.. Senyuman inilah yang paling hangat. Terdapat ketulusan dan ketenangan di dalamnya, andai Yi Wen melihat ini.. Dia mungkin akan langsung melompat dan memeluk erat Saudara Xiao-nya.
Ling Qing Zhu sedikit ragu, tetapi kemudian dia mulai menerima jabat tangan dari Xiao Shuxiang. Tangan Wali Pelindungnya ternyata cukup besar, hangat, lembut, dan nyaman. Perasaan ini berbeda saat dia memegang tangan Ling Lang Tian dan Lan Guan Zhi.
Senyuman hangat Xiao Shuxiang tiba-tiba saja menjadi senyuman jahil kala dia menarik tangan Ling Qing Zhu hingga membuat gadis tersebut menabrak dada bidangnya.
"Kau!"
"Berpelukan sesama teman adalah hal biasa,"
"Lepaskan.."
"Tidak akan,"
Ling Qing Zhu lupa kapan terakhir kali dia di peluk oleh ayahnya, itu sudah sangat lama dan mungkin saat dirinya masih belum berjalan. Kakaknya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti ini, tidak bahkan sekali pun.
"Lepaskan,"
"Tidak. Kau harus berjuang sendiri, aku tidak akan melepaskanmu,"
Xiao Shuxiang dengan sengaja mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar gemas melihat Kucing Putihnya ini, dirinya memberi peringatan agar Ling Qing Zhu tidak menganggapnya 'Kakek' lagi mulai sekarang bila tidak ingin mendapat pelukan gemas lagi.
"Memalukan,"
Ling Qing Zhu menekan keras jari-jari tangannya ke punggung Xiao Shuxiang, dia seakan mencakar pemuda tersebut agar bisa dilepaskan.
"Aduh! Kucing Putih, kau ini kasar sekali.."
"Salahmu,"
Ling Qing Zhu akhirnya bisa lepas dari pelukan Xiao Shuxiang, dia bisa lihat bagaimana pemuda ini merintih dan mengatainya gadis yang kasar.
Jika saja Ling Qing Zhu tipekal gadis yang cerewet seperti Xiao Lu, dia mungkin sudah meledak dan mengatakan dirinya memang kasar, tetapi Xiao Shuxiang adalah pemuda yang tidak tahu malu.
Walau raut wajah Ling Qing Zhu tetap tenang dan sama sekali tidak bersemburat, namun perlakuan tiba-tiba Xiao Shuxiang padanya tadi sangatlah mengejutkan.
Dia bahkan merasa jantungnya hampir melompat keluar dari telinganya, sungguh kejadian barusan itu tidak pernah terduga.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan? Ini jalan buntu.." Xiao Shuxiang terlihat biasa-biasa saja, dia sama sekali tidak merasa bersalah atas perlakuannya tadi. Padahal Ling Qing Zhu bukanlah gadis yang bisa disamakan dengan Yi Wen atau gadis lainnya.
"Kucing Putih, kenapa kau diam? Masih ingin kupeluk?"
"Kau mau mati?"
Xiao Shuxiang mendengus pelan saat mendengar suara dingin dari Ling Qing Zhu, dia lalu menoleh dan menatap gadis berambut panjang di sampingnya.
"Kalau kau mau menjadi janda, maka lakukan saja, ayo bunuh aku.."
Ling Qing Zhu berkedip, dia akan menganggap tidak mendengar ucapan Wali Pelindungnya Barusan. Karena jujur saja, yang Xiao Shuxiang katakan hampir membuatnya kehilangan ketenangan.
"Apa tanah di atas kita tidak akan roboh bila kuhancurkan dinding ini?" Xiao Shuxiang mengusap-usap dinding tanah di depannya, sayang Ling Qing Zhu tidak membiarkannya melakukan itu.
"Coba cara lain.." Ling Qing Zhu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya saja dia tidak melihat apa pun selain jalan tempat datangnya, Rumput Bulan, dinding tanah, dan Xiao Shuxiang.
".. Kau bisa memakai cerminmu itu?"
"Maksudmu Cermin Pemindah? Itu bisa saja mengeluarkan kita dari sini, tapi kita akan muncul di Lembah Batu Api dan perjalanan akan dimulai dari awal lagi. Bakatku belum mampu membawa kita ke tempat yang tidak kuberi tanda. Jadi sebaiknya tidak digunakan.."
Xiao Shuxiang mengatakan agar sebaiknya menunggu Lan Guan Zhi datang, dia yakin temannya tersebut akan kemari dan membantu mereka keluar dari tempat ini.
Ling Qing Zhu tidak mengatakan apa pun, tetapi saat dia mencari tempat duduk yang nyaman.. Itu sudah membuktikan dirinya setuju dengan pendapat Wali Pelindungnya ini.
Xiao Shuxiang juga ikut duduk, dia bersandar pada dinding--tepat berseberangan dengan Ling Qing Zhu. Karena suasana di sekelilingnya.. Dia tidak tahu apakah saat ini sudah siang atau malam, tetapi itu bukan menjadi masalah.
*
*
Kota selanjutnya dan merupakan tempat tujuan Xiao Shuxiang bernama Kota Matahari Emas. Tempat itu penuh dengan gemerlap cahaya dan semakin indah saat hari menjelang malam.
Kota ini berada di wilayah Aliran Hitam, Kekaisaran Langit Utara. Biasanya, wilayah Aliran Hitam jika bukan di gunung-gunung terjal dengan tanah beracun, pasti mereka menghuni lembah-lembah terlarang, namun itu tidak berlaku bagi wilayah Aliran Hitam di bagian utara Benua Tengah.
Selain karena gemerlapnya, kota Matahari Emas juga terkenal dengan tempat hiburan malamnya, dan bordil yang paling dikenal di sini bernama 'Rumah Besar Dewi Surgawi'.
Bordil tersebut terdiri dari tiga bangunan yang jarak antara satu bangunan ke bangunan lain sekitar 15 meter, memiliki taman-taman bunga, kolam ikan, dan halaman khusus untuk para wanita penghibur melakukan tarian indah mereka.
Bangunan yang paling besar bertingkat empat diberi nama 'Dewi Pesona', sementara dua bangunan yang bertingkat tiga diberi nama 'Dewi Muda' dan 'Dewi Merak'.
..
Suara musik dan tawa selalu menggema di tempat ini, sementara di dalam kamar-kamar ketiga bangunan dipenuhi dengan suara erotis para wanita--khususnya Bangunan Dewi Merak.
Di lantai ketiga, tepatnya di kamar khusus tamu istimewa.. Terdengar suara derik tempat tidur disertai desahan erotis yang mampu membuat keringat dingin keluar.
Dari bayangan di dinding yang terlihat.. Nampak seorang wanita tengah menerima serangan yang tiada henti dari pria di atasnya.
***
__ADS_1