XIAO SHUXIANG

XIAO SHUXIANG
457 - Kejahatan [Revisi]


__ADS_3

Dalam Dunia Persilatan, kekuatan adalah segalanya. Tidak peduli cara apa yang diambil, tidak peduli berapa besar risikonya, dan tidak peduli berapa nyawa yang harus melayang asalkan bisa menduduki posisi puncak--maka itu semua adalah pengorbanan yang wajar.


Jika kultivator dapat memperpanjang usia mereka, lain halnya dengan pendekar yang hanya menguasai teknik Tenaga Dalam.


Kekuatan mereka dibatasi oleh usia, mereka tidak bisa menjadi seorang kultivator yang bahkan dapat berumur ratusan tahun sekali pun. Itulah sebabnya, kehadiran Scarlet Darah dan Qian Kun bisa dikatakan menjadi solusi atas masalah yang dihadapi para pendekar serakah.


Qian Kun dapat menjadikan mereka, para pendekar yang bahkan tidak bisa merasakan Qi tersebut untuk menjadi semakin kuat. Dia menjanjikan mereka semua tubuh yang abadi.


Enam Pendekar Bayangan adalah contohnya. Selama ini mereka hanya bersembunyi di balik kegelapan, menjadi orang suruhan dengan taruhan nyawa.


Walau keenamnya kuat, namun mereka bisa langsung mati di tangan seorang kultivator. Qian Kun-lah yang bisa membuat mereka semua memiliki tubuh yang abadi.


Ucapan Miao Gang tidak sepenuhnya salah saat berkata mereka hanya dimanfaatkan. Qian Kun memang melakukannya, namun itu wajar karena perlu bayaran mahal untuk sebuah 'keabadian'.


Saat ini, sosok yang membentuk Scarlet Darah tersebut tengah berada di halaman belakang Partai Pedang Tengkorak. Tatapannya mengarah pada sesuatu yang baru saja dilemparkan oleh pria berotot di hadapannya.


["Aku memberikanmu kepala dari tetua Partai Paruh Rajawali sesuai janjiku. Jadi sekarang, kau harus penuhi ucapanmu waktu itu."]


Suara pria berkepala plontos nan bertubuh kekar itu terkesan berat. Dia memiliki bekas luka parut di kepalanya dan beberapa bekas sayatan yang baru di lengan, punggung, serta dadanya.


Sekujur tubuhnya penuh luka, dia bahkan baru saja memuntahkan darah segar. Dapat dikatakan kondisinya buruk, satu penyebab yang membuatnya bisa sampai kemari dan berhadapan dengan Qian Kun adalah karena keinginan hidupnya yang kuat.


["Kau terluka parah, duduklah dan istirahat sejenak."] Qian Kun bersuara lembut di balik topeng rubahnya. Dia memperhatikan sosok di depannya yang bahkan berdiri pun harus bertopang oleh sebuah pedang besar.


Meski Qian Kun cukup perhatian, namun dia justru mendapat bentakan dari pria di hadapannya. Orang berotot itu menggeram dan menginginkan tubuh 'Abadi' darinya. Dia pun tidak keberatan mengabulkannya, hanya saja Qian Kun masih ingin menguji pria ini.


Qian Kun, ["Aku mengingatmu. Aku pernah berkata akan membuatmu menjadi makhluk yang abadi jika kau bisa membawakan kepala salah seorang tetua partai atau sekte di kekaisaran ini. Tapi apa kau yakin? Itulah yang kau inginkan?"]


Qian Kun selalu jujur pada tubuh abadi yang dia janjikan pada siapa pun, termasuk sosok di depannya. Dengan tegas dia mengatakan bahwa tidak ada yang bisa melawan takdir.


Qian Kun berkata, ["Langit begitu adil. Saat seorang manusia dianugerahi sebuah tubuh yang abadi, maka pasti tidak lama setelahnya ada manusia lain dengan anugerah kekuatan yang dapat membunuh seorang bertubuh abadi. Dalam hal ini, jika aku mengabulkan keinginanmu .... Kau akan mendapatkan satu musuh alami. Dia Xiao Shuxiang."]


["Xiao Shuxiang...?"] kening sosok berotot tersebut mengerut, dia kembali memuntahkan darah segar dan bertahan semampu yang dirinya bisa walau pandangannya kali ini mulai memburam.


Akhir-akhir ini dia memang banyak mendengar tentang nama itu. Qian Kun pun membenarkan, bahwa memang yang diceritakan masyarakat dan yang sedang dirinya bahas adalah orang yang sama.


Qian Kun berjalan mendekat, dia menyentuh dada pria berkepala plontos di hadapannya dan perlahan mengalirkan Qi. Secara berangsur-angsur, luka pria itu mulai tertutup.


["Aku tidak pernah mendesak siapa pun untuk mengikutiku..."] suara Qian Kun lembut dan tanpa cela sama sekali. ["... Kau juga akan kuberi peringatan tentang ini dan keputusan akhirnya, tetap ada padamu."]


Memang selalu ada risiko dari setiap keputusan. Besar atau kecil risiko tersebut, tergantung dari keputusan yang diambil. Dalam hal ini, tubuh abadi yang dijanjikan Qian Kun ada dua risikonya.


Tangan Qian Kun yang menyentuh dada pria besar itu tiba-tiba saja ditancapkan hingga menembus kulit dan tulang. Gerakannya cepat hingga tidak bisa dihindari.


!!


Qian Kun menarik sesuatu dari dalam dada sosok tersebut, sebuah gumpalan daging yang nampak berdetak. Pria berotot itu sangat terkejut hingga kembali memuntahkan darah.


Dia bahkan sampai oleng dan terjatuh, napasnya nyaris di ujung tanduk. Kejadian mengejutkan tadi sangat tidak terduga. Sakit yang dia rasakan ini jauh lebih buruk daripada apa pun.


Qian Kun berdiri tenang. Dia memperhatikan bagaimana pria di hadapannya ingin berteriak kesakitan, tetapi tidak bisa karena suara pria itu seakan tertahan di tenggorokan.


Mata pria tersebut terselip ke atas, wajahnya pucat dengan mulut terbuka. Dia bahkan tidak lagi memegang atau bertumpu pada pedang besarnya.

__ADS_1


["Manusia yang menginginkan tubuh abadi dariku mengalami hal ini. Mereka harus merasakan sakitnya diambang kematian terlebih dahulu..."]


Di balik topengnya, mata merah Qian Kun berkilat. Dia menunggu sampai pria yang tergeletak di hadapannya bisa kembali mendengar suaranya.


Qian Kun memperhatikan gumpalan merah kehitaman yang berada di tangannya. Dia bisa merasakan detakan dari gumpalan salah satu organ dalam manusia itu. Pandangannya pun mulai tertuju pada sosok pria berotot saat orang itu nampak terengah-engah.


["Akan kuberi tahu kau dua risiko dari tubuh 'abadimu' ini. Pertama, hanya Xiao Shuxiang dan pedangnya, Yīng xióng yang dapat membunuhmu. Kedua, kelemahanmu ada pada jantung ini..."] Qian Kun meletakkan gumpalan daging yang dipegangnya, tepat di tangan kiri pria yang masih terbaring di tanah itu.


["... Kau harus menyembunyikannya dengan baik. Jika ada makhluk lain yang menggores atau menebas kelemahanmu ini, maka kau akan mati walau tanpa di tangan Xiao Shuxiang."]


Pria berkepala plontos itu menatap sosok bertopeng rubah yang berdiri di sampingnya. Dia masih berbaring dengan dada yang bergerak naik-turun. Rasa sakit yang sebelumnya amat dahsyat dia rasakan, kini telah berkurang banyak.


["Kenapa... Xiao Shuxiang itu... Bisa menjadi musuh alami... Dari tubuh abadiku..?"]


Pria yang dilihat Qian Kun masih tersengal-sengal, suaranya bahkan serak dan nyaris menghilang. Meski begitu, dia masih bisa mendengarnya dengan baik.


["Xiao Shuxiang dapat membunuhmu walau tanpa mencari jantungmu, kau tidak bisa tenang selama dia masih ada."] suara Qian Kun tenang, namun mengandung penekanan.


Dia seolah memberi tahu bahwa satu-satunya yang menjadi penghalang bagi pria berotot itu untuk menentukan takdirnya sendiri adalah Xiao Shuxiang.


["... Satu hal lagi, kekuatanmu akan meningkat saat makin banyak pendekar dan kultivator yang kau bunuh."] Qian Kun melempar sebuah topeng rubah yang tepat mendarat di samping kepala pemuda berorot itu, dia pun kembali bersuara.


["... Aku tidak akan mendesakmu untuk bergabung denganku dan Scarlet Darah. Kita tidak punya hutang satu sama lain semenjak kau membawakan kepala itu, dan aku memenuhi keinginanmu. Sekarang, ini hanyalah tawaran asing. Jika kau tidak keberatan, kau bisa membantuku membuat kekacauan di kekaisaran ini. Aku tentu akan senang bila dapat bekerja sama denganmu,"]


Pria berotot itu mulai bangun, walau saat ini kakinya masih terlalu lemas untuk berdiri. Dia pun hanya bisa mendongak dan mencoba mencari seperti apa sifat sosok bertopeng di hadapannya.


["Bukankah ini terlalu mudah? Kau melepaskanku begitu saja. Apa kau tidak takut jika aku justru menyerang dan membunuhmu sekarang juga."]


["Hmph, silahkan bila memang itu yang kau mau. Kau bukanlah satu-satunya pendekar yang pernah mengatakan itu, tepat di depanku."]


!!


Pria berorot itu jelas terkejut. Dia tidak pernah melihat manusia dengan sorot mata yang kelaparan akan darah itu. Salah ucapan saja, kemungkinan dirinya bisa dicabik habis-habisan.


Kelemahan terbesarnya masih ada di tangannya saat ini. Sebuah gumpalan daging yang dia rasakan berdetak dalam genggamannya.


Dia memang bisa mati andai sosok bertopeng ini merebut kembali jantungnya dan lalu meremasnya hingga meledak.


["Perlu kau tahu,"] Qian Kun memakai kembali topengnya, ["Anggota Scarlet Darah tidak sepenuhnya saling mempercayai. Mereka mampu bekerja sama karena rasa setianya padaku. Jika kau bisa memperlihatkan kesetiaanmu dan menyenangkan hatiku ini, mungkin aku bisa berbaik hati memberimu beberapa tetes darah Sang Bintang."]


!!


Ucapan terakhir Qian Kun membuat pria berkepalan plontos itu terkejut bukan main. Matanya nampak terbelalak, dan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.


Bagi pendekar dan kultivator, bahkan kaum Demonic Beast sekali pun tahu maksud dari darah istimewa itu.


Jika darah Naga dan Phoenix dapat meningkatkan kekuatanmu sepuluh kali lipat, maka darah Sang Bintang bisa mengangkatmu menjadi dewa.


["Ini tidak mungkin... Kau pasti bercanda!"] pria berotot itu tidak percaya, dia bahkan tertawa cukup keras karena menganggap pria bertopeng itu sedang membual.


["Ha ha ha khhak."] Pria berkepala plontos itu memuntahkan darah sebelum kembali berkata, ["Aku tahu tentang darah 'Sang Bintang', tapi cerita itu hanya ada di masa lalu. Hanya sebuah dongeng kuno yang diceritakan para tua bangka yang suka bermimpi."]


["Lalu kenapa generasi sekarang masih mengingat dan tahu dongeng kuno itu?"]

__ADS_1


!!


Rau wajah terkejut dari pria itu membuat Qian Kun menyeringai di balik topengnya. ["Biar kujawab sendiri. Itu karena mereka mempercayainya sampai sekarang. Kau juga... Termasuk salah satunya."]


["Jika aku membunuhmu dan mengambil darahmu, maka tidak ada yang akan mengalahkanku di dunia ini."]


["Hah, itukah yang kau pikirkan?"] Qian Kun nyaris tertawa, ["Kau mengambil semua darahku pun tidak ada gunanya. Kau butuh memperlihatkan kesetiaanmu padaku. Pengakuan darikulah yang akan menentukan kau mendapatkan darah itu atau tidak. Mengambilnya secara paksa hanya akan sia-sia belaka."]


Seluruh anggota Scarlet Darah tahu tentang Qian Kun yang memiliki darah Sang Bintang. Beberapa dari mereka bahkan sudah mendapatkannya, Hawa Raynar dan Miao Gang adalah contohnya.


Bagi Qian Kun, semakin besar kesetiaan para anggotanya dan makin berpotensi mereka dalam mendapat pengakuan darinya, maka darah yang dia berikan juga akan semakin banyak.


Hanya saja, bahkan saat ini pun. Hawa Raynar dan Miao Gang baru mendapat masing-masing satu tetes darah darinya. Sementara itu, anggota Scarlet Darah yang lain terus berlomba-lomba untuk membuktikan kesetiaan mereka pada Qian Kun.


Inilah sebabnya Miao Gang mengatakan bahwa mereka semua tahu tengah dimanfaatkan, tetapi masih tidak mau melepaskan diri. Keserakahan akan kekuatan seakan telah mengambil alih hati dan pikiran manusia. Dia begitu sedih karenanya.


Pemuda berotot yang sebelumnya menemui Qian Kun itu adalah pendekar dari Partai Pedang Pemenggal. Dia merasa tidak pernah berkembang dalam perguruan dan akhirnya memutuskan keluar.


Selama bergabung dengan Scarlet Darah, dia benar-benar mendapat kekuatan yang selama ini diimpikannya. Bahkan sekarang dia bisa membuat seorang kultivator Grand Master Tingkat Bumi kewalahan. Dirinya suka saat menjadi kuat.


Trang..!


TRAANG..!


Saat ini, bersama-sama dengan anggota Scarlet Darah yang lain. Pria berotot itu sedang membuat partainya sendiri luluh lantak. Dia begitu puas saat menebas tangan saudara seperguruannya, memenggal kepala mereka, dan tanpa ragu meminum darahnya.


Pria betotot itu menggila, tidak ada yang sanggup menghentikannya. Senyuman lebar dan sorot mata yang haus akan darah itu, menjadi pemandangan paling mengerikan di bawah langit Benua Tengah.


Qian Kun sendiri memang seperti tidak memiliki keuntungan dari para pendekar dan kultivator yang bekerja sama dengannya. Dia seakan hanyalah makhluk yang tertarik membantu para pengacau.


Di samping itu, yang lebih diuntungkan justru sebenarnya ialah Xiao Shuxiang. Jika ada makhluk yang disebut paling licik, mungkin dialah orangnya.


Xiao Shuxiang tahu bahwa dia adalah wadah dan usaha Qian Kun selama ini tidak lebih dari sekadar mengumpulkan kekuatan untuknya. Qian Kun ingin dia menjadi lebih kuat hingga tidak lagi bisa mengenali siapa pun dan akhirnya menghancurkan segalanya.


Pengendalian atas emosi dan penyakit lamanya kian melemah, namun Koki Alkemis itu seakan membiarkannya.


Xiao Shuxiang tahu apa yang diinginkan Qian Kun, kemungkinan juga tahu berapa banyak nyawa melayang dalam tindakan sosok bertopeng itu, tetapi dia justru tidak melakukan apa-apa.


Dia bahkan lebih fokus pada prosesi pernikahannya dengan Ling Qing Zhu dan sama sekali tidak memikirkan bentrokan apa yang terjadi di Benua Tengah saat ini.


Buruknya, entah Xiao Shuxiang memang sengaja atau tidak----tetapi dia seperti tidak membiarkan keluarga dari Kucing Putihnya kembali ke Sekte Pagoda Langit.


Dia memberikan tugas pada Hu Li untuk mencari teman-teman barunya yang dahulu dia temui saat perjalanan pertama mereka kemari. Karena tugas itulah, Hu Li jadi tidak bisa mengantar Ling Chu Zhen dan keluarganya kembali ke Benua Tengah.


Hanya dua malam di istana Yang Chai Jidan, dan mungkin selama itu lima kota di dua Kekaisaran Langit telah diambil alih oleh Scarlet Darah serta Partai Pedang Tengkorak. Tetapi Xiao Shuxiang malah tidak mau memikirkannya.


Koki Alkemis itu tenang-tenang saja berbaring telentang di atas tempat tidurnya. Dia memperhatikan kelambu putih di atasnya yang membentang, pakaian pengantinnya masih melekat, hanya saja rambutnya kini terurai panjang.


Xiao Shuxiang menunggu seseorang.


Tidak beberapa lama, sebuah Cermin Pemindah muncul dan seorang pemuda berpakaian putih melangkah keluar sambil diikuti oleh seekor Harimau Bulan yang di atas kepalanya ada seekor rubah putih.


Xiao Shuxiang langsung bangun dan menatap pemuda yang tak asing baginya itu, siapa lagi jika bukan Hu Li. Sosok Demonic Beast Rubah Putih dan merupakan pengikutnya yang paling setia.

__ADS_1


Mata Xiao Shuxiang terlihat bersemangat, dia memiliki wajah dan senyuman yang mempesona. Sosoknya begitu menawan. Bahkan karena kepiawaiannya, tidak ada seorang pun yang menyadari bagaimana jalan pikiran dan isi hati orang seperti dirinya.


***


__ADS_2